• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Larutan induk timbal, Pb 1000 µg/m 2. Asam nitrat p.a, HNO3 pekat (65%) 3. Asam nitrat, HNO3 1,0 N

4. Asam nitrat, HNO3 10%

5. Asam perklorat p.a, HClO4 pekat

6. Air suling yang bebas bahan analit atau mengandung timbal dengan kadar lebih rendah dari batas deteksi dan daya hantar listrik (DHL) < 2,00 μS/cm 7. Batu didih

8. Kertas saring kuantitatif dengan ukuran pori 8,0 μm Alat :

1. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

2. Timbangan analitik dengan ketelitian sampai dengan 0,0001 g 3. Cawan porselin

4. Desikator 5. Oven

6. Gelas ukur 100 ml

7. Pipet volumetri 1,0 ml; 2,0 ml; 3,0 ml; 4,0 ml; 5,0 ml; dan 10 ml 8. Pipet komagome 3 ml dan 5 ml

9. Gelas piala 100 ml

10. Penangas listrik (hot plate) 11. Corong

12. Kaca arloji 13. Batang pengaduk 14. Spatula

15. Mortar dan alu 16. Erlenmeyer 250 ml

17. Botol gelas atau polietilen bertutup 18. Labu ukur 50 ml; 100 ml dan 1000 ml

35

19. Pipet ukur 10 ml.

B. Persiapan dan pengawetan contoh uji

1. Sediakan contoh uji yang telah diambil sesuai dengan metode Sediment Sampling USEPA-600 (SOP#: 2016).

2. Buang benda-benda asing seperti potongan plastik, daun atau bahan lain yang bukan contoh uji.

3. Kering udarakan contoh uji pada suhu ruang.

4. Gerus contoh uji dan dihomogenkan.

5. Simpan dalam botol gelas atau polietilen yang bertutup.

C. Prosedur

1. Siapkan erlenmeyer volume 250 ml.

2. Timbang contoh uji yang sudah dihomogenkan sebanyak ± 3,00 g, masukkan ke dalam Erlenmeyer.

3. Tambahkan 25 ml air suling, aduk dengan menggunakan batang pengaduk.

4. Tambahkan 5 ml sampai dengan 10 ml asam nitrat, HNO3 pekat, aduk hingga bercampur rata.

5. Tambahkan 3 butir sampai dengan 5 butir batu didih, tutup dengan kaca arloji.

6. Letakkan erlenmeyer tersebut diatas penangas listrik, atur suhunya pada 1050C sampai dengan 1200C.

7. Panaskan sampai volume contoh uji tinggal + 10 ml; h) Angkat dan dinginkan.

8. Tambahkan 5 ml asam nitrat, HNO3 pekat dan 1 ml sampai dengan 3 ml asam perklorat, HClO4 pekat tetes demi tetes melalui dinding kaca Erlenmeyer.

9. Panaskan kembali pada penangas listrik sampai timbul asap putih dan larutan contoh uji menjadi jernih.

10. Setelah timbul asap putih, pemanasan dilanjutkan selama + 30 menit.

11. Dinginkan contoh uji. Saring dengan kertas saring kuantitatif dengan ukuran pori 8,0 μm. Tempatkan filtrat contoh uji pada labu ukur 100 ml dan tambahkan air suling sampai tanda tera. Filtrat contoh uji siap diukur ke dalam spektrofotometer serapan atom (SSA).

12. Lakukan pengukuran blanko:

a. Siapkan erlenmeyer volume 250 ml

b. Pipet 25 ml air suling, masukkan ke dalam erlenmeyer tersebut.

13. Pembuatan spike matrix:

a. Siapkan erlenmeyer volume 250 ml

b. Masukkan + 3,00 g contoh uji yang telah dihomogenkan ke dalam erlenmeyer, tambahkan 2 ml larutan baku timbal, Pb 10 µg/ml.

D. Perhitungan

1. Buat kurva kalibrasi berdasarkan hasil pembacaan absorbansi kadar larutan kerja dari alat Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

2. Tentukan kadar timbal, Pb contoh uji dengan cara memplotkan hasil pengukuran timbal, Pb pada kurva kalibrasi

3. Hitung kadar timbal, Pb dengan perhitungan sebagai berikut:

37

a. Untuk perhitungan dalam berat kering contoh uji:

Pb =

𝐶𝑥𝑉𝑥𝑓𝑝

𝐵 (1− 𝐾

100)

b. Untuk perhitungan dalam berat basah contoh uji:

Pb =

𝐶𝑥𝑉

𝐵

dengan pengertian:

Pb :kadar timbal, Pb dalam sedimen (μg/g)

C : kadar timbal, Pb yang diperoleh dari kurva kalibrasi (μg/ml) V :volume akhir (ml)

B : berat contoh uji (g) Ka :kadar air (%)

fp : faktor pengenceran (bila tidak ada pengenceran maka fp = 1).

Metode pengukuran tanaman padi (beras)( SNI 7387-2009 ):

Cara kerja

8. Timbangan

9. Blender/Cawan Porselin 10. Bunsen/Kompor Listrik 11. Tanur

12. Oven 13. Desikator

14. Rangkaian alat Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) varian AA7000 Bahan:

15. Aquabides (H20) 16. Asam nitrat (HNO3) 17. Sampel tanah dan beras

18. Kertas saring (kertas whatman 42) 19. Tissue.

B. Persiapan dan pengawetan contoh uji

1. Sampel diambil seminggu sebelum panen kira–kira berumur 3 bulan. Sampel tanaman padi diambil dari batangnya dan dimasukkan ke dalam plastik yang diberikan kode, kemudian diolah menjadi beras.

2. Selanjutnya sampel tersebut dibawa UPT. Laboratorium Kesehatan Daerah Medan.

C. Prosedur

1. Sediakan sampel dari masing-masing pisang goreng kemudian sampel dihaluskan menggunakan cawan porselin/blender.

39

2. Setelah itu masukkan masing-masing sampel kedalam gelas sampel yang sudah disediakan.

3. Timbang sampel dan netralkan (0,0) dengan menekan tombol (tare fuction B) sampai 5 gram.

4. Kemudian sampel tersebut dimasukkan dalam oven selama ± 2 jam pada suhu 95-105 0C guna mengurangi kadar air dalam sampel.

5. Kemudian arangkan sampel diatas bunsen/kompor listrik. Setelah itu diamkan.

6. Masukkan sampel kedalam tanur pada suhu 600 ̊ C selama ± 4 jam sampai menjadi abu dan bewarna putih keabu-abuan.

7. Jika sampel sudah menjadi abu, kemudian dinginkan di dalam desikator.

8. Kemudian larutkan dengan asam nitrat (HNO3) aduk hingga benar-benar larut menggunakan spatula dan masukkan kedalam labu takar 100 ml dengan corong. Lakukan 2 kali agar sampel benar-benar larut.

9. Kemudian campur dengan aquades hingga tanda garis dengan menggunakan pipet tetes dan homogenkan.

10. Kemudian saring sampel kedalam enlemeyer dengan menggunakan corong dan kertas whatman 42 sambil di homogenkan.

11. Setelah disaring, tuang larutan sampel tersebut ke dalam tabung reaksi.

12. Kemudian masukkan sampel ke dalam alat Spektrofometri Serapan Atom (SSA) varian AA7000, tunggu dan catat hasilnya.

D. Pengukuran kadar timbal (pb) dalam sampel

Larutan hasil destruksi dapat langsung diukur timbalnya dengan cara mengaspirasikan larutan sampel ke alat SSA.

Dengan alat ini diperoleh konsentrasi timbal dalam larutan per ml sampel larutan.

Untuk mengetahui konsentrasi sebenarnya dalam sampel beras, didapatkan dari alat dihitung dengan menggunakan rumus:

Kadar Timbal(μg

⁄ ) g

= Konsentrasi dari alat(μg

⁄ml) × Volume akhir (ml) Berat Sampel (g)

Kadar timbal yang dipakai sebagai data penelitian adalah hasil perhitungan rumus diatas dengan batas tiga angka dibelakang koma (0,000). Karena angka yang dipakai dalam limit deteksi dan baku mutu yang berlaku adalah dua angka dibelakang koma.

Metode Analisis Data

Analisis univariat. Variabel-variabel yang akan dianalisis univariat adalah kadar timbal pada tanah dan kadar timbalpadatanaman padi (beras). Tujuan analisis univariat adalah untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel.

Hasil Penelitian

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang merupakan jalan raya lintas Sumatera yang padat lalu lintas. Kendaraan-kendaraan yang melintas dijalan ini biasanya berupa mobil pribadi, truk, bus dan kendaraan roda dua.

Di sekitar Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang ini terdapat banyak lahan persawahan, perkebunan maupun rumah-rumah warga. Lahan persawahan yang ada di pinggiran jalan ataupun belakang rumah warga kebanyakan milik warga dan di olah sendiri. Bibit padi yang digunakan dilahan persawahan warga biasanya sama jenisnya dengan yang digunakan oleh UPT Balai Benih Induk Padi Murni Tanjung Morawa yaitu bibit padi yang berjenis Inpari 42 (IR 42) ataupun Mikonga. Pestisida yang digunakan juga sama dengan UPT Benih yaitu Antrakol dan Ally Plus.

Lokasi penelitian dilakukan pada lahan pertanian warga yang berada di pinggiran Jalan Medan Lubuk Pakam tepatnya pada Desa Pagar Jati Km.32 Lubuk Pakam, dengan luas areal 150 meter x 14 meter atau 2100 m2. Tanaman padi yang ditanam berjenis IR 42 dengan pestisida yang digunakan berjenis organofosfat dengan air irigasi yang berasal dari Sungai Ular.

Adapun kondisi iklim dan keadaan tanah pada saat penelitian adalah sebagai berikut :

a. Temperatur

1. Temperatur minimum 30o C

3. Temperatur rata-rata 33,5o C b. Kelembaban

Kelembaban rata-rata 59-60 % c. Arah dan Kecepatan angin

Arah angin pada saat penelitian adalah dari arah Timur ke arah Barat, dengan kecepatan angin rata-rata 1,2 m/s

d. Keadaan Tanah

1. Jenis Tanah : Lempung Berpasir 2. pH Tanah : 6,74-7,20

Hasil Analisis Kadar Timbal (Pb) dalam Tanah

Kadar Timbal (Pb) dalam tanah di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3

Kadar Timbal (Pb) dalam Tanah dengan Jarak 5-120 meter dari Jalan Raya Medan Lubuk Pakam Deli Serdang Tahun 2019

Jarak tanah dari pinggir jalan raya

(meter)

Kadar Pb dalam Tanah (mg/kg) NAB (mg/kg)

5 10,22

Berdasarkan tabel 3 diatas, dapat dilihat bahwa kadar timbal tertinggi yaitu 11,40 mg/kg pada jarak 40 meter dari pinggir jalan raya, dan kadar timbal terendah yaitu 3,40 mg/kg pada jarak 60 meter dari pinggir jalan raya. Maka dapat

43

dikatakan bahwa pada jarak 5-120 meter telah melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) cemaran logam berat pada sedimen tanah.

Hasil Analisis Kadar Timbal (Pb) dalam Tanaman Padi (Beras)

Kadar Timbal (Pb) dalam tanaman padi (beras)di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4

Kadar Timbal (Pb) dalam Tanaman Padi (Beras) dengan Jarak 5-120 meter dari Jalan Raya Medan Lubuk Pakam Deli Serdang Tahun 2019

Jarak tanaman padi

Berdasarkan tabel 4 diatas, dapat dilihat bahwa kadar timbal pada tanaman padi (beras) pada jarak 5-120 meter bernilai sama yaitu ≤ 0,0170mg/kg.Hal ini menunjukkan bahwa pada jarak 5-120 meter kadar timbal yang dimiliki oleh tanaman padi (beras) tidak melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) cemaran logam berat pada makanan.

Pembahasan

Kadar Timbal (Pb) dalam Tanah

Hasil penelitian diketahui bahwa kadar timbal pada sampel tanah pada jarak 5, 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 meter dari jalan raya melebihi batas maksimum Nilai Ambang Batas cemaran logam berat pada tanah menurut SNI 06-6992.3-2004 yaitu sebesar 0,07 mg/kg. Sampel tanah diambil dari permukaan tanah yang ada di lahan persawahan tersebut. Kadar timbal dalam tanah yang tertinggi di dapat ada jarak 5 meter dan 40 meter yaitu sebesar 10,22 dan 11,4 mg/kg, sedangkan kadar timbalterendah didapatkan pada jarak 60 meter yaitu sebesar 3,40mg/kg. Tingginya kadar timbaldi dalam tanah kemungkinan disebabkan oleh polutan udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor, hal ini disebabkan karena area persawahan berada dipinggir jalan raya serta karena kecepatan ataupun arah angin yang ada.

Timbal yang terdapat didalam bensin yang berasal dari sistem pembuangan kendaraan bermotor sangat tinggi dikarenakan pembakaran senyawa timbal pada mesin kendaraan bermotor tidak terbakar musnah, maka emisi timbal yang terbuang di udara dapat meluruh ke tanah karena adanya pengaruh dari cuaca dan lingkungan sekitarnya. Menurut Manik et al (2015), kadar timbal atau timah hitam disekitar jalan raya tergantung pada tingkat kecepatan lalu lintas, jarak terhadap jalan raya, arah maupun kecepatan angin.

Berdasarkan hasil penelitian terlihat perbedaan kadar timbalpada beberapa jarak pengambilan sampel tanah, namun tidak terlihat kecenderungan semakin

45

mungkin disebabkan oleh jarak titik pengambilan sampel yang tidak terlalu jauh.

Hal ini membuktikan bahwa jumlah timbal yang terkandung didalam tanah tidak terpengaruh terhadap jarak tanah dengan jalan raya yang ada, serta dapat disebabkan oleh arah angin yang ada di lokasi penelitian yaitu dari arah timur ke barat. Umumnya kadar logam berat yang rendah dapat beracun bagi tumbuhan, hewan maupun manusia, dan logam berat timbal yang ditemukan dalam kadar yang melebihi batas NAB ini termasuk salah satu logam berat yang sering mencemari habitat.

Menurut penelitian Karmila (2004), dikatakan bahwa semakin dekat dengan jalan raya maka semakin tinggi pula kadar timbal yang terkandung, sedangkan semakin jauh dari jalan raya maka semakin rendah kadar timbal yang dimilikinya. Namun pada penelitian ini, timbal pada jarak 20 meter dari jalan raya lebih rendah dibandingkan timbal pada jarak 40 meter dari jalan raya yaitu sebesar 6,31 meter, pada lokasi pengambilan sampel yang jaraknya lebih dekat dengan jalan raya terdapat sebuah bangunan dan pohon yang memungkinkan kadar timbal yang terserap ke tanah tersebut rendah karena terhalangi, sedangkan pada jarak menengah dari jalan raya tidak terdapat bangunan dan pohon yang mungkin menghalangi sehingga memungkinkan kadar timbal yang terkandung dalam tanah tersebut menjadi lebih tinggi. Menurut Yan dkk (2012), dijelaskan bahwa jarak tidak terlalu berpengaruh terhadap tingginya logam berat di dalam tanah. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya kegiatan pertanian yang mungkin sering dilakukan di lahan tersebut seperti irigasi, pemupukan, pembajakan dan lainnya.

Kadar Timbal (Pb) dalam Tanaman Padi (Beras)

Hasil penelitian diketahui bahwa kadar timbal pada sampel tanaman padi (beras) pada jarak 5, 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 meter dari jalan raya tidak melebihi batas maksimum Nilai Ambang Batas cemaran logam berat pada pangan menurut SNI 7387: 2009 yaitu sebesar 0,03 mg/kg. Kadar timbalyang terkandung dalamtanaman padi (beras)bernilai cenderung sama yaitu ≤ 0,0170mg/kg atau tanaman padi (beras)tersebut tidak mengandung timbal, maka dapat dikatakan bahwa jarak antara tanaman padi (beras)dengan pinggir jalan tidak terlalu terpengaruh dalam proses terakumulasinya timbal dalam tanaman padi (beras)tersebut. Emisi timbal yang meluruh kedalam tanaman dapat dipengaruhi oleh cuaca dan lingkungan sekitar seperti musim hujan, musim panas, arah angin, kepadatan gedung, kepadatan lalu lintas, umur tanaman, jenis tanah, jenis daun atau lainnya (Kusnoputranto, 1996).

Rendahnya kadar timbal pada tanaman padi (beras)pada penelitian ini dapat disebabkan oleh jumlah kandungan timbaldalam tanah persawahan tersebut yang tidak melebihi 100-500 ppm. Jenis tanah yang ada juga dapat memengaruhi keberadaan logam berat di tanah yang cenderung meningkatkan nilai pH.

Tingginya kadar pH juga dapat mengakibatkan penyerapan logam berat oleh tumbuhan dari tanah yang tercemar berat akan lebih sedikit dibandingan dari tanah yang tercemar ringan.

Apabila beras dengan kadar timbal yang rendah tersebut dikonsumsi secara terus- menerus tanpa dibarengi dengan pola konsumsi yang baik (mengkonsumsi serat) dalam jangka panjang memungkin terakumulasinya timbal

47

tersebut kedalam tubuh sehingga melewati batas maksimum yang dapat dikonsumsi sesuai SNI 7387-2009sebesar 28,6% dari batas maksimum timbal dalam beras yaitu 0,03 mg/kg yang dapat mengakibatkan keracunan timbal.

MenurutYandkk (2012), adanya tanaman lain atau pohon di sekitar lingkungan pengambilan sampel dapat menyebabkan terserapnya polutan atau logam berat timbal di udara kedalam tanaman lain ataupun pohon tersebut. Pada penelitian ini dapat ditemukan pohon mangga yang berada di sekitar lahan persawahan tersebut, sehingga memungkinkan emisi timbal di udara terserap oleh pohon mangga tersebut. Tanaman yang dapat menyerap timbal atau polutan udara salah satunya adalah pohon mangga, pohon mangga dapat menyerap kadar timbal rata-rata 469,3 ppm (Djubaida, 2014).

Pada proses penyerapan Timbal pada tanaman, arah angin juga berperan dalam proses penyebaran bahan pencemar seperti timbal pada tanaman. Hal ini mempunyai hubungan dengan waktu panen tanaman padi, jika waktu panen dilakukan di bulan Maret dan April dimana arah angin lebih banyak ke utara maka bahan pencemar yang dilepaskan ke utara akan lebih banyak, begitu pula dengan kadar Pb di air dan di tanah dapat mempengaruhi kadar Pb pada tanaman padi (Fitrianah, 2017).

Karakteristik yang Mempengaruhi Kadar Timbal dalam Tanah dan Tanaman Padi (Beras)

Ada beberapa karakteristik yang dapat mempengaruhi kadar timbal pada tanah dan tanaman padi (beras), faktor alam yang dapat memengaruhi tingginya kadar timbal di dalam tanah seperti angin, kelembaban dan suhu. Angin dapat

memperkecil bahaya akibat pencemar udara dan tingginya kelembaban di udara dapat membantu proses pengendapan timbal apabila berikatan dengan air yang ada di udara, sehingga mudah mengendap ke permukaan bumi karna gaya gravitasi bumi. Sedangkan suhu yang tinggi dapat menyebabkan reaksi kimia dalam perubahan suatu polutan udara berlangsung cepat, jika dalam kondisi suhu yang kering atau tinggi angin akan bertiup lambat dibandingkan jika kondisi suhu rendah ataupun keadaan hujan karena tidak terjadinya pengenceran polutan di udara (Wasbiah, 2016).

Menurut Suprayono dan Setyono (1997), tanah yang bertekstur agak halus seperti lempung memiliki drainase yang buruh sehingga polutan yang terserap akan dapat tetap menjenuhi tanah dalam waktu yang lama. Pada penelitian ini dapat diketahui tingginya kadar timbal di tanah sawah disebabkan karena tekstur tanahnya yaitu lempung berpasir (sandy loam) sehingga memudahkan logam berat timbal untuk mengendap di tanah. Sedangkan menurut Hamzah (2017), penggunaan pupuk atau pestisida dapat meningkatkan kandungan logam berat yang ada di tanah, yang bersumber dari silica yang teroksidasi maupun hasil residu pestisida yang telah terakumulasi lama di tanah.

Pada musim panas atau pada saat suhu tinggi dapat menurunkan tingkat penyerapan logam berat terhadap tanaman (Ernawan, 2010). Arah angin dan pH tanah juga berperan dalam proses penyebaran bahan pencemar seperti timbal pada tanaman, keberadaan tanaman lain disekitar lahan persawahan tersebut juga dapat menyebabkan rendahnya penyerapan yang terjadi pada tanaman padi tersebut. Hal ini dapat terjadi apabila tanaman yang berada disekitarnya memiliki tingkat

49

kerapatan stomata yang lebih besar dibandingkan dengan tanaman padi (beras) yang diteliti.Menurut Siregar (2005), tanaman yang terakumulasi oleh timbal terjadi dikarenakan melekatnya timbal pada permukaan daun atau masuk melalui stomata sehingga berikatan dengan kloroplast. Masuknya timbal ke dalam stomata disebabkan oleh ukuran partikel timbal yang relatif kecil dibandingkan ukuran stomata.

Polutan timbal di udara dapat mempengaruhi kesehatan lingkungan yang ada, polutan timbal tersebut dapat terserap dalam tanah sehingga kemungkinan dapat mengganggu ekosistem lain yang ada disekitarnya, polutan timbal tersebut juga dapat terserap dalam tanaman yang berada di lingkungan yang dekat dengan sumber polutan. Apabila tanaman tersebut merupakan tanaman pangan seperti pada penelitian ini, maka ada kemungkinan timbal yang terakumulasi dalam tanaman tersebut dapat pula masuk ke tubuh manusia.

Keterbatasan penelitian

Keterbatasan penelitian pada penelitian ini hanya terdapat pada proses perizinan pengambilan sampel tanah dan padi dikarenakan masyarakat sekitar tidak pernah didatangi seseorang untuk mengambil sampel padi atau tanah di persawahannya, serta pada saat pengambilan sampel padi sudah berada di pengujung masa panen sehingga sudah banyak padi yang dipanen oleh masyarakat.

Kesimpulan dan saran

Kesimpulan

1. Kadar timbal pada tanah persawahan di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang pada jarak 5-120 meter telah melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) cemaran logam berat pada sedimen tanah, kadar tertinggi pada jarak 40 meter dari pinggir jalan raya yaitu 11,40 mg/kg dan kadar terndah pada jarak 60 meter dari pinggir jalan raya yaitu 3,40 mg/kg.

2. Kadar timbal pada tanaman padi (beras) pada jarak 5-120 meter bernilai sama yaitu ≤ 0,0170 mg/kg. Maka dapat dikatakan bahwa pada jarak 5-120 meter kadar timbal yang dimiliki oleh tanaman padi (beras) tidak melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) cemaran logam berat pada makanan.

3. pH tanah di areal persawahan yang berlokasi di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang adalah 6,74-7,20.

4. Tekstur tanah pada lahan pertanian di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang yaitu lempung berpasir.

5. Sumber air irigasi yang digunakan di areal persawahan tersebut berasal dari aliran Sungai Ular.

6. Suhu rata-rata areal persawahan tersebut adalah 33,5o C, kelembaban rata-rata 59-60 % dengan arah angin dari arah Timur ke arah Barat.

7. Jenis pestisida yang digunakan di areal persawahan berjenis organofosfat.

51

Saran

Dari data hasil penelitian di atas, peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Kepada warga yang memiliki lahan persawahan yang jaraknya dekat jalan raya dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi agar menanam tanaman pelindung yang dapat mengurangi penyerapan timbal pada lahan persawahannya, serta dapat meminimalisasi paparan timbal dalam tanaman padi (beras).

2. Kepada warga yang memiliki lahan persawahan yang jaraknya dekat jalan raya agar menentukan jarak aman untuk penanaman padi (beras).

3. Disarankan untukmengurangi faktor terakumulasinya logam berat timbal ke dalam tubuh akibat mengkonsumsi beras yang mengandung Timbal.

4. Disarankan saat pengambilan sampel tanah oleh peneliti untuk penelitian selanjutnya agar pengambilan sampel lebih dalam ke akar.

Daftar Pustaka

Achmad, R. (2002). Kimia lingkungan. Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

Achmadi, U.F. (2008). Manajemen penyakit berbasis wilayah. Jakarta: UI Press.

Agustina, T. (2010). Kontaminasi Logam Berat Pada Makanan Dan Dampaknya Pada Kesehatan. Teknubuga, 2 (2).

Andriani, R., Asbar, I., & Purwati, S. (2016). Analisis kandungan logam berat timbal (pb) pada tanah lahan pertanian di Samarinda Kalimantan Timur.

Prosiding. Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mulawarman: Samarinda.

Arsyad, S. (2010). Konservasi tanah dan air (Edisi ke-2). Bogor: IPB Press.

Azis, D., Jumadi, O., & Wiharto, M. (2010). Analisis kandungan timbal (pb) pada daun tanaman teh (camellia sinensis o.k) dan tanah perkebunan teh yang berada di kawasan Puncak Malino. Jurnal Sainsmat, 1 (1), 15-20.

BPS. (2018). Statistik Daerah Kabupaten Deli Serdang 2018. Deli Serdang.

Charlene. (2004). Pencemaran logam berat timbal (Pb) dan cadmium (Cd) pada sayur-sayuran. Bogor: IPB Press.

Dahlan, E. N. (2004). Studi kemampuan tanaman dalam menjerap dan menyerap timbal emisi dari kendaraan bermotor(Tesis, Fakultas Pascasarjana IPB.

Bandung). Diakses dari https://journal.ipb.ac.id/index.php/konservasi/

Darmono. (1995). Logam dalam sistem biologi. Jakarta: UI Press.

Darmono. (2001). Lingkungan hidup dan pencemaran. Jakarta: UI Press.

Departemen Perhubungan Direktorat Jendral Perhubungan Darat. (2009).

Pengembangan Data Perhubungan Darat Propinsi Sumatera Utara.

Diakses 27 April 2019, dari hubdat.dephub.go.id/data-a-informasi/profil-hubdat-per-provinsi/

Djaenuddin, D., Marwan, H., Subagyo, H., Mulyani, A., & Suharta, N. (2000).

Kriteria kesesuaian lahan untuk komoditas pertanian. Departemen Pertanian. Diakses dari bbsdlp.litbang.pertanian.go.id/

Djubaida. (2014). Perbedaan efektivitas daun mahoni (swietenia mahagoni) dan daun mangga (mangifera indica l) dalam menyerap timbal (pb) di udara (Skripsi, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan dan Keolahragaan, Universitas Negeri Gorontalo). Diakses dari

http://eprints.ung.ac.id/7891/1/2014-1-1-53

Ernawan, D. (2010). Pengaruh penggenangan dan konsentrasi timbal (pb) terhadap pertumbuhan dan serapan pb azolla microphylla pada tanah berkarakter kimia berbeda (Skripsi, Fakultas Pertanian, Universitas

Sebelas Maret). Diakses dari

https://eprints.uns.ac.id/9777/1/126930308201008421.pdf Fardiaz, S. (1992). Polusi air dan udara. Yogyakarta: Kanisius.

Fitri, H. (2009). Uji adaptasi beberapa varietas padi ladang (oryza sativa l.) (Skripsi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara).Diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/7576/09E02769.pd f

Fitrianah, L., Yai, M., & Effendy, S. (2017). Dampak pencemaran aktivitas kendaraan bermotor terhadap kanudngan timbal (pb) dalam tanah dan tanaman padi. Jurnal Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, 7 (1), 11-18.

Fitter, A. H.(1992). Fisiologi lingkungan tanaman. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Gusnita, D. (2012). Pencemaran logam berat timbal (pb) di udara dan upaya penghapusan bensin bertimbal. Berita Dirgantara, 13 (3), 95-101.

Hamzah, A., Ricky, & Hapsari, I. (2017). Remediasi lahan pertanianyang tercemar logam berat untuk menghasilkan produk pangan yang sehat.

Seminar Nasional Hasil Penelitian Universitas Kanjuruhan Malang.

Diakses dari https://semnas.unikama.ac.id/lppm/prosiding/2017/2

Diakses dari https://semnas.unikama.ac.id/lppm/prosiding/2017/2

Dokumen terkait