• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aulia Rahman; Sistemem Pemerintahan Presidentil Sebelum Dan Sesudah Perubahan UUD1945 Studi Ilmiah Tentang Tipe Rezim, Institusi, Dan Konstitusi , Verbum Publishing, Jakarta, 2009

Rusdiato Sesung; Hukum Otonomi Daerah Negara Kesatuan, Daerah Istimewa, Dan Daerah Otonomi Khusus, Refika Aditama, Bandung 2013

Kuswanto, Penyederhaan Partai Politik Dalam Sistemem Pemerintahan Presidensiil Yang Multy Partai

Mudasir, Pemilihan Kepala Daerah Serentak Untuk Penguatan Sistemem Pemerintahan Presidensial Di Daerah, Http/Kpukajen Wordpress/2017/07/26

Hanta Yuda,Ar; Presidensilisme Setengah Hati Dari Dilema Ke Kompromi, Jakarta Gramedia Pustaka Tama,2010

Saldi isra, Pergeseran Fungsi Legislatiflasi : Menguatnya Model Legislatiflasi Parlementerdalam Sistemem Presidensiil Indonesia ,Raja Grafindo Persada

Undang – Undang Dasar Negara Ri Tahun 1945

SINKRONISASI REFORMULASI SISTEMEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL MODEL GBHN DENGAN SISTEMEM PRESIDENSIAL

Ole : I Wayan Parsa I. Pendahuluan

Gagasan untuk mendorong pemberlakuan kembali Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) pertama kali digulirkan oleh Megawati Soekarnoputri pada acara Simposium Kebangsaan di MPR Ri pada tanggal 7 Desember 2015, yang kemudian dipertegas kembali pada Rapat Kerja Nasional PDi Perjuangan 2016. Pemikiran ini didasarkan pada alasan buruknya sistemem pembangunan negara yang semakin tak padu dan cenderung berjangka pendek. Penyebabnya, begitu terjadi pergantian terjadi pula pergantian visi misi dan program pembangunan (Saldi isra dalam Harian Kompas 12 Januari 2016).

SebetuLembaga Negaraya jika diikuti dengan seksama perkembangan wacana terkait dengan hal ini, pikiran menghidupkan kembali GBHN telah muncul jauh sebelum Rakernas PDi Perjuangan. MisaLembaga Negaraya ketika MPR melakukan sosialisasi hasil perubahan UUD 1945 muncul pertanyaan sekitar tidak adanya GBHN, dimana muncul pandangan yang menghendaki GBHN dihidupkan kembali.

Gagasan pemberlakuan kembali GBHN tersebut tentu memunculkan berbagai tanggapan kritis baik yang pro maupun kontra. Ada yang menyatakan bahwa hal itu tidak perlu, namun ada juga yang menyambut baik dalam rangka keberlanjutan gerak dan pencapaian sasaran, untuk penyelenggaraan Negara sebagai haluan Negara dalam garis-garis besarnya menjadi tuntunan bangsa dan berlaku baku.

Dalam perkembangannya saat ini ide reformulasi GBHN tidak lagi mencari jawaban urgensinya bagi pembangunan indonesia, tetapi menitikberatkan pada bentuk hukum serta substansi dan sistemematika dikaitkan dengan pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden oleh rakyat, apa produk hukumnya, dan apa akibat hukumnya jika dilaksanakan.

Pengalaman dalam sistemem ketatanegaraan kita selama ini dapat memberi pembenaran mengapa haluan negara sebagai penuntun bagi penyelenggaraan negara dan pembangunan itu perlu ada. Setiap awal siklus lima tahunan dirasa bagaikan awal baru kegiatan pembangunan. Tidak ada kesinambungan dan keberlanjutan antara satu pemerintahan dengan pemerintahan sebelumnya. Pemilihan Presiden secara langsung memungkinkan calon Presiden menawarkan janji berbeda dari Presiden sebelumnya atau bahkan berlainan dari yang telah dilakukannya sendiri dari periode lima tahun sebelumnya.

Persoalan ini menjadi menarik karena GBHN sudah pernah diatur dalam UUD 1945. Dengan terjadinya perombakan sistemem ketatanegaraan melalui amandemen, maka GBHN dihapus dan kini muncul pemikiran untuk menghidupkannya kembali. isu hukum yang muncul terkait hal ini adalah, apakah perlu menghidupkan kembali GBHN dalam sistemem ketatanegaraan saat ini melalui amandemen terhadap UUD 1945. Andaikata MPR menetapkan GBHN akan dituangkan dalam instrument hukum apa ?, dan bagaimana sistemem perencanaan pembangunan nasional model GBHN dalam kaitannya dengan sistemem presidensial ?

II. Perlukah Menghidupkan kembali GBHN melalui amandemen UUD 1945 ?

Seperti diketahui, sejak dilakukannya amandemen UUD 1945 telah terjadi perubahan yang cukup fundamental dalam konstruksi kelembagaan Negara yang berimplikasi pada hilangnya produk hukum MPR tentang GBHN. Jika hal ini ingin dikembalikan lagi seperti sebelum amandemen tentu akan menimbulkan dampak pada hal-hal lainnya.

Upaya menghadirkan kembali GBHN melalui amandemen terbatas (seperti pemikiran yang berkembang saat ini) bukanlah hal yang sederhana karena GBHN merupakan sebuah sistemem. Sebagai sebuah sistemem tentu akan berpengaruh pada sub-sub sistemem lainnya seperti penyesuaian kedudukan, fungsi dan kewenangan MPR. Pertanyaannya adalah, apakah ide amandemen terbatas ini dapat memberikan kepastian bahwa hal itu tidak akan memerlukan konsep pengaturan ulang sekitar hubungan tata kerja diantara lembaga-lembaga Negara? Jika hal ini tidak diperoleh jawaban maka jelaslah bahwa amandemen terbatas bukanlah hal yang sederhana dan mungkin sulit terwujud.

Usulan menghidupkan kembali GBHN pasti akan terkait dengan penataan wewenang MPR, dalam arti penghidupan kembali GBHN tidak mungkin dilakukan selama posisi MPR tidak sebagai lembaga tertinggi Negara sebagaimana diatur dalam UUD 1945 sebelum amandemen. Merujuk konstruksi yuridis Pasal 1 ayat (2) dan (3) serta penjelasannya sebelum amandemen, pembentukan GBHN tidak terlepas dari posisi MPR sebagai pemegang kedaulatan rakyat dan sebagai lembaga tertinggi Negara. Oleh sebab itu, jika ingin menghidupkan GBHN seperti yang terjadi pada masa Orde Lama dan Orde Baru maka penataan wewenang MPR diperlukan yaitu mengembalikan posisi MPR sebagai lembaga tertinggi Negara dan sekaligus sebagai pemegang kedaulatan rakyat.

Berdasarkan sejarah perumusan GBHN dalam UUD 1945 (dalam Risalah Sidang BPUPKi-PPKi 25 Mei 1945 – 22 Agustus 1945), para pendiri Negara sepakat berpegang pada bangunan negara berdasar desain yang lengkap dari dasar, tujuan hingga konsistemensi dalam penjabarannya dalam batang tubuh UUD. Dalam pikiran dan konsep mereka pula GBHN diciptakan sebagai perangkat guna menuntun penyelenggara pemerintahan dalam upaya mewujudkan tujuan Negara. Sebagai kaedah penuntun, maka GBHN itu ditetapkan oleh lembaga (MPR) yang dahulu mereka sebut sebagai “penjelmaan rakyat, pengemban kedaulatan rakyat”. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) adalah haluan Negara tentang penyelenggaraan Negara dalam garis-garis besar sebagai pernyataan kehendak rakyat secara menyeluruh dan terpadu. GBHN ini ditetapkan oleh MPR untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.

Namun seiring berjalannya waktu, zaman berubah dan nilai juga berkembang. Mungkin karena itu pula kini ada pemikiran bahwa masalah yang timbul dari ketiadaan GBHN bisa dipecahkan dengan “paradigm baru”. Hal ini disebabkan karena GBHN tidak diletakkan dalam konteks hubungan antara tujuan negara dan perangkat penuntun upaya pencapaian tujuan tadi.

Sebagaimana diketahui bahwa pembentukan GBHN pada UUD 1945 sebelum amandemen tidak terlepas dari posisi MPR sebagai pemegang kedaulatan rakyat dan lembaga tertinggi Negara. Posisi sentral semakin tak terhindarkan karena bertemu dengan peran MPR dalam pemilihan presiden dan wakil presiden. Dengan posisi seperti itu sangat kuat alasan untuk membentuk GBHN sebagai pola pembangunan nasional dalam jangka waktu tertentu.

Akan tetapi setelah UUD 1945 di amandemen, pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan secara langsung oleh rakyat. Dalam pemilihan Presiden secara langsung oleh rakyat, calon Presiden cukup menjabarkan sesuai pandangannya ke dalam program, prioritas, dan sasaran untuk ditawarkan. Pemahaman seperti ini didasarkan pada postulat bahwa hal itu sesuai dengan jaman, lebih demokratis, dan seiring dengan konsekuensi sebuah pemilihan yang bersifat langsung.

Persoalan akan muncul jika posisi MPR dikembalikan sebagai lembaga tertinggi Negara sementara presiden dipilih secara langsung oleh rakyat. Dalam posisi seperti ini, GBHN yang dibuat MPR tentu saja akan menghadirkan pola sistemem pertanggungjawaban Presiden kepada MPR. Jika hal ini terjadi maka tidak mungkin menghindarkan pertanggungjawaban politik Presiden kepada MPR dan berarti pula kehadiran GBHN akan sangat menyulitkan posisi Presiden.

Persoalan lain yang perlu direnungkan jika menjadikan MPR sebagai lembaga tertinggi Negara akan kembali menggeser lokus pengelolaan Negara ke tangan lembaga perwakilan, yang berarti sistemem pemerintahan yang diterapkan akan bergeser menjadi sistemem parlementer. Artinya GBHN dibuat oleh MPR sementara presiden sebagai pihak yang menjalankan terikat dan harus bertanggung jawab kepada pembuat GBHN. Dengan demikian yang paling dikhawatirkan bahwa gagasan penghidupan GBHN dengan melakukan penataan wewenang MPR akan menghadirkan praktik sistemem parlementer dalam arti yang sesungguhnya.

Sistemem pemilihan Presiden secara langsung oleh rakyat membuat setiap calon presiden harus mampu meracik program pembangunannya sendiri-sendiri guna dapat menarik selera rakyat agar mau memilihnya. Setelah terpilih, Program pembangunan yang ditawarkan kepada rakyat bisa saja merupakan program yang melanjuntukan program Presiden sebelumnya namun juga bisa jadi melahirkan program yang baru sama sekali yang berbeda dengan program pembangunan dari Presiden sebelumnya. Kalau demikian yang terjadi maka tidak terjaga kesinambuangan program pembangunan pada setiap periodesasi kepemimpinan.

Pemahaman baru ini belum tentu keliru meski juga belum tentu tepat dan mudah diwujudkan. Hal ini disebabkan karena tujuan Negara sering diinterpretasikan berbeda, seperti misaLembaga Negaraya konsep adil dan makmur memunculkan persepsi yang berbeda-beda. Untuk itulah diperlukan interpretasi dan pemahaman yang sama dan baku tentang isi, tentang wujud dan tentang spektrum segala cita yang tertuang dalam Pembukaan UUD.

Oleh karena itu, ketidaksinambungan program pembangunan antar periodesasi kepemimpinan bukanlah hal penting untuk diperdebatkan karena hanya merupakan persoalan interpretasi saja. Sepanjang esensiaLembaga Negaraya adalah untuk menerapkan dan merealisasikan pembangunan jangka panjang kenapa hal itu harus dipersoalkan. Secara teknis, cara boleh berbeda namun tujuan haruslah sama.

Terlepas dari hal ini, jika kita masih tetap mempersoalkan kesinambungan program pembangunan maka komitmen untuk taat pada grand desain perencanaan pembangunan nasional itulah kata kuncinya, untuk menjadi kaidah penuntun bagi siapapun Presidennya. Selain itu, DPR sebagai lembaga penyalur aspirasi rakyat dalam fungsi pengawasan, penganggaran dan legislatiflasi harus dapat memainkan peranannya sehingga ketika program-program pembangunan tersebut dibahas di legislatiflatif bersama pemerintah yang berkuasa, rencana program pembangunan tersebut dapat dikawal secara ketat demi keberlanjutan program pembangunan dimaksud. Selain itu, lembaga-lembaga swadaya masyarakatarakat yang selama ini terbukti independen dan intens dalam menyuarakan hati nurani rakyat juga harus diberi peran dengan membuka ruang yang seluas-luasnya kepada mereka untuk ikut serta mengawasi kinerja

pemerintah. Demikianpun lembaga pendidikan perguruan tinggi jangan menjadi menara gading saja namun diberdayakan untuk selalu mengambil bagian melalui pandangan-pandangan kritis mereka yang ilmiah dan rasional supaya program pembangunan yang berkelanjutan lebih berbobot.

III. Sistemem Perencanaan Pembangunan Nasional Model GBHN dengan Sistemem Presidensial

Setelah adanya amandemen UUD 1945 dimana terjadi perubahan peran MPR dan Presiden, GBHN tidak berlaku lagi. Sebagai gantinya UU No.25 Tahun 2004 tentang Sistemem Perencanaan Pembangunan Nasional menyatakan bahwa penjabaran dari tujuan dibentuknya Republik indonesia seperti dimuat dalam Pembukaan UUD 1945 dituangkan dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Skala waktu RPJP adalah 20 tahun, yang kemudian dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yaitu perencanaan dengan skala waktu 5 tahun yang memuat visi, misi dan program pembangunan dari Presiden terpilih, dengan berpedoman pada RPJP. Di tingkat daerah, Pemerintah Daerah harus menyusun sendiri RPJP dan RPJM Daerah dengan merujuk kepada RPJP nasional.

Jika kita mencermati hal ini maka bentuk hukum GBHN yang dulu dalam bentuk Tap MPR sekarang berubah dalam produk undang-undang, dibuat oleh DPR (representasi rakyat) yaitu Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistemem Perencanaan Pembangunan Nasional. Fungsi tuntutan yang dulu diperankan oleh GBHN telah dapat diwujudkan secara lebih komprehensif dalam UU yakni UU Sistemem Perencanaan Pembangunan Nasional 2004 dan UU Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2007.

Berdasarkan pada paradigma ini maka sesungguhnya substansi GBHN telah terwadahi sehingga tidak perlu lagi ada GBHN, karena sejatinya substansi GBHN sudah ada di Undang-Undang tentang Sistemem Perencanaan Pembangunan Nasional.. Visi Presiden mengikuti tujuan Negara karena itu maka berikan kesempatan kepada Presiden merealisasikan janji-janjinya dalam kampanye yang telah disetujui rakyat dengan memilihnya secara langsung, dan dilaksanakan melalui program pembangunan lima tahun masa jabatannya. Pembangunan jangka menengah berisi konten janji Presiden terpilih untuk mengemban misinya melaksanakan pembangunan dan menentukan prioritas pembangunan dengan berdasarkan pada tujuan Negara dan cita-cita proklamasi yang terumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 yang terwadahi dalam RPJP.

Jika itu dapat terwujud maka sebenarnya tidak perlu ada GBHN, Presiden cukup berpegang pada tujuan Negara sebagai visi. Biarkan Presiden bergerak dalam perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan lima tahun masa jabatannya/pembangunan jangka menengah.

IV. Penutup

Gagasan untuk menghidupkan kembali GBHN dengan merubah UUD 1945 seperti yang dimaksud dalam Pasal 3 UUD 1945 sebelum amandemen adalah kurang tepat, bahkan dapat dikatakan sebagai langkah mundur dalam penguatan sistemem presidensial. Kondisi ini akan menyulitkan bagi Presiden terpilih dalam mewujudkan tujuan bernegara dan mengejawantahkan visi dan misi yang dijanjikan selama masa kampanye pemilihan umum Presiden. Pola GBHN dengan mengembalikan posisi MPR sebagai lembaga Negara tertinggi tidak hanya

berbenturan dengan sistemem presidensial tetapi juga berimplikasi pada pola hubungan kelembagaan antara MPR dengan lembaga Negara lainnya.

BAHAN BACAAN

Moh. Kusnardi, dkk, 1978, Susunan Pembagian Kekuasaan Menurut Undang-Undang Dasar 1945,. PT Gramedia, Jakarta

M. Solly Lubis, 1979, Pembahasan UUD 1945, Alumni, Bandung.

Jimly Asshiddiqie, Tantangan Pelaksanaan UUD 1945 Pasca perubahan, Jurnal Hukum, PantaRei No.1 Desember 2007.

Saldi isra, Wacana Menghidupkan GBHN, Harian Kompas, Edisi 12 Januari 2016. Soewoto Mulyosudarmo, Perubahan Ketatanegaraan Melalui Perubahan Konstitusi,

PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DALAM KERANGKA PENEGASAN