• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

IV. B Responden II

Tabel 4. Gambaran Umum Responden II

Dimensi Istri Suami

Nama/Inisial DC PW

Usia 29 Tahun 34 Tahun Jumlah Anak 1 orang

Usia Pernikahan 11 bulan

Agama Kristen Kristen Pendidikan Sarjana

Etnomusikologi

SMA Kewarganegaraan Indonesia Amerika

Suku Batak -

Pekerjaan Guru Guru

Penghasilan Rp. 500.000,- Rp. 10.000.000,- Status tempat tinggal Rumah pribadi

IV.B.2 Jadwal Pelaksanaan Wawancara

Tabel 5. Jadwal Wawancara Responden II

No Hari Tanggal Waktu Tempat Keterangan

1 Rabu 03 Oktober 2012 17.45 - 18.40 WIB Rumah pribadi Rapport 2 Selasa 09 Oktober 2012 15.10 - 16.00 WIB Sekolah Wawancara I 3 Rabu 17 Oktober 2012 15.20 - 17.15 WIB Starbucks Coffee Wawancara II 4 Jumat 23 November 2012 11.00 – 12.05 WIB Rumah pribadi Wawancara III

IV.B.3 Gambaran Umum Responden 2

DC adalah seorang wanita dewasa yang berusia 29 tahun. Saat ini dia sudah memiliki 1 orang anak. Kesibukannya sehari-hari adalah seorang guru dan ibu rumah tangga. Pada awalnya sebelum hamil, DC bekerja di dua sekolah sekaligus sebagai guru kesenian, namun dikarenakan hamil, DC memutuskan

untuk mengajar di satu sekolah saja. Selain sebagai guru, DC menghabiskan kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Pada umumnya. DC selalu menggunakan hasil pendapatan suami dan dirinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan pribadi DC sendiri. DC berperan sebagai istri dan berstatus menikah dengan seorang pria berkebangsaan Amerika.

Ketertarikan DC melakukan pernikahan dengan pria berkebangsaan asing (barat) bermula dari perkenalan DC dengan suaminya di Gereja. DC dan PW suaminya sudah lama menjadi jemaat di Gereja tersebut, dan pada awalnya sama-sama tidak pernah saling mengenal walaupun beribadah di tempat yang sama-sama untuk waktu yang cukup lama. DC menyatakan bahwa dia pada awalnya tidak memiliki ketertarikan ataupun pikiran sama sekali untuk menjalin hubungan dengan pria berkebangsaan asing. DC sendiri memiliki kriteria pria yang dia idamkan, yaitu pria tersebut harus beriman, takut akan Tuhan, memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan financial, sayang istri, dan bertanggung jawab. Masa perkenalan antara DC dan PW suaminya kira-kira berlangsung selama 4 bulan, karena merasa cocok akhirnya DC dan PW memulai menjalin hubungan berpacaran yaitu selama kurang lebih dua tahun, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menikah di Indonesia pada bulan Februari 2012 silam. Melalui pernikahannya, DC sudah memiliki 1 orang anak. Kini usia pernikahan DC dan PW sudah berjalan selama 11 bulan.

Keseharian DC sebagai seorang istri adalah melayani kebutuhan suaminya sehari-hari dan menyelesaikan tugas-tugas rumah. DC juga menjalankan kegiatan mengajar di sekolah sebagai seorang guru. Pada awalnya DC termasuk orang yang

sangat suka bekerja diluar rumah. DC tidak pernah mengeluh dikarenakan gajinya yang sangat kecil, hal ini dikarenakan tujuan DC untuk tetap bekerja, adalah untuk mengurangi kebosanannya. Saat hamil kegiatan DC adalah hanya melayani kebutuhan suaminya sehari-hari, menyelesaikan tugas-tugas rumah, dan melakukan kegiatan mengajar dua hari dalam seminggu. Ketika DC merasa bosan di rumah, dia biasanya akan berkunjung ke rumah tetangganya. Suami DC setiap harinya bekerja dari pagi sampai malam, dan hanya bisa bertemu dengan DC pada saat pulang kerja. Akan tetapi, walaupun DC dan suaminya memiliki waktu yang sedikit untuk saling bertemu, baik DC atau suaminya selalu menyempatkan diri untuk saling berkomunikasi, baik melalui SMS atau telephone.

Diawal pernikahannya, DC sempat mengalami kebingungan dikarenakan perbedaan beberapa pola antara dirinya dan suami yang ditakutkan dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka. Kadangkala perbedaan tersebut menyebabkan konflik antara dia dan suaminya. Seperti perbedaan pandangan, dimana keuangan harus suami yang mengatur. Kemudian perbedaan dalam bahasa itu bisa menjadi pemicu konflik di dalam pernikahan mereka. Akan tetapi, DC dan suaminya sejauh ini tidak pernah merasa bahwa perbedaan tersebut menjadi gangguan bagi kehidupan pernikahan mereka, karena mereka memiliki saling pengertian yang baik terhadap setiap perbedaan satu sama lain, kemudian dikarenakan adanya perasaan cinta dan juga kebahagiaan yang muncul ketika DC sudah hamil dan akan memiliki anak membuat pernikahan mereka harmonis hingga sekarang.

IV.B.4 Data Observasi Selama Wawancara

Wawancara dilakukan setelah DC setuju untuk memberikan infomasi mengenai pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian, ketika DC mendapatkan kepastian bahwa hasil wawancara tidak akan dipublikasikan secara umum dan nama asli DC tidak akan dicantumkan. Secara fisik, DC memiliki tinggi badan sekitar 160 cm dengan postur tubuh yang tegap, berat badan 70 kg, bentuk muka bulat, berkulit putih, dan berambut pendek hitam.

Proses rapport dilakukan di rumah pribadi DC dan berjalan dengan baik. Pada saat awal bertemu dengan DC, DC sempat terlihat bingung sehingga bertanya dengan jelas apa maksud dari penelitian yang hendak dilakukan peneliti. Pada saat bertemu DC terlihat ramah dan baik, terlihat dari muka DC yang tersenyum ketika berbicara dan langsung menawarkan minuman kepada peneliti. DC termasuk orang yang serius dan memiliki sedikit selera humor, hal tersebut terlihat ketika peneliti berbicara, DC mendengarkan dan menanggapi dengan muka yang serius, dan sempat tertawa kecil ketika peneliti membuat hal lucu agar suasana tidak tegang.

Proses wawancara yang pertama dilakukan di sekolah tempat DC mengajar. DC dan peneliti tampak lebih santai dan akrab, terlihat saat subjek mengajak peneliti untuk datang ke sekolah dimana DC mengajar, kemudian DC bercanda selama melakukan perbincangan dengan peneliti, serta mengajak untuk makan siang diluar bersama. Pada saat itu wawancara dilakukan di ruangan guru, dan postur tubuh DC terlihat lebih santai dari sebelumnya, dimana DC mengambil posisi duduk yang nyaman dengan kaki direntangkan dan menyandarkan badan ke

tempat duduk. Pada wawancara ini peneliti menggunakan kertas dan pulpen sebagai alat bantu untuk mencatat jawaban dari subjek.

Pada wawancara ini peneliti banyak bertanya mengenai awal hubungan DC dengan suaminya serta mengenai kehidupan pernikahan DC. Pada saat menjawab DC terlihat tertutup dan lebih berhati-hati dalam berbicara, terlihat dari subjek menjawab dengan nada suara yang berbisik-bisik dan memberikan jawaban-jawaban pendek dari setiap pertanyaan yang ditanyakan peneliti. Hal tersebut terjadi dikarenakan banyaknya kerabat kerja DC yang sedang berada di ruangan guru tempat DC diwawancarai, sehingga membuat DC enggan untuk membicarakan tentang kehidupan pribadinya secara terbuka kepada peneliti. Selama wawancara berlangsung terkadang DC tidak fokus terhadap peneliti, terlihat dari subjek terkadang melihat sekeliling ruangan ketika menjawab pertanyaan. Akan tetapi selama peneliti memberikan pertanyaan, DC selalu melakukan kontak mata dengan peneliti.

Proses wawancara kedua dilakukan di Starbucks Coffee yang terletak di Cambridge City Square. Selama wawancara berlangsung, postur tubuh DC terlihat nyaman, hal tersebut terlihat dari posisi duduk DC yang terlihat santai dengan menyandarkan badan walaupun di kursi kayu yang tegak. Sambil duduk, peneliti meminta izin untuk menggunakan tape recorder dalam wawancara ini. Setelah mendapatkan izin menggunakan tape recorder, wawancara pun dimulai. Pada awal wawancara DC terlihat lancar menjawab pertanyaan. Pada saat ditanyakan mengenai awal bertemu sampai menikah, DC terlihat menunjukkan rasa malu, hal tersebut ditandai dengan muka DC tersipu malu sambil tertawa dan tersenyum

kecil. Kemudian ketika peneliti mengarahkan kepada pertanyaan mengenai konflik, DC terlihat serius dan sedikit memberi penekanan dari beberapa hal yang dikatakannya, hal tersebut terlihat dari raut muka DC yang berubah sedikit menjadi datar dan menggunakan suara sedikit lebih kuat ketika menjawab, lalu terkadang DC terlihat diam dan sedang berpikir. Ketika bercerita mengenai konfliknya dengan suami, DC juga beberapa kali mengelah nafas, dengan raut muka sedikit kesal.

Selama wawancara DC jarang meminta pengulangan pertanyaan. DC selalu mendengarkan dengan seksama setiap pertanyaan dari peneliti, dan menjawabnya. Ketika DC merasa pertanyaan tersebut tidak jelas, dia tidak segan untuk bertanya lagi kepada peneliti. Setiap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan beberapa ada yang dijawab dengan singkat, dan ada juga yang dijawab secara panjang lebar. Sesekali ia tertawa apabila merasa lucu dengan pertanyaan atau pun jawaban yang ia sampaikan. Terkadang ia juga cukup serius untuk menceritakan tentang sosok pasangannya. Seperti halnya pada saat peneliti memberikan pertanyaan mengenai pola komunikasi antara DC dan suaminya, DC menjawabnya dengan tegas, hal tersebut terlihat dari cara DC menjawab dengan nada suara yang tegas dan menunjukkan raut muka yang serius. Akan tetapi selama wawancara berlangsung, DC terkadang juga menceritakan hal lain mengenai suaminya, diluar dari pertanyaan peneliti, terlihat ketika DC menceritakan kebiasaan-kebiasaan suaminya yang kadang membuat dia lucu dan kadang membuat dia kesal.

Kemudian pada saat peneliti memberikan pertanyaan sehubungan dengan penyesuaian pernikahan DC, DC terlihat menjawabnya dengan nada suara yang santai, dan raut muka yang biasa saja. Hal ini dikarenakan DC merasa tidak mengalami kesulitan dalam penyesuaian. Selama melakukan wawancara setiap menjawab pertanyaan dari peneliti DC sering melakukan kontak mata langsung dengan peneliti, walaupun terkadang dia mengalihkan pandangannya keluar kaca dengan melihat suasana jalanan yang macet. Selain itu, DC banyak menggunakan kata saya dalam menyebutkan dirinya.

Proses wawancara ketiga dilakukan di rumah pribadi DC. Pada saat DC melihat kedatangan peneliti, DC langsung menyuruh peneliti untuk duduk di ruang tamu dan menawarkan minuman serta roti untuk peneliti. Pada saat wawancara berlangsung, postur tubuh DC terlihat nyaman, hal tersebut terlihat dari posisi duduk DC yang terlihat santai dengan menyandarkan badan pada kursi sofa besar, dan menaikkan kedua kaki pada kursi kecil. Selama wawancara ini, subjek menggunakan pulpen dan kertas sebagai alat bantu selama wawancara. Pada wawancara ini, peneliti kembali bertanya mengenai perbedaan yang DC rasakan dengan suaminya. Pada saat menjawab pertanyaan DC terlihat lebih santai dengan nada suara yang datar. Pada saat itu DC terlihat lancar menjawab pertanyaan dari peneliti. Setiap penjelasan yang diberikan DC, dijelaskan dengan panjang lebar dan jelas oleh DC. Selama wawancara berlangsung, sesekali DC juga menceritakan hal-hal yang lucu antara dia dan suaminya, sehingga membuat suasana selama wawancara lebih santai.

Selama wawancara berlangsung, peneliti juga memberikan pertanyaan sehubungan dengan konflik yang DC alami antara dia dan suaminya. DC menjawabnya dengan suara yang santai dan terkadang menunjukkan raut muka tersenyum sambil memberikan penjelasan. Saat wawancara, tidak tampak DC menutupi sesuatu ataupun menunjukkan raut yang tidak nyaman selama menjawab pertanyaan dari peneliti. Selama melakukan wawancara DC tetap melakukan kontak mata dengan peneliti, walaupun terkadang dia mengalihkan pandangannya keluar rumah.

IV.B.5 Analisa Data Wawancara 1.Riwayat Pernikahan

Sebelum memutuskan untuk melakukan pernikahan, setiap orang pasti menginginkan calon pasangan yang baik untuk kehidupannya nanti, termasuk juga DC yang menganggap pemilihan pasangan adalah hal penting untuk dilakukan, sehingga ia menentukan konsep pasangan ideal yang ia harapkan.DC mendambakan pasangan dengan sosok pria yang seiman dengannya, kemudian memiliki pemahaman takut akan Tuhan, pekerja keras dan secara financial mapan, lalu bertanggung jawab, serta mengasihi istri. DC juga menginginkan pasangan yang secara fisik normal dan tidak ada kecatatan. Harapan DC untuk memiliki sosok pasangan ideal tersebut menjadi standar dalam pemilihan pasangan.

“kriteria untuk pasangan saya itu, orangnya dia harus seiman yang pertama, trus takut akan Tuhan yaa.. yang kedua dia memang bekerja yaa, pekerja keras.. mm.. artinya dia sudah pasti mapan

gitu ya.. yang ketiga secara fisikly yaa normal.. jangan ada kecatatan atau apapun.. yaa itu keinginan pribadi, itu memang saya utarakan dalam doa. Kemudian bertanggung jawab, mengasihi saya, dan saya pun akan mengasihi dia, gitu sih..”

(W1.R2/B.159-171/hal.6)

Ketika DC bertemu dengan pria yang memang memenuhi tipe utama pria idealnya, yaitu keagamaan yang kuat, kemudian termasuk pekerja keras dan memiliki finansial yang mapan, dari situlah langsung muncul keinginan DC untuk mencoba menjalin hubungan dengan pria tersebut.

“.. kalo saya lebih melihat imannya, trus dia pekerja keras gak.. karna financial itu paling penting kan.. itu aja sih ya.. saya gak pernah berpikir sikitpun bakal menikahi orang kek dia, orang barat gitu maksudnya.. sapapun bisa, asal ya sejalan dengan pilihan saya dan pilihan dari Tuhan yaa..”

(W1.R2/B.149-158/hal.5-6)

Pada awalnya keinginan untuk berhubungan dengan pria asing (barat) sebenarnya tidak pernah muncul di dalam pikiran DC. DC tidak pernah merasa bahwa pasangan hidupnya harus pria asing (barat). DC memilih pasangan untuk hidupnya hanya dengan mengikuti kriteria ideal yang dia harapkan, dan diselingi dengan berdoa kepada Tuhan, agar dia bisa mendapatkan pria yang memang bisa memenuhi kriteria yang dia harapkan.

“Kalo saya sih awalnya gak ada keinginan harus orang barat jadi pasangan saya ya.. bahkan saya gak pernah mikirkan bahwa yang akan seperti itu yang saya dapatkan gitu kan.. yang saya pikirkan malah begini, mmm.. waktu keinginan untuk menikah itu, saya betul-betul konsepnya saya berdoa, dan ingin memiliki keluarga dengan seseorang yang pada basicnya imannya sama, takut akan Tuhan, dan dia juga secara financial sudah matang..”

“…memang pertama-tama saya pasti harus mengenal dia dulu ya, baru saya memutuskan mau berhubungan dengan dia apa tidak.. yaa ternyata dia itu pria yang memenuhi kriteria saya yaa, mankanya saya mau berpacaran dan akhirnya menikah dengan dia, gitu..”

(W1.R2/B.23-31/hal.2)

“.. saya gak pernah berpikir sikitpun bakal menikahi orang kek dia, orang barat gitu maksudnya.. sapapun bisa, asal ya sejalan dengan pilihan saya dan pilihan dari Tuhan yaa..”

(W1.R2/B.153-158/hal.6)

“yaa pilihan saya, pilihan Tuhan harus sejalan ya, karna kita orang beriman, ya konsepnya harus seperti itu..”

(W1.R2/B.102-106/hal.4)

DC bertemu dan berkenalan secara tidak sengaja dengan seorang pria berkebangsaan Amerika di Gereja tempat mereka bersama-sama beribadah. Mereka mulai mengenal dan saling berhubungan pada tahun 2009. Sebelum memasuki jenjang pernikahan, mereka sempat melakukan masa berpacaran kurang lebih selama dua tahun, guna mengenal pasangannya lebih dalam lagi.

“Oohh.. haha (tertawa).. hmm, awal ketemunya di Gereja.. awalnya sih gak saling mengenal, yaa kek berkenalan secara gak sengaja gitu.. ketemunya taon 2009.. jadi, pertama saya ketemu di Gereja sebenarnya dia kan udah jemaat lama disana, saya juga jemaat lama disana.. cuman belum ada komunikasi.. walaupun kami sama-sama udah jadi jemaat lama, yaa tapi kami gak pernah saling kenal.. terus untuk memulai komunikasi ada perkenalanlah dulu.. setelah itu baru berteman..”

(W1.R2/B.1-15/hal.1)

“…mm.. saya pacaran sama si abang kurang lebih selama 2 tahun ya.. disitu saya belajar mengenal dia lebih dalam lagi ya..”

(W1.R2/B.20-23/hal.1-2)

Pemilihan pasangan untuk dijadikan pasangan hidup disesuaikan DC dengan standar dari konsep pasangan ideal yang ia harapkan. DC

sendiri merasa bahwa pasangannya sudah cukup sempurna dan ideal untuk dirinya, karena DC merasa bahwa konsep pernikahan itu adalah tidak hanya menerima kelebihannya saja, tetapi kekurangannya juga.

“…kalo menurut saya sih, karna konsep pernikahan juga menerima kekurangan, tidak hanya kelebihannya.. ya sudah, mmm.. cukup sempurna bagi saya, yahh bersyukur tidak banyak yang muluk-muluk lagi, dan yaa sudah ideal bagi saya..”

(W1.R2/B.172-179/hal.6)

Pada awal pacaran, DC tidak memberitahukan kepada orang tuanya mengenai hubungannya dengan pria asing, karena DC khawatir bahwa pasangannya tidak serius berhubungan dengan dia. Tetapi ternyata pada awal pacaran, pasangannya memberikan kepastian serius terhadap hubungan mereka. Setelah mereka pacaran, pasangan DC langsung menemui orang tua DC dan DC juga dibawa untuk bertemu dengan orang tua dari pasangannya, untuk menyatakan bahwa hubungan mereka serius. “..selama perkenalan kebetulan untuk masalah orangtua, saya

waktu itu belum bilang dulu, kebetulan karna orang tua juga gak disinikan, tapi di jakarta.. jadi saya belum berani untuk bicara, karna saya harus bertanya dulu sama si laki-lakinya, apa si abang itu mau serius ato tidak kan gitu.. mm.. rupanya dia kasih sinyal untuk serius, dan dia berani untuk datang ke keluarga itu, setelah kami memulai hubungan dia langsung ketemu orang tua saya.. dan pas orang tua si abang datang kemari pun, dia langsung membawa saya, dan mengatakan sama orang tuanya kalo dia serius sama saya, gitu.. walopun udah saling kenal keluarga kami tetap melakukan pacaran itu kira-kira 2 tahun gitu..”

(W1.R2/B.64-85/hal.3)

Selama berpacaran DC mengemukakan beberapa kesulitan yang dia alami. DC mengalami kesulitan dalam hal bahasa, dan kesulitan lainnya adalah waktu luang untuk bertemu bersama. Selama masa

berpacaran DC dan pasangannya sama-sama orang yang bekerja, sehingga waktu untuk bertemu hanya bisa dilakukan seminggu sekali saja.

“kesulitan pertama itu, mmm.. bahasa ya.. bahasa itu karna pada basicly nya, dasarnya saya itu bahasa ingris tidak terlalu, tapi yaa harus diberanikan.. nah yang kedua, mmm.. yang sulit itu pertemuan.. kita bertemunya cuma seminggu sekali.. karna kan si abang kerja, saya juga kerja, jadi gak ada waktu bersama terlalu banyak..”

(W1.R2/B.33-43/hal.2)

“…tapi yaa.. mm.. walaupun pas pacaran udah muncul kesulitan gitu ya, tapi saya mah enjoy aja.. saya nikmati aja perjalanan cinta saya.. jadi gak terganggulah..”

(W1.R2/B.56-61/hal.3)

Setelah melewati masa pacaran hampir selama dua tahun, DC sudah bisa mengenal pasangannya lebih dalam lagi, dan akhirnya DC serta pasangannya mensahkan hubungan mereka melalui ikatan pernikahan, pada bulan Februari tahun 2012 lalu.

“.. setelah saya manteb, trus dia juga ngerasa dah manteb, barulah kami married.. kami married baru taun ini, bulan Februari kemaren ya.. mmm.. jadi lama pernikahan yaa baru 9 bulan gitu.. baru banget kan..”

(W1.R2/B.86-92/hal.3-4)

“…mmm.. cukuplah saya mengenal dia lebih dalam selama 2 tahun pacaran.. gitu aja sih..”

(W1.R2/B.144-147/hal.5)

Sebagai seseorang yang melakukan pernikahan dengan pria asing (barat), DC sendiri merasa tidak memiliki motivasi tertentu. DC berpendapat pria manapun bisa menjadi pasangannya, bukan harus pria asing (barat), asalkan pasangan yang di dapatnya memenuhi kriteria ideal yang dia harapkan, yaitu beriman dan memiliki finansial yang mapan.

“kalo saya sih gak ada motivasi yang lain ya dek.. kalo saya lebih melihat imannya, trus dia pekerja keras gak.. karna financial itu paling penting kan.. itu aja sih ya.. saya gak pernah berpikir sikitpun bakal menikahi orang kek dia, orang barat gitu maksudnya.. sapapun bisa, asal ya sejalan dengan pilihan saya dan pilihan dari Tuhan yaa..”

(W1.R2/B.148-158/hal.5-6)

2.Sumber Konflik dalam Pernikahan a)

Pernikahan antar bangsa merupakan fenomena yang menimbulkan banyak perbedaan-perbedaan dibandingkan pernikahan pada umumnya. DC sendiri merasakan perbedaan tersebut dapat menimbulkan konflik antara dia dan pasangannya. Akan tetapi, DC merasa hal tersebut tidak selalu menjadi masalah pada dirinya.

Perbedaan latar belakang budaya dan sistem nilai

“...termasuk perbedaan antara saya dan dia itu yaa.. mmm.. kalo dari pandangan saya gak pernah terlalu jadi masalah ya buat rumah tangga kami..”

(W1.R2/B.469-473/hal.15)

Dalam pernikahan DC, beragam perbedaan yang terjadi antara dia dan suaminya. DC menyatakan seperti misalnya hal yang membedakan dia dan suaminya adalah dalam hal nilai-nilai kebersihan dan keteraturan. Seperti halnya suami DC ketika sikat gigi atau mencuci tangan harus menggunakan air yang matang, kemudian dalam hal penempatan barang-barang harus teratur dan terorganisir dengan baik, bahkan sampai hal terkecil seperti warna gantungan baju juga suami DC ikut turun tangan. Suami DC menganggap itu semua sangat penting.

“…cuma hal yang membedakan sih dia nilai-nilai kebersihan yang paling utama.. contohnya, mm.. dia gosok gigi itu harus pakek air matang gitu, dia gak mau pakek air mentah.. trus, kalo misalnya mau makan harus cuci tangan dulu pakek air matang, gitu.. jadi dia nilai kebersihan itu sangat tinggi..”

(W1.R2/B.264-273/hal.9)

“mmm.. kalo hal lain mungkin seperti kebiasaan yaa.. dia meletakkan sesuatu dimana, nanti saya coba pindahin ketempat lain supaya saya ingat, ehh dia pindahin ketempat semula lagi.. sementara saya bilang “udah biarin aja disitu, nanti lupa aku dimana” gitukan.. sementara saya orang yang pelupa.. dia orangnya sangat rapi dan teratur.. jadi dimana ada posisi-posisinya sudah jelas kalok dia.. kalo saya sedirikan kalo udah pulang kerja tarok kaca mata, tarok kunci entah udah dimana-mana terserah gitu.. kalo dia, tarok di dalam laci, posisi ke sebelah kiri atau sebelah kanan, gitu..”

(W1.R2/B.343-365/hal.11-12)

“.. dia teliti banget, sampe sampe ada yang berubah di rumah dia tau tuh..”

(W1.R2/B.1022-1024/hal.41)

“..dia orangnya terorganisir banget yaa… mm.. kek warna gantungan baju dia harus sama semua, dia warna hijau hijau semuaaa.. saya warna biru biru semuaaa.. gak boleh saya ambil

Dokumen terkait