• Tidak ada hasil yang ditemukan

B . Tantangan Industri Kreatif di Indonesia

Dalam dokumen Bagaimana Memulai Usaha Industri Kreatif (Halaman 34-38)

KESIAPAN SDM KREATIF DI INDONESIA

Di Amerika, Richard Florida menggolongkan SDM kreatif menjadi strata baru disebut

creative cla ss. Di era ekonomi kreatif, dimana kreativitas menjadi industri, pekerja kreatif  tidak hanya dari dunia seni melainkan juga dari dunia manajemen, sains dan teknologi. Menurut Florida, SDM kreatif meliputi orang orang dari bidang sains, insinyur, arsitek, desainer, pendidik, artis, musisi dan entertainer. Mereka adalah orang yang menciptakan ide ide baru, teknologi teknologi baru dan konten baru. Juga pekerja dari sektor manajemen yang   pekerjaannya mengandalkan daya pikir dalam memecahkan masalah dan pengambilan

keputusan. Terdapat 30% pekerja dalam strata kreatif di Amerika, dengan penghasilan sekitar  2 triliun dollar Amerika. Kontribusi yang sangat besar ini menjadi patokan bahwa SDM kreatif patut diperhitungkan.

Berkembangnya industri berbasis kreativitas khususnya di Amerika dan Inggris   berdampak besar bagi negara negara lain khususnya negara negara di Asia, berupa kegiatan

sub kontrak  ( out  sourcing) . Perlahan lahan negara negara Asia mulai menunjukkan kematangannya. Saat ini India telah terkenal dengan industri film dan industri piranti lunak, Jepang dan Korea dikenal sebagai pencipta benda benda elektronik, otomotif dan industri konten.

  Namun, pasar global untuk sub kontrak SDM kreatif belum dirasakan penuh oleh  pekerja pekerja kreatif di Indonesia. Kendala yang dihadapi SDM kreatif Indonesia saat ini

ada tiga bagian besar:

1. SDM kreatif berbasis artistik belum memahami konteks kreativitas di era industri kreatif  secara menyeluruh. Sehingga masyarakat melihat dunia artistik sebagai dunia yang eksklusif dan tidak merakyat.

2. SDM kreatif berbasis non artistik (sains dan teknologi) terlalu mikroskopis dalam melihat keprofesiannya sehingga kadang terlalu mekanistis dalam berpikir sehingga kurang inovatif. Dalam bekerja orang orang ini lebih termotivasi bekerja pada  perusahaan perusahaan besar yang membuat mereka tenggelam di dalam rutinitas sehari

hari dan memiliki keterbatasan dalam mengekspresikan kreativitas yang ada dalam diri.

3. SDM kreatif baik yang berbasis artistik maupun yang non artistik kekurangan sarana untuk bereksperimen dan berekspresi sehingga hasil karya mereka masih kurang kreatif  dan kurang inovatif. Akibatnya industri lokal dan internasional belum melihat kepentingan yang besar untuk mengadopsi ide ide baru dari mereka.

Melihat kondisi seperti ini, maka diperlukan penanaman pola pikir kreatif yang lebih kontekstual dan diterapkan disegala sisi kehidupan, baik dari sisi pendidikan, budaya maupun motivasi kewirausahaan.

LEMBAGA PENDIDIKAN YANG MAMPU MENGHASILKAN INSAN KREATIF INDONESIA

Saat ini, telah semakin disadari bahwa kurikulum yang hanya bersifat menghafal, tidak akan   berdampak pada daya juang anak didik di kehidupan nyata. Daya juang sebenarnya adalah olah kreativitas, karena daya juang menantang manusia memecahkan suatu permasalahan,  bila ia tidak cukup kreatif, permasalahannya tidak selesai dan ia akan tersingkirkan. Banyak 

ditemui, lulusan lulusan pendidikan tinggi dengan IPK tinggi ternyata tidak berprestasi didunia kerja, bahkan jadi pengangguran. Dengan kenyataan ini, sektor pendidikan, sejak dini harus mengimbangi kurikulum berbasis hafal menghafal dengan kurikulum berorientasi kepada kreativitas dan terbentuknya jiwa kewirausahaan. Kreativitas yang dimaksud adalah mengasah kepekaan dan kesiapan untuk proaktif di dalam menghadapi perubahan perubahan yang ditemui dilingkungan nyata.

Lembaga pendidikan seharusnya mengarah kepada sistem pendidikan yang dapat menciptakan:

1. Kompetensi yang kompetitif: Sesuai namanya, kompetensi membutuhkan latihan, sehingga sektor pendidikan harus memperbanyak kegiatan orientasi lapangan, eksperimentasi, riset dan pengembangan serta mengadakan proyek kerjasama

multidisipliner yang beranggotakan berbagai keilmuan, dari sains, teknologi maupun seni.

2. Intelejensia Multi Dimensi: Teori teori intelejensia saat ini telah mengakui pula  bahwa tidak hanya kecerdasan rasional (IQ) yang menjadi acuan tingkat   pencapaian manusia, tetapi manusia juga memiliki kecerdasaran emosi (EQ) dan

kecerdasan spiritual (SQ). Dengan menempatkan porsi yang sama di ketiga dimensi intelejensia ini pada jalur pendidikan formal, diharapkan dapat dihasilkan SDM  bertintelejensia rasional yang tinggi dan memiliki daya kreativitas yang tinggi pula.

KERAGAMAN SOSIO KULTURAL INDONESIA

Bali adalah contoh yang baik dalam melihat toleransi keragaman sosio kultural. Bali telah menjadi magnet bagi banyak banyak orang didunia dan banyak orang Indonesia dari etnis lainnya.Faktor faktornya adalah:

1. Sikap terbuka keramahan masyarakat Bali terhadap orang asing maupun etnis lain. 2. Kesenian tradisi (warisan budaya) masyarakat Bali yang dapat dilihat sehari hari. 3. Terpeliharanya warisan budaya dan aset aset wisata alam.

Ketiga daya tarik ini mampu membuat Bali menjadi meeting point dari berbagai etnis dunia yang tidak sekedar ingin menikmati keindahan alam, namun juga ingin berkarya dan  berkolaborasi dengan warga etnis lainnya. Interaksi semacam ini merupakan faktor penting   bagi perekonomian masyarakat Bali dan membuat Bali menjadi semakin dikenal sebagai

tempat berkarya bagi banyak individu kreatif berkelas dunia.

Apabila tauladan seperti ini ditiru oleh daerah daerah lain di Indonesia, maka magnet yang sama akan tercipta didaerah daerah lain yang tidak kalah indahnya dengan Bali. Seluruh etnis di Indonesia juga harus saling menghormati simbol simbol budaya yang memiliki kesakralan   bagi etnis tertentu. Kadangkala perselisihan terjadi karena saling ketidaktahuan mengenai

simbol simbol tersebut.

KESIAPAN PERANGKAT NEGARA UNTUK MENDUKUNG INDUSTRI

BER BASIS INT  ELEC TUA L PROPERTY 

Di tingkat internasional, daya tawar  (bargaining position) Indonesia untuk   permasalahan HKI masih sangat perlu ditingkatkan. Sering kali, upaya memperjuangan HKI

karya cipta asli Indonesia kandas di tengah jalan karena kurangnya kemampuan diplomasi negara. Pemerintah harus lebih memahami konvensi internasional di bawah naungan W orld  Trade Organization (WTO) dan W orld   I ntellectual Pr o  perty Organization (WIPO) dan mengejawantahkan secara aktual ke dalam kondisi di dalam negeri.

Di tingkat dalam negeri, masih banyak pelanggaran hak cipta seperti pembajakan cakram optik yang melemahkan reputasi negara ditataran internasional. Tingkat pembajakan

cakram optik (CD, VCD, DVD) yang tinggi di Indonesia menyebabkan Indonesia dijadikan

Watch Li st  oleh  I nternational  I ntellectual Pr o  perty A ssociation (IIPA) Amerika. Akibat   pembajakan di dalam negeri sejak September 2006, IIPA dirugikian sebesar 85% dibidang   piranti lunak dan 91% dibidang musik, total 205.2 Juta Dollar . Faktor yang tidak 

mengenakkan bagi Amerika tentu akan menghambat ekspor produk produk berbasis hak cipta asal Indonesia ke Amerika.

MENGHADAPI PERDAGANGAN BEBAS

Industri kreatif dalam definisi modern telah lebih dahulu dikembangkan oleh dunia   barat. Dengan sendirinya individu individu asing telah lebih dahulu memahami cara cara

(know how ) membangun industri kreatif dimana saja ia berada, apalagi untuk mendirikannya relatif lebih murah.

Banyaknya sumber daya alam yang masih belum disentuh dan melimpahnya aset   budaya tradisi lokal telah mengundang pemain pemain asing untuk datang dan be kerja di Indonesia. Sering kali kedatangan para pemain asing di Indonesia tidak disertai komitmen dalam membangun industri yang lebih berkelanjutan, hanya bersifat eksploitatif semata. Agar  individu lokal dapat bersaing dengan pemain asing, maka pekerja kreatif Indonesia harus dipersiapkan secara matang dengan segera diciptakan lembaga lembaga pelatihan baik  formal, non formal maupun organik yang mampu melatih kemampuan manajerial, olah kreativitas, bahasa asing, pemasaran dan negosiasi bisnis.

LEMBAGA KEUANGAN BAGI INDUSTRI KREATIF

Dukungan lembaga keuangan pada insan insan kreatif Indonesia masih dirasakan rendah. Misalnya industri industri kreatif baru terutama yang berbasis konten digital yang menunjukkan pertumbuhan di atas rata rata masih sulit untuk mendapatkan dukungan   pembiayaan dari lembaga keuangan. Hal ini disebabkan karena lembaga keuangan masih   belum memahami bisnis di industri kreatif ini, sehingga lembaga keuangan masih sulit

memberikan dukungan.

Insan insan kreatif sebenarnya juga bagian dari UKM/IKM. Realita secara makro, dukungan lembaga finansial dalam mendanai UKM/IKM masih setengah hati. Saat ini sudah terdapat skema pembiayaan KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) yang telah diluncurkan oleh Presiden RI pada tanggal 5 November 2007 berdasarkan Nota Kesepahaman Bersama (MoU) antara Pemerintah, Perusahaan Penjaminan, dan Perbankan (enam bank yaitu Bank Mandiri, BNI, BTN, BRI, Bank Bukopin, dan Bank Syariah Mandiri) pada tanggal 9 Oktober 2007 tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan kepada UMKM/Koperasi, yang mungkin dapat dimanfaatkan oleh skema pembiayaan bagi industri kreatif. Tetapi hal ini belum dapat dimanfaatkan oleh industri kreatif karena kendala perbedaan pola bisnis sektor industri kreatif dengan sektor sektor industri lainnya, sehingga perbankan akan cenderung menilai sektor industri kreatif ini belum bankable. Oleh karena itu perlu dipikirkan kebijakan atau  bentuk skema pembiayaan yang sesuai bagi industri kreatif ini.

B

A

B

V

Dalam dokumen Bagaimana Memulai Usaha Industri Kreatif (Halaman 34-38)