• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4. Bagian Internal Control Staf

rincian tugasnya adalah:

a) memeriksa kas besar dan kas ATM

b) memeriksa sandi jurnal atau sandi pemindah bukuan dan validasinya c) memeriksa laporan likuiditas

d) membuat laporan dana harian

e) membuat Laporan Mingguan Bank (LMB), Laporan Bulanan Bank Umum (LBBU) dan sistem informasi keuangan ke Bank Indonesia

f) menyelenggarakan dan menindak lanjuti audit intern dan audit koordinasi

g) memeriksa neraca harian dan bulanan

h) mengelola buku besar cabang dan mulai entry bukti transaksi sampai cetak General Ledger (GL) dan mencocokkan dengan listingnya

i) mengelola bukti transaksi

j) membuat nota jurnal transaksi serta periksa buku dasar

k) mengkoordinasikan pencocokan General Ledger (GL) dengan

l) membuat laporan cabang

m) membuat laporan-laporan mingguan bank dan laporan bulanan bank kekantor pusat

n) membuat laporan Sistem Informasi Kredit (SIK) ke Bank Indonesia o) membuat laporan anus kas dan laporan penerimaan angsuran

p) menerima dan memeriksa laporan manual sistem informasi manajemen cabang

q) mengadministrasikan pelaporan cabang

4.3 Perkembangan Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Seperti diketahui bersama bahwa dalam kehidupan berbagai lapisan masyarakat permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena adanya keinginan untuk memiliki rumah sendiri. Apabila dilihat dari perkembangan perekonomian dewasa ini, harga rumah dirasakan cukup tinggi. Salah satu jalan yang dapat ditempuh masyarakat adalah dengan cara melakukan kredit kepada pihak bank dalam hal ini Bank Tabungan Negara.

Perkembangan Kredit Pemilikan Perumahan (KPR) selama tahun 2005 hingga tahun 2008 dalam tiap bulannya dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini :

Tabel 4.1 Perkembangan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bulan Tahun 2005 (Juta Rupiah) 2006 (Juta Rupiah) 2007 (Juta Rupiah) 2008 (Juta Rupiah) Januari 272,110 292,370 311,307 332,769 Februari 276,884 292,868 312,237 333,782 Maret 280,823 303,051 312,290 336,758 April 284,803 304,328 298,393 342,702 Mei 284,727 304,784 301,767 344,224 Juni 286,437 307,699 304,726 353,466 Juli 288,842 310,119 308,823 367,706 Agustus 292,139 314,497 314,312 385,184 September 298,323 311,409 319,833 425,714 Oktober 302,725 313,571 321,483 438,576 November 301,902 312,299 329,449 457,884 Desember 294,179 311,957 333,520 488,890

Sumber : Bank Tabungan Negara

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2005 KPR berada diposisi terendah pada bulan Januari yaitu sebesar Rp. 272,110,000,- dan mencapai posisi

tertinggi pada bulan Oktober yaitu sebesar Rp. 302,725,000,-. Untuk tahun 2006 KPR berada diposisi terendah pada bulan Januari yaitu sebesar Rp. 292,370,000,- dan mencapai posisi tertinggi pada bulan Agustua yaitu sebesar Rp. 314,497,000,-. Untuk tahun 2007 KPR berada diposisi terendah pada bulan April yaitu sebesar Rp. 298,393,000,- dan mencapai posisi tertinggi pada bulan Desember yaitu sebesar Rp. 333,520,000,-. Dan untuk tahun 2008 KPR berada diposisi terendah pada bulan Januari yaitu sebesar Rp. 332,769,000,- dan mencapai posisi tertinggi pada bulan Desenber Rp. 488,890,000,-

Secara umum, dari tahun 2005 sampai 2008 KPR menunjukkan trend peningkatan yang sangat signifikan dimana pada awal tahun 2008 KPR masih berkisar Rp. 272,110,000,- sedangkan pada akhir tahun 2008 KPR sudah meningkat menjadi Rp. 488,890,000,-. Hal ini memperlihatkan permintaan KPR mengalami peningkatan ke arah yang positif.

4.4 Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK)

Kinerja perbankan diukur dari peningkatan dana pihak ketiga yang terhimpun serta dana yang disalurkan kepada masyarakat. Semakin besar dana pihak ketiga yang terhimpun oleh bank maka semakin besar peluang bank untuk menyalurkan nya kembali kepada masyarakat berupa kredit.

Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) selama tahun 2005 hingga tahun 2008 dalam tiap bulannya dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini :

Tabel 4.2 Dana Pihak Ketiga (DPK) Bulan Tahun 2005 (Juta Rupiah) 2006 (Juta Rupiah) 2007 (Juta Rupiah) 2008 (Juta Rupiah) Januari 396,199 441,249 514,412 442,467 Februari 397,490 415,110 498,068 427,896 Maret 376,397 410,516 363,476 420,254 April 371,269 409,525 359,553 426,429 Mei 385,420 417,765 354,509 427,502 Juni 415,356 416,044 358,558 464,206 Juli 397,125 417,847 363,089 471,584 Agustus 401,494 413,828 355,335 442,018 September 392,361 401,231 354,780 447,659 Oktober 402,675 405,781 352,753 446,916 November 395,110 404,933 364,055 451,137 Desember 458,026 518,981 437,960 457,711

Sumber : Bank Tabungan Negara

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2005 DPK berada diposisi terendah pada bulan April yaitu sebesar Rp. 371,269,000,- dan mencapai posisi tertinggi pada bulan Desember yaitu sebesar Rp. 458,026,000,-. Untuk tahun 2006 DPK berada diposisi terendah pada bulan November yaitu sebesar Rp. 404,933,000,- dan mencapai posisi tertinggi pada bulan Desember yaitu sebesar Rp. 518,981,000,-. Untuk tahun 2007 DPK berada diposisi terendah pada bulan Oktober yaitu sebesar Rp. 352,753,000,- dan mencapai posisi tertinggi pada bulan Januari yaitu sebesar Rp. 514,412,000,-. Dan untuk tahun 2008 DPK berada diposisi terendah pada bulan Maret yaitu sebesar Rp. 420,254,000,- dan mencapai posisi tertinggi pada bulan Juni Rp. 464,206,000,-

Secara umum, dari tahun 2005 sampai 2008 DPK menunjukkan trend peningkatan yang sangat signifikan dimana pada awal tahun 2008 DPK masih berkisar Rp. 371,269,000,- sedangkan pada akhir tahun 2008 DPK sudah meningkat menjadi Rp. 464,206,000,000,-. Hal ini memperlihatkan permintaan DPK mengalami peningkatan.

4.5 Perkembangan Suku Bunga

Perkembangan Suku Bunga berpengaruh negatif terhadap permintaan Kredit Pemilikan Rumah. Semakin tinggi tingkat suku bunga kredit maka semakin berkurang permintaan akan Kredit Pemilikan Rumah.

Perkembangan Suku Bunga selama tahun 2005 hingga tahun 2008 dalam tiap bulannya dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3 Perkembangan Suku Bunga Bulan Tahun 2005 (%) 2006 (%) 2007 (%) 2008 (%) Januari 12.5 13 12.75 10 Februari 12.5 13 12.75 10 Maret 12.5 13 12.75 10 April 12.5 13 12.75 10 Mei 12.5 13 12.75 10 Juni 12.5 13 12.75 10 Juli 12.5 13 12.75 10 Agustus 12.5 13 12.75 10 September 12.5 13 12.75 10 Oktober 12.5 13 12.75 10 November 12.5 13 12.75 14 Desember 12.5 13 12.75 14

Sumber : Bank Tabungan Negara

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2005 Suku Bunga berada diposisi yang tetap yaitu berkisar 12,5 %. Untuk tahun 2006 Suku Bunga berkisar 13 %. Untuk tahun 2007 Suku Bunga kembali turun pada posisi 12,75%. Dan untuk tahun 2008 Suku Bunga berada diposisi terendah sebesar 10 % dan mencapai posisi tertinggi berkisar 14 %.

Secara umum, dari tahun 2005 sampai 2008 Suku Bunga menunjukkan trend peningkatan yang sangat signifikan dimana pada awal tahun 2008 Suku Bunga masih berkisar 12,5% sedangkan pada akhir tahun 2008 Suku Bunga sudah meningkat menjadi 14%. Hal ini memperlihatkan permintaan KPR mengalami perubahan tiap tahunnya.

4.6 Hasil Analisis Regresi

Analisis regresi merupakan suatu model yang digunakan untuk menganalisis hubungan persamaan antar variabel. Hubungan tersebut dapat dituliskan dalam bentuk persamaan yang menghubungkan variabel terikat dengan variabel bebas. Permintaan Kredit Perumahan (KPR) merupakan variabel terikat yang dipengaruhi oleh Dana Pihak Ketiga dan Suku Bunga sebagai variabel bebas.

Dari hasil analisis regresi linier berganda dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS), diperoleh hasil sebagai berikut :

4.6.1 Interpretasi Model Hasil estimasi : Y = 398214,2 + 0,298985X1 – 16213,15X2(t-1) Standard Error : (97484,07) (0,143969) (50555,575) t Statistic : (4,08491) (2,776736) (-3,206985) R2 = 0,313549 F-statistic = 10,04891 Adjusted R2 = 0.282347 Prob(F-statistic) = 0,000254 Sumber : data diolah dengan menggunakan program Eviews

Hasil estimasi :

Berdasarkan dari persamaan regresi di atas, dapat disimpulkan bahwa :

1. Variabel Dana Pihak Ketiga menunjukkan pengaruh positif terhadap Permintaan Kredit Perumahan. Koefisien regresi sebesar 0,298985

menunjukkan bahwa, apabila terjadi kenaikan DPK sebesar Rp 1 juta maka KPR akan mengalami kenaikan sebesar Rp. 0.180329 juta. (ceteris paribus) 2. Variabel Suku Bunga menunjukkan pengaruh negatif terhadap Permintaan

Kredit Perumahan. Koefisien regresi sebesar 16213,15 menunjukkan bahwa, apabila terjadi kenaikan Suku Bunga sebesar 1 % maka KPR akan mengalami penurunan sebesar Rp. 16213,15 juta. (ceteris paribus)

3. Nilai konstanta/intercept sebesar 398214,2 menunjukkan bahwa, apabila kedua variabel diatas (Dana Pihak Ketiga dan Suku Bunga) dianggap tidak ada maka KPR akan mengalami kenaikan sebesar Rp 398214,2 juta. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak disebutkan dalam model diatas.

4.6.2 Pengujian Hipotesis

Dokumen terkait