Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara. Lama waktu penelitian tiga bulan, mulai dari Juli sampai dengan September 2005.
Bahan dan Alat
Bahan (ungko dan vegetasi di daerah penelitian) dan peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian ini peta lokasi, lembaran kerja, binokuler, kompas, altimeter, pita, meteran, termometer, higrometer, kamera, tenda dum, ransel (tas punggung), GPS (global positioning system), tali plastik, kantong plastik, kertas koran, alkohol 70%, gunting, pisau, kertas label serta lembaran borang.
Metode
Penentuan lokasi penelitian
Informasi awal tentang lokasi penelitian (data sekunder) diperoleh dari peta topografi dan penutupan lahan yang diperoleh dari Bakosurtanal dan Departemen Kehutanan/Perkebunan. Informasi tentang keberadaan kelompok ungko di lokasi penelitian diperoleh berdasarkan survei pendahuluan pada tahun 2004 dan informasi dari petugas taman nasional serta masyarakat sekitar lokasi. Berdasarkan informasi-informasi diatas, kemudian dibuat overlay-nya untuk menentukan titik-titik pengamatan dan pengambilan sampel di lapangan.
Koleksi Data
Koleksi data dilakukan melalui studi pustaka, wawancara dan pengamatan langsung (terhadap populasi, vegetasi dan karakteristik morfologi). Studi pustaka dikumpulkan dari berbagai buku teks, jurnal dan karya ilmiah lainnya. Wawancara dilakukan terhadap petugas lapangan dan masyarakat sekitar. Data yang dikumpulkan mengenai lokasi penelitian, tipe habitat, analisis vegetasi, populasi (kepadatan populasi dan ukuran kelompok), pengaruh masyarakat terhadap ungko dan habitatnya (perburuan, perambahan hutan dan budaya) dan karakteristik (secara kualitatif). Pengamatan dilakukan setiap hari, saat matahari mulai terbit (sekitar pukul 07.00 WIB) sampai matahari terbenam (pukul 17.00 WIB).
Karakteristik Morfologi Ungko
Pengamatan karakteristik dilakukan secara kualitatif meliputi pola warna rambut, perbedaan antara jantan betina, perbedaan berdasarkan stratifikasi umur, pola tubuh dan pola wajah serta ekstrimitas. Data akan dianalisis secara dekskiptif. Pengamatan karakteristik kuantitatif tidak dapat dilakukan karena ungko di lokasi penelitian tidak boleh ditangkap, tetapi ukuran-ukuran tubuh ungko didapat dari kilik masyarakat di Sumatera Barat sebanyak jantan 2 ekor dan betina 1 ekor. Pengamatan secara kualitatif terhadap 12 kelompok ungko di lapangan dapat diketahui ukuran jantan lebih besar dibanding betina dengan menggunakan penciri kualitatif.
Populasi Ungko
Data populasi yang dikumpulkan berupa kepadatan kelompok dan individu, ukuran kelompok dan komposisi kelompok. Kepadatan kelompok atau individu menunjukkan jumlah kelompok atau individu satwa per km2. Ukuran kelompok adalah jumlah individu dalam satu kelompok, sedangkan komposisi kelompok menggambarkan individu dalam kelompok berdasarkan jenis kelamin dan kelas umur. Populasi ungko diperoleh dengan melakukan pengamatan menggunakan metode jalur (line transects method). Pengamatan populasi dilakukan dengan menelusuri setiap jalur yang telah di tentukan dan bila menemukan ungko, dilakukan pengambilan data dengan mencatat: jumlah kelompok, jumlah seluruh individu dalam kelompok, jarak antara pengamat dan kelompok target, waktu perjumpaan serta panjang jalur yang ditelusuri. Jalur yang digunakan sebanyak dua buah dengan panjang masing-masing 2,30 dan 2,35 km dengan lebar jangkauan pandang 100 m pada kedua sisi jalur yaitu 50 m kiri dan 50 m kanan. Wilson dan Wilson (1975) mengatakan pandangan terjauh yang dapat dilakukan pengamat untuk melihat satwa primata di hutan adalah 50 m. Pengamatan untuk mengetahui populasi ungko dilakukan sepuluh kali pengulangan (sensus dilakukan sepuluh kali di setiap jalur yang telah ditentukan) sehingga panjang total jalur pengamatan adalah 46,5 km. Jalur diberi tanda pada setiap 50 m untuk memudahkan mencatat lokasi perjumpaan. Gambar 5 menyajikan disain line transect sampling yang digunakan.
--- 50 m 2.300 m --- 50 m ---
Gambar 5 Disain line transect sampling populasi
Pengamatan dilakukan setiap hari, dimulai pukul 07.00 WIB. Peneliti berjalan sepanjang jalur yang telah di tentukan dan bila menemukan ungko, dilakukan pencatatan: posisi kuadrat perjumpaan dengan menggunakan GPS, jumlah kelompok, jumlah individu dalam kelompok, jarak antara pengamat dan kelompok target, waktu perjumpaan serta panjang jalur yang telah ditempuh. Peneliti akan mengidentifikasi kelompok atau individu ungko yang ditemukan selama 10 menit (Mouria et al.2003)
Peubah ukuran populasi adalah komposisi kelompok meliputi jumlah individu dan kelas umur setiap individu dalam kelompok ungko yang ditemukan. Analisis data kepadatan populasi dihitung dengan membandingkan besarnya kelompok dengan luas jelajahnya. Penentuan estimasi kepadatan (D) populasi ungko dilakukan dengan cara sebagai berikut:
D = jumlah individu/ total areal penelitian Habitat
Untuk mengetahui vegetasi habitat ungko dilakukan observasi lapangan untuk menentukan kawasan habitat yang tergolong hutan primer dan hutan sekunder. Kawasan hutan yang digolongkan sebagai hutan sekunder adalah hutan yang berada di sekitar pemukiman penduduk (enclave) dan kawasan yang di lokasi bekas ladang tua,jalan setapak atau kawasan hutan ini sudah terganggu oleh aktivitas penduduk berupa penebangan atau perkebunan dalam hutan sebagai sumber buah dan tempat buru. Sebaliknya, hutan primer adalah kawasan hutan yang relatif jauh dari pemukiman sehingga belum terganggu oleh aktivitas penduduk. Pengamatan dilakukan terhadap stratifikasi hutan, topografi dan sumber air di areal hutan tersebut.
Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi dilakukan dengan metode jalur berpetak yang dibuat dalam jalur sensus populasi dengan panjang masing-masing 2,3 km dan 2,35 km. Jalur I terletak pada ketinggian 637-764 m dpl, sedangkan Jalur II terletak pada ketinggain 791-967 m dpl. Cara pengambilan dilakukan dengan menggunakan plot yang berbentuk empat persegi (bujur sangkar) petak yang besar mengandung petak-petak yang lebih kecil yang disebut nested sampling. Plot dibuat di tempat ungko berada dan mengikuti kontur lahan. Data yang dikumpulkan pada setiap plot bujursangkar meliputi: tingkat pohon (diameter > 35 cm), tingkat tiang (diameter antara 10 cm dan 35 cm), tingkat pancang (tinggi > 1,5 m dan diameter paling besar 10 cm), dan tingkat anakan (tinggi mencapai 1,5 m dan diameter kurang dari 10 cm). Tingkat pohon ditentukan dari petak berukuran 20x20 m, tingkat tiang dan pancang ditentukan dari bujur sangkar 10x10 m dan 5x5 m, dan tingkat semai ditentukan dari bujur sangkar dengan luas 2x2 m yang dibuat di dalam petak utama (Gambar 6) (Soerianegara dan Indrawan 2002). Pada setiap lokasi penelitian dibuat dua plot vegetasi berukuran 20x 100 m (5 plot ukuran 20x20), sehingga jumlah keseluruhan 4 plot. Pengukuran diameter untuk tingkat pohon, tiang, dan pancang diukur pada batang setinggi dada.
B
Gambar 6 Skema analisis vegetasi dengan jalur petak Keterangan :
A. petak ukur 20x20 m untuk pengamatan tingkat pohon;
B. petak ukur 10x10 m untuk pengamatan tumbuhan tingkat tiang; C. petak ukur 5x5 m untuk pengamtan tumbuhan tingkat pancang; A A C A B C D D
D. petak ukur 2x2 m untuk pengamatan tumbuhan tingkat semai dan tumbuhan bawah, herba dan semak.
Pada setiap petak peubah yang diamati adalah 1) nama jenis (untuk jenis yang belum diketahui dibuat herbarium), 2) jumlah individu per jenis dalam petak pengamatan, 3) frekuensi (jumlah individu pada setiap petak contoh), dan 4) pendugaan tinggi pohon dan keliling/ diameter pohon. Dari hasil pengukuran akan dihitung kerapatan, kerapatan relatif, dominansi, dominansi relatif dan indeks nilai penting.
Analisis ini memerlukan tiga parameter kuantitatif, yaitu kerapatan, dominansi dan frekuensi. Total nilai relatif dari ketiga parameter tersebut disebut Indeks Nilai Penting (Soerianegara dan Indrawan, 2002). Adapun ukuran-ukuran vegetasi ditentukan menurut rumus-rumus (Soerianegara dan Indrawan, 2002), sebagai berikut:
Jumlah dari individu a ) Kerapatan =
Luas contoh
Kerapatan dari suatu spesies/jenis
b ) Kerapatan relatif (%) = x 100%
Kerapatan seluruh jenis Jumlah bidang dasar c ) Dominansi =
Luas petak contoh
Dominansi suatu spesies/jenis
d ) Dominansi relatif (%) = x 100%
Dominansi dari seluruh jenis
Jumlah plot diketemukannya suatu spesies/jenis e ) Frekuensi =
Jumlah seluruh plot Frekuensi dari suatu jenis
f ) Frekuensi relatif (%) = x 100% Frekuensi dari seluruh jenis
Indeks Nilai Penting (INP) = kerapatan relatif (%) + dominansi relatif (%) + frekuensi relatif (%)
Kerapatan (K) merupakan banyaknya batang (batang = individu) per satuan luas, seperti banyaknya (bilangan) per ha, maka nilai itu disebut kerapatan (density). Untuk menetapkan nilai penting atau dominansi suatu jenis terhadap jenis lain dalam tegakan maka diperlukan nilai kerapatan relatif (KR) yaitu persentase jumlah
individu dari suatu jenis yang ada.
Frekuensi (F), yaitu perbandingan banyaknya petak yang terisi oleh suatu jenis terhadap jumlah petak-petak seluruhnya, yang biasanya dinyatakan dalam persen, adalah ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya jenis itu di dalam tegakan. Untuk menghitung nilai penting atau dominansi diperlukan pula besaran frekuensi relatif (FR) yaitu persen frekuensi suatu jenis terhadap jumlah frekuensi semua jenis.
Dominansi (D) suatu jenis terhadap jenis lain di dalam tegakan dapat dinyatakan berdasarkan banyaknya batang dan kerapatan (density), persen penutupan (cover precentage) dan luasnya bidang dasar (basal area), volume, biomasss dan indeks nilai penting (importance value index). Di dalam tegakkan hutan dominan harus ditetapkan menurut masing-masing lapisan, yaitu untuk pohon-pohon dan tumbuhan –tumbuhan bawah. Dominansi relatif (DR) yaitu persen dominansi suatu jenis terhadap dominansi seluruh jenis
Indeks Nilai Penting (INP) merupakan hasil penjumlahan kerapatan relatif, frekuaensi relatif dan dominansi relatif.
Pengamatan sumber pakan dilakukan dengan mencatat keanekaragaman spesies pakan yang terdapat pada plot analisis vegetasi dan juga berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar. Dalam pelaksanaannya peneliti akan mencatat jenis dan bagian tumbuhan yang dimakan seperti buah, daun, bunga, jamur dan pakan lainnya seperti serangga.
Aspek Konservasi
Untuk mengetahui aktivitas masyarakat dalam pemanfaatan hutan, persepsi terhadap ungko serta tanggapan atas kegiatan konservasi maka diadakan survei dengan metode wawancara langsung kepada masyarakat sekitar dengan menggunakan borang. Survei dengan wawancara meliputi aktivitas perburuan terhadap ungko, perambahan hutan sebagai habitat dan budaya masyarakat yang
berkaitan dengan ungko dan habitatnya. Desa yang paling dekat dengan lokasi penelitian adalah Desa Aek Nangali. Desa ini dibagi atas tiga lorong atau dusun yaitu lorong Batunabontar, lorong Pasar dan lorong Malaka, diantara ketiga lorong tersebut lorong Batunabontar yang memiliki jumlah penduduk yang paling banyak dibanding lorong yang lainnya. Desa Aek Nangali sendiri memiliki sekitar 300 kepala keluarga dengan jumlah dengan jumlah penduduk sekitar 1200 jiwa. Responden yang akan diwawancarai adalah mayarakat tiga lorong yang dipilih secara acak sebanyak 30 responden. Wawancara dilakukan dengan metode semi struktural yang dibuat untuk mendapatkan jawaban secara terbuka. Survei ditambahlan pula dengan data sekunder dari kepala desa, kelompok masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat. Hasil wawancara diperoleh dengan menggunakan borang, disajikan dalam bentuk diagram dan akan dianalisis secara deksriptif.