Penelitian ini dilakukan di Percobaan AD 03 S dan AD 04 S Kebun Unit Adolina Afd. III Kebun Induk Kelapa Sawit PT. Perkebunan Nusantara IV, yaitu mulai Januari 2012 sampai dengan Juni 2012.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi 47 Aksesi plasma nutfah asal kamerun yang ditanam di percobaan AD 03 S dan AD 04 S KebunUnit Adolina Afd. III Kebun Induk Kelapa Sawit PT Perkebunan Nusantara IV.
Alat –alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: Jangka sorong, Meteran pita 5 m, plat identifikasi individu tanaman, cat, kuas, lembar data isian pengamatan, alat tulis menulis dan lain – lain.
Desain Percobaan
Aksesi Kamerun ini ditanam di Afd 3 benih kebun unit Adolina PT Perkebunan Nusantara IV di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Sedang Bedagai Sumatera Utara. Setiap aksesi ditanam dalam 1 plot yang terdiri dari 10 tanaman menurut region asalnya yaitu region 3 (dataran tinggi), region 4 (hutan hujan Monomodal) dan region 5 (hutan hujan bimodal) dengan 2 ulangan.
Penanaman aksesi dura diberikan kode percobaan AD 03 S dan untuk penanaman aksesi tenera diberikan kode percobaan AD 04 S. Penanaman percobaan dilakukan pada tanggal 13 – 15 Desember 2010.
Analisa Data
1. Statistik Deskriptif, Uji F dan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) Data yang dianalisis merupakan nilai rerata dari 20 pohon setiap aksesi di dua ulangan. Analisis statistik desktriptif dilaksanakan untuk setiap variabel pengamatan dari seluruh aksesi. Analisis sidik ragam satu arah dilaksanakan untuk setiap region dari seluruh aksesi dan diuji pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Menurut Montgomery (2001) model linier statistik tersebut dituliskan sebagai berikut:
Yij = + i + ij dimana:
Yij = Nilai pengamatan pada region ke-i dan aksesi ke-j = Nilai Rerata pengamatan
i = Nilai pengamatan pada region ke-i
ij = Nilai galat pada region ke-i dan aksesi ke-j
2. Analisis Keragaman Fenotifik
Keragaman fenotifik 47 Aksesi Sumberdaya Genetik Asal Kamerun dianalisis dengan menggunakan Analisis Faktor, Analisis Komponen Utama, Analisis Gerombol dan Analisis Biplot. Analisis Faktor, Analisis Komponen Utama, dan penghitungan matriks ketidaksamaan diperoleh dengan bantuan software SPSS 17 sesuai dengan metode yang dikembangkan oleh Pallant (2001) selanjutnya konstruksi pohon phylogenetik diperoleh menggunakan software DARwin 5 dengan metode Neigbor – Joining serta nilai bootstrapping sebesar 1000. Grafik Analisis Komponen Utama diperoleh dengan bantuan software
Minitab 16. Analisis Biplot dilakukan dengan bantuan software MULTBIPLOT (MULTivariate Analysis using BIPLOT) dengan metode yang dikembangkan oleh Villardón (2010).
Pada tahap awal dilaksanakan dua jenis analisa statistik untuk melihat kesesuaian data jika difaktorkan yaitu dengan Uji Keutuhan Barlett dan Ukuran Kesesuaian Contoh Kaiser-Meyer-Olkin (KMO). Hasil Uji Keutuhan Barlett nyata pada nilai p<0.05 memadai untuk dilakukan analisis faktor. Indeks nilai KMO akan berkisar antara 0 – 1 dengan nilai > 0.5 dipertimbangkan cukup untuk dilaksanakan analisis faktor. Analisis faktor dilaksanakan dengan metode principal component (komponen utama) dan dilakukan rotasi dengan metode varimax.
Disamping itu untuk karakter kuantitatif yang memiliki karakter fenotifik yang luas dilakukan penghitungan matrik ketidaksamaan untuk konstruksi pohon phylogenetik. Pohon phylogenetik adalah diagram yang menggambarkan alur dari penurun secara evolusi dari berbagai spesies, organisma, atau gen dari tetua yang sama. Phylogeni berguna untuk menyusun pengetahuan mengenai keragaman biologi, untuk menyusun klasifikasi, dan untuk memberikan pandangan mengenai peristiwa yang terjadi selama proses evolusi (Baum, 2008).
Dasar dari konstruksi matrik ketidaksamaan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan pengukuran jarak atau ke-h misalnya, disimbolkan dengan dih. Nilai dih diperoleh melalui perhitungan jarak kuadrat Euclidean sebagai berikut (Everitt, 1993):
p
dih = Σ (Xij – Xhj)2 j=1
dengan nilai dih = jarak kuadrat Euclidean antara objek ke-i dengan objek ke-j atau ke-h,
p = jumlah variabel
Xij = nilai atau data dari objek ke-i pada variable ke-j Xhj = nilai atau data dari objek ke-h pada variabel ke-j
Data yang dianalisis bervariasi dalam satuannya. Ada data dalam ratusan (panjang rachis) dan ada juga dalam satuan (jumlah klorofil). Perbedaan yang mencolok ini dapat menyebabkan bias dalam Analisis Kelompok, sehingga data asli harus distandarisasi sebelum proses pembentukan matriks ketidaksamaan. Standarisasi dilakukan dengan cara membagi setiap data (xik) dengan simpangan baku standar dari variabel k yang dihitung pada unit yang terpilih (Perrier et al, 2006).
Pohon phylogenetik dikonstruksi dengan metode Neighbor-Joining yang diperkenalkan oleh Saitou and Nei (1987) yang sering digunakan dalam analisa keragaman genetik. Metode ini menggunakan kedekatan relatif. Pada konstruksi pohon phylogenetik dalam penelitian ini digunakan metode Neighbor-Joining tanpa penyesuaian data (unweighted neighbor – joining), yang menggunakan metode kriteria keseimbangan rata – rata. Oleh karena kriteria kekerabatan dihitung untuk setiap pasangan hasil dari suatu formula kompleks yang mencakup seluruh ketidaksamaan, sehingga kemungkinan dari semua kriteria yang sama untuk beberapa pasangan sangat rendah. Dengan demikian kelompok algoritma yang terjadi hanya satu pasangan pada tiap ulangan dan pohon yang terbentuk selalu pohon biner.
metode unweighted neighbor – joining. Pada metode ini pembentukan pohon menggunakan pohon – pohon yang diperkirakan dari perbedaan – perbedaan bootstrapping yang digunakan untuk menilai ketidakpastian dari struktur pohon yang dibentuk. Secara nyata, nilai bootstrap yang diberikan pada setiap cabang menunjukkan frekuensi munculnya cabang ini pada pohon yang telah dibootstrap. Sehingga penyebaran aksesi akan lebih jelas pada pohon yang dibootstrap.
Pelaksanaan Penelitian Perawatan dan Pemupukan Percobaan
Perawatan tanaman dilakukan sesuai dengan Standar Prosedur Operasi untuk PTPN IV diantaranya membuang semua gulma berkayu dengan mendongkelnya, menggarpu lalang atau wiping lalang, membabat gulma lunak yang meninggi pertumbuhannya atau membersihkannya dengan cara kimia, menggaruk pasar pikul, pasar hektar dan piringan dengan ukuran TBM I dan II : 150 cm dan TBM III : 200 cm. Rotasi dongkel kayuan 1x2 bulan, garpu atau wiping 1x2 bulan, piringan dan pasar pikul 1x1 bulan.
Tabel 1. Jadwal Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan Tahun Pertama Umur N.P.K.Mg N.P.K.Mg Urea (gr) RP (gr) TSP (gr) KCl (gr) Kies. (gr) Borat (gr) (bln) 15.15.6.4(gr) 13.8.27.4.0,58(gr) Lubang Tanam 500 1 200 3 300 10 TBM 0 300 200 500 6 300 20 9 1 30 12 400 50 13 150 5 1500 50 TBM 1 2500 700 150 150 18 2000 75 21 700 24 1000 500 1000 400 100
Identifikasi Pohon Setiap Aksesi
Setiap pohon dari tiap aksesi ditandai dengan menggunakan plat dari potongan plat seng yang dicat dengan menambahkan nomor baris dan pohon serta nomor jenis aksesi.
Peubah Yang Diamati Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman diukur dengan menggunakan meteran dari permukaan tanah sampai dengan awal berkembangnya duri pada pelepah no.17 saat pengukuran dilaksanakan. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan pada semua tanaman dalam plot.
Panjang Pelepah
Panjang pelepah diukur merupakan pelepah ke – 17 pada saat pengukuran dengan memulai pengukuran dari pangkal mulai daun rudimenter sampai dengan batas pemisahan daun terminal.
Jumlah Lembaran Daun
Seluruh pada satu sisi pelepah dihitung mulai dari duri rudimenter di pangkal sampai dengan batas pecahnya daun terminal
Penghitungan Lebar dan Tinggi Pelepah
Penghitungan lebar dan tinggi pelepah sering disebutkan dengan istilah pcs (petiole cross section). Lebar dan tinggi pelepah ini diukur pada tempat dimana mulai terbentuknya daun rudimenter .
Penghitung Area Luas Daun (Leaf Area)
Luas daun (leaf area) dapat dihitung dengan menggunakan rumusan yaitu: LA = 2 x n x b x 0,55
Dimana n= jumlah anak daun satu sisi, b = nilai rerata contoh tiga anak daun.
Estimasi Berat Kering Daun (Leaf Dry Weight) Estimasi Berat Kering Daun dihitung dengan rumus:
W = 0,102 P + 0,206 dimana P merupakan nilai petiole cross section (pcs) (Fairhust et al, 2003).
Pengukuran Kandungan klorofil a, b dan Total Pada Daun
Pengukuran kadar klorofil secara spektrofotometrik didasarkan pada hukum Lamber – Beer. Beberapa metode untuk menghitung kadar klorofil total, klorofil a dan klorofil b telah dirumuskan sesuai dengan metode Arnon (1949) adalah menggunakan pelarut aceton 85 %, dan mengukur nilai absorbansi larutan klorofil pada panjang gelombang (λ) = 663 dan 645 nm.
Setelah diperoleh pembacaan absorbansi lalu dapat dihitung dengan rumus: klo. a = 12,7 D λ -663 - 2,69 D λ -645 (mg/ l)
klo. b = 22,9 D λ -645 - 4,68 D λ -663 (mg/ l)