ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
D. Analisis Pelaporan PPh Pasal 21
VI. BAGIAN E Pernyataan dan
Tanda Tangan
Kolom Pernyataan : Beri tanda (X) pada kotak yang sesuai. Pimpinan (yang tercantum namanya didalam “NAMA PIMPINAN”) atau kuasanya wajib menandatangani dan membubuhkan nama lengkap, NPWP yang bersangkutan dan membubuhkan cap perusahaan serta mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun diisinya SPT Tahunan ini pada tempat yang sudah tersedia.
Kolom Diisi oleh Petugas : Berilah tanda (X) dalam kotak yang sesuai. Pegawai menandatangani dan membubuhkan nama lengkap, NPWP yang bersangkutan dan
membubuhkan cap perusahaan serta mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun diisinya SPT Tahunan ini pada tempat yang sudah tersedia.
Sumber : Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER-32/PJ/2009
Penulis mengetahui bahwa terdapat kesamaan mengenai tata cara
pengisian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa untuk Masa Pajak Oktober,
November dan Desember Tahun Pajak 2012, sehingga penulis hanya akan
mengevaluasi satu sampel SPT Masa yaitu SPT Masa untuk Masa Pajak
Desember 2012. Tata cara pengisian SPT Masa Pajak Desember oleh CV.
Adicita Prayoga dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 27. Tata Cara Pengisian SPT Masa oleh CV. Adicita Prayoga I. BAGIAN INDUK
SPT Normal Diisi dengan memberi tanda silang (X) pada kotak di depan baris “SPT Normal” karena SPT yang disampaikan merupakan SPT biasa.
SPT Pembetulan Tidak diberi tanda silang (X) pada kotak di depan baris “SPT Pembetulan Ke-__” karena SPT yang disampaikan bukan merupakan SPT Pembetulan.
Tahun Kalender Diisi dengan “2012” yang merupakan Tahun Kalender yang bersangkutan.
Masa Pajak Diisi dengan “12/2012” yang merupakan Masa Pajak yang bersangkutan.
II. BAGIAN A
Angka 1 : NPWP Diisi dengan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) CV. Adicita Prayoga yaitu “31.165.821.5-525.000”.
Angka 2 : Nama WP Bagian ini diisi “CV. ADICITA PRAYOGA”.
Angka 3 : Alamat Bagian ini diisi dengan “JL. MANAHAN NO.11 RT 003 RW007 KLATEN UTARA, KLATEN”..
Angka 4 : Nomor Telepon
Tidak diisi nomor telepon, seharusnya diisi dengan nomor telepon CV. Adicita Prayoga.
Angka 5 : Alamat Email
Tidak diisi dengan alamat email.
III. BAGIAN B
Angka 6 – angka 19 Kolom 3 : Diisi dengan jumlah karyawan/orang yang menerima penghasilan yaitu “56” Pegawai
Tetap dan “50” Pegawai tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas.
Kolom 4 : Diisi dengan jumlah penghasilan yang dibayarkan yaitu sebesar “104.876.000” bagi Pegawai Tetap dan “62.975.200” bagi Pegawai tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas.
Kolom 5 : Diisi dengan Jumlah PPh Pasal 21 yang dipotong yaitu sebesar “323.250”.
Catatan : Jumlah angka tersebut diisi dengan jumlah kumulatif dalam tahun 2012 karena SPT Masa Desember. Angka 20 Diisi dengan hasil penjumlahan angka 6 sampai dengan
angka 19 yaitu “106” untuk Jumlah Penerima Penghasilan (3), “167.851.200” untuk Jumlah Penghasilan Bruto (4), dan “323.250” untuk Jumlah Pajak Terutang (5)
Angka 21 Diisi “215.500” yang merupakan PPh Pasal 21 yang telah Disetor pada Masa Pajak Oktober s.d. November.
Angka 22 Tidak diisi karena tidak ada STP PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26.
Angka 23 Tidak diisi karena tidak ada kelebihan setor PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26.
Angka 24 Diisi dengan hasil penjumlahan angka 21 (215.500) + angka 22 (0)+ angka 23 (0) yaitu “ 215.500”.
Angka 25 Diisi dengan hasil pengurangan angka 20 (323.250) dengan angka 24 (215.500) yaitu “107.750”.
Angka 25a Tidak diisi karena penyetoran tidak dengan SSP PPh Pasal 21 ditanggung pemerintah.
Angka 25b Diisi dengan PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 yang disetor dengan SSP yaitu “107.750”.
Angka 26 Tidak diisi karena SPT Normal bukan SPT Pembetulan. Angka 27
Angka 28 IV. BAGIAN C Angka 29 – angka 31
Tidak diisi karena tidak ada Objek Pajak yang bersifat Final.
V. BAGIAN D
Lampiran Diisi dengan memberi tanda silang (X) pada kotak di depan “Surat Setoran Pajak” yang berjumlah “1” lembar. Sebaiknya dilampirkan juga Daftar Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Tidak Final.
VI. BAGIAN E Pernyataan dan Tanda Tangan
Kolom Pernyataan : Diberi tanda (X) pada kotak PEMOTONG PAJAK (PIMPINAN) dengan Nama : “FR. KISWARI”, NPWP : “24.402.359.4-525.000”. Pemotong Pajak juga menandatanganinya dan memberi cap “CV. Adicita Prayoga” serta mencantumkan tanggal diisinya SPT yaitu pada “18/01/2013”.
Kolom Diisi oleh Petugas : Tidak diisi oleh petugas. Seharusnya diberi tanda (X) dalam kotak yang sesuai, Pegawai menandatangani dan membubuhkan nama lengkap, NPWP yang bersangkutan dan membubuhkan cap perusahaan serta mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun diisinya SPT Tahunan ini pada tempat yang sudah tersedia.
Sumber : CV. Adicita Prayoga
E. Pembahasan
Untuk membahas masalah yang terkait dengan penghitungan
pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutang untuk Pegawai
Tetap, CV. Adicita Prayoga telah melakukan penghitungan PPh Pasal 21
dengan menggunakan formula yang sudah sesuai pada umumnya yang
digunakan dalam menghitung PPh Pasal 21. Tetapi terdapat perbedaan
dalam penghitungan yang dilakukan perusahaan dengan yang dilakukan
penulis. Perbedaan tersebut adalah dalam hal cara penghitungan untuk
pegawai yang dipindahtugaskan dan dalam penentuan PTKP (Penghasilan
Tidak Kena Pajak) yang diterapkan. Pada penghitungan pegawai yang
dipindahtugaskan, perusahaan tidak ikut menyertakan penghasilan neto dari
masa sebelumnya dan PPh Pasal 21 yang telah dipotong pada masa
Perusahaan menentukan PTKP untuk pegawai baru yaitu PTKP
sebulan dikalikan dengan jumlah bulan sejak pegawai mulai bekerja.
Apabila pegawai mulai bekerja pada bulan Oktober, maka PTKP untuk
pegawai tersebut sebesar PTKP satu tahun dikali 3 (tiga) kemudian dibagi
12 (dua belas) atau PTKP satu bulan dikali 3 (tiga). Sedangkan
penghitungan yang dilakukan penulis berdasarkan Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor:PER-31/PJ/2009 dalam hal penentuan PTKP yaitu
PTKP diterima oleh pegawai selama satu tahun penuh (dua belas bulan).
Sehingga dalam hal penghitungan, perusahaan belum sepenuhnya mengacu
pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor:PER-31/PJ/2009 yang
menyebabkan terdapat selisih pada besarnya PPh Pasal 21 yang terutang.
Terdapat beberapa komponen penghitungan yang sudah diterapkan
CV. Adicita Prayoga dalam penghitungan PPh Pasal 21.Komponen tersebut
antara lain penentuan penghasilan yang digunakan sebagai objek pajak,
besarnya pengurang yang digunakan (biaya jabatan dan iuran-iuran lain),
dan penentuan tarif pasal 17 UU PPh.
Dalam menentukan penghasilan yang digunakan sebagai objek pajak,
CV. Adicita Prayoga sudah mengacu pada Pasal 5 ayat (1)a
PER-31/PJ/2009 yang berbunyi Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau
Pasal 26 adalah penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap,
baik berupa penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur.
Perusahaan sudah melakukan pemotongan terhadap penghasilan yang
penghasilan yang bersifat teratur karena perusahaan yang baru didirikan
pada bulan Oktober 2012 ini belum memberikan Tunjangan Hari Raya
(THR) yang hanya diberikan pada bulan Agustus.
Pada bagian pengurang penghasilan bruto, CV. Adicita Prayoga
mengurangkan penghasilan bruto dengan Biaya Jabatan dan Biaya THR.
Penerapan pengurang penghasilan bruto berupa Biaya Jabatan sudah
mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009.
Untuk besarnya Biaya Jabatan, CV. Adicita Prayoga mengacu pada Pasal 10
ayat (3)a PER-31/PJ/2009 yang berbunyi biaya jabatan, sebesar 5% (lima
persen) dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya Rp500.000,00 (lima ratus
ribu rupiah) sebulan atau Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) setahun.
Dalam menghitung besarnya biaya jabatan, perusahaan telah mengalikan
penghasilan bruto dengan tarif biaya jabatan sebesar 5% (lima persen).
Sedangkan untuk Biaya THR belum ada penerapan karena Biaya THR ini
berhubungan dengan THR Agustus yang juga belum diberikan kepada
pegawainya. Penggunaan istilah Biaya THR sebagai biaya untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara THR Agustus sebetulnya tidak
tepat dalam perpajakan. Seharusnya perusahaan menggunakan istilah Biaya
Jabatan atas THR, sehingga istilah itu tidak menimbulkan pemaknaan yang
tidak tepat.
Untuk mendapatkan Penghasilan Kena Pajak (PKP), penghasilan
bruto yang telah dikurangi dengan Biaya Jabatan dan Iuran-iuran, dikurangi
penentuan PTKP, CV. Adicita Prayoga belum mengacu pada Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor:PER-31/PJ/2009. Dalam penentuan PPh
Pasal 21 terutang bagi pegawainya, CV. Adicita Prayoga telah mengacu
pada Pasal 17 UU PPh tentang tarif PPh Pasal 21 yang dikenakan.
Kemudian untuk mencari PPh Pasal 21 terutang, tarif tersebut dikalikan
dengan PKP.
Berikut ini disajikan tabel yang menguraikan perbandingan
penghitungan PPh Pasal 21 antara CV. Adicita Prayoga dengan penulis
berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009
Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009:
No Pegawai
CV. Adicita Prayoga (Rp)
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009
(Rp) Selisih (Kurang)/Lebih Bayar (Rp) PKP PPh/th (Oktober, November, Desember) PKP PPh/th (Oktober, November, Desember) PKP PPh/th (Oktober, November, Desember) 1 Fr. Kiswari 2.880.000 144.000 13.800.000 342.000 (10.920.000) (198.000) 2 Urip Widyatmoko 1.845.000 92.250 9.755.000 356.250 (7.910.000) (264.000) 3 Lastyo Army DJ. 750.000 37.500 4.900.000 245.000 (4.150.000) (207.500) 4 Jaka Mulyata 990.000 49.500 6.050.000 302.500 (5.060.000) (253.000) 5 Th. Sulistyawati (540.000) - (1.430.000) - 890.000 - 6 Sri Widodo (1.485.000) - (15.345.000) - 13.860.000 - 7 Catur Yulianto (2.145.000) - (7.895.000) - 5.750.000 - 8 Dwi Prasetyo (1.387.500) - (16.237.500) - 14.850.000 - JUMLAH 907.500 323.250 (6.402.500) 1.245.750 7.310.000 (922.500)
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa terdapat selisih penghitungan
antara penghitungan yang dilakukan oleh CV. Adicita Prayoga dengan
penghitungan yang dilakukan oleh penulis. Hal tersebut dikarenakan
terdapat perbedaan dalam penentuan besarnya PTKP. Dalam hal ini,
perusahaan kurang bayar sebesar Rp922.500,00 (sembilan ratus dua puluh
ribu lima ratus rupiah). Seharusnya perusahaan tidak memotong PPh Pasal
21 terhadap penghasilan yang diterima oleh pegawai, karena penghasilan
yang diterima selama setahun masih di bawah PTKP.
Adanya ketidaksamaan penghitungan yang dilakukan perusahaan dan
yang dilakukan oleh penulis terjadi karena ketidakpahaman perusahaan
dalam penghitungan PPh terutang untuk pegawai yang dipindahtugaskan
dan dalam menentukan besarnya PTKP yang diterima oleh pegawai yang
baru mulai bekerja pada tahun berjalan. Pada penghitungan PPh Pasal 21
terutang untuk pegawai yang dipindahtugaskan, perusahaan melakukan
kesalahan dengan tidak menyertakan Penghasilan Neto pada masa
sebelumnya dan PPh Pasal 21 yang dipotong pada masa sebelumnya.
Seharusnya perusahaan menyertakan kedua hal tersebut dalam melakukan
penghitungan PPh Pasal 21 terutang. Pada Formulir 1721-A1 perusahaan
telah tepat dalam melakukan penghitungan PPh Pasal 21 terutang tetapi
perusahaan sudah memotong PPh Pasal 21 terlebih dahulu dengan
meniadakan kedua hal tersebut.
Kemudian untuk pegawai baru yang mulai bekerja pada tahun
pegawai tersebut adalah jumlah PTKP selama pegawai tersebut mulai
bekerja di perusahaan. Misalnya, pegawai mulai bekerja pada bulan Oktober
maka PTKP yang diterima oleh pegawai tersebut adalah PTKP selama 3
(tiga) bulan. Perusahaan tidak memberikan PTKP selama satu tahun penuh
kepada pegawai. Pegawai yang mulai bekerja pada tahun berjalan berhak
memperoleh PTKP selama satu tahun penuh. Hal ini menyebabkan
terjadinya selisih yang besar pada PKP yang dihitung oleh perusahaan
dengan PKP yang dihitung oleh penulis.
Secara lengkap pembahasan mengenai perbandingan komponen
penghitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan pegawai tetap yang dilakukan
CV. Adicita Prayoga dan penulis berdasar teori dapat dilihat pada tabel
Tabel 29. Perbandingan Komponen Penghitungan PPh Pasal 21 antara Praktik di CV. Adicita Prayoga dan Peraturan Perpajakan yang berlaku untuk Penghasilan Teratur
Tabel 29. (Lanjutan)
Untuk membahas masalah yang terkait dengan penyetoran PPh Pasal
21, CV. Adicita Prayoga sudah melakukan penyetoran yang mengacu pada
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009. Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan penulis pada Surat Setoran Pajak untuk Masa
Pajak Oktober, November dan Desember, penulis mencatat bahwa CV.
Adicita Prayoga telah menggunakan bentuk formulir yang terbaru yang
sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-38/PJ/2009.
Perusahaan terlebih dahulu mencetak formulir SSP kemudian mengisinya
dengan ditulis tangan, dan dibuat dalam 4 (empat) rangkap.
Berdasarkan pengamatan penulis terhadap formulir SSP yang ada,
CV. Adicita Prayoga telah mengisi SSP dengan benar, lengkap, jelas, dan
menandatanganinya. CV. Adicita Prayoga mengisi SSP dengan benar, hal
ini bisa dilihat dari penulisan jumlah rupiah yang ditulis sesuai dengan yang
ada dalam perusahaan, dalam hal ini terdapat rekapitulasi gaji pegawai yang
dipotong PPh Pasal 21 selama tahun 2012. Kelengkapan, CV. Adicita
Prayoga telah mengisi semua bagian kolom yang seharusnya diisi dan SSP
dibuat dalam 4 (empat) rangkap. Dalam hal penulisan atau pengisian SSP,
CV. Adicita Prayoga mengisi dengan tulisan tangan yang jelas dan mudah
dibaca. Dan Fr. Kiswari sebagai Direktur CV. Adicita Prayoga
menandatangani SSP yang telah diisi. Selain itu, Pajak Penghasilan Pasal 21
dibayar atau disetor melalui Kantor Pos Klaten dan dibayar atau disetor
tepat waktu yaitu tidak lebih dari tanggal 10 (sepuluh) pada bulan takwin
Perusahaan yang sebelumnya telah melakukan kesalahan dalam
melakukan penghitungan PPh Pasal 21 akan mengakibatkan kesalahan pula
dalam melakukan pengisian SSP. Pada tahun 2012, perusahaan seharusnya
tidak menyetor PPh Pasal 21 ke kas negara karena tidak ada penghasilan
pegawai yang dipotong PPh Pasal 21 sehingga besar PPh Pasal 21 untuk
tahun 2012 adalah 0 (nol).
Berikut disajikan tabel mengenai perbandingan penyetoran yang
dilakukan CV. Adicita Prayoga dengan penyetoran berdasarkan peraturan
perpajakan.
Tabel 30. Perbandingan penyetoran yang dilakukan CV. Adicita Prayoga dengan penyetoran berdasarkan peraturan perpajakan.
Sumber: Data yang diolah
Untuk membahas masalah yang terkait dengan pelaporan PPh Pasal
21, CV. Adicita Prayoga belum sepenuhnya melakukan pelaporan dengan
mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009.
Dalam melakukan kewajiban pelaporan PPh Pasal 21, CV. Adicita Prayoga
menggunakan SPT Masa yang terbaru yang sesuai dengan Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2009. SPT Masa diisi dengan
menggunakan bantuan perangkat komputer. Berdasarkan pengamatan
penulis, Surat Pemberitahuan untuk Masa Pajak November dan Desember
diisi dengan benar, jelas, dan menandatanganinya. Untuk Masa Pajak
Oktober terdapat kesalahan dalam penulisan angka pada Jumlah
Penghasilan Bruto untuk 20 (dua puluh) Pegawai Tetap. Jumlah penghasilan
di SPT tidak sama dengan jumlah penghasilan yang terdapat di Rekapitulasi
SPT Masa PPh Pasal 21. Pada SPT dituliskan sebesar Rp39.896.000,00
sedangkan pada rekapitulasi sebesar Rp23.532.000,00 sehingga terdapat
selisih sebesar Rp16.364.000,00. Hal ini tidak sesuai dengan poin kebenaran
dalam pengisian SPT. Pengisian SPT Masa dilakukan menggunakan
perangkat komputer, maka pengisian dapat dibaca dengan jelas. Semua
bagian yang diisi dalam SPT bersumber pada rekapitulasi penghasilan dan
data-data arsip yang telah disusun oleh perusahaan.
Dalam hal kelengkapan pelaporan yaitu pada bagian lampiran, pada
Masa Pajak Oktober perusahaan telah melampirkan sesuai dengan peraturan
perpajakan yang berlaku. Sedangkan untuk Masa Pajak November dan
perubahan pegawai tetap. Karena di bulan November dan Desember ada
pegawai tetap yang masuk untuk bekerja di perusahaan. Dan khusus di
Masa Pajak Desember perusahaan belum melampirkan Formulir 1721-I
tentang Daftar bukti pemotongan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 untuk
Pegawai Tetap dan Penerima Pensiun Berkala. Formulir ini wajib
disampaikan hanya pada Masa Pajak Desember. Hal ini membuat CV.
Adicita Prayoga menjadi kurang lengkap dalam penyampaian SPT Masa.
Fr. Kiswari sebagai Direktur CV. Adicita Prayoga menandatangani
SPT Masa yang telah diisi. CV. Adicita Prayoga menyampaikan SPT Masa
ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Klaten melalui Kantor Pos
Klaten dan disampaikan tepat watu yaitu tidak lebih dari tanggal 20 (dua
puluh) bulan takwin berikutnya setelah berakhirnya masa pajak.
Perusahaan yang sebelumnya telah melakukan kesalahan dalam
melakukan penghitungan PPh Pasal 21 yang mengakibatkan kesalahan
dalam melakukan pengisian SSP, dalam hal pengisian SPT yang berkaitan
dengan PPh Pasal 21 yang dilaporkan juga menjadi tidak sesuai dengan
yang seharusnya. Pada tahun 2012, perusahaan seharusnya melaporkan PPh
Pasal 21 sebesar Rp0 (nol). Walaupun tidak ada penghasilan yang dipotong
PPh Pasal 21, perusahaan berewajiban untuk tetap melakukan pelaporan
melalui SPT.
Berikut disajikan tabel mengenai perbandingan pelaporan yang
dilakukan CV. Adicita Prayoga dengan pelaporan berdasarkan peraturan
Tabel 31. Perbandingan pelaporan yang dilakukan CV. Adicita Prayoga dengan pelaporan berdasarkan peraturan perpajakan.
Sumber: Data yang diolah
128
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan
pada CV. Adicita Prayoga Klaten, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
1. Dalam melakukan penghitungan pemotongan PPh Pasal 21, CV.
Adicita Prayoga belum sepenuhnya menerapkan Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009. Bagian yang belum sesuai
dengan peraturan perpajakan adalah penghitungan PPh Pasal 21
terutang untuk pegawai yang dipindahtugaskan dan penentuan besarnya
PTKP yang diterima pegawai sebagai pegawai baru yang mulai bekerja
pada tahun berjalan sehingga menyebabkan kesalahan dalam
penghitungan PPh Pasal 21 terutang di tahun 2012. Bagian yang telah
mengacu pada peraturan perpajakan antara lain:
a. CV. Adicita Prayoga telah menentukan penghasilan bruto yaitu gaji
yang diterima/diperoleh pegawai tetap.
b. Penerapan pengurang penghasilan bruto, dengan mengurangkan
penghasilan bruto dengan Biaya Jabatan.
c. Tarif PPh Pasal 21 yang digunakan CV. Adicita Prayoga dalam
menghitung PPh Pasal 21 terutang telah mengacu pada tarif pasal
2. Dalam melakukan penyetoran PPh Pasal 21, CV. Adicita Prayoga telah
menerapkan peraturan yang berlaku, antara lain:
a. CV. Adicita Prayoga menggunakan formulir Surat Setoran Pajak
(SSP) sebagai media dalam pembayaran atau penyetoran PPh Pasal
21. Bentuk formulir SSP yang digunakan adalah format SSP yang
baru berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
PER-38/PJ/2009 tentang Bentuk Formulir Surat Setoran Pajak.
b. CV. Adicita Prayoga mengisi semua SSP untuk Masa Pajak
Oktober, November dan Desember 2012 dengan benar, jelas,
lengkap, dan telah ditandatangani.
c. CV. Adicita Prayoga membayar atau menyetor Pajak Penghasilan
Pasal 21 ke Kantor Pos Klaten.
d. CV. Adicita Prayoga membayar atau menyetor Pajak Penghasilan
Pasal 21 tepat waktu yaitu tidak lebih dari tanggal 10 (sepuluh)
bulan takwin berikutnya setelah masa pajak berakhir.
3. Dalam melakukan pelaporan PPh Pasal 21, CV. Adicita Prayoga belum
sepenuhnya melakukan pelaporan sesuai dengan peraturan yang
berlaku. Pengisian SPT untuk Masa Pajak Oktober 2012 tidak
dilakukan dengan benar karena terdapat kesalahan dalam memasukkan
angka pada bagian Jumlah Penghasilan Bruto untuk Karyawan Tetap.
Untuk Masa Pajak November, SPT tidak dilampirkan dengan Formulir
1721-II tentang Daftar perubahan pegawai tetap. Dan untuk Masa Pajak
Daftar bukti pemotongan PPh Pasal 21 untuk pegawai tetap dan
Formulir 1721-II tentang Daftar perubahan pegawai tetap. Formulir
1721-I wajib dilampirkan pada Masa Pajak Desember. Formulir 1721-II
wajib dilampirkan karena terdapat perubahan pegawai tetap. Bagian
yang sudah sesuai antara lain:
a. CV. Adicita Prayoga menggunakan formulir Surat Pemberitahuan
(SPT) sebagai media dalam pelaporan PPh Pasal 21. Bentuk
formulir SPT yang digunakan adalah format SPT yang baru
berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
PER-32/PJ/2009 tentang Bentuk Formulir Surat Pemberitahuan Masa
Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 dan Bukti
Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau
Pasal 26.
b. CV. Adicita Prayoga mengisi SPT untuk Masa Pajak Oktober
dengan jelas, lengkap dan telah ditandatangani, dan SPT untuk
Masa Pajak November, dan Desember diisi dengan jelas dan telah
ditandatangi.
c. CV. Adicita Prayoga melaporkan Pajak Penghasilan Pasal 21
dengan menggunakan SPT Masa ke Kantor Pelayanan Pajak
melalui Kantor Pos Klaten.
d. CV. Adicita Prayoga melaporkan Pajak Penghasilan Pasal 21 tepat
waktu yaitu tidak lebih dari tanggal 20 (dua puluh) bulan takwin