4 PERBANDINGAN ANTARA METODE TRANSEK FOTO
4.2 Bahan dan Metode
4.2.1 Tempat dan waktu penelitian
Penelitian dilakukan di sepuluh lokasi penelitian di Kepulauan Seribu (Tabel 1). Untuk masing-masing lokasi penelitian dipilih satu stasiun, sehingga seluruhnya terdapat sepuluh stasiun penelitian. Urutan stasiun dilakukan berdasarkan urutan penelitian di lapangan. Posisi koordinat lintang dan bujur stasiun penelitian di masing-masing lokasi pulau disajikan pada Lampiran 2.
37
Tabel 1 Lokasi penelitian beserta kode stasiunnya Kode Stasiun Nama pulau
ST01 Semak Daun
ST02 Air
ST03 Kotok Besar ST04 Panjang
ST05 Pantara Kecil (Hantu Kecil)
ST06 Jukung
ST07 Belanda
ST08 Putri
ST09 Tidung
ST10 Tikus
4.2.2 Metode pengambilan data
Pengambilan data di lapangan dilakukan dengan cara penyelaman menggunakan peralatan selam SCUBA. Untuk setiap stasiun penelitian, diletakkan garis transek dengan cara meletakkan roll meter sepanjang 70 m yang diletakkan pada kedalaman sekitar 3-5 m. Garis transek dipasang sejajar garis pantai. Selanjutnya dengan bantuan garis transek tersebut, dilakukan pengambilan data menggunakan ketiga metode yang berbeda, yaitu metode BT, LIT dan UPT.
Untuk metode BT, transek dilakukan pada bidang luasan 1 meter sebelah kiri dan 1 meter sebelah kanan sepanjang 70 m garis transek, sehingga luas bidang transek seluruhnya adalah (2 m x 70 m) = 140 m2. Semua karang keras yang berada di dalam luasan transek diukur panjang dan lebar maksimumnya. Untuk metode LIT, transek dilakukan sepanjang garis transek 70 m. Semua biota dan substrat yang berada tepat di bawah garis transek dicatat posisinya pada garis transek (transition) dengan ketelitian hingga 1 cm. Untuk metode UPT, pengambilan foto dilakukan setiap rentang jarak 1 m, dimulai dari meter ke-1 hingga meter ke-70. Kamera yang digunakan untuk pemotretan adalah kamera Olympus Camedia C8080WZ (selanjutnya hanya disebut sebagai kamera ”WZ” saja). Pemotretan dilakukan pada jarak sekitar 60 cm dari dasar dan tanpa menggunakan pembesaran (zoom) sehingga luas bidang pemotretan yang dihasilkan untuk setiap framenya sebesar (58cm x 44cm) atau 2552 cm2. Teknis
38
pelaksanaannya yang lebih rinci dari masing-masing metode telah diuraikan pada Bab 3 Metodologi Penelitian dari disertasi ini.
Selain data lapangan yang diperoleh dari garis transek, lamanya waktu yang diperlukan untuk pengambilan data di lapangan juga dicatat. Lamanya waktu pengambilan data di lapangan (in situ), dan lamanya waktu pemasukan data ke dalam komputer (data entry) (ex situ) diperlukan untuk melihat tingkat efisiensi suatu metode terhadap metode yang lainnya.
4.2.3 Analisis data
Data-data yang diambil dari lapangan belum berupa data-data yang siap pakai. Data-data tersebut perlu dimasukkan ke dalam komputer dan disimpan di dalam lembaran kerja (worksheet) yang siap untuk diolah lebih lanjut. Data mentah (row data) yang diperoleh pada pengambilan data menggunakan metode BT dan LIT merupakan data yang bisa langsung dimasukkan ke dalam komputer. Hal ini berbeda dengan pengambilan data menggunakan metode UPT dimana datanya masih dalam bentuk foto-foto yang masih perlu dianalisis di ruang kerja untuk mendapatkan data kuantitatif yang siap untuk dianalisis lebih lanjut. Jadi, pada penggunaan metode UPT lamanya waktu pemasukan data ke dalam komputer merupakan waktu untuk proses analisis foto, dimana data yang diambil dari lapangan yang masih berupa foto-foto dianalisis dengan menggunakan komputer.
Foto-foto hasil pemotretan bawah air dianalisis menggunakan piranti lunak
(software) CPCe (Kohler and Gill 2006). Piranti lunak ini bisa diunduh
(download) secara bebas lewat internet. Analisis foto dilakukan berdasarkan keseluruhan gambar (entire image) dari masing-masing foto dan dilakukan dengan menggunakan teknik menghitung luas area (Gambar 16).
Penggunaan panjang transek 70 m dengan pemotretan dimulai dari titik 1 m dan rentang jarang pemotretan 1 m akan menghasilkan foto sebanyak 70 frame
foto. Selanjutnya persentase tutupan untuk setiap kategori biota dan substrat dihitung menggunakan rumus :
�������������������������= ������������������������
39
Gambar 16 Perhitungan luas area dari masing-masing kategori.
Sedangkan persentase tutupan untuk data yang diperoleh dengan menggunakan metode LIT dihiung menggunakan rumus:
�������������������������= ������������������������������������
������������������� � 100%
Data yang diambil menggunakan metode BT berupa data panjang dan lebar maksimum dari setiap jenis karang keras yang berada dalam luasan transek. Untuk menghitung persentase tutupan karang keras dalam suatu luasan transek, pertama-tama dihitung terlebih dahulu luas dari setiap jenis karang yang dijumpai. Pada umumnya bentuk karang dilihat dari permukaan (atas) menyerupai bidang elips, sehingga luas bidang setiap jenis karang diperkirakan menggunakan rumus luas bidang elips yaitu = ½P x ½L x π, dimana P = panjang maksimum; L = lebar maksimum; dan π = 3,14. Untuk kondisi dimana P = L maka bentuk bidangnya adalah lingkaran. Selanjutnya persentase tutupan karang hidup dihitung berdasarkan rumus:
����������������������������= ��������������������
���������������� � 100%
Untuk melihat efisiensi suatu metode ditentukan berdasarkan analisis biaya dan waktu (cost and time analysis) yaitu dengan mempertimbangkan faktor biaya dan waktu yang harus ditanggung akibat penggunaan metode yang dipilih. Total biaya dan waktu masing-masing metode lalu distandarisasikan dengan cara membaginya dengan nilai total biaya dan waktu yang terendah di antara ketiga
40
metode tersebut, dan nilainya disebut sebagai nilai koefisien efisiensi biaya dan waktu (ψ). Semakin efisien suatu metode, maka nilai ψ akan lebih rendah dibandingkan nilai ψ metode yang lainnya.
Untuk uji perbandingan antara ketiga metode yang dipakai (BT, LIT dan UPT), digunakan analisis ragam (anova = analysis of variance) untuk rancangan percobaan dengan pengukuran berulang (repeated-measures experimental design) (Zar 1996), karena ketiga metode (perlakuan) diterapkan pada garis transek yang sama di masing-masing stasiun penelitian. Data yang dibandingkan adalah data persentase tutupan karang keras (HC). Sedangkan untuk kelompok yang lainnya yaitu karang mati (DS), alga (ALG), fauna lain (OF) dan abiotik (ABI), perbandingan hanya dilakukan untuk persentase tutupan yang diperoleh dari metode LIT dan UPT saja karena pada metode BT tidak mengukur kelompok- kelompok tersebut. Pada metode BT, data yang diukur hanya panjang dan lebar maksimum karang keras (HC) saja. Uji yang digunakan untuk kelompok DS, ALG, OF dan ABI yaitu uji t berpasangan. Anova untuk rancangan percobaan dengan pengukuran berulang juga dilakukan terhadap data keanekaragaman karang keras seperti jumlah jenis (S), indeks keanekaragaman (H’) dan indeks kemerataan (J’).
Bila pada anova disimpulkan bahwa tidak semua data menghasilkan nilai dugaan yang sama, maka dilakukan uji perbandingan berganda menggunakan uji simultan Tukey (Neter et al. 1996, Zar 1996). Uji ini dilakukan untuk menemukan metode mana yang memiliki nilai dugaan yang sama ataupun nilai dugaan yang berbeda.
Sebelum dilakukan uji statistik, untuk memenuhi asumsi data berdistribusi normal, bila perlu data ditransformasikan terlebih dahulu (Sokal and Rohlf 1995, Neter et al. 1996, Zar 1996). Metode transformasi Box-Cox (Sokal and Rohlf 1995, Neter et al. 1996, Zar 1996) diterapkan pada data untuk menyelidiki transformasi yang sesuai sebelum dilakukan pengujian. Untuk data berupa persentase, sebelum dilakukan uji statistik data ditransformasi ke bentuk transformasi Arcsin akar pangkat dua (p’ = arcsin √p) (Sokal and Rohlf 1995, Zar 1996). Selain itu, berdasarkan frekuensi kehadiran dari setiap jenis karang keras di masing-masing stasiun penelitian, dilakukan analisis Multi Dimensional
41
Scaling (MDS) (Clarke and Warwick 2001) untuk melihat posisi dari masing- masing Metode ataupun Stasiun. Untuk anova dan uji perbandingan digunakan program Minitab v16, sedangkan analisis MDS menggunakan Primer v5 (Clarke and Gorley 2001).