• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE

Dalam dokumen alelopati (Halaman 29-35)

Laporan Ekologi umum "Alelopati"

III. BAHAN DAN METODE

Waktu dan tempat : Kamis 3 januari 2008

Laboratorium Universitas Jambi Lantai I

Alat dan Bahan : Alat:

1. Polibag atau pot berisi tanah 2. Gelas ukur  3. Gelas piala 4. Blender  5. Pisau 6. Gunting 7. Timbangan

Bahan:

1. Benih jagung atau benih kacang hijau 2. Daun akasia atau akar ilalang

Prosedur Kerja:

1. Ditanam benih yang telah disiapkan di dalam polibag atau pot dan di biarkan sampai tumbuh, kemudian masing-masing pot hanya terdiri atas satu tanaman yang berumur  satu minggu.

2. Dibuat ekstrak alang-alang dan akasia dengan cara sebagai berikut:

- Dihaluskan bagian tumbuhan jenis tumbuhan tersebut dengan Blender, yang sebelumnya dipotong-potong menjadi kecil.

- Dibuat kestrak atau hasil rendaman bagian tumbuhan tersebut dengan air (akuadest) dengan  perbandingan bagian tumbuhan : air = 1 : 7 dan dibiarkan selama 24 jam(sebagai larutan

stok)

- Setelah 24 jam saringlah ekstrak yang diperoleh dengan menggunakan alat penyaring.

3. Diencerkan larutan stok dengan air akuadest menjadi larutan dengan konsentrasi 5 %, 10%, 15%, 20%, 25%, sehingga kita mempunyai larutan-larutan allelopati yang dijadikan perlakuan sebagai berikut.

a. Perlakuan kontrol, tanpa larutan allelopati  b. Perlakuan A, larutan biang/ stock 

c. Perlakuan B , larutan konsentrasi 5 % dari larutan biang. d. Perlakuan C , larutan konsentrasi 10 % dari larutan biang. e. Perlakuan D , larutan konsentrasi 15 % dari larutan biang. f. Perlakuan E , larutan konsentrasi 20 % dari larutan biang. g. Perlakuan F , larutan konsentrasi 25 % dari larutan biang

4. Dilakukan penyiraman dengan air akuadest secukupnya, terhadap tanaman di dalam  polibag dua hari sekali, kemudian tiap selang sehari dilakukan penyiraman dengan larutan allelopati sebagai perlakuan, masing-masing tanaman disiram sebanyak 50 cc (jadi hari ini disiram air, besok disiram ekstrak allelopati dan lusa disiram air, begitu seterusnya).

5. Dilakukan pengamtan terhadap morfologi daun, pertulangan daun, pertumbuhan  batang dll yang dilakukan setiap hari. Setelah 4 minggu dilakukan pengamatan

terhadap :

a) Tinggi tanaman mulai dari atas permukaan tanah  b) Bobot basah dan kering

c) Kelainan-kelainan morfologi yang terjadi pada akar, batang dan daun. IV.HASIL BAN PEMBAHASAN

A.Hasil

Allelopati Morfologi Perakaran Tinggi

tanaman

Berat basah

Kontrol Tanaman normal daun normal Akar banyak  menyatu ke bawah a. 11,9 cm  b. 15,8 cm 1,5 gram

5% Daun bercak hitam,

daun tidak 

 berkembang dengan  baik 

Akar banyak seperti akar serabut, akarnya seperti menyebar  a. 11,7 cm  b. 12,6 cm c. 8,6 cm 0,9 gram

10% Ada bercak pada daun, daun tidak   berkembang dengan  baik  Akar menyatu ke  bawah a. 16 cm  b. 11,9 cm c. 12,7 cm 1,3 gram

15% Ada bercak putih  pada daun , daun tidak berkembang dengan baik, 1 tanaman tumbuh kerdil, hanya memiliki 1 daun Akar serabutnya  banyak  a. 4,7 cm  b. 11,6 cm c. 17,4 cm 1,7 gram 20% Daun berbercak 

 putih, dan tidak   berkembang dengan  baik  Akar panjang ke  bawah a. 21,1 cm  b. 13,5 cm c. 11,4 cm 2,2 gram

25% Daun berbercak   putih dan bercak  coklat, tapi putih lebeh banyak.

Daun bagian bawah keriting

Akar pendek dan menyebar, akar  tunggang tidak  nampak  a. 12,6 cm  b. 17,6 cm 1,4 gram

100% Bercak coklat yang  banyak dan tidak   berkembang dengan  baik.

Akar pendek dan sedikit

a. 13,5 cm  b. 7,3 cm

1,0 gram

B.Pembahasan

Pada hasil praktikum yang telah dilakuakan diatas dapat kita lihat bahwa, tanaman  palawija yang disirami oleh allelopati berkosentrasi tinggi dalam hal ini adalah larutan biang

(100%) tumbuh dengan sangat tidak baik, baik morfologi daunnya yang dipenuhi oleh bercak  coklat dan putih, tinggi tanaman yang tidak sebanding dengan tanaman perlakuan lain, maupun berat basahnya yang hanya 1,0 gram.. Hal ini dikarenakan kepekatan zat racun yang diberikan sangat tinggi hingga mengganggu pertumbuhan dan sistem metabolisme tumbuhan  palawija yang ditanam. Menurut Setyowati (2001) Respon yang akan terjadi karna pemberian allelopati adalah panjang tajuk dan akar yang terhambat yang dapat disebut sebagai herbisida  pra tumbuh namun hal ini tergantung juga pada formulasi ekstraksi allelopati yang diberikan. Adapun warna daun yang berubah merupakan salah satu ciri dari gejala klorosis pada tanaman palawija akibat dari aplikasi ekstrak allelopeti.

Pada allelopati yang berkosentrasi 5%, tanaman tumbuh layaknya tanaman kontrol, hanya sedikit saja perubahan yang terjadi saat akhir pengamatan. Hal ini dapat dikarenakan oleh kosentrasi allelopati yang dalam hal ini adalah zat racun, tidak terlalu tinggi, hingga tumbuhan masih mampu melakukan proses metabolisme dan yang lainnya dengan normal, walau terdapat sedikit hambatan allelopati. Itulah sebabnya perubahan hanya terjadi pada morfologi daunnya saja.

Sedangkan pada allelopati berkosentrasi 10%, tanamannya tumbuh tidak normal, namun tetap saja perubahan yang terjadi tidak telalu mencolok seperti pada tanaman yang diberikan allelopati kosentrasi tinggi. Pada allelopati berkosentrasi 15% mulai terjadi

 perubahan yang agak mencolok dari kontrolnya seperti bercak-bercak pada daun yang sangat  banyak, panjang akar yang tidak normal, dan tinggi yang tidak normal.

Pada allelopati yang berkosentrasi 20% dan 25% perubahan yang terjadi juga sangat mencolok dari kontrol, berupa bercak-bercak pada daun yang tidak lagi berwarna putih, hal ini dapat dikatakan bahwa tumbuhan sudah mengalami klorosis, dan tanda-tanda ini dalam fisiologi tumbuhan bisa dikatakan sudah menunjukkan gejala kahat atau gejala kematian.

Sedangkan pada tanaman kontrol, tanaman tumbuh normal, baik morfologi daun,  panjang akar dan batang maupun berat basahnya yang dapat dikatakan lebih berat dari pada

tanaman lainnya yang diberikan perlakuan, kecuali pada perlakuan 20% dan 25% yang memiliki berat basah yang lebih berat dari pada kontrol, hal ini seharusnya tidak terjadi, namun hal ini dapat saja terjadi karena kelalaian pada saat praktikum dilakukan atau pada saat jumlah allelopati yang disiramkan setiap harinya. Selain dari pada itu, menurut penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa orang biologiawan ahli bidang fisiologi tanaman Setyowati dan Yuniarti (1999) mengatakan bahwa pertumbuhan tanaman jagung dan kedelai yang diberi perlakuan ellelopati ekstrak alang-alang ( Imperata cylindrica) dengan  perbandingan 1:4 umumnya tidak terpengaruh oleh ekstrak ini, bukan hanya dalam hal  pertumbuhan tanamannya tetapi juga dalam proses perkecambahannya, hanya saja  berpengaruh terhadap pemanjangan akarnya. Namun sebaliknya bila diberikan allelopati dari  bunga matahari ( Helliantus annus) mampu menekan semua jenis palawija ataupun gulma dari kosentrasi 20% ataupun 25%. Jadi dalam hal ini, daya kecambah tanaman palawija dalam  penelitian sangat tergantung pada sumber dan konsentrasi ekstrak serta jenis tanaman yang

dievaluasi.

Jadi dapat dikatakan bahwa, dalam praktikum allelopati ini tidak bisa dinyatakan tidak   berhasil, mengingat beberapa peneliti melaporkan hal yang sama. Steinsiek (1982) dan

Shettel dan Balke (1983) mengemukakan bahwa perkembangan tumbuhan tergantung pada konsentrasi ekstrak, sumber ekstrak, temperatur ruangan, dan jenis tumbuhan yang dievaluasi serta saat aplikasi.

Alelopati adalah interaksi biokimia antara mikroorganisme atau tanaman baiki yang  bersifat positif maupun negatif. Beberapa gulma terbukti bersifat ellelopati adalah Imperata cylindrica dan Acasia mangium, gulma tersebut diketahui sangat kompetitif dengan tanaman lain yang mengakibatkan turunnya produksi tanaman.

Ekstrak umbi  Imperata cylindrica dan daun  Acasia mangium terbukti mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan kecambah,rendaman ekstrak daun  Acasia mangium ataupun umbi akar dari  Imperata cylindrica dapat menghambat perkembangan

 banih kacang-kacangan,centel dan mustard.Dan ekstrak ini juga dilaporkan dapat menghambat perpanjangan akar.

Penekanan pertumbuhan dan perkembangan karena ekstrak alang-alang dan akasia ditandai dengan penurunan tinggi tanaman, penurunan panjang akar, perubahan warna daun (Dari hijau normal menjadi kekuning-kuningan) serta bengkaknya akar. Pertumbuhan rambut akar juga terganggu, dengan melihat fenomena ini maka allelokikia yang berasal dari ekstrak   Imperata cylindrica dan  Acasia mangium mungkin bekerja mengganggu proses fotosintesis

atau proses pembelahan sel.

KESIMPULAN:

1. Pada hasil praktikum yang telah dilakuakan diatas dapat kita lihat bahwa, tanaman  palawija yang disirami oleh allelopati berkosentrasi tinggi dalam hal ini adalah larutan  biang (100%) tumbuh dengan sangat tidak baik, baik morfologi daunnya yang dipenuhi oleh bercak coklat dan putih, tinggi tanaman yang tidak sebanding dengan tanaman perlakuan lain, maupun berat basahnya yang hanya 1,0 gram.. Hal ini dikarenakan kepekatan zat racun yang diberikan sangat tinggi hingga mengganggu  pertumbuhan dan sistem metabolisme tumbuhan palawija yang ditanam.

2. Pada allelopati yang berkosentrasi 5%, tanaman tumbuh layaknya tanaman kontrol, hanya sedikit saja perubahan hal ini dapat dikarenakan oleh kosentrasi allelopati yang dalam hal ini adalah zat racun, tidak terlalu tinggi, hingga tumbuhan masih mampu melakukan proses metabolisme

3.  pada perlakuan 20% dan 25% yang memiliki berat basah yang lebih berat dari pada kontrol, hal ini seharusnya tidak terjadi, menurut penelitian yang telah dilakukan oleh  beberapa orang biologiawan ahli bidang fisiologi tanaman Setyowati dan Yuniarti (1999) mengatakan bahwa pertumbuhan tanaman jagung dan kedelai yang diberi  perlakuan ellelopati ekstrak alang-alang ( Imperata cylindrica) dengan perbandingan

1:4 umumnya tidak terpengaruh oleh ekstrak ini, bukan hanya dalam hal pertumbuhan tanamannya tetapi juga dalam proses perkecambahannya, hanya saja berpengaruh terhadap pemanjangan akarnya.

4. Perkembangan tumbuhan yang di beri allelopati tergantung pada konsentrasi ekstrak, sumber ekstrak, temperatur ruangan, dan jenis tumbuhan yang dievaluasi serta saat aplikasi

Dalam dokumen alelopati (Halaman 29-35)

Dokumen terkait