laporan ekologi alelopati fenti
laporan ekologi alelopati fenti
KompetisiKompetisi
Kompetisi merupakan persaingan terhadap antar makhluk hidup. Persaingan sendiri Kompetisi merupakan persaingan terhadap antar makhluk hidup. Persaingan sendiri akan dapat menghasilkan pemenang, pemenang it
akan dapat menghasilkan pemenang, pemenang itu pun yang dapat meneruskan kelangsunganu pun yang dapat meneruskan kelangsungan hidupnya. Kompetisi sering terjadi pada plantae yang mana bersaing untuk memperebutkan hidupnya. Kompetisi sering terjadi pada plantae yang mana bersaing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas . kompetisi terbagi dua macam yaitu kompetisi interspesifik dan sumber daya yang terbatas . kompetisi terbagi dua macam yaitu kompetisi interspesifik dan intraspesifik.
intraspesifik.
Kompetisi interspesifik sering terjadi ketika spesies barsaing untuk memperebutkan Kompetisi interspesifik sering terjadi ketika spesies barsaing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas. Sebagai contoh, pertumbuhan rumput pada taman berkompetisi sumber daya yang terbatas. Sebagai contoh, pertumbuhan rumput pada taman berkompetisi dengan tumbuhan-tumbuhan taman dalam memperebutkan mutrien tanah dan air.
dengan tumbuhan-tumbuhan taman dalam memperebutkan mutrien tanah dan air. Sebaliknya,Sebaliknya, pada beberapa sumber
pada beberapa sumber daya ini daya ini meskipun oksigen, jarang temeskipun oksigen, jarang terjdi kompetisi rjdi kompetisi dalam penggunaandalam penggunaan sumber daya ini meskipun semua tumbuhan ini memerlukannya. Kompetisi intraspesifik sumber daya ini meskipun semua tumbuhan ini memerlukannya. Kompetisi intraspesifik terjadinya persaingan antar spesies yang sama untuk memperebutkan sumber daya yang terjadinya persaingan antar spesies yang sama untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas.
terbatas. Ketika dua spesies yang Ketika dua spesies yang sama berkompetisi atau antar tumbsama berkompetisi atau antar tumbuhan lain berkouhan lain berkompetisimpetisi untuk suatu sumber daya, hasilnya adalah merugikan satu atau kedua spesies
untuk suatu sumber daya, hasilnya adalah merugikan satu atau kedua spesies tersebut.tersebut.
Kacang hijau dan jagung merupakan jenis tumbuhan dengan habitat yang berbeda. Kacang hijau dan jagung merupakan jenis tumbuhan dengan habitat yang berbeda. Akan tetapi, jika keduanya ditanam pada satu media bukan tidak mungkin akan terjadi suatu Akan tetapi, jika keduanya ditanam pada satu media bukan tidak mungkin akan terjadi suatu interaksi. Interaksi tersebut tentu saja berupa kompetisi dimana keduanya tidak hanya interaksi. Interaksi tersebut tentu saja berupa kompetisi dimana keduanya tidak hanya memperebutkan tempat tumbu
memperebutkan tempat tumbuh, tetapi juga h, tetapi juga saling memperebutkan unsusaling memperebutkan unsur hara, air r hara, air dandan cahaya matahari untuk berfotosintesis. Hal ini berarti terjadi tumpang tindih relung ekologi cahaya matahari untuk berfotosintesis. Hal ini berarti terjadi tumpang tindih relung ekologi antara kacang hijau dan jagung. Tumpang tindihnya relung ekologi antara kacang hijau dan antara kacang hijau dan jagung. Tumpang tindihnya relung ekologi antara kacang hijau dan Jagung akan mempengaruhi pertumbuhan dan daya hidup keduanya. Oleh karena itulah Jagung akan mempengaruhi pertumbuhan dan daya hidup keduanya. Oleh karena itulah percobaan ini
percobaan ini dilakukan sehingga dapat dilakukan sehingga dapat diketahui pengaruh diketahui pengaruh kompetisi terhadap kompetisi terhadap pertumbuhanpertumbuhan kacang hijau (
kacang hijau ( Phaseolus radiates) Phaseolus radiates) dan jagungdan jagung (Zea mays).(Zea mays). Allelopati
Allelopati
Allelopati merupakan interksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan Allelopati merupakan interksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksin. Pada
bersifat toksin. Pada mikroorganisme istilah allemikroorganisme istilah allelolopapati ti didikekenanal sl sebebagagai ai ananababioiosa sa ataatau au antntibibioiotitismesme.. Contoh, jamur
Contoh, jamur Pe Peninicicillillium um spsp..
Faktor-faktor lingkungan akan mempengaruhi fungsi fisiologis tanaman. Respons Faktor-faktor lingkungan akan mempengaruhi fungsi fisiologis tanaman. Respons tanaman sebagai akibat fak
tanaman sebagai akibat faktor lingkungan tor lingkungan akan terlihat akan terlihat pada penampilan pada penampilan tanaman.tanaman. Tumbuhan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, disini terlihat bahwa tumbuhan saling Tumbuhan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, disini terlihat bahwa tumbuhan saling
mempengaruhi dengan lingkungannya. Begitu pula biasanya vegetasi yang tumbuh disekitar mempengaruhi dengan lingkungannya. Begitu pula biasanya vegetasi yang tumbuh disekitar ekosistem tersebut juga spesifik atau tertentu. Karena hanya tumbuhan yang sesuai dan cocok ekosistem tersebut juga spesifik atau tertentu. Karena hanya tumbuhan yang sesuai dan cocok saja yang dapat hidup berdampingan. Tumbuhan pun mempunyai sifat menolak terhadap saja yang dapat hidup berdampingan. Tumbuhan pun mempunyai sifat menolak terhadap tumbuhan yang tidak disukainya, yaitu dengan mengeluarkan zat kimia yang dapat bersifat tumbuhan yang tidak disukainya, yaitu dengan mengeluarkan zat kimia yang dapat bersifat bagi
bagi jenis jenis tertentu. tertentu. Untuk Untuk mengetahui mengetahui lebih lebih jelas jelas kompetisi kompetisi antar antar tumbuhan tumbuhan dan dan pengaruhpengaruh alelopati terhadap tumbuhan maka dilaksanakan praktikum kompetisi dan alelopati.
alelopati terhadap tumbuhan maka dilaksanakan praktikum kompetisi dan alelopati. 1.2 Tujuan Praktikum
1.2 Tujuan Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan agar mahasiawa dapat memahami : Praktikum ini dilaksanakan agar mahasiawa dapat memahami : 1.
1. Kompetisi intraspesifik yang terjadi pada tumbuhanKompetisi intraspesifik yang terjadi pada tumbuhan Zea mays. Zea mays. 2.
2. Kompetisi intraspesifik padaKompetisi intraspesifik pada Phaseolus radiates. Phaseolus radiates. 3.
3. Kompetisi intraspesifik antar dua tumbuhan yaituKompetisi intraspesifik antar dua tumbuhan yaitu Zea mays Zea mays dandan Phaseolus radiates. Phaseolus radiates. 4.
4. Pengaruh allelopati terhadap tumbuhanPengaruh allelopati terhadap tumbuhan Zea mays. Zea mays. Kompetisi
Kompetisi
Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan sumber daya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan akan sumber daya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al .1990), sedangkan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al .1990), sedangkan Molles (2002) kompetisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada Molles (2002) kompetisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada pengurangan kemampuan h
pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik)idup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik. Kompetisi dapat dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik. Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis
dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air,
daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono,2005).hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono,2005). Definisi kompetisi sebagai interaksi
Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplaiantara dua atau banyak individu apabila (1) suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak.organisme
banyak.organisme mungkin mungkin bersaing bersaing jika jika masing-masing masing-masing berusaha berusaha untuk untuk mencapai mencapai sumber sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan
hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton,1990).cahaya (Noughton,1990).
Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam, salah terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam, salah satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan
mempengaruhi dengan lingkungannya. Begitu pula biasanya vegetasi yang tumbuh disekitar mempengaruhi dengan lingkungannya. Begitu pula biasanya vegetasi yang tumbuh disekitar ekosistem tersebut juga spesifik atau tertentu. Karena hanya tumbuhan yang sesuai dan cocok ekosistem tersebut juga spesifik atau tertentu. Karena hanya tumbuhan yang sesuai dan cocok saja yang dapat hidup berdampingan. Tumbuhan pun mempunyai sifat menolak terhadap saja yang dapat hidup berdampingan. Tumbuhan pun mempunyai sifat menolak terhadap tumbuhan yang tidak disukainya, yaitu dengan mengeluarkan zat kimia yang dapat bersifat tumbuhan yang tidak disukainya, yaitu dengan mengeluarkan zat kimia yang dapat bersifat bagi
bagi jenis jenis tertentu. tertentu. Untuk Untuk mengetahui mengetahui lebih lebih jelas jelas kompetisi kompetisi antar antar tumbuhan tumbuhan dan dan pengaruhpengaruh alelopati terhadap tumbuhan maka dilaksanakan praktikum kompetisi dan alelopati.
alelopati terhadap tumbuhan maka dilaksanakan praktikum kompetisi dan alelopati. 1.2 Tujuan Praktikum
1.2 Tujuan Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan agar mahasiawa dapat memahami : Praktikum ini dilaksanakan agar mahasiawa dapat memahami : 1.
1. Kompetisi intraspesifik yang terjadi pada tumbuhanKompetisi intraspesifik yang terjadi pada tumbuhan Zea mays. Zea mays. 2.
2. Kompetisi intraspesifik padaKompetisi intraspesifik pada Phaseolus radiates. Phaseolus radiates. 3.
3. Kompetisi intraspesifik antar dua tumbuhan yaituKompetisi intraspesifik antar dua tumbuhan yaitu Zea mays Zea mays dandan Phaseolus radiates. Phaseolus radiates. 4.
4. Pengaruh allelopati terhadap tumbuhanPengaruh allelopati terhadap tumbuhan Zea mays. Zea mays. Kompetisi
Kompetisi
Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan sumber daya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan akan sumber daya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al .1990), sedangkan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al .1990), sedangkan Molles (2002) kompetisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada Molles (2002) kompetisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada pengurangan kemampuan h
pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik)idup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik. Kompetisi dapat dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik. Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis
dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air,
daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono,2005).hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono,2005). Definisi kompetisi sebagai interaksi
Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplaiantara dua atau banyak individu apabila (1) suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak.organisme
banyak.organisme mungkin mungkin bersaing bersaing jika jika masing-masing masing-masing berusaha berusaha untuk untuk mencapai mencapai sumber sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan
hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton,1990).cahaya (Noughton,1990).
Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam, salah terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam, salah satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan
suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secara merugikan. Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. dan hidupnya secara merugikan. Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi, spesies Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi, spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif (competitive exclusion principles). Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi kompetitif (competitive exclusion principles). Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi menjadi dua, yaitu kompetisi sumber daya (resources competition atau scramble atau menjadi dua, yaitu kompetisi sumber daya (resources competition atau scramble atau (exploitative competition), yaitu kompetisi dalam memanfaatkan secara bersama-sama (exploitative competition), yaitu kompetisi dalam memanfaatkan secara bersama-sama sumber daya yang terbatas Inferensi (inference competition atau contest competition), yaitu sumber daya yang terbatas Inferensi (inference competition atau contest competition), yaitu usaha pencarian sumber daya yang menyebabkan kerugian pada individu lain, meskipun usaha pencarian sumber daya yang menyebabkan kerugian pada individu lain, meskipun sumber daya tersebut tersedia secara tidak terbatas. Biasanya proses ini diiringai dengan sumber daya tersebut tersedia secara tidak terbatas. Biasanya proses ini diiringai dengan pengeluaran senyawa kimia (allelochemical) yang berpengaruh negatif pada individ
pengeluaran senyawa kimia (allelochemical) yang berpengaruh negatif pada individu lain.u lain. Beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan interspesifik Beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan interspesifik pada tumbuhan, yaitu :
pada tumbuhan, yaitu : 1
1 Jenis tanamanJenis tanaman
Faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, sistem perakaran, bentuk pertumbuhan secara Faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, sistem perakaran, bentuk pertumbuhan secara fisiologis. Misalnya adalah pada tanaman ilalang yang memiliki sistem perakaran yang fisiologis. Misalnya adalah pada tanaman ilalang yang memiliki sistem perakaran yang menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsure hara.
menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsure hara. 2
2 Kepadatan tumbuhanKepadatan tumbuhan
Jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan terhadap Jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan terhadap zat-zat makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak mencukupi bagi pertumbuhan zat-zat makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak mencukupi bagi pertumbuhan tanaman.
tanaman. 3
3 Penyebaran tanamanPenyebaran tanaman
Untuk menyebarkan tanaman dapat dilakukan dengan penyebaran biji atau melalui rimpang Untuk menyebarkan tanaman dapat dilakukan dengan penyebaran biji atau melalui rimpang (akar tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji mempunyai kemampuan bersaing (akar tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji mempunyai kemampuan bersaing yang lebih tinggi daripada tanaman
yang lebih tinggi daripada tanaman yang menyebar dengan rimpang.yang menyebar dengan rimpang. 4
4 WaktuWaktu
Lamanya periode tanaman sejenis hidup bersama dapat memberikan tanggapan tertentu yang Lamanya periode tanaman sejenis hidup bersama dapat memberikan tanggapan tertentu yang mempengaruhi kegiatan fisiologis tanaman. Periode 25-30 % pertama dari daur tanaman mempengaruhi kegiatan fisiologis tanaman. Periode 25-30 % pertama dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap ke
merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian yang disebabkan oleh kompetisi.rugian yang disebabkan oleh kompetisi. Allelopati
Allelopati
Konsep yang menyatakan bahwa suatu tanaman dapat menimbulkan pengaruh buruk Konsep yang menyatakan bahwa suatu tanaman dapat menimbulkan pengaruh buruk atau keracunan atau hambatan pada tanaman dikenal dengan allelopati. Allelopati ini atau keracunan atau hambatan pada tanaman dikenal dengan allelopati. Allelopati ini ditemukan oleh Candolle sejak tahun 1832. Setelah itu menyusul ahli-ahli seperti Pickering, ditemukan oleh Candolle sejak tahun 1832. Setelah itu menyusul ahli-ahli seperti Pickering,
pada
pada tahun tahun 1917, Molisc1917, Molisch h pada pada tahun tahun 1937, Bonner 1937, Bonner pada pada tahun 1950, tahun 1950, Grummer Grummer pada pada tahuntahun 1957, Evenari pada tahun 1949 dan lain-lainnya (Tukey,1969).
1957, Evenari pada tahun 1949 dan lain-lainnya (Tukey,1969).
Molisch mengartikan allelopati sebagai interaksi antara tanaman yang ditimbulkan Molisch mengartikan allelopati sebagai interaksi antara tanaman yang ditimbulkan oleh hasil metabolism tanaman. Muller mengemukakan bahwa allelopati adalah pengaruh oleh hasil metabolism tanaman. Muller mengemukakan bahwa allelopati adalah pengaruh buruk
buruk atau atau merusak merusak yang yang ditimbulkan ditimbulkan oleh oleh dapa dapa satu satu tanaman tanaman pada pada tanaman tanaman lain lain melaluimelalui prodiksi
prodiksi senyawa-senyawa senyawa-senyawa kimia kimia penghambat penghambat yang yang lepas lepas ke ke lingkungan lingkungan hidup hidup tanaman tanaman itu.itu. Sedangkan Moral dab Gates menyatakan bahwa allelopati hambatan pada perkecambahan, Sedangkan Moral dab Gates menyatakan bahwa allelopati hambatan pada perkecambahan, pertumbuhan
pertumbuhan atau atau pada pada metabolisme metabolisme suatu suatu tanaman tanaman yang yang disebabkan disebabkan pelepasan pelepasan senyawa- senyawa-senyawa organik oleh tumbuhan lain. Rice berpendapat bahwa allelopati adalah setiap senyawa organik oleh tumbuhan lain. Rice berpendapat bahwa allelopati adalah setiap pengaruh
pengaruh yang yang merugikan, merugikan, langsung langsung ataupun ataupun tidak tidak langsung langsung dari dari suatu suatu tanaman tanaman terhadapterhadap tanaman lain melalui produksi senyawa-senyawa kimia yang dilepas dan dibebaskan ke tanaman lain melalui produksi senyawa-senyawa kimia yang dilepas dan dibebaskan ke lingkungan hidup tanaman itu. Lebih lanjut dikemukakan bahwa persaingan itu merupakan lingkungan hidup tanaman itu. Lebih lanjut dikemukakan bahwa persaingan itu merupakan pemindahan
pemindahan atau atau pengurangan pengurangan satu satu atau atau beberapa beberapa faktor faktor lingkungan lingkungan seperti seperti air, air, harahara lingkungan, dan cahaya yang diperlikan suatu tanamanoleh tanaman lain, sedangkan lingkungan, dan cahaya yang diperlikan suatu tanamanoleh tanaman lain, sedangkan allelopati merupakan pengaruh merugikanyang disebabkan oleh senyawa-senyawa kimia. allelopati merupakan pengaruh merugikanyang disebabkan oleh senyawa-senyawa kimia. Menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Mekanisme Menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Mekanisme allelopati mencakup semua tipe interaksi kimia antar tumbuhan, antar mikroorganisme atau allelopati mencakup semua tipe interaksi kimia antar tumbuhan, antar mikroorganisme atau antar tumbuhan dan mikroorganisme (Einhellig, 1995a).
antar tumbuhan dan mikroorganisme (Einhellig, 1995a).
Secara umum, allelopati selalu dikaitkan dengan maslah gangguan yang ditimbulkan gulma Secara umum, allelopati selalu dikaitkan dengan maslah gangguan yang ditimbulkan gulma yang tumbuh dersama-sama dengan tanaman pangan, dengan keracunan yang ditimbulkan yang tumbuh dersama-sama dengan tanaman pangan, dengan keracunan yang ditimbulkan akibat penggunaan mulsa pada beberapa jenis pertanaman, dengan beberapa jenis rotasi akibat penggunaan mulsa pada beberapa jenis pertanaman, dengan beberapa jenis rotasi tanaman dan pada regenarasi hutan. Kuantitas dan kualitas senyawa allelopati yang tanaman dan pada regenarasi hutan. Kuantitas dan kualitas senyawa allelopati yang dikeluarkan gulma antara lain di pengaruhi kerapatan gulma, macam gulma saat kemunculan dikeluarkan gulma antara lain di pengaruhi kerapatan gulma, macam gulma saat kemunculan gulma, lama keberadaan gulma habitués gulma, kecepatan tumbuh gulma dan jalur gulma, lama keberadaan gulma habitués gulma, kecepatan tumbuh gulma dan jalur fotosintesis gulma (c3 dan c4).
fotosintesis gulma (c3 dan c4).
Senyawa allelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan Senyawa allelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan. Beberapa allelopati menghambat pembelahan sel-sel akar penyerapan ion-ion oleh tumbuhan. Beberapa allelopati menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan dan pertumbuhan tanaman yaitu dengan mempengaruhipembesaran sel tanaman. tumbuhan dan pertumbuhan tanaman yaitu dengan mempengaruhipembesaran sel tanaman. Beberapa senyawa allelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar dan Beberapa senyawa allelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar dan menghambat sintesis protein dan dapat menurunkan daya permeabilitas membrane pada sel menghambat sintesis protein dan dapat menurunkan daya permeabilitas membrane pada sel tumbuhan. Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi allelopati dapat ditemukan di tumbuhan. Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi allelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar rizoma, umbi, bunga, buah dan biji. semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar rizoma, umbi, bunga, buah dan biji.
Senyawa-senyawa allelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam Senyawa-senyawa allelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai
berbagai cara cara termasuk termasuk melalui melalui penguapan, eksudat penguapan, eksudat akar, akar, pencucian pencucian dan dan pembusukan organpembusukan organ tumbuhan.
tumbuhan.
Selain itu dapat dijelaskan bahwa terbentuknya allelopati terdapt beberapa proses yaitu : Selain itu dapat dijelaskan bahwa terbentuknya allelopati terdapt beberapa proses yaitu :
Penguapan : Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genusPenguapan : Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah
tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah Artemisia Artemisia,, Eucalyptus,
Eucalyptus, dandan Salvia.Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid. SenyawaSenyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan
pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar.diserap akar.
Eksudat akar : Banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhanEksudat akar : Banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar), yang kebanyakan berasal dari asam-as
(eksudat akar), yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat.am benzoat, sinamat, dan fenolat.
Pencucian : Sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yangPencucian : Sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada
berada di di atas atas permukaan permukaan tanah tanah oleh oleh air air hujan hujan atau atau tetesan tetesan embun. embun. Hasil Hasil cucian cucian daundaun tumbuhan
tumbuhan CrysanthemumCrysanthemum sangat beracun, sehingga tidak ada jenis tumbuhan lain yang dapatsangat beracun, sehingga tidak ada jenis tumbuhan lain yang dapat hidup di bawah naungan tumbuhan ini.
hidup di bawah naungan tumbuhan ini.
Pembusukan organ tumbuhan: Setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati,Pembusukan organ tumbuhan: Setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada senyawa-senyawa kimia yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian- bagian
bagian organ organ yang yang mati mati akan akan kehilangan kehilangan permeabilitas permeabilitas membrannya membrannya dan dan dengan dengan mudahmudah senyawa-senyawa kimia yang ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat senyawa-senyawa kimia yang ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat meracuni tanaman budidaya atau jenis-jenis tanaman
meracuni tanaman budidaya atau jenis-jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya.yang ditanam pada musim berikutnya. Selain melalui cara-cara di atas, pada tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan Selain melalui cara-cara di atas, pada tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang sudah matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat Demikian juga tumbuhan yang sudah matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah (Anonim a, Tanpa Tahun). organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah (Anonim a, Tanpa Tahun). Bahwa senyawa-senyawa kimia tersebut dapat mempengaruhi tumbuhan yang lain melalui Bahwa senyawa-senyawa kimia tersebut dapat mempengaruhi tumbuhan yang lain melalui penyerapan
penyerapan unsur unsur hara, hara, penghambatan penghambatan pembelahan pembelahan sel, sel, pertumbuhan, pertumbuhan, proses proses fotosintesis,fotosintesis, proses
proses respirasi, respirasi, sintesis sintesis protein, protein, dan dan proses-proses proses-proses metabolisme metabolisme yang yang lain lain Rohman Rohman (2001).(2001). Pengaruh alelopati terhadap pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut :
Pengaruh alelopati terhadap pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut :
Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatanSenyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuh
penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.an.
Beberapa alelopat menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan.Beberapa alelopat menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan.
Beberapa alelopat dapat menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaranBeberapa alelopat dapat menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan.
sel tumbuhan.
Senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat sintesis protein. 3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain skop, garpu tanah, polybag 17 x 25 cm, penggaris. Bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain biji jagung, biji kacang
hijau, dan tanah gembur. Penelitian dilaksanakan selama 3 mingu dari penanaman bibit. Praktikum ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 26 Maret 2012, pada pikil 13.00 wib di laboraturium biologi 2 IAIN Lampung.
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Percobaan kompetisi inter dan intraspesifik
1. Memasukkan tanah gembur tanpa pupuk ke dalam polibag sebanyak 2/3 dari volume polibag. Menanam benih Zea mays dan Phaseolus radiates dalam polibag yang telah tersedia, baik secara terpisah maupun bersama, sesuai dengan pola kerapatan pada gambar 1.
2. Praktikan menanam pada polibag dengan kode J, sesuai dengan pola pada gambar 1. Demikian pula, praktikan menanam dengan kode K dengan susunan pada gambar 1.
3. Perlakuan terhadap pola JK, mengikuti pola pada gambar 1C. setelah itu memberikan lebel terhadap polibag sesuai dengan pola tanam yang telah dilaksanakan. Meletakkan polibag pada pinggir ruangan agar dapat terkena cahaya matahari. Dan member perlakuan penyiraman secara bertahap.
4. Pengamatan dilaksanakan selama 3-5 minggu dan menjadi data kelas, data yang dicatat berupa tinggi tanaman pada masing-masing spesies.
3.2.2 Analisis hasil percobaan pengaruh alelopati
1. Pengamatan dilaksanakan setiap minggu, dengan penyiraman menggunakan ekstra akar alang-alang secara periodik. Melakukan pengamatan pengaruh pemberian alelopati pada pertumbuhan Zea mays pada perlakuan 1D.
2. Pengamatan dilaksanakan 3-5 minggu, dengan data kelas menjadi hasil pengamatan. Dengan mendata pengaruh alelopati terhadap masing-masing tanaman.
Gambar 1. Percobaan kompetisi intraspesifik pada Zea mays Kode perlakuan Jumlah Lubang Pola penanaman
J-1 1 J J-2 2 J J J-4 4 J J J J J-8 8 J J J J J J J
J
Gambar 1B. Percobaan kompetisi intaspesifik pada Phaseolus radiantus
Kode perlakuan Jumlah Lubang Pola penanaman
K-1 1 K K-2 2 K K K-4 4 K K K K K-8 8 K K K K K K K K
Gambar 1C. Percobaan kompetisi intaspesifik Zea mays dan Phaseolus radiantus Kode perlakuan Jumlah Lubang J Jumlah Lubang K Pola penanaman
JK-1 1 1 J K JK-2 2 2 J K K J JK-4 4 4 J J K J K J K K
Gambar 1D. Percobaan pengaruh alelopati terhadap Zea mays Kode perlakuan Jumlah Lubang Pola penanaman
A-1 1 J A-2 2 J J A-4 4 J J J J A-8 8 J J J J J J J J 4.1 Hasil Pengamatan Tabel Pengamatan
Pertumbuhan ( Zea mays) ( Phaseolus radiantus) Hijau (J – K) Zea mays Minggu 1 1 2 4 8 17 cm 14,5cm 10 cm – 7 cm -- 16 cm 15 cm – 10 cm -20,5 cm 23 cm 15 cm – 17 cm 6 cm 21 cm 20 cm - 9 cm Minggu 2 1 2 3 4 26 cm 28 cm 25 cm – 15 cm -- 25 cm 25 cm – 20 cm -35 cm 37 cm 29 cm – 26 cm 19,5 cm 40 cm 30 cm - 21 cm Minggu 3 1 2 3 4 34 cm 39 cm 34 cm – 31 cm -- 37 cm 36 cm – 41 cm -42 cm 46 cm 37 cm – 38,5 cm 27 cm 48 cm 41 cm - 29 cm 4.2 Pembahasan
Pengamatan dilakukan dengan mengukur pertumbuhan tanaman secara berkala yaitu 1 kali seminggu. Data yang didapat dicatat dan disusun berdasarkan per minggu hingga waktu panen tiba yaitu setelah sekitar satu bulan. Pada saat panen dilakukan pengukuran faktor fisik akhir seperti yang dilakukan di awal. Tanaman yang dipanen dipisahkan setiap plot dan setiap jenisnya kemudian di ukur tinggi tanaman. Analisis data terhadap faktor fisik
dilakukan dengan melakukan pengukuran faktor fisik sebelum tanam dan setelah panen dengan menggunakan alat ukur yaitu penggaris. Data yang di tulis dalam bentuk tabel berasal dari hasil pengukuran pertambahan tinggi tanaman selama kurang lebih 4 minggu.
Kecepatan perkecambahan biji tumbuhan dan pertumbuhan anakan (seedling) merupakan suatu faktor yang menentukan kemampuan spesies tumbuhan tertentu untuk menghadapi dan menaggulangi persaingan yang terjadi. Apabila suatu tanaman berkecambah terlebih dahulu di banding suatu tanaman yang lain maka tanaman yang tumbuh lebih dahulu dapat menyebar lebih luas sehingga mampu memperoleh cahaya matahari, air, dan unsur hara tanah lebih banyak di bandingkan dengan yang lain (Setiadi, 1989).
Pada minggu ke dua menunjukan rata-rata tinggi pertumbuhan jagung dan kacanh hijau terlihat bahwa tinggi J1 dan J2 lebih besar atau lebih tinggi dari pada tinggi rata-rata pada J4 dan J8. Hal ini dikarenakan jarak tanam di J4 dan J8 lebih rapat dari pada J1 dan J4, sedangkan polybag tempat ditanamnya jagung memiliki ukuran yang sama antara J1 hingga
J8. Kerapatan penanaman menyebabkan kompetisi yang lebih ketat antar tanaman dikarenakan semakin kecil ruang atau plot maka semakin sedikit pembagian unsure hara dan air yang diserap oleh tanaman tersebut.
Tinggi tanaman kacang hijau lebih tinggi dibandingkan tinggi tanaman jagung. Persaingan diantara tumbuhan ini secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, sistem-sistem ini akan bersaing untuk mendapatkan air dan bahan makanan. Dan karena mereka tidak bergerak, maka ruang menjadi faktor penting, di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi menguasai sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembaban serta aliran udara pada permukaan tanah (Michael, 1994).
Pada pertumbuhan jagung menggunakan ekstrak alang-alang dapat menghambat pertumbuhan tanaman jagung, terlihat dari pertumbuhan dari pengukuran tiap minggu. Yang di mana ekstrak alang-alang merupakan senyawa beracun yang dapat mempengaruhi pertumbuhan jagung. Tumbuhan jagung tersebut mengalami keterhambatan untuk tumbuh dan berkembang dapat terlihat dari tabel pengamatan. Tumbuhan yang telah mati dan sisa-sisa tumbuhan yang dibenamkan ke dalam tanah juga dapat menghambat pertumbuhan jagung. Alelopati dapat menghambat penyerapan hara, pembelahan sel-sel akar, pertumbuhan
tanaman, fotosintesis, respirasi, sitesis protein, menurunkan daya permeabilitas membran sel dan menghambat aktivitas enzim.
Sedangkan pada tanaman kontrol, tanaman tumbuh normal, baik morfologi daun, panjang akar dan batang berbeda dengan tanaman lainnya yang diberikan perlakuan. Selain
dari pada itu, menurut penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa orang biologiawan ahli bidang fisiologi tanaman Setyowati dan Yuniarti (1999) mengatakan bahwa pertumbuhan
tanaman jagung dan kedelai yang diberi perlakuan ellelopati ekstrak alang-alang ( Imperata cylindrica) dengan perbandingan 1 : 4 umumnya tidak terpengaruh oleh ekstrak ini, bukan hanya dalam hal pertumbuhan tanamannya tetapi juga dalam proses perkecambahannya, hanya saja berpengaruh terhadap pemanjangan akarnya.
BAB V KESIMPULAN
Dari pelaksanaan praktikum dan pengamatan terhadap tanaman jagung dan kacang hijau selama kurang lebih 21 dapat di ambil kesimpulan :
1. Pertumbuhan tanaman kacang hijau lebih cepat daripada tanaman jagung maka kacang hijau adalah pemenang dalam kompetisi intraspesifik dan interspesifik.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan intraspesifik dan interspesifik adalah kepadatan atau jarak tanaman, luas lahan tanam, jenis tanaman, dan waktu lamanya tanaman hidup.
3. Semakin rapat jarak suatu tanaman maka pertumbuhannya akan semakin terhambat karena persaingan mendapatkan sumber daya atau unsur hara dari tanah semakin ketat.
4. Cepat atau lambatnya perkecambahan pada tanaman juga berpengaruh terhadap menangnya suatu tanaman dalam berkompetisi.
5. Terjadinya kompetisi antar tanaman dapat menyebabkan tanaman mati.
6. Perkembangan tumbuhan yang di beri allelopati tergantung pada konsentrasi ekstrak, sumber ekstrak, temperatur ruangan, dan jenis tumbuhan yang dievaluasi serta saat aplikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonym. 2008. Alelopati [on line]. Tersedia di : http ://iqbalali.com/2008/ 01/ 23 /alelopat i/, diakses pada hari sabtu tanggal 28 april 2012, pikul 13.00 wib.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Bumi Aksara: Jakarta.
Irwan, Z.D.. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi. Bumi Aksara: Jakarta.
Moenandir,J ody.1988. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma . Rajawali pers: Jakarta. Tim dosen ekologi.2012. Penuntun Panduan Praktikum Ekolog i. IAIN Lampung : Bandar
Lampung.
Wirakusumah, S. 1003. Dasar-dasar Ekologi bagi populasi dan Komunitas. UI-Press: Jakarta.
BAB I
1.1 Latar Belakang
Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan disetiap organ tumbuhan, antara lain terdapat di daun, batang, akar, rhizoma, buah, biji, umbi, serta bagian-bagian tumbuhan yang membusuk. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah golongan fenol.
Persaingan diantara tumbuhan secara tak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Didalam tanah, sistem-sistem akar nersaing untuk air dan bahan makanan, dan karena mereka tidak bergerak, ruang menjadi suatu faktor yang penting, sekresi akar dan daun-daun yang jatuh menambah skretori tanah serta senyawa limbah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain dalam tempat sekitarnya
Dalam rangka persaingan hidup, kadang- kadang suatu jenis tumbuhan mengeluarkan senyawa kimia. Senyaw kimia tersebut dapat menghambat pertumbuhan jenis lain yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan tersebut. Peristiwa semacam ini disebut alelopati
1.2 Tujuan Praktikum
Mempelajari pengaruh alelopati / jenis tumbuhan terhadap pertumbuhan tanaman jagung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Telah banyak referensi yang mencatat tentang spesies yang dapat mengeluarkan alelopati. Spesies-spesies tersebut dalam lingkungannya akan dapat menekan pertumbuhan spesies lain yang lemah akan zat tersebut. Namun demikian pengaruh interaksi gulma atau tanaman budidaya akan adanya alelopati masih belum banyak diteliti (Moenandar, 1988).
Alelopati kebanyakan berada pada jaringan tanaman seperti daun, akar, batang, rizoma, bunga, buah maupun biji dan dikeluarkan dengan cara seperti penguapan, eksudasi dari akar, pencucian dan pelapukan residu tanaman.
Batang
Batang juga dapat mengeluarkan alelopati, meskipun jumlahnya tak sebanyak daun. Namun demikian, batang-batang seperti jerami yang dilapukkan dan mengandung substansi alelopati dapat sebagai sumber terjadinya alelopati.
Daun
Nampaknya daun merupakan tempat terbesar bagi substansi beracun yang dapat mengganggu tumbuhan tetangganya. Substansi itu pada umumnya tercuci oleh air hujan atau embun yang terbawa kebawah. Jenis substansi yang beracun itu, meliputi asam organik, gula, asam
amino, pektat, asam giberelat, terpenoid, alkaloid, dan fenolat. Sebagai contoh diutarakan daun Chrisantheum(Duke, 1985).
Buah
Buah sebagai penghasil substansi beracun penghambat pertumbuhan sangat sedikit
diperbincangkan, meskipun sebenarnya cukup potensial. Saebagai contoh dapat diutarakan bahwa air buah tomat, air jeruk dan limau berupa penghambat perkecambahan. Buah yang terlampau masak dan jatuh ketanah kemudian terjadi pembusukan akan dapat mengeluarkan substansi beracun dan dapat menghambat pertumbuhan disekitar tempat itu.
Bunga dan Biji
Dalam bunga juga dikenal sejumlah substansi yang dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil tanaman. Dalam biji pun dikenal sejumlah substansi penghambat pada perkecambahan biji dan mikroorganisme.
Kebanyakan substansi pertumbuhan umumnya merangsang pertumbuhan dan berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan dalam morfogenesis. Suatu kelompok substansi lain yang berbeda yang mempengaruhi pertumbuhan, umumnya menghambat pertumbuhan dan disebut penghambat pertumbuhan. Penghambat pertumbuhan yang paling umum adalah senyawa-senyawa aromatik, seperti fenol dan lakton.
BAB II
BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu : 13.00
Tanggal : - - 2007
Tempat : Laboratorium MIPA
3.2 Alat dan Bahan
a. Bagian akar dan daun alang- alang dan akasia b. Benih jagung dan kacang hijau
d. Polibag atau pot
e. Gelas ukur, gelas piala, mortal dan blender, pisau, gunting, timbanga
3.3 Prosedur Kerja
Ditanam benih di dalam polibag ( Berisi satu tanaman berumur satu minggu )
Dibuat ekstrak akasia
· Daun akasia dipotong- potong dengan gunting
· Buat ekstrak atau hasil rendaman bagian tumbuhan tersebut dengan air dengan perbandingan
tumbuhan : air = 1 : 7
· Setelah 24 jam saring ekstrak
Encerkan larutan stok dengan air aquade
· Kontrol, tanpa larutan allelopati · Perlakuan A, larutan biang/stok
· Perlakuan B, Larutan konsentrasi 5% dari larutan biang · Perlakuan C, Larutan konsentrasi 10% dari larutan biang · Perlakuan D, Larutan konsentrasi 15% dari larutan biang · Perlakuan E, Larutan konsentrasi 20% dari larutan biang · Perlakuan F, Larutan konsentrasi 25% dari larutan biang
Penyiraman 2 kali sehari ( sebanyak 50 cc ) · Mengunakan aquades
· Dilakukan penyilangan penyiraman dengan larutan allelopati Pengamatan setelah 4 minggu
· Tinggi tanaman mulai dari atas permukaan tanah · Bobot basah dan kering
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
perlakuan Tinggi tanaman(cm)
Berat Basah (gr) Keadaan morfologi tanaman kacang hijau
Kontrol 1 2 3 9,o 11,3 12,6 3,7 5,2 7,8
Akar panjang dan berwarna putih kekuning- kuningan
Batang dan daun kelihatan segar
Akar panjang dan berwarna putih kekuning- kuningan
Batang dan daun kelihatan segar
Akar panjang dan berwarna putih kekuning- kuningan
Batang dan daun kelihatan segar
Stok 100% 1. 2. 3. 8,0 7,3 11,3 2,7 3,1 3,8 Daun layu
Batang kurus dan kecil
Akar pendek
Daun layu
Batang kurus dan kecil
Akar pendek
Daun layu
Batang kurus dan kecil
Akar pendek
Rata-rata 32,06 9,60
Konsentrasi
5%
1. 9,0 3,0
2. 3 9,7 5,8 3,9 2,5
Akar panjang dan segar
Daun bewarna hijau
Batang kelihatan segar
Akar panjang dan segar
Daun bewarna hijau
Batang kelihatan segar
Akar panjang dan segar
Daun bewarna hijau
Rata-rata 8,16 9,40
Konsentrasi 10%
1.
11,3 4,2 Akar panjang
Daun berwarna hijau segar
2. 3. 10,2 9,6 5,5 4,0 Akar panjang
Daun berwarna hijau segar
Batang segar
Akar panjang
Daun berwarna hijau segar
Batang segar Rata-rata 10,36 14,6 Konsentrasi 15% 1. 2. 3. 12,5 13,5 12 13,05 11,5 8,3
Akra kelihatan segar Batang segar
Daun kelihatan masih segar
Akra kelihatan segar Batang segar
Daun kelihatan masih segar
Akra kelihatan segar Batang segar
Daun kelihatan masih segar Rata-rata 8,46 13,2 Konsentrasi 20% 1. 2. 3. 8,6 11,2 7,4 4,1 6,1 3,8 Akar segar
Daun pada bagian atas menguning Batang kelihatan segar
Akar segar
Daun pada bagian atas menguning
Ba Akar segar
Daun pada bagian atas menguning Batang kelihatan segar tang kelihatan segar Rata-rata 13,5 12,46 Konsentrasi 25% 1. 2. 11,8 9,7 4,6 3,9 Akar pendek Batang segar
Daun berwarna hijau pucat dibagian bawah agak kekuningan
Akar pendek Batang segar
Daun berwarna hijau pucat dibagian bawah agak kekuningan
3. 9,2 3,8
Akar pendek Batang segar
Daun berwarna hijau pucat dibagian bawah agak kekuningan
Rata-rata 20,23 12,3
4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dapat dilihat pertumbuhan kacang hijau tumbuh begitu lambat (
kekerdilan ) ini diakibatkan perlakuan dari ekstrak akasia yang menghambat pertumbuhan kacang
hijau tersebut.Zat kimiawi yang bersifat racun itu dapat berupa gas, atau zat cair yang keluar dari
akar. Hambatan pertumbuhan akibat adanya aleopati adalah dapat terjadi pada pembelahan selnya,
pengambilan mineral, respirasi, penutupan stomata, sintesis protein, dan lain-lainnya. Zat-zat
tersebut keluar dari bagian atas tanah berupa gas atau eksudat yang turun kembali ketanah dan
eksudat dari akar. Jenis zat pada umumnya berasal dari golongan fenolat, terpenoid, dan alkaloid.
Dapat kita lihat pada perlakuan allelopati 5% rata- rata tinggi tanama 8,16 cm, disini dapat
kita lihat bahwa pemberian perlakuan menghambat pertumbuhan kacang hijau karena ini
disebabkan adanya faktor penghambat dari ekstrak akasia yang digunakan untuk menyiram
tanaman.
Sedangkan berat basah dapat kita lihat pada konsentrasi 10 % berat basahnya adalah 4,2 gr,
3,1 gr, 3,8 gr,. Dapat dilihat disini bahwa semakin tinggi konsentrasi yang kita berikan pada tanaman
maka berat basahnya akan semakin menurun ini disebabkan karena kelembaban dari konsentarsi
yang di berikan terhadap tanama.
Substansi yang aktif bertindak dalam peristiwa alelopati diistilahkan dengan fisotoksis dari
pelapukan sisa tanaman. Bahan kimia yang dihasilkan tanaman dan merugikan tanaman lain adalah
secara potensial bersifat ototoksik. Ototoksisitas sebagai penghambat tumbuhan tersebut penghasil
substansi alelokemik tersebut menunjukkan adanya pengaruh intra spesifik. Sianogenesis
merupakan suatu reaksi hidrolisis yang membebaskan gugusan HCN. Sinida menghambat
perkembangan pertumuhan akar dan biji. Zat –zat inilah yang bersifat menghambat petumbuhan
tanaman, sehingga disebut sebagai zat penghambat.
BAB V KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulkan yaitu : · Zat yang terkandung didalam ektrak akasia yang dibuat mengakibatkan terhambatnya
pertumbuhan tanaman. Sebab kacang hijau menyerap zat dari ekstrak akasia yang diberikan pada setiap perlakuan.
DAFTAR PUSTAKA
Sukmana, Y.& Yakub.1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Grafindo Persada : Jakarta Heddy, suwarsono. 1986. PENGANTAR EKOLOGY. CV. Rajawali : Jakarta.
Tim Ekologi Umum. 2006.Penuntun Praktikum Ekologi Umum. UNJA : Jambi.
Topik : Alelopati
II. Hari / Tanggal : Kamis, 22 Desember 2011
III. Tujuan : Bertujuan untuk mempelajari pengaruh allelopati dari beberapa jenis tanaman terhadap perkecambahan
IV. Dasar teori
“ Allelopati adalah produksi substansi (zat) oleh suatu tanaman yang merugikan tanaman lain. Permasalahannya adalah bahwa tanaman mengandung substansi yang sangat luas yang bersifat toksik dan beberapa percobaan berusaha mendemonstrasikan pengaruh alelopati dengan memberikan ekstrak suatu tanaman kepada biji-biji atau pun bibit tanaman lainnya. Terlepas dari suatu kenyataan bahwa ekstrak suatu tanaman bukanlah material percobaan yang cicik, karena tidak terdapat di alam. Ekstrak tersebut sering sekali tidak steril sehingga transformasi bakteri barang kali telah berlangsung dan biasanya tanaman-tanaman tersebut tidak memiliki hubungan ekologis. Penelitian seperti ini sulit ditafsirkan. Pertanyaannya adalah apakah beberapa tanaman mempunyai suatu pegaruh toksik pada tanaman lainnya yang tumbuh di lapangan dan ini harus terpisah dari setiap kompetisi untuk cahaya, air dan hara.”
Anonimus (2009:online)
Menurut Sukman (1991 : 231 ) menyatakan bahwa “ Tumbuhan dapat menghasilkan senyawa alelokimia yang merupakan metabolit sekunder di bagian akar, rizoma, daun, serbuk sari, bunga, batang, dan biji. Fungsi dari senyawa alelokimia tersebut belum diketahui secara pasti, namun beberapa senyawa tersebut dapat berfungsi sebagai pertahanan terhadap herbivora dan patogen tanaman. Tanaman yang rentan terhadap senyawa alelokimia dari tanaman lainnya dapat mengalami gangguan pada proses perkecambahan, pertumbuhan, serta perkembangannya. Perubahan morfologis yang sering terjadi akibat paparan senyawa alelokimia adalah perlambatan atau penghambatan perkecambahan biji, perpanjangan koleoptil, radikula, tunas, dan akar“
Menurut Soerjani (2001 : 1978) menyatakan bahwa “Sebagai allelopat, substansi kimiawi itu terkandung dalam tubuh tumbuhan, baik tanaman maupun gulma. Bertindaknya allelopat tersebut setelah tumbuhan atau bagian tumbuhan mengalami pelapukan, pembusuk, pencucian ataupun setelah dikeluarkan berupa eksudat maupun penguapan. Tumbuhan yang suseptibel bila terkena substansi semacam itu akan mengalami gangguan yang berupa penghambatan pertumbuhan atau penurunan hasil “
Menurut Odum, ( 1998 : 206 ). menyatakan bahwa “Dalam persaingan antara individu-individu dari jenis yang sama atau jenis yang berbeda untuk memperebutkan kebutuhan-kehbutuhan yang sama terhadap faktor-faktor pertumbuhan, kadang-kadang suatu jenis tumbuhan mengeluarkan senyawa kimia yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dari anaknya sendiri. Peristiwa semacam ini disebut allelopati. Allelopati terjadi karena adanya senyawa yang bersifat menghambat. Senyawa tersebut tergolong senyawa sekunder karena timbulnya sporadis dan tidak berperan dalam metabolisme primer organisme organisme. Hambatan dan gangguan allelopati dapat terjadi pada perbandingan dan perpanjangan sel, aktivitas giberelin dan IAA, penyerapan hara mineral, laju fotosintesis, respirasi, pembukaan stomata, sistem protein, dan aktivitas enzim tanaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya daya hambat senyawa kimia penyebab allelopati dari tanaman antara lain jenis tanaman yang menghasilkan, macam tanaman yang dipengaruhi, keadaan pada waktu sisa tanaman mengalami perombakan “
Menurut Mc.Naughton and Wolf (1990; 132 ) menyatakan bahwa “Allelopati dapat meningkatkan agresivitas gulma didalam hubungan interaksi antara gulma dan tanaman melalui eksudat yang di keluarkannya, yang tercuci,yang teruapkan,atau melalui hasil pembusukan bagian-bagian organ yang telah mati. Beberapa jenis tanaman yang mempunyai
efek allelopati adalah Pinus merkusii, Imperata silindrica, Musa spp, dan Acacia mangium, dsb. Dalam pengaruhnya, Allelopati memiliki pengaruh yaitu antara lain senyawa allelopati dapa menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan, beberapa allelopat menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan,mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan, menghambat respirasi akar, menghambat sintesa protein, menurunkan daya pemeabilitas membran pada sel tumbuhan dan dapat mengahambat aktivitas enzim “
V. Alat dan bahan Alat : 1). Mortal
2). Skepel ( penumbuk ) 3). Cawan petri 2 buah 4). Gelas kimia 2 buah 5). Kertas saring
6). Corong kaca 7). Kapas
8). Tanah liat , air , dan 2 buah gelas atom. Bahan :
1). Rumput teki ( Cyprinus sp ) 2). Kacang hijau
VI. Cara kerja
1) Membuat ekstrak rumput teki dengan cara menumbuk dengan mortal dan skepel . 2) Member air pada rumput teki yang telah di haluskan
3) Menyaring ekstrak rumput teki kedalam gelas kimia dengan perbandingan 2 : 28. 4) Meletakkan biji kacang hijau diatas media kapas dan tanah pada cawan petri . 5) Meneteskan ekstrak rumput teki pada masing-masing media sebanyak 5 tetes . 6) mengamati perkecambahan biji-biji tersebut selama 1 minggu.
7) Menghitung persen perkecambahannya dan diukur panjangnya. IX. Pembahasan
Dari percobaan yang telah dilakukan diketahui bahwa dosis ekstrak tanaman allelopati yang diberikan terhadap ketiga biji yang dijadikan sebagai objek percobaan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan dari biji pada saat perkecambahan ini. Kebanyakan biji yang diberikan dosis ekstrak tanaman allelopati yang tinggi sebagiannya mati. Namun sebaliknya pada biji yang diberi perlakukan dengan dosis ekstrak allelopati yang tidak terlalu tinggi persen perkecambahannya tergolong besar. Hal ini menandakan bahwa ekstrak dari tanaman allelopati ini sangat mempengaruhi perkecambahan dari biji percobaan. Biji-biji yang dijadikan sebagai objek percobaan terlihat rusak karena diberi perlakuan dengan ekstrak tanaman allelopati. Dalam prinsipnya Allelopati merupakan pengaruh yang bersifat merusak, menghambat, merugikan dan dalam keadaan kondisi tertentu dapat juga menguntungkan. Dimana pengaruh ini terjadi pada perkecambahan, pertumbuhan maupun pada saat metabolisme tanaman. Pengaruh ini disebabkan oleh adanya
senyawa kimia yang di lepaskan oleh suatu tanaman ke tanaman yang lainnya.
Dari data hasil percobaan yang telah dilakukan diketahui bahwa persen perkecambahan tertinggi ada pada tanaman kacang hijau yaitu sebesar 46,6 %, sedangkan
yang terendah adalah pada biji jagung yaitu sebesar 30 %. Ini dapat terjadi demikian, mungkin karena tanaman kacang hijau lebih tahan terhadap zat kimia yang dikeluarkan oleh tanaman allelopati tertentu sedangkan tanaman jagung spesiesnya tidak tahan terhadap zat allelopati yang dikeluarkan oleh tanaman tertentu. Dalam kejadian ini terlihat bahwa adanya
persaingan tanaman untuk mempertahankan hidup dari zat-zat yang bersifat allelopati yang dikeluarkan oleh tanaman lain uyang bersifat merusak. Dalam persaingan antara individu-individu dari jenis yang sama atau jenis yang berbeda untuk memperebutkan kebutuhan-kehbutuhan yang sama terhadap faktor-faktor pertumbuhan, kadang-kadang suatu jenis tumbuhan mengeluarkan senyawa kimia yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dari anaknya sendiri. Peristiwa semacam ini disebut allelopati. Allelopati terjadi karena adanya senyawa yang bersifat menghambat. Senyawa tersebut tergolong senyawa sekunder karena timbulnya sporadis dan tidak berperan dalam metabolisme primer organisme organisme.
Dalam percobaan allelopati ini, adapun jenis tanaman yang dijadikan ekstrak yang diketahui mengandung zat allelopati yaitu ekstrak rumput teki . Bagian-bagian tanaman yang digunakan adalah bagian akar dan daun. senyawa beracun yang dapat mempengaruhi perumbuhan tanaman. Tumbuhan yang telah mati dan sisa-sisa tumbuhan yang dibenamkan kedalam tanah juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Kartawinata dalam teori nya menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstraks organ tubuh alang-alang, maka semakin besar pengaruh negatifnya terhadap pertumbuhan kecambah suatu tanaman. Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Alelokimia pada tumbuhan dilepas ke lingkungan dan mencapai organisme sasaran melalui penguapan, eksudasi akar, pelindian, dan atau dekomposisi. Setiap jenis alelokimia dilepas dengan mekanisme tertentu tergantung pada organ pembentuknya dan bentuk atau sifat kimianya . Mekanisme pengaruh alelokimia (khususnya yang menghambat) terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme (khususnya tumbuhan) sasaran melalui serangkaian proses yang cukup kompleks, proses tersebut diawali di membran plasma dengan terjadinya kekacauan struktur, modifikasi saluran membran, atau hilangnya fungsi enzim ATP-ase. Hal ini akan berpengaruh terhadap penyerapan dan konsentrasi ion dan air yang kemudian mempengaruhi pembukaan stomata dan proses fotosintesis. Hambatan berikutnya mungkin terjadi dalam proses sintesis protein, pigmen dan senyawa karbon lain, serta aktivitas beberapa fitohormon. Sebagian atau seluruh hambatan tersebut kemudian bermuara pada terganggunya pembelahan dan pembesaran sel yang akhirnya menghambat pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan sasaran.
Alelopati tentunya menguntungkan bagi spesies yang menghasilkannya, namun merugikan bagi tumbuhan sasaran. Oleh karena itu, tumbuhan-tumbuhan yang menghasilkan alelokimia umumnya mendominasi daerah-daerah tertentu, sehingga populasi hunian umumnya adalah populasi jenis tumbuhan penghasil alelokimia. Dengan adanya proses
interaksi ini, maka penyerapan nutrisi dan air dapat terkonsenterasi pada tumbuhan penghasil alelokimia dan tumbuhan tertentu yang toleran terhadap senyawa ini.
Proses pembentukkan senyawa alelopati sungguh merupakan proses interaksi antarspesies atau antarpopulasi yang menunjukkan suatu kemampuan suatu organisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup dengan berkompetisi dengan organisme lainnya, baik dalam hal makanan, habitat, atau dalam hal lainnya.
X. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa Proses pembentukkan senyawa alelopati sungguh merupakan proses interaksi antarspesies atau antarpopulasi yang menunjukkan suatu kemampuan suatu organisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup dengan berkompetisi dengan organisme lainnya, baik dalam hal makanan, habitat, atau dalam hal lainnya. Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain . Allelopati terjadi karena adanya senyawa yang bersifat menghambat. Senyawa tersebut tergolong senyawa sekunder karena timbulnya sporadis dan tidak berperan dalam metabolisme primer organisme organisme.
XI. Daftar pustaka
Anonim a. Tanpa Tahun. Alelopati. (Online) (http://io.ppi
jepang.org/download.php?file=files/inovasi diakses tanggal 5 Desember 2007). Odum . 1998 . ekologi tumbuhan .rineka cipta : Jogjakarta
Petelay, Febian. 2003. Pengaruh Allelopathy Acacia mangium wild terhadap Perkecambahan Benih Kacang Hijau ( Phaseolus radiatus) dan Jagung ( Zea mays). (Online)
(http://www.geocities.com/irwantoshut/allelopathy_acacia.doc. diakses pada tanggal 21 November 2007).
Soejani . 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: Universitas Negeri Malang. Sukman, Y., & Yakub. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Jakarta: Rajawali Pers
Laporan Ekologi umum "Alelopati"
I.PENDAHULUAN a.Latar Belakang
Molish(1937) yang pertama kali memberi batasan alelopati. Rice (1984) juga menggunakan istilah yang sama untuk semua jenis interaksi biokimia, termasuk antara tumbuhan tinggi dan mikroorganisme. Akan tetapi Muller (1920) salah seorang pionir dalam alelopati, lebih membatasi penggunaan istilah alelopati khusus untuk interaksi antar tumbuhan tinggi saja.
Zat alelopatik dalam interaksi antar tumbuhan tinggi ini ditunjukkan dengan peristiwa tidak dapat tumbuhnya tumbuhan lain disekitar pohon walnut ( Juglans nigra). Pengamatan menunjukkan bahwa tomat, pinus atau gandum tidak dapat tumbuh disekitar pohon walnut. Ternyata kemudian bahwa toksin yang berfungsi sebagai zat alelopati bukanlah dari eksudat akar walnut, melainkan dari daun dan tangkai serta ranting-ranting yang gugur ke tanah membawa toksisn. Toksin ini adalah 4-Glukosida dari 1,4,5-Trihidroksi naftalena yang terhidrolisis menjadi naftakuinon yang disebut yugion, yang larut dalam air, menurut reaksi pada gambar 1:
(Hidrolisis)
(Oksidasi)
Sejumlah zat ealelopati telah diidentifikasi, seperti lignan asam norhidroguaiaretat yang terdapat dalam kreosot, larnea tridenta, kadarnya 5-10% yang dapat menghambat pertumbuhan semak disekitarnya. Senyawa sulfur α tersienil dan poliasetiana fenil heptratryn yang dihasilkan oleh sejumlah tumbuhan composiate, adalah zat-zat yang sifat alelopatinya sangat dipengaruhi oleh sinar matahari, sehingga makin jauh kedalam tanah aktifitasnya makin kecil. Tetapi hasil ekstraksi tanah disekeliling akar tagetes yang menghasilkan α , tersienil hanya ditemukan kadar 0,4 ppm, walau demikian sudah cukup untuk menghambat pertumbuhan tumbuhan disekitarnya.
b.Tujuan Penelitian:
Mempelajari pengaruh alelopati/jenis tumbuhan terhadap pertumbuhan tanaman palawija
Tumbuhan dalam bersaing mempunyai senjata yang bermacam-macam, misalnya duri, berbau, yang kurang bisa diterima sekelilingnya, tumbuh cepat, berakar dan berkarnopi luas dan bertubuh tinggi besar, Maupun adanya sekresi zat kimiawi yang dapat merugikan pertumbuhan tetangganya. Dalam uraian ini akan disinggung tentang sekresi kimiawi yang disebut alelopat dan mengakibatkan peristiwa yang disebut alelopati.Peristiwa alelopati adalah peristiwa adanya pengaruh jelek dari zat kimia (alelopat) yang dikeluarkan tumbuhan tertentu yang dapat merugikan pertumbuhan tumbuhan lain jenis yang tumbuhdi sekitarnya. Tumbuhan lain jenis yang tumbuh sebagai tetangga menjadi kalah. Kekalahan tersebut karena menyerap zat kimiawi yang beracun berupa produk sekunder dari tanaman pertama. Zat kimiawi yang bersifat racun itu dapat berupa gas atau zat cai dan dapat kelau dari akar, batang maupun daun. Hambatanpertumbuhan akibat adanya alelopat dalam peristiwa
alelopati misalnya pertumbuhan hambatan pada oembelahan sel, pangambilan mineral,resppirasi, penutupan stomata, sintesis protein, dan lain-lainnya. Zat-zat tersebut keluar dari bagian atas tanah berupa gas, atau eksudat uang turun kembali ke tanah dan eksudat dari akar. Jenis yang dikeluarkan pada umumnya berasal dari golongan fenolat, terpenoid, dan alkaloid.
Telah banyak referensi yang mencatat tentang species yang dapat mengeluarkan alelopati. Species tersebut dalam lingkungan akan dapat menekan pertumbuhan species lain. Namun pengaruh interaksi gulma/tanaman budidaya akan adanya alelopati masih belum banyak diteliti. Beberapa penelitian tentang hal itu dicatat dari beberpa negara seperti Amerika, dan Inggris. Suatu zat terpen di keluarkan oleh semak yang aromatik dan sejenis substansi fenol dikeluarkan oleh Isorghum halepense yang dapat menghambat kegiatan bakteri fikasasi nitrogen. Agropyron repens (rumput perenial) yang melapuk selama 15 hari sangat efektif dalam penghambatan pertumbuhan Brassica napus. Penghambatan semacam ini hampir sama dengan diakaibatkan oleh pelapukan jerami. Imperata cylindrica juga mengeluarkan alelopati berpengaruh pada lingkungannya seperti halnya penghasil-penghasil alelopati lainnya.
Alelopati kebanyakan berada dalam jaringan tanaman, seperti daun, akar,aroma, bunga, buah maupun biji, dan dikeluarkan dengan cara residu tanaman. Beberapa contoh zat kimia yang dapat bertindak sebagai ealelopati adalah gas-gas beracun. Yaitu Sianogenesis merupakan suatu reaksi hidrolisis yang membebaskan gugusan HCN, amonia, Ally-lisothio cyanat dan β-fenil isitio sianat sejenis gas diuapkan dari minyak yang berasal dari familia Crusiferae dapat menghambat perkecambahan. Selain gas, asam organik, aldehida, asam
aromatik, lakton tak jenuh seserhana, fumarin, kinon,flavanioda, tanin, alkaloida ,terpenoida dan streroida juga dapat mengeluarkan zat alelopati. (Moenadir,1998:73-88)
Sejumlah peneliti melaporkan bukti untuk zat kimia mengendalikan distribusi tumbuhan, asisiasi antar species, dan jalannya suksesi tumbuhan. Muller (1966) telah meneliti hubungan spatial antara Salvia leucophyla dan rumput annual. Rumpun saliva yang hidup pada padang rumbut ternyata dibawah rumpun dan disekeliling rumpun semak tersebut terjadi zona gundul (1-2 meter) tak ada tumbuhan rumput dan herba lain. Bahkan 6-10 m dari kanopi semak tumbuhan lain menjadi kerdil. Bentuk kerdil ini tidak disebabkan karena kompetisis untuk air, karena kar semak tidak menyusup jauh ke daerah rumput. Faktor tanah nampak tidak bertanggung jawab untuk asosiasi nehgatif, karena faktor khemis dan fisis tanah tidak berubah pada zona gundul tersebut.
Muller menemukan bahwa salvia mengeluarkan minyak volatile dari daun dan kandungan cinoile dan canphor bersifat toksik terhadap perkecambahan dan pertumbuhan annual disekeliling. (Syamsurizal,1993:89)
Alang-alang bukan hanya sebagai pesaing bagi tanaman lain terutama tanaman pangan dalam mendapatkan air, unsur hara dan cahaya tetapi juga menghasilkan zat alelopati
yang menyebabkan pengaruh negatif pada tanaman lain (Hairiah et al., 2001)
III.BAHAN DAN METODE
Waktu dan tempat : Kamis 3 januari 2008
Laboratorium Universitas Jambi Lantai I
Alat dan Bahan : Alat:
1. Polibag atau pot berisi tanah 2. Gelas ukur 3. Gelas piala 4. Blender 5. Pisau 6. Gunting 7. Timbangan
Bahan:
1. Benih jagung atau benih kacang hijau 2. Daun akasia atau akar ilalang
Prosedur Kerja:
1. Ditanam benih yang telah disiapkan di dalam polibag atau pot dan di biarkan sampai tumbuh, kemudian masing-masing pot hanya terdiri atas satu tanaman yang berumur satu minggu.
2. Dibuat ekstrak alang-alang dan akasia dengan cara sebagai berikut:
- Dihaluskan bagian tumbuhan jenis tumbuhan tersebut dengan Blender, yang sebelumnya dipotong-potong menjadi kecil.
- Dibuat kestrak atau hasil rendaman bagian tumbuhan tersebut dengan air (akuadest) dengan perbandingan bagian tumbuhan : air = 1 : 7 dan dibiarkan selama 24 jam(sebagai larutan
stok)
- Setelah 24 jam saringlah ekstrak yang diperoleh dengan menggunakan alat penyaring.
3. Diencerkan larutan stok dengan air akuadest menjadi larutan dengan konsentrasi 5 %, 10%, 15%, 20%, 25%, sehingga kita mempunyai larutan-larutan allelopati yang dijadikan perlakuan sebagai berikut.
a. Perlakuan kontrol, tanpa larutan allelopati b. Perlakuan A, larutan biang/ stock
c. Perlakuan B , larutan konsentrasi 5 % dari larutan biang. d. Perlakuan C , larutan konsentrasi 10 % dari larutan biang. e. Perlakuan D , larutan konsentrasi 15 % dari larutan biang. f. Perlakuan E , larutan konsentrasi 20 % dari larutan biang. g. Perlakuan F , larutan konsentrasi 25 % dari larutan biang
4. Dilakukan penyiraman dengan air akuadest secukupnya, terhadap tanaman di dalam polibag dua hari sekali, kemudian tiap selang sehari dilakukan penyiraman dengan larutan allelopati sebagai perlakuan, masing-masing tanaman disiram sebanyak 50 cc (jadi hari ini disiram air, besok disiram ekstrak allelopati dan lusa disiram air, begitu seterusnya).
5. Dilakukan pengamtan terhadap morfologi daun, pertulangan daun, pertumbuhan batang dll yang dilakukan setiap hari. Setelah 4 minggu dilakukan pengamatan
terhadap :
a) Tinggi tanaman mulai dari atas permukaan tanah b) Bobot basah dan kering
c) Kelainan-kelainan morfologi yang terjadi pada akar, batang dan daun. IV.HASIL BAN PEMBAHASAN
A.Hasil
Allelopati Morfologi Perakaran Tinggi
tanaman
Berat basah
Kontrol Tanaman normal daun normal Akar banyak menyatu ke bawah a. 11,9 cm b. 15,8 cm 1,5 gram
5% Daun bercak hitam,
daun tidak
berkembang dengan baik
Akar banyak seperti akar serabut, akarnya seperti menyebar a. 11,7 cm b. 12,6 cm c. 8,6 cm 0,9 gram
10% Ada bercak pada daun, daun tidak berkembang dengan baik Akar menyatu ke bawah a. 16 cm b. 11,9 cm c. 12,7 cm 1,3 gram
15% Ada bercak putih pada daun , daun tidak berkembang dengan baik, 1 tanaman tumbuh kerdil, hanya memiliki 1 daun Akar serabutnya banyak a. 4,7 cm b. 11,6 cm c. 17,4 cm 1,7 gram 20% Daun berbercak
putih, dan tidak berkembang dengan baik Akar panjang ke bawah a. 21,1 cm b. 13,5 cm c. 11,4 cm 2,2 gram
25% Daun berbercak putih dan bercak coklat, tapi putih lebeh banyak.
Daun bagian bawah keriting
Akar pendek dan menyebar, akar tunggang tidak nampak a. 12,6 cm b. 17,6 cm 1,4 gram
100% Bercak coklat yang banyak dan tidak berkembang dengan baik.
Akar pendek dan sedikit
a. 13,5 cm b. 7,3 cm
1,0 gram
B.Pembahasan
Pada hasil praktikum yang telah dilakuakan diatas dapat kita lihat bahwa, tanaman palawija yang disirami oleh allelopati berkosentrasi tinggi dalam hal ini adalah larutan biang
(100%) tumbuh dengan sangat tidak baik, baik morfologi daunnya yang dipenuhi oleh bercak coklat dan putih, tinggi tanaman yang tidak sebanding dengan tanaman perlakuan lain, maupun berat basahnya yang hanya 1,0 gram.. Hal ini dikarenakan kepekatan zat racun yang diberikan sangat tinggi hingga mengganggu pertumbuhan dan sistem metabolisme tumbuhan palawija yang ditanam. Menurut Setyowati (2001) Respon yang akan terjadi karna pemberian allelopati adalah panjang tajuk dan akar yang terhambat yang dapat disebut sebagai herbisida pra tumbuh namun hal ini tergantung juga pada formulasi ekstraksi allelopati yang diberikan. Adapun warna daun yang berubah merupakan salah satu ciri dari gejala klorosis pada tanaman palawija akibat dari aplikasi ekstrak allelopeti.
Pada allelopati yang berkosentrasi 5%, tanaman tumbuh layaknya tanaman kontrol, hanya sedikit saja perubahan yang terjadi saat akhir pengamatan. Hal ini dapat dikarenakan oleh kosentrasi allelopati yang dalam hal ini adalah zat racun, tidak terlalu tinggi, hingga tumbuhan masih mampu melakukan proses metabolisme dan yang lainnya dengan normal, walau terdapat sedikit hambatan allelopati. Itulah sebabnya perubahan hanya terjadi pada morfologi daunnya saja.
Sedangkan pada allelopati berkosentrasi 10%, tanamannya tumbuh tidak normal, namun tetap saja perubahan yang terjadi tidak telalu mencolok seperti pada tanaman yang diberikan allelopati kosentrasi tinggi. Pada allelopati berkosentrasi 15% mulai terjadi