• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

P- Tersedia Tanah

Hasil sidik ragam seperti pada Lampiran 9 menunjukkan aplikasi tunggal kotoran ayam meningkatkan P-tersedia tanah, tetapi aplikasi tunggal dolomit dan interaksi keduanya tidak nyata meningkatkan P-tersedia tanah. Berikut hasil uji DMRT P-tersedia tanah Inceptisol Kwala Bekala ahkir inkubasi kotoran ayam dan dolomit ke tanah pada Tabel 3.

Tabel 3. P-tersedia tanah Inceptisol ahkir inkubasi kotoran ayam ke tanah

Perlakuan Dosis P-tersedia

---ppm---

A0 0 ton/ha 1,54c

A1 7,5 ton/ha 20,32b

A2 15 ton/ha 32,09a

A3 22,5 ton/ha 35,61a

Keterangan: angka-angka pada kolom yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berarti nyata menurut uji DMRT taraf 5%.

Dari Tabel 3 pemberian kotoran ayam secara linier pada perlakuan A1, A2, dan A3 meningkatkan P-tersedia tanah. Pemberian pada perlakuan A3 (dosis 22,5 ton/ha) paling tinggi dalam meningkatkan P-tersedia tanah bila dibandingkan pada kontrol dari 1,54 ppm menjadi 35,61 ppm dengan kriteria sangat rendah menjadi sangat tinggi.

Tabel 3.1. P-tersedia tanah Inceptisol ahkir inkubasi dolomit ke tanah

Perlakuan Dosis P-tersedia

---ppm---

D0 tanpa dolomit 20,74

D1 dolomit ≈ Aldd 19,07

Dari Tabel 3.1 pemberian dolomit tidak nyata dalam meningkatkan P-tersedia tanah.

Ahkir Masa Vegetatif Tanaman Tinggi Tanaman Jagung

Hasil sidik ragam seperti pada Lampiran 10 menunjukkan aplikasi tunggal kotoran ayam meningkatkan tinggi tanaman jagung, tetapi aplikasi tunggal dolomit dan interaksi keduanya tidak nyata meningkatkan tinggi tanaman Jagung. Berikut hasil uji DMRT tinggi tanaman jagung akibat pemberian kotoran ayam dan dolomit ahkir vegetatif tanaman pada Tabel 4.

Tabel 4. Tinggi tanaman jagung akibat pemberian kotoran ayam

Perlakuan Dosis Tinggi tanaman

---cm---

A0 0 ton/ha 106,67c

A1 7,5 ton/ha 165,89b

A2 15 ton/ha 188,72a

A3 22,5 ton/ha 185,33a

Keterangan: angka-angka pada kolom yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berarti nyata menurut uji DMRT taraf 5%.

Dari Tabel 4 pemberian kotoran ayam secara linier pada perlakuan A1, A2, dan A3 meningkatkan tinggi tanaman jagung. Pemberian pada perlakuan A2 (dosis 15 ton/ha) paling tinggi dalam meningkatkan tinggi tanaman jagung bila dibandingkan pada kontrol dari 106,67 cm menjadi 188,73 cm.

Tabel 4.1. Tinggi tanaman Jagung akibat pemberian dolomit

Perlakuan Dosis Tinggi tanaman

---cm---

D0 tanpa dolomit 159,63

D1 dolomit ≈ Aldd 165,50

Dari Tabel 4.1 pemberian dolomit tidak nyata dalam meningkatkan tinggi tanaman Jagung.

Bobot Kering Akar

Hasil sidik ragam seperti pada Lampiran 11 menunjukkan aplikasi tunggal kotoran ayam dan dolomit dapat meningkatkan bobot kering akar, tetapi interaksi keduanya tidak nyata meningkatkan bobot kering akar. Berikut hasil uji DMRT bobot kering akar akibat pemberian kotoran ayam dan dolomit ahkir vegetatif tanaman pada Tabel 5.

Tabel 5. Bobot kering akar akibat pemberian kotoran ayam

Perlakuan Dosis Bobot kering akar

---gram---

A0 0 ton/ha 1,43c

A1 7,5 ton/ha 4,47 b

A2 15 ton/ha 7,93 a

A3 22,5 ton/ha 8,28 a

Keterangan: angka-angka pada kolom yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berarti nyata menurut uji DMRT taraf 5%.

Dari Tabel 5 pemberian kotoran ayam secara linier pada perlakuan A1, A2, dan A3 meningkatkan bobot kering akar. Namun pada perlakuan A2 ke A3 terjadi peningkatan dalam jumlah yang rendah. Pemberian kotoran ayam pada perlakuan A3 (22,5 ton/ha) paling tinggi dalam meningkatkan bobot kering akar bila dibandingkan pada kontrol dari 1,43 cm menjadi 8,28 cm.

Tabel 5.1. Bobot kering akar akibat pemberian dolomit

Perlakuan Dosis Bobot kering akar

---gram---

D0 tanpa dolomit 4,02 b

D1 dolomit ≈ Aldd 6,47 a

D2 dolomit ≈ pH 6,5 6,10 a

Keterangan: angka-angka pada kolom yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berarti nyata menurut uji DMRT taraf 5%.

Dari Tabel 5.1 pemberian dolomit meningkatkan bobot kering akar tanaman jagung. Peningkatan tertinggi terjadi pada perlakuan D1 bila dibandingkan dengan kontrol dari 4,02 cm ke 6,47 cm.

Bobot Kering Tajuk

Hasil sidik ragam seperti pada Lampiran 12 menunjukkan aplikasi tunggal kotoran ayam dan dolomit dapat meningkatkan bobot kering tajuk, tetapi interaksi keduanya tidak nyata meningkatkan bobot kering tajuk. Berikut hasil uji DMRT bobot kering tajuk akibat pemberian kotoran ayam dan dolomit ahkir vegetatif tanaman pada Tabel 6.

Tabel 6. Bobot kering tajuk akibat pemberian kotoran ayam

Perlakuan Dosis Bobot kering tajuk

---gram---

A0 0 ton/ha 4,56 c

A1 7,5 ton/ha 15,71 b

A2 15 ton/ha 27,36 a

A3 22,5 ton/ha 26,10 a

Keterangan: angka-angka pada kolom yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berarti nyata menurut uji DMRT taraf 5%.

Dari Tabel 6 pemberian kotoran ayam secara linier pada perlakuan A1, A2, dan A3 meningkatkan bobot kering tajuk tanaman jagung. Namun pada perlakuan A2 ke A3 terjadi peningkatan dalam jumlah rendah. Pemberian pada perlakuan A3 (22,5 ton/ha) paling tinggi dalam meningkatkan bobot kering tajuk bila dibandingkan pada kontrol dari 4,56 cm menjadi 26,10 cm.

Tabel 6.1. Bobot kering tajuk akibat pemberian dolomit

Perlakuan Dosis Bobot kering tajuk

---gram---

D0 tanpa dolomit 14,05 c

D1 dolomit ≈ Aldd 21,40 a

D2 dolomit ≈ pH 6,5 19,85 b

Keterangan: angka-angka pada kolom yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berarti nyata menurut uji DMRT taraf 5%.

Dari Tabel 6.1 pemberian dolomit dapat meningkatkan bobot kering tajuk tanaman jagung. Peningkatan tertinggi terjadi pada perlakuan D1 bila dibandingkan dengan kontrol dari 14,05 cm ke 21,40 cm.

Serapan Hara P Tanaman

Hasil sidik ragam seperti pada Lampiran 13 menunjukkan kombinasi dari interaksi kotoran ayam dan dolomit dapat meningkatkan serapan hara P tanaman. Berikut hasil uji DMRT serapan hara P tanaman akibat interaksi dari kombinasi kotoran ayam dan dolomit ahkir vegetatif tanaman pada Tabel 7.

Tabel 7. Serapan P tanaman akibat interaksi kombinasi kotoran ayam dan dolomit Kotoran ayam

Dolomit

A0 (0 ton/ha) A1 (7,5 ton/ha) A2 (15 ton/ha) A3 (22,5 ton/ha) ---mg/tanaman--- D0 (tanpa dolomit) 392,77e 3077,32d 5385,14c 3918,33d D1 (dolomit ≈ Aldd) 627,30e 2996,13d 6833,53b 9765,85a D2 (dolomit ≈ pH 6.5) 655,75e 4023,48d 6723,74b 7399,32b Keterangan: angka-angka pada kolom yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berarti nyata menurut

uji DMRT taraf 5%.

Dari tabel 7 dapat dilihat interaksi dari kombinasi berbagai dosis kotoran ayam dan dolomit dapat meningkatkan serapan hara P tanaman. Peningkatan tertinggi pada kombinasi perlakuan A3 dengan D1 yaitu sebesar 9765,85 mg.

Bila dilihat dari interaksinya, pemberian khusus berbagai perlakuan dolomit yang dikombinasikan dengan kotoran ayam hanya pada A0 (kontrol) tidak nyata dalam meningkatkan serapan P tanaman. Kemudian kombinasi dolomit dengan kotoran ayam pada perlakuan A1 tidak nyata meningkatkan serapan P tanaman. Kemudian kombinasi dolomit dengan kotoran ayam pada perlakuan A2 mampu meningkatan serapan P dari 5385,14 mg menjadi 6723,74 mg. Kemudian kombinasi dolomit dengan kotoran ayam pada perlakuan A3 mampu meningkatan serapan P dari 3918,33 mg menjadi 9765,85 mg.

Pembahasan

Aplikasi Kotoran Ayam

Pemberian kotoran ayam secara linier meningkatkan pH tanah Inceptisol pada ahkir masa inkubasi tanah dari 4,87 menjadi 5,67. Peningkatan tertinggi pada dosis 22,5 ton/ha. Ini dikarenakan kotoran ayam pH tanahnya sebesar 8,09 dan bahan organik yang dihasilkan mampu mengkelat logam berat seperti Al pada tanah sehingga pH tanah Inceptisol menjadi meningkat. Hal ini didukung penelitian Suryani (2010) bahwa pemberian kotoran ayam pada dosis 15 ton/ha mampu meningkatkan pH sebesar 5,5. Pernyataan Damanik dkk., (2010) mengatakan kandungan bahan organik yang tinggi pada kotoran ayam mampu mengikat oksida Al yang ada di tanah, sehingga kemasaman tanah berkurang atau pH tanah meningkat.

Pemberian kotoran ayam secara linier meningkatkan kadar C-organik tanah Inceptisol pada ahkir masa inkubasi tanah dari 2,31 % menjadi 2,36 %. Dosis terbaik pada pemberian kotoran ayam 15 ton/ha sebesar 2,36 %. Peningkatan ini dikarenakan C-organik pada kotoran ayam sangat tinggi sebesar 11,43 %, sehingga ada terjadinya input bahan organik ke tanah Inceptisol dan mampu meningkatkan C-organik. Hal ini didukung oleh Hakim dkk., (1986) yang mengatakan penambahan bahan organik pada tanah masam akan mempercepat proses pembebasan karbon sehingga C-organik tanah akan meningkat. Rasyid dan Inayanti (2010) mengatakan inkubasi kotoran ayam selama 2 minggu merupakan waktu terbaik dalam meningkatkan C-organik tanah akibat adanya proses dekomposisi pada tanah yang dipercepat proses penguraian oleh mikroba tanah.

Pemberian kotoran ayam secara linier meningkatkan P-tersedia tanah Inceptisol pada akhir masa inkubasi tanah dari 1,54 ppm menjadi 35,61 ppm. Dosis terbaik pada pemberian kotoran ayam 22,5 ton/ha sebesar 35,61 ppm. Peningkatan dikarenakan kandungan P yang terdapat pada kotoran ayam yang sangat tinggi sebesar 3,43 % sehingga dapat melepaskan jerapan logam-logam berat seperti Al pada P di koloid tanah dan mampu menyuplai hara P ke tanah dan P menjadi meningkatkan ketersediaannya di tanah. Sesuai dengan penelitian Nursyamsi dkk., (1995) yang menyatakan pemberian kotoran ayam dapat meningkatkan ketersediaan P tanah akibat pembentukan senyawa kompleks yang mengkelat logam Al dan Fe sehingga hara P lebih tersedia di tanah.

Pemberian kotoran ayam secara linier dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman Jagung. Khususnya pada dosis 15 ton/ha merupakan dosis terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman Jagung dari 106,67 cm menjadi 188,72 cm, berat kering tajuk dari 4,56 g menjadi 27,36 g, dan berat kering akar dari 1,43 g menjadi 7,93 g. Ini dikarenakan unsur hara P yang terdapat di dalam tanah yang terjadi akibat peningkatan pH tanah, C-organik tanah, dan ketersediaan P tanah Inceptisol hasil pemberian dari kotoran ayam tersebut. Sehingga akar tanaman semakin berkembang untuk menyerap hara, untuk meningkatkan bobot tajuk dan tinggi tanaman jagung. Pertumbuhan tanaman Jagung ini didukung pernyataan Damanik dkk., (2010) dan Winarso (2005) yang menyatakan bahwa peranan utama P pada metabolisme tanaman dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Peranan P ini penting dalam proses fotosintesis, respirasi, dan perkembangan sel tanaman sehingga membantu dalam merangsang pertumbuhan akar, pertumbuhan tajuk tanaman, dan pertambahan tinggi tanaman.

Aplikasi Dolomit

Pemberian dolomit pada ahkir masa inkubasi tanah nyata dalam meningkatkan pH tanah. Peningkatan tertinggi pada aplikasi D1 (dolomit ≈ Aldd) dari 5,16 menjadi 5,52. Namun tidak diikuti dengan parameter yang lain. Hal ini terjadi karena inkubasi dolomit selama 2 minggu mampu meningkatkan pH tanah akibat dari kandungan Ca dan Mg yang menggantikan posisi Al dalam koloid tanah, tetapi belum mampu dalam membebaskan jerapan P dari Al. Oleh sebab itu perlu dilakukan waktu yang lebih lama dalam inkubasi dolomit. Hal ini dinyataan Kuswandi (1993) bahwa, dengan pengapuran pH tanah akan meningkat, dikarenakan suplai Ca dan Mg yang menggeser kedudukan H+ dipermukaan koloid tanah sehingga kemasaman tanah berkurang. Begitu juga pada penelitian Lokasari (2009) menyatakan inkubasi dolomit selama 2 minggu hanya mampu meningkatkan pH tanah, tetapi tidak menyuplai C-organik karena dolomit tidak mengandung karbon, dan belum mampu meningkatkan ketersediaan P di tanah.

Pemberian dolomit meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung dari bobot kering tajuk dan bobot kering akar tanaman, tetapi tidak mendukung dalam pertambahan tinggi tanaman. Ini disebabkan karena dolomit memiliki kandungan hara Ca dan Mg yang mampu mendukung dalam perkembangan akar untuk penyerapan hara dan pertumbuhan tajuk tanaman. Hal ini didukung pernyataan Nyakpa dkk., (1986) bahwa unsur Ca berfungsi dalam pembentukan ujung-ujung akar dan pucuk tanaman sedangkan unsur Mg berperan dalam kegiatan enzim-enzim yang berhubungan dengan metabolisme karbohidrat dan respirasi pada tanaman. Sehingga dolomit berperan dalam mendukung perkembangan akar untuk

penyerapan hara dan pertumbuhan tajuk atau pucuk daun tanaman, tetapi tidak mendukung dalam pertumbuhan batang atau pertambahan tinggi tanaman.

Interaksi Aplikasi Kotoran Ayam dan Dolomit

Interaksi pemberian kotoran ayam dan dolomit meningkatkan serapan P tanaman jagung. Jika dilihat pada pemberian khusus berbagai dosis dolomit

yang dikombinasikan dengan kotoran ayam pada perlakuan A2 (15 ton/ha) terjadi peningkatan serapan P tanaman dari 5385,14 mg menjadi 6723,74 mg. Kemudian kombinasi berbagai dosis dolomit dengan kotoran ayam pada perlakuan A3 (22,5 ton/ha) serapan P tanaman meningkat lebih tinggi dari 3918,33 mg menjadi 9765,85 mg. Peningkatan tertinggi pada kombinasi perlakuan A3 (22,5 ton/ha) dengan D1 (dolomit ≈ Aldd) yaitu sebesar 9765,85 mg. Hal ini dikarenakan peningkatan pH tanah dan P-tersedia tanah mengakibatkan semakin besar terjadinya kontak akar dengan hara P yang meningkatkan kadar P yang diserap oleh tanaman. Sehingga akan meningkatkan kecepatan difusi akar dalam menyrap hara P dalam koloid tanah. Karena menurut Damanik dkk., (2010) bahwa semakin banyak bahan organik yang diberika ke tanah akan membebaskan jerapan P di dalam tanah yang didukug oleh kandungan Ca dan Mg pada dolomit dalam menggantikan posisi Al3+ dan Fe2+ pada koloid tanah. Sehingga ketersediaan P di dalam tanah dapat diserap dalam jumlah yang banyak oleh tanaman. Oleh karena itu, kotoran ayam mampu mempengaruhi serapan hara P pada tanaman.

Hubungan Aplikasi Kotoran Ayam pada Tanah Inceptisol dan Pertumbuhan Tanaman Jagung

Kotoran ayam yang diberikan pada tanah Inceptisol mengandung sejumlah kadar hara dan bahan organik yang mampu mendukung dalam memperbaiki keadaan tanah Inceptisol. Hubungan yang terjadi pada tanah Inceptisol yaitu kadar

C-organik sebesar 11,43 % mampu meningkatkan keadaan C-organik pada tanah dari 2,21 % menjadi 2,36 % sehingga terjadi peningkatnya P-tersedia tanah dari 1,54 ppm menjadi 35,61 ppm dan pH tanah dari 4,87 menjadi 5,67. Hal ini dikarenakan kaitannya dengan bahan organik yang terdapat pada kotoran ayam mampu mengkelat logam Al yang ada di tanah atau mengikat P sehingga ketersediaan Al berkurang dan pH tanah meningkat sehingga P-tersedia pada tanah meningkat. Ini didukung pernyataan Nursyamsi dkk., (1995) bahwa kotoran ayam dapat membentuk senyawa kompleks dengan Al sehingga hara P lebih tersedia pada tanah akibat pembebasan Al pada P dan mengurangi kemasaman pada tanah. Begitu juga pernyataan Stevenson (1982) bahwa mekanisme peningkatan P-tersedia tanah dari masukkan bahan organik yang diberikan ke dalam tanah akan mengalami proses mineralisasi P sehingga pengikatan P pada logam berat dikurangi dan P akan lebih tersedia di tanah. Oleh karena itu, kotoran ayam mampu mempengaruhi peningkatan pH tanah, C-organik tanah dan ketersediaan hara P di tanah.

Kotoran ayam yang diberikan pada tanah Inceptisol mengandung sejumlah kadar hara dan bahan organik yang mampu mendukung pertumbuhan tanaman Jagung. Hubungan ini terjadi karena kotoran ayam mengandung C-organik yang sangat tinggi sebesar 11,43 %, selain itu mengandung kadar N 2,23%, dan kadar P 3,43%. Dari bahan organik dan kandungan hara yang ada mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung. Ini dikarenakan kotoran ayam menyuplai hara yang diperlukan dalam jumlah yang cukup sehingga terjadi perkembangan akar tanaman dari penyerapan unsur hara P pada tanah sehingga berlangsungnya proses metabolisme dan fotositesis, maka unsur hara N akan

mendukung proses pertumbuhan tajuk tanaman. Hal ini sesuai pernyataan Damanik dkk., (2010) bahwa mamfaat bahan organik meningkatkan ketersediaan hara di dalam tanah, dimana N berperan dalam fotosintesis dan pertumbuhan tajuk atau daun tanaman, dan P berperan dalam perkembangan akar tanaman. Oleh karena itu kotoran ayam dapat digunakan sebagai alternatif sumber pupuk dikarenakan mengandung bahan organik dan unsur hara yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman jagung.

Dokumen terkait