Penelitian dilaksanakan di lahan pertanaman salak milik masyarakat di desa Rumah Lengo, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang pada ketinggian
±300 m diatas permukaan laut dan identifikasi serangga dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian dimulai pada bulan Oktober 2019 sampai dengan Desember 2019.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman salak yang telah berbuah, imago serangga yang tertangkap, air bersih, detergen, plastik transparan, kertas warna kuning, lem perekat tikus, minyak lampu, tali plastik, dan alkohol 70%.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah triplek, lampu LED, stoples, ember, suduk tanah, botol kecil, gelas plastik, pinset, gunting, kalkulator, kamera, killing bottle, buku acuan identifikasi yaitu Kalshoven (1981) dan Borror et al.
(1981), mikroskop, dan alat tulis menulis.
Pelaksanaan Penelitian
Penentuan Lokasi Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada lahan pertanaman salak milik masyarakat yang berada pada desa Rumah Lengo, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang dengan luas lahan kurang lebih 6 ha. Dengan rincian luas plot percobaan sebagai berikut :
1. Umur tanaman 10 tahun (tahun tanam 2010) dengan luas plot percobaan 40 x 50 m dan jarak tanam 2 x 2,5 m.
2. Umur tanaman 14 tahun (tahun tanam 2006) dengan luas plot percobaan 40 x 50 m dan jarak tanam 2 x 2,5 m.
3. Umur tanaman 16 tahun (tahun tanam 2004) dengan luas plot percobaan 40 x 50 m dan jarak tanam 2 x 2,5 m.
Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel yang dilakukan sebanyak 6 kali pengambilan dengan interval pengambilan 1 minggu sekali dengan menangkap serangga yang tertangkap pada pertanaman salak di lahan pengamatan. yang menjadi sampel pengamatan adalah serangga dewasa (imago) yang didapatkan di pertanaman salak.
Penangkapan serangga dilakukan dengan menggunakan perangkap jatuh (pit fall trap), perangkap lampu (light trap), perangkap kuning (yellow trap), dan mengambil serangga secara langsung (hand picking).
Perangkap Jatuh (Pit Fall Trap)
Gambar 1. Perangkap Jatuh (Pit Fall Trap)
Perangkap jatuh (Gambar 1) digunakan untuk menangkap serangga yang hidup diatas permukaan tanah. Perangkap ini dibuat dari gelas plastik dengan volume 125 ml, kemudian didalam gelas plastik tersebut dimasukkan air jernih yang telah dicampur dengan deterjen. Gelas plastik tersebut dimasukkan ke dalam tanah dengan bibir gelas atau permukaan gelas rata dengan permukaan tanah. Gelas plastik diletakkan sebanyak 12 buah pada setiap petak pengamatan dan diberi naungan agar apabila hujan datang air tidak memenuhi gelas plastik yang dapat membuat serangga tertangkap menjadi keluar. Serangga yang jatuh kedalam gelas plastik dikumpulkan, dihitung dan dimasukkan ke dalam killing bottle untuk diidentifikasi. Peletakan perangkap dilakukan pada pukul 07.00 – 09.00 WIB. Perangkap diletakkan selama 24 jam. Penangkapan dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah pengamatan sebanyak 6 kali.
Perangkap Lampu (Light Trap)
Gambar 2. Perangkap Lampu (Light Trap)
Perangkap lampu (Gambar 2) digunakan untuk menangkap serangga yang respon terhadap cahaya pada malam hari (nocturnal). Perangkap ini menggunakan
lampu LED sebagai sumber cahaya. Lampu diletakkan diatas baskom yang telah dipaku pada bambu / kayu dengan ketinggian ± 150 cm dari permukaan tanah, baskom terlebih dahulu diisi air yang dicampur dengan detergen sehingga serangga yang tertarik cahaya lampu akan jatuh kedalam baskom. Perangkap diletakkan sebanyak 1 buah pada setiap petak pengamatan. Serangga yang jatuh kedalam baskom dikelompokkan sesuai dengan famili serangga dan diidentifikasi.
Pemasangan alat ini dilakukan pada pukul 18.00 – 19.00 WIB. Penangkapan dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah pengamatan sebanyak 6 kali.
Perangkap Kuning (Yellow Trap)
Gambar 3. Perangkap Kuning (Yellow Trap)
Perangkap ini terbuat dari kertas berwarna kuning (Gambar 3) yang berukuran 30 cm x 30 cm kemudian dilapisi plastik bening yang diolesi dengan lem perekat tikus dan ditempelkan pada triplek yang dipaku pada bambu setinggi ±150 cm.
Perangkap diletakkan sebanyak 12 buah pada setiap petak pengamatan dan lama pemasangan perangkap berkisar antara 30 menit sampai dengan 45 menit.
Penangkapan dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah pengamatan sebanyak 6 kali.
Mengambil Serangga Secara Langsung (Handpicking)
Handpicking dilakukan dengan menangkap serangga yang terdapat pada masing-masing pohon sampel yaitu dengan mengambil serangga yang terdapat pada setiap bagian tanaman yang dihinggapi. Serangga yang diperoleh dikumpulkan, dan dimasukkan kedalam wadah penyimpanan untuk diidentifikasi dan dihitung. Interval waktu pengambilan serangga secara langsung (handpicking) yaitu pada pukul 08.00 – 10.00 pagi pada setiap pengambilan.
Identifikasi Serangga
Serangga yang didapat di lapangan dikelompokkan sesuai dengan ordonya.
Serangga yang dikenali spesiesnya diidentifikasi langsung di lapangan, sedangkan serangga yang belum dikenal diidentifikasi di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan mengacu pada buku kunci determinasi serangga, antara lain Kalshoven (1981) dan Borror et al.
(1992). Identifikasi dilaksanakan maksimal sampai pada tingkat famili.
Peubah Amatan
1. Jumlah dan Jenis Serangga Tertangkap
Serangga yang tertangkap dari berbagai perangkap dikumpulkan, diamati dan diidentifikasi dengan menggunakan buku kunci determinasi serangga kemudian dihitung sesuai dengan jenis family masing – masing pada setiap pengamatan, juga harus dikelompokkan untuk jenis hama pada tanaman salak dan musuh alaminya.
2. Nilai Frekuensi Mutlak, Frekuensi Relatif, Kerapatan Mutlak, Kerapatan Relatif pada setiap pengamatan.
Dengan diketahuinya jumlah populasi serangga tertangkap yang telah diidentifikasi maka dapat dihitung nilai frekuensi mutlak, frekuensi relatif, kerapatan mutlak, kerapatan relatif pada setiap pengamatan.
3. Nilai Indeks Keragaman Jenis Serangga
Setelah jumlah serangga yang tertangkap pada setiap pengamatan diketahui, maka dihitung indeks keragaman pada masing – masing pengamatan dengan menggunakan rumus indeks Shanon-Weiner (H).
4. Nilai Indeks Kemerataan Jenis Serangga
Untuk menilai kemantapan atau kestabilan suatu serangga dalam suatu komunitas maka dapat digunakan nilai indeks kemerataan jenis.
Metode Analisa Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yaitu dengan melakukan pengambilan sampel serangga pada pertanaman salak dengan umur tanaman yang berbeda di Kecamatan STM Hulu. Serangga yang diperoleh pada setiap penangkapan setelah dikumpulkan, dikelompokkan dan diidentifikasi langsung dan juga di laboratorium, kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus – rumus sebagai berikut :
Kerapatan Mutlak (KM) suatu jenis serangga:
Kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak.
Total individu dalam setiap penangkapan Jumlah individu suatu jenis dalam setiap penangkapan
FM × 100 %
Total individu dalam setiap penangkapan Jumlah individu suatu jenis dalam setiap penangkapan Kerapatan Relatif (KR) Suatu Jenis Serangga
KR =
KR =
(Michael, 1995).
Frekuensi Mutlak (FM) suatu jenis serangga:
Frekuensi mutlak menunjukkan jumlah kesering hadiran suatu serangga tertentu yang ditemukan pada habitat tiap pengamatan yang dinyatakan secara mutlak.
Frekuensi Relatif (FR) suatu jenis serangga:
Frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut.
FR =
FR=
(Michael, 1995).
Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga
Indeks keanekaragaman merupakan suatu penggambaran secara matematik untuk mempermudah dalam menganalisis informasi mengenai jumlah jenis indvidu
KM
Pi=
serta berapa banyak jumlah jenis individu yang ada dalam suatu area (Tambunan, 2013). Untuk membandingkan tinggi rendahnya keanekaragaman jenis serangga yaitu keanekaragaman jenis serangga hama dan musuh alami digunakan indeks Shanon-Weiner (H) dengan rumus:
H` = � 𝑝𝑝𝑝𝑝 𝐼𝐼𝐼𝐼 𝑝𝑝𝑝𝑝
𝑠𝑠 𝑖𝑖−1
dimana : H´ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Weaver
pi = Proporsi jumlah individu ke-1 dengan jumlah total individu ni = Spesies ke-i
N = Jumlah total individu (Purba, 2014).
Dengan kriteria indeks keanekaragaman menurut Krebs (1978) sebagai berikut:
H > 3 = Tinggi 1< H < 3 = Sedang
H < 1 = Rendah (Rosalyn, 2007).
Nilai Indeks Kemerataan Jenis Serangga
Untuk menilai kemantapan atau kestabilan jenis serangga dalam suatu komunitas maka dapat digunakan nilai indeks kemerataan antar jenis dengan menggunakan rumus :
E’ = H’ / 1n(S) Dimana :
E’ = Indeks kemerataan jenis H’ = Indeks Shannon
S = Jumlah jenis yang ditemukan 1n = Logaritma natural
N ni