- Plester
- Kapas - Gunting
(3) Tata cara memberikan pertolongan pada korban kecelakaan Lalu lintas
- Apabila tidak ada petugas medis usahakan memberikan pertolongan sesuai petunjuk P2GD.
- Terhadap korban patah tulang, agar dijaga korban tetap pada posisi semula dan jangan sekali-kali merobah posisi korban dan pada saat akan dikirim kerumah sakit, diusahakan agar posisi korban tetap seperti saat ditemukan di TKP.
- Terhadap korban yang terhimpit anggota badannya oleh kendaraan / alat-alat kendaraan, apabila akan dilakukan pertolongan terhadap korban, usahakan terlebih dahulu kehadiran seorang dokter atau petugas medis untuk menghentikan pendarahan atau memberikan pertolongan lebih lanjut setelah korban dilepaskan dari himpitan/ jepitan tersebut.
- Apabila korban dapat menganggu kelancaran arus Lalu lintas, maka korban dapat dipindahkan ketempat yang aman dengan memberikan tanda terlebih dahulu pada letak korban semula.
- Usahakan secepatnya dapat mengeta hui dan mencatat indentitas korban dan dalam kasus tabrak lari diupayakan untuk mendapat informasi dari korban mengenai identitas kendaraan yang menabrak korban.
34
- Dalam mengirim korban dengan tidak menggunakan kendaraan ambulance atau kendaraan petugas maka yang perlu dilakukan adalah entukan terlebih dahulu Rumah sakit atau dokter yang akan dituju kemudian mencatat indentitas kendaraan yang akan membawa korban ke Rumah Sakit.
- Amankan dan catat semua barang berharga milik korban, untuk kemudian diserhkan kembali kepada korban/
keluarga/ ahli waris yang berhak.
(4) Pengolahan TKP kecelakaan lalu lintasTujuan dilaksanakannya pengolahan TKP kecelakaan Lalu lintas adalah untuk mencari dan mengumpulkan alat bukti sebanyak- banyaknya untuk dianalisa dan dievaluasi menurut teori “ Bukti Segi Tiga” guna memberi arah terhadap penyidikkan selanjutnya.
Alat-alat bukti yang dapat dikumpulkan di TKP kecelakaan Lalu lintas yaitu ; alat bukti petunjuk, alat bukti keterangan saksi dan alat bukti keterangan tersangka.
Untuk memperoleh alat-alat bukti tersebut diatas, dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
Pengamatan umum
Keadaan jalan, sempit/ lebar/ tanjakan/ turunan/ tikungan/ simpangan/ lurus dll.
Keadaan lingkungan, ramai/ sepi/ bebas pandangan dll.
Keadaan cuaca pada waktu terjadi kecelakaan Lalu lintas
Kendaraan yang terlibat kecelakaan Lalu lintas.
Kerusakan pada kendaraan
Kerusakan pada jalan dan kelengkapannya
35
Bekas-bekas tabrakan yang tertinggal di jalan seperti; bekas rem, pecehan kaca, tetesan darah, bekas cat/ dempul, bekas oli, suku cadang yang terlepas/ jatuh dll.
Arah datangnya kendaraan yang terlibat kecelakaan.
Pemeriksaan terhadap kendaraan yang terlibat kecelakaan Lalu lintas.
Surat-surat kendaraan (STNK,STCK, Buku Kir)
Keadaan lampu-lampu kendaraan (apakah semua menyala dengan baik dan bagaimana penyetelan tinggi rendahnya sorot lampu).
Keadaan klakson
Keadaan alat penghapus kaca
Kedudukan persneling pada gigi berapa.
Keadaan kemudi.
Penyetelan dari pada kaca spion.
Kondisi rem
Kondisi ban kendaraan
Kedudukan spido meter/ ukuran kecepatan kendaraan
Kondisi Per
Muatan kendaraan.
Pemeriksaan terhadap jalan dan kelengkapanya
Kondisi jalan ( HotMix/ Sirtu/ berlobang/ bergelombang dll)
Rambu-rambu yang ada disekitar TKP
Kondisi bahu jalan
36
Pemeriksaan terhadap tersangka
Amankan tersangka termasuk memberikan perlindungan apabila ada masyarakat yang main hakim sendiri.
Lakukan interview dengan mengajukan pertanyaan singkat kepada tersangka untuk memperoleh keterangan sementara tentang bagaimana terjadinya peristiwa kecelakaan tersebut.
Kondisi pengemudi sebelum terjadi kecelakaan Lalu lintas
Catat indentitas tersangka (SIM,KTP dll)
Photografi (pemotretan) di TKP.
Foto situasi TKP secara keseluruhan, sebanyak 4 (empat) kali dari 4 (empat) penjuru.
Foto posisi dari kendaraan yang terlibat kecelakaan, sebanyak 4 (empat) kali dari 4 (empat) penjuru.
Foto korban sebelum dipindakan dari TKP.
Foto kerusakan yang ada pada kendaraan yang terlibat kecelakaan Lalu lintas.
Foto bekas-bekas yang tertinggal di TKP seperti bekas rem, pecahan kaca, pecahan cat/dempul dll. Setelah melakukan pemotretan, semua data-data
dicatat dengan lengkap meliputi :
- Jarak pengambilan gambar
- Cuaca pada waktu pengambilan foto - Cahaya/penyinaran yang digunakan. - Kamera yang digunakan
- Diafragma dan kecepatan yang digunakan - Arah pemotretan
37
Setelah seluruh kegiatan pemotretan selesai, segera dituangkan dalam bentuk Berita Acara Pemotretan (contoh terlampir)
Pembuatan gambar/sketsa TKP, langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Cari arah mata angin (arah utara)
Tentukan Skala ( 1 : 100 yang artinya 1 meter di TKP sama dengan 1 Cm di gambar atau 1 : 200 yang artinya 1 meter di TKP sama dengan ½ Cm di gambar).
Unsur-unsur yang harus dituangkan dalam gambar TKP kecelakaan Lalu lintas adalah :
- Lebar jalan, lebar got, lebar trotoar dll
- Bentuk jalan ; jalan lurus, tikungan, persimpangan
- Posisi korban - Posisi kendaraan - Posisi titik tabrak
- Posisi titik pokok pengkuran - Posisi barang bukti
- Bayangan arah/tujuan dari masing-masing kendaraan yang terlibat
- Untuk menguatkan gambar sketsa di TKP perlu di tanda tangani oleh tersangka,saksi dan diketahui oleh penyidik yang membuat sketsa TKP.
Pengukuran gambar/ sketsa TKP
Tujuan dari kegiatan pengukuran TKP kecelakaan Lalu lintas adalah untuk mengetahui jarak / ukuran yang sebenarnya dari situasi TKP.
38
Dengan ukuran yang benar maka akan memudahkan pada waktu diadakan rekonstruksi.
Posisi / titik yang perlu dilakukan pengkuran.
- Titik pokok pengukuran ( titik P); - Key point/ titik tabrak (titik X);
- Posisi kendaraan yang terlibat (titik pengukuran dari bemper depan dan belakang);
- Posisi korban; - Posisi barang bukti; - Panjang bekas rem; - Lebar jalan;
Metode/cara pengukuran di TKP kecelakaan Lalu lintas.
- Metode garis alas
- Tentukan titik pokok pengukuran (tiang listrik, pal Km, tiang telepon/ bangunan - bangunan lainnya yang tidak dilakukan pemindahan dalam waktu dekat)
- Tarik garis lurus melalui titik P dan sejajar dengan jalan dimana terjadi kecelakaan tersebut.
- Tarik garis tegak lurus dari semua titik yang perlu diukur ke garis alas.
- Adakan pengukuran terhadap garis - garis tegak lurus tersebut.
- Ukur jarak antara titik P (garis alas) kesemua titik yang ada di garis alas. (contoh terlampir) Metode ini lebih cocok untuk jalan lurus.
39
Metode Segitiga
- Tentukan 2 (dua) buah titik pokok pengukuran (titik A dan titik B)
- Tarik garis lurus dari A ke B
- Tarik garis lurus dari semua titik yang harus diukur ke titik A dan B.
Metode ini lebih cocok untuk jalan tikungan tajam atau persimpangan.
(5) Pengakhiran penanganan TKP Kecelakaan Lalu lintas :
Konsolidasi
Setelah pengolahan TKP kecelakaan Lalu lintas selesai dilaksanakan maka dilakukan pebgecekan terhadap personil,perlengkapan dan segala hal yang diketahui, diketemukan dan dilakukan di TKP.
Pembukaan TKP
Setelah TKP dibuka hal yang perlu diperhatikan bahwa arus Lalu lintas harus normal kembali baru anggota(anggota disini bukan termasuk dalam tim penyidik kecelakaan Lalu lintas) dapat meninggalkan TKP
Permintaan Visum et Repertum :
Setelah kembali dari TKP, segera ajukan permintaan Visum et Repertum ke Rumah Sakit dimana korban di rawat.
Isilah Blangko Visum sesuai kebutuhan (Visum luar untuk korban luka dan Visum dalam untuk korban meninggal dunia)
40
Pengiriman mayat ke Rumah Sakit untuk dimintakan Visum harus diperhatikan :
Diberi label dan disegel pada ibu jarinya (guna menghindari kekeliruan)
Pada label harus jelas disebutkan identitas korban ( nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, agama, tempat tinggal, No.LP, tanda tangan petugas yang mengirim).
Apabila keluarga korban keberatan diadakan bedah mayat maka kewajiban penyidik untuk secara persuasif memberikan penjelasan tentang pentingnya bedah mayat tersebut (sebagai pedoman gunakan pasal 222 KUHP).
Pada dasarnya pencabutan Visum tidak dibenarkan, bilamana Visum harus dicabut maka yang berwenang mencabut Visum adalah serendah-rendahnya Kapolres.
Permohonan pencabutan Visum diajukan oleh keluarga korban ( ayah/ibu, suami/istri, dan anak) yang disahkan oleh Lurah/ kepala desa setempat berdasarkan alasan yang dapat diterima maisalnya : alasan agama, kepercayaan atau adat istiadat.
Pembuatan Berita Acara Pemeriksaan di TKP.
Berita Acara Pemeriksaan di TKP dibuat oleh Penyidik/ Penyidik Pembantu yang melakukan pengolahan TKP, dengan materi sebagai berikut :
41
Hasil yang diketemukan di TKP baik TKP itu sendiri, korban, saksi-saksi, tersangka maupun barang bukti.
Tindakan yang dilakukan oleh petugas (TP TKP dan pengolahan TKP) tehadap hasil yang ditemukan di TKP.
Disamping Berita Acara Pemeriksaan di TKP dibuat juga Berita Acara Pemotretan di TKP dan Berita Acara lain-lain sesuai tindakan yang dilakukan.
Adakan koordinasi dengan pihak Jasa Raharja dalam rangka mempercepat klaim asuransi bagi korban luka maupun meninggal dunia.
Laksanakan proses penyidikan sesuai KUHAP.
Pemanggilan tersangka dengan memperhatikan hal – hal sebagai berikut :
- Pedomani ketentuan yang diatur dalam pasal 112, 113 dan 116.
- Surat panggilan harus ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang ( Kapolres / Kasat Lantas selaku penyidik) serta yang dipanggil. - Nama, pekerjaan dan alamat yang dipanggil
harus ditulis dengan jelas.
- Waktu pemanggilan (tanggal hari dan jam) dan tempat untuk menghadap harus ditulis dengan jelas serta harus ada cukup tenggang waktu bagi yang dipanggil (penerima surat panggilan) untuk menghadap.
- Sebutkan dengan jelas maksud / keperluan pemanggilan.
42
Bagi tersangka yang terlibat kecelakaan Lalu lintas dan korban meninggal dunia atau luka berat, untuk kepentingan penyidikan dapat dilakukan penahanan sementara (pasal 20 KUHAP).
Oleh karena penahanan merupakan tindakan pengekangan terhadap kebebasan seseorang, maka dalam pelaksanaannya harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
* Pedomani ketentuan yang diatur dalam pasal 20, 21, 24, 25, 29 dan 31 KUHAP.
* Surat Perintah Penahanan Sementara harus ditandatangani oleh pejabat yang berwenang (Kapolres/ Kasat Lantas selaku penyidik).
* Atas permintaan tersangka, penyidik dapat menangguhkan penahanan sementara (pasal 31 KUHAP yo pasal 35,36 PP 27 tahun 2083). Kewenangan menangguhkan penahanan sementara berada Kepala Kesatuan (Kapolres).
* Surat Perintah Pengeluaran Tahanan ditandatangani oleh Kepala Kesatuan (Kapolres) .
- Penyidik atau penyidik pembantu (pemeriksa) yang mempunyai kewenangan sesuai yang diatur dalam pasal 6, 7, 9, 10 dan 11 KUHP melakukan pemeriksaan terhadap saksi/tersangka dalam hal sebagai berikut :
43
* Dalam hal dimulainya penyidikan terhadap peristiwa kecelakaan Lalu lintas yang terjadi, maka penyidik berkewajiban untuk memberitahukan hal itu kepada Penuntut Umum (pasal 109 (1) KUHAP).
* Dalam hal dimulainya pemeriksaan terhadap tersangka, maka pemeriksa wajib untuk memberi-tahukan tentang hak-hak tersangka (pasal 50 s/d 65 KUHAP).
* Dalam melakukan pemeriksaan, pemeriksa dilarang menggunakan ekerasan/tekanan dalam bentuk apapun (pasal 117 (1) KUHAP).
* Pemeriksaan terhadap saksi atau tersangka dapat dilakukan ditempat kediamannya, bilamana telah duakali dipanggil secara berturut-turut dengan surat panggilan yang sah, tetapi yang bersangkutan tidak dapat hadir karena alasan yang patut dan wajar (pasal 113 KUHAP).
* Penyidik / penyidik pembantu dapat meminta pendapat ahli / orang yang memiliki keahlian khusus (pasal 120 (1) KUHAP). Terutama berkaitan dengan persyaratan teknis dan laik jalan kepada petugas DLLAJ yang mempunyai keahlian sebagai
44
pemeriksa dan atau ATPM (sebagai ahli spesifikasi tehnis kendaraan) di daerah.
* Saksi diperiksa dengan tidak disumpah kecuali ada cukup alasan untuk dapat diduga bahwa ia tidak akan dapat hadir dalam pemeriksaan di Pengadilan (pasal 116 (1) KUHAP).
* Tersangka berhak meminta turunan Berita Acara Pemeriksaan atas dirinya.
* Dalam hal tersangka ditahan sementara, maka waktu 1 x 24 jam ( 1 hari ) setelah perintah penahanan dijalankan harus segera dilakukan pemeriksaan (pasal 122 KUHAP).
- Tersangka yang ditahan harus segera dibuatkan Surat Perintah Penahanan Tersangka (SPPT) dan tembusan disampaikan kepada keluarga.
Perhatikan :
(1) Penyidik selalu mengikuti perkembangan korban bila luka berat s/d hari ke 30 bilamana tetap bertahan hidup diklasifikasikan dalam penerapan Pasal 360 (1) KUHP bila hari ke 31 meninggal dunia penerapan Pasalnya 360 (1) KUHP.
(2) Penyidik yang melakukan pemeriksaan tidak boleh ganti-ganti.
45
(3) Beritahukan hak-hak tersangka secara jelas.
Berita Acara Pemeriksaan yang digunakan adalah :
(1) Terhadap kecelakaan Lalu lintas yang korbannya meninggal atau luka berat proses penyidikannya dilaksanakan sebagaimana prosedur pemeriksaan biasa.
(2) Terhadap kecelakaan Lalu lintas yang korbannya atau akibat yang ditimbulkan sangat ringan, proses penyidikannya dapat dilakukan secara Acara Pemeriksaan Singkat (Sumir / Tipiring).
Penyitaan Barang Bukti
(1) Pada prinsipnya sesuai Pasal 52 huruf a UULAJ, setiap kendaraan yang digunakan untuk melakukan tindak pidana dapat diamankan sementara termasuk surat- suratnya yang semata-mata untuk kepentingan penyidikan ke Pengadilan. Kecelakaan Lalu lintas adalah perbuatan tertangkap tangan (pasal 111 KUHAP). Setelah dari TKP penyidik segera menetapkan berdasarkan bukti-bukti di TKP apakah perbuatan pelanggaran mengakibatkan kecelakaan Lalu lintas dapat dilakukan penyidikan atau tidak.
46
Untuk melengkapi berkas perkara pemeriksaan maka penyidik segera minta persetujuan Ketua Pengadilan atas kendaraan atau surat-surat yang disita (pasal 38 ayat (2) KUHAP).
Atas pertimbangan kepentingan
masyarakat kendaraan dapat tidak dilakukan penyitaan dengan catatan : (2) Penyidik tidak membutuhkan lagi sebagai
bahan pembuktian.
(3) Kendaraan tersebut sangat dibutuhkan oleh pemilik untuk mengurangi beban ekonomi keluarga terutama kendaraan dari kredit. (4) Penyidik tidak menambah beban
administrasi penyidikan terutama penyediaan lahan parkir / penyimpanan dan pengawasan.
(5) Kendaraan harus didata dari 4 dimensi (pada titik benturan, depan/ belakang, kanan / kiri).
(6) Tidak boleh dirubah bentuk.
Taktik dan teknik pemeriksaan
a) Persiapan pemeriksaan
(1) Pemeriksa (penyidik / penyidik pembantu) harus berusaha menarik dan mengumpulkan semua keterangan yang mengarah pada unsur-unsur pidana yang dituduhkan semaksimal mungkin. (2) Menyeleksi bukti-bukti dari TKP yang
penting untuk bahan pemeriksaan yang dituangkan dalam BAP.
47
(3) Hindari pemikiran subyektif terhadap pelaku sebelum mendapatkan keterangan-keterangan dari saksi (korban), pelaku disertai dengan bukti- bukti di TKP
b) Hasil pemeriksaan dibuat dalam berita acara sebagai berikut :
(1) Kecelakaan Lalu lintas korban Meninggal dunia dan atau luka berat dibuat dalam acara pemeriksaan biasa (pasal 152-202 KUHAP).
(2) Kecelakaan Lalu lintas dengan korban luka ringan dan atau rugi material dibuat dalam acara pemeriksaan singkat (pasal 203-204 KUHAP) Contoh terlampir.
c) Berita Acara harus memenuhi persyaratan :
(1) Syarat formal
Sesuai dengan pasal 121 KUHAP yaitu Penyidik atas kekuatan sumpah jabatan membuat BA yang diberi tanggal dan memuat tindak pidana yang dipersangkakan, dengan menyebut waktu tindak pidana dilakukan, nama dan tempat tinggal dari tersangka dan atau saksi, keterangan mereka, catatan mengenai akta dan atau benda serta segala sesuatu yang dianggap perlu untuk kepentingan penyelesaian perkara.
48
(2) Syarat matriel
Yaitu Berita Acara yang dibuat harus memenuhi syarat-syarat pembuktian yaitu antara bukti-bukti yang diketemukan di TKP dengan unsur- unsur kesalahan (kelalaian dan atau kesengajaan) yang disangkakan.
B. Penyidikan Kecelakaan Lalu lintas menyangkut Warga Negara Asing
( CD atau CC)
1. Anggota CD/CC mengunakan kendaraan CD/CC bertabrakan pejalan kaki :
a. Tindakan pertama di TKP
1) Laksanakan TPTKP sesuai prosedur
2) Catat identitas korban/pejalan kaki dan pengemudi (anggota CD/CC) serta kendaraannya.
b. Tindakan lanjutan (di kantor).
1) Periksa saksi dan korban (kalau memungkinkan)
2) Pengemudi dan Kendaraan anggota CD/CC tidak ditahan/disita. 3) Berkas perkara diteruskan ke DEPLU melalui Direktur Intelpampol
Mabes Polri.
2. Anggota CD/CC menggunakan kendaraan CD/CC bertabrakan dengan kendaraan sipil yang dikemudikan oleh orang sipil.
a. Tindakan pertama di TKP.
1) Laksanakan TPKTP sesuai prosedur.
2) Catat identitas kendaraan dan kedua pengemudi yang terlibat tabrakan.
3) Kendaraan CD/CC tidak disita. 4) Kendaraan sipil disita.