YANG DIBERI CEKAMAN PANAS ABSTRAK
BAHAN DAN METODE PENELITIAN Sampel Kulit Jaloh
Kulit batang jaloh yang digunakan diperoleh dari daerah Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Aceh Besar, Propinsi NAD pada bulan Juli 2004. Kulit yang
diambil berasal dari batang yang berdiameter lebih besar 10 cm dan berjarak 1-1,5 m dari permukaan tanah atau air dari tempat tumbuhnya. Determinasi tanaman dilakukan di Herbarium Bogoriense, LIPI Bogor, sebagai Salix tetrasperma Roxb (Surat nomor: 320/IPH.1.02/If.8/2004 tanggal 24 Mei 2004).
Preparasi Sampel Kulit Jaloh
Pembuatan ekstrak dilakukan di Laboratorium Fitokimia, Bidang Botani, Puslit Biologi, LIPI Kebun Raya Bogor. Kulit batang jaloh yang diambil diangin- anginkan sehingga menjadi kering, lalu dipotong-potong kecil dan dikeringkan kembali dalam oven pada suhu 60oC selama 48 jam. Dari keseluruhan proses ini diperoleh berat kering 3,6 kg. Ekstraksi dan fraksinasi n-heksan kulit batang jaloh dilakukan seperti terlihat pada skema Gambar 6. Kulit kering ini dihaluskan dengan penggilingan sehingga menjadi serbuk dan dimasukkan ke dalam wadah tertutup dan dimaserasi dengan menggunakan etanol 70%. Larutan hasil maserasi ini disaring menggunakan pompa vakum yang diberi alas kertas saring. Ekstrak cair jaloh tersebut diuapkan (dikentalkan) menggunakan alat rotavapor yang dilengkapi penangas air dan pompa vakum (Rotavapor R-110 Buchi Switzefiland). Temperatur penangas ditetapkan pada suhu 60°C dan diperoleh ekstrak kasar jaloh sebanyak 578,3 g (16,06%) dengan kadar air 2,71%. Ekstrak jaloh dengan etanol ini selanjutnya dipartisi dengan larutan n-heksan.
Sebanyak 310 g ekstrak etanol yang telah dikeringkan dilarutkan kembali dengan etanol 50% dan ditambahkan larutan n-heksan. Pemisahan larutan etanol dan n-heksan dilakukan dengan menggunakan corong pemisah. Larutan ekstrak n- heksan yang diperoleh, diuapkan (dikentalkan) dengan menggunakan Rotavapor. Temperatur penangas labu evaporator ditetapkan pada suhu 50°C. Ekstrak heksan tanaman jaloh ini didapat sebanyak 11,5 g (3,71%) dalam bentuk kental dan mencair jika dipanaskan.
Alat Kromatografi Gas
Kromatografi gas massa spektrofotometer (GC-MS) yang digunakan jenis Hewlett Packard, Agilent Technologies model 6890 yang dihubungkan ke sistem spektrafotometer massa Hewlett Packard model Selective Detector dan data sistem Chemstation dengan menggunakan kolom kapiler HP Ultra 2 (panjang 17
m x diameter 0,25 mm, dan ketipisan film 0,25 μm). Suhu oven diprogram pada 280-310°C, dengan suhu awal 65°C selama 3 menit dan dinaikkan 5°C/menit sampai mencapai 280°C yang dipertahankan selama 10 menit dan suhu 310°C selama 2 menit. Spesifikasi keadaan suhu lainnya adalah untuk injeksi (injection port) 250°C, sumber ion (250°C), dan quadrupole 140°C. Gas pembawa yang digunakan adalah helium dengan aliran konstan 0,7 μm/menit dan voltase ionisasi sebesar 70 eV model Electron Impact. Volume injeksi adalah 1 μl (mode split) pada perbandingan 100:1 dan analisis kuantitas ditampilkan sebagai persentase (%) relatif area.
Identifikasi Senyawa
Puncak yang muncul pada layar GCMS diidentifikasi dengan pencarian komputer pada referensi perpustakaan yang tersedia. Puncak penyebaran yang terlihat dengan jelas dicocokkan dengan beberapa senyawa yang ditemukan pada kepustakaan spektral massa Wiley (NIST2000 Wiley MS Data library).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kandungan senyawa kimia pada ekstrak n-heksan kulit batang jaloh yang diidentifikasi menggunakan GC-MS disajikan pada Tabel 4. Terdapat 40 senyawa kimia yang telah diidentifikasi dan senyawa utama dalam ekstrak n-heksan jaloh ini adalah golongan asam lemak yang mencapai 70,14%. Senyawa lainnya yang jumlahnya relatif besar adalah senyawa golongan steroid, yaitu stigmast-5-en-3-ol yang mencapai 10,08%.
Golongan asam-asam lemak utama yang terkandung dalam ekstrak n- heksan kulit batang jaloh adalah asam lemak jenuh sebesar 45,49% dan asam lemak tak jenuh sebesar 24,65%. Asam heksadekanoat (asam palmitat, 16:0) merupakan golongan asam lemak jenuh yang paling banyak jumlahnya mencapai 35,91% (puncak nomor 3, 4, 5, dan 20), asam tetradekanoat (asam miristat, 14:0) hanya 0,76% (puncak nomor 2 dan 18), dan asam oktadekanoat (stearat, 18:0) sebesar 3,08% (puncak nomor 7, 10, dan 24). Golongan asam lemak tak jenuh yang terbanyak adalah asam linoleat (oktadekadienoat, 18:2) mencapai 14,76% (puncak nomor 13, 14, dan 27), asam oleat (oktadienoat, 18:1) sebesar 3,79%
(puncak nomor 8, 9, 11, dan 25), dan asam linolenat (oktadekatrienoat, 18:3) sebesar 4,06% (puncak nomor 15, 16, dan 28). Asam palmitat adalah asam lemak Tabel 4 Waktu retensi (RT = retention time), peak area, dan nama-nama senyawa
hasil analisis ekstrak kulit batang tanaman jaloh dengan alat GC-MS
Nomor RT (menit) Area (%) Nama senyawa
1 8.19 0,38 asam asetat
2 20,67 0,38 etil miristat
3 22,64 0,27 asam heksadekanaot; etil ester
4 23,88 4,21 asam heksadekanaot, metil ester
5 24,68 18,22 asam heksadekanaot, etil ester
6 26,37 0,74 asam heptadekanaot, etil ester
7 27,50 0,39 asam oktadekanaot, metil ester
8 27,82 0,42 asam 9-oktadekenaot (Z)-, metil ester
9 27,95 0,30 asam 9-oktadekenaot (Z)-, metil ester
10 28,16 1,82 asam oktadekanaot, etil ester
11 28,45 1,95 asam 9-oktadekenaot (Z)-, etil ester
12 28,61 1,64 9,17-oktadekadienal, (Z)-
13 28,64 1,50 asam 9,12-oktadekadienaot (Z,Z)-
14 29,27 7,53 etil linoleat (asam linoleat)
15 29,73 0,42 asam 9,12,15-oktadekatrienaot metil
16 30,29 2,07 etil linoleolate
17 31,45 0,40 asam etil ester eikosanaot
18 32,04 0,38 asam miristik (asam tetradekanaot)
19 34,59 0,46 asam nonadekanaot, etil ester
20 35,25 13,21 asam heksadekanaot (asam palmitat)
21 36,02 0,40 etanol, 2-[2-(2-butoksietoksi) etoksi
22 36,67 0,54 asam heptadekanaot
23 37,27 0,61 Farnesol 3
24 38,13 0,87 asam oktadekanaot (asam stearat)
25 38,53 1,12 asam 9-oktadekenaot (Z)
26 38,68 2,93 asam 1,2-benzenedikarboksilik
27 39,27 6,73 asam linoleat
28 40,18 1,57 9,12,15-oktadekatrienoat
29 43,46 0,41 15-krown-5
30 44,35 0,72 etanol, 2-[2-(eteniloksi) etoksil]
31 50,70 0,91 3,6,9,12,15-pentaoksanonadekan-1-ol 32 51,48 0,62 di-iso-propilamine-D1 33 54,30 0,81 3,6,9,12,15-pentaoksanonadekan-1-ol 34 56,44 0,70 15-krown-5 35 57,14 10,08 stigmast-5-en-3-ol, (3.beta.,24S) 36 58,42 1,69 3,6,9,12-tentraoksaheksadekan-1-ol 37 61,04 1,31 15-krown-5 38 62,26 1,65 3,6,9,12,15-pentaoksanonadekan-1-ol
39 67,12 4,92 etanol, 2-[2-(2-etoksietoksi) etoksi]
40 67,51 4,68 etanol, 2-[2-(eteniloksi) etoksi]
jenuh utama yang sering ditemukan dalam daun dan terdapat dalam jumlah banyak pada beberapa minyak bijian, seperti minyak kacang tanah (Harborne
1996). Pada kebanyakan tumbuhan ditemukan golongan asam lemak tak jenuh (C16:3 dan C18:3) dan biasanya asam-asam lemak ini banyak ditemukan dalam biji-bijian ataupun buah (Robinson 1995; Dewick 2001).
Kandungan asam lemak dalam kulit batang jaloh ini relatif besar jika dibandingkan dengan hasil analisis pada kulit tanaman obat lainnya. Umumnya, senyawa asam lemak dengan jumlah C-16 dan C18 banyak ditemukan dalam buah, biji, daun, atau bunga. Pada akar dan kulit batang tanaman relatif rendah (Ogunwande et al. 2006). Banyaknya asam lemak pada kulit batang ini mungkin terkait dengan aktivitas pertumbuhan dan efek protektif terhadap hama. Beberapa jenis asam lemak memiliki efek pengaturan pertumbuhan (Robinson 1995).
Beberapa jenis tanaman obat yang mengandung banyak asam lemak tak jenuh umumnya sangat baik sebagai antioksidan. Asam linoleat [(CH3-(CH2)4-
CH=CH-CH2-CH=CH-(CH2)7-COOH atau ω6, C18:2, Δ9,12)] adalah asam lemak
rantai panjang tidak jenuh golongan oktadesenoat. Asam lemak ini pada manusia termasuk asam lemak esensial (Pratt 1992). Beberapa senyawa asam lemak diketahui memiliki efek sebagai antitumor. Diduga efek tersebut terjadi dengan cara meningkatkan aktivasi fungsi dan sinyal membran sel atau aktivasi ekspresi gen melalui penghilangan hambatan (I-κB) pada NF-κB (Belury 2002; Field & Schley 2004). Efek antitumor suatu asam lemak dapat meningkat aktivitasnya bila asam linoleat terkonjugasi. Asam linoleat terkonjugasi ini dapat terbentuk pada posisi 7,9; 8,10; 9,11; 10,12; ataupun 11,13 dalam konfigurasi cis (c) dan trans (t) (Belury 2002; Field & Schley 2004; Tsuzuki et al. 2004).
Kandungan stigmast-5-en-3-ol yang teridentifikasi pada ekstrak kulit batang jaloh ini relatif tinggi. Stigmast-5-en-3-ol merupakan golongan steroid dan fitosterol yang paling sering ditemukan pada tanaman (Lavoie & Stevanovic 2005). Stigmast-5-en-3-ol (sitosterol) biasanya banyak ditemukan pada biji-bijian yang menghasilkan minyak seperti kedelai, biji buah kapas, jagung, gandum dan beberapa jenis bijian lainnya (Tyler et al. 1988). Sitosterol ini sering juga ditemukan pada tanaman golongan angiosperma, gimnosperma, dan pakis-pakisan (Hernes & Hedges 2004) dan pada jaringan tanaman vaskular, seperti tanaman mangrof yang hidup di daerah pantai (Hernes et al. 2001). Beberapa jenis senyawa sterol pada tanaman berfungsi sebagai pelindung untuk menolak serangga dan menolak serangan mikroba (Harborne 1996). Pada hewan coba,
senyawa fitosterol ini memiliki efek sebagai antimutagenik (Lim et al. 2005), antikanker (Montbriand 2004), dan juga sebagai antioksidan (Dumlu & Gurkan 2006).
Ada beberapa senyawa yang belum diketahui fungsi dan faedahnya bagi tumbuhan (Tasdemira et al. 2003), tetapi ditemukan dalam ekstrak jaloh ini sampai 10,32%, yaitu etanol-2-[2-(eteniloksi)-etoksil], etanol-2-[2-(2-etoksi- etoksi)-etoksi, dan etanol-2-[2-(eteniloksi)-etoksi]. Menurut Tasdemira et al. (2003) pada bagian daun tanaman species Rhododendron ditemukan senyawa etanol-2-[2-(2-etoksietoksi)-etoksi sampai 12,8%. Keberadaan senyawa golongan etanol ini pada tanaman belum diketahui fungsi dan aktivitasnya.
Pada penelitian ini teridentifikasi juga 1 golongan terpenoid yang kandungannya dalam ekstrak n-heksan jaloh relatif kecil, hanya 0,61%, yaitu farnesol-3. Farnesol ini termasuk golongan sesquiterpenoid asiklik (C15) dan berifat volatil. Farnesol merupakan senyawa-antara yang penting dalam biosintesis senyawa terpenoid (Thai et al. 1999). Farnesol berperan dalam pembentukan beberapa jenis sesquiterpenoid sebagai upaya pertahanan bila terjadi serangan serangga dan kerusakan sel tumbuhan (Schnee et al. 2002). Dalam tubuh hewan, farnesol diketahui memiliki efek pada tonus dan tekanan pada pembuluh darah. Farnesol berkerja menghambat vasokonstriksi pembuluh darah yang diinduksi hormon norefinefrin (Roullet et al. 1996).
Ada 2 jenis senyawa asam lemak tak jenuh yang tergolong feromon sex (3,21%) yang memiliki gugus aldehide C18, yaitu 9,12-oktadekadienal (1,64%) dan 9,12,15-oktadekadienal (1,57%) dalam ekstrak n-heksan jaloh ini. Pada tumbuhan, senyawa ini terbentuk dari perombakan asam 9,12-oktadekadienoat (Tillman et al. 1999). Menurut Hamberg et al. (1999) pembentukan 9,12,15- oktadekadienal dari asam oleat akibat teraktivasinya enzim oksigenase. Aktivasi oksigenase terkait dengan keberadaan bakteri patogen pada tumbuhan. Keberadaan senyawa 9,12,15-octadecadienal diduga terkait dengan perannya dalam pengembangan sistem petahanan tubuh.
SIMPULAN
Senyawa kimia yang terbanyak dalam ekstrak n-heksan jaloh adalah golongan asam-asam lemak. Asam palmitat merupakan golongan asam lemak
jenuh terbanyak mencapai 35,91% dan asam linoleat merupakan golongan asam lemak tak jenuh terbanyak mencapai 14,76%. Kandungan senyawa lainnya yang relatif banyak adalah stigmast-5-en-3-ol yang mencapai 10,08%.
DAFTAR PUSTAKA
Belury MA. 2002. Inhibition of carcinogenesis by conjugated linoleic acid: potential mechanisms of action. J Nutr 132:2995–2998.
Burkill, IH. 1935. A Dictionary of the Economic Products of the Malay Peninsula. Volume II (Plum-Zoy). London: Governments of the Straits Settlements and Federated Malay State. hlm 1943-1944.
Clercq de FSA, Greshoff M. 1909. Nieuw Plantkundig Woordenboek Voor Nederlandsch Indie. Amsterdam: Druk Van JH De Bussy. hlm 320-321. Dewick PM. 2001. Medicinal Natural Products a Biosynthetic Approach. Edisi
ke-2. England: John Miley & Sons.
Dumlu MU, Gurkan E. 2006. A new active compound from Centaurea species. Z Naturforsch 61:44-46.
El-Shemy HA et al. 2003. The effect of willow leaf extracts on human leukemic cells in vitro. J Biochem Mol Biol 36:387-389.
Fabricant DS, Farnsworth NR. 2001. The value of plants used in traditional medicine for drug discovery. Environ Health Perspect 109(suppl 1):69– 75.
Fiebich BL, Chrubasik S. 2004. Effects of an ethanolic salix extract on the release of selected inflammatory mediators in vitro. Phytomedicine 11:135-138. Field CJ, Schley PD. 2004. Evidence for potential mechanisms for the effect of
conjugated linoleic acid on tumor metabolism and immune function: lessons from n-3 fatty acids. Am J Clin Nutr 79:1190S–1198S.
Hamberg M, Sanz A, Castresana C. 1999. α-Oxidation of fatty acids in higher plants: Identification of a pathogen-inducible oxygenase (PIOX) as an α- dioxygenase and biosynthesis of 2-hydroperoxylinolenic acid. J Biol Chem 274:24503–24513.
Han LK. et al. 2003. Antiobesity action of Salix matsudana leaves (Part 1). Anti- obesity action by polyphenols of Salix matsudana in high fat-diet treated rodent animals. Phytother Res 17:1188-1194.
Hanum IF, Masen VLJG. 1997. Plant Resources of South-East Asia: Auxiliary Plants. Bogor: Prosea Foundation. hlm 293.
Harborne JB. 1996. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Padmawinata K, Soediro I, penerjemah; Bandung: ITB. Terjemahan dari: Phytochemical Methods.
Hernes PJ et al. 2001. Tannin diagenesis in mangrove leaves from a tropical estuary: A novel molecular approach. Geochimica et Cosmochimica Acta 65:3109–3122.
Hernes PJ, Hedges JI. 2004. Tannin signatures of barks, needles, leaves, cones, and wood at the molecular level. Geochimica et Cosmochimica Acta 68:1293–1307.
Kahkonen et al. 1999. Antioxidant activity of plant extracts containing phenolic compounds. J Agric Food Chem 47:3954-3962.
Kammerer B, Kahlich R, Biegert C, Gleiter, CH, Heide L. 2005. HPLC-MS/MS Analysis of willow bark extracts contained in pharmaceutical preparations. Phytochem Anal 16:470–478.
Khayyal MT, El-Ghazaly MA, Abdallah DM, Okpanyi SN, Kelber O. 2005. Mechanisms involved in the anti-inflammatory effect of a standardized willow bark extract. Arzneimittelforschung 55:677-687.
Lavoie JM, Stevanovic T. 2005. Variation of chemical composition of the lipophilic extracts from yellow birch (Betula alleghaniensis) foliage. J Agric Food Chem 53:4747-4756.
Lim JC. 2005. Antimutagenic constituents from the thorns of Gleditsia sinensis. Chem Pharm Bull 53:561-564.
Marz RW, Kemper F. 2002. Willow bark extract--effects and effectiveness. Status of current knowledge regarding pharmacology, toxicology and clinical aspects. Wien Med Wochenschr 152:354-359.
Montbriand MJ. 2004. Herbs or natural products that protect against cancer growth. Oncol Nursing For 31:E127-E146.
Ogunwande IA, Walker TM, William N. Setzer WN, Essien E. 2006. Volatile constituents from Samanae saman (Jacq.) Merr. Fabaceae. Afr J Biotechnol 5:1890-1893.
Pratt DE. 1992. Natural Antioxidants from Plant material. Di Dalam: Huang MT, Ho CT, Lee CY, editor. Phenolic Compounds in Food and Their Effects on Health II Antioxidants and Cancer Prevention. Proceeding of the ACS Symposium Series, Ney York, 25-30 Augustus 1991. American Chemical Society. hlm 54-71.
Robinson T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Padmawinata K. penerjemah; Bandung: ITB. Terjemahan dari: The Organic Constituents of Higher Plants.
Roullet JB et al. 1996. Farnesyl analogues inhibit vasoconstriction in animal and human arteries. J Clin Inves 97:2384–2390.
Schnee C, Kollner TG, Gershenzon J, Degenhardt J. 2002. The maize gene terpene synthase 1 encodes a sesquiterpene synthase catalyzing the formation of (E)-β-farnesene, (E)-nerolidol, and (E,E)-farnesol after herbivore damage. Plant Physiol 130:2049–2060.
Sultana S, Saleem M. 2004. Salix caprea inhibits skin carcinogenesis in murine skin: inhibition of oxidative stress, ornithine decarboxylase activity and DNA synthesis. J Ethnopharmacol 91:267-276.
Tasdemira D. 2003. Analysis of the volatile components of five turkish Rhododendron species by headspace solid-phase microextraction and GC- MS (HS-SPME-GC-MS). Z Naturforsch 58c:797-803.
Thai L. 1999. Farnesol is utilized for isoprenoid biosynthesis in plant cells via farnesyl pyrophosphate formed by successive monophosphorylation reactions. Proc Nat Acad Sci 96:13080-13085.
Tillman JA, Seybold SJ, Jurenka RA, Blomquist GJ. 1999. Insect pheromones: an overview of biosynthesis and endocrine regulation. Insect Biochem Mol Biol 29:481-514.
Tsuzuki T, Igarashi M, Miyazawa T. 2004. Conjugated eicosapentaenoic acid (EPA) inhibits transplanted tumor growth via membrane lipid peroxidation in nude mice. J Nutr 134:1162–1166.
Tyler VE, Brady LR, Robbers JE. 1988. Pharmacognosy. 9th edition. Philadelphia: Lea & Febiger.
VanSteenis CGGJ. 1954. Flora Lasesiana. Serie I Volume 5. Leyden, Noordhoff Internationa Publishing. hlm 107-111.
Wuthold K et al. 2004. Thin-layer chromatography and multivariate data analysis of willow bark extracts. J Chromatographic Sci. 42:
Zhang J, Zhang YN, Han LK. 2000. Studies on chemical constituents of leaves of Salix matsudana Koidz and their influence on lipolysis. Zhongguo Zhong Yao Za Zhi 25:538-541.
Zheng YN et al. 2005. Effect of compounds in leaves of Salix matsudana on arachidonic acid metabolism. Yakugaku Zasshi 125:1005-1008.