• Tidak ada hasil yang ditemukan

50 b Lakukan TPTKP sesuai prosedur.

Dalam dokumen STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR (Halaman 50-57)

c. Segera hubungi POM TNI.

2. Tindakan lanjutan ( di kantor ).

a. Pengemudi Sipil diperiksa lanjut dan buatkan BAP-nya

b. Pemeriksaan saksi (pengemudi TNI) pemeriksaan dilakukan oleh POM TNI dan atau penyidik Polri.

Apabila terbukti bahwa pengemudi anggota TNI sebagai tersangka, maka BAP di TKP, BAP saksi dan barang-barang bukti yang disita oleh petugas POLRI, diserahkan kepada POM TNI untuk diselesaikan melalui Mahmil. Apabila terbukti bahwa pengemudi Sipil sebagai tersangka, maka perkara diselesaikan melalui proses pengadilan Negeri dan anggota TNI sebagai saksi.

3. Anggota TNI bertabrakan dengan anggota TNI. a. Amankan TKP.

b. Segera hubungi POM TNI (penanganan di TKP oleh POM TNI dibantu oleh anggota Polri/Polantas).

c. Apabila diminta bantuan oleh POM TNI, berikan bantuan dalam hal pengukuran dan penggambaran sketsa TKP.

D. Kecelakaan Lalu lintas yang melibatkan anggota VVIP/VIP

1. Yang dimaksud dengan VVIP adalah :

a. Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya. b. Tamu negara setingkat Presiden.

2. Yang dimaksud VIP adalah :

a. Pejabat-pejabat Negara (Para Menteri Kabinet, Pejabat Tinggi Non Departemen, para anggota MPR/DPR RI).

b. Tamu Negara setingkat Pejabat Negara (Menteri) dan atau pejabat asing yang diperlakukan sebagai tamu Negara.

c. Pejabat Perwakilan Negara Asing (CD/CC). d. Kas Angkatan/Kapolri.

51

Proses penyidikan kecelakaan Lalu lintas yang melibatkan anggota VVIP/VIP seperti tersebut diatas adalah sebagai berikut :

1) Anggota VVIP

a) Pengemudi dan kendaraan tidak ditahan/disita. b) Kendaraan Non VVIP diproses sesuai prosedur.

c) Hasil Penyidikan (berkas perkara) dikirimkan ke Sekretariat Negara melalui Dirlantas Polri dengan tembusan kepada Kapolri.

2) Anggota VIP

a) Proses penyidikannya sama dengan anggota VVIP dalam rangka acara Dinas / Protokoler.

b) Proses penyidikannya sesuai prosedur untuk umum dan khusus untuk pejabat tinggi negara (Menteri anggota, MPR / DPR RI dalam hal tertentu dimintakan ijin melalui Presiden.

c) Adakan Koordinasi sebaik-baiknya dengan instansi terkait. d) Laporkan segera hasilnya kepada pimpinan secara berjenjang.

E. Penyelidikan Kasus Tabrak Lari (Hit and Run).

1. Tindakan pertama di TKP.

a. Mencari dan mengumpulkan informasi / keterangan dari korban / saksi dan masyarakat setempat. Kemungkinan ada yang mengetahui / mengenal pengemudi yang melarikan diri, nomor Polisi, warna, jenis, merek kendaraan dan sebagainya.

b. Meneliti bukti-bukti yang tertinggal/barang bukti yang didapat di TKP untuk dijadikan bahan penyelidikan lebih lanjut, antara lain : Bekas Rem, pecahan kaca, bekas ban, darah / cat yang ada pada baju korban dan sebagainya.

52

c. Mencari lebih lanjut tentang kemugkinan-kemungkinan arah larinya kendaraan tersebut, dari tipe tabrakan dan arah datangnya kendaraan tersebut dan lain-lain.

d. Mengadakan pemotretan terhadap TKP dan bukti-bukti yang tertinggal di TKP serta korban / kendaraan yang terlibat.

2. Tindakan lanjut

a. Segera menginformasikan kepada unit-unit operasional yang bergerak (bila telah diketahui identitas kendaraan yang melarikan diri) untuk diadakan pencarian dan penangkapan.

b. Segera melakukan pemeriksaan ditempat-tempat yang diperkirakan digunakan untuk merubah identitas kendaraan dan atau menyembunyikan kendaraan. (bengkel, show room).

c. Segera melakukan pemblokiran STNK melalui Samsat (bila identitas kendaraan tersebut sudah diketahui).

d. Mengirimkan bukti-bukti yang ditemukan di TKP ke laboratorium forensik Kapolri untuk dilakukan pemeriksaan. (bekas cat, darah dll).

F. Prosedur Penanganan Masalah Perdata

1. Penyelesaian ganti rugi oleh pemilik kepada korban kecelakaan Lalu lintas.

a. Bila kecelakaan Lalu lintas menimbulkan kerugianbagi orang lain berdasarkan pasal 1365 KUH Perdata maka pihak yang merasa dirugikan berhak menuntut kerugian.

b. Hubungan hukum antara pengemudi dengan majikan belum diatur dalam perundang-undangan di Indonesia, namun hubungan majikan dengan pengemudi hanya berdasrkan pekerjaan yang diatur dalam pasal 1376 KUH Perdata.

c. Pihak majikan berdasarkan pasal 12 UULAJ bertanggung jawab atas kendaraan yang dioperasikan dijalan dan harus memenuhi laik jalan.

53

d. Atas kerugian kecelakaan yang ditimbulkan, oleh karena tidak dipenuhinya unsur laik jalan diatas, maka majikan / pemilik bertanggung jawab karena berdasarkan pasal 1367 KUH Perdata antara majikan/pemilik dengan pengemudi didasarkan atas hubungan pekerjaan.

e. Untuk itu dalam setiap penyelidikan kecelakaan Lalu lintas yang menimbulkan korban meninggal dunia, penelitian dengan mengikutsertakan instansi LLAJ da PU merupakan syarat mutlak untuk kepentingan hukum terutama yang berkaitan dengan instansi LLAJ adalah sebagai saksi yang wajib dimintakan kesaksian untuk mempertanggung jawabkan perbuatan hukum yang ditimbulkan oleh pemilik kendaraan pasal 53 UULAJ (1) dan penjelasannya Jo pasal 120 KUHAP.

Yurisprodensi : Mahkamah Agung 202 K/PDT/2094 tanggal 30 Juli 2094.

2. Penggabungan Perkara gugatan ganti rugi dan tuntutan / penyelesaian perkara pidana kecelakaan Lalu lintas.

a. Pada prinsipnya gugatan ganti rugi dapat diajukan secara berdiri sendiri atau jika dimungkinkan dapat dimintakan kepada hakim Pengadilan Negeri agar dapat diperiksa serta diputus sekaligus dengan perkara pidana (pasal 98 KUHP).

b. Kecelakaan Lalu lintas yang menimbulkan kerugian, bagi pihak korban dapat meminta kepada hakim untuk memeriksa perkaranya sebelum penuntut umum membacakan dakwaannya dalam acara biasa sedangkan dalam acara pemeriksaan cepat sebelum hakim memberi keputusan. c. Hakim akan mempertimbangkan berdasarkan kewenangannya untuk

mengadili gugatan tersebut atas dasar : 1) Kebenaran dasar gugatan

2) Hukuman pengganti biaya yang dikeluarkan oleh pihak korban. d. Jika hakim tidak berwenang untuk mengadili gugatan, atau gugatan

dinyatakan tidak dapat diterima maka putusan hakim hanya memuat tentang penetapan hukuman pengganti biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak korban.

54

e. Untuk pemeriksaan penggabungan diatas akan diperiksa pada tingkat banding apabila perkara pidananya dimintakan banding, dan bila tidak dimintakan banding putusan ganti rugi tidak diperkarakan.

G. Administrasi Penyidikan.

1. Penyidikan kecelakaan Lalu lintas perlu didukung dengan sistem admnistrasi yang baik meliputi :

a. Kelengkapan berkas perkara pemeriksaan meliputi :

1) Sampul berkas perkara. 2) Daftar isi berkas perkara. 3) Resume.

4) Laporan Polisi.

5) Berita Acara Pemeriksaan di TKP.

6) Surat Pemberitahuan dimulainya penyidikan. 7) Berita Acara Pemeriksaan Saksi.

8) Berita Acara Pemeriksaan/surat keterangan Saksi/Ahli. 9) Berita Acara penyumpahan saksi/ahli.

10) Berita Acara Pemeriksaan Tersangka. 11) Surat Perintah Penyitaan barang bukti. 12) Berita Acara Penyitaan barang bukti. 13) Surat Panggilan.

14) Surat Perintah Penangkapan. 15) Surat Perintah Penahanan. 16) Berita cara Rekontruksi. 17) Berita Acara Penangkapan.

18) Berita Acara Pengembalian barang bukti.

19) Berita Acara Pembungkusan dan penyegelan barang bukti. 20) Surat Perintah Penangguhan Penahanan.

21) Surat Perintah Pengalihan jenis Penahanan.

22) Surat Permintaan Perpanjangan penahanan kepada Kepala Kejaksaan negeri (PU).

55

23) Surat Permintaan Perpanjangan Penahanan kepada Ketua Pengadilan Negeri.

24) Surat Perintah Perpanjangan Penahanan

25) Surat Permintaan izin Penetapan penyitaan barang bukti kepada Ketua Pengadilan Negeri.

b. Kelengkapan admnistrasi penyidikan bentuk buku Register meliputi :

1) Buku Register Laporan Polisi

2) Buku Register kejahatan/Pelanggaran 3) Buku Register surat Panggilan

4) Buku Register Surat Perintah Penangkapan 5) Buku Register Surat Perintah Penyitaan 6) Buku Register Surat Perintah Tugas 7) Buku Register Tahanan

8) Buku Register Berkas Perkara 9) Buku Register Barang Bukti

10) Buku Register Pencarian orang dan kendaraan 11) Buku Register Permintaan Visum et Repertum 12) Jurnal Kecelakaan Lalu lintas

13) Daftar Recidivist

Buku-buku register tersebut diatas (Point 1 s/d 13) keberadaannya ada di satuan Lalu lintas masing-masing wilayah.

Dikeluarkan di : Jakarta Pada tanggal : Februari 2010 DIREKTUR LALU LINTAS BABINKAM POLRI

DRS. DJOKO SUSILO, SH. M.Si BRIGADIR JENDERAL POLISI

57

Dalam dokumen STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR (Halaman 50-57)

Dokumen terkait