Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian , Medan pada ketinggian tempat ± 25 meter di atas permukaan laut. Penelitian dilaksanakan Bulan Mei-September 2014.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas biji rumput belulang biotip reesisten dan sensitif.
Populasi pertama, rumput belulang resisten-parakuat berasal dari areal di kebun induk (Afdeling III), Kebun Adolina, PTPN IV, Perbaungan disebut sebagai populasi resisten rumput belulang Adolina yang disebut EAD. Biotip ini telaah terbukti resisten terhadap glifosat dan parakuat dan telah dikendalikan dengan glifosat dan parakuat selama 26 tahun; Populasi kedua adalah populasi dari rumput belulang dari kampus Universitas Sumatera Utara, sekitar lapangan bola yang disebut EFH dimana glifosat, parakuat dan herbisida lain tidak pernah digunakan untuk pengendaliannya, populasi digunakan sebagai populasi pembanding dan disebut sebagai populasi sensitif herbisida.
Herbisida yang digunakan adalah Parakuat (Gramoxone 276 SL), Ametrin (Amexon 500 SC), Diuron (Bimaron 80 WP), top soil, pasir, kompos, dan pot.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi knapsack “Solo”, label nama, amplop, timbangan, gelas ukur, dan alat lainnya yang mendukung penelitian ini.
Metode Penelitian
Kedua populasi rumput belulang yang berasal dari dua lokasi pengambilan biji berbeda disemaikan dengan cara disebar merata di boks perkecambahan berukuran 30 cm × 22 cm x 5 cm yang telah diisi tanah dan ditutup dengan lapisan tanah tipis. Pada umur dua minggu setelah disemaikan, tanaman dipindah tanam ke dalam pot berdiameter 20 cm yang berisi media tanam topsoil, pasir, dan kompos (2 : 1 : 1) sebanyak 10 bibit per pot dan ditempatkan di tempat terbuka. Pada saat tiga minggu setelah tanam (MST) atau telah berdaun 3-4 helai tanaman disemprot dengan masing-masing jenis herbisida berbeda, yaitu populasi R (Resisten) dan pembandingnya S (Sensitif) dengan parakuat, ametrin, diuron untuk mendapatkan dose response.
Untuk mendapatkan respons dosis kedua populasi rumput belulang (EAD dan EFH) disemprot dengan herbisida dalam beberapa taraf dosis herbisida sebagai berikut:
Parakuat : 0, 50, 100, 200, 400, 800, 1600 g b.a/ha Diuron : 0, 187,5, 375, 750, 1500, 3000, 6000 g b.a/ha Ametrin : 0, 62,5, 125, 250, 500, 1000, 2000 g b.a/ha
Setiap perlakuan dibuat dalam tiga ulangan. Perlakuan tersebut disusun dalam sebuah rancangan acak kelompok (RAK). Data kemampuan bertahan hidup masing-masing biotip (EAD dan EFH) dibandingkan pada setiap dosis yang diuji untuk menentukan respons kedua biotip tersebut.
Data hasil penelitian pada perlakuan yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT) taraf 5%.
LD50(Lethal Dose 50) dihitung berdasarkan analisis probit yang berdasarkan pada jumlah gulma yang bertahan hidup dari masing-masing dosis yang diuji.
Pelaksanaan Penelitian
Penentuan Populasi Resisten-Parakuat
Rumput belulan yang diambil berasal dari tanaman induk yang masih bertahan hidup setelah disemprot dengan herbisida parakuat. Biji-biji tersebut diambil dari areal Kebun Adolina PTPN IV (Afdeling III) lalu dibawa dan ditanam di lahan percobaan Fakultas Pertanian USU, Medan.
Pengambilan Biji
Masing-masing populasi dari masing-masing lokasi yang berbeda. Pada populasi EAD yang digunakan, biji diambil dari induk di areal pertanaman kelapa sawit di Kebun Adolina, PTPN IV, Perbaungan, pada areal Kebun Induk (Afdeling III) tersebut telah disemprot dengan parakuat secara terus-menerus. Biji yang diambil adalah biji yang telah matang yang ditandai pada bagian buahnya telah berwarna coklat dan biji mudah rontok, diambil sebanyak-banyaknya dari induk untuk dijadikan sumber biji untuk penanaman pada populasi EAD. Jumlah populasi EAD yang menjadi sumber biji ± 350 induk rumput belulang. Sedangkan populasi pembanding EFH, biji diambil dari areal kebun percobaan Fakultas Hukum . Populasi rumput belulang pembanding ini tidak pernah disemprot dengan herbisida parakuat dan herbisida lainnya. Jumlah populasi EFH yang menjadi sumber biji ± 350 induk rumput belulang.
Persiapan Lahan dan Media
Lahan disiapkan dengan cara dibersihkan dari gulma. Media tumbuh yang digunakan adalah topsoil, pasir, dan kompos dengan perbandingan 2:1:1. Media tersebut dimasukkan ke dalam pot berdiameter 20 cm sebanyak 10 bibit untuk tiap pot.
Penyemaian dan Penanaman
Biji kedua populasi tersebut disemaikan pada hari yang sama di dalam boks perkecambahan berukuran 30 cm × 22 cm x 5 cm secara terpisah. Media yang digunakan untuk penyemaian adalah top soil, kompos, pasir dengan perbandingan 2 : 1 : 1, lalu pada umur empat belas hari setelah tanam (HST), pada saat berdaun satu dipindahtanamkan ke dalam pot berdiameter 20 cm sebanyak 10 bibit untuk tiap pot dengan yang sama pada saat penyemaian.
Pemeliharaan Penyiraman
Penyiraman dilakukan apabila diperlakukan. Hal ini dilihat berdasarkan kondisi cuaca di lapangan.
Aplikasi Herbisida
Aplikasi dilakukan setelah menghitung volume semprot berdasarkan hasil kalibrasi alat semprot. Tanaman disemprot pada fase pertumbuhan berdaun 3-4 helai pada umur 3 MST. Semua sampel dengan dosis yang sama disusun sejajar di luar areal percobaan agar memudahkan penyemprotan. Penyemprotan dilakukan dengan cara mengisi tangki dengan campuran air dan herbisida sebanyak dua liter yang kemudian diaplikasikan dari dosis tertinggi ke terendah. Pada saat penggatian dosis herbisida, alat semprot dikosongkan dari sisa-sisa herbisida dosis
sebelumnya agar tidak terjadi dari kesalahan aplikasi. Saat pengaplikasian nozel diarahkan pada tanaman dengan tinggi yang disesuaikan dengan tinggi tanaman. Penyemprotan dilakukan pada waktu cuaca cerah. Untuk menghindari kemungkinan terkena hujan, pot yang telah disemprot ditutupi dengan naungan plastik selama satu malam lalu dibuka kembali pada pagi hari berikutnya.
Pengamatan Parameter
Jumlah gulma bertahan hidup
Jumlah gulma yang bertahan hidup dihitung untuk masing-masing pot pada 21 hari setelah aplikasi (HSA). Gulma dikatakan bertahan hidup apabila masih mungkin untuk tumbuh.
Jumlah anakan
Jumlah anakan yang dihasilkan oleh tiap rumput lulangan dihitung pada masing-masing pot pada 6 MSA.
Bobot Kering
Gulma yang hidup sampai minggu keenam setelah aplikasi, dipotong tepat pada leher akar (permukaan tanah) dari masing-masing pot. Gulma dari setiap satu pot dimasukkan ke dalam satu amplop. Kemudian diovenkan pada temperatur 70ºC selama 72 jam, setelah bobot keringnya konstan. Lalu ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik. Lalu diambil datanya. Pengambilan data untuk tiap parameter diambil dari setiap pot kemudian dirata-ratakan.