• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE Kebutuhan Produk Otomotif

ROAD MAP INDUSTRI OTOMOTIF INDONESIA

BAHAN DAN METODE Kebutuhan Produk Otomotif

Statistik dan perkembangan kebutuhan produk otomotif dibagi untuk kendaraan penumpang, bus, truk pengangkut barang perdagangan, hasil hutan, hasil tambang, dan hasil industri.

Tabel 1.3)

Persentase Wilayah, Penduduk, Panjang Jalan dan Kendaraan

Persentase (%) Sumatera Jawa Bali & NTT Kalimantan Sulawesi Maluku& Papua

Wilayah 20,6 7,2 4,1 32,3 10,8 25,0

Penduduk 21,2 58,6 5,3 5,6 7,3 2,0

Pjg. Jalan 33,8 26,8 9,8 9,1 14,2 6,3

Kendaraan 17,9 65,0 5,9 6,0 4,2 1,0

Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa 65% kendaraan bermotor berada di Jawa yang sekaligus memberikan indikasi bahwa kebutuhan kendaraan bermotor juga tertinggi di Jawa. Karena Maluku dan Papua menduduki peringkat terendah, maka dengan sendirinya tingkat kebutuhan kendaraan bermotor

Populasi kendaraan bemotor jenis bus yang melayani transportasi kota antar

propinsi dari tahun 2005 hingga tahun 2009 mengalami fluktuasi akibat berbagai faktor antara lain saingan dari moda transportasi lain, kondisi infrastruktur. Jumlah bus pada tahun 2009 lebih rendah dibanding tahun 2008, sementara jumlah perusahaan oto bus meningkat. Gejala ini barangkali disebabkan oleh kenaikan harga bus dan biaya perawatan di sana pun kecil saja.

ISSN 1410-3680

Tabel 2.3)

Angkutan Kota Antar Propinsi

2005 2006 2007 2008 2009

Perusahaan Otobus 765 772 790 822 846

Jumlah Bus 19.253 19.197 19.428 19.970 18.911

Tabel 3.

Angkutan Pariwisata Tahun 2005 s/d 2009 3)

2005 2006 2007 2008 2009

Perusahaan Otobus 495 566 587 651 843

Jumlah Bus 7.288 8.058 8.648 10.667 11.915

Jenis angkutan umum yang menunjukkan kecenderungan positif dari tahun 2005 hingga tahun 2009 adalah bus angkutan untuk pariwisata. Hal ini disebabkan berkembangnya obyek pariwisata di tanah air, bersamaan dengan meningkatnya animo wisata nusantara.

Pelayanan angkutan umum untuk antar kota, angkutan dalam kota, pariwisata dan lain sebagainya senantiasa akan mengalami perbaikan sesuai program pemerintah melalui Kementerian Perhubungan. Hal ini sejalan dengan salah satu misi Direktorat Jenderal Angkutan Darat yaitu “mendorong industri transportasi darat yang transparans dan akuntabel”.

Untuk angkutan pribadi saat ini pertambahannya seyogianya dihambat sehubungan dengan kemacetan lalulintas di hampir semua kota besar. Kenaikan kebutuhan kendaraan pribadi secara teoritis berhubungan dengan ketersediaan dan kualitas angkutan umum di kota-kota besar. Oleh sebab itu komitmen pemerintah untuk menyelenggarakan angkutan publik yang nyaman bagi masyarakat sudah merupakan hal yang mutlak perlu. Penekanan jumlah kendaraan pribadi menurunkan polusi sekaligus menghemat konsumsi BBM bersubsidi.

Pengadaan untuk Memenuhi Kebutuhan Produk Otomotif

Secara umum kebutuhan produk otomotif dipenuhi melalui pembelian produk asal impor atau produk yang diproduksi oleh industri kendaraan bermotor dalam negeri.

Produk otomotif sebagian sudah dirakit di dalam negeri dengan kandungan lokal bervariasi. Sedangkan sebagian kebutuhan otomotif tergolong khusus seperti truk pertambangan, truk heavy duty lainnya masih didatangkan dari luar negeri. Ada juga truk bekas yang diperbolehkan masuk Indonesia.

Disamping itu, sejak efektifnya kesepakatan WTO yang telah diratifikasi, impor diperkenankan untuk mobil penumpang baik oleh ATPM maupun Importir Umum. Hal ini menimbulkan masalah dalam perumusan kebijakan pembinaan industri kendaraan bermotor dalam negeri. Tidak lain karena konsep industri kendaraan bermotor dalam negeri jangka panjang belum juga ditetapkan.

Roadmap Industri Otomotif

Pada Tabel 4 berikut ditampilkan gambaran produksi kendaraan bermotor dalam negeri untuk tipe sedan, mini bus/SUV, bus, dan truk/pick-up. Pada penghujung semester 1 tahun 2010 produksi mini bus 1.500 cc 4x2 tetap merajai dengan 33.026 unit di bulan Juni.

ISSN 1410-3680 168

Ditinjau dari merek, maka Tabel 5. memperlihatkan bahwa ATPM Toyota selalu menduduki peringkat tertinggi dari tahun 2005 hingga tahun 2009. Produksi paling tinggi dicapai tahun 2008 sebanyak 226.001 unit.

Sebagaimana dikemukakan di depan, industri otomotif yang dimaksud dalam tulisan ini difokuskan hanya pada industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih. Industri kendaraan bermotor di Indonesia ditandai dengan dimulainya kegiatan perakitan mobil pada tahapan sederhana di awal tahun 1980an atau kurun waktu Repelita III yaitu tahun 1979/1980 sampai dengan 1982/1983. Perkembangannya terus berfluktuasi naik-turun mengikuti permintaan pasar yang ketika itu dapat dikatakan baru tumbuh.

Industri kendaraan bermotor selama Repelita III mengalami perkembangan yang

kurang menggembirakan. Produksi kendaraan bermotor roda empat pada dua tahun terakhir Repelita III mengalami penurunan sebesar 10,2% pada tahun 1982/83 dan 17,3% pada tahun 1983/84. Dibandingkan dengan hasil yang dicapai pada awal Repelita III produksi pada tahun 1983/84 adalah 43,4% lebih tinggi. Dilain pihak usaha-usaha untuk memperkuat struktur industri mulai terwujud pada tahun 1983/84. Dalam rangka program penanggalan (deletion program) sedang dibangun pabrik mesin kendaraan bermotor roda empat dengan kapasitas 466.460 ton per tahun yang dilaksanakan oleh perusahaan swasta. Enam dari tujuh pabrik ini direncanakan berproduksi pada awal tahun 1985.

Tabel 4.

Produksi Kendaraan Bermotor Semester I Tahun 2010 4)

Tipe Volume Engine

Jan Feb Mar Apr Mei Juni

1500cc - - - 1501-<3000/2500 137 331 412 398 369 398 Sedan >3001 9 10 14 21 5 20 1500cc 27968 25635 30131 2889 9 27979 33026 1501-<2500 6618 6573 8229 1050 7 8077 10483 2501-3000 1266 1445 984 1055 707 783 4x2 >3001 - - - 1500cc - - - 1501-<3000 695 331 601 717 676 818 4x4 >3001 - 103 - - - - 5-10T 132 156 174 150 186 66 10-24T 116 115 108 166 235 214 Bus GVW (G/D) >24T - - - <5T 5468 6157 8472 8502 8659 9916 5-10T 5885 6422 6587 7484 7367 8011 10-24T 526 623 688 555 610 628 Pick-up/ Truk GVW (G/D) >24T 998 879 954 1039 934 1215

ISSN 1410-3680

Di samping itu juga sedang dibangun pabrik komponen utama kendaraan bermotor roda empat, yaitu poros (propeller shaft) dan gandar belakang (axle), yang ditargetkan selesai pada tahun 1984.

Dalam perkembangannya lebih lanjut, industri otomotif di Indonesia hingga sekarang masih dikuasai oleh Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) yang didominasi oleh pihak Jepang. Tampilnya ATPM yang mengatur industri otomotif dalam kenyataannya tentulah lebih berorientasi pada keuntungan perdagangan atau dengan kata lain aspek industri bukan menjadi prioritas pertama. Kesediaan mitra asing membuka industri kendaraan bermotor terutama didasarkan pada potensi pasar

lokal dan sumber tenaga kerja yang relatif murah dibanding luar negeri. Pemerintah memang mencoba melakukan intervensi dengan menerbitkan sejumlah kebijakan peningkatan kandungan lokal. Namun efektivitas pelaksanaannya tidak berjalan baik, sering terjadi inkonsistensi dan diwarnai ketidaktegasan terhadap penyimpangan yang terjadi. Dengan demikian keberpihakan terhadap industri kendaraan bermotor nasional sangat baur. Pihak lokal yang bergabung dengan ATPM justru menunjukkan mentalitas sebagai pedagang ketimbang sikap industriawan yang menuntut pemikiran jauh ke depan.

Tabel 5.

Produksi Kendaraan Bemotor Dalam Negeri 4) Tahun 2005 s/d 2009 Berdasar Merek

Merek 2005 2006 2007 2008 2009 Toyota 169178 122229 172436 226001 198048 Daihatsu 48729 33065 50369 76244 77053 Mitsubishi 86277 41982 48161 77906 53713 Suzuki 103830 51878 60013 98314 49747 Honda 39597 21034 29465 43672 34461 Nissan 10759 3376 18518 30310 20019 Isuzu 24558 15214 17534 24450 14834 Hino 7229 3231 8192 14350 11635 Mercedes 2229 454 1305 2802 2410 UD Nissan 1926 1638 1861 2250 1080 Hunday 4646 1136 3074 2923 1053 BMW 1084 771 10 852 414 Cherry - - 700 554 345 Mazda 121 - - - - Peugeot 288 - - - - Chevrolet 259 - - - - 500710 296008 411638 600628 464816

ISSN 1410-3680 170

Satu ketika di akhir tahun 1970an pemerintah mendorong pengembangan kendaraan bermotor niaga sederhana-KBNS (basic utility vehicles) dan mobil nasional atau mobnas. Berbagai prototip mobil muncul melalui ATPM seperti Toyota Kijang di tahun 1977, diikuti oleh Datsun Sena. Untuk non ATPM, PT Pindad meluncurkan Jeep Banteng, PT IPTN mengembangkan Maleo. Mobnas akhirnya dimenangkan oleh Timor yang berkolaborasi dengan KIA dari Korea Selatan.

Bila diingat kejadian di atas dapat disimpulkan bahwa Indonesia pernah bermimpi membuat mobil nasional. Sekumpulan idealis yang membawa nama lembaga atau perorangan dan sebenarnya berbungkus bisnis tulen ketika itu ingin mewujudkan cita-cita tersebut. Namun, krisis moneter menghadang. Cita-cita yang dianggap luhur dan meninggikan harkat bangsa itu kandas di tengah jalan. Yang tertinggal kini hanyalah angan-angan.

Kegagalan mobnas pun diduga salah satunya karena tidak mendapat dukungan dari para ATPM. Mereka disinyalir sudah keasyikan menjadi pedagang mobil ketimbang pembuat mobil. Sebagai pedagang, perkara rugi laba menjadi prioritas utama sehingga jika sudah untung, buat apa susah-susah lagi.

Dalam keadaan seperti yang diuraikan di atas, sukarlah berbicara tentang roadmap industri kendaraan bermotor dalam negeri. Masing-masing ATPM, kalaupun memiliki roadmap dapat dipastikan hanya berupa roadmap industri dalam rangka memenangkan pasar dalam negeri Indonesia yang implementasinya berdasarkan kebijakan global yang dikendalikan dari kantor pusat mereka di luar Indonesia. Tidak ada satupun roadmap industri kendaraan bermotor yang menggambarkan peta jalan proses kemajuan industri kendaraan bermotor lengkap dengan kebutuhan produk, kebutuhan teknologi, dan kebutuhan rancangbangun dan rekayasa, serta pasar yang dituju dikaitkan dengan waktu (tahun). Barangkali mobil Maleo dari PT IPTN atau mobil Perkasa keluaran PT Texmaco mempunyai semacam roadmap yang dimaksud, tetapi keduanya sekarang hanya tinggal sejarah yang mulai dilupakan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Membangun Mobnas atau Industri Komponen

Jadi dapat dicatat disini bahwa usaha membuat mobnas untuk masa depan masih bersifat coba-coba. Ini sudah terbukti ketika rezim di masa itu ambruk, mobnas pun ikut terkubur. Faktor lain yang mendukung kegagalan mobnas adalah karena tak dilandasi oleh infrastruktur yang mapan. Sejarah kelahirannya pun tak lepas dari rezim yang berkuasa ketika itu. Mobnas ibarat buah yang masak oleh karbit, matang yang dipaksakan.

Kini mau dibawa ke mana industri otomotif Indonesia? Sebuah seminar nasional tentang otomotif yang digelar oleh LIPI mencoba menjawab. Seminar ternyata tidak lagi membahas mobnas karena sudah dianggap kadaluarsa, tetapi daya saing industri komponen otomotif yang dikupas. Sisi inilah yang dianggap berpeluang untuk masuk ke pasar lokal dan global.

Menurut wakil dari PT General Motor Indonesia (ATPM Chevrolet), kecenderungan yang terjadi saat ini, negara maju telah dan akan terus memfokuskan diri untuk mencari produk apa saja dari negara yang memiliki keunggulan dalam bidang mutu, pelayanan, harga, dan teknologi. Tidak peduli negara mana dan produk apa saja, termasuk otomotif. Salah satu syaratnya agar bisa bersaing adalah menerapkan dengan benar dan sungguh-sungguh persyaratan dunia seperti ISO 9000 dan ISO 14000, di samping komitmen untuk melakukan perubahan menuju kebaikan yang tiada henti. Pembeli akan tetap mencari sumber daya dari pemasok yang memperhatikan kualitas, pelayanan, harga dan teknologi. Peluang ini perlu dimanfaatkan oleh industri yang mempunyai visi dan wawasan ke depan agar produknya bisa dibeli oleh pembeli dan menjaganya agar selalu dibeli selamanya.

Sementara itu, menurut dua peneliti dari Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, di sektor komponen dan suku cadang masih tersedia celah yang bisa dimasuki, mengingat untuk sebuah mobil diperlukan banyak komponen. Jika dicermati, peluang yang besar pada industri komponen universal atau komponen yang dapat digunakan berbagai merek dan sekaligus bisa dijual di pasar purna jual karena persaingannya lebih terbuka. Untuk jenis functional parts (berdasarkan model dan merek) dan original equipment manufacturer (komponen khusus yang dibuat

ISSN 1410-3680

untuk ATPM tertentu dan tak memiliki after market) tidak mudah dimasuki.

Permasalahan selanjutnya, bagaimana sektor komponen dan suku cadang bisa memberikan kontribusi dengan melihat berbagai perkembangan yang terjadi. Adanya permintaan terhadap kendaraan bermotor akan memunculkan permintaan terhadap produk tersebut. Dengan kata lain, permintaan yang terjadi merupakan turunan dari permintaan terhadap kendaraan bermotor.

Belajar dari Thailand, tampak bahwa keunggulan yang dicapainya berkat kebijakan terpadu yang saling mendukung. Misalnya kebijakan industri yang terfokus serta kemudahan fasilitas perbankan melalui dana bank bunga murah. Indonesia juga harus belajar dari Taiwan dan Cina yang lebih dulu menjadi kuat. Thailand dikatakan memiliki visi yang sangat jelas, yakni akan menjadi ”Detroit di Asia” (sentra otomotif di Amerika Serikat yang terkenal). Sementara itu, Cina sudah menjadi basis ekspor produk otomotif dan komponennya ke Eropa dan Amerika.

Industri kendaraan bermotor pasti akan membutuhkan banyak komponen. Pertanyaannya berapa mampukah industri komponen kita bersaing di pasar global?

Di bagian lain, peneliti dari Pusat Standar dan Sistem Mutu LIPI, mengatakan industri komponen otomotif lokal akan mendapat persaingan yang tajam dari para produsen komponen Asean, terutama dari Cina, Thailand, Taiwan, dan juga Malaysia, menyusul liberalisasi perdagangan di sektor komponen. Dari segi kualitas, produk komponen mereka sudah memenuhi standar dengan harga bersaing, sekalipun saat bea masuk masih lebih tinggi, yaitu antara 10% hingga 50%. Dengan tarif bea masuk maksimal hanya 5%, mereka akan ekspansi lebih besar lagi. Dari sisi harga, produk mereka akan jauh lebih murah sehingga melindas produk komponen lokal. Bagi industri komponen Indonesia, ini tantangan berat. Harus meningkatkan kualitas produk dan melakukan efisiensi.

Di sisi lain, industri hulu sebagai pendukung dari industri komponen di Indonesia belum juga mengalami perubahan yang signifikan. Hingga saat ini, bahan baku untuk membuat komponen sebagian besar masih diimpor sehingga mengakibatkan produk yang dihasilkan relatif lebih mahal dibanding produk dari Thailand.

Dari segi kepemilikan, industri komponen PMA unggul dalam teknologi karena mendapat dukungan teknologi dari induknya.

Industri komponen PMDN dapat menjual sedikit murah sebanding dengan kualitas produk yang dibuat dengan teknologi lebih rendah.

Pertanyaan yang muncul kemudian, masih adakah peluang bagi industri komponen kita? Bagaimana road map industri komponen dikaitkan dengan road map industri otomotif? Ini pekerjaan rumah buat semuanya.

Road map industri otomotif secara nasional dalam arti sesungguhnya belum ada. Yang ada baru dalam bentuk perencanaan parsial yang dilakukan instansi terkait seperti Kementerian Perindustrian atau dari masing-masing ATPM.

Dalam perayaan produksi sejuta unit transmisi otomatis PT Honda Precision Parts Manufacturing, pada tahun 2008 di Karawang, Dirjen. Industri Alat Transportasi dan Telematika Dep. Perindustrian mengatakan bahwa dalam road map industri otomotif, pemerintah menetapkan target mampu memproduksi satu juta mobil pada 2011. Pemerintah menargetkan sebesar 30% dari produksi mobil di dalam negeri akan dipasok ke pasar ekspor. Pada tujuh bulan pertama 2008 ekspor mobil ke berbagai negara telah mencapai 60.000 unit, sehingga diperkirakan ekspor tahun 2009 bisa mencapai di atas 100.000 unit.

Untuk mencapai produksi satu juta mobil pada 2011 dan target ekspor tersebut, pemerintah secara konsisten melakukan pembangunan infrastruktur pendukung industri seperti mempercepat pembangunan pembangkit listrik, pelabuhan, pembangunan jalan, dan menyediakan fasilitas lain seperti perpajakan untuk mendukung pertumbuhan industri nasional.

SIMPULAN

• Roadmap industri otomotif belum disusun untuk menjadi acuan pelaku industri terkait.

• Roadmap yang dibuat oleh ATPM lebih bersifat parsial untuk kepentingan bisnis • Industri komponen otomotif juga belum

mengacu pada roadmap

• Roadmap penting dan diperlukan sebagai basis perencanaan menuju industri otomotif yang dituju.

ISSN 1410-3680 172

DAFTAR PUSTAKA

1. Frensidy, B., Bertumbuh Dalam Volatilitas Tinggi, Bisnis Indonesia Edisi Minggu, Juli 2010

2. ……, Forum, Sinar Harapan 2003

3. ……, Perhubungan Darat Dalam Angka 2009, Departemen Perhubungan Darat, 2009.

4. ……., Produksi Kendaraan Bermotor Tahun 2005 s/d 2009, Gaikindo 2010 5. ……., www.bappenas.go.id/get-file-server/

node/6823, diakses 9 Pebruari 2010

RIWAYAT PENULIS

Irwan Ibrahim, lahir di Padang pada tahun

1951. Menyelesaikan pendidikan di Fisika Teknik ITB (S1), dan Mesin/Manajemen Industri Univ. Indonesia (S2). Dipekerjakan di Kementerian Ristek sebagai Asisten Deputi Sistem Insentif (1999 s/d Juni 2010). Sekarang sebagai Peneliti Madya pada Pusat Teknologi Industri Sistem Transportasi-BPPT.

INTENSIFIKASI PEMANFAATAN BBG