KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
2. Bagi pemerintah
Pertama, bagi tim penyusun kurikulum mata pelajaran sejarah SMA/MA,
perlu meningkatkan jumlah Kompetensi Dasar (KD) yang termasuk katagori afektif, karena terjadi ketidak seimbangan antara aspek kognitif dan afektif dalam
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kurikulum 2006 maupun 2013. Pada Kurikulum 2006 sebanyak 100 % KD aspek kognitif, pada kurikulum 2013 yang akan diberlakukan KD yang termasuk aspek kognitif 83%, sedangkan KD yang termasuk afektif hanya 17 %. Oleh karena itu perlu ditingkatkan proporsi KD yang termasuk katagori afektif, harus ada keseimbangan antara aspek kognitif dan afektif juga perlu mempertimbangkan dalam batar-batas tertentu aspek psikomotorik. Untuk komposisi dan Proporsi isi KD antara sejarah nasional, sejarah dunia dan keilmuan sejarah, di mana kurikulum 2006 sebanyak 80% KD termasuk sejarah nasional, 12 % KD termasuk dasar keilmuan sejarah dan 8% termasuk sejarah Dunia. Pada kurikulum 2013 sebanyak 69 % KD termasuk sejarah nasional, 21 % termasuk sejarah Dunia dan sebanyak 10% KD termasuk dasar keilmuan sejarah. Komposisi dan proporsi ini sudah cukup bagus, menitikberatkan pada sejarah nasional atau menempatkan sejaran Nasional Indonesia sebagai “core” perlu dipertahankan. Tujuannya agar penanaman nilai-nilai dan karakter dalam kerangka” Nation and character buliding” dapat tercapai.
Menurut hemat peneliti untuk mata pelajaran sejarah kelas X semester satu perlu ditambah KD “Menjelaskan pengertian, ruang lingkup ilmu sejarah, tujuan, manfaat mempelajari sejarah bagi individu dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”. Hal ini bertujuan agar siswa sejak awal sudah memahami tujuan dan manfaat, serta arti penting mempelajari sejarah, agar memiliki motivasi belajar sejarah yang tinggi.
Kedua, untuk penyusun kurikulum mata pelajaran PKn perlu menata
ulang proporsi KD, karena dalam kurikulum 2006 KD yang termasuk katagori kognitif yang menekankan pada pengetahuan kewarganegaraan atau kompetensi
civic knowledge terlalu dominan sebanyak 74%, sementara aspek afektif atau
kompetensi civic dispositions/watak watak/karakter kewarganegaraan) sangat minim hanya 12,96% dan aspek psikomotor atau kompetensi participatory skills sangat minim hanya 12,96%. Seharusnya minimal ada keseimbangan antara civic
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
adalah adalah terwujudnya suatu mata pelajaran yang berfungsi sebagai sarana pembinaan watak bangsa (Nation and character building). Oleh karena itu dengan adanya perbaikan kurikulum yang diberlakukan mulai 2013 dengan proporsinya 35 % KD termasuk katagori kognitif (kompetensi civic knowledge), 25 % Aspek afektif (kompetensi civic dispositions/watak atau karakter kewarganegaraan) dan 40% aspek psikomotor (kompetensi participatory skills), sudah cukup bagus, tetapi lebih bagus lagi jika proporsi aspek afektif atau karakter kewarganegaraan ditingkatkan.
.
Ketiga, untuk penyusun kurikulum mata pelajaran PAI perlu
memasukkan dalam KD secara khusus tentang: Memahami Nasionalisme dari perspektif ajaran Islam dan pemikiran para tokoh Islam yang dapat memperkuat nasionalisme generasi muda. Sehingga peran pendidikan agama Islam dalam rangka membangun sikap nasionalisme siswa dapat lebih optimal.
Keempat, bagi tim penyusun kurikulum mata pelajaran Sejarah, PKn dan
PAI SMA/MA bekerjasama agar sinergi dan tujuan “nation and character
building” dapat tercapai.
Kelima, bagi peneliti, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, dengan
lingkup yang lebih luas, baik wilayah yang diteliti, maupun cakupan variabelnya. Sebagai contoh untuk variabel penghayatan nilai-nilai agama dapat diperluas pada penghayatan nilai-nilai agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu.
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Abdullah, T. (1996). “ Di Sekitar Pengajaran Sejarah yang Reflektif dan Inspiratif”. Dalam Jurnal Sejarah Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi oleh Masyarakat
Sejarawan Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Abdullah, T. (2001). Nasionalisme dan Sejarah. Bandung: Satya Historika
Abdulghani, R. (1995). Problem nasionalisme, regionalisme dan keamanan di Asia
Tenggara. Yogyakarta: Duta Wacana Press
Adams, G.R , Gullotta, T.P. (2000). Adolescent Life Experiences. San Diego California: Academic Press.
Adisusilo, S. (2011). Nasionalisme- Demokrasi-Civil Society. Yogyakarta: USD.
Aiken. L. R. (2002). Attitudes and related psychosocial constructs. Theories,
assessments, and research. Thousand Oaks, CA: Sage Publications
Al-Banna. H. (1999). Majmu’ah Rasail Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna: Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. Surakarta: Eraintemedi
Al-Ghazali, A. H. (2001). Peta Pemikiran Hasan Al-Bhanna, Meretas Jalan
Kebangkitan Islam. Solo: Era Intermedia.
Ali, A.S. (2009). Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa, Jakarta: LP3ES Al Muchtar, S. (2001). Epistimologi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung:
Gelar Pustaka Mandiri.
Al-Qaradhawi, Y. (2001). Al-Islam Kama Nu’min Bih Dawabith wa Malamih,/
Reposisi Islam: Terj. M.Arif Rahman, Jakarta& Kairo: Al-Mawardi.
Allen. L & Edwards. (1985). Multiple Regresion and the Analysis of Variance and
Covariance. Ner York: W.H.Freeman and Company.
Anam, C. (1999).Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama. Surabaya: Bima Satu
Anderson, B. (1999). Komunitas–Komunitas Imajiner: Renungan tentang Asal Usul dan Penyebaran Nasionalisme: Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Anderson L.W & Krathwohl, D.R. (2001). A.Taxonomy for Learning, Teching and
Assessing. New York: David McKay Company
Anggraini, L (2010). Membangun Komitmen Dalam Penerapan Nilai-Nilai Pancasila
Dan Kewarganegaraan Melalui Pengembangan Sketsa Mewarganegaraan Multi Dimensional. Bandung: Lab PKn UPI.
Anshari, E.S.(1997). Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Jakarta: GIP
Ary, Donald, Jacobs, L C. & Rezavieh, A. (1979). Introduction To Research In
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Iducation. New York: Wadsworth.
Asshiddiqie, J. (2008). Ideologi Pancasila dan Konstitusi. Jakarta: MKRI
Atkinson, R.L et.al. (2003). Introduction to psychology. New York: Harcourt Brace Jovanovich.
Azra, A. (1996). Pergolakan Politik Islam. Jakarta: Paramadina. Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia. Jakarta: Paramadina.
Azra, A.(2006). “Pancasila dan Identitas Nasional Indonesia: Perspektif Multikulturalisme”, dalam Restorasi Pancasila. Jakarta: Fisip UI & P2D .
Azra, A. (2009). Nasionalisme, Etnisitas, dan Agama di Indonesia: Tantangan
Globalisasi. Jakarta: PBB UIN Sharif Hidayatullah Jakarta.
Azwar, S. (2003). Sikap manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (2012). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S.(2010). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Barbara, W.(1982). Nationalism and Ideology. New York: WW Norton &Co.
Bauer, O.(2003). What Is a Nation ? dalam Nationalism in Europe 1815 to Present. London: Routledge.
Bell, D.(1980). The End of Ideologi. New York: Free Press.
Bellah, R.N.(1976). Islamic Traditions and Problems of Modernization. New York: Happer & Raw
Best, J.W. (1970). Research in Education. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Bloom, B. S., Krathwolh, D. R., Masia, B. B. (1980). Taxonomy of Educational
Objectives. New York : Longman Inc.
Bruinessen, M.V. (1994). NU. Tradisi, Relasi-Relasi, Pencarian Wacana Baru: Yogyakarta: LKIS.
Bukhori, I. (1992). Hadits Shahih Bukhori jilid 4. Jakarta: PT Bumi Restu
Budimansyah,D.(2009). Pembelajaran Pembudayaan Nilai Pancasila. Bandung: Genesindo.
Bungin, B. (2005). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada Cheppy, H. C. (1988). Ideologi Politik. Yogyakarta : Hanindita.
Cheppy, H. C. (1990). Pendidikan Moral Dalam Beberapa Pendekatan.Jakarta:
Depdikbud
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Crain, W. C. (1985). Theories of Development. New Jersey: Prentice-Hall.
Creswell, J.W.(1994). Research Design Qualitative & Quantitative Approaches. London: Sage Publication.
Creswell, J.W. (2008). Education Research. New Jersey: Pearson Education Ltd. Creswell, J.W.(2009). Research Design: Qualitative, Quantitative and Mixed Methods
Approaches . California: Sage Publication.
Cronbach, L.J. (1970). Essential of Pschological Testing. New York: Harper and Raw. Crow, L. D. and Crow, A (1987). Educational Psycologi. New York: : American Book
Company.
Darajat, Z.(1984). Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang. Darmaputera, E. (1997). Pancasila and The Search for Identity And Modernity: A
Cultural and Ethical Analysis. Boston: Joint Graduate Program (Ph.D)., Boston
and Andover Newton Theological School.
Darmodiharjo, D. (1979). Menjadi Warga Negara Pancasila. Jakarta: Balai Pustaka. Dault, A. (2005). Islam dan Nasionalisme, Reposisi Wacana Universal Dalam Konteks
Nasional. Jakarta: Pustaka: Al-kautsar.
Deliarnoer. (1983). Islam, Pancasila dan Asas Tunggal. Jakarta: Yayasan Perkhidmatan
Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosda Karya.
Depdiknas. (2006a). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Dikmenum. Depdiknas. (2006b). Pedoman Pengembangan Silabus. Jakarta: Puskur
Depdiknas . (2004). Panduan Penyusunan Silabus. Jakarta: Dikmenum.
Depdiknas. (2007). Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum Pendidikan
Kewarganegaraan. Jakarta: PUSKUR.
Depdiknas. (2010). Pedoman Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Puskur.
Dipoyudo, K. (1984). Pancasila Arti dan Pelaksanaannya. Jakarta : CSIS. Djaharuddin, S. (2010). Penerapan Nilai -Nilai Pancasila. Surabaya: DHD 45 Jatim. Djahiri, A.K . (1986). Menelusuri Dunia Afektif Pendidikan Nilai dan Moral.
Bandung : Penerbit Lab Pengajaran PMP-KN
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DKI
Ekajati, E. S. ( 2004). Kebangkitan Kembali Orang Sunda: Kasus Paguyuban
Pasundan, 1913-1918. Bandung: Pusat Studi Sunda bekerjasama dengan Kiblat.
Eko, M. (1988). Kepemimpinan Pancasila. Semarang: Pilardaya Ratna.
Emery, J.L. (2007). The Predictive Validity of Thinking Skill Assesment: A Cobined
Analysis of Three Cohorts.A.Cambridge Assesment. University of Cambridge
Local Examination Syndicate.
Eriksen. T.H. (1993). Etnicity & Nationalism, Antropological Perspectives. London: Pluto Press
Faisal, S. (1988). Dasar dan Tehnik : Menyusun Angket. Surabaya: Usaha Nasional Feisal, J.A. (2005). Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta; Gema Insani Press.
Feillard, A.(2008). NU vis a vis Negara, Pencarian Isi Bentuk dan Makna. Yogyakarta: LKIS.
Frankel, J.R.(1977). Haw to Teach Abaut Values: An Analtical Approah: Englewood Cliff, New Jarsey: Practice- Hall, Inc.
Fitzgerald, J. (1977). Towards a Theory of HistoryTeching. Dalam Judi macinolty and woman little (Eds.) A new look at history teaching (hal. .137-161). Sydney: the history teachers association of new south wales.
Fredrick, W. H.dan Soeroto.S. (1984). Pemahaman Sejarah Indonesia.Jakarta: LP3ES. Furter, B.R.(1989). Psychology . Boston: Houghton Mifflin Company
Gagne, R.M.,et.al. (1992). Principles of Intructional Design. Orlando: Holt, Rinehart and Winston.
Gellner, E.(1983). Nation and Nationalism: New York: Cornel University Press. Gerungan, W. A. (1982). Psikologi Sosial. Bandung : Eresco.
Greenfeld, L. (1995) Nationalism: Five Roads to Modernity.Cambridge, MA: Harvard University Press.
Grosby, S. (2005). Nationalism. Oxford University Press.
Goldman, R. (1964). Religious Thinking fromCchildhood to Adolescence. London: Routledge & Kegan Paul.
Gordon, W.J.J. (1981) Synectics: The Development of Creative Capacity. New York: Harper and row, Publishers.
Gufron, A.(2008). Filsafat Pengembangan Kurikulum. Fondasia. Jurnal Ilmiah Fondasi Pendidikan .UNY. Vol. 1 No.9 Tahun 2008 (1-10)
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Gullotta, T.P., Adams, G.R , (2000). Adolescent Experiences. San Diego California: Academic Press.
Gunaji. (2009). Resolusi Jihat NU 1945. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
Gunawan, R. (2008). Hubungan Pendidikan Sejarah Dan Lingkungan Keluarga
Dengan Sikap Nasionalisme.Disertasi Doktor Pada SPS UPI Bandung: Tidak
diterbitkan.
Hadi, S.(1987). Statistik II. Yogyakarta: Fak Psikologi UGM. Hadi, S. (2004). Analisis Regresi. Yogyakarta : Andi
Hamalik, Oe. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Hasan, S.H.(2012). Pendidikan Sejarah Indonesia: Isu dalam Ide dan Pembelajaran: Bandung: Rizqi
Hasbown. (1992). Nasionalisme Menjelang Abad XXI. Yogyakarta: Tiarawacana Heru, M. (2009). Pancasila dan Kedaulatan Bangsa. Makalah Seminar Tanggal
19-11-2009 Kerjasama Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pendidikan Pelita Kencana.
Hertz F. (1971). Nationality in History and Politics, A Study of the Psychology and
Sociology of National Sentiment and Nationalism. London: Routlede&Kegan
Paul.
Hill, C. P. (1956). Saran-Saran tentang Mengajarkan Sejarah. Terj. Haksan W.Jakarta: Perguruan Kem. P. P dan K.
Hornby, A. S. (2000). The Advanced Learned’s Dictionary of Carrent English.
London : Oxford University Press.
Hizam, I .(2007). Kontribusi Minat Belajar dan Kemampuan Klarifikasi Nilai Sejarah Dalam Pembentukan Sikap Nasionalisme”. Jurnal Penelitian Keislaman
.Fakultas Tarbiyah IAIN Mataram, Vol. 3, No. 2, Juni 2007: 287-300 .
Hurlocks, E.B.(1976). The Psichology of Andolescence. New York: Houghton Mifflin. Husaini, A. (2009). Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam.
Jakarta: Gema Insani.
Hutagalung, B.R (2001). "10 November '45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?" ., Jakarta : Millenium .
Hutagalung, B.R. (2010) Serangan Umum 1 Maret 1949. Dalam Kaleidoskop Sejarah
Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Yogyakarta: LKiS
Iriani, S.Y. (1992). Disintegrasi Uni Soviet dan Negara Negara Bagiannya. Jurnal
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Isaac, S., & Michael, W B. (1997). Handbook in Research and Evaluation. San Diego: Educational and Industrial Testing Services
Jarmanto. (1982). Pancasila. Yogyakarta : Liberty. Jimmi, H.(2008). Pancasila.Yogyakarta: Swagati Press.
Kaelan.(2002). Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Paradigma.
Kahin,G.M.T. (1995). Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan dan UNS Press.
Kahle, L.R, Ed. (1983). Social Values and Social Change: Adaptation to Life in America, New York: Praeger
Kansil, C.S.T.dan Christine, S.T. (2011). Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara.Jakarta: Renikacipta
Kansil, C.S.T. dan Julianto.(1990). Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan.Jakarta: Erlangga.
Kaplan, R.M & Saccuzzo, D.P.(1982). Psychological Testing: Principles, Aplications,
and Issues.Monterey: CA Books/Cole Publising Co.
Kartodirjo, S. (1992a). Fungsi Pengajaran Sejarah Dalam Pembangunan Bangsa. Surakarta : PPS UNS.
Kartodirjo, S (1992b). Sejarah Nasional Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Program Pascasarjana UGM.
Kartodirjo, S (1999). Multi Dimensi Pembangunan Bangsa Etos Nasioanlisme dan
Negara Kesatuan. Yogyakarta: Kanisius.
Kartodirdjo, S.(2003).Pembangunan Bangsa: Kesadaran Nasional, Kesadaran dan
Kebudayaan Nasional. Yogyakarta: Aditya Media.
Kartodirdjo, S.(2003). Multi Dimensi Pembangunan Bangsa: Etos Nasionalsime dan
Negara Kesatuan. Yogyakarta: Kanisius.
KBBI (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Jakarta : Balai Pustaka.
Kemdikbud. (2013). Kurikulum 2013, Kompetensi Dasar, Sekolah Menengah Atas (SMA/MA). Jakarta: Balai penelitian & Pengembangan Puskur.
Kemenag. Kab. Jember (2012). Data Pendidikan Islam. Mapenda, Kemenag Kab. Jember.
Kneller, G.F.(1971). Introduction to the Philosophy of Education. New York: John Willey Sons Inc.
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Demokrasi Ekonomi.
Ketetapan MPR RI Nomor XVIII/MPR/1998 Tentang Pencabutan P4 dan Penetapan
Penegasan Pancasila Sebagai Dasar Negara.
Ketetapan MPR RI Nomor XVI/MPR/2001 Tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Knight, G.R.(2007). Issues and Alternativer in Education Philosophy: Filsafat
Pendidikan, Terj.M.Arif. Yogyakarta: PPS UIN Sunan Kalijaga & Gama Media.
Kochhar, S.K.(2008). Teaching of History. New Delhi: Sterling Publisher
Kohn, H. (1965).Nationalism Its Meaning and History. Florida: Robert E.Krieger Publising
Kohn, H. (1984). Nasionalisme Arti dan Sejarahnya: Terj. Sumantri M. Jakarta: Erlangga.
Krech, D., Crutchfield. R.S., Ballachey, E.L. (1962). The Individual in Society. New York: Mc-Graw-Hill.
Krisantono. (1984). Pandangan Presiden Suharto Tentang Pancasila . Jakarta : CSIS Krug, Mark. M. (1967). History and the Social Sciences. Walthan Mass: Braisdell. Koentjaraningrat. (1993). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta:
Gramedia.
Kuntowijoyo. (1997). Identitas Politik Umat Islam. Bandung: Mizan. Kuntowijoyo . (2008). Penjelasan Sejarah. Yogyakarta: Tiara wacana
Lab.Pancasila IKIP Malang. (1981). Glosarium Sekitar Pancasila: Malang IKIP Malang
Langgulung, H.(1986). Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi.Jakarta: Pustaka.Al-Husna
Langgulung, H. (1988). Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna Lardizabel, A.S. et al.(1978). Principles and Methods of Teaching. Manila:Rizal
Avenue.
Larrain, J. (1996). The Concept of Ideology:London: Hutchinson,
Lemin, M., Potts, H. and Welsford, P. (1994). Values Strategies for Classroom
Teachers.Melbourne: ACER.
Lickona, T. (2012). Educating for Character,Mendidik Untuk Membentuk Karakter. (Terj.J.A. Wamaungo). Jakarta: Bumi Aksara.
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Heights,MA: Allyn & Bacon.
LPPKB.(2005). Pedoman Umum Implementasi Pancasila Dalam Kehidupan
Bernegara. Jakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan
Bernegara.
Lu’aili, N.(2008). Hubungan Prestasi Belajar Sejarah, Wawasan Kebangsaan dengan Sikap Nasionalisme Siswa SMPN I Sukowono. Jurnal Pendidikan dan
Humaniora. FKI-FKIP UNEJ Jember. Vol. 15 Th.2008: 79-94.
Lubis, H.N.(2008). Potret Nasionalisme Bangsa Indonesia Masa Lalu dan Masa Kini.
Jurnal Negarawan. No.8 Mei Tahun 2008
Maftuh, B dan Makah A.K. (2007). Pengantar Pendidikan Nilai. Bandung: CV.Maulana.
Madjid, N. (200). Islam Dokrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina
Mar’at. (1984). Sikap Manusia Perubahan dan Pengukurannya. Jakarta : Ghalia . Mc.Millan, J. dan Schumacher, S. (2001). Research in Education. New York:
Longman.
Megawangi, R.(2004). Pendidikan Karakter. Jakarta: Indonesia Heritage Fondation. Moedjanto, G. (1992). Pancasila. Jakarta: Gramedia.
Muchtarom, M.(2008). “Membedah Pemikiran Hasan Al-Banna Tentang
Nasionalsme.” Jurna PKn Progresif Pemikiran dan Penelitian
Kewarganegaraan. Volume 3, (1),78-88.
Mueller, D. J. (1986). Measuring Social Attitudes. New York: Teachers College Press. Columbia University.
Muhmidayeli. (2011). Filsafat Pendidikan. Jakarta: Relika Aditama
Mulyawati, S.S. (2011). Implementasi Cinta Tanah Air. Jakarta: Univ. Gunadarma. Mursell, J. (1975). Pengajaran Berhasil. Jakarta : Yayasan Penerbit UI.
Muthahhari, M. (2004). Filsafat Moral Islam. Jakarta: Alhuda.
Muhaimin.(1993). Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigendakarya.
Muhaimin. (2003). Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, Bandung: Nuansa Cendekia.
Muhtadi, A.(2010). Prinsip dan Metode Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta: TEP UNY.
Muljana, S. (2008). Kesadaran Nasional: dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan: Yogyakarta: LKIS
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Musa, A.M.(2007). Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama: Yogyakarta: Kerjasama LKIS dan IAIN Sunan Ampel Press.
Muzayin .(1997). Ideologi Pancasila. Jakarta: Golden Terayon Press.
Nagazumi, A. (1989). Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Naqwi, A.M.(1996). “Islam and Nationalism”. Jurnal Voice . Edisi Juni No. 14 Th.1996.
Naqvi, A.M.(2011). “Islam and Nationalism”. http://www.al-islam.org/ islamand nationalism/9. htm., akses Internet, 5 Februari 2011.
Nasution, A.H. (19991). Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Bandung: Angkasa. Natawidjaja, R. (1985 b). Cara Belajar Siswa Aktif dan Penerapannya Dalam Metode
Mengajar. Jakarta : Ditjen Dikdasmen Depdikbud.
Nazir, M. (1987). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
NCSS. (2010). National Curriculum Standards for Social Studies: A Framework for
Teaching, Learning, and Assessment. Washington, DC.
Notonagoro. (1971). Pancasila: Secara Ilmiah dan Populer. Jakarta: Pantjaran Tudjuh. Nugroho.(2005). Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Yogyakarta:Andi Nunnaly, J.& Bernstein, I.H. (1994). Psychometric Theory. New York: McGraw-Hill. Oesman, Oe. dan Alfian.(1991).Pancasila Sebagai Ideologi dalam Berbagai Bidang
Kehidupan Bermasyarkat, Berbangsa dan Bernegara.Jakarta: BP 7 Pusat.
Ornstein. C.A & Hunkins P.F.(2009). Curriculum: Fondations, Principles, and Issues. Boston: Allyn and Bacon.
Pemerintah RI. (2003). Undang Undang No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Jakarta.
Pemerintah RI. (2010). Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun
2010-2025. Jakarta: Depdiknas.
Petton, M.Q. (1987). Haw to Use Qualitative Methods in Evaluation. California: Sage Publication, Inc.
Prett, C. (1971). I Learn From Children. New York: E.P. Dutton.
Poespowadojo, S. (1991a). Filsafat Pancasila, Sebuah Pendekatan Sosial Budaya. Jakarta : Gramedia.
Poespowadojo, S. (1991 b). Pancasila Sebagai Ideology Ditinjau dari Segi Pandangan Hidup Bersama. Dalam Pancasila Sebagai Ideologi. Jakarta : BP 7 Pusat.
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Poedjiadi, A. (2001). Pengantar Filsafat Ilmu Bagi Pendidik. Bandung: Yayasan Cendrawasih
PP Muhammadiyah. (2010). Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Jakarta: Suara Muhammadiyah.
Puskur. (2010). Bahan Pelatihan: Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa. Jakarta: Balitbang Puskur Kemdiknas.
Quigley, C. N., Buchanan, Jr. J. H., Bahmueller, C. F. (1991) Civitas : A Framework for
Civic Education, Calabasas : Center for Civic Education
Rambe, S. (2008). Sarikat Islam: Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942. Jakarta: Yayasan Insan Cendikia.
Ramdhani, N .(2009) Sikap dan Perilaku: Dinamika Psikologi Mengenai Perubahan
Sikap dan Perilaku. Yogyakarta: PPS Psikologi UGM.
Rask, Y.R. (2010). SDI-SI Sang Pelopor Kebangkita Dalam A.Syafii Ma”aarif (ed.)
Sejarah Menggugat. Bandung: Sega Arsy.
Raths,L.E. HM & Simon, S.B. (1986). Values and Teaching: Working with values in
the classroom. Colombos: Charles .E.Merrill Publishing Company.
Renan, E.(2003).”What is Nation ?(1882)” dalam Nationalism in Eurepe 1815 to The Present. London and New York: Taylor& Francis e-Library.
Riff, A.M. (1995). Dictionary of Modern Political Ideologies. Manchester University Press
Ricklefs , M.C.(2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi
Rokeach, M. (1973). The Nature of Human Values. New York: The Free Press.
Sapriya (2007). Perspektif Pemikiran Pakar Tentang PKn Dalam Pembangunan
Karakter Bangsa: .Disertasi Doktor Pada SPS UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Sargent, L.T (1998). Ideologi Politik Kontemporer. Jakarta: Erlangga
Santosa (1998). Kontribusi Pengajaran Sejarah Nasional dan PPKn Terhadap Sikap
Nasionalisme Siswa MAN Se-Kotamadia Yogyakarta. Laporan Penelitian: LPM
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tidak diterbitkan.
Santoso, S.(2006). Menguasai Statistik SPSS 14 .Jakarta: Elex Media Komputido Santrock, J.W.(1998). Child Development. Boston, Masschuset: McGraw Hill
Companies, Inc.
Santrock, J.W.(200). Adolescence. Boston, Masschuset: McGraw Hill Companies,Inc. Sastraprateja, M. (1991). Pancasila Sebagai Ideologi dalam Kehidupan Budaya. Dalam
Mohamad Na’im, 2014
Kontribusi Apresiasi Pembelajaran Sejarah, Penghayatan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Agama Terhadap Sikap Nasionalisme
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Mc Graw Hill Book Company.
Schubert, W.H. (1980). Curriculum Perspective, Paradigm and Possibility. New York: Macmillan Publishing Co.
Singarimbun, M. (1995).Metode dan Proses penelitian dalam Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.
Siregar, H dan Fitriani,Y. (2006). “Pancasila dan Problem Keadilan Ekonomi di Indonesia”, dalam Restorasi Pancasila. Jakarta: Fisip UI&P2D.
Shihab, Q. (2004).Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i Atas Pelbagai Persoalan
Umat. Bandung:Mizan.
Sjamsuddin, H. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Sjamsuddin, H. (1999). Sejarah dan Pendidikan Sejarah, Mimbar Pendidikan,2/XVIII, 12-17.
Skinner, C. E. (1958). Essentials of Educational Psycology. Tokyo: Maruzen Company
Ltd.
Smith, A. D. (2001). Nationalism, Theory, Ideology, History, Cambridge: Polity Press Soemardjan, S.(1991). Pancasila sebagai Ideologi dalam Kehidupan Budaya Dalam
Pancasila Sebagai Ideologi. Jakarta : BP 7 Pusat.