Nomer Perkara :
* 5 0 — P H P — B U P
PROVINSI:
* K A L I N T A
Jakarta, 19 Desember 2015
Jakarta 10110
Jl. Medan Merdeka Barat No.6 Kepada Yang Mulia.
Ketua M ahkamah Konstitusi R.I.
Hal : Permohonan Pembatalan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru Nomor 37/Kpts/KPU-Kab-022/2015 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 17 Desember 2015
Dengan hormat,
Kami yang bertanda-tangan di bawah ini:
kesemuanya adalah advokat dan konsultan hukum pada “Dr. M uhamm ad Asrun and Partners (MAP) Law Firm ,” beralamat di Menteng Square Tower A Nomor Ar-03, Jalan Matraman No. 30E Jakarta Pusat, Tlp/Fax: (021) 29614340, Email: [email protected], berdasarkan surat kuasa khusus tertanggal 17 Desember 2015 baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, bertindak untuk dan atas nama:
1. Nama : H.M. Iqbal Yudiannoor,SE.
Tempat, Tanggai Lahir : Kotabaru, 7 Mei 1976
Agama : Islam
1. Dr. A. M uhammad Asrun, S.H., M.H. 2. Junaidi, S.H., LL.M.
3. Vivi Ayunita K usum andari, S.H. 4. Ai Latifah Fardhiyah 5. M. Jodi Santoso, S.H.
6. Ismayati, S.H.
4 Pekerjaan Alamat NIK Wiraswasta Jl. A. Yani KM. 32,5 No. 41.F, RT.008/RW.010, Loktabat Utara, Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru, Prov. Kalimantan Selatan
6371010705760012
2. Nama
Tempat, Tanggai Lahir Agama
Pekeijaan Alamat
NIK
H. Sahidudin, S.Ag., MAP. Kotabaru, 25-06-1967 Islam
Anggota DPRD Kabupaten
Jl. Pangeran Kacil RT 009, Kotabaru Hilir, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru, Prov. Kalimantan Selatan
6302062506670004
Keduanya adalah Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015, dengan nomor urut 1 yang memenuhi syarat berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru Nomor 20/Kpts/KPU-Kab-022/2015 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati sebagai Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 24 Agustus 2015 jo Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru Nomor 23/Kpts/KPU-Kab-022/2015 tentang Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 26 Agustus 2015.
Selanjutnya disebut sebagai--- PEMOHON
PEMOHON dengan ini mengajukan Permohonan Keberatan terhadap Keputusan Komisi Pem ilihan Umum Kabupaten Nomor 37/Kpts/KPU-Kab-022/2015,tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 17 Desember 2015 (B8BS81
P -l) dan Berita Acara Nomor 45/BA/XII/2015 tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara di Tingkat Kabupaten dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tahun 2015 (Bukti P-2).
TERHADAP
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan yang beralamat di Jalan Brigjend. H Hasan Basrie No. 40 Kotabaru Kalimantan Selatan yang selanjutnya disebut TERMOHON.
Adapun uraian Permohonan Keberatan Pemohon adalah sebagai berikut:
I. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI
1. Bahwa Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 97/PUU-XI/2013 paragraf 3.14 menyatakan bahwa untuk menghindari keragu-raguan, ketidakpastian hukum
serta kevakuman lembaga yang berwenang menyelesaikan perselisihan hasil pemilihan umum kepala daerah karena belum adanya Undang-Undang yang mengatur mengenai hal tersebut maka penyelesaian perselisihan hasil pemilihan umum kepala daerah tetap menjadi kewenangan Mahkamah. Dengan demikian
Mahkamah berwenang kembali mengadili penyelesaian perselisihan hasil pemilihan umum kepala daerah hingga terbentuknya badan peradilan khusus; 2. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945
(selanjutnya disebut UUD 1945) dan Pasal 10 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut UU MK), serta pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakimam, salah satu kewenangan Mahkamah Konstitusi adalah mengadili perselisihan tentang pemilihan umum;
3. Bahwa berdasarkan Pasal 157 ayat (3) Undang Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubemur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang (UU 8/2015), perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil Pemilihan Gubemur, Bupati, dan Walikota diperiksa dan diadili oleh Mahkamah Konstitusi sampai dibentuknya badan peradilan khusus;
"J
4. Bahwa kewenangan tersebut kembali ditegaskan dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Gubemur, Bupati, dan Walikota (PMK1/2015);
5. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut maka menurut Pemohon Mahkamah Konstitusi berwenang untuk mengadili permohonan perselisihan tentang hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015;
II. KEDUDUKAN HUKUM {LEGAL STANDING) PEMOHON
1. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 157 ayat (4) UU 8/2015 disebutkan: “Peserta
Pemilihan dapat mengajukan permohonan pembatalan penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota
kepada Mahkamah Konstitusi
Selanjutnya ketentuan Pasal 3 ayat (1) PMK 1/2015, disebutkan:
“(1) Pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a adalah: a. Pasangan calon Gubemur dan Wakil Gubemur;
b. Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati; c. Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota".
2. Bahwa Pemohon adalah Pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 yang memenuhi syarat berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru Nomor 20/Kpts/KPU-Kab- 022/2015 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati sebagai Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 24 Agustus 2015 (Bukti P-3) jo Berita Acara Nomor: 19/BA/VDI/2015 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 24 Agustus 2015 (Bukti P-4) 3. Bahwa berdasarkan keputusan Termohon Nomor 23/Kpts/KPU-Kab-022/2015
bertanggal 26 Agustus 2015 tentang Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015, Nomor Urut Pasangan Calon adalah sebagai berikut:
(1) H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan H. Sahidudin, S A g ., MAP
(2) H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd dan M. Rezki Oktavianoor, S.Sos., M.Si. (3) H. Sayed Jafar, SH dan Ir. Burhanudin
(4) H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan H. Risdianto Haleng. HB (5) H. Iriiami Ridjani, S.Sos., M.Si dan Ir. H. Syamsul Alam Azhar
(6) H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP dan Ir. H. Gusti Syafrin Masrin, Mapp., Sc
4. Pemohon merupakan pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 dengan Nomor Urut 1 (satu) (Bukti P-5);
5. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka Pemohon telah nyata mempunyai kedudukan hukum {legal standing) untuk mengajukan keberatan a quo.
m . TENGGANG WAKTU PENGAJUAN PERMOHONAN
1. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 ayat (1) PMK 1/2015, permohonan diajukan dalam tenggang waktu 3x24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak Termohon mengumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilihan, sehingga 3x24 jam sejak 17 Desember 2015 adalah tanggai 20 Desember 2015.
2. Bahwa permohonan keberatan terhadap Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru Nomor 37/Kpts/KPU-Kab-022/2015 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 17 Desember 2015, Pukul 00.48 WITA yang oleh Pemohon didaftarkan di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi pada hari Sabtu tanggai 19. Desember 2015 pukul 12.00
3. Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, menurut Pemohon, permohonan Pemohon diajukan ke Mahkamah Konstitusi masih dalam tenggang waktu sebagaimana ditentukan oleh peraturan perundang-undangan.
IV. POKOK PERMOHONAN
KETENTUAN PENGAJUAN PERMOHONAN (JUMLAH PENDUDUK DAN PROSENTASE)
a. Bahwa berdasarkan Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015 juncto Pasal 6 ayat (1) PMK 1/2015, Pemohon mengajukan permohonan pembatalan Penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Gubemur dan Wakil Gubemur/ Calon Bupati dan Wakil Bupati/Calon Walikota dan Wakil Walikota oleh KPU/KIP Provinsi/Kabupaten/Kota, dengan ketentuan sebagai berikut:
(untuk pemilihan Calón Gubemur dan Wakil Gubemur*)
No. Jumlah Penduduk
Perbedaan Perolehan Suara berdasarkan Penetapan Perolehan
Suara Hasil Pemilihan oleh KPU/KIP Provinsi
1. <2.000.000 2%
2. > 2 .0 0 0 .0 0 0 -6 .0 0 0 .0 0 0 1,5%
3. > 6.000.000 -12.000.000 1%
4. > 12.000.000 0,5%
(untuk pemilihan Calon Bupati dan Wakil Bupati, serta Calon Walikota dan Wakil Walikota*)
No. Jumlah Penduduk
Perbedaan Perolehan Suara berdasarkan Penetapan Perolehan
Suara Hasil Pemilihan oleh KPU/KIP Kabupaten/Kota
1. <250.000 2%
2. > 250.000 - 500.000 1,5%
3. > 5 0 0 .0 0 0 - 1.000.000 1%
4. > 1.000.000 0,5%
b. Bahwa Pemohon sebagai pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Kotabaru dengan jumlah penduduk 314.747jiwa (Data Agregat Kependudukan Per Kecamatan (DAK2) (Bukti P-6) 314.492 jiwa (Data Pusat Statistik Daerah Kabupaten Kotabaru 2015) (Bukti P-7). Berdasrkan jumlah Penduduk Kabupaten Kotabaru, maka Perbedaan perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon paling banyak sebesar 1,5%.
c. Bahwa Pemohon memperoleh sebanyak 44.541 suara, sedangkan pasangan calon peraih suara terbanyak memperoleh sebanyak 44.873 suara. Sehingga perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak terdapat selisih sejumlah 332 suara atau sebesar 0,21 %.
d. Dengan demikian, menurut Pemohon, Pemohon telah memenuhi ketentuan Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015 juncto Pasal 6 ayat (1) PMK 1/2015.
KESALAHAN HASIL PENGHITUNGAN SUARA
a. Bahwa berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon, perolehan suara masing-masing pasangan calon, adalah sebagai berikut:
No Nama Pasangan Calon Perolehan Suara Prosentase
1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan
H. Sahidudin, S.Ag., MAP
44.541 28,28%
2. H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd dan
M. Rezki Oktavianoor, S.Sos., M.Si 29.462 18,70% 3. H. Sayed Jafar, SH dan Ir. Burhanudin 44.873 28,49% 4. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan H. Risdianto Haleng. HB 23.319 14,80%
5. H. Irhami Ridjani, S.Sos., M.Si dan
Ir. H. Syamsul Alam Azhar
12.443 7,90%
6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP
dan
Ir. H. Gusti Syafrin Masrin, M.app., Sc
2.850 1,80%
Junilah Suara 157.488 100%
(Berdasarkan tabel di atas Pemohon berada di peringkat 2 (dua) dengan perolehan suara sebanyak 44.541 suara)
b. Bahwa berdasarkan penghitungan suara menurut Pemohon, perolehan suara masing-masing pasangan calon, sebagai berikut:
No Nama Pasangan Calon Perolehan Suara
1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan
H. Sahidudin, S.Ag., MAP
45.121 2. H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd
dan
M. Rezki Oktavianoor, S.Sos., M.Si
29.462
3. H. Sayed Jafar, SH dan
Ir. Burhanudin
44.293 4. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP
dan
H. Risdianto Haleng. HB
23.319 5. H. Irhami Ridjani, S.Sos., M.Si
dan
Ir. H. Syamsul Alam Azhar
12.443 6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP
dan
Ir. H. Gusti Syafrin Masrin, Mapp., Sc
2.850
Jumlah Suara 157.488
(Berdasarkan tabel di atas Pemohon berada di peringkat pertama dengan perolehan suara sebanyak 45.121 suara)
c. Bahwa menurut Pemohon selisih suara Pemohon tersebut disebabkan adanya Penggelembungan suara Pasangan Calon Nomor Urut 3 dan pengurangan suara Pemohon, yang telah dilakukan oleh Termohon beserta jajarannya dan terjadi baik pada saat penghitungan suara di TPS oleh KPPS, maupun rekapitulasi penghitungan suara di tingkat Kecamatan oleh PPK, dimana suara Pemohon mengalami pengurangan sebanyak 580 suara, sedangkan Pasangan Calon nomor urut 3 perolehan suaranya bertambah.
d. Bahwa di TPS 08 Desa Manunggal, Kecamatan Sungai Durian terdapat suatu kejanggalan dalam pencatatan jumlah seluruh pengguna hak pilih yaitu sebanyak 217 dan jumlah surat suara yang digunakan tercatat 207 dan jumlah surat suara sah + tidak sah tercatat 207. PPK menjelaskan memang ada kesalahan dan telah dilakukan perbaikan atas kesalahan tersebut, namun tidak terdapat bukti paraf sebagai tanda telah dilakukan perbaikan. PPK menyatakan bahwa saksi pemohon tidak pro aktif dan saksi pasangan calon nomor 2 tidak menandatangani berita acara. Namun data yang ada dalam C-l-KWK saksi pasangan calon nomor 1 dan 4 tertera tanda tangan saksi pasangan calon nomor 2 sdr Tulus. Dari keterangan yang disampaikan PPK bertolakbelakang dengan data Cl-KWK (salinan) milik saksi pasangan calon nomor 1 dan 4. Dalam Dokumen DA-KWK tidak ada catatan tentang hal tersebut.
e. Bahwa di TPS 07 Desa Mangku, Kecamatan Pamukan Barat teijadi perbedaan data C1 -KWK hologram dengan C1 -KWK (salinan) dan C1 -KWK Piano tentang jumlah suara sah dan jumlah suara tidak sah. Panwas Kabupaten juga menyatakan adanya perbedaan jumlah DPT laki-laki dan perempuan DAI-KWK Bupati dengan Gubemur, namun hal tersebut tidak ditanggapi oleh Termohon.
f. Bahwa TPS 01 dan TPS 06 saat dibuka pada rapat pleno Kecamatan ditemukan dalam satu kotak suara Calon Gubemur, sehingga saksi pasangan calon nomor 1 menyatakan hal tersebut mengakibatkan pelaksanaan penghitungan suara cacat hukum, namun demikian tidak ada tanggapan dari termohon (Pada saat pleno di Kabupaten, PPK menyatakan bahwa saksi pasangan calon nomor 1 tidak mengajukan keberatan).
g. Bahwa mengenai keberatan saksi Pemohon pada Pleno Kecamatan Pamukan Barat terkait dengan TPS 07, PPK, PPS dan Panwascam dengan nyata dan tegas melakukan voting untuk tetap melanjutkan tahapan, sementara saksi pemohon meminta untuk ditunda.
h. Bahwa PPS Desa Mangka, Kecamatan Pamukan Barat, pada saat membacakan C1 - KWK TPS 01 sampai dengan TPS 06 tidak menunjukkan Cl-KWK hologram dan PPK juga tidak meminta kepada yang bersangkutan untuk menunjukkan dan memcacakan hasil dari Cl-KWK berhologram, Panwas yang mengetahui hal tersebut juga membiarkannya.
i. Bahwa Cl-KWK TPS 01 dan TPS 06 Desa Mangka, Kecamatan Pamukan Barat ada dalam kotak suara Calon Gubemur
j . Bahwa banyak C1 -KWK yang tidak dibagikan kepada saksi seluruh calon saat rapat pleno di kecamatan, seingga banyak saksi pasangan calon tidak lengkap data C l- KWK
k. Bahwa di TPS 07 Desa Mangka teijadi perbedaan data C1 -KWK berhologram yang dibaca PPS tentang jumlah suara sah dan suara tidak sah (suara sah: 231, tidak sah: 16), sedangkan data Cl-KWK yang dipegang oleh seluruh saksi pasangan calon tercatat suara sah: 226 dan suara tidak sah: 21 (sesuai dengan AO/Plano berhologram yang dikeluarkan dari kotak suara), yang menunjukkan terjadinya penggelembungan suara.
•‘V
t:"- i: I '
1. Bahwa Termohon telah melakukan pelanggaran dan bertindak tidak profesional dalam penyelenggaraan Pilkada Kabupaten Kotabaru Tahun 2015. Termohon terbukti tidak cermat dan berhati-hati dalam melakukan penghitungan suara, bahkan cenderung memihak pada Pasangan Calon Nomor Urut 3. Bukti ketidakprofesionalan Termohon juga terlihat dengan banyaknya Cl-KWK untuk Pemilihan Bupati dan Wqk|J Bupati dari TPS-TPS cji beberapa kecamatan yang tersebar di wilayah Kabupaten Kotabaru justru berada dalam kotak suara imtuk pemijihan Gubemur Kalimantan Selatan yang mana ^emang dilajcukan pada saat bersamaan. Hal ini menimbulkan ketidakpastian hukurn dan juga ketidakakijratan hasil perolehan suara yang diperoleh masing-masing pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati, oleh karena tercampur dengan Cl-KWK untuk Pemilihan Gubemur. m. Bahwa Pasal 18 ayat 4 UUD 1945 mengharuskan Pilkada dilakukan secara
domokratis dengan tidak melanggar asas-asas yang bersifat luber dan jurdil sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 juncto UU No. 8 Tahun 2004 tentang Pemilihan Gubemur, Bupati dan Walikota. Disamping itu ditegaskan pula bahwa pelaksanaan Pemilu harus bebas dari rasa takut, tekanan, ancaman atau intimidasi dari pihak manapun, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22G ayat (1) UUD 1945;
n. Bahwa pelaksanaan “Asas Demokrasi” atau “Asas Kedaulatan Rakyat’’ harus didasarkan pada asas Nomokrasi atau asas Negara Hukum yang merupakan pengakuan, jaminan, perlindungan hukum dan kepastian hukum yang adil sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang. Termohon dalam menjalankan tugas, wewenang dan kewajibannya dalam penyelenggaraan Pilkada, wajib menjamin bahwa pelaksanaan Pilkada tersebut beijalan dan terlaksana berdasarkan prinsip demokrasi dan nomokrasi. Oleh karena mana sebagai konsekwensi logis- yuridisnya, setiap keputusan yang diperoleh secara tidak demokratis dan apalagi melawan hukum serta mencederai nilai-nilai dasar konstitusi maupun demokrasi, “dapat dibatalkan oleh Mahkamah” jika dapat dibuktikan secara sah didalamnya terdapat pelanggaran terhadap nomokrasi, termasuk pada Berita Acara dan Keputusan-Keputusan Termohon sebagaimana menjadi obyek permohonan a ’quo. Bahwa terkait dengan hal dimaksud, dalam mengemban misinya Mahkamah sebagai pengawal konstitusi dan pemberi keadilan tidak dapat memainkan perannya
10
dalam mewujudkan perannya dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan negara dalam memberikan perannya dalam kesejahteraan bagi warga masyarakat jika dalam menangani sengketa Pilkada hanya menghitung perolehan suara secara matematis. Sebab kalau demikian, Mahkamah tidak dapat atau dilarang memasuki proses peradilan dengan memutus fakta hukum yang nyata-nyata terbukti tentang teijadinya suatu tindakan hukum yang menciderai hak-hak asasi manusia, terutama hak politik. Lebih dari itu, apabila Mahkamah diposisikan untuk membiarkan proses Pemilu ataupun Pilkada berlangsung tanpa ketertiban hukum maka pada akhimya sama saja dengan membiarkan teijadinya pelanggaran atas prinsip Pemilu yang Luber dan Jurdil. Jika demikian maka Mahkamah selaku institusi negara pemegang kekuasaan kehakiman hanya diposisikan sebagai “tukang stempel” dalam menilai kineija Komisi Pemilihan Umum. Jika hal itu teijadi berarti akan melenceng jauh dari filosofi dan tujuan diadakannya peradilan atas sengketa hasil Pemilukada tersebut.
Bahwa pelaksanaan “Asas Demokrasi” atau “Asas Kedaulatan Rakyat’’ harus didasarkan pada asas Nomokrasi atau asas Negara Hukum yang merupakan pengakuan, jaminan, perlindungan hukum dan kepastian hukum yang adil sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang. Termohon dalam menjalankan tugas, wewenang dan kewajibannya dalam penyelenggaraan Pemilukada, wajib menjamin bahwa pelaksanaan Pemilukada tersebut beijalan dan terlaksana berdasarkan prinsip demokrasi dan nomokrasi. Oleh karena mana sebagai konsekwensi logis-yuridisnya, setiap keputusan yang diperoleh secara tidak demokratis dan apalagi melawan hukum serta mencederai nilai-nilai dasar konstitusi maupun demokrasi, “dapat dibatalkan oleh Mahkamah” jika dapat dibuktikan secara sah didalamnya terdapat pelanggaran terhadap nomokrasi, termasuk pada Berita Acara dan Keputusan - Keputusan Termohon sebagaimana menjadi obyek permohonan a ’quo. Bahwa terkait dengan hal dimaksud, dalam mengemban misinya Mahkamah sebagai pengawal konstitusi dan pemberi keadilan tidak dapat memainkan perannya dalam mewujudkan perannya dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan negara dalam memberikan perannya dalam kesejahteraan bagi warga masyarakat jika dalam menangani sengketa Pemilukada hanya menghitung
perolehan suara secara matematis. Sebab kalau demikian, Mahkamah tidak dapat atau dilarang memasuki proses peradilan dengan memutus fakta hukum yang nyata- nyata terbukti tentang terjadinya suatu tindakan hukum yang menciderai hak-hak asasi manusia, terutama hak politik. Lebih dari itu, apabila Mahkamah diposisikan untuk membiarkan proses Pemilu ataupun Pemilukada berlangsung tanpa ketertiban hukum maka pada akhimya sama saja dengan membiarkan teijadinya pelanggaran atas prinsip Pemilu yang Luber dan Jurdil. Jika demikian maka Mahkamah selaku institusi negara pemegang kekuasaan kehakiman hanya diposisikan sebagai “tukang stempel” dalam menilai kineija Komisi Pemilihan Umum. Jika hal itu teijadi berarti akan melenceng jauh dari filosofi dan tujuan diadakannya peradilan atas sengketa hasil Pemilu atau Pemilukada tersebut.
Bahwa dari pandangan hukum di atas, Mahkamah dalam mengadili sengketa Pemilukada tidak hanya membedah permohonan dengan melihat hasil perolehan Suara, melainkan Mahkamah juga meneliti secara mendalam adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis dan massif yang mempengaruhi hasil perolehan suara tersebut. Dalam berbagai putusan Mahkamah yang seperti itu, terbukti telah memberikan makna hukum dan keadilan dalam penanganan permohonan, baik dalam rangka pengujian Undang-Undang maupun sengketa Pemilu atau Pemilukada. Dalam praktik yang sudah menjadi yurisprudensi dan diterima sebagai solusi hukum itu, Mahkamah dapat menilai pelanggaran-pelanggaran yang terstruktur, sistematis dan massif sebagai penentu putusan dengan alasan pelanggaran yang memiliki tiga sifat itu dapat mempengaruhi hasil peringkat perolehan suara yang signifikan dalam Pemilu atau Pemilukada (Vide Putusan M ahkam ah dalam Perkara Nomor 41/PHPU.D VI/2008 Tertanggal 2 Desember 2008, Nomor 57/PHPU.D-VI/2008 tertanggal 08 Januari 2009, Nomor 82/PHPU.D-DC/2011 tertanggal 22 Agustus 2011).
Bahwa Termohon selaku penyelenggara Pemilihan Umum, terikat pada asas Penyelenggara Pemilu sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 2 Undang- Undang Nomor 15 Tahun 2011 Tentang Penyelenggara Pemilihan Umum yang menyatakan bahwa “Penyelenggara Pemilu berpedoman pada asas: a). Mandiri;
b). Jujur; c). Adil; d). Kepastian Hukum; e). Tertib; f). Kepentingan Umum; g). Keterbukaan; h). Proporsionalitas; i). Profesionaliatas; j). Akuntabilitas; k). Efisiensi; dan i). Efektifitas
Bahwa pada pokoknya permohonan PEMOHON adalah keberatan terhadap Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 berdasarkan Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten oleh TERMOHON tertanggal 17 Desember 2015; Bahwa berdasarkan pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi dalam putusan nomor 79/PHPU.D-XI/2013 bertanggal 11 Juli 2013 pada halaman 151 yang pada pokoknya menyatakan bahwa Mahkamah telah membagi tiga kategori pelanggaran pemilukada yang dalam perkara a quo masuk ke dalam kategori pelanggaran kedua yaitu : “ ...pelanggaran dalam proses Pemilu atau Pemilukada yang berpengaruh
terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada seperti money politic, keterlibatan oknumpejabat atau PNS, dugaan pidana Pemilu, dan sebagainya Pelanggaran yang seperti ini dapat membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada sepanjang berpengaruh secara signifikan, yakni karena terjadi secara terstruktur, sistematis, dan m asif yang ukuran-ukurannya telah ditetapkan dalam berbagai putusan Mahkamah, sedangkan pelanggaran-pelanggaran yang sifatnya tidak signifikan terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada seperti yang bersifat sporadis, parsial,perorangan, dan hadiah-hadiah yang tidak bisa dibuktikan pengaruhnya
terhadap pilihan pemilih tidak dijadikan dasar oleh Mahkamah untuk membatalkan hasil penghitungan suara oleh KPU/KPU/KIP provinsi/kabupaten/kota ”
Bahwa Pemohon secara tegas menyatakan sangat berkeberatan dan menolak Berita Acara tentang Rekapitulasi Hasil Perhitungan Suara Pem ilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru, tanggai 17 Desember 2015 didasarkan pada alasan bahwasannya hasil penghitungan yang dilakukan oleh termohon dihasilkan dari suatu proses pemilu yang bertentangan dengan asas-asas penyelenggaraan pemilu yang luber jurdil. oleh karena itu, suara yang diperoleh oleh pemenang yang ditetapkan oleh termohon bukan merupakan cerminan aspirasi
dan kedaulatan rakyat yang sebenar-benarnya tetapi karena banyaknya pelanggaran dan tindak kecurangan yang nyata-nyata telah teijadi secara massif, sistematis dan terstruktur di seluruh wilayah Kabupaten Kotabaru yang memiliki pengaruh yang amat besar terhadap hasil perolehan suara akhir, khususnya terhadap perolehan suara Pemohon.
u. Bahwa perolehan hasil penghitungan suara Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Tahun 2015, demi hukum haruslah dinyatakan tidak benar dikarenakan hasil penghitungan mana telah diperoleh dari proses kegiatan yang bertentangan dengan asas pemilu sebagaimana yang di atur dalam undang-undang nomor 15 Tahun 2011 yang menghendaki penyelenggara pemilu untuk memenuhi asas mandiri, jujur, adil, kepastian hukum, tertib penyelenggara pemilu, kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas, akuntabilitas, efisiensi dan efektivitas. Dengan demikian Pilkada Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 yang dihasilkan dari proses tersebut merupakan penyelenggaraan Pilkada yang tidak benar atau setidak- tidaknya terdapat dan dapat dikualifikasi sebagai pelanggaran dan kekeliruan yang massif, sistematis dan terstruktur serta mempunyai kaitan atau pengaruh langsung terhadap hasil penghitungan suara yang teijadi serta perolehan suara pasangan calon khususnya perolehan suara PEMOHON.
v. Bahwa disamping itu, diketahui dan terbukti bahwa Pemungutan Suara pada Pilkada Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 pada tanggai 9 Desember 2015 telah dijalankan oleh TERMOHON dengan didahului pelanggaran-pelanggaran yang mencederai demokrasi, baik yang dilakukan oleh TERMOHON selaku penyelenggara maupun Pasangan Calon Nomor Urut 3 yang jelas-jelas sangat mempengaruhi perolehan suara dan merugikan PEMOHON.
w. Bahwa Pemohon melalui saksi-saksi dalam setiap tingkatan penghitungan dan rekapitulasi suara telah menyatakan keberatan berkaitan dengan adanya pelanggaran-pelanggaran baik yang dilakukan oleh Termohon maupun Pasangan Calon Nomor Urut 3, sebagaimana telah dituangkan dalam Form DA2-KWK maupun DB2-KWK, akan tetapi Termohon justru tidak menanggapi keberatan- keberatan Pemohon dan tetap melanjutkan proses rekapitulasi suara sampai dengan pleno penetapan perolehan suara yang mana dalam prosesnya banyak teijadi pelanggaran.
V. PETITUM
Berdasarkan seluruh uraian sebagaimana tersebut di atas, Pemohon memohon kepada Mahkamah Konstitusi untuk menjatuhkan putusan dengan amar sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya;
2. Menyatakan batal dan tidak sah serta tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru Nomor 37/Kpts/KPU-Kab-022/2015 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 201 S.
3. Menyatakan batal dan tidak sah serta tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat Berita Acara Nomor: 45/BA/XII/2015 tentang Rekapitulasi hasil Penghitungan Suara dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tahun 2015 4. Menetapkan perolehan suara yang benar dalam Pemilihan Bupati dan Wakil
Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 adalah sebagai berikut:
No Nama Pasangan Calon Perolehan Suara
1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan
H. Sahidudin, S.Ag., MAP
45.121 2. H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd
dan
M. Rezki Oktavianoor, S.Sos., M.Si
29.462
3. H. Sayed Jafar, SH
dan Ir. Burhanudin
44.293 4. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP
dan
H. Risdianto Haleng. HB
23.319 5. H. Irhami Ridjani, S.Sos., M.Si
dan
Ir. H. Syamsul Alam Azhar
12.443 6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP
dan
Ir. H. Gusti Syafrin Masrin, Mapp., Sc
2.850
Jumlah Suara 157.488
5. Menetapkan Pemohon sebagai Pasangan Caion Bupati dan Wakil Bupati Terpilih dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru tahun2015.
6. Memerintahakan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru untuk melaksanakan putusan ini.
Atau apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex a
quo et bono)
Hormat kami,
KUASA HUKUM PEMOHON
Dr. A. Muhammad Asrun, S.H., M.H. Junaidi, S.H., LL.M.
Vivi Ayunita Kusumandari, S.H.
Muhammad Asrun &
MAP
Partners Law Firm
Kepada Yang Mulia.
K etua M ah k a m a h K onstitusi R.I. Jl. Medan Merdeka Barat No.6 Jakarta 10110
OiTfcKsfríA
O A H Í ..¡féfi&W S.... j
H a :i Tanggaf ■:trn2£) \)CS?húer Slely
15- ^5 Vle>
Jakarta, 29 D esem ber 2015Hal : REVISI PERMOHONAN Pem batalan K eputusan Komisi Pemilihan Um um K abupaten Kotabaru N om or 37/K pts/K PU -K ab-022/2015 tentang Penetapan R ekapitulasi Hasil Pem ilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten K otabaru Tahun 2015, bertanggal 17 Desem ber 2015 [APPP No. 18/PAN.M K/2015]
Dengan hormat,
Kami yang bertanda-tangan di bawah ini:
Dr. A. M u h am m ad A sru n , S.H., M.H., J u n a id i, S.H., LL.M .
Vivi A y u n ita K u su m an d a ri, S.H. Ai L a tifa h F a rd h iy a h , S.H.
M . J o d i Santoso, S.H. Ism ay ati, S.H.
kesemuanya adalah advokat dan konsultan hukum pada“ Dr. M uham m ad A sru n an d P a rtn e rs (M A P) Law F irm ,” beralamat di Menteng Square Tower A Nomor Ar-03, Jalan Matraman No. 30E Jakarta Pusat, Tlp/Fax: (021) 29614340, Email: [email protected], berdasarkan surat kuasa khusus tertanggal 17 Desember 2015 baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, bertindak untuk dan atas nama:
1. N am a
Tempat, Tanggai Lahir Agama Pekeijaan H.M. Iqbal Yudiannoor,SE. Kotabaru, 7 Mei 1976 Islam W iraswasta
Alamat JI. A. Yani KM. 32,5 No. 41.F, RT.008/RW.010, Loktabat Utara, Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru, Prov. Kalimantan Selatan
6371010705760012 NIK
2. Nama
Tempat, Tanggai Lahir Agama
Pekeijaan Alamat
H. Sahidudin, S.Ag., MAP. Kotabaru, 25-06-1967 Islam
Anggota DPRD Kabupaten
Jl. Pangeran Kacil RT 009, Kotabaru Hilir,
Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru, Prov. Kalimantan Selatan
6302062506670004 NIK
keduanya adalah Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015, dengan nomor urut 1 yang memenuhi syarat berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru Nomor 20/Kpts/KPU- Kab-022/2015 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati sebagai Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 24 Agustus 2015 jo Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru Nomor 23/Kpts/KPU-Kab- 022/2015 tentang Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 26 Agustus 2015. Selanjutnya disebut sebagai--- PEMOHON
PEMOHON dengan ini mengajukan Permohonan Keberatan terhadap Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Nomor: 37/Kpts/KPU-Kab-022/2015 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 17 Desember 2015 [Bukti P -l] dan Berita Acara Nomor 45/BA/XII/2015 tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara di Tingkat Kabupaten dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tahun 2015 [Bukti P-
2]-terhadap
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan yang beralamat di Jalan Brigjend. H Hasan Basrie No. 40 Kotabaru Kalimantan Selatan yang selanjutnya disebut TERMOHON.
Adapun uraian Permohonan Keberatan Pemohon adalah sebagai berikut:
I. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI
1. Bahwa Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 97/PUU-XI/2013 paragraf 3.14 menyatakan bahwa untuk menghindari keragu-raguan, ketidakpastian hukum serta kevakuman lembagayang berwenang menyelesaikan perselisihan hasilpemilihan umum kepala daerah karena belum adanya Undang-Undang yang mengatur mengenai hal tersebut maka penyelesaian perselisihan hasil pemilihan umum kepala daerah tetap menjadi kewenangan Mahkamah. Dengan demikian Mahkamah berwenang kembali mengadili penyelesaian perselisihan hasil pemilihan umum kepala daerah hingga terbentuknya badan peradilan khusus;
2. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945) dan Pasal 10 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut UU MK), serta pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakimam, salah satu kewenangan Mahkamah Konstitusi adalah mengadili perselisihan tentang pemilihan umum;
3. Bahwa berdasarkan Pasal 157 ayat (3) Undang Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubemur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang (UU 8/2015), perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil Pemilihan Gubemur, Bupati, dan Walikota diperiksa dan diadili oleh Mahkamah Konstitusi sampai dibentuknya badan peradilan khusus;
4. Bahwa kewenangan tersebut kembali ditegaskan dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Gubemur, Bupati, dan Walikota (PMK1/2015);
5. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut maka menurut Pemohon Mahkamah Konstitusi berwenang untuk mengadili permohonan perselisihan tentang hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015.
II. KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEM OHON
1. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 157 ayat (4) UU 8/2015 disebutkan: “Peserta Pemilihan dapat mengajukan permohonan pembatalan penetapan hasil penghitungan perolehan suara oleh KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota kepada Mahkamah
Konstitusi
Selanjutnya ketentuan Pasal 3 ayat (1) PMK 1/2015, disebutkan: “(1) Pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a adalah: a. Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur;
b. Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati; c. Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota".
2. Bahwa Pemohon adalah Pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 yang memenuhi syarat berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru Nomor 20/Kpts/KPU-Kab-022/2015 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati sebagai Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 24 Agustus 2015 [Bukti P-3] jo Berita Acara Nomor: 19/BA/VIII/2015 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 24 Agustus 2015 [Bukti P-4].
3. Bahwa berdasarkan keputusan Termohon Nomor 23/Kpts/KPU-Kab-022/2015 bertanggal 26 Agustus 2015 tentang Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015, Nomor Urut Pasangan Calon adalah sebagai berikut:
(1) H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan H. Sahidudin, S.Ag., MAP
(2) H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd dan M. Rezki Oktavianoor, S.Sos., M.Si. (3) H. Sayed Jafar, SH dan Ir. Burhanudin
(4) H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan H. Risdianto Haleng. HB (5) H. Irhami Ridjani, S.Sos., M.Si dan Ir. H. Syamsul Alam Azhar
(6) H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP dan Ir. H. Gusti Syafrin Masrin, Mapp., Sc 4. Pemohon merupakan pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru
Tahun 2015 dengan Nomor Urut l (satu) [Bukti P-5];
5. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka Pemohon telah nyata mempunyai kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan keberatan a quo.
III. TENGGANG WAKTU PENGAJUAN PERMOHONAN
1. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 ayat (1) PMK 1 /2015, permohonan diajukan dalam tenggang waktu 3x24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak Termohon mengumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilihan, sehingga 3x24 jam sejak 17 Desember 2015 adalah tanggai 20 Desember 2015.
2. Bahwa permohonan keberatan terhadap Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru Nomor 37/Kpts/KPU-Kab-022/2015 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015, bertanggal 17 Desember 2015, Pukul 00.48 WTTA yang oleh Pemohon didaftarkan di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi pada hari Sabtu tanggai 19 Desember 2015 pukul 12.03 WIB. 3. Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, menurut Pemohon, permohonan Pemohon
diajukan ke Mahkamah Konstitusi masih dalam tenggang waktu sebagaimana ditentukan oleh peraturan perundang-undangan.
IV. POKOK PERMOHONAN
IV.A. KETENTUAN PENGAJUAN PERMOHONAN (JUMLAH PENDUDUK DAN PROSENTASE)
a. Bahwa berdasarkan Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015 juncto Pasal 6 ayat (1) PMK 1/2015, Pemohon mengajukan permohonan pembatalan Penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Gubemur dan Wakil Gubemur/ Calon Bupati dan Wakil Bupati/Calon Walikota dan Wakil Walikota oleh KPU/KIP Provinsi/Kabupaten/Kota, dengan ketentuan sebagai berikut:
(untuk pemilihan Calon Gubemur dan Wakil Gubemur*)
No. Jumlah Penduduk
Perbedaan Perolehan Suara berdasarkan Penetapan Perolehan
Suara Hasil Pemilihan oleh KPU/KIP Provinsi
1. <2.000.000 2%
2. > 2.000.000 - 6.000.000 1,5%
3. > 6 .0 0 0 .0 0 0 - 12.000.000 1%
(untuk pemilihan Calon Bupati dan Wakil Bupati, serta Calon Walikota dan Wakil Walikota*)
No. Jumlah Penduduk
Perbedaan Perolehan Suara berdasarkan Penetapan Perolehan
Suara Hasil Pemilihan oleh KPU/KIP Kabupaten/Kota
1. < 250.000 2%
2. > 250.000 - 500.000 1,5%
3. > 5 0 0 .0 0 0 - 1.000.000 1%
4. > 1.000.000 0,5%
b. Bahwa Pemohon sebagai pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Kotabaru dengan jumlah penduduk 314.747 jiwa (Data Agregat Kependudukan Per Kecamatan (DAK2) [Bukti P-6] dan 314.492 jiwa (Data Pusat Statistik Daerah Kabupaten Kotabaru 2015) [Bukti P-7]. Berdasarkan jumlah Penduduk Kabupaten Kotabaru, maka Perbedaan perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon paling banyak sebesar 1,5%.
c. Bahwa Pemohon memperoleh sebanyak 44.541 suara, sedangkan pasangan calon peraih suara terbanyak memperoleh sebanyak 44.873 suara. Sehingga perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak terdapat selisih sejumlah 332 suara atau sebesar 0,21 %.
d. Dengan demikian, menurut Pemohon, Pemohon telah memenuhi ketentuan Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015 juncto Pasal 6 ayat (1) PMK 1/2015.
IV.B. KESALAHAN HASIL PENGHITUNGAN SUARA
a. Bahwa berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon, perolehan suara masing-masing pasangan calon, adalah sebagai berikut:
No Nama Pasangan Calon Perolehan Suara Prosentase 1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE
dan
44.541 28,28%
6
H. Sahidudin, S.Ag., MAP 2. H. Rudy Suryana, S.Sos.,
M.M.Pd dan
M. Rezki Oktavianoor, S.Sos., M.Si 29.462 18,70% 3. H. Sayed Jafar, SH dan Ir. Burhanudin 44.873 28,49% 4. 5. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan H. Risdianto Haleng. HB 23.319 14,80%
H. Irhami Ridjani, S.Sos., M.Si dan
Ir. H. Syamsul Alam Azhar
12.443 7,90%
6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP
dan
Ir. H. Gusti Syafrin Masrin, M.app., Sc
2.850 1,80%
Jum lah Suara 157.488 100%
(Berdasarkan tabel di atas Pemohon berada di peringkat 2 (dua) dengan perolehan suara sebanyak 44.541 suara)
Bahwa berdasarkan penghitungan suara menurut Pemohon, perolehan suara masing- masing pasangan calon, sebagai berikut:
No Nama Pasangan Calon Perolehan Suara
1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan
H. Sahidudin, S.Ag., MAP
2. H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd dan
M. Rezki Oktavianoor, S.Sos., M.Si
29.462
3. H. Sayed Jafar, SH dan
Ir. Burhanudin
44.293
4. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan
H. Risdianto Haleng. HB
23.319
5. H. Irhami Ridjani, S.Sos., M.Si dan
Ir. H. Syamsul Alam Azhar
12.443
6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP dan
Ir. H. Gusti Syafrin Masrin, Mapp., Sc
2.850
Junilah Suara 157.488
(Berdasarkan tabel di atas Pemohon berada di peringkat pertama dengan perolehan suara sebanyak 45.121 suara)
c. Bahwa menurut Pemohon selisih suara Pemohon tersebut disebabkan adanya Penggelembungan suara Pasangan Calon Nomor Urut 3 dan pengurangan suara Pemohon, yang telah dilakukan oleh Termohon beserta jajarannya dan teijadi baik pada saat penghitungan suara di TPS oleh KPPS, maupun rekapitulasi penghitungan suara di tingkat Kecamatan oleh PPK, dimana suara Pemohon mengalami pengurangan sebanyak 580 suara, sedangkan Pasangan Calon nomor urut 3 perolehan suaranya bertambah sebagaimana terlihat pada tabel tersebut di atas.
IV .B .l. KISRUH DAN MANIPULASI HASIL REKAPITULASI SUARA
d. Bahwa pada Rapat Pleno Penghitungan Suara Tingkat Kecamatan pada Kecamatan Sungai Durian terjadi rekayasa data perolehan, di mana menurut saksi mandat Pemohon pada PPK Kecamatan Sungai Durian bahwa hasil rekapitulasi penghitungan suara pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kecamatan Sungai Durian
Kabupatan Kotabaru telah dibagikan dua hari lebih awai dari jadwal rapat pleno tingkat Kecamatan yang dilaksanakan pasa hari Sabtu tanggai 12 Desember 2015. Ketika dilaksanakan Rapat Pleno Tingkat Kecamatan pada tanggai 12 Desember, yang dibuka pada jam 08.00 WITA, ternyata telah ditayangkan pada layar monitor hasil perolehan suara pasangan calon yang sama isinya seperti data yang telah saksi mandat Pemohon peroleh dua hari yang lalu dari Sekretariat PPK Kecamatan Sungai Durian bernama Maulana. Ketua PPK Sungai Durian bernama Giran langsung menyatakan hasil perolehan suara itu adalah sah tanpa memberikan kesempatan kepada masing-masing saksi mandat pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati untuk mengajukan keberatan dan langsung diminta menandatangani hasil pleno kepada para saksi mandat pasangan calon. Saksi fakta akan menyampaikan hal tersebut dalam sidang di M ahkam ah Konstitusi.
e. Bahwa di TPS 08 Desa Manunggal, Kecamatan Sungai Durian terdapat suatu kejanggalan dalam pencatatan jumlah seluruh pengguna hak pilih yaitu sebanyak 217 dan jumlah surat suara yang digunakan tercatat 207 dan jumlah surat suara sah + tidak sah tercatat 207. PPK menjelaskan memang ada kesalahan dan telah dilakukan perbaikan atas kesalahan tersebut, namun tidak terdapat bukti paraf sebagai tanda telah dilakukan perbaikan. PPK menyatakan bahwa saksi pemohon tidak pro aktif dan saksi pasangan calon nomor 2 tidak menandatangani berita acara. Namun data yang ada dalam C -l- KWK saksi pasangan calon nomor 1 dan 4 tertera tanda tangan saksi pasangan calon nomor 2 sdr Tulus. Dari keterangan yang disampaikan PPK bertolak belakang dengan data Cl-KWK (salinan) milik saksi pasangan calon nomor 1 dan 4. Dalam Dokumen DA-KWK tidak ada catatan tentang hal tersebut. [Bukti. P-8].
Saksi fakta akan menyampaikan keterangan terkait masalah itu dalam sidang di M ahkam ah Konstitusi.
Hasil Rekapitulasi di TPS 08 Desa Manunggal Kecamatan Sungai Durian adalah:
No Nama Pasangan Calon Perolehan
Suara 1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan H. Sahidudin, S.Ag., MAP 25 2. H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd dan M. Rezki
Oktavianoor, S.Sos., M.Si
16
3. H. Sayed Jafar, SH dan Ir. Burhanudin 137
/)
4. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan H. Risdianto
Haleng. HB 19
5. H. Irhami Ridjani, S.Sos., M.Si dan Ir. H. Syamsul Alam
Azhar 0
6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP dan Ir. H. Gusti Syafrin
Masrin, Mapp., Sc 4
Jumlah Seluruh Suara Sah 201
Jumlah Seluruh Suara Tidak Sah 6
Bahwa di TPS 07 Desa Mangka, Kecamatan Pamukan Barat terjadi perbedaan data C l- KWK hologram dengan C 1 -KWK (salinan) dan C 1 -KWK Piano tentang jumlah suara sah dan jumlah suara tidak sah. Panwas Kabupaten juga menyatakan adanya perbedaan jumlah DPT laki-laki dan perempuan DAI-KWK Bupati dengan Gubemur, namun hal
tersebut tidak ditanggapi oleh Termohon.
Bahwa mengenai keberatan saksi Pemohon pada Pleno Kecamatan Pamukan Barat terkait dengan TPS 07 Desa Mangka, PPK dan PPS, dimana kemudian Panwascam dengan tegas melakukan voting untuk tetap melanjutkan tahapan, sementara saksi pemohon meminta untuk ditunda. [Bukti. P-9].
Saksi fakta akan menyampaikan keterangan terkait masalah itu dalam sidang di Mahkamah Konstitusi.
Hasil Rekapitulasi Perolehan Suara di TPS 07 Desa Mangka, Kecamatan Pamukan Barat:
No Nama Pasangan Calon Perolehan
Suara 1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan H. Sahidudin, S.Ag., MAP 15 2. H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd dan M. Rezki
Oktavianoor, S.Sos., M.Si 62
3. H. Sayed Jafar, SH dan Ir. Burhanudin 59
4. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan H. Risdianto
Haleng. HB 85
5. H. Irhami Ridjani, S.Sos., M.Si dan Ir. H. Syamsul Alam Azhar
6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP dan Ir. H. Gusti Syafrin
Masrin, Mapp., Sc 0
Jumlah Seluruh Suara Sah 226
Jumlah Seluruh Suara Tidak Sah 21
g. Bahwa TPS 01 dan TPS 06 Desa Mangka Kecamatan Pamukan Barat saat dibuka pada rapat pleno Kecamatan ditemukan dalam satu kotak suara Calon Gubemur, karena itu saksi pasangan calon nomor 1 menyatakan hal tersebut pelaksanaan penghitungan suara cacat hukum, tetapi tidak ada tanggapan dari termohon. Namun, pada saat pleno di tingkat Kabupaten, PPK Kecamatan Pamukan Barat menyatakan bahwa saksi pasangan calon nomor 1 tidak mengajukan keberatan saat pleno di tingkat kecamatan.
Bahwa saat rekapitulasi di PPK Kecamatan Pamukan Barat, PPS Desa Mangka saat membacakan Cl-KWK TPS 01, TPS 02, TPS 03, TPS 04, TPS 05 dan TPS 06 tidak menunjukkan C1-KWK hologram, tetapi PPK tidak meminta kepada yang bersangkutan untuk menunjukkan dan membacakan hasil dari Cl-KWK berhologram.
Bahwa terjadi Cl-KWK dari TPS 01 dan TPS 06 Desa Mangka, Kecamatan Pamukan Barat untuk Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru berada dalam kotak suara Calon Gubemur, sehingga tidak diketahui secara tepat berapa perolehan suara masing- masing pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru. [Vide Bukti P-14]. Panwas yang hadir saat rapat pleno tersebut membiarkan kejadian tersebut tanpa memberikan teguran dan peringatan.
Saksi fakta akan menyampaikan keterangan terkait masalah itu dalam sidang di Mahkamah Konstitusi.
[Bukti. P-10,P-11[.
Hasil Rekapitulasi Perolehan Suara di TPS 01 Desa Mangka:
No Nama Pasangan Calon Perolehan
Suara 1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan H. Sahidudin, S.Ag., MAP 10 2. H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd dan M. Rezki
Oktavianoor, S.Sos., M.Si 33
3. H. Sayed Jafar, SH dan Ir. Burhanudin 19
4. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan H. Risdianto
Haleng. HB 1
5. H. lrhami Ridjani, S.Sos., M.Si dan Ir. H. Syamsul Alam
Azhar 4
6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP dan Ir. H. Gusti Syafrin
Masrin, Mapp., Sc 10
Jumlah Seluruh Suara Sah 77
Jumlah Seluruh Suara Tidak Sah 2
Hasil Rekapitulasi Perolehan Suara di TPS 06 Desa Mangka:
No Nama Pasangan Calon Perolehan
Suara 1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan H. Sahidudin, S.Ag., MAP 8 2. H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd dan M. Rezki
Oktavianoor, S.Sos., M.Si 2
3. H. Sayed Jafar, SH dan Ir. Burhanudin 35
4. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan H. Risdianto
Haleng. HB 0
5. H. lrhami Ridjani, S.Sos., M.Si dan Ir. H. Syamsul Alam
Azhar 2
6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP dan Ir. H. Gusti Syafrin
Masrin, Mapp., Sc 1
Jumlah Seluruh Suara Sah 48
Jumlah Seluruh Suara Tidak Sah 3
Bahwa pada saat pemberian suara di TPS 01 Desa Mangkirana Kecamatan Kelumpang Hulu seorang pemilih terdaftar pada DPT memberian suara untuk dua orang pemilih lainnya. Selain itu, pada pemungutan suara terdapat pemilih dari daerah lain, yaitu dari Kabupaten Tanah Bumbu.
Saksi fakta akan menyampaikan keterangan terkait masalah itu dalam sidang di Mahkamah Konstitusi.
Bahwa di Kecamatan Pamukan Barat banyak Cl-KWK yang tidak dibagikan kepada saksi seluruh calon saat Rapat Pleno di tingkat Kecamatan, sehingga banyak saksi pasangan calon tidak lengkap data Cl-KWK.
Saksi fakta akan menyampaikan keterangan terkait masalah itu dalam sidang di Mahkamah Konstitusi.
IV.B.2. PENGGELEMBUNGAN HASIL REKAPITULASI SUARA
j. Bahwa di TPS 07 Desa Mangka Kecamatan Pamukan Barat terjadi perbedaan data C l- KWK berhologram yang dibaca PPS tentang j umlah suara sah dan suara tidak sah (suara sah: 231, tidak sah: 16), sedangkan data Cl-KWK yang dipegang oleh seluruh saksi pasangan calon tercatat suara sah: 226 dan suara tidak sah: 21 (sesuai dengan AO/Plano berhologram yang dikeluarkan dari kotak suara), yang menunjukkan teijadinya penggelembungan suara. [vide Bukti.P-9].
Saksi fakta akan menyampaikan keterangan terkait masalah itu dalam sidang di Mahkamah Konstitusi.
Hasil Rekapitulasi Suara di TPS 07 Desa Mangka Kecamatan Pamukan Barat:
No Nama Pasangan Calon Perolehan
Suara 1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan H. Sahidudin, S.Ag., MAP 15 2. H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd dan M. Rezki
Oktavianoor, S.Sos., M.Si 62
3. H. Sayed Jafar, SH dan Ir. Burhanudin 59
4. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan H. Risdianto
Haleng. HB 85
5. H. Irhami Ridjani, S.Sos., M.Si dan Ir. H. Syamsul Alam
Azhar 5
6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP dan Ir. H. Gusti Syafrin
Masrin, Mapp., Sc 0
Jumlah Seluruh Suara Sah 226
Jumlah Seluruh Suara Tidak Sah 21
Bahwa di TPS 08 Desa Manunggal, Kecamatan Sungai Durian terdapat suatu kejanggalan dalam pencatatan jumlah seluruh pengguna hak pilih yaitu sebanyak 217 dan jumlah surat suara yang digunakan tercatat 207 dan jumlah surat suara sah + tidak
sah tercatat 207. PPK menjelaskan memang ada kesalahan dan telah dilakukan perbaikan atas kesalahan tersebut, namun tidak terdapat bukti paraf sebagai tanda telah dilakukan perbaikan. PPK menyatakan bahwa saksi pemohon tidak pro aktif dan saksi pasangan calon nomor 2 tidak menandatangani berita acara. Namun data yang ada dalam C -l- KWK saksi pasangan calon nomor 1 dan 4 tertera tanda tangan saksi pasangan calon nomor 2 sdr Tulus. Dari keterangan yang disampaikan PPK bertolakbelakang dengan data Cl-KWK (salinan) milik saksi pasangan calon nomor 1 dan 4. Dalam Dokumen DA-KWK tidak ada catatan tentang hal tersebut. [Vide. Bukti. P-8].
Saksi fakta akan menyampaikan keterangan terkait masalah itu dalam sidang di Mahkamah Konstitusi.
Hasil Rekapitulasi Suara di TPS 08 Desa Manunggal Kecamatan Sungai Durian:
No N am a P asan g an C alon Perolehan
Suara 1. H.M. Iqbal Yudiannoor, SE dan H. Sahidudin, S.Ag., MAP 25 2. H. Rudy Suryana, S.Sos., M.M.Pd dan M. Rezki
Oktavianoor, S.Sos., M.Si 16
3. H. Sayed Jafar, SH dan Ir. Burhanudin 137 4. H. Muhammad Alamsyah, ST., MAP dan H. Risdianto
Haleng. HB 19
5. H. Irhami Ridjani, S.Sos., M.Si dan Ir. H. Syamsul Alam
Azhar 0
6. H. Alpidri Supian Noor, ST., MAP dan Ir. H. Gusti Syafrin
Masrin, Mapp., Sc 4
Jumlah Seluruh Suara Sah 201
Jumlah Seluruh Suara Tidak Sah 6
Bahwa terjadi pengelembungan perolehan suara yang diakibatkan oleh perbedaan antara jumlah pemilih sah sesuai DPT dengan hasil akhir perhitungan suara pada TPS 03 Desa
Betung Kecamatan Pulau Laut Timur, yaitu sebagai berikut:
• Jumlah data DPT sebanyak = 157 suara
• Pemilih yang hadir pad saat pemilihan = 102 suara
Dengan rincian perolehan sebagai berikut:
• Nomor Urut 1 21 suara
• Nomor Urut 2 6 suara
• Nomor Urut 3 104 suara
• Nomor Urut 4 11 suara
• Nomor Urut 5 7 suara
• Nomor Urut 6 suara
Total Perolehan Suara 149 suara
Suara Tidak Sah 4 suara
Sehingga Jumlah Pemilih Total = 153 suara
D a ri p e n g h itu g a n d a n k e tid ak co co k an d a ta te rse b u t, d ite m u k a n a d a n y a kecurangan dan penggelembungan suara sebanyak 153 - 102 = 51 suara [Bukti P-12, Bukti P-13]
Saksi fakta akan menyampaikan keterangan terkait masalah itu dalam sidang di Mahkamah Konstitusi.
IV.B.3. PENYELENGGARA TIDAK NETRAL DAN TIDAK PROFESIONAL
1. Bahwa Termohon telah melakukan pelanggaran dan bertindak tidak profesional dalam penyelenggaraan Pilkada Kabupaten Kotabaru Tahun 2015. Termohon terbukti tidak cermat dan berhati-hati dalam melakukan penghitungan suara, bahkan cenderung memihak pada Pasangan Calon Nomor Urut 3. Bukti ketidakprofesionalan Termohon juga terlihat dengan banyaknya Cl-KWK untuk Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati dari TPS-TPS di beberapa Kecamatan yang tersebar di wilayah Kabupaten Kotabaru justru berada dalam kotak suara untuk pemilihan Gubemur Kalimantan Selatan yang mana memang dilakukan pada saat bersamaan. Hal ini menimbulkan ketidakpastian hukum dan juga ketidakakuratan hasil perolehan suara yang diperoleh masing-masing pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati, oleh karena tercampur dengan Cl-KWK untuk Pemilihan Gubemur.
m. Bahwa Pasal 18 ayat 4 UUD 1945 mengharuskan Pilkada dilakukan secara domokratis dengan tidak melanggar asas-asas yang bersifat luber dan jurdil sebagaimana ditegaskan
dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 juncto UU No. 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubemur, Bupati dan Walikota. Disamping itu ditegaskan pula bahwa pelaksanaan Pemilu harus bebas dari rasa takut, tekanan, ancaman atau intimidasi dari pihakmanapun, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22G ayat (1) UUD 1945;
Bahwa pelaksanaan “Asas Demokrasi” atau “Asas Kedaulatan Rakyat’’ harus didasarkan pada asas Nomokrasi atau asas Negara Hukum yang merupakan pengakuan, jaminan, perlindungan hukum dan kepastian hukum yang adil sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang. Termohon dalam menjalankan tugas, wewenang dan kewajibannya dalam penyelenggaraan Pilkada, wajib menjamin bahwa pelaksanaan Pilkada tersebut beijalan dan terlaksana berdasarkan prinsip demokrasi dan nomokrasi. Oleh karena mana sebagai konsekwensi logis-yuridisnya, setiap keputusan yang diperoleh secara tidak demokratis dan apalagi melawan hukum serta mencederai nilai-nilai dasar konstitusi maupun demokrasi, “dapat dibatalkan oleh Mahkamah” jika dapat dibuktikan secara sah didalamnya terdapat pelanggaran terhadap nomokrasi, termasuk pada Berita Acara dan Keputusan-Keputusan Termohon sebagaimana menjadi obyek permohonan a ’quo. Bahwa terkait dengan hal dimaksud, dalam mengemban misinya Mahkamah sebagai pengawal konstitusi dan pemberi keadilan tidak dapat memainkan perannya dalam mewujudkan perannya dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan negara dalam memberikan perannya dalam kesejahteraan bagi warga masyarakat jika dalam menangani sengketa Pilkada hanya menghitung perolehan suara secara matematis. Sebab kalau demikian, Mahkamah tidak dapat atau dilarang memasuki proses peradilan dengan memutus fakta hukum yang nyata-nyata terbukti tentang teijadinya suatu tindakan hukum yang menciderai hak-hak asasi manusia, terutama hak politik. Lebih dari itu, apabila Mahkamah diposisikan untuk membiarkan proses Pemilu ataupun Pilkada berlangsung tanpa ketertiban hukum maka pada akhimya sama saja dengan membiarkan terjadinya pelanggaran atas prinsip Pemilu yang Luber dan Jurdil. Jika demikian maka Mahkamah selaku institusi negara pemegang kekuasaan kehakiman hanya diposisikan sebagai “tukang stempel” dalam menilai kinerja Komisi Pemilihan Umum. Jika hal itu teijadi berarti akan melenceng jauh dari filosofi dan tujuan diadakannya peradilan atas sengketa hasil Pemilukada tersebut.
Bahwa pelaksanaan “Asas Demokrasi” atau “Asas Kedaulatan Rakyat’’ harus didasarkan pada asas Nomokrasi atau asas Negara Hukum yang merupakan pengakuan, jaminan, perlindungan hukum dan kepastian hukum yang adil sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang. Termohon dalam menjalankan tugas, wewenang dan kewajibannya
dalam penyelenggaraan Pemilukada, wajib menjamin bahwa pelaksanaan Pemilukada tersebut berjalan dan terlaksana berdasarkan prinsip demokrasi dan nomokrasi. Oleh karena mana sebagai konsekwensi logis-yuridisnya, setiap keputusan yang diperoleh secara tidak demokratis dan apalagi melawan hukum serta mencederai nilai-nilai dasar konstitusi maupun demokrasi, “dapat dibatalkan oleh Mahkamah” jika dapat dibuktikan secara sah didalamnya terdapat pelanggaran terhadap nomokrasi, termasuk pada Berita Acara dan Keputusan - Keputusan Termohon sebagaimana menjadi obyek permohonan a ’quo. Bahwa terkait dengan hal dimaksud, dalam mengemban misinya Mahkamah sebagai pengawal konstitusi dan pemberi keadilan tidak dapat memainkan perannya dalam mewujudkan perannya dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan negara dalam memberikan perannya dalam kesejahteraan bagi warga masyarakat jika dalam menangani sengketa Pemilukada hanya menghitung perolehan suara secara matematis. Sebab kalau demikian, Mahkamah tidak dapat atau dilarang memasuki proses peradilan dengan memutus fakta hukum yang nyata-nyata terbukti tentang terjadinya suatu tindakan hukum yang menciderai hak-hak asasi manusia, terutama hak politik. Lebih dari itu, apabila Mahkamah diposisikan untuk membiarkan proses Pemilu ataupun Pemilukada berlangsung tanpa ketertiban hukum maka pada akhimya sama saja dengan membiarkan terjadinya pelanggaran atas prinsip Pemilu yang Luber dan Jurdil. Jika demikian maka Mahkamah selaku institusi negara pemegang kekuasaan kehakiman hanya diposisikan sebagai “tukang stempel” dalam menilai kinerja Komisi Pemilihan Umum. Jika hal itu terjadi berarti akan melenceng jauh dari filosofi dan tujuan diadakannya peradilan atas sengketa hasil Pemilu atau Pilkada tersebut.
Bahwa dari pandangan hukum di atas, Mahkamah dalam mengadili sengketa Pilkada tidak hanya membedah permohonan dengan melihat hasil perolehan Suara, melainkan Mahkamah juga meneliti secara mendalam adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis dan massif yang mempengaruhi hasil perolehan suara tersebut. Dalam berbagai putusan Mahkamah yang seperti itu, terbukti telah memberikan makna hukum dan keadilan dalam penanganan permohonan, baik dalam rangka pengujian Undang- Undang maupun sengketa Pemilu atau Pilkada. Dalam praktik yang sudah menjadi yurisprudensi dan diterima sebagai solusi hukum itu, Mahkamah dapat menilai pelanggaran-pelanggaran yang terstruktur, sistematis dan massif sebagai penentu putusan dengan alasan pelanggaran yang memiliki tiga sifat itu dapat mempengaruhi hasil peringkat perolehan suara yang signifikan dalam Pemilu atau Pilkada ( Vide Putusan
Mahkamah dalam Perkara Nomor 41/PHPU.D VI/2008 Tertanggal 2 Desember 2008, Nomor 57/PHPU.D-VI/2008 tertanggal 08 Januari 2009, Nomor 82/PHPU.D-IX/2011 tertanggal 22 Agustus 2011).
Bahwa Termohon selaku penyelenggara Pemilihan Umum, terikat pada asas Penyelenggara Pemilu sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 Tentang Penyelenggara Pemilihan Umum yang menyatakan bahwa “Penyelenggara Pemilu berpedoman pada asas: a). Mandiri; b). Jujur; cj. Adil; d). Kepastian Hukum; e). Tertib; f). Kepentingan Umum; g). Keterbukaan; h). Proporsionalitas; i). Profesionaliatas; j). Akuntabilitas; k). Efisiensi; dan i). Efektifitas
Bahwa pada pokoknya permohonan PEMOHON adalah keberatan terhadap Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 berdasarkan Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten oleh TERMOHON tertanggal 17 Desember 2015;
Bahwa berdasarkan pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi dalam putusan nomor 79/PHPU.D-XI/2013 bertanggal 11 Juli 2013 pada halaman 151 yang pada pokoknya menyatakan bahwa Mahkamah telah membagi tiga kategori pelanggaran pemilukada yang dalam perkara a quo masuk ke dalam kategori pelanggaran kedua yaitu : “...pelanggaran dalam proses Pemilu atau Pemilukada yang berpengaruh terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada seperti money politic, keterlibatan oknum pejabat atau PNS, dugaan pidana Pemilu, dan sebagainya. Pelanggaran yang seperti ini dapat membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada sepanjang berpengaruh secara signifikan, yakni karena terjadi secara terstruktur, sistematis, dan m asif yang ukuran-ukurannya telah ditetapkan dalam berbagai putusan Mahkamah, sedangkan pelanggaran- pelanggaran yang sifatnya tidak signifikan terhadap hasil Pemilu atau Pemilukada seperti yang bersifat sporadis, parsial,perorangan, dan hadiah-hadiah yang tidak bisa dibuktikan pengaruhnya terhadap pilihan pemilih tidak dijadikan dasar oleh Mahkamah
untuk membatalkan hasil penghitungan suara oleh KPU/KPU/K1P
provinsi/kabupaten/kota. ”
Bahwa Pemohon secara tegas menyatakan sangat berkeberatan dan menolak Berita Acara tentang Rekapitulasi Hasil Perhitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotabaru Tahun Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kotabaru, tanggai 17 Desember 2015 didasarkan pada
alasan bahwasannya hasil penghitungan yang dilakukan oleh termohon dihasilkan dari suatu proses pemilu yang bertentangan dengan asas-asas penyelenggaraan pemilu yang luber jurdil. oleh karena itu, suara yang diperoleh oleh pemenang yang ditetapkan oleh termohon bukan merupakan cerminan aspirasi dan kedaulatan rakyat yang sebenar- benarnya tetapi karena banyaknya pelanggaran dan tindak kecurangan yang nyata-nyata telah terjadi di wilayah Kabupaten Kotabaru yang memiliki pengarah yang amat besar terhadap hasil perolehan suara akhir, khususnya terhadap perolehan suara Pemohon. u. Bahwa perolehan hasil penghitungan suara Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Tahun
2015, demi hukum haruslah dinyatakan tidak benar dikarenakan hasil penghitungan mana telah diperoleh dari proses kegiatan yang bertentangan dengan asas pemilu sebagaimana yang di atur dalam undang-undang nomor 15 Tahun 2011 yang menghendaki penyelenggara pemilu untuk memenuhi asas mandiri, jujur, adil, kepastian hukum, tertib penyelenggara pemilu, kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas, akuntabilitas, efisiensi dan efektivitas. Dengan demikian Pilkada Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 yang dihasilkan dari proses tersebut merupakan penyelenggaraan Pilkada yang tidak benar atau setidak-tidaknya terdapat dan dapat dikualifikasi sebagai pelanggaran dan kekeliruan serta mempunyai kaitan atau pengaruh langsung terhadap hasil penghitungan suara yang teijadi serta perolehan suara pasangan calon khususnya perolehan suara PEMOHON.
v. Bahwa disamping itu, diketahui dan terbukti bahwa Pemungutan Suara pada Pilkada Kabupaten Kotabaru Tahun 2015 pada tanggai 9 Desember 2015 telah dijalankan oleh TERMOHON dengan didahului pelanggaran-pelanggaran yang mencederai demokrasi, baik yang dilakukan oleh TERMOHON selaku penyelenggara maupun Pasangan Calon Nomor Urut 3 yang jelas-jelas sangat mempengaruhi perolehan suara dan merugikan PEMOHON.
w. Bahwa Pemohon melalui saksi-saksi dalam setiap tingkatan penghitungan dan rekapitulasi suara telah menyatakan keberatan berkaitan dengan adanya pelanggaran- pelanggaran baik yang dilakukan oleh Termohon maupun Pasangan Calon Nomor Urut 3, sebagaimana telah dituangkan dalam Form DA2-KWK maupun DB2-KWK, akan tetapi Termohon justru tidak menanggapi keberatan-keberatan Pemohon dan tetap melanjutkan proses rekapitulasi suara sampai dengan pleno penetapan perolehan suara yang mana dalam prosesnya banyak terjadi pelanggaran. [Bukti. P-14, Bukti. P-15].
19