Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Pertanian Berastagi, yang terletak ± 1.340 meter di atas permukaan laut (m dpl). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai bulan Oktober 2003.
Bahan dan Alat
Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih TPS F1 Bejo BSS 296 varietas Granola, asam Gibberelat, pupuk Urea, pupuk NPK, pupuk Amophos, Rubby 10G, Curater, Curacron 500 EC, Curzet 64 WP, pupuk Gandasil D dan Gandasil B, Basamid-G, medium tanah dan pupuk kandang ayam yang sudah matang, aquadest, air dan bahan-bahan lainnya yang diperlukan dalam penelitian ini.
Alat yang digunakan antara lain adalah bak kayu untuk persemaian, ayakan, ember, handsprayer, meteran, timbangan analitik, Leaf Area Meter, Chlorophyll Meter dan peralatan lainnya yang mendukung penelitian ini.
Penelitian secara keseluruhan terdiri dari dua penelitian yang masing-masing berdiri sendiri. Penelitian pertama merupakan penelitian pendahuluan, dilakukan di persemaian. Penelitian kedua merupakan penelitian lanjutan, dilakukan di lapangan. 1. Penelitian Pendahuluan (Perkecambahan Benih di Persemaian)
Metode penelitian di persemaian disusun berdasarkan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) yang terdiri dari dua faktor.
Faktor pertama atau sebagai petak utama adalah perlakuan jenis media yang terdiri dari 4 taraf, yaitu :
M0 = Tanah : Pupuk Kandang = 1 : 0
M1 = Tanah : Pupuk Kandang = 1 : 0,5
M2 = Tanah : Pupuk Kandang = 1 : 0,75
M3 = Tanah : Pupuk Kandang = 1 : 1
Faktor kedua atau sebagai anak petak adalah perlakuan kerapatan tabur benih yang terdiri dari 4 taraf, yaitu :
K1 = 10 x 1,5 cm
K2 = 10 x 3 cm
K3 = 10 x 4,5 cm
K4 = 10 x 6 cm
Dengan demikian di persemaian terdapat 16 kombinasi perlakuan dimana setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 48 unit percobaan. Satuan percobaan berupa bak-bak kayu sesuai dengan kerapatan tabur benih yang masing-masing berukuran 50 cm x 16 cm x 20 cm; 50 cm x 30 cm x 21
20 cm; 50 cm x 46 cm x 20 cm; 50 cm x 60 cm x 20 cm dengan jumlah populasi tanaman setiap petak percobaan adalah 50 tanaman. Jadi jumlah tanaman di persemaian adalah 2.400 tanaman.
Dari setiap petak percobaan diambil sebagai sampel tetap secara acak sebanyak 10 tanaman sehingga dengan 48 satuan percobaan ada 480 tanaman sampel; dan sampel destruktif 16 tanaman dalam setiap petak yang diamati sehingga dengan 48 satuan percobaan ada 768 tanaman sampel . Bagan percobaan terdapat pada Lampiran 29-30.
2. Penelitian Lanjutan (Pertumbuhan dan Produksi Tanaman di Lapangan)
Metode penelitian di lapangan disusun berdasarkan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), yang terdiri dari dua faktor.
Faktor pertama atau sebagai petak utama adalah perlakuan jarak tanaman yang terdiri dari 3 taraf, yaitu :
J1 = 70 cm x 25 cm
J2 = 70 cm x 30 cm
J3 = 70 cm x 35 cm
Dan faktor kedua atau sebagai anak petak yaitu perlakuan umur pindah bibit yang terdiri dari 4 taraf, yaitu :
U1 = 21 hari
U2 = 25 hari
U3 = 29 hari
Dengan demikian di lapangan terdapat 12 kombinasi perlakuan dimana setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 36 unit percobaan. Satuan percobaan berupa petak atau bedengan yang berukuran 280 cm x 180 cm dengan jumlah tanaman setiap petak percobaan sesuai dengan jarak tanam, yaitu J1 = 28 tanaman, J2 = 24 tanaman dan J3 = 20 tanaman. Jadi jumlah
tanaman di lapangan adalah 864 tanaman.
Dari setiap petak percobaan diambil sampel tetap sebanyak 5 tanaman sehingga dengan 36 satuan percobaan ada 180 tanaman sampel tetap dan sampel destruktif sebanyak 6 tanaman sehingga dengan 36 satuan percobaan ada 216 tanaman sampel destruktif. Bagan percobaan terdapat pada Lampiran 31-32.
Analisa Data
Data hasil penelitian pendahuluan di persemaian dianalisis berdasarkan Model Linier adalah sbb :
Yijk = µ + i + Mj + ij + Kk + (MK)jk + ijk (1)
Dimana :
Yijk = Nilai peubah yang diamati
µ = Nilai rataan umum i = Faktor petak ke - i
Mj = Faktor jenis media ke – j
ij = Pengaruh galad yang timbul pada petak ke-i dan faktor jenis media
ke-j
(MK)jk = Interaksi faktor jenis media ke – j dengan kerapatan tabur ke – k
ijk = Pengaruh galad yang timbul pada petak ke – i faktor jenis media ke –
j dan faktor kerapatan tabur benih ke – k.
Data hasil penelitian lanjutan di lapangan dianalisis berdasarkan Model Linier sbb:
Yijk = µ + i + Jj + ij + Uk + (JU)jk + ijk (2)
Dimana :
Yijk = Nilai peubah yang diamati
µ = Nilai rataan umum i = Faktor petak ke - i
Jj = Faktor jarak tanam ke – j
ij = Pengaruh galad yang timbul pada petak ke-i dan faktor jarak tanam
ke- j
Uk = Faktor umur pindah tanam ke – k
(JU)jk = Interaksi faktor jarak tanam ke – j dengan umur pindah ke – k
ijk = Pengaruh galad yang timbul pada petak ke – i faktor jarak tanam ke –
j dan faktor umur pindah tanam ke – k.
Untuk penelitian di persemaian dan di lapangan perlakuan yang menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap peubah yang diamati dilanjutkan dengan Uji Jarak Duncan dan Analisa Regresi (Gomez dan Gomez, 1984). Pengujian ini bertujuan
untuk melihat perbedaan pengaruh setiap perlakuan maupun kombinasi perlakuan terhadap peubah yang diamati.
Pelaksanaan Penelitian 1. Di Persemaian
Pelaksanaan penelitian di persemaian terdiri dari dua yaitu persemaian untuk penelitian pertama dan persemaian untuk penelitian kedua. Dimana pelakasanaan dari masing-masing persemaian adalah sama, kecuali untuk persemaian penelitian kedua pada saat berumur 2 mss dilakukan transplantasi semaian dengan akarnya ke blok substrat yang berbentuk bubungan terbuat dari kertas koran berdiameter ± 3 cm, dengan media yang sama.
Perkecambahan
Biji-biji kentang yang didapat baik dari tanaman hybrid (HP) dan Open Pollinated (OP) akan mengalami masa dormansi selama enam bulan. Oleh karena itu, untuk mempercepat masa dormansi biji-biji kentang direndam dulu dalam 1.500 ppm asam gibberelat selama 24 jam (Satjadipura dan Asandhi, 1989).
Pembuatan Media
Media yang digunakan berupa campuran tanah dan pupuk kandang dalam perbandingan sesuai dengan perlakuan. Sebelum digunakan, media terlebih dahulu dibersihkan dengan diayak. Kemudian media disterilkan dengan Ruby 10G dan dimasukkan ke dalam bak-bak percobaan sesuai dengan perlakuan. Penanaman di Persemaian
Sebelum dilakukan penanaman, bak-bak kayu sesuai dengan kerapatan tabur benih yang masing berukuran 50 cm x 16 cm x 20 cm; 50 cm x 30 cm x 20 cm; 50 cm x 46 cm x 20 cm; 50 cm x 60 cm x 20 cm; yang berisi media dengan tinggi 20 cm (campuran tanah dan pupuk kandang sesuai perlakuan), dibuat lubang garis memanjang sedalam 0,5 cm dengan jarak antar garis 10 cm. Benih TPS ditaburkan di dalam lubang garis sesuai dengan perlakuan. Air bersih disemprotkan menggunakan handsprayer halus, lalu benih TPS ditutup dengan sisa media semi halus, kemudian permukaan media semai disiram kembali dengan air secukupnya. Bak-bak kayu persemaian diberi pelindung agar terhindar dari
hujan dan panas.
Pemeliharaan di Persemaian
Penyiraman dilakukan 2-3 kali sehari (tergantung keadaan media semai) dengan menggunakan handsprayer. Diusahakan media semai tidak dalam keadaan kering. Untuk menjaga pertumbuhan tanaman yang baik, 2 minggu setelah tanam tanaman disemprotkan 0.1 % urea (1 g Urea dicampur 1 liter air), penyemprotan dapat diulangi 2-3 hari sekali selama 4 kali penyemprotan.
2. Di Lapangan
Penanaman di Lapangan
Lahan diolah dengan ukuran sesuai dengan perlakuan. Bedengan dibuat berukuran 280 cm x 180 cm dengan jarak tanam sesuai dengan perlakuan. Bagan petak percobaan terdapat pada lampiran. Setiap lubang tanam diberi pupuk
kandang 350 g dan pupuk dasar yaitu 25 g NPK per lubang. Ditabur Curater 2 g per lubang. Selanjutnya tanaman dari persemaian bumbungan ditanam ke lapangan sesuai dengan umur pindah perlakuan (Hartus, 2001).
Pemeliharaan di Lapangan
Penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari (tergantung keadaan di lapangan). Diusahakan agar tanah tidak dalam keadaan kering. Umur 7 hari setelah tanam tanaman diberi pupuk Gandasil D. Umur 25 hari setelah tanam, pembumbunan pertama dilakukan dan diberi pupuk Amophos 40 g per lubang tanam. Pembumbunan kedua dilakukan pada umur 40 hari setelah tanam. Selanjutnya umur 50 hari setelah tanam, tanaman diberi pupuk Gandasil B.
Pengendalian gulma dilakukan secara manual dengan cara mencabut gulma yang tumbuh di dalam petak percobaan. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan 2 kali seminggu dalam mencampur Curacron 500 EC dan Curzet 64 WP dengan dosis masing-masing 2 ml/l air.
Pemanenan
Pematian tanaman dilakukan setelah tanaman kentang berumur 91 hari setelah tanam dengan cara bagian atas tanaman di pangkas untuk mempercepat pematangan umbi. Selanjutnya 14 hari setelah pemangkasan dilakukan pemanenan umbi.
Peubah yang Diamati 1. Peubah yang diamati pada penelitian pendahuluan.
Laju perkecambahan diperoleh dengan menghitung tanaman yang tumbuh setiap hari dibagi jumlah tanaman yang ditanam lalu dikalikan 100 %. Perhitungan dilakukan untuk mencari beberapa hari yang diperlukan untuk mencapai 50 % tanaman tumbuh. Dilakukan pada umur 1 sampai 21 hss.
jumlah tanaman yang tumbuh/hari
Laju Perkecambahan = x 100% (3)
(% per hari) jumlah tanaman seluruhnya 2. Persentase Tumbuh (%)
Persentase tumbuh diukur dengan menghitung jumlah tanaman yang tumbuh dibagi jumlah tanaman yang ditanam lalu dikalikan 100%. Pengukuran dilakukan pada umur 21 hss.
jumlah tanaman yang tumbuh
Persentase Tumbuh (%) = x 100% (4)
jumlah tanaman seluruhnya 3. Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi tanaman. Pengukuran dilakukan pada umur 21, 25, 29 dan 33 hss.
4. Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna yaitu daun yang laminanya telah membuka dan posisinya sudah horizontal. Perhitungan dilakukan pada umur 21, 25, 29 dan 33 hss.
5. Bobot Segar (g)
Bobot segar diukur dengan menimbang tanaman segar setelah berumur 21, 25, 29 dan 33 hss.
6. Jumlah dan Panjang Akar (cm)
Jumlah akar yang diperoleh dengan menghitung banyaknya akar pada 4 sampel tanaman pada umur pindah yang berbeda. Panjang akar diukur dengan menghitung panjang semua akar dengan menggunakan meteran kemudian diambil rata-ratanya. Pengamatan dilakukan pada umur 21, 25, 29 dan 33 hss.
2. Peubah yang Diamati pada Penelitian Lanjutan 1. Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi tanaman. Pengukuran dilakukan pada umur 21 sampai 63 hst dengan interval pengamatan 7 hari.
2. Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun dihitung setelah tanaman membentuk daun majemuk. Perhitungan dilakukan pada umur 21 sampai 91 hst dengan interval pengamatan 14 hari. Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang mempunyai anak daun lebih dari satu.
3. Luas Daun (cm2 )
Luas daun diukur dengan menggunakan Leaf area Meter. Pengukuran luas daun dilakukan pada 2 tanaman dari setiap petak. Pengukuran luas daun dilakukan ketika tanaman berumur 35, 56 dan 77 hst.
Jumlah klorofil persatuan luas daun diukur dengan Chlorophyll Meter, pada saat tanaman berumur 35, 56 dan 77 hst. Dari satu tanaman dipilih tiga sampel daun yaitu daun atas, tengah dan bawah yang diukur bagian tengah daun.
5. Analisis Pertumbuhan
a. Laju Pertumbuhan Relatif (LTR), satuannya (g.g-1d-1), dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
( ln w2 – ln w1 )
RGR = (5)
( t2 – t1 )
Dimana :
w 2 = Berat kering tanaman (g) umur 56 hst
w 1 = Berat kering tanaman (g) umur 35 hst
t2 – t1 = Jumlah hari (56-35=21 hari) (Leopold & Kriedeman, 1981)
b. Laju Asimilasi Bersih (LAB), satuannya (g.m-2 d-1), dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
( In A2 – In A1 ) w2 – w1
NAR = x (6)
( t2 – t1 ) t2 – t1
Dimana :
A2 = luas daun umur 56 hst
A1 = luas daun umur 35 hst (Leopold & Kriedeman, 1981)
Pengambilan tanaman sampel untuk analisis pertumbuhan dilakukan pada umur 35, 56 dan 77 hst dengan 2 tanaman sebagai sampel untuk tiap petak
percobaan. Tanaman-tanaman ini kemudian dipisahkan kedalam daun, batang, akar, stolon dan umbi serta dimasukkan kedalam oven pada suhu 60-70ºC sampai kering sempurna.
Perhitungan LTR dilakukan bersamaan dengan perhitungan LAB. 6. Bobot Umbi per tanaman dan per plot (g)
Umbi dari masing-masing tanaman sampel dikumpulkan, kemudian ditimbang setelah dibersihkan dari sisa-sisa tanah. Demikian juga dengan umbi dari masing-masing petak dikumpulkan dan ditimbang setelah dibersihkan dari sisa tanah pada saat panen yaitu tanaman berumur 105 hst.
7. Jumlah umbi per tanaman dan per plot
Jumlah umbi yang terbentuk pada msing-masing tanaman sampel dihitung saat panen. Demikian juga dengan semua umbi yang terbentuk pada seluruh tanaman di dalam petak dihitung saat panen. Jumlah umbi per tanaman dan per petak dikelompokkan ke dalam klas-klas umbi, yaitu :
a. Umbi Klas 1 : ( >80 g ) b. Umbi Klas 2 : ( 60 g – 80 g ) c. Umbi Klas 3 : ( 41 g – 59 g ) d. Umbi Klas 4 : ( ( 30 g – 40 g ) e. Umbi Klas 5 : ( 20 g – 29 g ) f. Umbi Klas 6 : ( 5 - 19 g ) g. Umbi Klas 7 : ( <5 g )