TINJAUAN PUSTAKA
B. Pajak Penghasilan Pasal 21
1. Definisi Pajak Penghasilan (PPh)
Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap
Subyek Pajak (orang pribadi, badan, Bentuk Usaha Tetap) atas
penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam suatu tahun pajak
(Resmi, 2011).
Peraturan perundangan yang mengatur Pajak Penghasilan di
Indonesia adalah UU No. 7 tahun 1983 yang telah disempurnakan
dengan UU No. 7 Tahun 1991, UU No. 10 Tahun 1994, UU No. 17
Tahun 2000, UU No. 36 Tahun 2008, Peraturan Pemerintah,
Keputusan Presiden, Keputusan Menteri Keuangan, Keputusan
Direktur Jenderal Pajak maupun Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak.
2. Definisi Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan
berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan
nama dan dalam bentuk apa pun sehubungan dengan pekerjaan atau
jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang
3. Dasar Hukum PPh Pasal 21
Dasar hukum pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21
adalah :
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2009
tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
b. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan
Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan.
c. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009 tentang
Pedoman Teknik Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan
Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pajak Penghasilan
Pasal 26 Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang
Pribadi.
d. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-57/PJ/2009 tentang
Perubahan Atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
PER-31/PJ/2009 Tentang Pedoman Teknik Tata Cara Pemotongan,
Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau
Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa,
dan Kegiatan Orang Pribadi.
4. Subyek PPh Pasal 21
Subyek Pajak PPh Pasal 21 adalah Wajib Pajak Orang Pribadi
kegiatan. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor:
PER-31/PJ/2009, penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah
orang pribadi yang merupakan :
a. Pegawai, adalah orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja,
baik sebagai pegawai tetap atau pegawai tidak tetap/tenaga kerja
lepas berdasarkan perjanjian atau kesepakatan kerja baik secara
tertulis maupun tidak tertulis, untuk melaksanakan suatu pekerjaan
dalam jabatan atau kegiatan tertentu dengan memperoleh imbalan
yang dibayarkan berdasarkan periode tertentu, penyelesaian
pekerjaan, atau ketentuan lain yang ditetapkan pemberi kerja,
termasuk orang pribadi yang melakukan pekerjaan dalam jabatan
negeri atau badan usaha milik negara atau badan usaha milik
daerah. Pegawai dibedakan menjadi dua yaitu pegawai tetap dan
pegawai tidak tetap. Pegawai tetap adalah pegawai yang menerima
atau memperoleh penghasilan dalam jumlah tertentu secara teratur,
termasuk anggota dewan komisaris dan anggota dewan pengawas
yang secara teratur terus menerus ikut mengelola kegiatan
perusahaan secara langsung, serta pegawai yang bekerja
berdasarkan kontrak untuk suatu jangka waktu tertentu sepanjang
pegawai yang bersangkutan bekerja penuh (full time) dalam
pekerjaan tersebut. Pegawai tidak tetap/tenaga kerja lepas adalah
pegawai yang hanya menerima penghasilan apabila pegawai yang
hasil pekerjaan yang dihasilkan atau penyelesaian suatu jenis
pekerjaan yang diminta oleh pemberi kerja.
b. Penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun,
tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua, termasuk ahli warisnya;
c. Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan, antara lain
meliputi:
1) tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari
pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai,
dan aktuaris;
2) pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang
film, bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto
model, peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat,
pelukis, dan seniman lainnya;
3) olahragawan;
4) penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan
moderator;
5) pengarang, peneliti, dan penerjemah;
6) pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik, komputer
dan sistem aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi,
ekonomi dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu
kepanitiaan;
8) pengawas atau pengelola proyek;
9) pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang
menjadi perantara;
10) petugas penjaja barang dagangan;
11) petugas dinas luar asuransi;
12) distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling
dan kegiatan sejenis lainnya;
d. Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan keikutsertaannya dalam suatu kegiatan, antara
lain meliputi:
1) peserta perlombaan dalam segala bidang, antara lain
perlombaan olah raga, seni, ketangkasan, ilmu pengetahuan,
teknologi dan perlombaan lainnya;
2) peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, atau kunjungan
kerja;
3) peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan sebagai
penyelenggara kegiatan tertentu;
4) peserta pendidikan, pelatihan, dan magang;
5. Obyek Pajak PPh Pasal 21
Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor:
PER-31/PJ/2009, penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah:
a. penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap, baik
berupa penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur;
b. penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara
teratur berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya;
c. penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan
penghasilan sehubungan dengan pensiun yang diterima secara
sekaligus berupa uang pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan
hari tua atau jaminan hari tua, dan pembayaran lain sejenis;
d. penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa
upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau
upah yang dibayarkan secara bulanan;
e. imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium,
komisi, fee, dan imbalan sejenisnya dengan nama dan dalam
bentuk apapun sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan,
jasa, dan kegiatan yang dilakukan;
f. imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku,
uang representasi, uang rapat, honorarium, hadiah atau
penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun, dan imbalan
g. Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau pph pasal 26
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk pula penerimaan
dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya dengan nama
dan dalam bentuk apapun yang diberikan oleh:
1) bukan Wajib Pajak;
2) Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat
final; atau
3) Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan
norma penghitungan khusus (deemed profit).
6. Penghasilan Neto
Dalam menentukan Penghasilan Neto pegawai tetap, ada
beberapa hal yang menjadi faktor pengurang dari penghasilan bruto.
a. Biaya Jabatan, yaitu biaya untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan sebesar 5% (lima persen) dari penghasilan
bruto. Jumlah maksimum yang diperkenankan sejumlah
Rp6.000.000 (enam juta rupiah) dalam satu tahun atau Rp500.000
(lima ratus ribu rupiah) dalam satu bulan.
b. Biaya pensiun bagi penerima pensiun, yaitu biaya untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara uang pensiun sebesar 5%
(lima persen) dari penghasilan bruto. Jumlah maksimum yang
diperkenankan sejumlah Rp2.400.000 (dua juta empat ratus ribu
rupiah) dalam satu tahun atau Rp200.000 (dua ratus ribu rupiah)
c. Iuran yang dibayar oleh pegawai kepada dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan atau badan
penyelenggara yang dipersamakan dengan dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
7. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang
Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan Pasal 7 Ayat (1), besarnya Penghasilan Kena Pajak
(PKP) dihitung berdasarkan penghasilan neto dikurangi dengan PTKP
sebagai berikut ini:
Tabel 1. Penghasilan Tidak Kena Pajak
Uraian PTKP Setahun PTKP Sebulan Untuk diri Wajib Pajak orang pribadi Rp 15.840.000 Rp 1.320.000 Tambahan untuk Wajib Pajak yang
kawin Rp 1.320.000 Rp 110.000 Tambahan untuk seorang istri yang
penghasilannya digabung dengan penghasilan suami
Rp 15.840.000 Rp 1.320.000
Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus satu derajat serta anak yang menjadi tanggungan sepenuhnya, maksimal 3 orang
Rp 1.320.000 Rp 110.000
Pada tanggal 22 Oktober 2012, Menteri Keuangan melakukan
penyesuaian besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dengan
mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor
162/PMK.011/2012 tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak
Kena Pajak. Peraturan ini mulai diberlakukan mulai pada tanggal 1
Januari 2013.
Berikut adalah jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
terbaru :
Tabel 2. Penghasilan Tidak Kena Pajak Terbaru
Uraian PTKP Setahun PTKP Sebulan Untuk diri Wajib Pajak orang pribadi Rp 24.300.000 Rp 2.025.000 Tambahan untuk Wajib Pajak yang
kawin Rp 2.025.000 Rp 168.750 Tambahan untuk seorang istri yang
penghasilannya digabung dengan penghasilan suami
Rp 24.300.000 Rp 2.025.000
Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus satu derajat serta anak yang menjadi tanggungan sepenuhnya, maksimal 3 orang
Rp 2.025.000 Rp 168.750