ANALISIS KADAR TIMBAL (Pb) DALAM TANAH DAN TANAMAN PADI DI JALAN MEDAN LUBUK PAKAM
DELI SERDANG TAHUN 2019
SKRIPSI
Oleh
NADYA MAGHFIRAH NIM. 151000357
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ANALISIS KADAR TIMBAL (Pb) DALAM TANAH DAN TANAMAN PADI DI JALAN MEDAN LUBUK PAKAM
DELI SERDANG TAHUN 2019
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
NADYA MAGHFIRAH NIM. 151000357
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Telah diuji dan dipertahankan Pada Tanggal : 7 Agustus 2019
TIM PENGUJI SKRIPSI
Ketua : Ir. Indra Chahaya S., M.Si.
Anggota : 1. Ir. Evi Naria, M.Kes.
2. Dra. Nurmaini, M.K.M., Ph.D.
Kadar Timbal (Pb) dalam Tanah dan Tanaman Padi di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang Tahun 2019” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dangan cara- cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, 7 Agustus 2019
Nadya Maghfirah
Abstrak
Timbal tidak saja hanya dapat mencemari udara, namun melalui proses bioakumulasi dapat juga mencemari tanah dan tanaman. Jalan raya Medan Lubuk Pakam merupakan kawasan yang padat lalu lintas yang berisiko terpapar timbal terhadap areal persawahan masyarakat yang ditanami padi yang berada di pinggiran jalan raya tersebut. Sehingga memungkinkan tingginya kadar timbal pada tanah maupun tanaman padi (beras) pada lahan pertanian tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar timbal dalam tanah dan tanaman padi (beras) di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang yang selanjutnya dibandingkan dengan SNI 06-6992.3-2004 dan SNI 7387 : 2009 yang telah ditetapkan. Penelitian ini berjenis penelitian survey yang bersifat deskriptif.
Sampel yang digunakan adalah tanah dan tanaman padi (beras) yang ada di lahan pertanian di pinggir jalan raya Medan Lubuk Pakam. Pemeriksaan Sampel dilakukan di UPT. Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Medan. Hasil analisis kadar logam timbal tertinggi pada sampel tanah yaitu 11,40 mg/kg pada jarak 40 meter dari pinggir jalan raya, dan kadar timbal terendah yaitu 3,40 mg/kg pada jarak 60 meter dari pinggir jalan raya. Hasil cemaran timbal sedimen tanah pada jarak 5-120 meter telah melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yaitu ≤ 0,07 mg/kg.
Hasil analisis kadar timbal pada sampel tanaman padi (beras) pada jarak 5-120 meter bernilai sama yaitu ≤ 0,0170mg/kg, sampel tanaman padi tersebut tidak melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) cemaran logam berat pada makanan yaitu ≤ 0,3 mg/kg, sehingga pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jarak tidak terlalu berpengaruh terhadap tingginya logam berat di tanah maupun tanaman padi (beras). Disarankan untuk menanam tanaman pelindung dan penentuan jarak aman penenaman dapat meminimalisasi terakumulasinya timbal pada tanah dan tanaman padi (beras).
Kata kunci: Timbal, tanah, tanaman padi
through the bio accumulation process. Medan Lubuk Pakam highway is a traffic-intensive area that has a high risk of exposure of lead to the communities rice fields that located on the edge of the highway. So it is possible to have high levels of lead on the soil and rice plants (rice) at these rice fields. The purpose of this study was to determine lead levels in soil and rice plants (rice) at Medan Lubuk Pakam Deli Serdang highway which were compared with SNI 06-6992.3-2004 and SNI 7387: 2009. This research is a descriptive survey research. The sample used is soil and rice plants (rice) on agricultural land edge of the Medan Lubuk Pakam highway. Sample inspection was carried out at the UPT. Regional Health Laboratory of Medan City. The results of the analyzed of the highest levels of lead in soil samples were 11.40 mg/kg at a distance of 40 meters from the edge of the highway, and the lowest lead level was 3.40 mg/kg at a distance of 60 meters from the edge of the highway. The results of soil sediment lead contamination at a distance of 5-120 meters have exceeded the Threshold Limit Value (TLV), which is ≤ 0.07 mg/kg. The results of analyzed of lead levels in samples of rice plants (rice) at a distance of 5-120 meters are equal, namely ≤ 0.0170 mg/kg, the samples of rice plants do not exceed the Threshold Limit Value (TLV) of heavy metal contamination in food which is ≤ 0.3 mg/kg. So, it can be concluded that distance has nothing to do with the amount of lead in contained in the field or the rice as expected. It is recommended to planting shielding plants and determining the safe distance for planting can reduce lead accumulation in soil and rice plants (rice).
Keywords: Lead, soil, rice plants
Kata Pengantar
Alhamdulillah puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkah yang telah di berikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Kadar Timbal (Pb) dalam Tanah dan Tanaman Padi di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang Tahun 2019”.
Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperolah gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. dr. Taufik Ashar, M.K.M., selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. Ir. Indra Chahaya S., M.Si., selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu dan dengan sabar memberikan bimbingan, arahan dan masukan kepada penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.
5. Ir. Evi Naria, M.Kes., selaku dosen penguji I dan Dra. Nurmaini, M.K.M.,
membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat.
7. Seluruh dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat atas ilmu yang telah diajarkan selama ini kepada penulis.
8. Pegawai dan Staf Fakultas Kesehatan Masyarakat yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Kedua Orang tua saya, Ibu Nurlena dan Bapak Ilham yang telah mendukung dan mendoakan saya selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat.
10. Terkhusus kepada Rathia, Dila dan Fauzi yang telah membantu dalam proses perkuliahan maupun penyempurnaan skripsi penulis.
11. Teman-teman seperjuangan Bayu, Mutiara, Anindya, Hasdyana, Rini, Enda dan Alfitri yang telah banyak meluangkan waktu dan pikiran dalam penyempurnaan skripsi penulis.
1. Noor’l, Kurnia, Sri Devi, Frisilia dan lainnya yang membantu dan menyemangati penulis dalam penyelesaian skripsi.
12. Serta teman-teman yang telah memberikan dukungan moril kepada penulis selama masa perkuliahan dan masa penyelesaian skripsi penulis.
Penulis menyadari penelitian ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, diharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini.
Akhir kata penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan bermanfaat bagi pembaca.
Medan, 7 Agustus 2019
Nadya Maghfirah
Halaman Persetujuan i
Halaman Penetapan Tim Penguji ii
Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii
Abstrak iv
Abstract v
Kata Pengantar vi
Daftar Isi ix
Daftar Tabel xi
Daftar Gambar xii
Daftar Lampiran xiii
Daftar Istilah xiv
Riwayat Hidup xv
Pendahuluan 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 5
Tujuan Penelitian 5
Tujuan umum 5
Tujuan khusus 5
Manfaat Penelitian 6
Tinjauan Pustaka 7
Logam Timbal (Pb) 7
Sumber dan Kegunaan Timbal di Alam 8
Keberadaan Timbal di Alam 10
Timbal di udara 10
Timbal di air 12
Timbal dalam tanah 13
Timbal (Pb) dalam tanaman 13
Pengaruh Timbal terhadap Kesehatan 15
Tanah 18
Jenis tanah untuk persawahan 19
Temperatur 20
Kelembaban 20
ph Tanah 20
Tekstur tanah 20
Sumber air 21
Tanaman Padi (Beras) 21
Klasifikasi tanaman padi (beras) 21
Syarat tumbuh tanaman padi (beras) 23
Komposisi dan manfaat beras 24
Penilaian Pajanan Timbal (Pb) 25
Toleransi Tanaman terhadap Pencemaran Udara 26
Pengendalian Timbal terhadap Tanah dan Tanaman Padi 26
Landasan Teori 27
Kerangka Konsep 30
Metode Penelitian 31
Jenis Penelitian 31
Lokasi dan Waktu Penelitian 31
Lokasi penelitian 31
Waktu penelitian 31
Objek Penelitian 31
Definisi Operasional 31
Metode Pengumpulan data 33
Metode Pengukuran 33
Metode Analisis Data 40
Hasil Penelitian 41
Gambaran Umum Lokasi Penelitian 41
Hasil Analisis Kadar Timbal (Pb) dalam Tanah 42 Hasil Analisis Kadar Timbal (Pb) dalam Tanaman Padi (Beras) 43
Pembahasan 44
Kadar Timbal (Pb) dalam Tanah 44
Kadar Timbal (Pb) dalam Tanaman Padi (Beras) 46 Karakteristik yang Mempengaruhi Kadar Timbal dalam Tanah
dan Tanaman Padi (Beras) 47
Keterbatasan Penelitian 49
Kesimpulan dan saran 50
Kesimpulan 50
Saran 51
Daftar Pustaka 52
Lampiran 56
1 Bentuk Persenyawaan Pb dan Kegunaannya 10 2 Empat Kategori Timbal dalam Darah Orang Dewasa 17 3 Kadar Timbal (Pb) dalam Tanah dengan Jarak Tanam 5-120
meter dari Jalan Raya Medan Lubuk Pakam Deli Serdang Tahun 2019
42
4 Kadar Timbal (Pb) dalam Tanaman Padi (Beras) dengan Jarak Tanam 5-120 meter dari Jalan Raya Medan Lubuk Pakam Deli Serdang Tahun 2019
43
Daftar Gambar
No Judul Halaman
1 Kerangka konsep 30
1 Denah Lokasi Pengambilan Sampel 56
2 Pengambilan Sampel Padi 57
3 Pengambilan Sampel Tanah 58
4 Analisis Tekstur Tanah 59
5 Hasil Analisis Sampel Tanah 60
6 Hasil Analisis Sampel Tanaman Padi (Beras) 61
Daftar Istilah
AAS Atomic Absorption Spectroscopy
Pb Plumbum
PVC Polyvinyl chloride
WHO World Health Organization
Lhokseumawe pada tanggal 3 Juni 1997. Penulis beragama Islam, anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Ilham dan Ibu Nurlena.
Pendidikan formal dimulai dari pendidikan sekolah dasar di SD 012 Pekanbaru Tahun 2006-2010, sekolah menengah pertama di SMP 20 Pekanbaru Tahun 2010-2012, sekolah menengah atas di SMAN 4 Pekanbaru Tahun 2012- 2015, selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Medan, 7 Agustus 2019
Nadya Maghfirah
Pendahuluan
Latar Belakang
Menurut UN Environmental Programme (2018), polusi udara merupakan risiko kesehatan lingkungan terbesar saat ini yang telah membunuh lebih dari 6 juta orang setiap tahunnya. Polusi udara terdapat dari berbagai macam sumber seperti, emisi kendaran bermotor, hasil pembakaran industri, kebakaran hutan, debu dan masih banyak lagi. Di negara-negara yang berpenghasilan rendah dan menengah, 98 persen kota dengan lebih dari 100.000 penduduk gagal memenuhi pedoman kualitas udara WHO.
Menurut World Health Organization (WHO) (2018), konsentrasi partikel halus dalam polutan udara di South East Asia pada Tahun 2016 mencapai 57,3 persen, sedangkan di Indonesia konsentrasi rata-rata tahunan dari partikel halus di polusi udara mencapai 16 persen pada Tahun 2016.
Di Indonesia, peningkatan jumlah penduduk yang sangat pesat mengakibatkan tingginya laju pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor serta majunya kawasan industri di beberapa daerah perkotaan yang menyebabkan kualitas udara di Indonesia menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat atau berbahaya.
Buruknya kualitas udara di Indonesia diakibatkan oleh banyaknya jumlah kendaraan bermotor yang mengeluarkan emisi gas buangan yang tidak baik, dikarenakan pemeliharaan kendaraan bermotor yang buruk, maupun penggunaan bahan bakar yang berkualitas kurang baik. Hal ini membuktikan bahwa emisi
sekitar 85 persen. Kendaraan bermotor termasuk dalam polutan bergerak yang dapat menghasilkan bahan pencemar seperti CO, hidrokarbon yang tidak terbakar sempura, NOx dan SOx, serta partikel (Gusnita, 2012). Pada Tahun 2007, peningkatan jumlah kendaraan bermotor tiap tahunnya dapat dibuktikan dengan tingginya jumlah kendaraan bermotor seperti sepeda motor yaitu berkisar antara 2 juta-2,5 juta dan jumlah kendaraan bermotor seperti mobil penumpang, mobil beban dan bus berkisar antara 0-500 ribu di Provinsi Sumatera Utara, dengan pola pergerakan lalu lintas pada Tahun 2006 sebanyak 18.738.813 org/trip (Ditjen Perhubungan Darat, 2009).
Timbal merupakan bahan pencemar utama yang banyak terdapat di lingkungan sekitar yang disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor, timbal (pb) juga terdapat pada industri yang pada proses produksinya menggunakan bahan baku Timbal atau timah hitam. Timbal dimanfaatkan juga sebagai aditif dalam bahan bakar, khususnya bensin karena dapat memperbaiki mutu bakar.
Berdasarkanpernyataan resmi DitjenMigas (2005), jumlah timbal paling tinggi yang diizinkan adalah 0,45 gram per liter dalam bahan bakar, namun menurut kententuan internasional batas toleransipaling tingginya adalah 0,15 gram perliter. Timbal dalam bensin sangat membahayakan, karena emisi yang dikeluarkan dalam proses pembakarannya adalah0,09 gramtimbal tiap 1 km nya (Gusnita, 2012).
Timbal ialah bahan beracun yang mudah terakumulasi dalam tubuh manusia, serta menimbulkan gangguan kesehatan seperti anemia, gangguan fungsi
3
ginjal, maupun gangguan sistem syaraf serta penurunan intelegensi pada anak.
Timbal dapat juga masuk kesaluran darah dan darah melalui makanan.
Jumlah Pb yang dapat menyebabkan keracunan dalam darah berkisar antara 60-100 mikro gram per 100 ml darah. Gejala yang timbulkan berupa mual, muntah, sakit perut hebat, kelainan fungsi otak, anemi berat, kerusakan ginjal bahkan kematian yang dapat terjadi dalam 12 hari (Santi, 2001).
Timbal termasuk kedalam logam berat pada sistem periodik yang teletak pada unsur golongan IVA, periode ke 6. Timbal pada komponen lingkungan menyebabkan transmisi pencemaran menjadi lebih luas keberbagai makhluk hidup termasuk air, tanah, udara dan manusia yang mengandung timbal dan jika dipergunakan untuk kebutuhan hidup, seperti untuk menyiram tanaman dan menanam tanaman pada lahan yang terdapat kandungan timbalnya maka akan menimbulkan risiko masuknya timbal kedalam tanaman tersebut, serta gangguan kesehatan pada manusia yang mengkonsumsinya. Misalnya timbal yang terserap dalam tanaman yang sudah melebihi batas dan sering kita konsumsi, dapat mengakibatkan logam berat didalamnya terakumulasi ke dalam tubuh kita serta menimbulkan risiko kesehatan pada tubuh apabila di konsumsi secara terus- menerus (Karmila, 2005).
Kawasan jalan raya Medan Lubuk Pakam merupakan kawasan yang padat lalu lintas dan kawasan industri sehingga risiko terpapar timbal melalui emisikendaraanbermotor, di kawasan tersebut juga terdapat areal persawahan masyarakat yang ditanami padi dan sangat dekat lokasinya dengan jalan raya, beras yang dihasilkan tersebut nantinya akan dijual oleh petani ke pasar- pasar
yang ada di Kota Medan dan sebagian untuk dikonsumsi sendiri. Berdasarkan penelitian sebelumnya menyatakan bahwa konsentrasi timbal di lahan pertanian yang berlokasi jauh dari jalan raya maupun pemukiman penduduk cukup kecil dengan rata-rata 16,93 µg/gr, daripada lahan pertanian yang berlokasi dekat dengan jalan raya dan pemukiman dengan rata–rata 18,36 µg/gr (Andriani dkk, 2016).
Menurut Istiaroh (2014), pada penelitiannya didapatkan kandungan timbal tertinggi sebesar 0,09 ppm/g pada lokasi pertama dari 5 lokasi penelitian yang berbeda dan kandungan timbal terendah yaitu pada lokasi kedua sebesar 0,04 ppm/g, hal ini dapat dikaitkan dengan faktor lingkungan tiap masing-masing lokasi serta banyaknya jumlah tanaman dan jenis tanaman dilokasi tersebut.
Menurut Sari (2011), kadar logam berat timbal pada kangkung air lebih tinggi 6,8500 ± 0,3905 µg/gr dibandingkan kangkung darat 4,2322 ± 0,2928 µg/gr, hal ini disebabkan karena kangkung air mengalami pencemaran dari tanah dan udara melainkan juga melalui air yaitu air hujan yang telah tercemar oleh asap yang berarti kadar timbal kangkung air dan kangkung darat telah melewati batas maksimum yang di izinkan SNI No. 7387-2009.
Menurut Karmila (2004), konsentrasi timbal pada beras dari lahan pertanian yang berlokasi jauh dari jalan raya cukup kecil dengan rata-rata 0,624 mg/kg, daripada lahan pertanian yang berlokasi dekat dengan jalan raya dengan rata–rata 1,232 mg/kg. Oleh karena itu, semakin dekat jarak antara lahan pertanian dengan jalan raya, sehingga semakin bertambah pula kadar timbal yang diserap oleh tanah maupun tanaman di lahan pertanian tersebut.
5
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut, yaitu perlu diketahuinya kadar timbal dalam tanah dan tanaman padi di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang.
Tujuan Penelitian
Tujuan umum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar timbal dalam tanah dan tanaman padi di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang Tahun 2019.
Tujuan khusus. Adapun yang menjadi tujuan khusus penelitian ini adalah:
1. Mengetahui kadar timbal pada tanah dan tanaman padi dengan jarak sawah dari jalan raya 5 meter.
2. Mengetahui kadar timbal pada tanah dan tanaman padi dengan jarak sawah dari jalan raya 20 meter.
3. Mengetahui kadar timbal pada tanah dan tanaman padi dengan jarak sawah dari jalan raya 40 meter.
4. Mengetahui kadar timbal pada tanah dan tanaman padi dengan jarak sawah dari jalan raya 60 meter.
5. Mengetahui kadar timbal pada tanah dan tanaman padi dengan jarak sawah dari jalan raya 80 meter.
6. Mengetahui kadar timbal pada tanah dan tanaman padi dengan jarak sawah dari jalan raya 100 meter.
7. Mengetahui kadar timbal pada tanah dan tanaman padi dengan jarak sawah
dari jalan raya 120 meter.
8. Mengetahui kadar timbal pada tanah dan tanaman padi dengan jarak sawah dari jalan raya 120 meter.
9. Mengetahui pH tanah di tanah areal persawahan.
10. Mengetahui tekstur tanah yang ditanami tanaman di areal persawahan.
11. Mengetahui sumber air irigasi yang digunakan di areal persawahan tersebut.
12. Mengetahui suhu, kelembaban dan arah angin di areal persawahan.
13. Mengetahui jenis pestisida yang digunakan di areal persawahan.
Manfaat Penelitian
1. Menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang berhubungan dengan pencemaran timbal pada tanaman padi.
2. Menjadi landasan untuk mengetahui jarak aman dan tingkat pencemaran timbal pada tanah dan tanaman padi di areal perwasahan yang dekatdengan jalan raya.
3. Sebagai referensi awal untuk penelitian selanjutnya.
Tinjauan Pustaka
Logam Timbal (Pb)
Menurut Palar (1994), pada umumnya logam berat memiliki kriteria yang samadengan golongan logam lainnya, namun salah satu perbedaannya terdapat pada pengaruh yang dihasilkan yaitu dapat saling mengikat masuk ke dalam tubuh makhluk hidup.
Timbal dalam bahasa ilmiah disebut juga dengan plumbum atau biasanya disebut dengan timah hitam. Timbal memiliki nomor atom 82 dalam kelompok logam golongan IV A yang berbentuk lembut, stabil, densisitas tinggi dan tahan korosi serta terdapat bebas di alam. Timbal yang ditemukan berbentuk senyawa organik yaitu tetra etil-Pb dan tetra metil-Pb (TEL &TML) dan inorganik (Pb).
Sifat khusus logam timbal atau pb yang banyak digunakan dalam berbagai keperluan seperti:
1. Timbal mempunyai titik lebur yang rendah yaitu 327,5 oC sehingga dapat digunakan dalam bentuk cair dengan teknik yang sederhana dan tidak mahal.
2. Timbal merupakan logam yang lunak dan dapat dibentuk dengan mudah.
3. Karena sifat kimianya, logam timbal tahan terhadap korosi atau karat serta sering digunakan sebagai bahan pelindung yang tahan dengan udara lembab (coating).
4. Logam timbal memiliki densitas yang tinggi dibandingkan dengan logam lainnya, kecuali emas dan merkuri.
5. Timbal adalah logam yang memiliki sifat penghantar listrik yang tidak baik.
Timbal (Pb) merupakan jenis logam beracun dan berbahaya bagi organisme hidup, begitu pula dengan arsen (As), merkuri (Hg), dan cadmium (Cd). Pada manusia dan hewan timbal dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, dikarenakan logam yang bersifat toksik ini berikatan dengan ligan dari struktur biologi dalam beberapa jenis enzim dalam tubuh dan mengakibatkan tidak aktifnya enzim yang bersangkutan. Semakin besar dosis keracunan logam maka akan lebih banyak pula logam yang berikatan dengan enzim yang bersangkutan serta dapat mengganggu jaringan lainnya (Fardiaz, 1992).
Sumber dan Kegunaan Timbal di Alam
Proses penggunaan logam timbal pada suhu yang tinggi menyebabkan terdapatnya logam timbal di alam lingkungan dan udara, seperti pada penggunaan miyak bumi ataupun batu bara untuk proses industri, pembangkit listrik, pembakaran sampah dan industri semen. Secara tidak langsung dapat diketahui bahwa timbal tidak ditemui dalam bentuk logam murni, melainkan dalam bentuk biji logam yang terkonsentrasi akibat peristiwa geologi. Biji – biji logam timbalyang ditemukan berbentuk galena (PbS), anglesit (PbSO4) dan dalam bentuk minim (Pb3O4). Dari hasil penambangan ditemukan 3% sampai 10%
timbal yang terkandung dalam biji – biji logam timbalini dan dipekatkan kembali sampai 40% sampai dihasilkannya logam timbal murni (Palar, 1994).
Menurut Meyer et al (2008), sumber pencemaran timbal dalam lingkungan berasal dari eksposur limbah industri, minuman beralkohol yang ilegal, penghirupan udara dan komposisi bahan kosmetik. Pencemaran timbal (Pb) dapat terjadi di udara, air dan tanah. Rata-rata kandungan timbal pada tanah yaitu 16
9
ppm, tetapi pada daerah tertentu dapat mencapai beberapa ribu ppm. Sedangkan kadar timbal di udara rendah dikarenakan nilai tekanan uapnya rendah ( Srikandi, 1992).
Penggunaan logam timbal dipermudah dengan adanya sifat pada timbal yaitu memiliki titik didih yang rendah, lunak, memiliki densitas yang tinggi dan tahan terhadap korosi sehinggatimbal dapat dimanfaatkansebagai tali pengikat scuba diving.Timbal juga digunakan untuk bahan inulasi kabel listrik bertegangan tinggi, penahan radiasi serta pendingin reaktor cepat.
Pada zaman dahulu senyawa plumbum dengan campuran seng atau antimoni digunakan dalam pembuatan peluru, serta sebagai pewarna merah dan kuning pada pembuatan plastik PVC (polyvinyl chloride). Senyawa plumbum ini digunakan pula sebagai pigmen pembuatan cat bewarna putih, namun bahaya keracunan yang ditimbulkannya mengakibatkan penurunan penggunaan timbal sebagai bahan pembuatan cat (Sembel, 2015).
Penggunaan timbal sangat banyak ditemukan dalam industri baterai serta pada produksi baterai penyimpanan untuk mobil. Timbal digunakan sebagai grid yang dibuat dari alloy dengan kandungan 93% timbal dan 7% antimoni menjadi elektrode yang aktif dan menjadi jalur aliran listrik. Selain itu, penggunaan alloy Pb ini juga sering digunakan dalam konstruksi pabrik kimia, kontainer dan alat lainnya dikarenakan tingginya kemampuan untuk tidak mengalami korosi (Fardiaz, 1992).
Persenyawaan timbal juga dapat digunakan sebagai detonator (bahan peledak) apabila Pb berikatan denga atom N (nitrogen) sehingga membentuk
senyawa azida yang dapat meledak. Timbal juga sering digunakan dalam industri cat dalam bentuk senyawa PbCrO4, Pb(OH)2.2PbCO3, dan Pb3O4 untuk menghasilkan warna kuning-chrom, timah putih dan timah merah (Palar, 1994).
Persenyawaan timbal dalam kesehariannya dapat ditemukan pula pada bahan bakar kendaraan bermotor yaitu sebagai bahan aditif dengan dua jenis, (CH3)4-Pb (tetrametil-Pb) dan (C2H5)4-Pb (tetraetil-Pb).
Tabel 1
Bentuk Persenyawaan Pb dan Kegunaannya
Bentuk Persenyawaan Kegunaan
Pb + Sb Kabel telepon
Pb + As + Sn + Bi Kabel listrik
Pb + Ni Senyawa Azida untuk bahan peledak
Pb + Cr + Mo + Cl Untuk pewarnaan pada cat
Pb - Asetat Pengkilapan keramik dan bahan anti api
Pb + Te Pembangkit listrik tenaga panas
Tetrametil – Pb dan Tetraetil - Pb Aditif untuk bahan bakar kendaraan bermotor
Sumber: Palar (1994)
Keberadaan Timbal di Alam
Timbal di udara. Revolusi industri Benua Eropa menyebabkan peningkatan kadar timbal di udara secara menyeluruh, konsentrasi timbal di udara di daerah perkotaan dapat mencapai 5 sampai 50 kali dibandingkan dengan daerah pedesaan. Emisi timbal di udara dapat berbentuk gas dan partikel. Emisi timbal yang berbentuk gas biasanya ditemukan dari hasil samping proses pembakaran mesin kendaraan bermotor yaitu tetraetil-Pb dan tetrametil-Pb sebagai bahanbakar dan untuk meningkatkan bilangan oktan pada mesin kendaraan digunakan sebagai anti ketuk (anti-knock) (Palar, 1994).
11
Logam Pb yang terkandung dalam bensin sangatlah berbahaya, sebab pembakaran bensin akan mengemisikan 0,09 gramtimbal tiap 1 km (Gusnita, 2012).Pembakaran bensin merupakan penyumbang terbesar untuk emisi timbal di udara kerena dihasilkannya berbagai komponen Pb terutama PbBrCl dan PbBrCl.2PbO (Fardiaz, 1992).
Bahan scavenger biasanya ditambahkanpada bahan bakar kendaraan bermotor (bensin) sebagai cairan antiletupan sehingga terbentuk komponen Pb yang mengandung halogen selama pembakaran bahan bakar kendaraan. Hal ini dilakukan agar komponen Pb yang tertinggal dapat bereaksi membentuk gas saat mesin dihidupkan dan akan keluar bersama bahan lainnya sehingga tidak merusak mesin kendaraan tersebut. Etilen dibromide (C2H4Br2) dan etilen dichloride (C2H4Cl2) dan bahan antiletupan yang aktif terdiri dari tetraetil Pb (PbC2H5)4, tetrametil Pb (PbCH3)4 atau kombinasi keduanya adalah scavenger yang biasanya digunakan. Bahan aditif yang dimasukkan ke dalam bahan bakar kendaraan terdiri dari 62% tetraetil Pb, 18% etilen dibromide, 18% etilen dichloride dan 2% bahan lainnya (Palar, 1994).
Apabila pembakaran senyawa timbal pada mesin kendaraan tidak terbakar musnah maka dapat mengakibatkanasap kendaraan menjadi tinggi karena jumlah timbalyang dibuang ke udara. Menurut penelitian, diperkirakan 65% timbal dalam bensin terlepas ke udara melalui sistem pembuangan kendaraan bermotor dan sisanya 35% belum diketahui pengeluarannya. Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang signifikan mengakibatkan meningkat pula kadartimbal yang dibuang ke udara oleh kendaran bermotor tersebut.
Emisi timbal tersebut dapat meluruh ke tanah ataupun tanaman karena adanya pengaruh cuaca dan lingkungan sekitar seperti musim hujan, musim panas, arah angin, kepadatan gedung, kepadatan lalu lintas, umur tanaman, jenis tanah, jenis daun atau lainnya (Kusnoputranto, 1996). Hal ini dapat menyebabkan terjadinya perbedaan kadar timbal yang terakumulasi di dalam tanaman di suatu daerah, kadar timbal pada tanaman yang dekat dengan jalan raya atau sumber polusi tetap akan lebih tinggi dibandingkan tanaman yang letaknya jauh dari jalan raya.Perlu diketahui bahwa penyebaran timbal dipengaruhi oleh berat jenis timbal yang lebih berat dibandingkan berat jenis udara, sehingga penyebarannya tidak dapat terlalu jauh dari sumbernya (Karmila, 2004).
Timbal di air. Timbal dalam air memiliki bilangan oksidasi yaitu 2+.
Senyawa Pb dalam perairan ditemukan dalam bentuk ion – ion divalen atau ion – ion tetravalen (Pb2+. Pb4+) yang tegolong dalam kelompok logam kelas antara dan kelas B. Batuan kapur dan galena (PbS) merupakan sumber timbal dari perairan alami.
Timbal yang berasal dari bahan bakar kendaraan bermotor masuk ke perairan alami dengan bantuan air hujan pada proses pengkristalan timbal di udara, ataupun karena hempasan gelombang dan angin pada proses korosifikasi batuan mineral (Palar, 1994).
Timbal dapat pula digunakan sebagai bahan solder ataupun untuk penyambungan pipa air, sehingga memungkinkan air di rumah mengandung senyawa timbal.Public Health Service di Amerika Serikat menetapkan bahwa Pb yang tekandung tidak boleh lebih dari 0,05 mg/l (0,05 ppm) pada sumber air alami
13
masyarakat. Sedangkan menurut ketetapan WHO kadar Pb dalam air yaitu 0,1 mg/l (Fardiaz, 1992).
Timbal dalam tanah. Timbal ialah salah satu logam berat yang sedikit ditemukan di dalam lapisan tanah dan batuan bumi. Dalam batuan beku dan sedimen biasanya didapatkan kandungan timbal yaitu 2-18 ppm pada batuan beku basalt, 6-30 ppm pada batuan beku granit, < 31 ppm pada batu pasir, 16-50 ppm pada lempung dan liat. Menurut Palar (2001), kadar timbaldi permukaan tanah memiliki rata–rata sebesar 5-25 mg/kg.
Pada masa perang dunia II Pb arsenat yang stabil dimanfaatkan sebagai pembasmi hama, sehingga memungkinkan adanya komponen Pb tersebut di dalam tanah sebelum digantikan dengan pestisida organik. Pestisida digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Penggolongan pestisida berdasarkan toksisitasnya yaitu gologan organofosfat (Azinophosmethyl, Chloryfos, Demeton Methyl, Dichlorovos, Dimethoat, Disulfoton, Ethion, Palathion, Malathion, Parathion, Diazinon dan Chlorpyrifosv), karbamat dan organoklorin (Dichloro-diphenyl-trichloroethan/DDT) (Prijanto, 2009).
Logam timbal yang dikeluarkan dari hasil sampingan kendaraan bermotor dapat menyebabkan terakumulasinya logam timbal tersebut pada lahan pertanian yang ada di pinggir jalan raya, sehingga dapat mempengaruhi produktivitas atau mutu tanaman diatasnya. Komposisi dan pH tanah menyebabkanberpindahnya timbal dari tanah ke tanaman.
Timbal (Pb) dalam tanaman. Tanaman akan mengandung kadar timbal yang cukup tingggi apabila di tanam dekat dengan jalan raya. Hal ini dapat terjadi
karena adanya kandungan Pb dalam kontaminasi debu atau asap kendaraan oleh bahan bakarnya (Darmono, 2001).
Menurut Charlene (2004), komposisi tanah serta pH tanah dapat mempengaruhi proses perpindahan timbal dari tanah ke tanaman. Dalam proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman, kadar timbal yang tinggi dapat menjadi toksik yaitu 100-1000 mg/kg. Sebagian besar timbal diakumulasi oleh organ tanaman seperti daun, batang, akar dan akar umbi–umbian. Pada kondisi kesuburan tanah, KTK tanah, dan jumlah bahan organik yang rendah timbal dapat diserap oleh tanaman dengan mudah.
Logam berat timbal akan diserap oleh akar tanaman apabila logam timbal tersebut terlepas dari ikatan tanah dalam bentuk ion bebas,sertatidak ada logam lain yangmenghambat keberadaannya. Tanaman dapat terakumulasi oleh logam dikarenakan adanya kandungan logam dalam tanah, unsur kimia tanah, jenis logam, spesies tanaman serta pH tanah.
Menurut Siregar (2005), tanaman yang terakumulasi oleh timbal terjadi dikarenakan melekatnya timbal pada permukaan daun atau masuk melalui stomata sehingga berikatan dengan kloroplast. Masuknya timbal ke dalam stomata disebabkan oleh ukuran partikel timbal yang relatif kecil dibandingkan ukuran stomata. Adanya timbal di dalam tanaman juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, kadar timbal pada tanah, lamanya waktu kontak tanaman dengan timbal,morfologi dan fisiologi tanaman, umur tanaman, serta adanya faktor tanaman lain yang menutup tanaman tersebut.
15
Pengaruh Timbal terhadap Kesehatan
Masuknya persenyawaan timbal ke dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya keracunan. Ada beberapa jalur masuk timbal kedalam tubuh yaitu melalui makanan minuman, udara dan lapisan kulit tubuh. Melalui lapisan kulit Senyawa Pb organik relatif lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan dengan senyawa Pb an-organik. Tidak semua senyawa Pb yang dapat diserap oleh tubuh, hanya sekitar 5-10% melalui makanan, 30% dari jumlah Pb yang terhirup, 15%
tertimbun pada jaringan tubuh dan sisanya akan terbuang dalam urin dan feses.
Timbal dalam makanan dan minuman yang masuk kedalam tubuh dapat ditoleransi oleh asam lambung melalui proses metabolisme tubuh. Namun kenyataannya timbal lebih banyak dikeluarkan oleh tinja dalam proses metabolisme tubuh.
Sebagian besartimbal yang terhirup akan masuk kedalam pembuluh darah paru–paru. Hal ini dikarenakan ukuran partikel senyawa Pb yang terhirup, semakin kecil partikel debu yang terhirup semakin besar pula volume udara yang mampu terhirup, maka akan semakin besar konsentrasi Pb yag diserap oleh tubuh.
Logam timbaldalam darah di paru-paru akan saling berikatan dan akan disalurkan ke seluruh jaringan dan organ tubuh.
Sekitar 90-95% timbal di tubuh akan mengumpul di dalam skeleton, tulang berfungsi sebagai tempat pengumpulan Pb karena hampir samanya sifat ion Pb2+ dengan Ca2+.Sedangkan senyawa timbal yang masuk melalui jalur penetrasi lapisan kulit tubuh dapat terjadi akibat senyawa timbalyang terlarut dalam minyak dan lemak (Palar, 1994).
Menurut Widowati (2008), efek-efek yang diberikan senyawa timbal terhadap fungsi organ di dalam tubuh yaitu sebagai barikut:
1. Sistem homopoietik, timbal menghambat sistem pembentukan hemoglobin sehingga menyebabkan anemia.
2. Sistem saraf pusat, timbal menyebabkan kerusakan otak dengan gejala epilepsi, halusinasi, kerusakan otak besar dan delirium.
3. Sistem gastro-intestinal, timbal menyebabkan kolik dan konstipasi.
4. Sistem kardiovaskuler, timbal dapat meningkatkan permeabilitas kapiler pembuluh darah.
5. Sistem ginjal, timbal dapat menimbulkan aminoasiduria, fosfaturia, glukosuria, nefropati, fibrosis dan atrofi glomerular.
6. Sistem reproduksi, menyebabkan janin yang belum lahir peka terhadap timbal( gametotoksisitas) serta ibu hamil yang terkontaminasi timbal dapat mengalami keguguran.
7. Sistem endokrin, timbal menyebabkan gangguan fungsi tiroid dan fungsi adrenal.
8. Timbal bersifat karsinogenik dalam dosis tinggi.
Sel–sel darah merah (erytrocyt) berikatan dengan lebih dari 90% logam timbal yang diserap oleh tubuh. Konsentrasi timbal dalam darah adalah indikator yang lebih baik dalam menganalisis dibandingkan dengan konsentrasi timbal padaurin. Jumlah Pb minimum dalam darah yang dapat menyebabkan keracunan sekitar 60–100 mikrogram per 100 ml darah untuk orang dewasa (Palar, 1994).
17
Tabel 2
Empat Kategori Timbal dalam Darah Orang Dewasa
Kategori µg Pb/100 ml darah Deskripsi
A (Normal) < 40 Tidak terkena paparan
atau tingkat paparan normal
B (Dapat ditoleransi) 40 - 80 Pertambahan penyerapan dari keadaan terpapar tetapi masih
ditoleransi
C (Berlebih) 80 - 120 Kenaikan penyerapan
dari keterpaparan yang banyak dan mulai memperlihatkan tanda – tanda keracunan D (Tingkat berbahaya) > 120 Penyerapan mencapai
tingkat bahaya dengan tanda – tanda
keracunna ringan.
Sumber: Palar (1994)
Dapat diketahui dari tabel diatas bahwa bila manusia terpapar oleh timbal dalam batas normal atau toleransi, maka daya yang dimiliki oleh timbal tidak akan bekerja dan tidak berpengaruh apa-apa. Apabila individu yang tepapar timbal menunjukkan gejala keracunan berarti telah terjadi penyerapan timbal yang melebihi ambang batas (Palar, 1994).
Menurut Karmila (2004), kadar timbal yang diperkenankan pada orang dewasa normal adalah 10-25µg/dl, pada anak–anak 0–10 µg/dl dan pada tanaman kadar normalnya adalah 0,50–3,00 ppm.
Menurut Santi (2001), gejala keracunan timbaldapat terjadi dalam kurun waktu 1-2 hari yaitu mual, muntah, sakit perut hebat, kelainan fungsi otak, anemi berat, kerusakan ginjal bahkan kematian. Apabila timbal masuk ke dalam tubuh
dan menggantikan mineral utama tubuh yang mengatur fungsi mental maka dapat mengakibatkan kelainan pada fungsi otak.
Apabila keracunan sampai kepada tahap kronik maka akan menimbulkan gejala seperti depresi, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, gelisah, daya ingat menurun, sulit tidur, halusinasi dan kelemahan otot. Organ sasaran utama timbal yaitu susunan saraf pusat. Serangan kejang dapat diatasi dengan obat anti kejang, kesetimbangan cairan elektrolit tubuh dipertahankan dan pembengkakan otak diatasi dengan manitol. Lebih baik mencegah daripada mengobati merupakan suatu motto yang tetap diakui hingga pada saat ini. Namun, akan lebih baik bila dilakukan tindakan-tindakan pencegahan sebelum terjadi kasus yang lebih parah.
Tanah
Tanah merupakan gejala alam permukaan daratan yang membentuk suatu mintakat (zone) yang disebut pedosfer, tersusun atas massa galir (loose) berupa pecahan dan lapukan batuan yang bercampur dengan bahan organik (Notohadiprawiro,2006).
Pada lapisan tanah terdapat 3 macam bahan organik yaitu bahan yang tidak dapat diekstrak oleh alkali (humin), bahan yang dapat diekstrak oleh alkali dan mengendap pada peristiwa pengasaman (humin acid), serta bahan yang tetap tinggal dalam larutan (fulvic acid) (Palar, 1994).
Menurut Supriyadi (2008), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kandungan bahan organik di tanah yaitu temperatur, tekstur tanah, reaksi tanah, input bahan organik, dan pengolahan tanah. Kondisi organik tanah dapat dipengaruhi oleh buangan bahan organik yang tidak terkendali, sehingga dapat
19
tanah dapat digambarkan sebagai benda alami yang terbentuk dari hasil kerja interaksi antara iklim, jasad renik hidup terhadap suatu bahan induk yang dipengaruhi oleh tempatnya terbentuk dan waktu.
Namun tanah juga berfungsi sebagai pengangkut bahan pencemar (pollutan). Proses pengangkutan bahan pencemar dalam tanah ada bermacam–
macam seperti pengaliran (flow on), peresapan (absorption) dan pelumeran (leaching). Peresapan dan pelumeran merupakan proses pengangkutan bahan pencemar yang dominan.
Pada proses peresapan (absorption) bahan pencemar pada lapisan tanah dipengaruhi oleh karakteristik struktur bahan pencemar, kandungan bahan organis tanah, pH tanah, ukuran partikel tanah, kemampuan pertukaran ion dan temperatur. Sedangkan pada proses pelumeran (leaching) bahan pencemar banyak dipengaruhi oleh faktor kandungan air di lapisan tanah dan bahan pencemar itu sendiri, besar kecilnya kandungan air sangat menentukan tingkat kestabilan bahan pencemar sekaligus sebagai penentu dari proses pelumeran (Palar, 1994).
Jenis tanah untuk persawahan. Sistem tanah persawahan adalah lahan yang harus tetap tegenang oleh air untuk kebutuhan tanaman padi agar tercukupi selama musim tanam. Tidak semua jenis tanah dapat dijadikan lahan tergenang air seperti tanah dengan kandungan lempung yang tinggi, berbeda dengan tanah dengan kandungan pasir yang tinggi termasuk jenis tanah yang sulit untuk menahan air (Suprayono, 1997).
Menurut Suprayono dan Setyono (1997), ada beberapa faktor yang dapat menentukan tanah persawahan yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi, yaitu
posisi topografi yang berkaitan dengan kondisi hidrologi, porositas tanah yang rendah, tingkat keasaman tanah yang netral dan sumber air alam, serta modifikasi sistem alam oleh kegiatan manusia.
Temperatur. Temperatur adalah suhu tahunan rata–rata untuk menggambarkan karakteristik lahan dari hasil pengamatan stasiun klimatologi yang ada. Aktivitas mikroorganisme dalam tanah seperti fotosintesis tanaman, respirasi, pembungaan dan perkembangan buah dipengaruhi oleh suhu. Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli serdang (2018), angka rata- rata suhu di daerah kabupaten Deli Serdang dengan jangka waktu satu tahun terakhir adalah 27, 4oC.
Kelembaban. Kabupaten Deli serdang (2018), angka rata- rata kelembaban di daerah kabupaten Deli Serdang dalam jangka waktu satu tahun terakhir sebesar 84,25%,tekanan udara sebesar 1011,34 mb dengan kecepatan angin sebesar 2,37 knot.
ph tanah. Sifat kemasaman atau alkalinitas tanah pada tanah gambut maupun tanah mineral yang dinyatakan dengan nilai pH. Banyaknya konsentrasi ion Hidrogen (H+) di dalam tanah ditunjukkan dari nilai pH yang ada, sehingga makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah maka makin masam tanah tersebut.
Tekstur tanah. Tekstur tanah merupakan distribusi partikel tanah halus dengan ukuran <2mm, yaitu pasir, debu, dan liat. Tekstur tanah terbagi menjadi halus, agak halus, sedang, agak kasar, kasar dan sangat halus. Tanah yang bertekstur agak halus seperti lempung memiliki drainase yang agak buruk yaitu memiliki daya simpan air yang cukup tinggi sehingga akan tetap menjenuhi tanah
21
pada daerah perakaran dalam waktu yang lama, begitu pula dengan kedalaman tanah yang dapat dibedakan menjadi sangat dangkal <20 cm, dangkal 20-50 cm, sedang 50-75 cm dan dalam >75 cm.
Sumber air. Air sangat dibutuhkan tanaman untuk pembentukan karbohidrat daun, hidrasi protoplasma, pengangkutan dan mentranslokasikan makanan serta unsur hara dan mineral. Pada tanah dengan kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu diperlukan air dengan jumlah yang cukup misalnya pada tanah sawah. Air juga berfungsi untuk mencegah pertumbuhan gulma, menghalau wereng di batang tanaman serta mengurangi serangan hama (Rizkayanti, 2013).
Tanaman Padi (Beras)
Klasifikasi tanaman padi (beras). Tanaman padi merupakan tanaman semusim yang berakar serabut, berbatang pendek yang termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae. Secara taksonomi tumbuhan, tanaman padi diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Poales
Familia : Poaceae Genus : Oryza Spesies : Oryza sativa
Pada dasarnya beras merupakan biji pada padi yang terdiri dari aleuron atau lapis terluar yang terbuang karena proses pemisahan kulit, endosperma, dan embrio atau yang disebut juga sebagai mata beras. Bagian terluar biji beras yaitu sekam atau kulit padi, sekitar 20% dari berat seluruh bulir padi berasal dari sekam tersebut. Warna pada beras diatur oleh faktor genetik yang mengatur warna aleuron, biasanya beras berwarna putih yang mendominasi pasar dikarenakan memiliki sedikit aleuron dan umumnya kadar amilosanya sekitar 20% (Nugraheni, 2016).
Botani tanaman padi (beras). Menurut Siregar (1981), tumbuhan padi (Oriza Sativa L.) tergolong dalam golongan tumbuhan Gramineae yaitu tumbuhan yang ditandai dengan batang yang tersusun dengan beberapa ruas. Ruas–ruas tersebut adalah bubung kosong yang pada kedua ujung bubungnya ditutup oleh buku, pada sisi bawah buku terdapat daun pelepah yang membalut ruas sampai buku bagian atas sedangkan di ujung daun pelepah terdapat percabangan, cabang terpendek yaitu lidah daun(ligulae) dan cabang terpanjang disebut daun kelopak,serta pada masing-masing cabang terdapat embel–embel yang disebut auricle, digunakan sebagai determinatie identitas suatu varietas.
Bulir padi timbul dari daun pelepah paling atas yang menjadi ligulae dan daun bendera. Di ujung cabang tiap bulir terdapat bunga padi yang mempunyai tangkai bunga, perhiasan bunga dan daun mahkota bunga yang kelak akan menjadi pembungkus padi atau yang disebut dengan sekam (Siregar, 2016).
Indonesia memiliki lebih dari 1.000 jenis padi yang disebabkan oleh adanya perkawinan silang dari beberapa jenis padi yang ada untuk menghasilkan
23
jenis padi yang bersifat unggul atau paling baik. Jenis padi yang unggul harus mempunyai sifat yang baik seperti memiliki produksi yang tinggi, umur tanam yang pendek, tahan hama/penyakit, mutu yang baik, tahan rebah dan tidak mudah rontok, serta rasanya enak (HR, 1998).
Syarat tumbuh tanaman padi (beras)
Iklim. Di daerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air,
curah hujan rata–rata 200 mm per bulan atau lebih dengan distribusi selama 4 bulan, tanaman padi dapat hidup dengan baik.
Suhu yang baik untuk tanaman padi adalah sebesar 23 oC dengan ketinggian tempat berkisar antara 0–1500 mdpl.
Tanah. Tanah sawah yang memiliki kandungan fraksi pasir, debu dan
lempung dalam perbandingan tertentu serta kadar air yang cukup merupakan tanah yang baik untuk menanam padi, serta padi akan tumbuh dengan baik apabila tanahnya memiliki ketebalan atas antara 18–22 cm dengan pH antara 4–7 (Fitri, 2009).Lahan dengan temperatur udara 24-29 oC, kelembaban udara 33-39%
dengan drainase agak baik dan tekstur tanah halus/agak halus merupakan lahan yang sangat sesuai untuk tanaman padi sawah (Djaenuddin dkk., 2000).
Menurut HR (1998), cara menanam padi beras dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
a. Padi sawah, tanaman padi yang pertumbuhannya membutuhkan air, dan padi ini ditanam di tanah persawahan.
b. Padi kering, tanaman padi yang pertumbuhannya tidak membutuhkan air seperti persawahan.
Faktor yang menentukan jarak tanam pada tanaman padi sawah yaitu:
a. Jenis tanaman
Tidak semua jenis padi dapat menghasilkan banyak anakan. Untuk medapatkan jumlah anakan yang banyak diperlukan jarak tanam yang lebih besar, sebaliknya jarak tanam yang lebih sempit akan menghasikan jumlah anakan yang lebih sedikit.
b. Kesuburan tanah
Penentuan jarak tanam dapat dipengaruhi oleh akar tanaman padi untuk proses penyerapan hara, hal ini dikarenakan perkembangan akar pada tanah yang subur akan lebih baik daripada tanah yang kurang subur. Pada tanah yang subur jarak tanam yang dibutuhkan lebih daripada tanah yang kurang subur (Rizkayanti, 2013).
Komposisi dan manfaat beras. Karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan komponen lainnya merupakan komponen dalam beras. Karbohidrat merupakan penyusun utama beras dengan kandungan 74,9%-77,8% atau disebut juga dengan pati. Jumlah protein dalam beras relatif rendah yaitu 7,1%-8,3%, dan lemak sekitar 0,5%-0,9%, serta vitamin pada beras yaitu tiamin, riboflavin, niasin dan piridoksin, masing–masing berturut-turut 4 µg/g, 0,6 µg/g dan 50 µg/g.
Kandungan vitamin lebih tinggi dalam beras pecah kulit daripada beras sosoh dan kadar riboflavin dalam beras rendah (Nugraheni, 2016).
Tanaman padi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu, padi beras yang tanamannya dijadikan beras dan dapat diolah menjadi nasi atau bahan makanan pokok. Padi ketan, yang biasanya tidak dijadikan makanan pokok, namun diolah
25
sebagai makanan ringan seperti jadah, jenang, tape ketan dan lain–lain (HR, 1998).
Beras sering kali digunakan sebagai indeks kestabilan ekonomi nasional.
Sebagai bahan pangan pokok beras menyumbang sekitar 40-80% kalori dan 45- 55% protein bagi penduduk Indonesia(Nugraheni, 2016).
Penilaian Pajanan Timbal (Pb)
Menurut WHO (1977), penyebaran timbal yang berasal dari kendaraan bermotor di lingkungan dikarenakan sebagai berikut:
1. Berada tetap dalam kendaraan (saringan asap) sebesar 25%
2. Jatuh dalam jarak dekat sebesar 40%
3. Jatuh dalam jarak agak jauh sebesar 8%
4. Jatuh dalam jarak jauh sebesar 4%
5. Jatuh dalam jarak yang tidak dapat diukur sebesar 3%
Paparan timbal di lingkungan pada akhirnya tetap akan berakibat pada manusia, oleh karena itu diperlukan indikator untuk menunjukkan ada tidaknya perubahan kualitas lingkungan berdasarkan baku mutu yang ada. Maka dilakukanlah penilaian lingkungan abiotik dan biotik.
1. Penilaian lingkungan abiotik
Kegiatan ini dilakukan melalui pemantauan analisis logam atau senyawa tertentu yang terdapat di udara, air dan tanah. Pemantauan kadar timbal dapat dilakukan di tempat dan media yang dipilih dan hasilnya akan berguna untuk menilai kualitas lingkungan.
2. Penilaian lingkungan biotik
Penilaian ini dilakukan dengan menganalisis ataaupun uji biologis pada hewan, tanaman atau manusia. Pada hewan atau tanaman penilaian dilakukan dengan cara menjadikan organ atau bagian hewan dan tanaman menjadi sampel, sedangkan pada manusia dilakukan dengan cara menetapkan kadar timbal dalam darah atau kemih dan mengukur efek toksik timbal secara biokimiawi dan hemotogis (Karmila, 2004).
Toleransi Tanaman terhadap Pencemaran Udara
Dapat diketahui bahwa tanaman mampu meredam bahan pencemar berupa gas maupun partikel yang ada di udara. Dalam suatu studi menunjukkan bahwa dalam suatu volume udara yang mengandung 150 ppm gas ozon dapat diserap oleh tegakan hutan lebih kurang 90% dalam waktu lebih kurang 8 jam dan pepohonan yang berada pada jarak 50–100 meter dari sumber polutan dapat menyerap partikel di lingkungan lebih kurang 60%.
Menurut Fitter & Hay (1992), ada beberapa cara yang dilakukan tanaman terhadap sumber polutan yang berada di lingkungan seperti dengan cara penghindaran fenologi (tanaman tumbuh saat musim tertentu), eksklusi (tanaman dapat mengenali ion toksik sehingga tidak terserap) dan ameliorasi atau pengulangan (lokalisasi intra/ekstra seluler, ekskresi aktif oleh kelenjar tajuk, dilusi, inaktivasi kimiawi, dan toleransi tanaman).
Pengendalian Timbal terhadap Tanah dan Tanaman Padi
Penanganan logam berat dalam tanah masih memanfaatkan proses berteknologi rendah yaitu dengan cara mencuci tanah yaitu dengan menggali lapisan beracun dan menimbunnya di tempat lain yang cenderung mahal dan
27
kurang efektif serta dapat merusak lingkungan. Penggunaan tanaman untuk membersihkan bahan kimia dari tanah juga dapat dilakukan dengan phytoremediationyang berpotensi jauh lebih murah, namun membutuhkan waktu yang lama. Pada tingkat petani, upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pencemaran ini dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan kepada petani tentang cara pemakaian pupuk dan pestisida yang benar serta cara pengangkutan yang baik (Widaningrum, 2007).
Menurut Dahlan (2004), Damar (Agathis alba), Mahoni (Swetenia macrophylla), Jamuju (Podocarpus imbricatus), Pala (Mirystica fragrans), Asam landi (Pithecelobiumdulce), dan Johal (Cassia siamea) memiliki kemampuan sedang sampai tinggi dalam menurunkan timbal di udara.
Logam berat ini tidak hanya terdapat pada bahan pangan secara alami, namun didapat juga dari hasil migrasi dari bahan pengemasnya serta dapat menimbulkan keracunan. Untuk itu dalam kesehariannya dapat dilakukan pengendalian dengan cara mencuci bahan pangan yang akan dikonsumsi dengan air yang mengalir, banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung serat tinggi seperti buah-buahan, sayuran, bawang maupun kacang-kacangan yang mengandung pektin, lignin, serta bioflavanoid yang dapat menetralkan timbal dan mengurangi penyerapan logam berat melalui sistem pencernaan (Agustina,2010).
Landasan Teori
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan
manusia serta makhluk hidup lain (Undang-Undang Republik Indonesia No. 32, 2009).
Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan (Undang-Undang Republik Indonesia No. 32, 2009).
Ilmu kesehatan lingkungan ialah ilmu yang mempelajari tentang hubungan komponen lingkungan yang memliki potensi bahaya penyakit dengan berbagai variabel. Dalam hubungan tersebut, faktor komponen lingkungan biasanya berpotensi menimbulkan penyakit. Proses kejadian penyakit/patogenesis penyakit terjadi akibat hubungan interaktif manusia (perilakunya) dengan komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya penyakit. Pencegahan dapat dilakukan dengan menentukan simpul dalam pathogenesis penyakit.
Simpul 1 : Sumber penyakit. Sumber penyakit adalah titik yang mengeluarkan agent penyakit. Agent penyakit adalah komponen lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan penyakit secara langsung ataupun dengan media peratara.
Dalam penelitian yang menjadi simpul 1 (sumber penyakit) adalah logam timbal (Pb).
Simpul 2 : Media transmisi penyakit. Media transmisi penyakit memiliki lima komponen yaitu air, udara, tanah, binatang dan manusia.
Dalam penelitian ini yang menjadi simpul 2 (media transmisi penyakit) adalah udara, air dan tanah.
29
Simpul 3 : Perilaku pemajanan. Hubungan interaktif komponen lingkungan dengan perilaku pemajanan dapat menjadi jalur masuk agent peyakit kedalam tubuh. Perilaku pemajanan ialah jumlah kontak antara manusia dengan komponen lingkungan yang berpotensi memiliki agent penyakit.
Dalam penelitian ini yang menjadi simpul 3 (perilaku pemajanan) adalah tanaman padi.
Simpul 4 : Kejadian penyakit. Kejadian penyakit merupakan outcomedari hubugan interaktif penduduk dengan lingkungan yang memiliki potensi bahaya gangguan kesehatan. Dapat dikatakan sakit jika seseorang mengalami kelainan dibandingkan dengan rata-rata penduduk lainnya.
Dalam penelitian ini yang menjadi simpul 4 adalah seseorang yang berpotensi memiliki gangguan kesehatan (sehat/sakit) (Achmadi, 2008).
Tanaman akan mengandung kadar timbal yang cukup tinggi apabila di tanam dekat dengan jalan raya. Hal ini dapat terjadi karena adanya kontaminasi debu atau asap kendaraan dengan bahan bakar yang mengandung timbal (Darmono, 2001).
Pada penelitian sebelumnya dikatakan bahwa konsentrasi timbal di lahan pertanian yang berlokasi jauh dari jalan raya maupun pemukiman penduduk cukup kecil dengan rata-rata 16,93 µg/gr, daripada lahan pertanian yang berlokasi dekat dengan jalan raya dan pemukiman dengan rata–rata 18,36 µg/gr (Andriani dkk, 2016). Perbedaan kadar timbal yang terakumulasi di dalam tanaman di suatu daerah akan tetap ada, karena kadar timbal pada tanaman yang dekat dengan jalan raya atau sumber polusi tetap akan lebih tinggi dibandingkan tanaman yang
letaknya jauh dari jalan raya. Hal ini dipengaruhi oleh berat jenis timbal yang lebih berat dibandingkan berat jenis udara, sehingga penyebarannya tidak dapat terlalu jauh dari sumbernya.
Kerangka Konsep
Gambar 1. Kerangka konsep Jaraksawahdarijal
an raya 5, 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 meter
Kadar timbal (Pb) dalam tanah yang diukur dengan AAS
MS : Jika ≤ 0,07ppm TMS : Jika > 0,07ppm
Kadar timbal (Pb) dalam beras/padi yang diukur dengan AAS
MS : Jika ≤ 0,3ppm TMS : Jika >0,3 ppm
Karakteristik : 1. Kadar Pb di udara 2. pH tanah
3. Tekstur tanah 4. Sumber air irigasi 5. Suhu, kelembaban dan arah angin
6. Jenis pestisida
SNI 06- 6992.3- 2004
SNI 7387 : 2009
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian survey yang bersifat deskriptif yang bertujuan untuk melihat kadar timbal pada tanah dan tanaman padi di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang dalam satu waktu.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian. Penelitian di lakukan pada lahan pertanian tanaman padi di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang yang padat lalu lintas. Luas areal persawahan 2100 m2. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki risiko paparan timbal yang tinggi pada tanah dan tanaman padi.
Waktu penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulanJanuari hingga Juli 2019.
Objek Penelitian
Objek pada penelitian ini adalah tanah dan tanaman padi di areal persawahan dengan luas 150 meter x 14 meter atau 2100 m2. Tanaman padi yang dipilih adalah tanaman padi dengan jenis IR 42 yang ditanaman dekat dengan Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada titik yang sama dengan pengambilan sampel tanaman padi yaitu pada jarak 5, 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 meter dari pinggir jalan.
Definisi Operasional
1. Timbal adalah kadar logam berat pada tanah dan tanaman padi yang diukur dengan menggunakan alat AAS.
2. Jarak sawah adalah jarak tanah dan tanaman padi yang ditanam diukur dari tepi jalan raya 5, 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 meter, lalu diambil sampelnya dan diperiksa diperiksa di UPT. Laboratorium Kesehatan Daerah Medan dengan alat AAS.
3. Tanaman padi (beras)adalah beras yang berasal dari areal persawahan di Jalan Medan Lubuk Pakam Deli Serdang.
4. Kadar timbal pada tanah dan beras, akan diperiksa dengan alat ukur SSA.
5. Karakteristik lingkungan yang dapat mempengaruhi tanah adalah kadar timbal di udara adalah hasil dari emisi kendaraan bermotor di udara.
6. pH tanah adalah derajat keasaman pada tanah di areal persawahan.
7. Tekstur tanah adalah tekstur tanah di areal persawahan yang cocok untuk dijadikan lahan bercocok tanam.
8. Sumber air irigasi adalah sumber air yang digunakan untuk areal persawahan.
9. Suhu, kelembaban dan arah angin dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman di suatu lahan.
10. Karakteristik lingkungan yang dapat mempengaruhi tanaman padi adalah jenis pestisida adalah jenis pestisida yang digunakan pada tanaman padi di areal persawahan.
11. Tanaman padi (beras)memenuhi syarat jika ≤ 0,3 ppm dan tidak memenuhi syarat jika > 0,3 ppm sesuai dengan Badan Standarisasi Nasional - SNI, 2009.
12. Tanah memenuhi syarat jika ≤ 0,07 ppm dan tidak memenuhi syarat jika >
0,07 ppm sesuai dengan Badan Standarisasi Nasional - SNI, 2004.
33
Metode Pengumpulan data
Data primer. Data yang dikumpulkan secara primer yaitu kadar timbalpada tanah dan kadartimbaldi tanaman padi (beras). Kadar timbalpada tanah dan tanaman padi (beras) dianalisis di laboratorium dengan metode Atomic Absorption Spectroscopy(AAS).
Data sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini adalah literatur- literatur terdahulu.
Metode Pengukuran
Dalam mengukur kadar timbal dalam tanah dan tanaman padi yang berada dekat dengan jalan raya dilakukan pengambilan sampel tanah dan tanaman padi yang dijadikan beras, kemudian akan dianalisa sampel tanah dan beras tersebut di UPT. Laboratorium Kesehatan Daerah Medan dengan alat AAS sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Metode pengukuran tanah(SNI 06-6992.3-2004):
Cara kerja :
A. Bahan dan Alat Bahan :
1. Larutan induk timbal, Pb 1000 µg/m 2. Asam nitrat p.a, HNO3 pekat (65%) 3. Asam nitrat, HNO3 1,0 N
4. Asam nitrat, HNO3 10%
5. Asam perklorat p.a, HClO4 pekat
6. Air suling yang bebas bahan analit atau mengandung timbal dengan kadar lebih rendah dari batas deteksi dan daya hantar listrik (DHL) < 2,00 μS/cm 7. Batu didih
8. Kertas saring kuantitatif dengan ukuran pori 8,0 μm Alat :
1. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
2. Timbangan analitik dengan ketelitian sampai dengan 0,0001 g 3. Cawan porselin
4. Desikator 5. Oven
6. Gelas ukur 100 ml
7. Pipet volumetri 1,0 ml; 2,0 ml; 3,0 ml; 4,0 ml; 5,0 ml; dan 10 ml 8. Pipet komagome 3 ml dan 5 ml
9. Gelas piala 100 ml
10. Penangas listrik (hot plate) 11. Corong
12. Kaca arloji 13. Batang pengaduk 14. Spatula
15. Mortar dan alu 16. Erlenmeyer 250 ml
17. Botol gelas atau polietilen bertutup 18. Labu ukur 50 ml; 100 ml dan 1000 ml
35
19. Pipet ukur 10 ml.
B. Persiapan dan pengawetan contoh uji
1. Sediakan contoh uji yang telah diambil sesuai dengan metode Sediment Sampling USEPA-600 (SOP#: 2016).
2. Buang benda-benda asing seperti potongan plastik, daun atau bahan lain yang bukan contoh uji.
3. Kering udarakan contoh uji pada suhu ruang.
4. Gerus contoh uji dan dihomogenkan.
5. Simpan dalam botol gelas atau polietilen yang bertutup.
C. Prosedur
1. Siapkan erlenmeyer volume 250 ml.
2. Timbang contoh uji yang sudah dihomogenkan sebanyak ± 3,00 g, masukkan ke dalam Erlenmeyer.
3. Tambahkan 25 ml air suling, aduk dengan menggunakan batang pengaduk.
4. Tambahkan 5 ml sampai dengan 10 ml asam nitrat, HNO3 pekat, aduk hingga bercampur rata.
5. Tambahkan 3 butir sampai dengan 5 butir batu didih, tutup dengan kaca arloji.
6. Letakkan erlenmeyer tersebut diatas penangas listrik, atur suhunya pada 1050C sampai dengan 1200C.
7. Panaskan sampai volume contoh uji tinggal + 10 ml; h) Angkat dan dinginkan.
8. Tambahkan 5 ml asam nitrat, HNO3 pekat dan 1 ml sampai dengan 3 ml asam perklorat, HClO4 pekat tetes demi tetes melalui dinding kaca Erlenmeyer.
9. Panaskan kembali pada penangas listrik sampai timbul asap putih dan larutan contoh uji menjadi jernih.
10. Setelah timbul asap putih, pemanasan dilanjutkan selama + 30 menit.
11. Dinginkan contoh uji. Saring dengan kertas saring kuantitatif dengan ukuran pori 8,0 μm. Tempatkan filtrat contoh uji pada labu ukur 100 ml dan tambahkan air suling sampai tanda tera. Filtrat contoh uji siap diukur ke dalam spektrofotometer serapan atom (SSA).
12. Lakukan pengukuran blanko:
a. Siapkan erlenmeyer volume 250 ml
b. Pipet 25 ml air suling, masukkan ke dalam erlenmeyer tersebut.
13. Pembuatan spike matrix:
a. Siapkan erlenmeyer volume 250 ml
b. Masukkan + 3,00 g contoh uji yang telah dihomogenkan ke dalam erlenmeyer, tambahkan 2 ml larutan baku timbal, Pb 10 µg/ml.
D. Perhitungan
1. Buat kurva kalibrasi berdasarkan hasil pembacaan absorbansi kadar larutan kerja dari alat Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
2. Tentukan kadar timbal, Pb contoh uji dengan cara memplotkan hasil pengukuran timbal, Pb pada kurva kalibrasi
3. Hitung kadar timbal, Pb dengan perhitungan sebagai berikut:
37
a. Untuk perhitungan dalam berat kering contoh uji:
Pb =
𝐶𝑥𝑉𝑥𝑓𝑝𝐵 (1− 𝐾
100)
b. Untuk perhitungan dalam berat basah contoh uji:
Pb =
𝐶𝑥𝑉𝐵
dengan pengertian:
Pb :kadar timbal, Pb dalam sedimen (μg/g)
C : kadar timbal, Pb yang diperoleh dari kurva kalibrasi (μg/ml) V :volume akhir (ml)
B : berat contoh uji (g) Ka :kadar air (%)
fp : faktor pengenceran (bila tidak ada pengenceran maka fp = 1).
Metode pengukuran tanaman padi (beras)( SNI 7387-2009 ):
Cara kerja
A. Alat dan bahan Alat:
1. Gelas Sampel 100 ml
2. Labu takar 50 ml, 100 ml dan 1000 ml 3. Enlenmeyer300 ml
4. Tabung reaksi 5. Pipet Tetes 6. Corong
8. Timbangan
9. Blender/Cawan Porselin 10. Bunsen/Kompor Listrik 11. Tanur
12. Oven 13. Desikator
14. Rangkaian alat Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) varian AA7000 Bahan:
15. Aquabides (H20) 16. Asam nitrat (HNO3) 17. Sampel tanah dan beras
18. Kertas saring (kertas whatman 42) 19. Tissue.
B. Persiapan dan pengawetan contoh uji
1. Sampel diambil seminggu sebelum panen kira–kira berumur 3 bulan. Sampel tanaman padi diambil dari batangnya dan dimasukkan ke dalam plastik yang diberikan kode, kemudian diolah menjadi beras.
2. Selanjutnya sampel tersebut dibawa UPT. Laboratorium Kesehatan Daerah Medan.
C. Prosedur
1. Sediakan sampel dari masing-masing pisang goreng kemudian sampel dihaluskan menggunakan cawan porselin/blender.
39
2. Setelah itu masukkan masing-masing sampel kedalam gelas sampel yang sudah disediakan.
3. Timbang sampel dan netralkan (0,0) dengan menekan tombol (tare fuction B) sampai 5 gram.
4. Kemudian sampel tersebut dimasukkan dalam oven selama ± 2 jam pada suhu 95-105 0C guna mengurangi kadar air dalam sampel.
5. Kemudian arangkan sampel diatas bunsen/kompor listrik. Setelah itu diamkan.
6. Masukkan sampel kedalam tanur pada suhu 600 ̊ C selama ± 4 jam sampai menjadi abu dan bewarna putih keabu-abuan.
7. Jika sampel sudah menjadi abu, kemudian dinginkan di dalam desikator.
8. Kemudian larutkan dengan asam nitrat (HNO3) aduk hingga benar-benar larut menggunakan spatula dan masukkan kedalam labu takar 100 ml dengan corong. Lakukan 2 kali agar sampel benar-benar larut.
9. Kemudian campur dengan aquades hingga tanda garis dengan menggunakan pipet tetes dan homogenkan.
10. Kemudian saring sampel kedalam enlemeyer dengan menggunakan corong dan kertas whatman 42 sambil di homogenkan.
11. Setelah disaring, tuang larutan sampel tersebut ke dalam tabung reaksi.
12. Kemudian masukkan sampel ke dalam alat Spektrofometri Serapan Atom (SSA) varian AA7000, tunggu dan catat hasilnya.
D. Pengukuran kadar timbal (pb) dalam sampel