BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. SARAN
3. Bagi peneliti selanjutnya
Beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan dan dipertimbangkan pada penelitian selanjutnya, antara lain:
a. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat mengumpulkan sampel yang berjenis kelamin laki-laki dengan proporsi yang lebih banyak, mempertimbangkan pernyataan Britton (dalam Shoemaker, 2013) bahwa perempuan sangat menunjukkan persentase yang sangat kecil dalam tindakan kriminal maupun kenakalan remaja.
b. Variabel interaksi remaja-ayah dalam penelitian ini diambil melalui persepsi remaja. Mengingat interaksi dyadic melibatkan dua orang yang saling berinteraksi, alangkah baiknya untuk penelitian selanjutnya bisa mengambil kedua belah pihak, yakni ayah dan anak.
c. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengurangi jumlah aitem dalam skala alat ukur untuk menghindari kelelahan pada responden sehingga mengakibatkan jawaban kemungkinan mengalami bias.
d. Penelitian selanjutnya diharapkan mempertimbangkan atau memilih skala kenakalan remaja yang lebih representatif untuk remaja perempuan.
e. Kenakalan remaja merupakan isu yang sensitif. Penelitian selanjutnya diharapkan mampu memilih skala kenakalan remaja dengan social desirability yang rendah.
f. Penelitian selanjutnya diharapkan memilih teori-teori kenakalan remaja – terutama perilaku kenakalan remaja, yang sesuai dengan perilaku-perilaku kenakalan yang biasa dilakukan oleh remaja di Indonesia.
72
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M., Asrori, M. (2016). Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Astuti, V., & Puspitarani, P. (2013). Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Jarak Jauh Remaja. Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Azwar, S. (2017). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Barker, G. H., & Adams, W. T. (1962). Comparison of the delinquencies of boys
and girls. The Journal of Criminal Law, Criminology, and Police Science, 53(4), 470-475.
Barker, L. (n.d.). The Effects of Juvenile Delinquency. Diambil dari:
http://peopleof.oureverydaylife.com/effects-juvenile-delinquency-7247.html
Berk, E.L. (2012). Development Through The Lifespan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Bronte-Tinkew, J., Moore, K. A., & Carrano, J. (2006). The Father-Child Relationship, Parenting Styles, and Adolescent Risk Behaviors in Intact Families. Journal of Family Issues, 27(6), 850-881.
Carlson, M. J. (2006). Family Structure, Father Involvement, and Adolescent Behavioral Outcomes. Journal of Marriage and Family, 68(1), 137-154. Carter, K. E. (2009). The Relationship between Delinquent Behavior,
Adolescent-Parent Relationships, and Intergenerational Cycles of Crime. College of William & Mary Undergraduate Honors Theses. Paper 335. Diambil dari: http://publish.wm.edu/honorstheses/335
Collins, W. A., & Russell, G. (1991). Mother-Child and Father-Child Relationships in Middle Childhood and Adolescence: A Developmental Analysis. Developmental Review, 11(2), 99-136.
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, Inc.
Darurat Klitih di Yogyakarta. (26 Desember 2016). Diambil dari:
https://tirto.id/darurat-klitih-di-yogyakarta-cbH7?gclid=EAIaIQobChMIoOWB_5eJ1QIVxpWPCh3t2wLQEAAYAS AAEgIVJPD_BwE
Dick, G. L., & Bronson, D. (2005). Adult men's self-esteem: The relationship with the father. Families in society, 86(4), 580-588.
Dornbusch, S. M., Erickson, K. G., Laird, J., & Wong, C.A. (2001). The Relation of Family and School Attachment to Adolescent Deviance in Diverse Groups and Communities. Journal of Adolescent Research 16(4): 396-422. Erawati, M. (2009). Kajian Meta-Analisis Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan dan Externalizing Behavior pada Anak. Salatiga: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).
Fuligni, A. J., & Eccles, J. S. (1993). Perceived Parent-Child Relationships and Early Adolescents' Orientation toward Peers. Developmental psychology, 29(4), 622.
Gunarsa, S. D. (2004). Dari anak sampai usia lanjut: bunga rampai psikologi anak. BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, S. D. (1981) Teori Perkembangan. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia. Hawkins, D. N., Amato, P. R., & King, V. (2007). Nonresident Father
Involvement and Adolescent Well-Being: Father Effects or Child Effects?. American Sociological Review, 72(6), 990-1010.
Heath, P. (2009). Parent-child Relations: Context, Research, and Application 4th Edition. Merrill/Pearson.
Heath, P. (2017). Parent-Child Relations: Context, Research, and Application 4th Edition. Pearson.
Hoeve, M., Dubas, J. S., Eichelsheim, V. I., Van der Laan, P. H., Smeenk, W., & Gerris, J. R. (2009). The relationship between parenting and delinquency: A meta-analysis. Journal of abnormal child psychology, 37(6), 749-775. Jago, R., Baranowski, T., Baranowski, J. C., Cullen, K. W., & Thompson, D. I.
(2006). Social Desirability is Associated with some Physical Activity, Psychosocial Variables and Sedentary Behavior but Not Self-Reported Physical Activity among Adolescent Males. Health Education Research, 22(3), 438-449.
Kartono, K. (2008). Patologi Sosial 2. Jakarta: Grafindo Persada.
Kenakalan Remaja Masuk Daftar Potensi Ancaman di DIY. (14 Desember 2016). Diambil dari http://jogja.tribunnews.com/2016/12/14/kenakalan-remaja-masuk-daftar-potensi-ancaman-di-diy
Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2016). Rincian Data Kasus Berdasarkan Klaster Perlindungan Anak, 2011-2016. Diambil dari http://bankdata.kpai.go.id/tabulasi-data/data-kasus-per-tahun/rincian-data-kasus-berdasarkan-klaster-perlindungan-anak-2011-2016
Kuwado, F.J. (21 Desember 2012). 82 Pelajar Tewas Sia-sia karena Tawuran. https://megapolitan.kompas.com/read/2012/12/21/10534239/82.Pelajar.Te was.Sia-sia.karena.Tawuran
74
Lamb, M. E. (2010). The role of the father in child development. Hoboken, NJ: Wiley.
Lamb, M. E. (5th Ed.). (2005). The Role of the Father in Child Development. John Wiley & Sons.
López, E. E., Pérez, S. M., Ochoa, G. M., & Ruiz, D. M. (2008). Adolescent Aggression: Effects of Gender and Family and School Environments. Journal of Adolescence, 31(4), 433-450.
Luo, L. (2010). Investigation and Analysis of Parent-Child Relationship in Adolescence. Journal of Cambridge Studies, 5 (2-3), 87. https://doi.org/10.17863/CAM.1360
Mardiah. (1999). Hubungan Interaksi antara Orangtua dan Anak dengan Kenakalan Remaja. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Mardite, H. (2003). The Juvenile Justice System in Indonesia. Resource Material Series No. 68, 188.
Marici, M. (2015). Psycho-Behavioral Consequences of Parenting Variables in Adolescents. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 187, 295-300. Masngudin, S. (2004). Kenakalan Remaja Sebagai Perilaku Menyimpang
Hubungannya dengan Keberfungsian Sosial Keluarga. Tersedia http://www. depsos. go. id/Balatbang/Puslitbang% 20UKS/2004/Masngudin. htm [6 Juni 2011].
McLeod, Saul. 2008. Likert Scale. Simply Psychology diunduh: www.simplypsychology.org/likert-scale.html
Menning, C. L. (2006). Nonresident Fathers' Involvement and Adolescents' Smoking. Journal of Health and Social Behavior, 47(1), 32-46.
Mercy, J. A., Butchart, A., Farrington, D., & Cerdá, M. (2002). Youth Violence.
Diambil dari:
https://www.ncjrs.gov/App/Publications/abstract.aspx?ID=197427
Mick, D. G. (1996). Are Studies of Dark Side Variables Confounded By Socially Desirable Responding? The Case of Materialism. Journal of consumer research, 23(2), 106-119.
Mmari, K. N., Blum, R. W., & Teufel-Shone, N. (2010). What increases risk and protection for delinquent behaviors among American Indian youth? Findings from three tribal communities. Youth & Society, 41(3), 382-413. Monks, F.J. (2002) Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai
Bagiannya. Cet. 14. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Moore, K. A., Kinghorn, A. J., & Bandy, T. (2011). Parental Relationship Quality and Child Outcomes across Subgroups. Child Trends.
Mullens, A. D. (2004). The Relationship between Juvenile Delinquency and Family Unit Structure. Theses, Dissertations and Capstones, 750. Diambil dari: https://mds.marshall.edu/etd/750
Nisar, M., Ullah, S., Ali, M., & Alam, S. (2015). Juvenile Delinquency: The Influence of Family, Peer and Economic Factors on Juvenile Delinquents. Applied Science Report, 9(1), 37-48.
Noor, Juliansyah. (2011). Metodologi Penelitian. Prenada Media Group: Jakarta Palkovitz, R. (2007). Challenges to Modeling Dynamics in Developing a
Developmental Understanding of Father-Child Relationships. Applied Development Science, 11(4), 190-195
Paquette, D. (2004). Theorizing the Father-Child Relationship: Mechanism and Developmental Outcomes. Human development, 47(4), 193-219.
Paternoster, R., & Iovanni, L. (1989). The labeling perspective and delinquency: An elaboration of the theory and an assessment of the evidence. Justice Quarterly, 6(3), 359-394.
Poduthase, H. (2012). Parent-Adolescent Relationship and Juvenile Delinquency in Kerala, India: A Qualitative Study. Doctoral Dissertation. College of Social Work. University of Utah.
Pyun, Y. S. (2014). The Influence of Father-Child Relationship on Adolescents' Mental Health. (Doctoral dissertation, Minnesota State University, Mankato).
Rebellow, M. M. R. (2015). Factors Influencing Deviant Behaviour among Adolescents. Indian Journal of Applied Research, 5(10). ISSN: 2249-555X Sacks, D. (2003). Age Limits and Adolescents. Paediatrics & Child Health, 8(9),
577-577.
Sarwono, S.W. (2016). Psikologi Remaja (Edisi Revisi). Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Setiaman, Sobur. (2018). Praktikum Analisis Data Kuantitatif dengan SPSS. PPNI: Qatar
Setiaman, S. 2018. Praktikum Analisis Data Kuantitatif dengan SPSS. Qatar: PPNI.
Shader, M. (2001). Risk Factors for Delinquency: An Overview. US Department of Justice, Office of Justice Programs, Office of Juvenile Justice and Delinquency Prevention.
Sheeber, L. B., Davis, B., Leve, C., Hops, H., & Tildesley, E. (2007). Adolescents' relationships with their mothers and fathers: Associations with depressive disorder and subdiagnostic symptomatology. Journal of abnormal psychology, 116(1), 144.
76
Shoemaker, D. (2008). Juvenile Delinquency. Rowman & Littlefield.
Singh, A., & Kiran, U. V. (2012). Effect of single parent family on child delinquency. International Journal of Science and Research.
Smetana, J. G., Abernethy, A., & Harris, A. (2000). Adolescent–Parent Interactions in Middle-Class African American Families: Longitudinal Change and Contextual Variations. Journal of Family Psychology, 14(3), 458.
Smetana, J. G., Campione-Barr, N., & Metzger, A. (2006). Adolescent Development in Interpersonal and Societal Contexts. Annu. Rev. Psychol., 57, 255-284.
Soeprapto. 2001. Studi Pemetaan Tindak Pidana Kriminal di Kota Yogyakarta. Sleman: Repository UGM
Spielman, R. M., Dumper, K., Jenkins, W., Lacombe, A., Lovett, M., & Perlmutter, M. (2018). Psychology. Houston, TX: OpenStax, Rice University.
Statistik, B. P. (2010). Profil Kriminalitas Remaja. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Steinberg, L. (2000). Youth Violence: Do Parents and Families Make a
Difference?. National Institute of Justice Journal, 243, 31-38.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Penerbit CV. Alfabeta: Bandung.
Tarolla, S. M., Wagner, E. F., Rabinowitz, J., & Tubman, J. G. (2002). Understanding and Treating Juvenile Offenders: A Review of Current Knowledge and Future Directions. Aggression and Violent Behavior, 7(2), 125-143. doi: 10.1016/S1359-1789(00)00041-0
Thibaut, J.W. dan Kelley, H.H. (1959). The Social Psychology of Groups. New York: John Wiley and Sons
Unayah, N., & Sabarisman, M. (2016). Fenomena Kenakalan Remaja Dan Kriminalitas. Sosio Informa, 1(2).
Van Doorn, M. D., Branje, S. J., & Meeus, W. H. (2008). Conflict resolution in parent-adolescent relationships and adolescent delinquency. The Journal of Early Adolescence, 28(4), 503-527.
Wahyuni, S., & Adiyanti, M. G. (2010). Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pola Asuh Otoriter Orangtua Dan Kemampuan Berempati Dengan Kecenderungan Berperilaku Bullying Pada Remaja (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).
Wang, B., Stanton, B., Li, X., Cottrell, L., Deveaux, L., & Kaljee, L. (2013). The influence of parental monitoring and parent–adolescent communication on
Bahamian adolescent risk involvement: A three-year longitudinal examination. Social Science & Medicine, 97, 161-169.
Wikipedia contributors. (2019, April 25). Google Forms. In Wikipedia, The Free Encyclopedia. Retrieved 16:51, February, 2019, from https://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Google_Forms&oldid=89402 3821
Wilson, J.J. (2000). Office of Juvenile and Delinquency Prevention. Diambil dari: https://www.ncjrs.gov/html/ojjdp/juris_tap_report/ch2_08.html
Yoder, J. R., Brisson, D., & Lopez, A. (2016). Moving Beyond Fatherhood Involvement: The Association between Father–Child Relationship Quality and Youth Delinquency Trajectories. Family Relations, 65(3), 462-476. (2004). World youth report 2003 the global situation of young people. New York:
United Nations.
78
LAMPIRAN
No. Aspek Indikator Favorable Unfavorable
1. Partisipasi Ayah dan
Keterlibatan Diri Remaja dalam Hubungan Mereka
adalah persepsi remaja yang berkaitan dengan partisipasi dan keterlibatan diri dengan ayah, seperti sikap saling menghargai di antara ayah dan anak, dan keterlibatan
diri dalam pemecahan
masalah yang dihadapi
antara ayah dan anak
1. Persepsi remaja mengenai sikap saling menghargai antara ayah dan anak.
1.1.1 saya merasa bahwa ayah saya memberikan apresiasi pada suatu pencapaian saya.
1.1.3 Saya merasa berarti di hadapan ayah
1.1.5 saya merasa bahwa ayah
mendengarkan pendapat saya
1.1.7 saya merasa bahwa ayah menghormati keputusan yang saya ambil
1.1.8 ayah saya berkata bahwa saya adalah anak yang baik
1.1.2 Saya merasa bahwa ayah saya
memaksakan keinginannya kepada saya.
1.1.4 Saya merasa bahwa ayah saya memandang rendah saya
1.1.6 Saya merasa bahwa ayah menganggap saya tidak mampu dalam melakukan suatu hal.
80
2. Keterlibatan diri dalam
pemecahan masalah antara ayah dan anak
1.2.7 Saya merasa bahwa ayah saya mampu memberikan solusi terhadap masalah yang saya hadapi
1.2.9 Saya merasa bahwa ayah saya mampu untuk diajak berdiskusi
1.2.11 Saya merasa bahwa ayah saya memberikan saran terhadap masalah yang saya hadapi
1.2.8 Saya merasa bahwa ayah pasif dalam permasalahan yang saya hadapi
1.2.10 Saya merasa bahwa ayah saya
menyepelekan masalah yang saya hadapi
1.2.12 Saya merasa bahwa ayah saya tidak mendengarkan masalah yang saya hadapi
2. Keterbukaan Sikap Ayah,
adalah persepsi remaja yang
berkaitan dengan
keterbukaan sikap ayah, seperti toleransi ayah
terhadap perbedaan
pendapat, kemampuan ayah memberikan alasan terhadap
suatu perbuatan atau
keputusan yang diambil,
1. Toleransi ayah terhadap
perbedaan pendapat.
2.1.13 saya merasa bahwa ayah saya terbuka terhadap pandangan politik saya
2.1.15 saya merasa bahwa ayah ayah saya tetap menerima pendapat saya yang berbeda dengan beliau
2.1.17 saya merasa bahwa ayah saya membebaskan saya ketika berargumen
2.1.14 saya merasa bahwa ayah saya
memaksakan pandangan politiknya terhadap saya
2.1.16 saya merasa bahwa ayah saya tidak setuju jika pendapat saya berbeda dengan beliau
2.1.18 saya merasa bahwa ayah saya membatasi saya dalam berargumen
untuk mengembangkan komitmen terhadap tugas, serta kehadiran ayah di
rumah dan keakraban
hubungan antara ayah
dengan remaja.
terhadap suatu perbuatan atau keputusan yang diambil.
ingin melakukan suatu kegiatan
2.2.21 saya merasa bahwa ayah saya dapat memberikan alasan yang masuk akal untuk melarang saya dalam melakukan sesuatu
2.2.23 saya merasa bahwa ayah saya dapat diandalkan untuk memberikan penjelasan yang konkret terhadap pilihan jurusan yang saya ambil
kegiatan
2.2.22 saya merasa bahwa ayah saya merikan alasan yang tidak masuk akal untuk melarang saya dalam melakukan sesuatu
2.2.24 saya merasa bahwa ayah saya tidak dapat diandalkan untuk memberikan penjelasan yang konkret terhadap piihan jurusan yang saya ambil
3. Keterbukaan ayah terhadap minat yang luas.
2.3.25 saya merasa bahwa ayah saya tidak membatasi hobi saya
2.3.27 saya merasa bahwa ayah saya tidak menghakimi hal yang saya lakukan
2.3.29 saya merasa bahwa ayah saya memiliki pikiran yang terbuka terhadap hal yang saya minati
2.3.26 saya merasa bahwa ayah saya melarang saya untuk melakukan hobi yang saya sukai
2.3.28 saya merasa bahwa ayah saya
menghakimi hal yang saya lakukan
2.3.30 saya merasa bahwa ayah saya memiliki pikiran yang sempit terhadap hal yang saya minati
82
4. Kehadiran ayah di rumah dan keakraban hubungan antara ayah dengan remaja.
2.4.31 saya merasa bahwa ayah saya adalah sosok yang nyaman untuk diajak bercanda
2.4.33 saya merasa bahwa ayah saya dapat diandalkan untuk menyelesaikan masalah yang saya hadapi
2.4.35 saya merasa bahwa ayah saya ada ketika makan malam bersama
2.4.32 saya merasa bahwa ayah saya kaku
2.4.34 saya merasa bahwa ayah saya tidak dapat diandalkan untuk menyelesaikan masalah yang saya hadapi
2.4.36 saya merasa bahwa ayah saya tidak menyempatkan waktu untuk makan malam bersama
3. Kebebasan diri untuk bereksplorasi, adalah
persepsi remaja yang
berkaitan dengan kebebasan diri yang diberikan ayah untuk melakukan eksplorasi di lingkungan, seperti
dorongan ayah untuk
mengembangkan rasa ingin tahu yang lebih besar, perasaan aman dan bebas yang diberikan oleh ayah
untuk mengadakan
eksplorasi dalam rangka
1. Dorongan ayah untuk
mengembangkan rasa ingin tahu yang lebih besar.
3.1.37 saya merasa bahwa ayah saya menyarankan saya untuk mencari tahu sendiri hal yang saya tidak ketahui
3.1.39 saya merasa bahwa ayah saya meminta saya untuk membaca buku, berita, atau artikel
3.1.41 saya merasa bahwa ayah saya mendorong saya untuk berkembang
3.1.38 saya merasa bahwa ayah saya
menghambat saya untuk mencari sendiri suatu hal yang tidak saya ketahui
3.1.40 saya merasa bahwa ayah saya tidak meminta saya untuk membaca buku, berita, atau artikel
3.1.42 saya merasa bahwa ayah saya
menghambat saya untuk berkembang
2. Perasaan aman dan bebas yang diberikan oleh ayah untuk
3.2.43 saya merasa bahwa ayah saya mendorong saya untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan
3.2.44 saya merasa bahwa ayah saya
membungkam saya untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan
remaja mengenai terdapat aturan yang harus ditaati dan
cenderung tidak
mengancam.
memberikan rasa aman untuk menjaga rahasia saya
3.2.47 saya merasa bahwa ayah saya tidak
mengekang ketika saya memiliki
ketertarikan terhadap lawan jenis
dipercaya untuk menyimpan rahasia saya
3.2.48 saya merasa bahwa ayah saya melarang saya tertarik terhadap lawan jenis
3. Persepsi remaja mengenai aturan yang harus ditaati dan cenderung tidak mengancam.
3.3.49 saya merasa bahwa ayah saya membebaskan saya melakukan apa saja asalkan saya bertanggung jawab
3.3.51 saya merasa bahwa aturan yang ayah saya terapkan di rumah tidak mengekang saya
3.3.53 saya merasa bahwa ayah saya mengajarkan norma-norma kebaikan di masyarakat
3.3.50 saya merasa bahwa ayah saya mengekang apa saja yang ingin saya lakukan
3.3.52 saya merasa bahwa aturan ayah di rumah mengganggu kebebasan saya
3.3.54 saya merasa bahwa ayah saya tidak
mengajarkan norma-norma kebaikan di
84
Lampiran 2. Blueprint Skala Kenakalan Remaja
No Kategori Perilaku Favorable Unfavorable
1 Kenakalan dasar,
merupakan bentuk kenakalan yang dianggap wajar apabila dilakukan oleh remaja.
1. Berkelahi 2. Bolos sekolah 3. Keluyuran
4. Pergi dari rumah tanpa pamit 5. Memeras
6. Mengancam
7. Melakukan tindakan asusila 8. Vandalisme
1.1.1. Saya memukul seseorang ketika orang tersebut membuat saya kesal sehingga terjadi perkelahian
1.1.2. Saya berkelahi untuk menyelesaikan masalah dengan seseorang
1.2.1. Saya melarikan diri dari sekolah pada saat pelajaran yang membosankan 1.2.2. Saya meninggalkan kelas tanpa alasan untuk menghindari tugas-tugas sekolah
1.3.1. Saya bermain sampai larut malam
1.3.2. Saya nongkrong di luar sekolah bersama teman-teman pada jam sekolah
1.1.3. Saya menghindari perkelahian dengan seseorang yang membuat saya kesal
1.1.4. Saya menyelesaikan masalah dengan seseorang dengan cara berdiskusi
1.2.3. Saya tetap tinggal dan mendengarkan guru meskipun pelajaran di kelas membosankan 1.2.4. Saya mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik
1.3.3. Saya bermain namun tidak sampai larut malam
1.3.4. Saya menolak ajakan teman-teman untuk nongkrong di luar sekolah pada jam sekolah
1.4.1. Ketika teman saya mengajak bermain ke luar rumah, saya akan pergi tanpa pamit dengan orangtua
1.4.2. Saya tidak memberi kabar kepada orangtua kemana saya akan pergi
1.5.1. Ketika saya tidak punya uang, saya akan menghadang teman saya untuk memintainya uang dengan paksa 1.5.2. Saya meminta dengan paksa kepada teman saya untuk mengerjakan tugas pribadi atau PR saya
1.6.1. Saya berniat untuk menyulitkan kehidupan seseorang ketika kehidupan saya terganggu oleh perbuatannya 1.6.2. Ketika saya kesal dengan perbuatan teman saya, saya mengutarakan kepadanya untuk mencelakakan dia
bermain ke luar rumah
1.4.4. Saya memberi tahu kepada orangtua kemana saya akan pergi
1.5.3. Saya meminjam uang kepada teman saya tanpa ada paksaan 1.5.4. Saya mengerjakan PR dan tugas pribadi sesuai kemampuan saya
1.6.3. Ketika ada teman yang mengganggu saya, saya memilih untuk mengabaikannya
1.6.4. Saya mengingatkan secara halus perbuatan teman saya yang membuat saya kesal
86
1.7.1 Saya mengintip teman lawan jenis saya di toilet
1.7.2. Saya dengan sengaja menyentuh area intim seseorang
1.8.1. Saya merusak meja atau kursi di dalam kelas
1.8.2. Saya mecoret-coret fasilitas umum dengan cat semprot
1.7.3. Saya menghormati privasi teman lawan jenis saya
1.7.4. Saya tidak berbuat secara senonoh terhadap teman saya
1.8.3. Saya menjaga fasilitas sekolah 1.8.4. Saya menjaga kebersihan fasilitas umum
2 Kenakalan menengah,
merupakan bentuk kenakalan yang mengarah pada tindakan melanggar hukum dan kejahatan.
1. Mencuri
2. Mengendarai kendaraan tanpa SIM 3. Ugal-ugalan di jalan 4. Judi 5. Tawuran 6. Menganiaya 7. Mengeroyok
8. Meminum minuman keras
2.1.1. Saya mengambil barang-barang seseorang tanpa sepengetahuan 2.1.2. Saya mengambil barang-barang di toko tanpa membayarnya
2.2.1. Saya mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya walaupun belum cukup umur
2.2.2. Meskipun saya belum memiliki SIM, saya tetap berkendara di jalan raya
2.1.3. Saya meminjam barang seseorang dengan meminta ijin 2.1.4. Saya membayar barang-barang di toko sesuai dengan yang saya ambil
2.2.3. Saya berkendara bersama orang yang sudah cukup umur dan sudah memiliki SIM
2.3.2. Saya kebut-kebutan di jalan raya dan tidak peduli dengan keselamatan pengendara lain
2.4.1. Saya melakukan taruhan dalam bentuk uang ketika bermain kartu dengan teman-teman saya
2.4.2. Saya mengikuti permainan judi online
2.5.1. Saya menyerang gank sekolah lain secara beramai-ramai
2.5.2. Saya membuat kerusuhan ketika melihat gank sekolah lain
2.6.1. Saya memperlakukan orang dengan sewenang-wenang
2.6.2. Saya akan menindas teman saya yang mengganggu saya
2.3.4. Saya berkendara dengan memperhatikan keselamatan saya dan orang lain
2.4.3. Saya tidak mengikuti permainan judi dalam bentuk apapun
2.5.3. Saya menolak ajakan teman untuk menyerang sekolah lain 2.5.4. Saya menjaga ketentraman dan kerukunan antar sekolah
2.6.3. Saya bersikap baik terhadap orang-orang atau teman saya
88
2.7.1. Saya melakukan kekerasan fisik terhadap seseorang secara beramai-ramai
2.7.2. Saya mengeroyok seseorang yang tidak saya suka
2.8.1. Saya membeli dan meminum minuman keras
2.8.2. Saya meminum minuman keras hingga kehilangan kesadaran (mabuk).
2.7.3. Saya mengajak seseorang untuk berteman dengan saya
2.8.3. Saya menjaga tubuh saya dari segala jenis minuman keras
Lampiran 3. Skala Interaksi Remaja dan Ayah dan Kenakalan Remaja
SKALA PENELITIAN
Disusun oleh: G.M. Surya Widya Sabda
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2019
90
Kepada
Responden yang terhormat
Yang turut berpartisipasi dalam penelitian ini
Dengan hormat,
Saya, G.M. Surya Widya Sabda, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta hendak meminta bantuan kepada saudara untuk meluangkan waktu sejenak mengisi skala penelitian ini sesuai dengan keadaan, perasaan, dan pikiran saudara saat ini.
Tidak ada penilaian benar salah atau salah dalam mengisi skala penelitan ini sehingga saudara diharapkan untuk mengisi dengan jujur dan sebenar-benarnya tanpa dipengaruhi oleh siapapun. Informasi yang diberikan oleh saudara akan sangat terjaga kerahasiaannya.
Kuesioner ini terbagi dalam dua bagian. Saya mohon kepada saudara untuk membaca dan memperhatikan petunjuk pengisian yang diberikan sebelum mengisi skala penelitian ini. Jangan sampai ada pernyataan yang terlewat atau tidak terjawab.
Atas bantuan dan kerjasama saudara, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
LEMBAR IDENTITAS