• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium kultur jaringan Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB, mulai bulan Agustus sampai September 2008.

Bahan

Tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah empat populasi hasil persilangan Phalaenopsis koleksi dari Balai Penelitian Tanaman Hias, Deptan Segunung, Cianjur Jawa Barat, yaitu ;

1) Populasi 508 (hasil selfing Phalaenopsis Taisuco Kochdian)

2) Populasi 529(hasil persilangan Phalaenopsis Brother Sara Gold x Saga)

3) Populasi 655 (hasil persilangan Phalaenopsis Taisuco Kochdian/Yukimai x Phalaenopsis Thaisuco Kochdian)

4) Populasi 688 (hasil persilangan Phalaenopsis Mary Strip/Modern Beauty x [Dor Pulcharrima x Formosa Rose/Taisuco Rosemary])

Jenis bakteri Erwinia yang digunakan adalah bakteri Erwinia carotovora yang berasal dari tanaman Phalainopsis yang terkena busuk lunak. Bahan yang digunakan antara lain spirtus, alkohol 70%, dan kertas koran.

Metode

Penelitian ini adalah Percobaan faktorial dengan tiga faktor yaitu 1) Jenis populasi angrek, 2) Konsentrasi bakteri Erwinia carotovora dan 3) Cara inokulasi. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor populasi anggrek terdiri atas empat taraf yaitu populasi 508, 529, 655, dan 688. Faktor konsentrasi bakteri Erwinia carotovora terdiri atas dua taraf yaitu 109 cfu/ml dan 1010

Yijk = µ + αi + βj+ τk + (αβ)ij + (ατ)ik + (βτ)jk +(αβτ)ijk +εijk

cfu/ml (cfu : colony forming units). Faktor cara inokulasi terdiri atas dua taraf yaitu dengan pelukaan yang dilakukan pada daun dan tanpa pelukaan. Jumlah perlakuan terdiri dari 16 kombinasi dan diulang 8-10 kali (botol) dimana setiap botol terdiri dari 3-7 tanaman. Model rancangannya adalah

Keterangan

Yijk : Nilai pengamatan karena faktor populasi pada taraf ke i, faktor konsentrasi Erwinia ke j, faktor cara inokulasi ke k dan ulangan ke l

µ : Nilai rataan umum

αi : Pengaruh perlakuan populasi pada taraf ke i

βj : Pengaruh perlakuan konsentrasi Erwinia carotovora ke j τk : Pengaruh cara inokulasi ke k

(αβ)ij : Pengaruh interaksi antara faktor populasi dan faktor konsentrasi Erwinia

carotovora

(ατ)ik : Pengaruh interaksi antara faktor populasi dan faktor cara inokulasi

(βτ)jk : Pengaruh interaksi antara faktor konsentrasi bakteri Erwinia carotovora

dan cara inokulasi

(αβτ)ijk: Pengaruh interaksi antara faktor populasi, faktor konsentrasi bakteri

Erwinia carotovora dan faktor cara inokulasi.

εijkl : Pengaruh acak dari faktor populasi pada taraf ke I, faktor konsentrasi

Erwinia carotovora pada taraf ke j, faktor cara inokulasi pada taraf ke k dan ulangan ke l

Data yang diperoleh diuji secara statistik dengan uji F melalui analisis ragam ANOVA dengan uji lanjut DMRT pada taraf nyata 5%.

Pelaksanaan 1. Persiapan Tanaman

Tanaman Phalaenopsisin vitro yang digunakan adalah yang telah berumur delapan bulan sejak biji disemai, minimal memiliki dua daun panjang sekitar 2.5 cm yang telah membuka sempurna dan dalam kondisi sehat. Setiap botol dipilih 3-7 tanaman, kemudian setiap tanaman yang digunakan diberi tanda dengan menggunakan spidol pada botol.

2. Persiapan Inokulum

Isolat (biakan murni) Erwinia carotovora yang digunakan berasal dari koleksi Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Hias, Deptan Segunung, Cianjur Jawa Barat. Isolat bakteri asal dengan konsentrasi 1010 cfu/ml

yang telah tersedia kemudian sebagian diencerkan untuk mendapatkan konsentrasi 109 cfu/ml. Pengenceran untuk mendapatkan konsentrasi 109 cfu/ml, dilakukan dengan cara mengambil 10 ml isolat bakteri asal diencerkan hingga 100 ml menggunakan aquades seteril di dalam gelas gelas ukur. Konsentrasi inokulum yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 109 cfu/ml dan 1010

3. Perlakuan

cfu/ml.

Tanaman anggrek yang telah dsiapkan kemudian diinokulasi bakteri

Erwinia carotovora dengan cara 1) Melukai bagian daun (setiap helai daun ditusuk sebanyak tiga tusukan) menggunakan jarum yang telah dicelupkan pada bakteri Erwinia carotovora dan 2) Membasahi daun anggrek sebanyak 1 ml dengan bakteri Erwinia carotovora menggunakan pipet, kedua perlakuan ini dilakukan di dalam kotak tanam.

4. Pengamatan

Pengamatan dilakukan setiap hari setelah inokulasi selama 10 hari. Anggrek yang telah diinokulasi diamati perkembangan serangan bakteri pada daun dengan mengamati gejalanya (busuk lunak yang berwarna coklat kehitaman dan agak basah/agak berlendir pada daun yang terserang). Peubah yang diamati meliputi :

1) Masa inkubasi yaitu selang waktu dari awal inokulasi hingga timbulnya gejala pada anggrek ,

2) Lebar serangan yaitu persentase luas daun yang terserang terhadap lebar setiap daun, dan

3) Persentase tanaman anggrek yang terserang Erwinia carotovora yaitu jumlah anggrek yang terserang setelah 10 hari pengamatan. Intensitas serangan penyakit busuk lunak dihitung dengan rumus yang dikemukakan oleh Norman et al. dalam Balithi (2006):

=

∑(���)

Dimana ;

I : Intensitas serangan N : Jumlah daun total

n : Jumlah daun terserang pada tiap nilai sekala v : Nilai skala untuk setiap daun

Z : Nilai skala tertinggi.

∑ : Jumlah nilai skala pada setiap daun selama masa inkubasi Penentuan nilai skala (v) sebagai berikut ;

Nilai

0 : Tanpa gejala

1 : Bercak kecil pada luasan 1% dari luas daun 3 : Bercak 2 % - 10 % dari luas daun

5 : Bercak agak meluas 11 % - 25 % dari luas daun 7 : Bercak meluas 26 % - 50 % dari luas daun 9 : Bercak melebar > 50% dari luas daun Cara pengamatan yaitu :

1. Melihat apakah terdapat gejala atau tidak, hal ini untuk menentukan nilai skala 0 (tanpa gejala) dan skala 1 (Bercak kecil pada luasan 1% dari luas daun).

2. Apabila terdapat gejala dan gejala tersebut meluas, maka persentase tingkat serangan diukur dengan cara membandingkan luasan serangan dengan luas daun yaitu ;

a. Menentukan nilai skala 3 (Bercak 2 % - 10 % dari luas daun) : Luas daun seolah-olah dibagi 10 bagian yang sama, kemudian satu bagian luasan tersebut dibandingkan dengan luasan serangan, apakah serangan mencapai luasan tersebut atau tidak, jika luas serangan melebihi maka serangan termasuk pada skala 5,

b. Menentukan nilai skala 5 (Bercak 11 % - 25 % dari luas daun) : Luas daun seolah-olah dibagi 4 bagian yang sama, kemudian satu bagian luasan tersebut dibandingkan dengan luasan serangan, apakah serangan mencapai luasan tersebut atau tidak, jika luas serangan melebihi maka serangan termasuk pada skala 7,

c. Menentukan nilai skala 7 (Bercak 26 % - 50 % dari luas daun) : Luas daun seolah-olah dibagi 2 bagian yang sama, kemudian satu bagian luasan tersebut dibandingkan dengan luasan serangan, apakah serangan mencapai luasan tersebut atau tidak, jika luas serangan melebihi maka serangan termasuk pada skala 9,

d. Menentukan nilai skala 9 (Bercak > 50 % dari luas daun) : Luas daun seolah-olah dibagi 2 bagian yang sama, kemudian satu bagian luasan tersebut dibandingkan dengan luasan serangan, luas serangan tersebut harus telah melebihi setengah bagian daun. Selanjutnya berdasarkan intensitas serangan tersebut, tingkat ketahanan

Phalaenopsis terhadap penyakit busuk lunak ditentukan berdasarkan kriteria yang dikemukakan oleh Handayani (2004) dalam Balithi (2006) (Tabel 1).

Tabel 1 klasifikasi ketahanan tanaman terhadap intensitas serangan penyakit Intensitas Serangan Penyakit (I) Klasifikasi Ketahanan

0 % Imun 0 % < x ≤ 10 % Resisten 10 % < x ≤ 20 % Agak Resisten 20 % < x ≤ 40 % Agak Rentan 40 % < x ≤ 60 % Rentan 60 % < x Sangat Rentan

Menurut Sinaga (2006) tanaman dikategorikan imun apabila tanaman bebas dari infeksi, dalam hal ini hubungan patogen dengan inang meliputi ketahanan yang absolut yang dilakukan oleh inang. Resisten/ketahanan yaitu ukuran kemampuan inang tanaman dalam menghambat serangan pathogen. Tanaman dikategorikan resisten apabila infeksi pathogen menyebabkan gejala serangan penyakit pada tanaman akan tetapi tanaman dapat meghambat infeksi/serangan patogen sehingga infeksi tidak dapt berkembang meluas (intensitas serangan 10 % < x ≤ 20 %).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait