Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian kondisi tempat ditemukannya P. darnleiensis berlangsung dari bulan Februari 2010–April 2010. Koleksi sampel dilakukan di lingkungan kampus IPB Darmaga Kabupaten Bogor dan kampus IPB Baranangsiang Kotamadya Bogor. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian IPB.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk mempelajari habitat P. darnleiensis adalah sekop, meteran, termometer tanah, soil pH & moisture tester (Takemura Electric Works, Ltd), oven, dan saluran Tullgren. Bahan yang digunakan untuk mempelajari habitat P. darnleiensis adalah alkohol 70%.
Pengamatan Faktor Biotik
Koleksi cacing tanah. Sebagai cacing epigeik, P. darnleiensis dapat ditemukan pada lapisan atas tanah. Maka, kedalaman lokasi sampling konsisten sedalam 20 cm kecuali pada lokasi 1 karena kedalaman selokan hanya 5 cm. Pheretima darnleiensis dikoleksi dengan menggali petak berukuran sekitar 55– 150 x 55–150 cm dengan kedalaman 20 cm dengan menggunakan sekop
25
(modifikasi metode Cannavacciuolo et al. 1998; Margerie et al. 2001). Penggalian dilakukan di 10 lokasi, 6 lokasi di Kampus IPB Darmaga Kabupaten Bogor dan 4 lokasi di Kampus IPB Baranangsiang Kotamadya Bogor. Seluruh cacing yang dikoleksi dari lokasi penelitian diawetkan dalam alkohol 70% untuk diidentifikasi dengan kunci identifikasi Sims & Easton (1972).
Penghitungan persen tutupan tumbuhan lokasi pengamatan. Penghitungan persen tutupan tumbuhan dilakukan dengan mengukur lokasi pengamatan yang tertutup oleh tumbuhan dengan menggunakan meteran. Persen tutupan dihitung dengan rumus:
% tutupan tumbuhan = luas tutupan tumbuhan x 100% luas lokasi pengamatan
Tumbuhan yang dikoleksi dari lokasi pengamatan dibuat herbarium untuk diidentifikasi. Pembuatan herbarium dilakukan dengan merentangkan dan menjepit tumbuhan dengan kertas koran selama satu hari, lalu disimpan dalam oven 45 oC selama satu hari. Identifikasi tumbuhan hingga tingkat ordo dilakukan dengan bertanya kepada peneliti bagian taksonomi tumbuhan dan membandingkannya dengan buku identifikasi Naiola (1986) dan Wiegand (1999).
Penghitungan artropoda tanah. Penghitungan artropoda tanah dilakukan dengan mengambil tanah pada lokasi pengamatan di lima titik, yaitu di empat titik sudut dan satu di titik tengah (Kulmatiski et al. 2004). Sampel tanah segera dibawa ke laboratorium untuk dilakukan penghitungan artropoda tanah. Sebanyak 250 gram tanah segar dimasukkan ke dalam saluran Tullgren dengan diameter 8.5 cm, tinggi 20 cm, dan luas kisi-kisi 2 mm2 (Gambar 13) selama dua hari dengan lampu 15 Watt dan botol berisi alkohol 70% yang digunakan untuk mematikan artropoda (modifikasi metode Badyaev et al. 2006). Artropoda diidentifikasi dengan menggunakan buku Borror et al. (1996) hingga tingkat ordo.
Gambar 13 Saluran Tullgren untuk mengekstraksi artropoda tanah.
Pengamatan Faktor Abiotik
Penghitungan persen tutupan komponen abiotik lokasi pengamatan. Penghitungan persen tutupan komponen abiotik (seperti puing, plastik, dan batu) dilakukan dengan mengukur lokasi pengamatan yang tertutup oleh komponen abiotik dengan menggunakan meteran. Persen tutupan komponen abiotik dihitung dengan rumus:
% tutupan komponen abiotik = luas tutupan komponen abiotik x 100% luas lokasi pengamatan
Pengukuran temperatur, pH, dan kelembaban tanah. Temperatur tanah diukur dengan menggunakan termometer tanah. Pengukuran pH dan kelembaban tanah dilakukan dengan menggunakan soil pH & moisture tester (Takemura Electric Works, Ltd). Dalam satu lokasi pengamatan, pengukuran dilakukan di lima titik yaitu pada empat titik sudut dan satu di tengah lokasi pengamatan (Kulmatiski et al. 2004).
Analisis tanah. Sampel tanah diambil di lima titik (empat titik sudut dan satu di tengah) masing-masing sebanyak 200 gram dengan menggunakan sekop dan diaduk. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian IPB, meliputi kandungan C organik, N, P, K, dan teksturnya. Kandungan C organik dianalisis dengan metode Walkley-Black, N dengan metode Kjeldahl, sedangkan P dan K dengan spektrofotometri (Tan 1996). Tekstur tanah dianalisis dengan metode pipet. Fraksi pasir dipisahkan
27
terlebih dahulu dengan penyaringan, lalu fraksi debu dan liat dipisahkan dengan menggunakan pipet untuk diukur bobotnya (Gee & Bauder 1986).
Analisis Data
Analisis komponen utama dilakukan untuk menentukan variabel yang mempengaruhi keberadaan P. darnleiensis pada suatu lokasi (Everitt & Hothorn 2006). Korelasi Pearson dihitung untuk melihat hubungan antara kelimpahan P. darnleiensis dan variabel lingkungan (Irianto 2004). Analisis data dilakukan dengan menggunakan program R 2.4.0 (Everitt & Hothorn 2006).
HASIL
Pengambilan sampel dilakukan pada sepuluh lokasi. Lokasi 1–6 terdapat di kampus IPB Darmaga Kabupaten Bogor dan lokasi 7–10 terdapat di kampus IPB Baranangsiang Kotamadya Bogor. Sebanyak lima lokasi ternaungi tumbuhan dan lima lokasi terpapar cahaya matahari (Tabel 3).
Pheretima darnleiensis dikoleksi pada lima lokasi yaitu lokasi 3, 4, 5, 8, dan 9 (Tabel 4). Cacing yang mendominasi lokasi 3 adalah Amynthas (Tabel 1). Lokasi ini tertutup seluruhnya oleh serasah Glumiflorae (Tabel 5). Hymenoptera mendominasi lokasi ini (Tabel 6). Tidak ada komponen abiotik yang menutupi lokasi tersebut dan kandungan kalium pada lokasi ini paling tinggi dibandingkan lokasi lainya (Tabel 4). Artropoda yang terdapat di lokasi 4 hanya Isoptera (Tabel 6). Lokasi tersebut tidak ditutupi oleh komponen abiotik (Tabel 4). Pada lokasi 5 dikoleksi seluruh genus cacing (Amynthas, Metaphire, Pheretima, dan Pontoscolex) dan P. darnleiensis paling banyak dikoleksi di lokasi ini (Tabel 1). Lokasi tersebut memiliki proporsi fraksi debu yang paling tinggi dibandingkan lokasi lainnya (Tabel 4). Cacing yang mendominasi lokasi 8 adalah Metaphire (Tabel 1). Artropoda yang banyak terdapat di lokasi ini adalah Colembola, Coleoptera, dan Isopoda (Tabel 6). Pontoscolex merupakan cacing yang mendominasi lokasi 9 (Tabel 1). Lokasi ini memiliki jumlah artropoda yang paling banyak dibandingkan dengan lokasi lainnya (Tabel 4). Artopoda yang mendominasi lokasi tersebut adalah Hymenoptera (Tabel 6).
28
Tabel 3 Koordinat dan deskripsi lokasi koleksi empat genus cacing di kampus IPB Darmaga Kabupaten Bogor (lokasi 1–6) dan kampus IPB Baranangsiang Kotamadya Bogor (lokasi 7–10)
Lokasi Koordinat
Ukuran lokasi gali (panjang x lebar x kedalaman) (cm) Terpapar cahaya matahari Deskripsi lokasi 1 S 06 o33’39.2” E 106o43’43.6” 150 x 55 x 5 Ternaungi
Selokan Jalan Ramin, tepi tembok batu, tertutup serasah daun bintaro (Contortae) dan pacira (Malvales).
2 S 06
o33’23.1”
E 106o43’21.1” 80 x 65 x 20 Ya
Daerah laboratorium tingkah laku hewan departemen Biologi, petak tanah di antara aspal dan trotoar, tertutup puing keramik, terdapat rumput (Glumiflorae).
3 S 06
o33’22.9”
E 106o43’20.4” 100 x 100 x 20 Ya
Daerah laboratorium tingkah laku hewan departemen Biologi, terdapat tempat sampah di samping lokasi, tanah dalam kondisi setelah digali, terdapat sisa rumput dan sisa batang kayu.
4 S 06
o33’35.3”
E 106o43’42.7” 100 x 100 x 20 Ternaungi
Seberang FEMA di bawah pohon kelapa sawit, terdapat tutupan tumbuhan paku (Eufilicales) dan daun kelapa sawit (Sapindales).
5 S 06
o33’22.5”
E 106o43’21.6” 100 x 100 x 20 Ternaungi
Belakang asrama Sylvasari, lapangan rumput (Glumiflorae), terdapat tumpukan puing (batu, bata, keramik).
6 S 06
o33’35.8”
E 106o43’29.5” 70 x 70 x 20 Ya Daerah rektorat, terdapat tumpukan puing, tidak ada tutupan tumbuhan.
7 S 06
o36’02.8”
E 106o48’27.1” 80 x 80 x 20 Ya
Gundukan tanah di bawah tangga, terdapat tembok batu di satu sisi gundukan, terdapat rumput (Glumiflorae).
8 S 06
o36’01.2”
E 106o48’28.3” 100 x 100 x 20 Ternaungi
Di bawah tangga, terdapat tembok batu di satu sisinya, tertutup batu, kerikil, dan daun kapuk (Malvales).
9 S 06
o36’00.3”
E 106o48’28.6” 100 x 100 x 20 Ternaungi Daerah tempat parkir, tertutup serasah daun Ficus (Rosales) dan batu.
10 S 06
o35’57.5”
29
29
Tabel 4 Karakter biotik dan abiotik lokasi koleksi empat genus cacing
LOK CACING PHERE TUMB HEWAN ABIO TEMP pH rH C N P K PASIR DEBU LIAT
1 4.85 0.00* 100.00* 145.24* 0.00* 26.82 5.88 28.61 5.18 0.47 240.60 200.00 22.68 13.95* 63.37 2 3.85 0.00* 29.00 32.00 100.00 30.23 5.91 21.00 2.07 0.18 213.50 390.00 27.71 6.46* 65.83 3 16.00 1.00* 100.00* 23.18 0.00* 31.71 5.59 25.17 2.47 0.23 414.20 1050.00* 20.20 7.68* 72.12 4 4.00 1.00* 35.00 39.58 0.00* 26.67 5.35 24.98 1.35 0.14 223.00 600.00 10.50 16.24* 73.26 5 15.00 7.00 25.00 16.32 78.50 27.42 5.77 19.83 3.39 0.29 286.80 500.00 28.76 38.74 32.50 6 4.08 0.00* 0.00* 58.33 100.00 31.45 5.37 32.25 3.03 0.26 254.90 892.00 55.33 9.95* 34.72 7 10.94 0.00* 44.00 48.84 55.96 29.68 5.93 19.75 4.22 0.44 457.50 600.00 75.07* 6.67* 18.26 8 23.00 1.00* 48.00 35.00 49.75 26.44 6.05 10.17 2.71 0.29 436.50 750.00 63.11 13.80* 23.09 9 31.00 1.00* 44.00 172.13* 46.88 26.27 6.33 6.67 3.83 0.36 482.70 700.00 58.48 12.63* 28.89 10 25.40 0.00* 29.73 22.21 64.42 26.57 6.22 9.92 4.39 0.45 390.30 750.00 66.89 10.53* 22.58 MEAN 13.81 1.10 45.47 59.28 49.55 28.33 5.84 19.84 3.26 0.31 340.00 643.00 42.87 13.67 43.46 SD 10.00 2.13 31.75 54.24 38.82 2.20 0.33 8.51 1.17 0.12 106.02 244.32 23.14 9.41 22.36 MIN 3.85 0.00 0.00 16.32 0.00 26.27 5.35 6.67 1.35 0.14 213.50 200.00 10.50 6.46 18.26 MAX 31.00 7.00 100.00 172.13 100.00 31.71 6.33 32.25 5.18 0.47 482.70 1050.00 75.07 38.74 73.26
(*) = nilai lebih tinggi atau lebih rendah daripada nilai pada lokasi 5. Daerah diarsir merupakan lokasi P. darnleiensis paling banyak ditemukan. LOK = lokasi
pengambilan sampel, CACING = jumlah cacing selain P. darnleiensis/m2, PHERE = jumlah P. darnleiensis/m2, TUMB = % rata-rata tutupan tumbuhan, HEWAN =
rata-rata artropoda tanah/kg tanah segar, ABIO = % rata-rata tutupan komponen abiotik, TEMP = temperatur tanah rata-rata (oC), pH = pH tanah rata-rata, rH = kelembaban tanah rata-rata (%), C = karbon organik (%), N = nitrogen (%), P = fosfat (ppm), K = kalium (ppm), PASIR = % fraksi pasir, DEBU = % fraksi debu, LIAT = % fraksi liat.
Tabel 5 Tumbuhan yang terdapat di lokasi koleksi empat genus cacing
Lokasi Ordo Tumbuhan Jumlah Tutupan (%) Total tutupan (%)
1 Contortae + Malvales 100.00 100.00 2 Glumiflorae 14.00 29.00 Lamiales 15.00 3 Glumiflorae 100.00 100.00 4 Asterales 4.00 35.00 Centrospermae 2.00 Eufilicales 10.00 Piperales 2.00 Sapindales 9.00 Urticales 8.00 5 Glumiflorae 22.00 25.00 Spathiflorae 3.00 6 - 0.00 0.00 7 Glumiflorae 35.00 44.00 Rhamnales 7.00 Rosales 2.00 8 Alismatales 14.00 48.00 Malvales 34.00 9 Rosales 44.00 44.00 10 Fabales 5.92 29.73 Piperales 23.81
Daerah diarsir merupakan lokasi P. darnleiensis paling banyak ditemukan.
Sebanyak tujuh individu P. darnleiensis dikoleksi di lokasi 5 dan masing-masing satu individu P. darnleiensis pada lokasi 3, 4, 8, dan 9. Berdasarkan perhitungan standar deviasi, jumlah P. darnleiensis pada lokasi 5 secara signifikan paling tinggi dibandingkan dengan lokasi lainnya (Tabel 4). Pada lokasi 5 dikoleksi tujuh individu P. darnleiensis dan lima belas individu cacing selain P. darnleiensis (Tabel 1). Glumiflorae mendominasi tutupan tumbuhan di lokasi 5 sebanyak 22.00% (Tabel 5). Artropoda yang paling banyak terdapat di lokasi 5 adalah Hymenoptera, yaitu 6.12 individu per kilogram tanah segar (Tabel 6). Tutupan komponen abiotik (batu, bata, dan keramik) di lokasi ini sebanyak 78.50% (Tabel 4). Temperatur, pH, dan kelembaban tanah pada lokasi 5 tidak berbeda dengan lokasi lainnya (Tabel 4), namun kisaran temperatur pada lokasi 5 lebih rendah dibandingkan dengan lokasi yang terpapar cahaya matahari langsung, yaitu sebesar 27.42 ± 1.01 oC (Tabel 7). Kandungan C organik, N, P, dan K pada lokasi 5 tidak berbeda dengan lokasi lainnya. Tekstur tanah pada lokasi 5 didominasi oleh fraksi debu, yaitu sebesar 38.74% (Tabel 4).
31
Tabel 6 Artropoda tanah yang terdapat di lokasi koleksi empat genus cacing
Lokasi Ordo Artropoda Tanah Jumlah
(individu/kg tanah segar )
Total
(individu/kg tanah segar)
1 Arachnida 2.38 145.24 Colembola 23.81 Coleoptera 38.1 Dermaptera 4.76 Diptera 4.76 Hymenoptera 21.43 Isopoda 38.1 Parasitiformes 2.38 Pauropoda 4.76 Psocoptera 2.38 Symphila 2.38 2 Colembola 30 32 Coleoptera 2 3 Colembola 4.22 23.18 Hymenoptera 16.85 Psocoptera 2.11 4 Isoptera 39.58 39.58 5 Acariformes 2.04 16.32 Colembola 2.04 Diplura 2.04 Hymenoptera 6.12 Isopoda 2.04 Parasitiformes 2.04 6 Amphipoda 4.17 58.33 Colembola 6.25 Coleoptera 10.42 Geophilomorpha 2.08 Hymenoptera 35.41 7 Colembola 20.11 48.84 Coleoptera 10.06 Hymenoptera 2.87 Parasitiformes 2.87 Protura 12.93 8 Acariformes 2.33 35.00 Colembola 8.16 Coleoptera 10.50 Hymenoptera 4.67 Isopoda 8.17 Polyxenida 1.17 9 Acariformes 1.64 172.13 Colembola 13.11 Coleoptera 1.64 Dermaptera 1.64 Diplura 1.64 Hymenoptera 109.84 Parasitiformes 3.28 Phthiraptera 39.34 10 Arachnida 3.70 22.21 Colembola 7.41 Coleoptera 3.70 Hymenoptera 1.85 Parasitiformes 1.85 Spirobolida 3.70
Tabel 7 Kisaran temperatur, pH, dan kelembaban tanah lokasi koleksi empat genus cacing
Lokasi Temperatur (oC) pH Kelembaban (%)
1 26.82 ± 0.98 5.88 ± 0.56 28.61 ± 12.02 2 32.23 ± 1.79 5.91 ± 0.24 21.00 ± 13.16 3 31.71 ± 2.53 5.59 ± 0.39 25.17 ± 20.93 4 26.67 ± 0.76 5.35 ± 0.39 24.98 ± 12.68 5 27.42 ± 1.01 5.77 ± 0.53 19.83 ± 9.92 6 31.45 ± 3.64 5.37 ± 0.71 32.25 ± 13.76 7 29.68 ± 3.02 5.93 ± 0.30 19.75 ± 6.90 8 26.44 ± 1.15 6.05 ± 0.13 10.17 ± 1.50 9 26.27 ± 0.89 6.33 ± 0.06 6.67 ± 0.86 10 26.57 ± 0.85 6.22 ± 0.05 9.92 ± 2.51
Daerah diarsir merupakan lokasi P. darnleiensis paling banyak ditemukan.
Lokasi yang terdapat P. darnleiensis dibandingkan dengan lokasi tanpa P. darnleiensis dengan uji t. Hasil analisis uji t antara lokasi yang terdapat P. darnleiensis dan tanpa P. darnleiensis menunjukkan nilai P dari perbandingan kelimpahan cacing selain P. darnleiensis = 0.23, tutupan tumbuhan = 0.65, jumlah artropoda tanah = 0.91, tutupan komponen abiotik = 0.26, temperatur tanah = 0.40, pH tanah = 0.72, kelembaban tanah = 0.39, C organik = 0.34, N = 0.20, P = 0.43, K = 0.35, fraksi pasir = 0.39, fraksi debu = 0.20, dan fraksi liat = 0.74. Nilai-nilai tersebut menunjukkan variabel antara lokasi dengan P. darnleiensis dan tanpa P. darnleiensis tidak berbeda signifikan (P > 0.05). Seluruh nilai variabel pada lokasi yang ternaungi tumbuhan juga dibandingkan dengan lokasi yang terpapar cahaya matahari dengan uji t. Hasil analisis uji t antara lokasi ternaungi tumbuhan dan terpapar cahaya matahari menunjukkan nilai P dari perbandingan kelimpahan cacing selain P. darnleiensis = 0.61, kelimpahan P. darnleiensis = 0.23, tutupan tumbuhan = 0.65, jumlah artropoda tanah = 0.24, tutupan komponen abiotik = 0.26, temperatur tanah = 0.02, pH tanah = 0.75, kelembaban tanah = 0.54, C organik = 0.95, N = 0.98, P = 0.87, K = 0.25, fraksi pasir = 0.43, fraksi debu = 0.09, dan fraksi liat = 0.92. Hasil tersebut menunjukkan hanya temperatur yang berbeda signifikan (P < 0.05). Lokasi yang ternaungi tumbuhan umumnya memiliki temperatur lebih rendah daripada lokasi yang terpapar cahaya matahari (Tabel 7).
Hasil analisis komponen utama digambarkan dalam biplot. Komponen utama 1 (PC 1) dan komponen utama 2 (PC 2) mencakup 56.9% proporsi kumulatif (Lampiran 2). Biplot analisis komponen utama menunjukkan
33
kelimpahan P. darnleiensis, tutupan tumbuhan, dan fraksi debu berada dekat dengan lokasi 5 (Gambar 14). Korelasi antara kelimpahan P. darnleiensis dan tutupan tumbuhan sebesar 0.14 (P = 0.69), sedangkan korelasi antara kelimpahan P. darnleiensis dan fraksi debu sebesar 0.82 (P < 0.05) (Tabel 8).
Gambar 14 Biplot analisis komponen utama variabel dan lokasi penelitian. CACING = jumlah cacing selain P. darnleiensis/m2, PHERE = jumlah P. darnleiensis/m2, TUMB = % rata-rata tutupan tumbuhan, HEWAN = rata-rata artropoda tanah/kg tanah segar, ABIO = % rata-rata tutupan komponen abiotik, TEMP = temperatur tanah rata-rata (oC), PH = pH tanah rata-rata, RH = kelembaban tanah rata-rata (%), C = karbon organik (%), N = nitrogen (%), P = fosfat (ppm), K = kalium (ppm), PASIR = % fraksi pasir, DEBU = % fraksi debu, LIAT = % fraksi liat.
34
Tabel 8 Nilai korelasi log antarvariabel pada sepuluh lokasi koleksi empat genus cacing
CACING PHERE TUMB HEWAN ABIO TEMP pH rH C N P K PASIR DEBU LIAT
CACING 0.33 0.32 0.74 0.47 0.28 0.03 0.00 0.25 0.16 0.00 0.19 0.11 0.65 0.06 PHERE 0.35 0.69 0.27 0.98 0.46 0.81 0.72 0.62 0.55 0.85 0.73 0.46 0.00 1.00 TUMB 0.35 0.14 0.93 0.13 0.28 0.21 0.39 0.81 0.64 0.39 0.36 0.43 0.99 0.60 HEWAN -0.12 -0.39 0.03 0.63 0.50 0.53 0.74 0.32 0.33 0.91 0.29 0.73 0.70 0.94 ABIO 0.26 0.01 -0.51 -0.17 0.88 0.24 0.26 0.49 0.55 0.56 0.55 0.01 0.93 0.02 TEMP -0.38 -0.26 -0.38 -0.24 0.06 0.14 0.06 0.62 0.44 0.73 0.38 0.95 0.08 0.49 pH 0.69 -0.09 0.43 0.23 0.41 -0.50 0.00 0.07 0.05 0.08 0.70 0.06 0.84 0.10 rH -0.82 -0.13 -0.31 -0.12 -0.39 0.62 -0.85 0.48 0.33 0.03 0.50 0.11 0.83 0.08 C 0.40 -0.18 0.09 0.35 0.25 -0.18 0.59 -0.25 0.00 0.24 0.45 0.06 0.94 0.10 N 0.48 -0.22 0.17 0.34 0.22 -0.27 0.64 -0.35 0.98 0.12 0.56 0.04 0.98 0.05 P 0.88 0.07 0.31 0.04 0.21 -0.13 0.59 -0.68 0.41 0.52 0.11 0.05 0.62 0.03 K 0.45 0.12 -0.32 -0.37 0.22 0.31 -0.14 -0.24 -0.27 -0.21 0.54 0.39 0.60 0.38 PASIR 0.53 -0.27 -0.28 0.12 0.76 -0.02 0.61 -0.53 0.62 0.66 0.64 0.30 0.49 0.00 DEBU 0.16 0.82 0.00 -0.14 -0.03 -0.58 -0.08 -0.08 0.03 -0.01 -0.18 -0.19 -0.25 0.91 LIAT -0.61 0.00 0.19 0.03 -0.70 0.25 -0.55 0.57 -0.55 -0.63 -0.67 -0.31 -0.90 -0.04
Nilai di daerah segitiga bawah merupakan nilai korelasi, nilai di daerah segitiga atas merupakan nilai P dari nilai korelasi. Nilai digaris bawah merupakan nilai korelasi signifikan (P < 0.05). Daerah diarsir merupakan lokasi P. darnleiensis paling banyak ditemukan.
35
PEMBAHASAN
Perbedaan Lokasi dengan P. darnleiensis dan Lokasi Tanpa P. darnleiensis
Pheretima darnleiensis dikoleksi di lokasi 3, 4, 5, 8, dan 9 sebanyak masing-masing satu individu kecuali di lokasi 5 sebanyak tujuh individu. Banyaknya P. darnleiensis yang dikoleksi di lokasi 5 (seluruhnya telah memiliki klitelum) menunjukkan kondisi lingkungan pada lokasi tersebut cocok bagi P. darnleiensis. Sedangkan pada lokasi 3, 4, 8, dan 9, P. darnleiensis hanya dikoleksi sebanyak satu individu pada masing-masing lokasi. Pheretima darnleiensis yang dikoleksi pada lokasi-lokasi tersebut kemungkinan tidak mendiami lokasi tersebut. Perbedaan lokasi yang terdapat P. darnleiensis dengan yang tidak dianalisis dengan uji t. Seluruh nilai variabel tidak berbeda signifikan. Berdasarkan hasil analisis tersebut, kondisi lingkungan tempat P. darnleiensis dikoleksi tidak berbeda signifikan dengan lingkungan tempat dikoleksinya cacing selain P. darnleiensis (Amynthas, Metaphire, Pontoscolex, dan cacing juvenil). Hal ini sesuai dengan Sims & Easton (1972) yang menyatakan bahwa cacing genus Pheretima belum diketahui memiliki kondisi habitat yang khusus.
Keberadaan P. darnleiensis pada lokasi 3, 4, 5, 8, dan 9 mungkin berkaitan dengan naungan. Nadeem et al. (2007) menyatakan bahwa cacing lebih banyak ditemukan di bawah kanopi. Lokasi 4, 5, 8, dan 9 ternaungi sehingga temperatur lebih stabil (P = 0.02). Walaupun demikian, pH tanah dan kelembaban tanah tidak dipengaruhi naungan (P = 0.75 dan 0.54). Variabel lainnya juga tidak berbeda signifikan. Pada lokasi yang ternaungi tumbuhan, jumlah cacing selain P. darnleiensis yang dikoleksi lebih banyak daripada lokasi yang terpapar cahaya matahari, namun tidak signifikan (P = 0.61). Jumlah P. darnleiensis yang dikoleksi pada lokasi ternaungi tumbuhan dengan lokasi terpapar cahaya matahari tidak berbeda signifikan (P = 0.23). Hal ini disebabkan oleh tingginya jumlah P. darnleiensis yang dikoleksi pada lokasi 5 sehingga membuat standar deviasi pada lokasi terpapar menjadi tinggi. Dengan demikian, keberadaan P. darnleiensis dalam penelitian ini tidak berkaitan dengan naungan.
Pheretima darnleiensis dikoleksi di lokasi 5 sebanyak tujuh individu. Perbedaan kondisi lingkungan di lokasi 5 dengan lokasi lainnya dianalisis dengan
standar deviasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai-nilai variabel pada lokasi 5 tidak berbeda dengan lokasi lainnya kecuali pada komponen debu. Pada lokasi 5 komponen debu mencapai 38.74% dan paling tinggi dibanding lokasi lainnya. Fraksi tanah debu dapat menyimpan air lebih baik daripada fraksi tanah pasir dan memiliki porositas yang lebih baik daripada tanah liat (Hardjowigeno 2007). Berkaitan dengan hal tersebut, P. darnleiensis banyak dikoleksi di lingkungan dengan air dan udara tanah yang cukup.
Korelasi antara Variabel Lingkungan dan Kelimpahan P. darnleiensis
Dalam penelitian ini, korelasi antara P. darnleiensis dan cacing lain (Amynthas, Metaphire, Pontoscolex, dan cacing juvenil) sebesar 0.33 dan tidak signifikan (Tabel 8). Dengan demikian, kelimpahan P. darnleiensis tidak dipengaruhi keberadaan cacing lain. Hal ini dapat disebabkan oleh rendahnya kelimpahan P. darnleiensis sehingga peluang untuk menemukan P. darnleiensis lebih tinggi pada lokasi yang banyak terdapat cacing. Selain itu, kondisi habitat P. darnleiensis juga mirip dengan kondisi habitat cacing lain.
Gonzalez et al. (1996) menyatakan bahwa jenis tumbuhan tidak berpengaruh terhadap densitas cacing tanah yang ditemukannya, namun hendaknya kesimpulan tersebut tidak digeneralisasi terhadap semua jenis tumbuhan. Sarlo (2006) menyatakan adanya hubungan antara biomassa cacing yang ditemukan dan jenis tumbuhan. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan kandungan nutrisi dari serasah tumbuhan tersebut. Nadeem et al. (2007) menyatakan bahwa cacing lebih banyak ditemukan di lokasi tumbuhan jambu biji dibandingkan dengan mangga, kelapa sawit, murbei, atau jeruk. Dalam penelitian ini, tumbuhan yang terdapat di lokasi penelitian sangat beragam sehingga sulit untuk menyimpulkan hubungan antara jenis tumbuhan dan kelimpahan P. darnleiensis. Tumbuhan memiliki nilai korelasi tidak signifikan dengan kelimpahan P. darnleiensis (P = 0.14) (Tabel 8).
Dalam penelitian ini, terdapat juga artropoda di lokasi koleksi cacing tanah. Hal ini didukung oleh penelitian Gonzalez et al. (2003) yang juga menemukan artropoda seperti Acarina dan Colembola pada lokasi penelitiannya. Migge-Kleian et al. (2006) menyatakan bahwa pengaruh cacing tanah terhadap mesofauna tanah
37
(terutama mikroartropoda dan enchytraeids) dalam suatu lokasi bergantung kondisi kelimpahan cacing tanah di lokasi tersebut sebelumnya. Kelimpahan artropoda dalam penelitian ini berkorelasi negatif dengan kelimpahan P. darnleiensis (-0.38) dan cacing selain P. darnleiensis (-0.11). Korelasi antara artropoda dan kelimpahan P. darnleiensis maupun cacing selain P. darnleiensis tidak signifikan (P > 0.05) (Tabel 8). Dalam jangka panjang, kelimpahan cacing tanah dapat menurunkan kelimpahan mikroartropoda tanah akibat kompetisi sumber daya (Migge-Kleian et al. 2006).
Komponen abiotik dapat berfungsi sebagai mulsa. Mulsa merupakan material yang kontak dengan permukaan tanah. Mulsa dapat dapat mengurangi energi air hujan, menyaring, dan mereduksi kecepatan aliran permukaan sehingga menurunkan kapasitas transpor, meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, dan mencegah erosi tanah baik oleh tumbukan air hujan ataupun karena aliran permukaan (Singer & Munns 2006). Katsvairo et al. (2007) menyatakan densitas cacing tanah berkorelasi positif dengan infiltrasi air. Mulsa juga meningkatkan proliferasi tanah dan dapat meningkatkan populasi cacing epigeik (Blanco-Canqui & Lal 2007). Komponen abiotik dalam penelitian ini dapat dikatakan tidak memiliki korelasi dengan kelimpahan P. darnleiensis dengan nilai korelasi 0.01 (Tabel 8). Interaksi antara P. darnleiensis dan variabel lain memiliki korelasi yang lebih tinggi daripada dengan mulsa.
Korelasi P. darnleiensis dengan temperatur, pH, dan kelembaban tanah dalam penelitian ini negatif tidak signifikan (Tabel 8). Joshi & Aga (2009) menemukan densitas cacing tanah di Motichur Wildlife Sanctuary, India, sebesar 82 ± 22.55 individu/m2 (temperatur tanah 29.02 ± 0.5 oC, pH tanah 6.4 ± 0.08, dan kelembaban tanah 26.6 ± 0.3%). Lokasi 5 yang memiliki densitas cacing 22 individu/m2 memiliki kemiripan dengan kondisi tersebut dengan rata-rata temperatur tanah 27.42 ± 1.01 oC, pH 5.77 ± 0.53, dan kelembaban tanah 19.83 ± 9.92%. Dibandingkan dengan lokasi 5 pada hasil penelitian, densitas cacing tanah pada lokasi 5 lebih rendah daripada cacing yang ditemukan Joshi & Aga (2009). Perbedaan jumlah cacing yang ditemukan dalam penelitian ini mungkin dapat disebabkan oleh faktor lain selain temperatur, pH, atau kelembaban tanah.
Kandungan C organik, N, P, dan K pada lokasi 5 dapat dikatakan tidak berbeda dengan lokasi lainnya (Tabel 4). Menurut Hardjowigeno (2007), jumlah cacing berkaitan dengan bahan organik yang terkandung di dalamnya. Semakin banyak bahan organik, semakin gelap warna tanah, dan semakin tinggi kelimpahan cacing. Estevez et al. (1996) dan Karmegam & Daniel (2007) memperoleh korelasi positif antara kelimpahan cacing yang ditemukan dan karbon organik. Ivask et al. (2006) memperoleh cacing sebanyak 47–107 individu/m2 pada lingkungan dengan kandungan bahan organik = 3.45–4.16%, N = 0.158– 0.207%, P terlarut = 11.19–16.91 mg/100 g tanah kering, dan K+ = 17.24–21.32 mg/100 g tanah kering di lokasi penelitiannya, namun penelitian tersebut dilakukan di daerah Estonia sehingga mungkin saja terdapat perbedaan pengaruh temperatur dengan kelimpahan cacing yang diperoleh. Dalam penelitian ini, korelasi antara P. darnleiensis dan C organik = -0.18 serta cacing dan C organik = 0.40, keduanya tidak signifikan (Tabel 8). Menurut Mainoo (2008), kelimpahan cacing tanah tidak selalu berkorelasi positif dengan C organik. Ortiz-Ceballos & Fragoso (2004) juga memperoleh nilai korelasi negatif antara jumlah cacing yang diperoleh (Balanteodrilus pearsei dan Larsonidrilus orbiculatus) dengan bahan organik pada kedalaman 0–10 cm. Dalam penelitian ini, kemungkinan C organik telah habis dimakan cacing selain P. darnleiensis saat dilakukan sampling sehingga P. darnleiensis pergi mencari tempat baru yang memiliki kandungan C organik tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan korelasi negatif P. darnleiensis dengan kandungan C organik. Dalam penelitian ini, korelasi antara kelimpahan P. darnleiensis dan N, P, serta K juga tidak signifikan (Tabel 8).
Pada lokasi 5, komponen debu memiliki nilai 38.74% dan berkorelasi positif signifikan dengan kelimpahan P. darnleiensis. Sedangkan korelasi debu dengan cacing lain sebesar 0.16 dan tidak signifikan (Tabel 8). Hal ini bertentangan dengan Ivask et al. (2006) yang menyatakan kelembaban tanah lebih mempengaruhi kelimpahan cacing dibandingkan dengan jenis tanah. Sama halnya dengan Rossi et al. (1997) yang tidak menemukan asosiasi antara kelimpahan Polypheretima elongata dan fraksi pasir, debu, maupun liat. Perbedaan jumlah variabel yang dianalisis mungkin dapat menyebabkan perbedaan ini.
39
Variabel yang Mempengaruhi Kelimpahan P. darnleiensis
Biplot hasil analisis komponen utama (Gambar 14) menunjukkan variabel yang terletak berdekatan dengan lokasi 5 adalah tutupan tumbuhan, fraksi debu, dan kelimpahan P. darnleiensis. Variabel ini memiliki kontribusi terhadap lokasi 5 dan mungkin memiliki pengaruh terhadap kelimpahan P. darnleiensis. Sementara berdasarkan analisis korelasi, kelimpahan P. darnleiensis dengan tutupan tumbuhan memiliki nilai korelasi sebesar 0.14 dan kelimpahan P. darnleiensis dengan fraksi debu sebesar 0.82. Tumbuhan memiliki korelasi positif tidak signifikan terhadap kelimpahan P. darnleiensis (P = 0.69). Hanya korelasi P. darnleiensis dengan debu yang memiliki nilai signifikan (P < 0.05). Sementara itu, korelasi antara kelimpahan cacing selain P. darnleiensis dan fraksi debu sebesar 0.16 dan tidak signifikan (P = 0.65) (Tabel 8). Berdasarkan hasil analisis, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi fraksi debu, maka semakin banyak P. darnleiensis yang ditemukan, namun semakin tinggi fraksi debu, belum tentu jumlah cacing (selain P. darnleiensis) yang ditemukan semakin banyak. Dengan demikian, fraksi debu merupakan komponen yang berpengaruh terhadap kelimpahan P. darnleiensis.
SIMPULAN
Berdasarkan penelitian ini, P. darnleiensis banyak dikoleksi pada daerah terrestrial dengan kondisi lingkungan terdapat 15 individu cacing lain/m2, tutupan tumbuhan 25.00%, artropoda tanah 16.32 individu/kg tanah segar, tutupan komponen abiotik 78.50%, temperatur tanah 27.42 ± 1.01 oC, pH tanah 5.77 ± 0.53, kelembaban tanah 19.83 ± 9.92%, C organik = 3.39%, N = 0.29%, P = 286.80 ppm, K = 500.00 ppm, fraksi pasir 28.76%, debu 38.74%, dan liat 32.50%. Dalam penelitian ini, fraksi debu yang tinggi pada lokasi tersebut menjadi komponen lingkungan yang menjadi ciri tempat ditemukannya banyak P. darnleiensis.