BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
4. Bagi Keluarga dan Lingkungan Sekitar
Latah adalah gangguan dan latah terjadi karena kebutuhan yang muncul dalam hal ini kebutuhan akan kasih sayang dan kebutuhan akan pendamping yang kuat tidak dapat terpenuhi karena terbentur super ego dalam hal ini aturan, norma, dan bahkan perlakuan orang-orang sekitar. Hal ini diperparah dengan penderita latah, dalam hal ini responden, yang cenderung menyangkal atau merepres ketika kebutuhan itu muncul. Maka dari itu akan jadi sangat bijak jika sebagai orang-orang yang berada di sekitar penderita latah menyadari keberadaan orang latah disekitarnya untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan itu. Memberikan perhatian tanpa syarat bisa menjadi salah satu terapi untuk meringankan dampak perilaku latah atau minimal dengan tidak menjadikan penderita latah sebagai objek candaan yang justru memperparah perilaku latah yang mereka alami.
103
DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. (2007). Psikologi Kepribadian (Edisi Revisi ed.). Malang: UMM Press. Association, A. P. (2000). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder :
Text Revision. Washington DC: American Psychiatric Publishing, Inc. Bellak, L., & Abrams, D. (1997). The Thematic Apperception Test, The Children's
Apperception Test, and The Senior Apperception Test in Clinical Use
(Sixth Edition ed.). Boston: Allyn and Bacon.
Boeree, G. (2010). Personality Theories : Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta, Indonesia: Prismasophie.
Creswell, J. (2007). Qualitative Inquiry & Research Design (2nd Edition ed.). California: Sage Publications, Inc.
Durand, M., & barlow, D. (2006). Essentials of Abnormal Psychology (Fourth Edition ed.). Belmont: Thomson Wadsworth.
Edwin, L., Bellak, L., Brower, D., Deri, S., Harrower, M., Kadis, A., et al. (1959).
Projective Psychology : Clinical Aproaches to the Total personality.
New York: Grove Press.
Eidelberg, L. (1952). Studies in Psychoanalysis. New York: International Universities Press, Inc.
Feist, J., & Feist, G. J. (2006). Theories of Personality (6th Edition ed.). New York: McGraw-Hill.
Fitri. (2011, Desember 11). Kecil-Kecil Kok Latah. Diunduh pada tanggal 18 Juli 2013 dari http//:www.okezone.com/read/2011/12/09/196/540350/kecil-kecil-kok-Latah
Freud, S. (1958). A General Introduction to Psychoanalysis. New York: Permabooks.
Galloway, D. (1922). A Countribution to the Psychology of "Latah". Journal of a Straits Branch of the Royal Asiatic Society , 140-150.
Geertz, H. (1968). Latah in Java : a Theoritical Paradox. 93-104.
Gimlette, J. (1897). Remarks on the Etiology, Simptom, and Treatment of Latah, with a Report of Two Cases. The British Medical journal , 455-457.
Hall, C. S., & Gardner, L. (1970). Theories of Personality. John Wiley.
Kadir, h. A. (2009). Menafsir Fenomena Latah Sebagai Emosi Kebudayaan Masyarakat Melayu. Psikobuana , 49-59.
Kazdin, A. (2000). Encyclopedia of psychology. Oxford: Oxford University Press. Kenny, M. (1978). Latah : The Symbolism of a Putative Mental Dissorder.
Culture, Medicine, and psychiatry , 209-231.
Loon, F. H. (1927). Latah, a Psychoneurosis of Malay Races. Journal of Social and Abnormal Psychology , 434-444.
Maltin, M. (2009). Cognition (Seventh Edition ed.). John Wiley & Sons, Inc. Matsumoto, D. (2009). The Cambridge Dictionary of Psychology. Cambridge:
Cambridge University Press.
Miles, M., & Huberman, A. (1992). Qualitative Data Analysis : a Sourcebook of New Methods. Beverly: Sage.
Newman, L. (2000). Social Reasearch Method : Qualitative and Quantitative Approaches. Needham Heights: Allyn & Bacon.
Patton, M. (1990). Qualitative Evaluation Methods. Beverly Hills: Sage.
Poerwandari, K. (2005). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta: LPSP3 Universitas Indonesia.
Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development (13th Edition ed.). New York: McGraw Hill.
Schultz, D., & Schultz, S. E. (1998). Theories of Personality (6th Edition ed.). California: Brooks/Cole Publising Company.
Seimun, Y. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: kanisius.
Seimun, Y. (2006). Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik Freud.
Yogyakarta: Kanisius.
Shaughnessy, J., Zechmeister, E., & Zechmeister, J. (2006). Research Methods in Psychology. New York: The McGraw Hills Companies.Inc.
Sukardi, D. K. (1993). Analisis Inventori Minat dan Bakat. Jakarta: Rineka Cipta. Sutopo, H. (2006). Metode Penelitian Kualitatif,. Surakarta: UNS Press.
Winzeler, R. (1995). Latah in South East Asia : The History and Etnography of a Culture-Bound Syndrome. Cambridge: Cambridge University Press. Winzeler, R. (1984). Study of Malayan Latah. 77-104.
Yap, P. M. (1969). The Culture-Bound Reactive Syndrome. Honolulu: West-East Center Press.
106
107
Gambar 1
Lagi merenung, ee.. lagi merenung sambil belajar.. heeh, terus.. mungkin memikirkan masalah pelajaran yang dihadapi, tapi dia sendiri ga ada temennya. Heeh, terus ya ga ada yang bisa ditanya. Jadi dia ya mikir sendiri gitu.. sama si anak tadi kayak gimana ya? Kayaknya kok prihatin gitu. Bahwa dia tu sendirian gitu ga ga ada temen. Belajar sendiri sambil dia ya sambil merenung gitu. Ngapa ya tadi umi cuma ngeliat pas langsung itunya aja. Oh sebelum belajar.. kira-kira ya dia ya seperti ngambek gitu kan, mau belajar kok ngambek terus akhirnya dia belajar sendirian sambil kayak.. gimana ya.. kayak kecewa gitu. Karena dia belajar ga ada temennya gitu. Awalnya dia pengen belajar tapi marah ga ada pendamping ga ada ibunya ga ada bapaknya tapi dia harus mengerjakan tugasnya, makanya itu dia belajar walaupun sendiri. gitu.. akhirnya ya dia selesaikan juga tugasnya, setelah itu ya selesai entah dia nonton tv atau dia tidur hehe.. setelah selesai itu ya dia merasa lega, tugasnya udah dilaksanakan, setelah itu dia rapi-rapi yaudah dia berangkat istirahat. Kayaknya seperti itu.
Tema Deskriptif Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II - Mau belajar tapi
ngambek, marah, kayak kecewa gitu - Belajar ga ada
temannya, ga ada pendamping, ga ada bapaknya dan ibunya tapi harus mengerjakan tugas - Dia belajar walau
harus sendiri Perasaan kecewa, marah Ketiadaan figure pendamping atau penolong dalam mengerjakan tugas Melakukan kewajiban Agresi Kebutuhan untuk ditolong
Kebutuhan akan figure orang tua
Kebutuhan untuk melaksanakan kewajiban Reaksi formasi
memikirkan
masalah pelajaran sendiri
- Ga ada teman, ga ada yang bisa ditanya
Ketiadaan figur yang bisa ditanyai
Kebutuhan untuk ditolong/ditemani
- Setelah dia menyelesaikan tugasnya dia nonton tv atau tidur
- Perasaannya lega karena tugasnya sudah dilaksanakan - Dia rapi-rapi dan
berangkat tidur Melakukan aktivitas yang menyenangkan Perasaan lega Membereskan sesuatu sebelum istirahat Kebutuhan untuk istirahat atau refreshing
Kebutuhan untuk menyelesaikan tugas
Kebutuhan untuk melakukan sesuatu berdasarkan urutan Tema Interpretif : jika seseorang tidak didampingi dalam mengerjakan kewajiban, maka ia akan merasa kecewa. Namun demikian dia akan tetap menyelesaikan tugasnya.
Gambar 2
Kayaknya dia mau berangkat itu ya.. ke.. ke gereja ya.. dia mau berangkat ke gereja terus membawa alkitab, sambil dia jalan sambil dia liat-liat pemandangan yang ada disekitarnya.. ee.. setelah itu ya udah dia dia melakukan ibadah itu. Sepertinya sih kayak dengan gembira.. dengan senang hati dari ekspresinya sih gembira, senang hati, dan dia mau melaksanakan menjalankan ibadah walaupun tanpa teman, sendirian tetep juga tetep jadi dia berangkat. Sebelum itu kayaknya sih dia ya siap-siap untuk berangkat ya dengan senang hati. Dengan senang hati, dia gembira, dia siap-siap berangkat, setelah itu dia cari alkitab yang mau dibawa terus dia berangkat jalan, setelah itu dia ibadah ya, menjalankan ibadah, setelah itu dia pulang ya dengan suka.. dengan suka ria lah dia senang gitu hatinya.
Tema Deskriptif Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II - Dia siap-siap
untuk berangkat dengan hati yang senang
- Dia mencari alkitab yang mau dibawa terus berangkat jalan
Perasaan senang ketika mempersiapkan diri Mempersiapkan diri sebelum menjalankan kegiatan Represi Kebutuhan untuk melakukan sesuatu berdasarkan urutan
- Dia jalan sambil melihat pemandangan sekitar - Dia melakukan ibadah dengan gembira - Dia melakukan ibadah dengan senang hati walaupun tanpa teman
Melihat keadaan sekitar
Melakukan ibadah dengan gembira
Perasaan senang melakukan sesuatu sekalipun tidak ada teman
Kebutuhan untuk melakukan hal yang menyenangkan
Kebutuhan religiusitas
Denial
Kebutuhan untuk ditemani
- Dia pulang dengan suka ria
Perasaan senang
Tema interpretif : jika diawali dengan hati senang, seseorang akan merasa senang sekipun dia melakukan aktivitas tanpa teman
Gambar 3BM
Gambar apa ya.. seorang laki-laki ya? Kayaknya seorang laki-laki sedang nelungkup ya.. terus bawa sesuatu dibelakangnya.. kayaknya dia ga tahan lagi. Mungkin karena dia bawa-bawa yang dibelakang dia merasa berat, akhirnya dia nelungkup kecapekan, ee.. istirahat dengan membawa hati yang.. kayaknya
membawa hati yang pilu.. sedih gitu kayaknya itu dia makannya dia nelungkup gitu mungkin bisa aja dia emm.. apa namanya memikirkan nasibnya. Emm.. ya akhirnya dia ya.. ya itu deh.. dia ya disitulah dia nelungkup dia sambil merenungkan nasibnya heeh.. sambil kecapekan juga kayaknya. Heeh,, sambil kecapekan karena dia mungkin berjalan jauh kayaknya abis jalan jauh akhirnya dia capek akhirnya disitu dia istirahat sambil nutupin kepalanya. Yang dirasain dia ya.. emm.. mungkin hatinya sedih memikirkan nasibnya, kenapa dia seperti ini gitu kan.. ya mungkin dia.. dalam batinnya mempunyai keinginan seperti kayak orang layak kayak orang lain lah gitu. Hatinya sepertinya, mempunyai pikiran seperti itu. Bagaimana caranya supaya bisa menjadi kayak orang-orang yang di luar sana yang bisa merasakan kesenangan. Abis itu dia ya tetep berusaha untuk bisa merubah nasibnya dengan terus berjalan dan berjalan setelah dia istirahat itu. Sambil.. ya sambil merenungi nasibnya tapi dia tetep berjalan untuk berusaha supaya bisa tetap hidup untuk kedepan. Yang dipikirkan ya sambil merasakan lelah, capek, tapi dia harus terus berusaha untuk supaya tetap hidup.
Tema Deskriptif Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II - Seseorang berusaha untuk mengubah nasibnya dengan terus berjalan, setelah itu ia beristirahat - Seorang laki-laki yang menelungkup membawa sesuatu di belakangnya. Ia tidak tahan karena merasa berat membawa yang dibelakang.
Usaha untuk merubah nasib
Perasaan tidak tahan dengan beban yang dipikulnya
Beristirahat dengan
Kebutuhan untuk menjadi lebih baik
Merasa lemah
Kebutuhan untuk beristirahat
- Dia istirahat dengan membawa hati yang pilu - Dia nelungkup karena sedih memikirkan nasibnya perasaan sedih
Sedih memikirkan nasib
Perasaan tidak berdaya
- Sambil kecapekan dia nelungkup dan memikirkan nasibnya - Hatinya sedih memikirkan nasibnya, kenapa seperti ini - Dia memiliki keinginan untuk bisa menjadi layaknya orang lain. Dia berpikir bagaimana caranya untuk bisa seperti orang-orang diluar yang merasakan kesenangan
Memikirkan nasib
Sedih memikirkan nasib
Keinginan untuk menjadi sama dengan orang lain dan memikirkan caranya
Perasaan inferior
Kebutuhan untuk diterima/menjadi sama dengan orang lain
Keinginan untuk lepas dari masalah
Fantasy
- Sambil merenungi nasib ia berjalan dan berusaha supaya bisa hidup ke depannya
Melanjutkan usaha sambil merenung
Merasa lelah, namun
Keinginan untuk terus berusaha
- Ia merasa lelah, capek, tapi tetap harus berusaha supaya tetap hidup
harus berusaha melaksanakan kewajiban Perasaan lelah
Tema interpretif : jika seseorang memikul beban berat, dia akan merasa lelah dan memutuskan untuk istirahat sambil merenungi nasib. Namun demikian dia akan melanjutkan usaha
Gambar 4
Kalo ini rumah tangga ya kayaknya ya.. kayaknya seorang suami isteri yang suaminya kelihatannya lagi marah, terus isterinya berusaha untuk.. ee… apa
namanya.. untuk merayu lah ya untuk berbuat untuk bisa baikan, ee.. dengan cara apapun kayaknya dia merayu suaminya supaya bisa baik kembali dan mungkin supaya ga marah lagi lah, sepertinya seperti itu. Kayaknya kan isterinya udah rapi tu, kayaknya rapi mungkin kayaknya ngajak pergi gitu tapi mungkin kayaknya suaminya belum siap kan.. belum siap terus akhirnya mungkin suaminya diajak pergi terus akhirnya dia ga.. ga mau akhirnya suaminya marah kan dipaksa kayaknya seperti itu. Marah dipaksa, dia ga mau, akhrinya isterinya berusaha untuk ngajak, emm.. ngebaikin untuk ngajak. Tapi setelah itu, ya suaminya mau apa enggak ya?? Hehehe.. kayaknya si begitu isterinya.. berusaha untuk merayu, ngajak, kayaknya si suaminya terus mau.. heeh.. akhirnya pergi bareng. Yang dirasain ya, seketika itu isterinya merasa ya.. kesel juga ya, karena dianya sudah siap tapi suaminya kayaknya masih belum siap juga gitu kan, akhirnya dia marah, ya campur marah tapi.. ekspresinya campur marah tapi ya berusaha untuk tetep ngajak gitu untuk supaya mau. Setelah itu kayaknya suaminya siap terus mau
karena di e… rayu sama isterinya akhirnya pergi juga bareng-bareng terus ya seneng lah dua-duanya.
Tema Deskriptif Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II - Isteri sudah rapi,
ingin mengajak
Kebutuhan untuk
suaminya pergi tapi suami belum siap.
- Isteri merasa kesal karena suami masih belum siap padahal dirinya sudah siap. - Suami marah karena dipaksa, akhirnya suami menolak
Perasaan kesal karena
pasangan belum mempersiapkan diri Menolak ajakan pasangan Keinginan untuk diperhatikan oleh pasangan
Perasaan ditolak jika memaksa orang lain/ kebutuhan untuk diterima
- Saat suaminya kelihatan marah, si isteri berusaha untuk merayu - Isteri melakukan
cara apapun agar suaminya baik kembali dan tidak marah lagi - Dengan perasaan bercampur marah, isteri tetap berusaha mengajak agar suaminya mau Berusaha meredam amarah pasangan Berusaha membuat hubungan baik kembali
Ada perasaan marah namun tetap berusaha mengajak suaminya
Kebutuhan untuk
memperbaiki masalah
Kebutuhan afiliasi
Keinginan untuk marah vs. kebutuhan untuk afiliasi
Reaksi formasi
- Setelah dirayu suaminya
akhirnya mau dan
Perasaan senang karena suami mau ikut
Kebutuhan untuk
mereka pergi bersama. Perasaan keduanya senang.
Tema interpretif : jika pasangan marah karena dipaksa melakukan sesuatu, maka dia akan melakukan segala cara untuk membujuk pasangan sampai akhirnya mau ikut.
Gambar 6BM
Ini apa ya, seorang anak sama ibu kayaknya ya.. kayaknya anaknya.. sedang mengutarakan sesuatu, tapi ibunya ga mau mendengarkan, akhirnya dia
membelakangi anaknya. Mungkin kayaknya seperti anaknya punya… sesuatu
yang harus disampaikan sama orang tuanya tapi orang tuanya kayaknya ga.. ga setuju dengan kata-kata dari anaknya makanya terus orang tuanya berpaling. Tapi anaknya kayaknya tetep mau berusaha untuk supaya ibunya tu mau untuk mendengarkan kata-kata dia. Gitu kayaknya seperti itu. Akhirnya.. kayaknya si.. ibunya tetep ga mau itu kayaknya tetep ga mau heeh.. yang dirasain anaknya ya
kecewa. Heeh.. ya anaknya kecewa karena ibunya ga mau ee… ngedengerin kata -kata dia ya kayaknya ga menyetujui apa yang dia sampaikan. Sama si anaknya, dia berusaha untuk emm.. apa namanya em.. menyampaikan kata-kata itu dia berusaha kan supaya ibunya mau mendengarkan, jadi dia siap-siap mau menyampaikan apa yang dia sampaikan ke ibunya dengan berharap ibunya mau mendengarkan kata-kata dia, tapi akhirnya ibunya ga mau mendengar kata dia ya akhirnya anak itu penuh kekecewaan.
Tema Deskriptif Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II - Anak bersiap
menyampaikan kata-kata itu dan berusaha dan berharap supaya
ibunya mau
Bersiap-siap sebelum melakukan sesuatu
Rasa takut ditolak
Kebutuhan untuk diperhatikan
mendengarkan - Anak
mengutarakan sesuatu pada ibunya, namun ibunya tidak mau mendengar. Maka ibunya
membelakanginya - Ibu tidak setuju
dengan perkataan anak dan akhirnya berpaling
Ibu menolak
mendengarkan kata-kata
anak dan
membelakanginya
Ibu tidak setuju dengan perkataan anak
fitur otoritatif / Penolakan figur otoritatif
rasa takut ditolak
Penolakan dari figure otoritatif
- Anaknya tetap berusaha agar
ibunya mau
mendengar namun ibunya tidak mau mendengar
Usaha yang dilakukan agar ibu mau mendengar berakhir sia-sia Keinginan untuk berhasil - Karena ibunya tidak mau mendengar anak merasakan kekecewaan
Perasaan kecewa karena tidak didengarkan
Perasaan kecewa akibat penolakan
Tema interpretif : jika seseorang telah berusaha mengutarakan sesuatu pada figur otoritatif, orang tuanya akan menolak untuk mendengar dan ia akan merasakan kekecewaan
Gambar 7GF
Ini seorang anak perempuan ya? Anak perempuan sama ibunya. Itu di kursi ya, di sofa.. anaknya buang muka kayaknya disuruh.. apa ya? Kayaknya si disuruh
belajar kayaknya ya.. disuruh belajar tapi anaknya ga mau ya.. disuruh belajar anaknya ga mau, terus ibunya berusaha untuk kayaknya buka-buka gitu kan ngeliatin pelajarannya supaya.. sambil menjelaskan, tapi anaknya tetap menoleh tetap ga mau. Walaupun ga mau akhirnya anaknya itu dirayu ya akhirnya lama-lama mau,, heeh.. pada akhirnya anaknya mau, terus ya, belajar sama-sama sama ibunya, didampingin. Yang dilakuin anaknya sedang bermain, karena dia asyik sedang bermain, dipanggil sama ibunya disuruh belajar ya akhirnya ngambek kan, karena dia lagi baru asyik bermain, dipanggil sama ibunya untuk belajar bareng, ternyata dianya ga mau jadi ngambek gitu.. tapi pada akhirnya ya dianya mau juga sih.. heeh.. kayaknya gitu.
Tema Deskriptif Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II - Anak sedang
asyik bermain - Anak dipanggil
ibunya untuk belajar bersama, Anak tidak mau pada akhirnya ngambek
Melakukan kegiatan bermain
Dipanggil untuk belajar, namun menolak
Kebutuhan untuk
melakukan sesuatu yang disenangi
Kebutuhan untuk menolak ajakan
- Anak buang muka karena tidak mau disuruh belajar - Ibu terus berusaha
sambil membuka-buka pelajaran sambil
menjelaskan, namun anak tetap tidak mau
Berusaha menghindar ketika disuruh belajar
Dibujuk untuk
melakukan sesuatu, namun menolak
Keinginan untuk
menghindari hal yang tidak disukai
Keinginan untuk
menghindari hal yang tidak disukai
setelah dirayu dan dibujuk anak mau belajar bersama-sama dengan didampingi
ibunya.
dengan didampingi Keinginan untuk menuruti permintaan/perintah
Tema interpretif : jika seseorang sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan ia akan memalingkan muka saat disuruh melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Namun demikian jika seseorang berusaha, lama kelamaan dirinya akan luluh juga.
Gambar 8BM
Ini apa ya?? Agak ga jelas.. hehehe… apa.. diruang dokter apa bukannya? Kayaknya bukan deh.. kayaknya sih… emm.. meninggal ya.. kayaknya sih kayak
orang meninggal terus mau di buka apa bajunya itu kan kalo dibuka gini kan ga bisa karena udah kaku, jadi mau nyobek apa itu bajunya supaya terbuka, jadi di.. di heeh,, dipake apa itu dipake pisau ya.. mau buka bajunya. Kalo ga salah.. kalo yang buka.. ya kayaknya apa ya, dokter kali ya? Kayaknya dokter atau seperti kayak pendeta gitu. Yang buka karena mau buka baju supaya apa kalo orang meninggal gitu kalo diatasin kan ga bisa karena udah kaku, kayaknya yang buka
seorang pendeta sih. Heeh.. waktu… gimana maksudnya? Ooo.. kayaknya
kesulitan untuk membukannya sampe akhirnya apa itu tadi emm.. ada ada penghalang gini ya? Sampe berdua tapi ya tetep dia paksa buka juga sih. Emm.. sampe kesulitan gitu kan, kayaknya kesulitan untuk berusaha untuk ngebuka itu. Tapi diusahakan supaya tetep kebuka itunya sampe nyebrang-nyebrang apa itu ada penghalang, gitu.. kayaknya ada kayak kecelakaan ya.. kayak kecelakaan gitu, terus dibawa.. terus di itu yang sama penolong itu diliat udah meninggal, terus ditolong sama itu mau dibukain bajunya itu karena mau di apa itu mau dibersihin kayaknya, mau dibersih-bersihin jadi di buka dulu bajunya. Akhirnya setelah itu dibersihin, dibuka ya.. emm.. apa ya, dibawa ke keluarganya mungkin ke keluarganya sampe diserahin ke keluarganya itu setelah dibersih-bersihin betul
atau enggak ga tau deh umi. Yang dipikirkan sama tokohnya tadi ya berusaha supaya apa ini bersih-bersih, sampe bersih setelah itu kita kembalikan ke keluarganya. Gitu.. itu aja sih.. heeh..
Tema Deskriptif Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II - Ada kecelakaan, kemudian korban dibawa. Karena dilihat sudah meninggal, akhirnya ditolong akan dibukakan bajunya untuk dibersihkan.
- Dokter atau pendeta ingin membuka baju orang yang meninggal dengan menggunakan pisau karena jika dibuka dengan cara biasa tidak bisa karena tubuhnya sudah kaku
Menolong orang yang mengalami musibah
Dokter atau pendeta menggunakan alat bantu (pisau) karena cara biasa sudah tidak mungkin lagi dilakukan
Keinginan untuk menolong orang lain
Kebutuhan untuk menyelesaikan tugas
- Dua orang kesulitan untuk membuka bajunya karena ada penghalang
- Mereka tetap berusaha membuka sambil
Kesulitan melakukan tugas karena ada penghalang
Berusaha untuk
menyelesaikan tugas
Kebutuhan untuk lepas dari masalah
Denial
Kebutuhan untuk berhasil
menyebrangi penghalang itu dengan melewati penghalang - Mereka berusaha untuk membersihkannya sampai bersih kemudian menyerahkannya kepada keluarga - Oleh keluarga jenazah dibersihkan Setelah menyelesaikan tugas, kemudian diserahkan ke pihak yang lebih berhak
Keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas
Tema interpretif : jika seseorang ingin menolong orang lain, penghalang apapun akan dilewati dan tugas akan dikerjakan sampai selesai.
Gambar 9GF
Ini apa ya?? Kayaknya di pantai ya.. dipantai.. ini habis mandi, terus dia bawa bersih bersih abis rapi-rapi dia bawa anduk tu mau, ya mau kembali ke ini. Sebelumnya, kayaknya dia orang yang lagi.. ee.. apa ya orang yang lagi senang, terus kepingin keluar lah ke pantai, pengen cari suasana yang segar, ke pantai terus dia setelah itu dia renang, mandi, terus bersih-bersih, habis itu bawa anduk kan, bawa anduk udah itu selesai dia. Udah rapi-rapi gitu. Kayaknya ya, abis udah