Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Medan pada ketinggian tempat sekitar 25 m dpl. Analisis dilakukan di Laboratorium Research & Development Asian Agri Tebing Tinggi dan Laboratorium Kimia/Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian USU Medan. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli 2014 sampai bulan Februari 2015 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah tanah Inceptisol yang diambil di daerah Kwala Bekala, kotoran ayam dan kapur dolomit sebagai bahan utama dalam penelitian, label sebagai penanda perlakuan pada polibag, benih Jagung varietas pioneer-23 sebagai tanaman indikator, pupuk Urea (45% N) pupuk SP-36 (36% P2O5) dan pupuk KCl (60% K20) sebagai pupuk dasar, air untuk menyiram tanaman, dan bahan-bahan pendukung lainnya untuk keperluan penelitian atau kebutuhan analisis di laboratorium.
Alat yang digunakan adalah cangkul untuk mengambil sampel tanah, goni untuk wadah sampel tanah, polibag sebagai wadah/media tanam, plastik bening sebagai wadah sampel tanah dan bahan, timbangan untuk mengukur bobot, ayakan 10 mesh untuk mengayak, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, gembor/ember untuk keperluan menyiram, pisau cutter untuk memotong tanaman atau bahan, dan alat-alat pendukung lainnya untuk keperluan penelitian di lapangan atau analisis di laboratorium.
Pelaksanaan Penelitian Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor. Faktor perlakuan I adalah Kotoran Ayam (A) dengan 4 taraf dosis, faktor perlakuan II adalah Dolomit (D) dengan 3 taraf dosis, dan dengan 3 ulangan. Sehingga diperoleh unit percobaan 4 x 3 x 3 = 36 unit.
Taraf dosis perlakuan Kotoran Ayam (A) : A0 = 0 ton/ha (0 g/polibag)
A1 = 7,5 ton/ha (18,75 g/polibag) A2 = 15 ton/ha (37,5 g/polibag) A3 = 22,5 ton/ha (56,25 g/polibag) Taraf dosis perlakuan Dolomit (D) : D0 = tanpa Dolomit
D1 = penetapan kapur ≈ 1 x Aldd (7,36 g Dolomit/polibag)
D2 = penetapan kapur kurva Ca(OH)2≈ pH 6.5 (2,72 g Dolomit/polibag) Sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan sebagai berikut :
A0D0 A1D0 A2D0 A3D0
A0D1 A1D1 A2D1 A3D1
A0D2 A1D2 A2D2 A3D2
Model linier untuk RAK :
Yijk = µ + βi + Aj + Dk + (AD)jk + €ijk
Yijk = hasil pengamatan pada ulangan taraf ke-i, pemberian kotoran ayam pada taraf ke-j, dan pemberian dolomit pada taraf ke-k.
µ = rataan umum
βi = pengaruh ulangan ke-i
Aj = pengaruh kotoran ayam pada taraf ke-j Dk = pengaruh pemberian dolomit pada taraf ke-k
€ijk = galat perlakuan
Kemudian untuk perlakuan yang nyata menurut uji sidik ragam, dilakukan uji nilai rataan menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Pengambilan dan Persiapan Sampel Tanah
Tanah Inceptisol diambil dari daerah kampus baru USU di Kwala Bekala, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, diambil pada lapisan atas tanah (top soil). Kemudian dikeringudarakan dan diayak dengan ayakan 10 mesh untuk mendapatkan sampel tanah yang tidak terganggu.
Kemudian dilakukan pengukuran kadar air (% KA) tanah untuk menentukan banyaknya tanah yang dimasukkan kedalam polibag, sehingga tanah yang digunakan sebanyak 5kg berat tanah kering oven (BTKO) atau setara dengan 5,8 kg berat tanah kering udara (BTKU). Setelah itu, tanah dimasukkan ke dalam polibag dan disusun sesuai dengan bagan penelitian seperti pada Lampiran 1. Analisis Awal Tanah Inceptisol Kwala Bekala
Setelah tanah telah dimasukkan ke dalam polibag dan disusun sesuai dengan bagan penelitian, dilakukan analisis awal sampel tanah untuk mengetahui keadaan awal tanah sebelum diaplikasikan bahan penelitian.
Parameter yang diukur meliputi; pH tanah, kadar C-organik tanah, dan P-tersedia tanah. Hasil analisis awal tanah Inceptisol Kwala Bekala dapat dilihat pada Lampiran 2.
Persiapan Kotoran Ayam dan Dolomit
Kotoran ayam sebagai faktor perlakuan I diperoleh dari peternakan ayam Kwala Bekala, kemudian dikeringudarakan dan diayak dengan ayakan 10 mesh. Setelah itu dikomposkan selama sekitar 1 minggu, lalu dilakukan analisis awal
kotoran ayam meliputi; pH H20, C-organik, N total, rasio C/N, dan kadar P205, hasil analisis pada lampiran 3.
Dolomit sebagai faktor perlakuan II diperoleh dari toko pertanian yang berada di Padang Bulan, Medan. Kemudian dolomit diayak dengan ayakan 10 mesh dan ditetapkan banyaknya kebutuhan yang digunakan sesuai dosis perlakuan dengan menggunakan perhitungan menurut kurva Ca(OH)2 pH 6.5 dan 1 x Aldd. Penetapan kebutuhan kapur dolomit dapat dilihat pada Lampiran 4.
Aplikasi Kotoran Ayam dan Dolomit
Setelah taraf dosis perlakuan ditetapkan, maka kotoran ayam dan dolomit diaplikasikan kedalam polibag sesuai dengan perlakuan masing-masing yang telah ditetapkan pada bagan penelitian. Kemudian diinkubasi selama 2 minggu untuk menghomogenkan antara bahan penelitian dengan sampel tanah.
Analisis Tanah Ahkir Masa Inkubasi Perlakuan
Setelah masa inkubasi perlakuan selesai, diambil sampel tanah dari masing-masing polibag untuk dianalisis di Laboratorium Kimia/Kesuburan tanah Fakultas Pertanian USU Medan dan Laboratorium Research & Development Asian Agri Tebing Tinggi. Parameter yang diukur meliputi; pH tanah, C-organik tanah, dan P-tersedia tanah.
Penanaman dan Pemeliharaan
Sebelum dilakukan penanaman, terlebih dahulu diberikan pupuk dasar sesuai dosis pupuk jagung varietas pioneer-23 pada Lampiran 5 seperti 300kgN/ha (0,75g urea/polibag), 100kg P2O5 (0,25g SP-36/polibag), dan 50kg K2O/ha (0,125g KCl/polibag) ke semua perlakuan. Kemudian ditanam benih
jagung kedalam polibag. Pemeliharaan dilakukan dengan menyiram tanaman setiap hari dan pembersihan gulma yang tumbuh disekitar tanaman Jagung.
Pemanenan
Dilakukan pemanenan setelah tanaman jagung berumur sekitar 7 minggu atau sampai pada ahkir masa vegetatif tanaman. Sebelum dipanen, terlebih dahulu diukur tinggi tanaman jagung menggunakan meteran kemudian dipisahkan atau dipotong bagian tajuk dan akar tanaman menggunakan cutter dan dibersihkan. Analisis tanaman setelah ahkir masa vegetatif tanaman
Setelah diperoleh bagian tajuk dan akar tanaman Jagung, selanjutnya diovenkan selama sekitar 2 hari pada suhu 750C dan ditimbang berat masing-masing. Kemudian tajuk tanaman jagung digrinder dan dianalisis di Laboratorium Research & Development Asian Agri Tebing Tinggi untuk diukur kadar hara P tanaman untuk selanjutnya dihitung serapan hara P tanaman.
Parameter yang diukur
1. Analisis tanah setelah ahkir masa inkubasi tanah
- pH tanah dengan metode elektrometri menggunakan pH meter - C-organik tanah dengan metode Walkley and Black
- P-tersedia tanah dengan metode Bray-II
2. Analisis tanaman setelah akhir masa vegetatif tanaman - Tinggi tanaman (cm)
- Bobot kering akar (g) - Bobot kering tajuk (g)
- Serapan hara P tanaman (mg/tanaman) dengan perhitungan : kadar P tanaman x bobot kering tajuk (mg)