• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 Kajian Pustaka

2.2.2 Bahan Ajar

Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis (National

Centerfor Vocational Education Research Ltd/ National Center for Competency Based Training viaMajid, 2009: 173). Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/ suasana yang memungkinkan siswa belajar dengan baik (Majid, 2009: 174). Dengan bahan ajar akan mempermudah guru dalam melaksanakan KBM (kegiatan belajar mengajar) dan memungkinkan siswa untuk menguasai kompetensi dasar secara runtut dan belajar dengan baik.

Sifat bahan ajar dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori, yaitu fakta, konsep, prinsip, prosedur dan keterampilan. Fakta merupakan sifat suatu gejala, peristiwa, benda yang nyata atau wujudnya dapat dilihat atau dirasa oleh indera. Fakta dapat dipelajari melalui informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau kalimat, istilah, maupun pernyataan.

Konsep merupakan serangkaian perangsang yang mempunyai sifat-sifat yang sama. Konsep dibentuk dari dan melalui pola unsur bersama di antara anggota serangkaian, karena konsep adalah klasifikasi pola yang bersamaan. Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip adalah hubungan fungsional dari beberapa konsep. Sifat bahan ajar yang lain adalah keterampilan, keterampilan merupakan suatu pola kegiatan yang bertujuan dan memerlukan peniruan serta koordinasi informasi yang dipelajari.

Depdiknas (2008), diperlukan tiga tahap analisis dalam penyusunan bahan ajar, yaitu analisis SK-KD, analisis sumber belajar, dan pemilihan serta penentuan bahan ajar. Pertama, analisis SK-KD, analisis ini diperlukan untuk menentukan kompetensi mana saja yang memerlukan bahan ajar, dari hasil analisis ini akan

dapat diketahui berapa banyak bahan ajar yang harus disiapkan dalam satu semester dan jenis bahan ajar mana yang dipilih dan dianggap sesuai. Kedua, analisis sumber belajar, analisis ini dilakukan berdasarkan ketersediaan, kesesuaian, dan kemudahan dalam memanfaatkan sumber belajar dalam kaitannya dengan kebutuhan. Ketiga, pemilihan dan penentuan bahan ajar dimaksudkan untuk memenuhi salah satu kriteria bahwa bahan ajar harus menarik dan dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi, sedangkan jenis bahan ajar ditetapkan atas dasar analisis kurikulum dan analisis sumber bahan sebelumnya.

Langkah selanjutnya setelah analisis kebutuhan bahan ajar adalah penyusunan peta bahan ajar. Peta kebutuhan bahan ajar disusun setelah diketahui berapa banyak bahan ajar yang harus disiapkan melalui analisis bahan ajar. Peta kebutuhan bahan ajar diperlukan guna mengetahui jumlah dan urutan bahan ajar yang harus ditulis, serta untuk menentukan sifat bahan ajar, apakah dependen (tergantung) atau independen (berdiri sendiri).

Dalam menyusun bahan ajar perlu memperhatikan bahwa judul atau materi yang disajikan harus berintikan kompetensi dasar atau materi pokok yang harus dicapai oleh peserta didik. Menurut Steffen-Peter Ballstaedt, bahan ajar cetak harus memperhatikan susunan tampilan (urutan yang mudah, judul yang singkat, terdapat daftar isi, struktur kognitifnya jelas, rangkuman, dan tugas pembaca). Bahasa yang mudah (mengalirnya kosa kata, jelasnya kalimat, jelasnya hubungan kalimat, kalimat yang tidak terlalu panjang). Menguji pemahaman (menilai melalui orangnya, check list untuk pemahaman); stimulan (enak tidaknya dilihat, tulisan mendorong pembaca untuk berfikir, menguji stimulan). Kemudahan dibaca

(keramahan terhadap mata, urutan teks yang terstruktur, mudah dibaca); materi instruksional (pemilihan teks, bahan kajian, lembar kerja).

Dalam mengembangkan suatu bahan ajar, perlu memperhatikan prinsip pembelajaran. Terdapat enam prinsip pembelajaran, pertama mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang konkret untuk memahami yang abstrak, siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep tertentu apabila penjelasan dimulai dari yang mudah dan konkret ada di sekitar mereka. Kedua pengulangan akan memperkuat pemahaman, dalam pembelajaran, pengulangan sangat diperlukan agar siswa lebih memahami konsep. Prinsip ketiga adalah umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa, respon yang diberikan oleh guru terhadap siswa akan menjadi penguatan pada siswa. Keempat, motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar, seorang yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar. Prinsip kelima, mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu. Prinsip yang terakhir adalah mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus mencapai tujuan.

Setidaknya bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: bahan cetak (printed) antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/ gambar, model/ maket. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film. Bahan ajar interaktif (interactive teaching material) seperti compact disk interaktif.

Produk yang akan dihasilkan dalam pengembangan bahan ajar ini berupa modul pembelajaran untuk keterampilan menyimak yang memanfaatkan rekaman sebagai salah satu bagian terpentingnya, di mana rekaman tersebut dikemas dalam compact disk (CD). Yang dimaksud dengan modul adalah seperangkat bahan ajar yang disajikan secara sistematis. Sehingga penggunanya dapat belajar dengan atau tanpa seorang guru atau fasilitator. Sebuah modul harus dapat dijadikan sebagai bahan ajar yang menggantikan fungsi guru, misalnya dalam fungsi menjelaskan suatu materi dengan bahasa yang mudah dimengerti peserta didik. Secara umum modul pembelajaran memuat beberapa struktur, yaitu judul, petunjuk belajar, kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, latihan, tugas dan langkah-langkah kerja, serta penilaian.

Diperlukan beberapa langkah dalam menyusun sebuah modul, yaitu perumusan Kompetensi Dasar (KD)yang harus dikuasai peserta didik. Kemudian menentukan alat evaluasi atau penilaian yang dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik dalam menguasai suatu KD. Selanjutnya adalah penyusunan materi, dimana materi modul sangat tergatung pada KD yang akan dicapai (Depdiknas: 2008).

Dalam mencapai kompetensi, diperlukan dasar berupa keluaran belajar. Bloom via Nurgiyantoro (2010: 56), membedakan keluaran belajar ke dalam tiga kategori, atau yang sering disebut dengan ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada saat ini, guru sebagai fasilitator dan kreator wajib menguasai ketiga ranah tersebut untuk mengimplementasikannya pada tujuan pembelajaran,

bahan ajar, dan penilaian. Berikut dipaparkan ketiga ranah tersebut atau yang sering disebut juga dengan taksonomi Bloom.

(1) Ranah kognitif

Ranah kognitif berkaitan dengan kemampuan intelektual dan kompetensi berpikir seseorang. Secara sederhana ranah ini melibatkan siswa ke dalam proses berpikir seperti mengingat, memahami, menganalisis, menghubungkan, mengonseptualisasikan, memecahkan masalah, dan sebagainya. Terdapat enam jenjang berpikir yang lebih kompleks dalam ranah kognitif, yaitu ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.

Dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya untuk mata pelajaran teoritis seperti mata pelajaran Bahasan dan Sastra Indonesia, aspek kognitif biasanya paling banyak mendapat perhatian. Hal ini tampak pada perumusan kompetensi dasar dan indikator, pemilihan bahan ajar, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian yang dilakukan.

(2) Ranah Afektif

Ranah afektif berkaitan dengan perasaan, nada, emosi, motivasi, kecenderungan bertingkah laku, tingkatan penerima dan penolakan terhadap sesuatu. Dalam kegiatan belajar mengajar, ranah afektif sering kurang mendapat perhatian, hal ini terjadi karena ranah ini tidak secara langsung terkait dengan kompetensi dasar, indikator, dan materi pembelajaran dan arenanya tidak mudah diukur.

Aspek dalam ranah afektif terdiri dari penerimaan, penanggapan, valuing, pengorganisasi, dan karakterisasi nilai-nilai. Keluaran belajar untuk ranah afektif meliputi perubahan sikap, pandangan, dan perilaku peserta didik. Jika sikap peserta didik terhadap suatu mata pelajaran positif, ia akan termotivasi mempelajarinya, dengan kata lain, faktor afeksi menjadi prasyarat yang harus dimikili peserta sisik untuk mau berpikir. Salah satu tugas guru adalah membangkitkan dan meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar.

(3) Ranah Psikomotorik

Ranah psikomotorik berkaitan dengan kompetensi berunjuk kerja yang melibatkan gerakan-gerakan otot psikomotor. Ranah ini terdiri dari beberapa aspek, yaitu kinerja menirukan, manipulasi, artikulasi, dan pengalamiahan. Walau bernama kinerja, pada hakikatnya tidak terlalu banyak menuntut aktivitas fisik, sebagai contoh dalam pembelajaran bahasa, yang dimaksud dengan kinerja misalnya berupa aktivitas pelafalan di lidah dan gerakan di tangan untuk menulis.

Dokumen terkait