• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Veto dalam Pembentukan UU di Indonesia

Dr I GUSTI BAGUS SURYAWAN, SH,MHum

PENEGASAN SISTEMEM PRESIDENSIAL MELALUI PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG

C. Hak Veto dalam Pembentukan UU di Indonesia

Sebelum membahas tentang hak veto maka perlu dipahami terlebih dahulu lembaga yang berwenang membentuk UU (yang mempunyai fungsi legislatiflasi). Lembaga tersebut adalah lembaga perwakilan yang penyebutannya berbeda-beda diberbagai negara, seperti misaLembaga Negaraya Congress di Amerika Serikat dan Filipina, Diet di Jepang, serta MPR yang teridir dari DPR dan DPD di indonesia dan sebagainya. Menurut Calvin Mackenzie menyatakan ada 3 fungsi lembaga perwakilan yakni; legislatiflation, representation dan administrative oversight.70 Demikian pula menurut Maurice Duverge71 bahwa kekuasaan dari majelis perwakilan adalah dalam membuat UU. Kemudian Jimly Assidiqie menyatakan bahwa fungsi dari lembaga legislatiflatif adalah; fungsi pengaturan (legislatiflasi), fungsi pengawasan (kontrol) dan fungsi perwakilan ( representasi). Fungsi legislatiflasi adalah merupakan

fungsi yang berkaitan dengan pembuatan peraturan perundang-undangan yang mengikat warga masyarakatarakat.Fungsi-fungsi tersebut dalam negara yang menganut sistemem bikameral diberikan kepada kedua kamar secara bervariasi. 72 Demikian juga haLembaga Negaraya dengan negara –negara yang menganut sistemem pemerintahan yang berbeda baik presidensiil maupun parlementer selain terdapat perbedaan terkait jumlah kamar yang ada, dimana ada yang menganut one cameral system, bicameral maupun tricameral system, juga adanya perbedaan kewenangan atau kekuasaaan dari lembaga-lembaga negara . Khusus terkait fungsi pembentukan UU juga, terdapat berbagai variasi berkaitan dengan pembentukan Undang-Undang.

Terkait pembentukan UU ( fungsi legislatiflasi ) dalam sistemem ketatanegaraan

Indonesia sebagaimana telah diurakan diatas, diatur dalam Pasal 20 ayat (1) jo Pasal 5 ayat (1) UUD Tahun 1945, dimana kewenangan untuk mengajukan RUU tersebut

69 Jimly Assidiqie, 2007,Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, PT Buana Populer,

Jakarta, hlm.335

70 Paimin Napitupulu, 2005, Peran dan Pertanggungjawaban Dewan Perwakilan Rakyat- Kajian di Di DPRD Propinsi DKI Jakarta, Bandung, Alumni, hlm.39.

71 Maurice Duverge, 1951, Les Regime, diterjemahkan oleh Suwirjadi, Teori dan Praktek Tata Negara,

Penerbit Kebangsaan Pustaka Rakyat, Jakarta, hlm.39.

diberikan kepada DPR dan Presiden. Presiden disini berhak untuk mengajukan RUU sedangkan kekuasaan dalam pembentukan RUU ada ditangan DPR. Selanjutnya dalam

Pasal 20 Ayat (2) dan Ayat (3) UUD 1945 menyebuntukan bahwa, suatu RUU hanya dapat menjadi UU apabila ada persetujuan bersama dari DPR dan Presiden. Bila RUU itu tidak

mendapat persetujuan bersama, maka RUU tersebut tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu. Rumusan tersebut mengandung arti bahwa, baik DPR maupun Presiden, mempunyai hak yang sama untuk menyetujui atau tidak menyetujui sebuah RUU. Kalau salah satu pihak baik DPR ataupun Presiden secara kelembagaan tidak

menyetujui RUU tersebut, maka RUU itu tidak dapat menjadi UU.

Ketidak setujuan atau penolakan salah satu lembaga terhadap suatu RUU,

sebagaimana telah diuraikan dimuka dapat dikatakan adanya semacam “hak veto” .

istilah Veto berasal dari Bahasa Latin yang artinya “saya melarang” atau “saya

menolak”.73 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ; hak

menolak/membatalkan keputusan atau melarang berlakunya UU (keputusan,dsb).74

Sedangkan dalam Black Law Dictionary 75 mangartikan veto sebagai: A power of one governmental branch to prohibit an action by anotahuner branch; esp, a chief executive's refusal to sign into law bill passed by tahune legislatiflatif. Dari difinisi tersebut maka dalam konteks ketatanegaraan , khususnya pembentukan UU , maka hak veto dapat diartikan sebagai hak menolak suatu rancangan UU. Penggunaan hak veto ini juga berbeda-beda antara negara dengan sistemem presidensiil dan parlementer serta antara negara-negara yang menganut onecameral, bicameral mupun multy cameral. Hak veto juga tidak hanya dilakukan antara

legislatiflatif maupun exekutif bahkan antara kamar/lembaga di legislatiflatif sendiri yang terdiri lebih dari satu kamar/lembaga.

Dalam UUD Tahun 1945, tidak menyebut secara tegas bahwa ketidak setujuan atau penolakan Presiden atau DPR itu disebut sebagai "hak veto", tetapi esensinya adalah sama,

yakni ada hak Presiden atau DPR untuk menolak RUU yang dibahas di DPR.76

Selanjutnya dalam Pasal 20 ayat (4) UUD Tahun 1945 ditentukan bahwa RUU tersebut harus disahkan oleh Presiden. Namun dalam ayat berikutnya mengatur bahwa meskipun RUU

tersebut sudah mendapat persetujuan bersama, tetapi kemudian tidak disahkan oleh Presiden akan berakibat bahwa RUU tersebut berlaku menjadi UU dalam jangka waktu 30 hari (Pasal 20 ayat (5) UUD Tahun 1945).

Rumusan Pasal 20 ayat (5) UUD Tahun 1945 mencerminkan adanya hak tolak

Presiden, hanya saja hak tolak tersebut menjadi tidak berarti secara hukum, karena suatu RUU yang telah disetujui, akan tetap menjadi UU tanpa pengesahan Presiden. Hal ini berakibat bahwa hak tolak Persiden menjadi hilang, padahal hak tolak adalah merupakan senjata yang efektif untuk mengcounter atau menghadapi kekuatan lembaga lain dalam rangka hubungan saling mengendalikan.77 Atau dapat dikatakan bahwa di indonesia, RUU tersebut otomatis akan berlaku tanpa memerlukan upaya-upaya hukum

73 Fajar Laksono dan Subarjo,2006, Kontroversi Undang-Undang Tanpa Pengesahan Presiden,UII Press,

Jogyakarta, hlm.155

74 Poerwadarminta, 2006,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,Jakarta,hlm.1356 75 Bryan A Garner, in chief (ed), 2004, Balacks Law Dictionary, Eight Edition, West Group ST.Paul,Minn,hlm. 1595.

76 “Hak Veto Presiden”, http:// www. kompas.com / kompas. cetak/ 0208/09/ nasional/ anal07.htm. hal.2, diakses tanggal 7 Januari 2007, dalam tesis Made Nurmawati, Pengaturan Lembaga Perwakilan Rakyat Dalam Sistemem Ketatanegaraan Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,Tahun 2007.

77 Jimly Assidiqie; 2005, Format Kelembagaan Indonesia dan Pergeseran Kekuasaan Dalam UUD 1945,

tertentu. Karena itu kontruksi dalam pembentukan UU , tidak mencerminkan adanya checks

and balances antara Eksekutifkutif dan Legislatiflatif dalam pembentukan UU.

Jika dibandingkan dengan Amerika yang terkenal dengan sistemem presidensiaLembaga Negaraya. dalam Konstitusi nya ditegaskan bahwa, tidak ditandanganinya suatu RUU oleh Presiden juga menunjukkan telah terjadinya “veto” oleh Presiden.78 Di negara adikuasa seperti Amerika Serikat, Presiden memiliki hak untuk memveto suatu rancangan undang-undang yang dapat merugikan jalannya pemerintahan. Presiden dapat memveto Rancangan Undang-undang (RUU) yang diajukan oleh DPR, Senat dan Kongres sekalipun jika itu menyangkut keselamatan jalannya pemerintahan.79 Hal ini diperoleh untuk mengimbangi besarnya kekuasaan lembaga

legislatiflatif. Tidak hanya Amerika P

enggunaan hak veto dalam pembentukan UU dalam praktek ketatanegaraan beberapa negara dipakai dimaksudkan untuk memperkuat mekanisme checks and balances dalam

sistemem pemerintahan presidensial.

Di indonesia ketika presiden tidak menandatangani (diartikan menolak) suatu RUU ,maka itu berakibat bahwa dalam jangka waktu 30 hari akan otomotasi menjadi UU. Sehingga veto yang dilakukan menjadi tidak ada artinya. Hal ini berbeda dengan ketentuan dalam Konstitusi AS, dimana veto Presiden tersebut dapat dibatalkan dengan persetujuan

kembali oleh 2/3 anggota parlemen. Dengan ditolaknya veto tersebut, maka RUU itu akan

menjadi UU, dan Presiden wajib untuk mengesahkannya. Secara garis besar dalam kaitan dengan pembentukan UU menurut Konstitusi AS dijelaskan bahwa setiap RUU yang akan disahkan oleh House of Representatives dan Senat sebelum menjadi hukum, sebelumnya harus diajukan kepada Presiden untuk mendapakan pesetujuan. Bila dia setuju maka harus ditandatangani, dan bila tidak maka dia harus mengembalikannya dengan alasan-alasan penolakannya kepada kamar/majelis asal RUU. ia juga harus memasukkan penolakannya secara luas ke dalam jurnal dan memprosesnya untuk dipertimbangkan kembali. Jika sesudah dipertimbangkan kembali, dua pertiga dari anggota kamar harus menyetujui untuk meloloskan RUU tersebut. RUU tersebut bersama keberatan-keberatannya harus dikiririm ke kamar yang lain untuk dipertimbangkan kembali. Jika disetujui oleh dua pertiga anggota kamar/majelis tersebut, maka RUU tersebut akan menjadi UU. Suara dari kedua kamar harus ditentukan dengan setuju/tidak, dan nama dari orag-orang yang memilih setuju dan tidak, dimasukkan pada jurnal dari tiap-tiap kamar/majelis. Jika suatu RUU tidak dikembalikan oleh Presiden dalam waktu 10 hari (kecuali hari minggu), setelah diterima, maka RUU akan menjadi UU/law seperti jika Presiden menandatanganinya, kecuali bila Congress mencegah pengembaliannya maka tidak akan menjadi hukum (Art 1, sec.7.2).

Untuk membentuk sistemem pemerintahan presidensiil yang lebih stabil, dan bekerjanya checks and balances dalam proses pembentukan UU, maka seharusnya Presiden,DPR dan DPD mempunyai kewenangan yang sama untuk melakukan veto. Veto dapat dilakukan oleh Presiden terhadap DPR dan sebaliknya, dan bahkan DPD terhadap DPR sebagai penyeimbang terhadap kebijakan yang dibuat DPR. Demikian

juga Jika format presidensial yang ingin dipakai maka mekanisme cheks and balances harus diperkuat, tidak saja antara Presiden DPR dan DPD tetapi juga dalam lembaga perwakilan itu sendiri, antara lain melalui hak veto yang dimiliki Presiden dan hak veto serupa yang dimiliki secara bersama-sama oleh DPR dan DPD (melalui sidang MPR). Demikian juga haLembaga Negaraya dengan kedudukan Presiden dalam kekuasaan membentuk undang-undang

harus ditempatkan sebagai pengejawantahan atas prinsip checks and balances,artinya

78 Dalamkonstitusi di Amerika juga tidak ditemukan istilah “veto”, namun hak tersebut dapat ditafsirkan dari ketentuan Art.1,Sec.7 Konstitusi US.

79https://id.wikipedia.org/wiki/Hak_veto

Pemurnian Sistemem Presidensiil dan Parlemen dua Kamar di Indonesia sebagai gagasan Perubahan UUD Tahun 1945

presiden diberi hak untuk memveto atau menolak RUU yang disahkan oleh DPR jika presiden tidak sepakat atau keberatan menjalankan UU tertentu yang dihasilkan DPR. Hanya saja ada beberapa batasan yang perlu diberikan dalam menggunakan hak tersebut untuk menghindari penggunaan hak veto yang semena-mena, yakni melalui penolakan hak veto tersebut oleh legislatiflatif (DPR) dengan dukungan sejumlah suara

tertentu dari anggota legislatiflatif, sebagaimana haLembaga Negaraya di AS. Disini presiden dapat memveto RUU yang telah diputuskan parlemen, dan parlemen juga dapat menganulir veto (override) dengan dukungan mayoritas kongres, dan jika setelah divoting kongres menyatakan UU harus dijalankan, maka presiden harus mengesahkan menjadi UU.80

Penutup.

1. Kewenangan pembentukan UU dalam UUD Tahun 1945 yang menganut sistemem pemerintahan presidensiil diberikan kepada DPR sebagaimana ditentukan dalam Pasal 20 dan juga kepada Presiden (Pasal 5 UUD Tahun 1945).

2. Presiden diberi kewenangan untuk mem”veto” suatu RUU, hanya saja hak ini harus dibatasi guna mencegah kesewenang-wenangan dan menggunakan hak veto yakni melalui diberikannya kemungkinan untuk penolakan hak veto tersebut oleh legislatiflatif (DPR) dengan dukungan sejumlah suara tertentu dari anggota legislatiflatif, sebagaimana haLembaga Negaraya di AS.

Bahan Bacaan:

Assidiqie, Jimly; 2005, Format Kelembagaan Indonesia dan Pergeseran Kekuasaan Dalam UUD 1945, Jogyakarta: FH.Uii Press

---, 2006, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Sekjen kepanitraan MK.

---, 2003, Struktur Ketatanegaraan Indonesia Setelah Perubahan ke empat UUD Tahun 1945, makalah disampaikan dalam Seminar Pembangunan Hukum Nasional ke Viii yang diselenggarakan oleh BPHN Dephukham Ri, tanggal 14-18 Juli 2003

Bryan A Garner, in chief (ed), 2004, Balacks Law Dictionary, Eight Edition, West Group ST.Paul,Minn

Duverge,Maurice, 1951, Les Regime, diterjemahkan oleh Suwirjadi, Teori dan Praktek Tata Negara, Penerbit Kebangsaan Pustaka Rakyat, Jakarta.

Harry setya Nugraha, Pemurnian Sistemem Presidensiil dan Parlemen dua Kamar di Indonesia sebagai gagasan Perubahan UUD Tahun 1945, Jurnal Hukum Novelty, Volume 8 1 February 2017

Fajar Laksono dan Subarjo,2006, Kontroversi Undang-Undang Tanpa Pengesahan Presiden,Uii Press,Jogyakarta

Made Nurmawati, Pengaturan Lembaga Perwakilan Rakyat Dalam Sistemem Ketatanegaraan Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,Tahun 2007.

Poerwadarminta, 2006,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,Jakarta.

Paimin Napitupulu, 2005, Peran dan Pertanggungjawaban Dewan Perwakilan Rakyat- Kajian di Di DPRD Propinsi DKI Jakarta, Bandung, Alumni.

https://id.wikipedia.org/wiki/Hak_veto

Hak Veto Presiden”, http:// www. kompas.com / kompas. cetak/ 0208/09/ nasional/ anal07.htm.

80 Harry setya Nugraha, Pemurnian Sistemem Presidensiil dan Parlemen dua Kamar di Indonesia sebagai gagasan Perubahan UUD Tahun 1945, Jurnal Hukum Novelty, Volume 8 1 February 2017,hlm.58.