1. Bahwa Termohon telah melakukan pelanggaran dan bertindak tidak profesional dalam penyelenggaraan Pilkada Kabupaten Kotabaru Tahun 2015. Termohon terbukti tidak cermat dan berhati-hati dalam melakukan penghitungan suara, bahkan cenderung memihak pada Pasangan Calon Nomor Urut 3. Bukti ketidakprofesionalan Termohon juga terlihat dengan banyaknya Cl-KWK untuk Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati dari TPS-TPS di beberapa Kecamatan yang tersebar di wilayah Kabupaten Kotabaru justru berada dalam kotak suara untuk pemilihan Gubemur Kalimantan Selatan yang mana memang dilakukan pada saat bersamaan. Hal ini menimbulkan ketidakpastian hukum dan juga ketidakakuratan hasil perolehan suara yang diperoleh masing-masing pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati, oleh karena tercampur dengan Cl-KWK untuk Pemilihan Gubemur.
m. Bahwa Pasal 18 ayat 4 UUD 1945 mengharuskan Pilkada dilakukan secara domokratis dengan tidak melanggar asas-asas yang bersifat luber dan jurdil sebagaimana ditegaskan
dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 juncto UU No. 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubemur, Bupati dan Walikota. Disamping itu ditegaskan pula bahwa pelaksanaan Pemilu harus bebas dari rasa takut, tekanan, ancaman atau intimidasi dari pihakmanapun, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22G ayat (1) UUD 1945;
Bahwa pelaksanaan “Asas Demokrasi” atau “Asas Kedaulatan Rakyat’’ harus didasarkan pada asas Nomokrasi atau asas Negara Hukum yang merupakan pengakuan, jaminan, perlindungan hukum dan kepastian hukum yang adil sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang. Termohon dalam menjalankan tugas, wewenang dan kewajibannya dalam penyelenggaraan Pilkada, wajib menjamin bahwa pelaksanaan Pilkada tersebut beijalan dan terlaksana berdasarkan prinsip demokrasi dan nomokrasi. Oleh karena mana sebagai konsekwensi logis-yuridisnya, setiap keputusan yang diperoleh secara tidak demokratis dan apalagi melawan hukum serta mencederai nilai-nilai dasar konstitusi maupun demokrasi, “dapat dibatalkan oleh Mahkamah” jika dapat dibuktikan secara sah didalamnya terdapat pelanggaran terhadap nomokrasi, termasuk pada Berita Acara dan Keputusan-Keputusan Termohon sebagaimana menjadi obyek permohonan a ’quo. Bahwa terkait dengan hal dimaksud, dalam mengemban misinya Mahkamah sebagai pengawal konstitusi dan pemberi keadilan tidak dapat memainkan perannya dalam mewujudkan perannya dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan negara dalam memberikan perannya dalam kesejahteraan bagi warga masyarakat jika dalam menangani sengketa Pilkada hanya menghitung perolehan suara secara matematis. Sebab kalau demikian, Mahkamah tidak dapat atau dilarang memasuki proses peradilan dengan memutus fakta hukum yang nyata-nyata terbukti tentang teijadinya suatu tindakan hukum yang menciderai hak-hak asasi manusia, terutama hak politik. Lebih dari itu, apabila Mahkamah diposisikan untuk membiarkan proses Pemilu ataupun Pilkada berlangsung tanpa ketertiban hukum maka pada akhimya sama saja dengan membiarkan terjadinya pelanggaran atas prinsip Pemilu yang Luber dan Jurdil. Jika demikian maka Mahkamah selaku institusi negara pemegang kekuasaan kehakiman hanya diposisikan sebagai “tukang stempel” dalam menilai kinerja Komisi Pemilihan Umum. Jika hal itu teijadi berarti akan melenceng jauh dari filosofi dan tujuan diadakannya peradilan atas sengketa hasil Pemilukada tersebut.
Bahwa pelaksanaan “Asas Demokrasi” atau “Asas Kedaulatan Rakyat’’ harus didasarkan pada asas Nomokrasi atau asas Negara Hukum yang merupakan pengakuan, jaminan, perlindungan hukum dan kepastian hukum yang adil sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang. Termohon dalam menjalankan tugas, wewenang dan kewajibannya
dalam penyelenggaraan Pemilukada, wajib menjamin bahwa pelaksanaan Pemilukada tersebut berjalan dan terlaksana berdasarkan prinsip demokrasi dan nomokrasi. Oleh karena mana sebagai konsekwensi logis-yuridisnya, setiap keputusan yang diperoleh secara tidak demokratis dan apalagi melawan hukum serta mencederai nilai-nilai dasar konstitusi maupun demokrasi, “dapat dibatalkan oleh Mahkamah” jika dapat dibuktikan secara sah didalamnya terdapat pelanggaran terhadap nomokrasi, termasuk pada Berita Acara dan Keputusan - Keputusan Termohon sebagaimana menjadi obyek permohonan a ’quo. Bahwa terkait dengan hal dimaksud, dalam mengemban misinya Mahkamah sebagai pengawal konstitusi dan pemberi keadilan tidak dapat memainkan perannya dalam mewujudkan perannya dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan negara dalam memberikan perannya dalam kesejahteraan bagi warga masyarakat jika dalam menangani sengketa Pemilukada hanya menghitung perolehan suara secara matematis. Sebab kalau demikian, Mahkamah tidak dapat atau dilarang memasuki proses peradilan dengan memutus fakta hukum yang nyata-nyata terbukti tentang terjadinya suatu tindakan hukum yang menciderai hak-hak asasi manusia, terutama hak politik. Lebih dari itu, apabila Mahkamah diposisikan untuk membiarkan proses Pemilu ataupun Pemilukada berlangsung tanpa ketertiban hukum maka pada akhimya sama saja dengan membiarkan terjadinya pelanggaran atas prinsip Pemilu yang Luber dan Jurdil. Jika demikian maka Mahkamah selaku institusi negara pemegang kekuasaan kehakiman hanya diposisikan sebagai “tukang stempel” dalam menilai kinerja Komisi Pemilihan Umum. Jika hal itu terjadi berarti akan melenceng jauh dari filosofi dan tujuan diadakannya peradilan atas sengketa hasil Pemilu atau Pilkada tersebut.
Bahwa dari pandangan hukum di atas, Mahkamah dalam mengadili sengketa Pilkada tidak hanya membedah permohonan dengan melihat hasil perolehan Suara, melainkan Mahkamah juga meneliti secara mendalam adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis dan massif yang mempengaruhi hasil perolehan suara tersebut. Dalam berbagai putusan Mahkamah yang seperti itu, terbukti telah memberikan makna hukum dan keadilan dalam penanganan permohonan, baik dalam rangka pengujian Undang- Undang maupun sengketa Pemilu atau Pilkada. Dalam praktik yang sudah menjadi yurisprudensi dan diterima sebagai solusi hukum itu, Mahkamah dapat menilai pelanggaran-pelanggaran yang terstruktur, sistematis dan massif sebagai penentu putusan dengan alasan pelanggaran yang memiliki tiga sifat itu dapat mempengaruhi hasil peringkat perolehan suara yang signifikan dalam Pemilu atau Pilkada ( Vide Putusan
Mahkamah dalam Perkara Nomor 41/PHPU.D VI/2008 Tertanggal 2 Desember 2008, Nomor 57/PHPU.D-VI/2008 tertanggal 08 Januari 2009, Nomor 82/PHPU.D-IX/2011 tertanggal 22 Agustus 2011).
Bahwa Termohon selaku penyelenggara Pemilihan Umum, terikat pada asas Penyelenggara Pemilu sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 Tentang Penyelenggara Pemilihan Umum yang menyatakan bahwa “Penyelenggara Pemilu berpedoman pada asas: a). Mandiri; b). Jujur; cj. Adil; d). Kepastian Hukum; e). Tertib; f). Kepentingan Umum; g). Keterbukaan; h). Proporsionalitas; i). Profesionaliatas; j). Akuntabilitas; k). Efisiensi; dan i). Efektifitas
Bahwa pada pokoknya permohonan PEMOHON adalah keberatan terhadap Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 berdasarkan Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten oleh TERMOHON tertanggal 17 Desember 2015;
Bahwa berdasarkan pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi dalam putusan nomor 79/PHPU.D-XI/2013 bertanggal 11 Juli 2013 pada halaman 151 yang pada pokoknya menyatakan bahwa Mahkamah telah membagi tiga kategori pelanggaran pemilukada yang dalam perkara a quo masuk ke dalam kategori pelanggaran kedua yaitu : “...pelanggaran dalam proses Pemilu atau Pemilukada yang berpengaruh terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada seperti money politic, keterlibatan oknum pejabat atau PNS, dugaan pidana Pemilu, dan sebagainya. Pelanggaran yang seperti ini dapat membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada sepanjang berpengaruh secara signifikan, yakni karena terjadi secara terstruktur, sistematis, dan m asif yang ukuran-ukurannya telah ditetapkan dalam berbagai putusan Mahkamah, sedangkan pelanggaran- pelanggaran yang sifatnya tidak signifikan terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada seperti yang bersifat sporadis, parsial,perorangan, dan hadiah-hadiah yang tidak bisa dibuktikan pengaruhnya terhadap pilihan pemilih tidak dijadikan dasar oleh Mahkamah
untuk membatalkan hasil penghitungan suara oleh KPU/KPU/K1P
provinsi/kabupaten/kota. ”
Bahwa Pemohon secara tegas menyatakan sangat berkeberatan dan menolak Berita Acara tentang Rekapitulasi Hasil Perhitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru, tanggai 17 Desember 2015 didasarkan pada
alasan bahwasannya hasil penghitungan yang dilakukan oleh termohon dihasilkan dari suatu proses pemilu yang bertentangan dengan asas-asas penyelenggaraan pemilu yang luber jurdil. oleh karena itu, suara yang diperoleh oleh pemenang yang ditetapkan oleh termohon bukan merupakan cerminan aspirasi dan kedaulatan rakyat yang sebenar- benarnya tetapi karena banyaknya pelanggaran dan tindak kecurangan yang nyata-nyata telah terjadi di wilayah Kabupaten Kotabaru yang memiliki pengarah yang amat besar terhadap hasil perolehan suara akhir, khususnya terhadap perolehan suara Pemohon. u. Bahwa perolehan hasil penghitungan suara Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Tahun
2015, demi hukum haruslah dinyatakan tidak benar dikarenakan hasil penghitungan mana telah diperoleh dari proses kegiatan yang bertentangan dengan asas pemilu sebagaimana yang di atur dalam undang-undang nomor 15 Tahun 2011 yang menghendaki penyelenggara pemilu untuk memenuhi asas mandiri, jujur, adil, kepastian hukum, tertib penyelenggara pemilu, kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas, akuntabilitas, efisiensi dan efektivitas. Dengan demikian Pilkada Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 yang dihasilkan dari proses tersebut merupakan penyelenggaraan Pilkada yang tidak benar atau setidak-tidaknya terdapat dan dapat dikualifikasi sebagai pelanggaran dan kekeliruan serta mempunyai kaitan atau pengaruh langsung terhadap hasil penghitungan suara yang teijadi serta perolehan suara pasangan calon khususnya perolehan suara PEMOHON.
v. Bahwa disamping itu, diketahui dan terbukti bahwa Pemungutan Suara pada Pilkada Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 pada tanggai 9 Desember 2015 telah dijalankan oleh TERMOHON dengan didahului pelanggaran-pelanggaran yang mencederai demokrasi, baik yang dilakukan oleh TERMOHON selaku penyelenggara maupun Pasangan Calon Nomor Urut 3 yang jelas-jelas sangat mempengaruhi perolehan suara dan merugikan PEMOHON.
w. Bahwa Pemohon melalui saksi-saksi dalam setiap tingkatan penghitungan dan rekapitulasi suara telah menyatakan keberatan berkaitan dengan adanya pelanggaran- pelanggaran baik yang dilakukan oleh Termohon maupun Pasangan Calon Nomor Urut 3, sebagaimana telah dituangkan dalam Form DA2-KWK maupun DB2-KWK, akan tetapi Termohon justru tidak menanggapi keberatan-keberatan Pemohon dan tetap melanjutkan proses rekapitulasi suara sampai dengan pleno penetapan perolehan suara yang mana dalam prosesnya banyak terjadi pelanggaran. [Bukti. P-14, Bukti. P-15].
19
V. PETITUM
Berdasarkan seluruh uraian sebagaimana tersebut di atas, Pemohon memohon kepada Mahkamah Konstitusi untuk menjatuhkan putusan dengan amar sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya;
2. Menyatakan batal dan tidak sah serta tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru Nomor 37/Kpts/KPU- Kab-022/2015 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015.
3. Menyatakan batal dan tidak sah serta tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat Berita Acara Nomor: 45/BA/XII/2015 tentang Rekapitulasi hasil Penghitungan Suara dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tahun 2015
4. Menetapkan perolehan suara yang benar dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 adalah sebagai berikut:
No Nama Pasangan Calon Perolehan Suara
1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan
H. Sahidudin, S.Ag., MAP
45.121
2. H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd dan
M. Rezki Oktavianoor, S.Sos., M.Si
29.462
3. H. Sayed Jafar, SH dan
Ir. Burhanudin
44.293
4. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan
H. Risdianto Haleng. HB
23.319
5. H. Irhami Ridjani, S.Sos., M.Si dan
Ir. H. Syamsul Alam Azhar
12.443
6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP dan
Ir. H. Gusti Syafrin Masrin, Mapp., Sc
2.850
Jumlah Suara 157.488
20
II
atau, memerintahkan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kota Baru untuk melaksanakan Pemungutan Suara Ulang di:
1). seluruh TPS di Kecamatan Sungai Durian;
2). seluruh TPS pada Desa Mangka Kecamatan Pamukan Barat; 3). TPS 01 Desa Mangkirana Kecamatan Kelumpang Hulu; 4). TPS 03 Desa Betung Kecamatan Pulau Laut Timur.
5. Memerintahkan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru untuk melaksanakan putusan ini.
atau apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex a quo et bond)
Hormat kami,
Kuasa Hukum,
Dr. A. Muhammad Asrun, S.H., M.H. Junaidi, S.H., LL.M.
Vivi Ayunita Kusumandari, S.H. Ai Latifah Fardhiyah, S.H.