• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN

Bagan 4.1 Bagan Struktur Organisasi SMA Negeri 1 Godean

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian dan Sesudah Penelitian ... 140

Lampiran 2 Lembar Observasi (Pra Penelitian) ... 145

Lampiran 3 Perangkat Siklus 1 ... 153

Lampiran 4 Perangkat Siklus 2 ... 202

Lampiran 5 Lembar Kuesioner ... 231

Lampiran 6 Daftar Data Tabulasi ... 239

Lampiran 7 Hasil Pre Test dan Post Test ... 252

Lampiran 8 Observasi Penelitian ... 255

1. Observasi Penelitian (Siklus I) ... 256

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah suatu hal yang sangat kita perlukan guna

membantu dalam penyelenggaraan pembangunan bangsa suatu negara.

Suatu pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal ataupun non

formal. Salah satu lembaga formal dalam penyelenggaraan pendidikan

yaitu sekolah, dimana setiap sekolah mencanangkan program – program tertentu dalam pencapaian pendidikan belajar itu sendiri. Sekolah tidak

lepas dari suatu standar kurikulum pemerintah dalam pencapaian tujuan

belajar.

Dengan pencapaian belajar yang baik, tentunya diperlukan

beberapa hal yang sangat mendukungnya, salah satunya ialah proses antara

guru dan siswa di dalam kelas. Di dalam kelas itu sendiri siswa dapat

berkembang melalui seorang guru. Pembelajaran di dalam kelas adalah

proses dimana terjadinya interaksi antara guru dan siswa. Dalam proses

interaksi tersebut, guru tidak hanya memberikan ilmu yang dimiliki

kepada para siswanya, namun guru juga harus mampu memberikan

pemahaman mendalam tentang materi pelajaran yang diberikan kepada

siswanya. Dari berbagai macam pelajaran yang diajarkan, salah satunya

Pendidikan (KTSP) sekarang ini, pelajaran akuntansi dipelajari siswa

Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas XI pada semester genap dan kelas

XII selama dua semester. Ternyata pelajaran ini bukan hanya untuk

dipelajari saja, namun pelajaran akuntansi termasuk salah satu pelajaran

yang diujikan pada saat Ujian Akhir Nasional (UAN). Oleh karena itu,

siswa diharapkan dapat termotivasi dalam belajar akuntansi dan

memahami pelajaran akuntansi dengan baik.

Namun pada kenyataannya, menurut guru pengampu mata

pelajaran, banyak siswa yang kurang termotivasi dalam belajar akuntansi

sehingga mereka kurang memahami materi pelajaran akuntansi tersebut.

Oleh sebab itu peneliti tertarik mengadakan observasi untuk mengetahui

penyebab dari kurang termotivasinya siswa dalam belajar akuntansi dan

kurangnya pemahaman siswa terhadap mata pelajaran akuntansi. Adapun

beberapa penyebabnya, yaitu:

1. Siswa kurang terlibat secara aktif dalam pembelajaran di kelas.

Ketika guru menjelaskam materi di depan kelas, sedikit siswa yang

memperhatikannya. Siswa cenderung hanya mendengarkan guru, tetapi

pada kenyataan tidak memahaminya. Jika guru mengajukan

pertanyaan, siswa hanya diam dan para siswa dianggap oleh guru

sudah memahami materi apa yang sudah disampaikannya.

2. Siswa kurang dilibatkan dalam mengapresiasikan pengetahuan yang

Para guru cenderung hanya mementingkan apa yang diajarkannya,

tanpa harus mengerti apakah siswa itu sendiri sudah paham atau belum

terhadap mata pelajaran yang diajarkan oleh guru.

3. Kurangnya perhatian guru kepada semua siswa pada saat

pembelajaran di dalam kelas.

Siswa yang diperhatikan lebih oleh guru tentunya akan membuat siswa

lainnya menjadi malas dalam belajar. Di dalam kelas misalnya, guru

hanya hafal satu atau dua nama siswa yang dirasa pandai, sehingga

guru hanya memfokuskan perhatiannya pada siswa tersebut tanpa

memandang siswa-siswa lain yang juga sangat membutuhkan

perhatiannya.

Dari uraian tersebut di atas, peneliti berusaha mencari penyebabnya,

akar permasalahan yang mungkin menjadi penyebab kurangnya motivasi

belajar dan pemahaman siswa, yaitu metode pembelajaran yang dilakukan

oleh guru cenderung tradisional (ceramah). Oleh karena itu, guru harus

mencoba menggunakan metode pembelajaran yang melibatkan siswa

secara aktif guna mencapai hasil belajar yang baik. Banyak metode

pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan oleh guru, yaitu metode

Student Teams Achievement Division (STAD), metode Jigsaw, Investigasi

kelompok (Group Investigation), metode Think Pair Share (TPS), metode

Numbered Head Together (NHT), dan metode Teams Games Tournament

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk

mengadakan penelitian tentang metode pembelajaran kooperatif

khususnya tipe STAD pada mata pelajaran akuntansi terhadap peningkatan

motivasi dan pemahaman siswa. Adapun alasan peneliti memilih metode

STAD, yaitu peneliti menduga bahwa dalam pembelajaran, siswa dapat

dilibatkan secara aktif bersama dengan kelompok timnya dan mampu

bekerja sama antara anggota satu dengan anggota lainnya di dalam

kelompok itu sendiri. Kerjasama antar siswa itulah pada akhirnya

membuahkan keberhasilan kelompok. Karena keberhasilan kelompok

adalah tanggung jawab semua anggota kelompok. Oleh sebab itu, guru

harus memikirkan dan membuat perencanaan sebelum melakukan proses

pengajaran agar siswa dapat terlibat secara aktif.

Berdasarkan masalah tersebut di atas, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian tindakan kelas, yaitu dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Pemahaman Siswa pada Mata Pelajaran Akuntansi Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Godean”.

B. Batasan Masalah

Penelitian ini akan memfokuskan pada tipe STAD pada variabel

peningkatan motivasi belajar dan pemahaman siswa pada mata pelajaran

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat disusun rumusan

masalah, yaitu:

1. Apakah ada peningkatan motivasi belajar kelas XI IPS 2 SMA Negeri

1 Godean melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe

STAD pada mata pelajaran akuntansi?

2. Apakah ada peningkatan pemahaman belajar siswa kelas XI IPS 2

SMA Negeri 1 Godean melalui penerapan model pembelajaran

kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran akuntansi?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui apakah ada peningkatan motivasi belajar kelas XI IPS 2

SMA Negeri 1 Godean melalui penerapan model pembelajaran

kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran akuntansi?

2. Mengetahui apakah ada peningkatan pemahaman belajar siswa kelas

XI IPS 2 SMA Negeri 1 Godean melalui penerapan model

pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran akuntansi?

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat memberikan pengalaman yang berguna, berharga

dan dapat menjadi bekal bagi peneliti untuk terjun kedunia pendidikan

serta dapat memperoleh wawasan dalam menganalisis suatu masalah

2. Bagi siswa

Dengan penelitian ini siswa diharapkan dapat termotivasi belajar

akuntansi, memahami, dan dapat meningkatkan nilai akuntansi.

3. Bagi guru

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan

masukan serta bahan pertimbangan saat memilih metode pembelajaran.

4. Bagi sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan dampak pada

peningkatan mutu pembelajaran di sekolah yang akhirnya pada

kualitas sekolah.

5. Bagi Universitas Sanata Dharma

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu literatur atau

BAB II

KAJIAN TEORITIK

A. Penelitian Tindakan Kelas

1. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Suharsimi Arikunto (2006: 2-26) mengemukakan Penelitian

Tindakan Kelas (PTK) dalam bahasa Inggris adalah Classroom Action

Research (CAR). Dari namanya sudah menunjukkan isi yang

terkandung di dalamnya, yaitu sebuah kegiatan penelitian yang

dilakukan di kelas. Dikarenakan ada tiga kata yang membentuk

pengertian tersebut, maka ada tiga pengertian yang dapat diterangkan.

1. Penelitian

Menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu obyek dengan

menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk

memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam

meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi

peneliti.

2. Tindakan

Menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan

dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian

3. Kelas

Dalam hal ini terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam

pengertian yang lebih spesifik. Seperti yang sudah lama dikenal

dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan

istilah kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang

sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.

Dengan menggabungkan batasan pengertian tiga kata inti, yaitu (1)

penelitian, (2) tindakan, dan (3) kelas, segera dapat disimpulkan bahwa

penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap

kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan

dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut

diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh

siswa. Model penelitian tindakan kelas menurut Suharsimi Arikunto

yaitu ada empat tahapan yang lazim perlu dilalui, yaitu: (1)

perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi.

Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap adalah

(Arikunto, 2006: 16)

Tahap 1: Menyusun rancangan tindakan (Planning)

Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa,

mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana

tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal

sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang

melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses

jalannya tindakan. Istilah untuk cara ini adalah penelitian

kolaborasi. Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya

untuk mengurangi insur subyektivitas pengamat serta mutu

kecermatan yang dilakukan. Perencanaan Pengamatan SIKLUS I Pengamatan Perencanaan SIKLUS II Refleksi Refleksi Pelaksanaan Pelaksanaan ?

Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Tahap ini adalah pelaksanaan yang merupakan

implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenai

tindakan di kelas. Hal yang peru diingat adalah bahwa

dalam tahap ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha

menaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan,

tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat.

Tahap 3: Pengamatan (Observing)

Tahap ini yaitu kegiatan pengamatan yang

dilakukan oleh pengamat. Tahap ini dapat dikatakan bahwa

pengamatan juga diberikan untuk memberikan peluang

kepada guru pelaksana yang juga berstatus sebagai

pengamat.

Tahap 4: Refleksi (Reflecting)

Tahap ini merupakan kegiatan untuk

mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan.

Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru

pelaksana sudah selesi melakukan tindakan, kemudian

berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan

implementasi rancangan tindakan.

Suharsimi Arikunto juga mengemukakan sasaran-sasaran atau

1. Unsur siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa yang

bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di

kelas/ lapangan/ laboratorium/ bengkel, maupun ketika sedang

asyik mengerjakan pekerjaan rumah dengan serius, atau ketika

mereka sedang mengikuti kerja bakti di luar sekolah.

2. Unsur guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang

mengajar di kelas, terutama cara guru memberi bantuan kepada

siswa, ketika sedang membimbing siswa yang sedang

berdarmawisata, atau ketika guru sedang mengadakan kunjungan

ke rumah siswa.

3. Unsur materi pelajaran, dapat dicermati dalam GBPP dan yang

sudah dikembangkan dalam Rencana Tahunan, Rencana

Semesteran dan Analisis Materi Pelajaran. Lebih lanjut dapat

dilihat dari materi yang tertulis dalam Satuan Pelajaran dan

terutama ketika materi tersebut disajikan kepada siswa, me;iputi

pengorganisasian, urutannya, cara penyajiannya atau

pengaturannya.

4. Unsur peralatan atau sarana pendidikan, meliputi peralatan baik

yang dimiliki oleh siswa perseorangan, peralatan yang disediakan

oleh sekolah, ataupun peralatan yang disediakan dan digunakan di

kelas dan di laboratorium.

5. Unsur hasil pembelajaran, yang ditinjau dari tiga ranah yang

pembelajaran, baik susunan maupun tingkat pencapaian.

Dikarenakan hasil belajar merupakan produk yang harus

ditingkatkan, pasti terkait dengan tindakan unsur lain.

6. Unsur lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, sekolah maupun

yang melingkungi siswa di rumahnya. Informasi tentang

lingkungan dikaji bukan untuk dilakukan campur tangan, tetapi

digunakan sebagai pertimbangan dan bahan untuk pembahasan.

7. Unsur pengelolaan, yang jelas-jelas merupakan gerak kegiatan

sehingga mudah diatur dan direkayasa dalam bentuk tindakan.

Sedangkan Wijayah Kusumah (2009: 9) mengemukakan definisi

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh

guru di kelasnya sendiri dengan cara (1) merencanakan, (2) melaksanakan,

dan (3) merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan

tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa

dapat meningkat. Suhardjono (2006: 58-61) mengemukakan Penelitian

Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan di kelas dengan

tujuan memperbaiki/ meningkatkan mutu praktik pembelajaran.

Penelitian Tindakan Kelas menurut Susilo (2007: 16) adalah penelitian

yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat mengajar,

dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan

proses dalam pembelajaran. Menurut Susilo, dalam prakteknya PTK

a. Merumuskan masalah dan merencanakan tindakan (planning).

b. Melaksanakan tindakan (acting) dan pengamatan (observing).

c. Merefleksikan (reflecting) hasil pengamatan.

d. Perbaikan atau perubahan peencanaan (replanning) untuk

pengembangan tingkat keberhasilan.

2. Manfaat dan Tujuan Penelitian Tindakan Kelas 1) Manfaat Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Wijaya Kusumah (2009: 16), ada beberapa manfaat dari

PTK, yaitu:

a. Menumbuhkan kebiasaan menulis.

Karena terbiasa menulis, guru bisa memperoleh kesempatan

untuk naik golongan bagi PNS, karena sertifikasi guru

mensyaratkan PTK.

b. Meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

c. Berpikir analisis dan ilmiah.

Karena terbiasa mencari jalan keluar, maka seorang guru akan

terbiasa untuk berpikir analisis ilmiah. Oleh karena itu, PTK

dapat mengarahkan guru untuk selalu berpikir ilmiah dalam

memecahkan masalah.

d. Menambah khasanah ilmu pendidikan.

Dengan banyaknya tulisan dari para guru yang melakukan PTK,

dan mengembangkan wawasannya. Hal ini dapat menambah

khasanah baru dalam dunia pendidikan.

e. Menumbuhkan semangat guru lain.

PTK dapat mendorong guru lain untuk mencoba melakukan

PTK di kelas diajarnya dan untuk meningkatkan kualitas

pelaksanaan pembelajarann kelas.

f. Mengembangkan pembelajaran.

Dengan PTK, guru dapat mengembangkan keterampilan atau

pendekatan baru pembelajaran dan dapat memecahkan masalah

dengan penerapan langsung di ruang kelas.

g. Meningkatkan mutu sekolah secara keseluruhan.

PTK pada intinya memperbaiki proses pembelajaran di kelas.

Semakin sering dan banyak guru yang menulis PTK, maka

semakin baiklah kualitas sekolah tersebut.

Sedangkan Susilo (2007: 18) mengemukakan ada dua manfaat PTK,

yaitu:

a. Melalui PTK secara kolaboratif akan tercipta peluang yang luas

terhadap terciptanya karya tulis bagi guru.

b. Karya Tulis Ilmiah semakin diperlukan guru di masa depan

untuk meningkatkan kariernya, dan dalam rangka membuat

rancangan penelitian tindakan kelas yang lebih berbobot sambil

2) Tujuan Penelitian Tindakan Kelas

Suhardjono (2006: 61) mengemukakan tujuan dari PTK, yaitu:

a. Meningkatkan mutu isi, proses, serta, hasil pendidikan dan

pembelajaran di sekolah.

b. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi

masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.

c. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga

kependidikan.

d. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan

sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan

perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara

berkelanjutan (sustainable).

3. Model-model Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Wijaya Kusumah (2009: 24) ada lima model Penelitian

Tindakan Kelas (PTK), yaitu:

1) Model Kurt Lewin

Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau dasar adanya

berbagai model penelian tindakan yang lain, khususnya PTK.

Dikatakan demikian karena dialah yang pertama kali

memperkenalkan Action Research atau penelitian tindakan.

Konsep pokok penelitian tindakan Model Kurt Lewin terdiri dari

empat komponen, yaitu a) perencanaan (planning), b) tindakan

Dapat digambarkan dalam siklus:

Acting

Planning Observing

Reflecting

2) Model Kemmis & MC Taggart

Model ini merupakan pengembangan dari konsep dasar yang

diperkenalkan oleh Kurt Lewin sebagaimana yang diutarakan di

atas. Hanya saja, komponen tindakan (acting) dengan pengamatan

(observing) dijadikan sebagai satu kesatuan. Disatukannya kedua

komponen tersebut disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa

antara penerapan acting dan observing merupakan dua kegiatan

yang tidak terpisahkan. Maksudnya, kedua kegiatan ini harus

dilakukan dalam satu kesatuan waktu, ketika tindakan dilaksanakan

begitu pula observasi juga harus dilaksanakan. Untuk lebih

tepatnya, berikut ini dikemukakan bentuk desainnya (Kemmis &

Apabila dicermati, model yang dikemukakan oleh Kemmis &

McTaggart pada hakekatnya berupa perangkat atau untaian-untaian

dengan satu perangkat terdiri dari empat komponen, yaitu:

perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Keempat

komponen yang berupa untaian tersebut dipandang sebagai satu

siklus. Oleh karena itu, pengertian siklus pada kesempatan ini

adalah putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan,

pengamatan dan refleksi. Pada gambar di atas, tampak bahwa di

dalamnya terdiri dari dua perangakt komponen yang dapat

dikatakan sebagai dua siklus. Untuk pelaksanaan sesungguhnya,

jumlah siklus sangat bergantung kepada permasalahan yang perlu

diselesaikan.

3) Model John Illiot

Desain John Illiot tampak bahwa di dalam satu tindakan (acting)

terdiri dari beberapa step atau langkah tindakan, yaitu langkah1,

langkah tindakan 2, langkah tindakan 3. Adanay langkah-langkah

mata pelajaran terdiri dari beberapa pokok bahasan, dan setiap

pokok bahasan terdiri dari beberapa materi, yang tidak dapat

diselesaikan dalam satu kali tindakan. Oleh karenanya, untuk

menyelesaikan satu pokok bahasan tertentu diperlukan beberapa

kali langkah tindakan, yang terealisasi di dalam kegiatan belajar

Siklus I Siklus II Siklus III

Ide awal

Temuan dan Analisis

Perencanaan Umum Langkah Tindakan 1,2,3

Penjelasan Kegagalan tentang Implementasi

Implementasi Langkah Tindakan

Model PTK John Illiot

Monitoring Implementasi dan Efeknya

Revisi Perencanaan Umum

Implementasi Langkah Berikutnya

Revisi Ide Umum

Implementasi Langkah Berikutnya Perbaikan Perencanaan Langkah Tindakan 1,2,3

Monitoring Implementasi dan Efek

Penjelasan Kegagalan & Efek Monitoring Implementasi dan Efek

Perbaikan Perencanaan Langkah Tindakan 1,2,3

4) Model Hopkins

Berpijak pada desain-desain model PTK para ahli pendahulunya,

selanjutnya Hopkins (1993: 191) menyusun desain tersendiri, yaitu

sebagai berikut:

Perencanaan Tindakan Target, Tugas, Kriteria,

Keberhasilan Implementasi Menopang Komitmen Mengatasi Problem Evaluasi Cek Kemajuan Cek hasil Pengambilan stok Pelaporan Audit Ambil start Perencanaan Konstruksi

5) Model Mc. Kernan

Menurut Mc. Kernan ada tujuh langkah yang harus dicermati

dalam PTK, yaitu:

1. Analisis situasi (reconnaissance)

2. Perumusan dan klarifikasi permasalahan

3. Hipotesis tindakan

4. Perencanaan tindakan

5. Penerapan tindakan dengan monitoringnya

6. Evaluasi hasil tindakan

7. Refleksi dan pengambilan keputusan untuk pengembangan

B. Model Pembelajaran Cooperative Learning 1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Trianto (2009: 56) mengemukakan pembelajaran kooperatif

adalah siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang

terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen,

kemampuan, jenis kelamin, suku/ ras, dan satu sama lain saling

membantu. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok

strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi

untuk mencapai tujuan bersama (Eggen & Kauchak, 1996: 279).

Trianto (Artzt & Newman, 1990: 448) menyatakan bahwa dalam

belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam

menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama

untuk keberhasilan kelompoknya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah

suatu model yang lebih mengutamakan kerja kelompok untuk saling

membantu siswa satu dengan yang lainnya dan diharapkan tercipta

suatu kerjasama antara anggota dengan anggota kelompok, kelompok

dengan kelompok, ataupun kelompok dengan guru.

2. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Ide utama dari pembelajaran kooperatif adalah siswa bekerja

sama untuk belajar dan betanggung jawab pada kemajuan belajar

menyatakan bahwa tujuan pokok pembelajaran kooperatif adalah

memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik

dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok.

Menurut Eggen & Kauchak Trianto (2009: 58), pembelajaran

kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi

siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan

dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan

kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama

siswa yang berbeda latar belakangnya. Dalam pembelajaran kooperatif,

tujuan-tujuan pembelajaran mencakup tiga jenis tujuan penting, yaitu

hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan

pengembangan keterampilan social (Ibrahim, dkk, 2000: 7).

Jadi, tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah untuk

meningkatkan pembelajaran secara kerja sama dalam tim kelompok

dan saling memberikan dukungan terhadap anggota tim di dalam

pembelajaran bersama tersebut.

3. Keunggulan penggunaan pembelajaran kooperatif

Menurut Wina Sanjaya (2006: 247–248), ada banyak keuntungan yang diperoleh dari penggunaan pembelajaran kooperatif, diantaranya

adalah:

a. Melalui pembelajaran kooperatif siswa tidak terlalu

menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah

dari berbagai informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari

siswa yang lain.

b. Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau

gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya

dengan ide-ide orang lain.

c. Dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari

akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.

d. Dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih

bertanggung jawab dalam belajar.

e. Merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan

prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk

mengembangkan harga diri, hubungan interpersonal yang positif

dengan yang lain, mengembangkan keterampilan me-manage

waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.

f. Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan

pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat

berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan

karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab

kelompoknya.

g. Dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi

h. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan

motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini

berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.

4. Kelemahan pembelajaran kooperatif

Di samping keunggulan, Wina Sanjaya (2006: 248 – 249) juga memaparkan beberapa kelemahan pembelajaran kooperatif:

a. Untuk mengetahui dan mengerti filosofis pembelajaran kooperatif

memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita

mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan

memahami filsafat cooperative learning. Untuk siswa dianggap

memiliki kelebihan, contohnya, mereka akan merasa terhambat

oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan.

Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengganggu iklim kerja

sama dalam kelompok.

b. Ciri utama dari pembelajaran kooperatif adalah siswa saling

Dokumen terkait