• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab Enam Meditasi

Dalam dokumen Milarepa - Lobsang Lhalungpa (Halaman 187-197)

Lalu Retchung bertanya, "Guru yang mulia, ketika engkau tiba di tanah asalmu, apakah ibumu masih hidup, ataukah keadaannya seperti yang ada di dalam mimpimu?"

Sang Guru menjawab, "Seperti dalam mimpi burukku, aku tidak cukup beruntung untuk melihat ibuku lagi."

Lalu Retchung berkata, "Guru, ceritakanlah bagaimana keadaan rumahmu, dan siapa yang mula-mula engkau jumpai di sana?"

Dan Milarepa melanjutkan:

Orang pertama yang kujumpai adalah beberapa gembala, di lembab sebelah atas dari mana aku bisa melihat • umahku, Pura-pura tidak tahu, aku menanyakan nama daerah itu dan siapa pemilik tanahnya. Mereka menjawab sejujurnya. Lalu sambil menunjuk pada rumahku sendiri, aku bertanya lagi, "Dan teinpat di bawah sana, apa namanya? Siapa nama pemiliknya?"

Salah seorang gembala menjawab, "Rumah itu disebut Empat Ruang dan Delapan Tiang. Tak ada penghuni yang hidup, hanya ada hantu."

"Apakah penghuninya mati, ataukah mereka pergi meninggalkan kampung?" tanyaku.

"Dulunya pemilik rumah ini adalah salah seorang terkayg di daerah ini. Ia mati sebelum waktunya dan hanya meninggalkan seorang putera yang masih kecil, Karena sang ayah membuat wasiat dengan tidak bijaksana, sepupu-sepupunya merampas harta anak itu. Ketika aoak itu sudah dcwasa, dia menda iangkan kemalangan ke dosa ini untuk menghukum mereka yarig merampas hartanya dengan mantra dan badai hujan."

"Mungkin penghuninya takut pada dewa pelindung anak itu sehingga tidak berani melihat ke dalam rumah dan laaang, apaiagi mendekatinya,"'kataku.

Gembala itu menjawab, "Di dalam rumah itu ada mayat ibunya, rumah itu dihantui ibunya. Adiknya meninggalkan mayat ibunya dan menghilang tanpa seorang pun tahu ke mana. Mengenai puteranya, ia entah sudah mati atau hilang. Katanya ada sebuah buku suci di dalam rumah itu. Pertapa, jika engkau berani, pergilah lihat sendiri."

"Sudah berapa lama peristiwa itu terjadi?"

"Ibunya mati kira-kira delapan tahun yang lalu. Tak ada yang . diingat kecuali tentang kutukan dan badai. Aku hanya mendengamya dari orang lain."

Jadi penduduk-penduduk itu benar-benar takut pada dewa pelindungku. Aku merasa mereka tidak berani menyakitiku. Tetapi kenyataan bahwa ibuku yang tua sudah mati dan adikku mengembara membuatku sedih. Sambil menangis, aku bersembunyi dan menunggu hingga matahari terbenam. Setelah malam, aku pergi ke desa.

Yang kujumpai persis seperti dalam mimpiku. Ladangku dipenuhi rumput-rumput liar. Aku masuk ke dalam rumah, yang dibangun seperti sebuah kuil. Hujan dan kotoran jatuh di atas buku-buku suci, Benteng Permata. Tikus-tikus membuat sarang di sana, menutupi buku-buku itu dengan kotorannya. Melihat ini, aku termenung dan hatiku diliputi kesedihan.

Aku masuk ke ruang utama. Reruntuhan perapian yang bercampur dengan kotoran membentuk timbunan, di mana rumput-rumput tumbuh dan berkembang. Ada banyak remukan dan bubuk tulang di sana. Aku sadar bahwa itu adalah tulang-belulang ibuku. Mengenang beliau membuatku tersedak oleh emosi. Dan dikuasai kepiluan, aku hampir pingsan.

Segera setelah itu, aku ingat instruksi-instruksi lama. Dengan menyatukan kesadaranku dengan kesadaran ibuku, dan dengan pikiran cerah para lama Kagyu, aku duduk di atas tulang-belulang ibuku dan bermeditasi dengan kesadaran murni tanpa terganggu sedikit pun, dalam tubuh, ucapan, dan pikiran. Aku melihat kemungkinan untuk membebaskan ibu dan ayahku dari penderitaan lingkaran kelahiran dan kematian.

Tujuh hari berlalu dan aku bangkit dari meditasiku. Aku mulai berpikir: Yakin terhadap kesia-siaan samsara, aku akan minta dibuatkan tempat penyimpanan yang terbuat dari tulang ibuku, dan sebagai imbalannya aku akan raemberikan buku-buku, Benteng Permata. Setelah itu, aku akan pergi ke Batu Seputih Gigi Kuda dan mengabdi pada meditasi siang dan malam selama sissa hidupku, dan akan bunnh diri jika aku banyak memikirkan Delapan Reaksi Dimiawi. Jika aku tenggelam dalam hiiknm keinginan, biarlah devva-dewa pelindung agama mengambil nyawaku. Aku mengulangi sumpah mengerikan irii berkali-kali dalam lubuk hatiku.

Aku mengumpulkan tulang-tulang ibuku serta buku-buku, dan memberi hormat pada barang-barang itu, setelah membersihkannya dari abu dan kotoran buruug. Buku-buku itu tidak terlalu hancur oleh hujan dan masih bisa terbaca. Aku membawa bagian pertama dari buku itu yang tidak rusak di punggungku, dan tulang-tulang ibuku kubawa dalam lipatan chubaku. Aku dipenuhi kesia-siaan samsara. Dengan diliputi kesedihan yang tak terkatakan, aku menyanyikan Lagu Ketenangan Hati ini, mengingatkan diriku pada tujuan pokok Dharma.

"0 Yang Mulia, Pengasih dan Abadi

Sesuai dengan ramalan Marpa Sang Penerjemah Di sini di dalam penjara setan kampung halamanku

Aku menemukan seorang guru yang memberikan ilusi kesementaraan

Berkatilah aku, agar aku bisa memahami kebenaran-kebenaran Yang diberikan oleh guru ini Segala yang ada

Dan khususnya dunia samsara ini Tidak memiliki tujuan dan nilai pokok

Daripada melalcukan perbuatan-perbuatan yang sia-sia Aku harus mengabdi pada tujuan pokok Dharma

Mulanya sewaktu ada ayah, tidak ada anak Ketika ada anak, tak ada lagi ayah

Pertemuan kami hanya khayalan

Aku, sang anak, akan melaksanakan Dhanna sejati Aku pergi meditasi di Batu Seputih Gigi Kuda

Ketika ada seorang ibu, tidak ada anak

Sekarang setelah aku datang, ibuku yang tua mati Pertemuan kami hanyalah khayalan

Aku, sang anak, akan melaksanakan Dhanna sejati Aku pergi meditasi ke Batu Seputih Gigi Kuda

Ketika ada adik, tidak ada kakak

Sekarang setelah abangnya datang, ia telah pergi mengembara Pertemuan kami hanyalah khayalan

Aku, sang anak, akan melaksanakan Dharma yag benar Aku pergi meditasi ke Batu Seputih Gigi Kuda

Ketika ada buku-buku suci, tidak ada penghormatan Sekarang aku memberi hormat, namun mereka pun telah rusak oleh hujan

Pertemuan kami hanyalah khayalan

Aku, sang anak, akan melaksanakan Dharma sejati Aku pergi meditasi ke Batu Seputih Gigi Kuda

Ketika ada rumah, tidak ada majikannya

Sekarang setelah majikannya telah datang, rumah tinggal puing Pertemuan kami hanyalah khayalan

Aku, sang anak, akan melaksanakan Dharma sejati Aku pergi meditasi ke Batu Seputih Gigi Kuda

Ketika ada ladang yang subur, pemiliknya tidak ada

Sekarang pemiliknya sudah datang, ia penuh ditumbuhi rumput Pertemuan kami hanyalah khayalan

Aku, sang anak, akan melaksanakan Dhanna sejati Aku pergi meditasi ke Batu Seputih Gigi Kuda

Rumah, kampung halaman, dan ladang-ladang Adalah dunia tanpa manfaat sejati Biarlah si dungu mengambilnya

Sebagai pertapa aku pergi mencari kebebasan Ayah Yang Pengasih, Marpa Penerjemah

Berkati pengemis ini agar ia bisa meditasi di kesunyian."

Setelah mengungkapkan kepedihanku, aku pergi ke rumah guru yang dahulu mengajarku membaca. Ia sudah wafat, jadi aku memberikan bagian pertama dari Benteng Permata kepada anaknya, dan berkata, "Aku akan memberimu sisa buku suci ini. Buatlah area kecil dari tanah dengan tillang ibuku."

Ia menjawab, "Dewa pelindungmupastimengikuti bukuinu. Aku tidak menginginkannya, tapi aku.akan membantumu membuat patung itu."

"Dewa pelindungku tak akan mengikuti pemberianku." "Kalau begitu baiklah," katanya.

Dengan bantuanku ia membuat area kecil dengan tulang-tulang ibuku1. Ia lalu menyelenggarakan upacara pensakralan, dan menempatkan area kecil itu dalam sebuah stupa. Setelah itu aku bersiap- siap untuk pergi.

Anak guruku berkata, "Tinggallah di sini beberapa hari dan mari berbincang-bincang. Aku akan menyediakan kebutuhan-kebutuhanmu."

Aku menjawab, "Aku tidak punya waktu untuk berbincang- bincang. Aku rindu benneditasi."

"Kalau begitu menginaplah malam ini. Besok kalau engkau pergi, aku akan menyiapkan bekalmu."

Aku setuju untuk tinggal semalam dan ia meianjutkan, "Ketika masih muda, engkau menaklukkan musuh-musuhmu dengan ilmu sihir. Sekarang engkau berada dalam keutamaan hidup, engkau mengakui religi yang menakjubkan. Suatu hari nanti engkau akan menjadi seorang suci yang niulia. Dari lama yang mana engkau memperoleh mstruksi, dan apa instruksi-instruksi itu?" Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendetil padaku.

Aku menjawab, "Aku telah memperoleh ajaran Kesempurnaan Agung. Tapi di atas segalanya, aku bertemu dengan Marpa."

"Mengagumkan! Kalau begitu lebih baik engkau memperbaiki rumahmu, menikahi Zessay, dan mengikuti jejak lamaniu."

Aku menjawab, "Lama Marpa beristeri demi kebahagiaan semua makhluk hidup. Tapi aku tidak mempunyai niat dan kemampuan seperti yang dimilikinya. Mencoba berbuat demikian, laksana kelinci yang mengkhayal

bisa mengikuti jejak seekor singa, Kelinci itu akan terperosok dalam jurang yang dalam sekali dan pasti akan mati. Aku sedih memikirkan lingkaran kelahiran dan kematian. Tidak ada lagi yang kuinginkan selain benneditasi dan mematuhi ajaran-ajaran lama. Yang paling mendasar dari ajarannya adalah agar meditasi itu dilakukan di tempat sepi. Dengan cara itulahaku akan mengikuti jalannya. Hanya dengan meditasi aku bisa memenuhi harapannya. Ini akan menjadi awal ajaran dan membantu semua makhluk hidup. Ini bahkan bisa menyelamatkan ayah dan ibuku, dan akan mewujudkan tujuanku sendiri. Aku hanya tahu bagaimana benneditasi dan tak ada yang lain yang bisa kulakukan."

"Aku tidak mempunyai maksud lain. Aku kembali ke desaku terutama karena orangtuaku memiliki nimah dan harta di sini. Hilangnya semua harta duniawiku memperkuat keinginanku untuk benneditasi. Sekarang keinginan itu seperti api yang menyala di dalam dadaku."

"Orang lain tidak mengenal kemalangan seperti ini. Bagi ordng- orang yang tidak memikirkan derita kematian dan alam yang lebih rendah, kenikmatan-kenikmatan indera dalam hidup sudah cukup bagi mereka. Bagiku, semuanya itu menjadi pendorong untuk benneditasi dengan sepenuhnya mengabaikan makanan, pakaian, dan penghargaan." Terguncang dalam isak, aku menyanyikan lagu ini:

"Aku bersujud di kaki Marpa, Yang Sempurna

Berkatilah pengemis ini agar ia lepas dari kemelekatan

Aduh! Aduh! Pedih! Pedih!

Bila memikirkan orang-orang yang mempercayai keduniawian aku dipenuhi kesedihan

Memanjakan diri dalam benda-benda duniawi memunculkan kesengsaraan dari sumbernya yang utama

Teraduk terus-menerus, ia terlempar ke dalam lubang samsara

Apa yang dapat diperbuat mereka yang terperangkap dalam kesedihan dan kesengsaraan

Tiada jalan lain selain mengabdi pada Dhanna

Marpa Yang Agung, Abadi, Penegak Kebenaran Tertinggi Berkati pengemis ini agar bisa hidup menyepi

Di kota dengan ilusi yang sekejap saja Pelancong dari jauh telah nelangsa

Di dataran Gungthang yang aneh

Kawanan dombaku dan tanah tempat menggembala Hari ini menjadi mangsa pelaku kejahatan

Ini juga contoh khayalan yang sekejap saja Contoh yang memanggilku untuk bermeditasi

Ruang utama di Empat Ruang Delapan Tiang Hari ini seperti rahang atas seekor singa2

Rumahku dengan empat sudutnya, empat dinding dan puncaknya

Hari ini laksana telinga seekor keledai Ini juga contoh khayalan yang sekejap saja Contoh yang memanggilku untuk bermeditasi

Ladangku yang bagus, Segi Tiga Kesuburan Hari ini ditelan rumput-rumput liar

Sepupu-sepupuku dan sanak keluargaku yang terdekat Hari ini.menjadi musuh-musuhku

Yang telah memerangi kami

Contoh yang memanggilku untuk bermeditasi

Hari ini, ayahku yang baik, Mila Panji Kebijaksanaan Tiada lagi, tak ada jejak tertinggal

Bundaku, Permata Putih, keturunan Nyang Tiada lagi selain tulang-tulang yang remuk

Ini juga menjadi contoh khayalan yang sekejap saja Contoh yang memanggilku untuk bermeditasi

Pendeta keluarga, Semilyar Mutiara Surgawi Sekarang menjadi pelayan Buku-buku suci, Benteng Permata Hari ini menjadi tempat tikus bersarang

Ini juga merupakan contoh khayalan yang sekejap sa ja Contoh yang memanggilku untuk bermeditasi

Pamanku Yung Yang Jaya

Hari ini hidup di antara musuh-musuhku Adikku, Peta Pelindung Bahagia

Telah mengembara tanpa jejak

Ini juga contoh khayalan yang sekejap sa ja

Yang memanggilku menuju kehidupan meditasi Marpa Yang Agung, Pengasih dan Abadi

Berkati pengemis ini agar ia bisa hidup menyepi."

Dalam kesedihanku, aku melagukan nyanyian ini. Anak guruku berseru, "Mengagumkan, tapi nyata!"

Isterinya terisak-isak tanpa terkendali. Aku telah melihat keadaan desaku, dan aku tidak bisa menolong kecuali berulang kali mencgaskan tekadku untuk terus bermeditasi. Aku menyimpan keinginan ini di dalam lubuk hatiku, dan dengan tetap bermeditasi, aku tidak mempunyai alasan untuk menyesal.

Begitulah cerita Milarepa. Inilah bab keenam, di mana Milarepa, yang yakin terhadap kesia-siaan samsara, bertekad mengabdikan dirinya pada meditasi.

Bab Tujuh

Dalam dokumen Milarepa - Lobsang Lhalungpa (Halaman 187-197)