• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Subjek

a. Profil Subjek 1

Subjek pertama berinisial S1. S1 berusia 49 tahun dan menikah sejak tahun 1985 hingga saat ini. S1 lahir di Manado, namun besar di daerah Kalimantan. S1 menikah dengan suami yang sama-sama suku dari Minahasa (Tomohon). S1 dan suami tinggal di Kalimantan selama suami masih bekerja. Akan tetapi, semenjak suami pensiun S1 dan suami kembali ke kampung halaman yaitu tinggal di Tomohon (Sulawesi-Utara).

S1 memiliki struktur tubuh besar (gemuk), berkulit putih dan tinggi sekitar 165 cm. S1 memiliki rambut yang pendek, dirinya mengaku rambut pendek lebih praktis daripada rambut panjang.

S1 termasuk orang yang ramah dan mudah bergaul. Hal ini nampak dari sapaan S1 dibeberapa kesempatan dengan selalu menunjukan senyumnya yang hangat. S1 juga cepat akrab dengan peneliti karena menurut S1 dirinya masih muda sehingga sangat suka bergaul dengan mahasiswa seperti peneliti. Selain itu, S1 merupakan sosok ibu yang kuat dan pekerja keras. Ia mengaku, dirinya terus mengembangkan hobinya membuat kue untuk menambah penghasilan keluarga selepas suami pensiun.

S1 merupakan ibu dari 2 orang anak. Anak pertama adalah laki-laki berusia 27 tahun dan sudah menikah. Anak kedua adalah perempuan berusia 22 tahun dan belum menikah. S1 mengaku ia

sering merasa kangen kepada anak-anaknya. Hal ini dikarenakan anak-anak S1 berada diluar kota dan terpisah dari S1. Oleh sebab itu, hal yang dilakukan S1 saat kangen adalah menelepon kedua anak-anaknya.

Pekerjaan S1 adalah ibu rumah tangga sedangkan suami tidak bekerja (pensiunan). Akan tetapi, S1 memiliki hobi membuat kue. Oleh sebab itu, S1 dengan senang hati membuatkan kue jika ada orang lain yang memesan kue kepadanya. S1 mengaku alasannya terus membuat kue adalah selain merupakan hobi namun juga sebagai pemasukan tambahan bagi keluarga selepas suaminya pensiun.

b. Deskripsi Tekstural S1

Awalnya S1 tidak tahu suami penjudi. S1 mengetahui suami penjudi setelah menikah dan punya anak. Anak yang memberi tahu S1 bahwa suami bermain kartu menggunakan uang. Berawal dari cerita anak inilah S1 mengetahui suami suka berjudi.

“Oo .. saya tidak tau kalau dia itu pemain judi..” (9)

“ Hmm, setelah kami mempunyai anak. Ya anak pertama saya sering melihat dia mengatakan ingin santai-santai dulu keluar.. “ (13-15)

“ Sebab, biasanya dulu saat bermain dia sering membawa anak yang kecil itu, ya anak kan polos kalau bercerita, dan mengatakan papa main kartu. Saya kira main kartu main kartu yang ngga pake duitnya kan biasa itu, mungkin bosan dikantor atau jenuh dirumah. Saya tidak tahu kalau pake uang. Kadang-kadang anak yang bilang, si papa main ada

uangnya ma, tapi itu saya belum tau, Cuma ank yang bercerita.. “ (36-43)

Saat mengetahui suami suka berjudi, respon S1 adalah tidak setuju.

“ Saya tidak setuju sama sekali.. “ (48)

“ Kalau saya menyokong itu judi, gila saya. Mana ada istri yang menyokong suami bermain judi, gila itu..” (389-391)

Hal inilah yang menyebabkan timbul perasaan menyesal dalam diri S1 karena memiliki suami penjudi.

“saya berpikir kalau saya tahu sebelum kawin saya tau dia penjudi saya tidak suka sama dia. Tapi saya tahu dia penjudi setelah saya kawin dan kami punya anak pula.. “ (54-57)

“ kalau saya tau dari dulu dia penjudi, nda mungkin saya mau. Nanti setelah kawin baru saya tau dia penjudi..” (149-151)

Bentuk ketidaksetujuan S1 pada suami penjudi adalah, S1 merasa kesal karena suami kurang menghargai uang.

Begini, susahnya dapat duit, ko uangnya dibikin bertarung (59-69)

“ aduhh…judi lagi judi lagi. Bisa kah main tidak pakai duit ?Kalau Cuma mau hiburan dia bilang itu tidak menarik. Pokoknya saya tidak suka, soalnya setau saya mencari duit susah... “ (126-129)

Alasan lain yang menyebabkan S1 menolak suami berjudi adalah kalau sudah bermain judi, suami tidak ingat waktu, sehingga kurangnya waktu suami untuk keluarga.

kalau sudah bermain sudah tidak ingat waktu, bahkan kadang-kadang ya selaku istri dia sudah tidak ingat, tapi baginya dia enjoy aja..” (60-62)

“Tapi kalau dia sudah asik bermain, ya itu tadi dia tidak ingat waktu, bahkan menurut saya, dia sudah tidak ingatwaktu dan anak. Pulang suka sampai larut, apalagi kalau ada libur panjang, wahhh dia sudah tidak ingat waktu, itu yang membuat saya sedih..” (69-73)

Penolakan pada perilaku suami menimbulkan seringnya terjadi pertengkaran didalam keluarga S1.

“ Ooooo, bukan lagi pernah, tapi sering. Itu dari start ketika kami punya anak. Itu sering sekali terjadi pertengkaran itu, karena sudah menjadi hobinya tidak bisa di ganggu gugat istilahnya..” (245-248)

Jika terjadi pertengkaran, S1 merasa takut dan tertekan karena suami sering merusak barang-barang yang ada dirumah.

“ dia kalau marah barang apa saja yang pecah belah dilempar, dan kalau begitu bikin saya takut. Dan itu yang buat saya merasa tertekan, kayanya dia tidak sadar yang dia marah itu istrinya..” (276-279)

“ terjadi pertengkaran, mulai piring beterbangan, yang dia liat dia lempar, apa yang dia liat dia banting. Akhirnya saya sendiri yang ketakutan, liat dia marah..” (305-307)

Ketika pertengkaran terjadi, S1 hanya bisa sabar dan berdoa kepada Tuhan.

“ Saya banyak bersabar, dan kalau waktu luang saya cuman menasehatkan dia, dan banyak berdoa. Walaupun sering terjadinya pertengkaran..” (83-85)

“ Ya saya sebagai istrinya hanya banyak bersabar, walaupun, ya tetap saja pertengkaran itu masih saja tetap terjadi..” (248-250)

S1 sering mengkomunikasikan judi dengan suami. Menurut S1, suami marah jika dinasehati agar berhenti judi.

“ saya ambil waktu kalau lagi santai saya bicarakan tapi tetap dia mengatakan itukan kesenangan. Ya saya balas, kesenangan itukan sesaat kenapa dibuat terus..” (117-120)

“ Yang bikin saya bingung kadang-kadang begini saya kasi nasehat sama dia, tapi bukannya dia meredup tapi malah meledak-ledak marahin saya..” (254-256)

Padahal S1 mencemaskan kesehatan suami, karena kalau sudah asyik judi, suami tidak peduli pada kesehatan. Hal inilah yang menyebabkan kembali terjadi pertengkaran antara S1 dan suami.

“ Kalau bermain jangan sampai larut malam, ingat itu kondisi, ingat itu umur makin tua, jadi jaga-jaga tu kesehatan..” (239-242)

“ saya cuman kasi nasehat, ingat, ingat itu kesehatan. Doi bole cari, mar itu kesehatan mahal harganya..” (131-133)

“ karena kalau sudah asik main, makan dan minum aja sudah ngga..” (143-144)

Menurut suami, judi merupakan hobi dan hiburan. Hal ini yang menyebabkan perilaku ini sulit dihentikan dan justru terjadi berulang-ulang. Akibat dari siklus inilah S1 sering merasa kesepian.

“ ya tapi kalau saya itu tadi saya sering merasa kesepian, kalau sudah saya ditinggal saya jadi banyak berpikir aneh-aneh..” (350-351)

“ Saya itu sebenarnya merasa kesepian dan butuh kasih sayang..”(280-282)

S1 merasa kesal bertahun-tahun suami tidak bisa melepaskan hobinya berjudi.

“ Saya dongkol kalau dia bermain judi. Dongkol setengah mati..” (139-140)

S1 kesepian ketika suami berjudi dan pulang hingga larut malam. Hal ini dikarenakan S1 tinggal sendiri dirumah, sedangkan anak-anak S1 semuanya ada diluar kota dan jauh dari dirinya.

“ Tapi itu kadang karena saya sendiri, anak-anak sudah diluar, sering timbul pikiran saya rasa kesepian begitu rasa ya tidak enak, akhirnya saya pikir begini jalani ajalah hidup ini..” (210-213)

Dalam kondisi kesepian dan sedih S1 mengatakan ia hanya pasrah kepada Tuhan (yakin kepada Tuhan/ Tuhan sumber pengharapan) dan berdoa agar suami bisa berhenti berjudi.

“ Tapi apa daya, saya kan merasa dia yang kasih makan, jadi akhirnya saya menerima, menerima keadaan, sambil berdoa, biarlah Tuhan yang tau kapan waktunya dia sadar. Ooo rupanya selamanya istri saya selama ini sedih dan sedih..” (120-124)

“ Kembali lagi yang bisa saya lakukan hanya berdoa dan berdoa, suatu saat pasti Tuhan jawab doa saya..” (282-284)

“ Tapi saya bersyukur saya masih diberi kekuatan khusus kepada Tuhan, yang selalu memberi penghiburan buat saya..” (266-268)

“ Saya sampe saat ini hanya berdoa Tuhanlah segala jawaban buat saya..” (222-223)

Aktivitas yang dilakukan S1 untuk mengisi kekosongan dan kejenuhan akibat memiliki suami penjudi adalah dengan cara mengikuti berbagai kegiatan gereja dan sosial. Menurut S1

kegiatan-kegiatan ini dapat mengalihkan pikiran dan perasaan negatif saat ditinggal suami berjudi.

“ Saya mengikuti kegiatan ibu-ibu pertamina yang disebut PWP, kemudian pindah di Medco saya ikut kegiatan piskameta, kegiatan-kegiatan misalnya bikin kue, atau kalau digereja menjenguk yang sakit, paduan suara saya ikut, itu untuk mengisi kehidupan saya, maka kalau saya sudah asik dengan itu hilang rasa sakit hati saya suami bermain judi, terhibur begitu..” (179-186)

Selain itu, S1 memiliki hobi membuat kue. S1 merasa senang jika ada orang lain memesan kue kepadanya. Selain agar ada kesibukan, hasil dari penjualan kue dapat membantu pemasukan keluarga selepas suami pensiun.

“ Kalau dirumah, saya hobi masak, bikin kue, ya sama seperti ibu-ibu yang lain. kalau dilingkungan aktivitas saya cukup banyak, untuk mengisi kehidupan saya dan kejenuhan saya..” (174-177)

“ Saya hobi memang masak-memasak khusus bikin-bikin kue. Jadi kalau ada orang pesan kue, dengan senang hati saya buat, itu untuk mengisi kekosongan hati dan kebenaran itu untuk menyambung kehidupan dalam kehidupan rumah tangga, karena suami sudah tidak kerja sekarang sudah pensiun..” (192-197)

S1 mengusir rasa bosan dan kesepian dengan cara menelepon anak-anak. Anak-anak selalu memberikan semangat kepada S1 untuk lebih sabar. Bagi S1 anak-anaklah yang dapat menghibur hatinya dikala ia merasa sedih dan sendiri saat ditinggal suami pergi bermain judi.

“ kalau sudah suntuk sekali biasanya saya telepon sama anak-anak saya yang jauh, tanya kabar anak-anak. Tapi saya

suka sedih kalau anak-anak bertanya ma, lagi ngapain dan menanyakan papa mana ? nah sebenarnya mereka sudah tau, kalau mama sudah banyak telepon ini, pasti mama ini sendiri. Ya saya enteng jawab aja, ya tau sendirilah. Biasanya anak-anak yang membesarkan hati saya. Sabar-sabar aja ma..” (373-381)

Hingga saat ini S1 masih mempertahankan pernikahan dan rumah tangganya dengan suami. S1 merasa sebagai istri ia memiliki peran untuk bertanggung jawab pada keadaan dan situasi yang terjadi didalam rumah atau keluarga.

“ Dalam mengisi kekosongan saya tetap menjadi ibu rumah tangga yang baik, melayani, memasak, dan itu tadi hobi saya membuat kue, masak-memasak mengisi kekosongan itu..”

(206-209)

Takut akan Tuhan dan anak-anak adalah alasan S1 tetap menjaga komitmen pernikahan.

“ Hmm, saya bertahan, karena saya takut Tuhan. Saya bertahan karena sudah ada anak..” (386-387)

S1 menginginkan hubungan rumah tangga yang lebih baik dimana suami-istri bisa saling terbuka dan memiliki waktu luang bersama. Dengan memilki waktu luang bersama suami istri merasa mendapatkan kenyaman dan kasih sayang dari suami.

“ Kan tau, yang namanya suami istri, kan senang maunya berkomunikasi, duduk santai, kalau libur maunya duduk santai sama-sama bercerita.. “ (73-76)

“ Tapikan namanya makin tua kan kepingin bisa bersama-sama bercerita untuk “ kedepannya itu jarang, padahalkan kalau suami istrikan harus rajin komunikasi itu tadi kadang-kadang karena kurang kominikasi jadi sering terjadi

pertengkaran. Di satu sisi, saya itu pengennya ingin bercerita, bersenda gurau..” (355-361)

Selain itu S1 memiliki harapan yang besar agar suami berhenti judi. Oleh sebab itu S1 selalu berdoa kepada Tuhan agar Tuhan memberikan kesempatan agar suaminya bisa berhenti berjudi.

“ Akhirnya saya pendam dan banyak berdoa, dan saya menanti kapan dia berhenti bermain, itu saja..” (104-105)

“ Tuhan, suatu saat pasti Tuhan jamah, biar dia semakin dekat dan bertobat tidak berjudi lagi. Jadi saya berdoa dan berdoa..” (229-231)

c. Gambaran umum S1

Objek Tema

Suami 1. S1 tidak mengetahui suami penjudi sebelum menikah 2. Marah dan kesal suami sampai sekarang masih bermain judi 3. Bosan melihat perilaku suami berjudi

4. Khawatir pada kesehatan suami, cemas jika suami sakit

5. Suami asyik judi hingga larut malam sehingga muncul perasaan sedih karena kesepian

6. S1 bingung dan takut dengan sikap suami yang kasar 7. Menyesal memiliki suami penjudi

8. S1 kecewa suami menggunakan uang untuk judi

9. Berharap suami berhenti judi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan

10. Memberi nasehat kepada suami dengan cara diskusi namun respon suami marah

Judi 1. Menolakan suami berjudi karena :

a. Judi salah satu bentuk pelanggaran agama b. Judi sama dengan tidak menghargai uang c. Judi mengurangi waktu suami untuk keluarga

2. Judi memicu terjadinya pertengkaran antara S1 dan suami

Diri subjek

1. Tetap bertanggung jawab menjalankan peran sebagai istri dan ibu

2. Merasa keberadaannya sebagai istri tidak dihargai suami 3. Tetap mempertahankan pernikahan dan komitmen sebagai istri 4. Menginginkan adanya kerja sama antara suami istri dalam

rumah tangga

5. Ingin mendapat kasih sayang dan perhatian suami

7. Bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kekuatan menghadapi suami penjudi

8. Berdoa kepada Tuhan agar suami bertobat dan berhenti judi 9. Aktif mengikuti kegiatan gereja dan social

10. Melakukan aktivitas yang menyenangkan untuk menghibur diri a. Memiliki hobi masak dan buat kue merupa-kan sarana untuk

menghilangkan perasaan jenuh karena suami penjudi b. Telepon anak-anak dapat menghibur hati S1

d. Deskripsi struktural S1

Struktur pengalaman psikologis S1 memiliki suami penjudi memperlihatkan adanya hubungan S1 dengan suami penjudi, konsep negatif tentang judi, dan diri S1. Mengenai hubungan dengan suami, S1 takut perhatian dan waktu suami direnggut oleh judi sehingga menolak perilaku suami yang gemar berjudi. Selain itu S1 sudah memiliki konsep negatif tentang judi, dimana judi merupakan aktivitas tidak menghargai uang dan menimbulkan pertengkaran didalam rumah tangga yang bermuara pada ketidakharmonisan didalam hubungan S1 dengan suami. Ketidakmampuan S1 sebagai istri untuk melakukan perlawanan menyebabkan prilaku suami berjudi sulit dihentikan. Padahal S1, memiliki harapan yang besar agar suami berhenti judi. Sebagai istri dan ibu didalam keluarga, S1 merasa harus bertanggung jawab menjaga komitmen pernikahan walapun memiliki suami penjudi. Kepatuhan pada agama dimana Tuhan melarang adanya percerian dan kecintaan S1 pada anak-anak dan suami adalah alasan yang kuat untuk S1 tetap bertahan pada pernikahan.

2. Subjek 2

a. Profil Subjek 2

Subjek 2 berinisial S2. S2 berusia 56 tahun dan menikah sejak tahun 1985 hingga saat ini. S2 lahir di Manado. S2 menikah dengan suami yang sama-sama suku Minahasa (Tomohon). S2 dengan suami bertempat tinggal di Tomohon.

S2 memiliki struktur tubuh besar (gemuk). S2 berkulit sawo matang dengan tinggi sekitar 165 cm. S2 memiliki rambut panjang dan keriting.

S2 termasuk orang yang ramah dan humoris. Hal ini tampak ketersediaan S2 untuk diwawancara disela-sela ia bekerja melayani pelanggan yang ingin memotong atau mewarna rambut. Selain itu, tampak pula pada saat wawancara, S2 sering tertawa sendiri dengan jawaban yang ia berikan kepada peneliti. Di sisi lain, S2 merupakan sosok ibu yang kuat dan pekerja keras. Ia mengaku, dirinya terus mengembangkan hobinya membuka salon dan sebagai pemotong rambut.

S2 merupakan ibu dari 2 orang anak. Kedua anak S2 berjenis kelamin laki-laki dan belum menikah. Anak pertama berusia 27 tahun dan anak kedua berusia 21 tahun. Kedua anak S2 sudah bekerja sehingga pulang kerumah hanya pada saat libur saja. Oleh sebab itu kesehariannya S2 hanya tinggal berdua dengan suami di rumah.

Selain sebagai ibu rumah tangga, S2 memiliki usaha salon sedangkan suami wiraswasta. Menurut S2, bekerja di salon merupakan hobinya sejak lama kira-kira sejak tahun 90an hingga sekarang. S2 merasa enjoy dengan pekerjaannya di salon. Dengan bekerja dapat menghibur S2 jika stres melihat perilaku suami yang suka berjudi.

b. Deskripsi tekstural S2 Sebelum menikah

S2 sudah mengetahui suami suka berjudi sejak mereka masih pacaran. Saat itu, suami sering ingkar janji jika akan bertemu S2 karena suami asyik bermain judi.

“ Sudah..” (10)

“ Kan kalau pacaran, haha kita punya janji, terus bilang janji jam 7. Tapi jam 7 belum datang. Tau-tau karena main judi. Jadi nanti datang terlambat..” (13-15)

Pada saat itu, respon S2 tetap menerima suami karena alasan masih sebatas pacaran.

“ tapi mo bilang apa e.. hehehe biarin saja, ya jalani saja, lagi kan masih pacaran..” (18-20)

Selain itu, S2 mengaku walau suami suka berjudi tetapi ia sayang kepada suami.

Akan tetapi, S2 mengaku lama kelamaan ia menjadi marah dan sakit hati karena suami sering berbohong kepada S2. Misalnya membuat janji tapi sering tidak terpenuhi.

“ kadang kala marah, sakit hati lah, karena dibohongin. Misalnya kalau sudah janji itu nda tepat waktu..” (27-30)

S2 merasa marah kepada suami. Oleh sebab itu, wujud ungkapan marah S2 kepada suami adalah memaki suami karena sakit hati atas perilaku suami yang suka berbohong dan ingkar janji.

“ Di waktu ketemu ya marah..” (32)

“Huhh pandusta, lama sekali..” (34)

Akan tetapi, S2 memutuskan tetap menerima menikah dengan suami penjudi karena S2 yakin setelah menikah suami akan berhenti berjudi.

“ Tetap lanjutkan. Tetap terima..” (39-40)

“ Paling pikir-pikir, kalau sudah menikah mo berenti..” (43-44)

Setelah menikah

Akan tetapi, keyakinan S2 bahwa suami akan berhenti berjudi tidak sesuai dengan harapa. Pada kenyataannya perilaku suami yang suka berjudi terus berlanjut sampai mereka sudah menikah dan punya anak.

kalau sudah menikah mo berenti. Yah lebih jadii, lebih parah..” (43-44)

“ Pada saat anak-anak masi kecil. Sebelum ada anak juga begitu lagi..” (53-54)

Pada saat anak-anak masih kecil, S2 merasa sangat bosan melihat perilaku suami tidak berhenti bermain judi hingga tidak pulang kerumah. Hal ini menyebakan S2 meminta cerai kepada suami.

“ kadang-kadang minta cerai. Pernah sampai minta cerai. Soalnya sering sekali, aduh kadang sampai dicari-cari karena nda pulang. Ahh pokoknya membosankan..” (48-51)

S2 merasa kesal jika suami tidak pulang kerumah karena asik berjudi.

“ Ya pokonya paling menjengkelkan itu yang nda pulang -pulang itu noh..” (89-90)

“ Pernah sampai minta cerai. Soalnya sering sekali, aduh kadang sampai dicari-cari karena nda pulang..” (48-50)

Selain itu, S2 merasa kaget sekaligus kesal karena ia tidak mengetahui bahwa suami menjual harta benda yang mereka miliki untuk bermain judi.

“ pokonya sampe-sampe jual bendi, jual kuda sampe 9, jual rumah karena main judi saja..” (53-55)

“ cuman kaget tiba-tiba, hih kenapa ini sudah abis. Ado sudah ini, perbuatan judi ini. Jadi jatuh bangun, jatuh bangun terus, sampe sekarang..” (58-62)

Akibat perbuatan suami itu, S2 merasa sangat sakit hati karena tidak tahan dengan perilaku suami. Hal ini menyebabkan S2 memutuskan untuk bercerai dan pergi meninggalkan suami berserta anak-anaknya.

“ Huu rasa apa yaa, pokoknya rasa mo pisah. Rasa mo cerai..” (61-62)

“ Odoo, karena sudah sakiiiitt hati sekali..” (65)

“ Deh pokoknya satu waktu pikir mo pisah, mo cerai. Tante mau pergi jakarta, mo cari kerja. Biar saja om tinggal disini dengan anak-anak..” (74-76)

Akan tetapi, S2 mengurungkan niatnya karena merasa tanggung jawab sebagai ibu untuk mengurus anak-anaknya yang sudah mulai tumbuh besar.

“ Tapi liat itu anak-anak sudah mulai besar, duh sayangkan, dehhh terpaksa nd jadi..” (77-78)

S2 menyatakan pada saat itu, anak-anaklah yang membuat ia bertahan.

“ Iaa, karena tante lama kan baru mau punya anak. Serta dapat anak, dohh rasa sayanglah. Aah biar aja bertahan..”

(81-84)

Selain itu, S2 yakin bahwa Tuhan akan menolong ia keluar dari penderitaan yang ia hadapi.

“ Tuhan kan nda mungkin kasi biar kita menderita terus. Tetap ada jalan kaluar bagitu..” (81-84)

S2 juga menyatakan bahwa pengalaman yang tidak terlupakan memiliki suami penjudi adalah ketika suaminya tidak pulang kerumah berhari-hari karena asik bermain judi. Pada saat itu anak-anak masih kecil, S2 hanya bisa menangis dan tidak bisa tidur karena menunggu suami belum juga pulang kerumah.

“ Aduh, sampe tiga-tiga hari, dulu itu waktu anak-anak masi kecil mungkin. Mau marah tapi bagaimana ya, cuman bisa manangis, terus malam-malam nda bisa tidor..” (110-113)

Pada saat itu, S2 mengaku muncul pikiran-pikiran negatif seperti ingin cerai dari suami dan bunuh diri.

“ yah pikiran sudah macam-macam di otak rupa itu bercerai begitulah..” (113-114)

“ Kalau cuman mo pikir pendek, lebih baik bunuh diri saja..”

(152-153)

Karena alasan anak S2 kembali mengurungkan niatnya sehingga S2 hanya bisa pasrah namun tetap jengkel pada suami.

“ Nda ada, apa ya, yah mo bilang apa lagi sudah lelah, sudah bagaimana ya, ya pokoknya jengkellah..” (116-117)

S2 mengaku ia lelah mengkomunikasikan kepada suami agar berhenti judi. Akan tetapi suami tetap tidak bisa meninggalkan judi.

“ Odohh, dia nda mo dengar itu. Pokonya so lelah mo bicara itu lagi. Dia cuman mo pikir dia punya kesenangan itu..”

(147-149)

Kegiatan S2 sehari-hari adalah membuka usaha salon. Membuka salon merupakan pekerjaan dan hobi yang sudah lama digeluti oleh S2.

“ Yahh, tante kerja, inilah buka salon..” (121)

“ Ya karena dari dulu sudah bagini sudah kerja-kerja salon dan hobi..” (130-1331)

Menurut S2, dengan bekerja dapat menghibur diri dan mengalihkan pikiran-pikran negatif yang timbul akibat memiliki suami penjudi.

“ Yahh, tante kerja, inilah buka salon. Jadi nda terlalu mo sampe berpikir negaif, nda sampe mo kesana kemari.

Dokumen terkait