BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya yang memiliki ketertarikan yang sama mengenai topik ini, disarankan meneliti pengalaman psikologis dari seorang anak yang memiliki orangtua penjudi. Pada penelitian ini, kurang digali lebih dalam tentang dampak judi bagi anak-anak yang memiliki ayah atau ibu yang gemar berjudi.
85
DAFTAR PUSTAKA
Agung, Wurwanto. (2012). Judi Online, Permasalahan dan Solusi. Artikel dari Kementrian Sosial RI, Selasa, 10 Juli 2012. Diunduh pada tanggal 01
November 2013 dari
http://www.kemsos.go.id/modules.php?name=News&file=print&sid=1715 9
Ahmadi, H.A. (2003). Psikologi Umum. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Ashley, L.L., & Karmen, K.B. (2012). Pathological Gambling : A General Overview. Journal of Psychoactive Drugs, 44 (1), 27-37.
Bastaman, H.D (1996). Meraih Hidup Bermakna : Kisah pribadi dengan pengalaman tragis. Dalam Rinanti, Stephani R. (2012). Studi Fenomenologi : Pengalaman Psikologis Pasangan dari Penderita Ginjal. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma, Fakultas Psikologi.
Beavers, W.R., & Hampson, R. B. (1993). Measuring Familiy Competance. Dalam Friedman, M.M., Bowden, V.R., Jones, E.G. (2012). Keperawatan Keluarga : Riset, Teori, dan Praktik (ed. Ke-5). Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Blaszczynski, A., Michael, W., Anastasia, S., & Mark, D. (1997). Psychological Aspects of : Gambling Behavior. The Australian Psychological Society Limited.
Damayanti, F. (2009). Proses Pembentukan Perilaku pada Judi Togel. Skripsi. Surabaya : Universitas Katolik Widya Mandala, Fakultas Psikologi
Dariyo, A. (2004). Memahami Psikologis Perceraian dalam Kehidupan Keluarga. Jurnal Psikologi Vol. 2. No.2
Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. (ed. Ke-4). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Dinas Kesehatan dan Sosial Kota Tomohon. (2011). Profil Kesehatan Kota Tomohon 2011. Bakti Husada.
Derevensky, J.L., & Gupta, R. (2004). Gambling Problems in Youth. Dalam Ashley, L.L., & Karmen, K.B. (2012). Pathological Gambling : A General Overview. Journal of Psychoactive Drugs, 44 (1), 27-37.
Francine, F., Patricia, M.F, Robert, L., Priscilla, B., Michael, B., & Lindy, P. (2008). Consequences of Pathological Gambling on the Gambler and His Spouse. Journal of Gambling Issues.
Harly, W. (1994). His Need an Her Needs. Dalam Friedman, M.M., Bowden, V.R., Jones, E.G. (2012). Keperawatan Keluarga : Riset, Teori, dan Praktik (ed. Ke-5). Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Idrus, M. (2000). Pengaruh Jenis Kelamin Terhadap Perilaku Agresif : Suatu Kajian Meta-Analisis. Laporan Penelitian
Kartono, Kartini. (2005). Patologi Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Melvin, E.G. & Gene M.L. (2011). Gambling Attitudes and Behaviors: A 2011
Survey of Adult lowans. University of Northern lowa.
Myrseth, H., Irene, L., Inge, J.S, & Stale, P. (2008). A Controlled Study of the Effect of Cognitive-Behavioural Group Therapy for Pathological Gambler. Departement of Psychosocial Science. Norway : University Of Bergen. Nakamura, H. (1990). Perceraian Orang Jawa. Dalam Dariyo, A. (2004).
Memahami Psikologis Perceraian dalam Kehidupan Keluarga. Jurnal Psikologi Vol. 2. No.2
Nani, N., ddk. (2011). Psikologi Perempuan : Pendekatan Kontekstual Indonesia. Jakarta : Universitas Atma Jaya
Oei, T.P.S. & Gordon, L.M. (2008). Psychosocial Factors Related to Gambling Abstinence and relapse in Members of Gamblers Anonymous. Journal of Gambling Studies 24 (1): 91-105
Raharjo, Y. (1995). Gender dan Pembangunan. Dalam Hermawati, T. (2007). Budaya Jawa dan Kesetaraan Gender. Jurnal Komunikasi Vol. 1, No. 1, 18-24
Rasjidi, L. (1991). Hukum Perkawinan dan Percerian : Di Malaysia dan Indonesia. Dalam Wiaswiyanti, B. (2008). Dampak Psikologis Perceraian pada Wanita. Skripsi. Semarang : Universitas Katolik Soegijapranata, Fakultas Psikologi.
Ratnawati, D. (2008). Dampak Peran Ganda Pada Ibu Bekerja. Skripsi. Semarang : Universitas Katolik Soegijapranata, Fakultas Psikologi.
Rowatt Jr., G., W dan Rowatt M., J. (1990). Bila Suami Istri Bekerja. Renungan Perkawinan. Dalam Supriyantini, S. (2002). Hubungan Antara Pandangan Peran Gender Dengan Keterlibatan Suami Dalam Kegiatan Rumah Tangga. Fakultas Kedokteran Program Studi Psikologi Universitas Sumatera Utara : digitized by USU digital library.
Santrock, J.W. (2002). Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup, ed. 5 jilid II. Jakarta : Erlangga.
Smith, J.A. (2009). Psikologi Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Solso, R.L., Otto, H., Maclin, M., & Kimberly, M. (2007). Psikologi Kognitif, ed.8. Jakarta : Erlangga.
Sobur, A., & Septiawan. (1999). Renungan Perkawinan. Dalam Supriyantini, S. (2002). Hubungan Antara Pandangan Peran Gender Dengan Keterlibatan Suami Dalam Kegiatan Rumah Tangga. Fakultas Kedokteran Program Studi Psikologi Universitas Sumatera Utara : digitized by USU digital library.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta
Sumiarni, E. (2004). Kedudukan Suami Istri dalam Hukum Perkawinan. Kajian Kesejahteraan Gender Melalui Perjanjian Kawin. Yogyakarta : Jalasutra. Swara, R. (2007). Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung ?. Jakarta. Dunia
Esai.
Poerwandari, E.K. (1998). Pendekatan Kualitatif dalam Psikologi. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Penelitian Psikologi Universitas Indonesia.
Poerwandari, K. (2000). Kekerasan Terhadap Perempuan : Tinjauan Psikologi Feministik. Pemahaman Bentuk-Bentuk Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Alternatif Pemecahannya. Jakarta : Kelompok Kerja “ Convention Watch “ Pusat Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia
Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. (2008). Human development (Brian, M., terj.). Jakarta: Salemba Humanika.
Puspita, H., Megawati, S., Latifatul, H. (2012). Kontribusi Ekonomi dan Peran Ganda Perempuan Serta Pengaruhnya Terhadap Kesejahteraan Subjektif. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konseling, Januari 2012 Vol 5, no. 1 p : 11-18
Yana, Putu A. (2011). Pemaknaan Penderitaan Pasien Gagal Ginja Kronis yang Menjalani Berhemodialisa. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma, Fakultas Psikologi.
Yosefa, I. Sutarmi. (2003). Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Khusus di PPHM – YAPHI Kudus). Skripsi. Semarang : Universitas Katolik Soegijapranata, Fakultas Psikologi.
Warstef, A. (2013). Tawas Janji Berantas Togel. Dalam Tribunnews, Surat kabar Harian 22 April 2013. Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013 dari
89
Tema Subjek 1
Tema-tema Nomor verbatim
Sebelum menikah
1. Proses berpikir seorang istri yang memiliki suami penjudi
a. Tidak mengetahui suami penjudi (9) Sesudah
menikah
1. Proses berpikir seorang istri yang memiliki suami penjudi
a. S1 tetap bertanggung jawab menjalankan peran sebagai istri dan ibu
b. Penolakan terhadap suami penjudi
- Judi salah satu bentuk pelanggaran agama - Judi sama dengan tidak menghargai uang - Judi mengurangi waktu suami untuk
keluarga
- Keberadaannya sebagai istri tidak dihargai juga oleh suami
c. Tetap mempertahankan pernikahan dan komitmen sebagai istri
2. Perasaan negatif yang muncul dari istri yang memiliki suami penjudi
a. Menyesal memiliki suami penjudi
b. Marah dan kesal suami sampai sekarang masih bermain judi
c. Bosan melihat perilaku suami berjudi d. Khawatir pada kesehatan suami, cemas jika
suami sakit
e. Kesepian suami pulang larut malam karena asyik judi sehingga muncul perasaan sedih f. Kecewa uang dipakai suami untuk judi g. Bingung dan takut dengan sikap suami yang
kasar
3. Harapan istri kepada suami penjudi
a. Menginginkan emansipasi dan kerja sama antara suami istri di rumah tangga
b. Ingin mendapat kasih sayang dan perhatian suami
c. Berharap suami berhenti judi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan
d. Ingin memiliki waktu luang dan saling berbagi bersama suami
4. Respon perilaku yang muncul dari istri yang memiliki suami penjudi
142-148,207-209 48, 344-347, 390-391 49-51 59-60 69-73, 156-162 60-62 386-387 54-57, 149-151 86-88, 139-140, 203-206, 271, 300-301 26-29, 219-220 142-148, 216-220, 236-242, 297-299 68-73, 210-211, 279-284, 280, 351-355 59-66, 127-130, 136-141 254-256, 276-279, 335-340 91-94 124-125, 153-156, 279-284, 366-367, 277-279 414-416, 400-403 108-110, 227-231, 229-231, 412-413 74-79, 156-162 , 356-360, 360-366
a. Pasrah menerima keadaan suami penjudi b. Bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi
kekuatan menghadapi suami penjudi
c. Berdoa kepada Tuhan agar suami bertobat dan berhenti judi
d. Judi memicu terjadinya pertengkaran antara S1 dan suami
e. Memberi nasehat kepada suami dengan cara diskusi namun respon suami marah
f. Aktif mengikuti kegiatan gereja dan social
g. Melakukan aktivitas yang menyenangkan untuk menghibur diri
- hobi masak dan buat kue merupakan sarana untuk menghilangkn perasaan jenuh karena suami penjudi
- Telepon anak-anak dapat menghibur hati
64-67, 120-121, 367-369 187-190, 266-268 84, 104, 122-123, 221-223, 229-23, 282-284, 387-389, 407 85, 245-248, 261-262, 287-294, 302-307, 343 83-84, 97-98, 102-105, 108-118, 131-133, 236-242, 254-256 170-171, 180-185, 198-200, 372 174-175, 92-195, 373 374-381, 407-408
92 SUBJEK 1
NO VERBATIM TRANSFORMASI TEMA
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24.
Baik bu, terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada. Seperti yang sudah saya jelaskan
dipertemuan kemarin, ada beberapa pertanyaan yang akan saya tanyakan kepada ibu terkait tugas akhir saya tentang perjudian. Pertanyaannya, apakah sebelum menikah pada masa-masa pacaran seperti itu ibu mengetahui kalau suami ibu penjudi, atau suka bermain judi ?
Oo .. saya tidak tau kalau dia itu pemain judi
Kalau begitu bisa kah ibu menceritakan pengalaman, saat kapan ibu mengetahui bahwa suami ibu pemain judi ?
Hmm, setelah kami mempunyai anak. Ya anak pertama saya sering melihat dia mengatakan ingin santai-santai dulu keluar. Ya saya pikir santai-santai bertemu teman begitu, siapa tau jenuh dirumah dari kantor. Jadi saya pikir kalau untuk bersantai kenapa tidak ? supaya tidak jenuh dirumah apalagi sudah capek dikantor dirumah lelah, jadi mo refresing dulu jalan-jalan keluar. Awalnya saya tidak curiga, ya saya tidak marah. Tapi lama
kelamaan dia semakin sering keluar, kan saya menanyakan “ Ko sering banyak diluar, apa disini
dirumah ee sudah mulai bosan, apa disini kurang hiburan ?” dia bilang ya kan kalau keluar cuma hirup-hirup udara,
Sebelum menikah S1 tidak mengetahui bahwa suaminya penjudi. S1 mengetahuinya ketika memiliki anak (9)
S1 menyatakan suami sering santai-santai diluar untuk refresing dan S1 tidak mempermasalahkan hal itu (14-20)
Awalnya S1 tidak memiliki prasangka apapun terhadap perilaku suami, namun seringnya alasan suami untuk keluar membuat S1 marah dan curiga hingga bertanya-tanya (19-26)
S1 mengetahui suami penjudi setelah memiliki anak.
S1 setuju suami keluar rumah untuk refresing
S1 curiga suami sering keluar rumah
26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52.
Tapi ya lambat laun saya liat dia semakin sering bermain. Pada dasarnya saya berpikir itu cuman hiburan, tapi lama kelamaan saya jadi bosan ngliat tingkah lakunya yaitu yang sering keluar itu tadi.
Baik, berarti hmm pada saat mulai mengetahui suami ibu adalah suka bermain judi pada saat anak
pertama, kira-kira itu sampai sekarang sudah berapa tahun yang lalu ibu ?
Kurang lebih, saya kawin berkelurga tahun 1985, kira-kira anak saya berumur 4 tahun begitu pas TK. Boleh 22 tahun yang lalu. Sebab, biasanya dulu saat bermain dia sering membawa anak yang kecil itu, ya anak kan polos kalau bercerita, dan mengatakan papa main kartu. Saya kira main kartu main kartu yang ngga pake duitnya kan biasa itu, mungkin bosan dikantor atau jenuh dirumah. Saya tidak tahu kalau pake uang. Kadang-kadang anak yang bilang, si papa main ada uangnya ma, tap itu saya belum tau, Cuma ank yang bercerita. Lama kelamaan saya tau, dan dia sudah tidak sembunyi-sembunyi. Suami mengatakan, pake duit ini.
Pada saat itu, apa yang terlintas dalam pikiran anda, kalau suami berjudi dengan menggunakan uang ? Saya tidak setuju sama sekali. Terutama dalam saya beribadah itu sangat melanggar. Pokoknya saya tidak suka judi. Satu lagi, kalau sudah asik main sudah tidak ingat waktu. Itu yang saya tidak suka
Kemudian apa yang anda rasakan, setelah menikah
berjudi semakin sering terjadi membuat subjek merasa bosan. (26-29)
S1 menyatakan bahwa suami berjudi sejak mereka sudah menikah dan anak berumur 4 tahun hingga sekarang. (34-36)
S1 menyatakan bahwa awalnya ia tidak mengetahui kalau suami bermain kartu menggunakan uang. S1 baru mengetahui suami bermain kartu menggunakan uang dari cerita anak (38-45)
S1 benar-benar menolak perilaku suami yang suka berjudi. Hal ini diyakini subjek sebagai pelanggaran (48-51)
berjudi
Suami berjudi sejak anak masih kecil hingga sekarang sudah 22 tahun yang lalu S1 mengetahui suami
bermain kartu menggunakan uang untuk berjudi dari cerita anak
- S1 tidak setuju suami bermain judi
- Judi adalah pelanggara agama
54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80.
Sedih, dan saya berpikir kalau saya tahu sebelum kawin saya tau dia penjudi saya tidak suka sama dia. Tapi saya tahu dia penjudi setelah saya kawin dan kami punya anak pula.
Sebenarnya yang membuat anda sedih itu apa ? Begini, susahnya dapat duit, ko uangnya dibikin
bertarung, kedua kalau sudah bermain sudah tidak ingat waktu, bahkan kadang-kadang ya selaku istri dia sudah tidak ingat, tapi baginya dia enjoy aja. Itu kan sepihak, dia enjoy saya yang sakit hati, saya dongkol. Dan kedongkolan saya bertahun-tahun. tapi apa mo dikata, saya sebagai istri dan tidak bekerja cuma berharap dari dia. Jadi saya tidak dapat berkata apa-apa dan berbuat apa-apa, Cuma itu saya sedih aja. Kalau pun dia bermain sekali-sekali cuman refresing dan menghilangkan jenuh, saya sih oke oke saja. Tapi kalau dua sudah asik bermain, ya itu tadi dia tidak ingat waktu, bahkan menurut saya, dia sudah tidak ingat waktu dan anak. Pulang suka sampai larut, apalagi kalau ada libur panjang, wahhh dia sudah tidak ingat waktu, itu yang membuat saya sedih. Kan tau, yang namanya suami istri, kan senang maunya
berkomunikasi, duduk santai, kalau libur maunya duduk santai sama-sama bercerita. Tapi jarang saya temui, ya itu tadi saya tidak senang sama yang namanya judi hingga sekarang. Walaupun, kalau sekarang dia mengatakan itu refresing.
Biasanya ditengah-tengah ada perasaan sepi dan
mengetahui kebiasaan buruk yang dimiliki pasangan ketika subjek sudah menikah dan memiliki anak (54-57)
S1 menyatakan bahwa mencari uang itu sulit tetapi suami malah mengguanakan uang untuk berjudi. Selain itu, jika suami asik bermain judi sudah tidak ingat waktu (59-62)
S1 sudah lama kesal dan sedih pada perilaku suami berjudi. Akan tetapi sebagai istri ia tidak bekerja dan hanya berharap kepada suami (64-67)
S1 menyatakan dirinya menerima jika suaminya berjudi untuk refresing. Akan tetapi jika suami sudah asik bermain judi, sudah tidak ingat waktu dan anak. Suami juga sering pulang larut malam dan membuat subjek sedih (69-73)
S1 senang jika sebagai suami istri bisa saling berkomunikasi, dan kalau ada hari libur bisa menghabiskan waktu bersama (74-79) suami penjudi - Kesal/dongkol suami tidak menghargai uang. - keberadaannya sebagai istri tidak dihargai juga oleh suami.
- S1 pasrah karena tidak bekerja
- Sedih suami pulang larut malam
- Judi mengurangi waktu suami untuk keluarga
Harapan S1 saling
komunikasi dan memiliki waktu luang bersama suami.
82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108.
yang anda lakukan ?
Saya banyak bersabar, dan kalau waktu luang saya cuman menasehatkan dia, dan banyak berdoa. Walaupun sering terjadinya pertengkaran. Dan kalau pulang yang tadinya saya mau menahan perasaan suka timbul
meledak-ledak emosi, karena kesel menanti dan menanti, itu yang suka saya rasakan.
Sebenarnya peran suami yang bagaimana yang anda harapkan dalam rumah tangga ?
Ya. .. maksud saya itu emansipasi, suami jangan terlalu merasa dia diatas. Dan juga saya tidak mau suami
dibawah. Harus sama-sama, walaupun dia kerja saya ngga kerja, tapi untuk pribadinya dia sebenarnya baik, sungguh baik. Kelamahannya satu, kalau dia sudah asik dengan hobi yang mengatakan bahwa judi itu dia punya hobi. Jadi kalau dia sudah asik bermain kemudian saya mulai mengungkit membicarakan itu, maka terkadang timbul emosinya membantah malah marah-marahin saya. Mengatakan bahwa saya tidak mengerti hobinya hingga saat ini. Tapi ya, sudah tahun demi tahun sudah sering saya kasitau, akhirnya ya berlalu aja, karena kalau saya sudah mulai marah terkadang dia juga mulai emosi. Akhirnya saya pendam dan banyak berdoa, dan saya menanti kapan dia berhenti bermain, itu saja.
Sudah selama ini, apakah ada cara anda untuk menkomunikasikan hal ini ?
Oh, sering.. tapi kalau dia pulang dari bermain judi
S1 lebih banyak bersabar, dan yang dapat dilakukan subjek adalah menasehati suami dan banyak berdoa (83-84)
Sering terjadi pertengkaran didalam rumah tangganya karena judi. Subjek kesal karena suami bermain judi dengan waktu yang lama sehingga membuatnya menunggu (85-88)
S1 menginginkan adanya persamaan hak didalam rumah tangganya. Baik istri dan suami harus bekerja sama dalam keluarga (91-94)
Jika S1 membicarakan judi dengan suaminya, maka yang terjadi adalah
munculnya emosi marah dari suami (95-98)
Sudah lama S1 menasehati suami untuk berhenti bermain judi, tetapi tidak dihiraukan dan S1 marah (102-105)
S1 menyimpan rasa sakit hatinya dan berdoa sambil berharap suatu saat nanti suaminya bisa berhenti bermain judi (108-110)
S1 sabar menasehati suami dan berdoa - Sering bertengkar karena judi - Kesal karena menunggu suami pulang Menginginkan emansipasi dan kerja sama antara suami istri di rumah tangga
S1 berdiskusi tentang judi, respon suami marah
S1 menasehati tapi tidak dihiraukan suami.
- S1 menyimpan rasa sakit hatinya dan berdoa
- Berharap suami berhenti judi
110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136.
terima, dan hal itu sering meledak-ledak. Ya saya tidak tahu, entah dia menangkah kalahkah. Tapi kalau dia pulang, kemudian saya bercerita judi lagi-judi lagi maka dia akan emosi. Bahkan dia sering menasehatkan kalau dia datang haruslah disambut dengan baik, padahal sekian lama dia bermain emosi saya sudah timbul, giliran saya mau marah dia sudah lebih mau marah, kan lucu. Jadi kadang-kadang saya ambil waktu kalau lagi santai saya bicarakan tapi tetap dia mengatakan itukan kesenangan. Ya saya balas, kesenangan itukan sesaat kenapa dibuat terus. Tapi apa daya, saya kan merasa dia yang kasih makan, jadi akhirnya saya menerima, menerima keadaan, sambil berdoa, biarlah Tuhan yang tau kapan waktunya dia sadar. Ooo rupanya selamanya istri saya selama ini sedih dan sedih. Cuma itu, dan lebih sadar dikasih waktu untuk bisa instropeksi. Karena memang saya dari dulu mendengar yang namanya judi, aduhh…judi lagi judi lagi. Bisa kah main tidak pakai duit. Kalau Cuma mau hiburan dia bilang itu tidak menarik. Pokoknya saya tidak suka, soalnya setau saya mencari duit susah. Apalagi untuk sekarang susah. Dan satu yang saya tidak suka, makin hari kan dia makin tua, jadi saya cuman kasi nasehat, ingat, ingat itu kesehatan. Doi bole cari, mar itu kesehatan mahal harganya.
Pada saat kapan anda benar-benar merasa jenuh ketika menghadapi suami anda bermain judi ? Saat anak saya masih kecil, dan dia ada penghasilan.
bercerita tentang judi, namun suami tidak menerima dan menjadi marah. Akan tetapi suami mengelak dan mengatakan judi adalah kesengannya (108-118)
S1 tidak berdaya dengan keadaan yang dialaminya, karena suami bekerja sedangkan dirinya tidak. S1 hanya pasrah menerima keadaan sambil berdoa kepada Tuhan agar suaminya bisa berubah (120-123)
S1 ingin suami sadar akan perasaan sedih yang dirasakan S1 (124-125)
Dari dulu S1 memang tidak suka dengan judi, apalagi kalau bermain judi
menggunakan uang. Hal ini dikarenakan S1 mengerti kalau mencari uang itu sulit apalagi dengan keadaan sekarang (127-130) S1 menasehatkan suami bahwa suami sudah semakin tua dan harus menjaga kesehatan. (131-133)
S1 kecewa jika uang mereka digunakan
respon suami marah
- Pasrah dan menerima keadaan
- berdoa kepada Tuhan.
Ingin dimengerti kesedihan yang dirasakannya selama ini. S1 kesal, karena judi
menggunakan uang. Sedangkan mencari uang susah
Nasehati suami agar menjaga kesehatan
138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164.
mengatakan sayangnya uang itu, ko dibikin main, dan satu kesehatan. Di sisi lain, saya dongkol kalau dia bermain judi. Dongkol setengah mati. Tapi di satu sisi saya sayang sama dia. Yaitu tadi kalau dia sudah asik main. Ya siapa si yang tidak takut uangnya berkurang, tapi yang paling saya takut itu kesehatannya, karena kalau sudah asik main, makan dan minum aja sudah ngga. Nah itu yang suka menjadi perdebatan saya. Dan kalau sudah sakit kan yang susah siapa, selain dia ya saya juga selaku istri. Tidak mungkin kan saya biarkan kalau dia sakit. Itu yang sering saya pikirkan, sudah duit ngga ada, sakit lagi. Tapi itu kembali saya bilang, kalau saya tau dari dulu dia penjudi, nda mungkin saya mau. Nanti setelah kawin baru saya tau dia penjudi. Memang, dia sering bilang, kan ada makan, yang penting ada tempat tinggal, tapi masa cuman itu yang dipikirkan. Kadang yang suka bikin saya sedih lagi, kalau saya mau bercerita, berkeluh kesah, eh dia masih asik bermain kartu bermain judi, kapan ada waktu bisa bercerita. Giliran dia ada waktu, saya sibuk masak, kalau pagi-pagi. Giliran saya mau bersendagurau, dia yang tidak ada dirumah. Kadang saya pikir, gini kalau orang bermain judi, kadang anaknya sudah mau tidur baru dia mau ganggu-ganggu atau mau bercerita. Tapi kita semua sudah ngantuk dan mo tidur. Kalau dia sudah asik main judi, dia sudah tidak kenal waktu.
Ya saya mengerti, ibu sebenarnya ingin diperhatikan dengan suami, namun karena judi jadi waktu untuk
perilaku judi suami, namun tetap sayang kepada suami (136-141)
S1 khawatir pada kesehatan suami karena sering lupa makan dan minum jika asik bermain judi. Subjek menyatakan jika suami sakit, dirinyalah yang harus bertanggung jawab merawat suami. Subjek berpikir jangan sampai sakit apalagi uang tidak ada (142-148)
S1 menyatakan kalau sebelum menikah tau suami penjudi maka ia tidak akan mau (149-151)
S1 sedih karena dampak judi baginya adalah kurangnya waktu subjek bersama suami untuk saling bercerita dan berkeluh kesah (153-156)
S1 menyatakan akibat judi menyebabkan kurangnya waktu S1dan anak bersama suami (156-162 )
Marah /dongkol suami berjudi - Khawatir pada kesehatan suami - S1 bertanggung jawab pada kesehatan suami - Cemas jika suami
sakit.
S1 menyesal menikah dengan penjudi
S1 ingin suami perhatian pada dirinya.
Judi mengakibatkan kurangnya waktu suami dengan S1 dan anak.
166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192.
bagaimana aktivitas yang ibu lakukan sehari-hari ? Saya ibu rumah tangga, keseharian saya masak, urus anak-anak, termasuk urus suami, dan kegiatan saya kerohanian, lantaran saya seorang agama kristen protestan. Beribadah, mengikuti kegiatan gereja, ya itu sebenarnya untuk menghibur hati saya.
Bisa ibu ceritakan hobi ibu dirumah, di lingkungan sosial dan lain-lain ?
Kalau dirumah, saya hobi masak, bikin kue, ya sama seperti ibu-ibu yang lain. kalau dilingkungan aktivitas saya cukup banyak, untuk mengisi kehidupan saya dan