KEANEKARAGAMAN SERANGGA PADA PERTANAMAN SALAK (Salacca zalacca (Gaert.) Voss) DENGAN BERBAGAI UMUR
TANAMAN DI DESA RUMAH LENGO, KECAMATAN STM HULU, KABUPATEN DELI SERDANG
SKRIPSI
OLEH : M. EDWIN FAISAL
140301255
HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020
KEANEKARAGAMAN SERANGGA PADA PERTANAMAN SALAK (Salacca zalacca (Gaert.) Voss) DENGAN BERBAGAI UMUR
TANAMAN DI DESA RUMAH LENGO, KECAMATAN STM HULU, KABUPATEN DELI SERDANG
SKRIPSI
OLEH : M. EDWIN FAISAL
140301255
HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020
ABSTRAK
M Edwin Faisal. 2020. Keanekaragaman Serangga pada pertanaman Salak (Salacca zalacca (Gaert.) Voss) dengan Berbagai Umur Tanaman di Desa Rumah
Lengo, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang. Di bawah bimbingan Syahrial Oemry dan Suzanna Fitriany Sitepu. Serangan hama merupakan masalah dalam usaha tani salak di Indonesia. Studi keanekaragaman serangga merupakan langkah awal dalam penanggulangan hama pada tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan keanekaragaman serangga di pertanaman salak pada berbagai umur tanaman. Penelitian dilaksanakan di Desa Rumah Lengo, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang dan kegiatan identifikasi serangga dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan metode survey, dilakukan pada lahan seluas 2000 m2. Pengamatan dilakukan sebanyak 6 kali dan pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan perangkap jatuh, perangkap lampu, perangkap kuning, dan mengambil serangga secara langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 8 ordo yang terdiri dari 18 famili di lahan umur tanaman 16 tahun, sedangkan di lahan umur tanaman 14 tahun terdapat 10 ordo yang terdiri dari 21 famili dan di lahan umur tanaman 10 tahun terdapat 8 ordo yang terdiri dari 20 famili dengan total keseluruhan 1.871 individu. Indeks keanekaragaman pada pertanaman umur 16 tahun sebesar 2,20 dan umur tanaman 14 tahun sebesar 2,07 serta umur tanaman 10 tahun sebesar 2,21 menunjukkan keanekaragaman sedang. Kemerataan di ketiga tempat termasuk tinggi dengan E<1. Tidak ada spesies serangga yang mendominasi di ketiga tempat menunjukkan keanekaragaman yang tinggi.
Kata kunci : keanekaragaman, serangga, salak, umur tanaman, kabupaten Deli Serdang
ABSTRACT
M Edwin Faisal. 2020. The Diversity of Insects in Snake Fruit Plantations with Various Plant Ages in Rumah Lengo Village, STM Hulu District, Deli Serdang Regency.
Supervised by Syahrial Oemry and Suzanna Fitriany Sitepu. Pest attacks are a problem in snake fruit farming in Indonesia. Study of diversity of insects is the first step in the prevention of pests in plants. The purpose of this research was to compare the diversity of insects on snake fruit plantations with various plant ages. The experiment was conducted in Rumah Lengo Village, STM Hulu District, Deli Serdang Regency.
Identification activities was carried out in the Laboratory of Pests and Plant Diseases, Faculty of Agriculture, University of Sumatera Utara. The research used survey method, carried out on an area of 2000m2. The observation done for 6 times and sampling was done by using pitfall trap, light trap, yellow trap, and handpicking. The results showed that there were 8 orders consisting of 18 families in the 16 year old plant age while in the 14 year old plant age there are 10 orders consisting of 21 families and in the 10 year old plant age there are 8 orders consisting of 20 families with a total 1.871 individuals. Index of diversity in the 16 year old plant age was 2.20 and 14 year old plant age was 2.07 and 10 year old plant age was 2.21 indicating medium diversity.
Index of Evennes in all three places was high, E>1. There was no species of insect dominating in all three places indicated high diversity.
Keywords : diversity, insects, snake fruit, plant age, Deli Serdang regency
RIWAYAT HIDUP
M.Edwin Faisal, dilahirkan di Tebing Tinggi pada tanggal 11 Juli 1997 dari ayahanda Agus dan ibunda Nurainun. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara.
Pendidikan formal yang pernah ditempuh adalah SD Swasta Eria Medan lulus tahun 2008, SMP Negeri 2 Medan lulus tahun 2011 dan tahun 2014 penulis lulus dari SMA Negeri 5 Medan dan pada tahun yang sama lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui jalur UMBPTN pada program studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi (HIMAGROTEK).
Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di PTPN III Kebun Labuhan Haji, Labuhan Batu Utara dari bulan Juli hingga Agustus 2017.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari penelitian ini adalah “Keanekaragaman Serangga Pada Pertanaman Salak (Salacca zalacca (Gaert.) Voss) dengan Berbagai Umur Tanaman di Desa Rumah Lengo, Kecamatan Stm Hulu, Kabupaten Deli Serdang”
yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Komisi
Pembimbing Ir. Syahrial Oemry, MS. selaku Ketua dan Ir. Suzanna Fitriany Sitepu, M.Si. selaku Anggota yang telah banyak memberikan
arahan dalam pelaksanaan penelitian. Ucapan terimakasih kepada kedua orangtua atas kasih sayangnya, semua dukungan moril dan materil serta doa nya kepada penulis serta kepada teman – teman yang telah membantu penulis dalam melaksanakan penelitian ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.
Medan, Februari 2020
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR...viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 2
Hipotesis Penelitian ... 2
Kegunaan Penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Salak ... 4
Syarat Tumbuh Iklim ... 6
Tanah ... 7
Keanekaragaman Serangga ... 7
Peledakan Populasi Serangga ... 10
Deskripsi Tanaman Salak Umur 10 Tahun, 14 Tahun, dan 16 Tahun pada Lahan Penelitian ... 11
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 14
Bahan dan Alat ... 14
Pelaksanaan Penelitian Penentuan Lokasi Pengamatan ... 14
Pengambilan Sampel ... 15
Perangkap Jatuh (Pit Fall Trap) ... 15
Perangkap Lampu (Light Trap ... 16
Perangkap Kuning (Yellow Trap) ... 17
Mengambil serangga secara langsung (hand picking) ... 18
Identifikasi Serangga ... 18
Peubah Amatan ... 18
Metode Analisa Data ... 19
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah dan Jenis Serangga yang Tertangkap……….22 Serangga yang Diperoleh dari Berbagai Perangkap...30 Status Fungsi Serangga yang Tertangkap………...………...31 Nilai Kerapatan Mutlak, Kerapatan Relatif, Frekuensi Mutlak dan Frekuensi Relatif……….34 Nilai Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga………...40 Nilai Indeks Kemerataan Jenis Serangga ... .42 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 44 Saran ... 44 LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
No. Judul Hal
1 Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan salak
umur 10 tahun……….. 22
2 Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan salak
umur 14 tahun……….. 24
3 Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan salak
umur 16 tahun……….. 27
4 Status fungsi serangga yang tertangkap pada tanaman salak 32
5 Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak dan frekuensi relatif pada lahan pertanaman salak umur 10
tahun……… 34
6 Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak dan frekuensi relatif pada lahan pertanaman salak umur 14
tahun……… 36
7 Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak dan frekuensi relatif pada lahan pertanaman salak umur 16
tahun……… 38
8 Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga pada lahan
pertanaman salak umur 10 tahun………. 40 9 Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga pada lahan
pertanaman salak umur 14 tahun………. 41 10 Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga pada lahan
pertanaman salak umur 16 tahun………. 42 11 Nilai indeks kemerataan jenis serangga……….. 42
DAFTAR GAMBAR
No. Keterangan Hal
1 Perangkap Jatuh (Pit Fall Trap)……….. 15 2 Perangkap Lampu (Light Trap)………... 16 3 Perangkap Kuning (Yellow Trap)……… 17 4 Histogram serangga yang tertangkap pada lahan salak umur 10
tahun………. 23 5 Histogram serangga yang tertangkap pada lahan salak umur 14
tahun………... 25 6 Histogram serangga yang tertangkap pada lahan salak umur 16
tahun………. 27 7 Histogram jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan
salak umur 10 tahun, 14 tahun, dan 16 tahun……….. 29 8 Pie Chart serangga yang tertangkap pada berbagai perangkap….. 31 9 Pie Chart status fungsi serangga yang tertangkap………... 33
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Hal
1 Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan salak
umur 10 tahun……….. 49
2 Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan salak
umur 14 tahun……….. 50
3 Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan salak
umur 16 tahun……….. 51
4 Status fungsi serangga yang tertangkap pada tanaman salak….. 52 5 Jumlah serangga yang tertangkap pada berbagai perangkap
pada lahan salak umur 10 tahun………... 53 6 Jumlah serangga yang tertangkap pada berbagai perangkap
pada lahan salak umur 14 tahun………... 54 7 Jumlah serangga yang tertangkap pada berbagai perangkap
pada lahan salak umur 16 tahun………... 55 8 Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak dan
frekuensi relatif pada lahan pertanaman salak umur 10 tahun…. 56 9 Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak dan
frekuensi relatif pada lahan pertanaman salak umur 14 tahun…. 57 10 Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak dan
frekuensi relatif pada lahan pertanaman salak umur 16 tahun…. 58 11 Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga pada lahan
pertanaman salak umur 10 tahun………. 59 12 Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga pada lahan
pertanaman salak umur 14 tahun………. 60 13 Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga pada lahan
pertanaman salak umur 16 tahun………. 61
14 Nilai indeks kemerataan Jenis Serangga……….. 62
15 Jenis Jenis Perangkap………... 63
16 Serangga yang tertangkap……… 64
17 Supervisi………... 68
18 Bagan Penelitian……….. 69
19 Peta Lokasi……….. 71
20 Data curah hujan, suhu, dan kelembapan udara di Kabupaten Deli Serdang………... 72
PENDAHULUAN Latar Belakang
Tanaman salak (Salacca zalacca (Gaert.) Voss) banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia dimana salak dapat tumbuh di dataran rendah sampai lebih dari 800 meter di atas permukaan laut, namun sentra produksi salak masih terbatas.
Padahal permintaan salak bagi konsumen dalam dan luar negeri dari tahun ke tahun terus meningkat. Oleh sebab itu pengusahaan salak merupakan salah satu peluang bisnis yang perlu dipertimbangkan (Sutoyo dan Suprapto, 2010).
Dalam pengusahaan salak seperti juga tanaman buah-buahan lainnya, mutu hasil pertanaman merupakan hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan. Salah satu faktor yang menentukan mutu hasil pertanaman salak adalah pengendalian hama dan penyakit dari tanaman tersebut. Selama ini hama dan penyakit merupakan masalah dalam usaha tani salak di Indonesia.
Keanekaragaman hayati adalah variabilitas antara makhluk hidup dari semua sumber daya, sepuluh persen dari ekosistem alam berupa suaka alam, suaka marga satwa, taman nasional, hutan lindung dan sebagian lagi digunakan untuk kepentingan pembudidayaan plasma nutfah (Arief, 2001).
Masalah yang diakibatkan hama tanaman sudah tidak asing bagi para petani baik tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan (Surachman dan Suryanto, 2007).
Hama diartikan sebagai organisme baik mikroba, tanaman, dan atau binatang yang menyebabkan luka pada manusia, hewan ternak, tanaman budidaya, bahan simpanan, gedung, dan lainnya. Hama pada tanaman pertanian meliputi mikroba pathogen penyebab penyakit (virus, mikroplasma, bakteri, fungi), nematoda parasit tanaman,
gulma, vertebrata (rodensia, burung, mamalia), artropoda (serangga, tungau, dan millipedes), serta moluska (Purnomo, 2010). Keanekaragaman famili suatu ekosistem serangga dapat diambil untuk menandai jumlah famili serangga dalam suatu daerah tertentu atau sebagian jumlah famili diantara jumlah total individu yang ada dari seluruh famili yang ada. Hubungan ini dapat dinyatakan secara numerik sebagai indeks keanekaragaman (Michael, 1995).
Serangga merupakan hewan multiseluler yang paling dominan di bumi. Lebih dari 700.00 spesies serangga telah diidentifikasi, tetapi hanya 25% yang telah dipelajari secara rinci, yang sebagian kecilnya merupakan serangga yang bertindak sebagai hama bagi tanaman yang diusahakan manusia (Purnomo, 2010).
Studi keanekaragaman serangga merupakan langkah awal dalam penanggulangan hama pada tanaman. Keanekaragaman dapat digunakan untuk mengetahui dan mendeteksi gangguan komponen – komponen ekosistem yang ada, sehingga dapat dilakukan upaya penyeimbangan yang bersifat alamiah tanpa menggunakan pestisida kimia (Arifin, 2014).
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keanekaragaman serangga pada pertanaman salak dengan umur tanaman 10 tahun, 14 tahun, dan 16 tahun di desa Rumah Lengo, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang.
Hipotesis Penelitian
Adanya perbedaan keanekaragaman serangga pada pertanaman salak pada berbagai umur tanaman di desa Rumah Lengo, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang.
Kegunaan Penulisan
Penelitian ini berguna untuk mendapatkan data penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pertanian, di Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara dan diharapkan juga dapat berguna sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Salak
Salak (Salacca zalacca) merupakan tanaman buah asli dari Indonesia. Buah ini tumbuh subur di daerah tropis. Tanaman ini termasuk dalam keluarga Palmae yang diduga dari Pulau Jawa. Ternyata tidak hanya di Indonesia, salak juga dapat tumbuh dan menyebar di Malaysia, Filipina, Brunei, dan Thailand (Widyastuti, 1996).
Tanaman Salak dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Steenis, 1975 ; Tjitrosoepomo, 1998): Divisi : Spermatophyta, Sub Divisi : Angiospermae, Klas : Monocotyledoneae, Ordo : Principes, Familia : Palmae, Genus : Salacca, Spesies : Salacca zalacca (Gaert.) Voss., Sinonim : Salacca edulis Reinw.
Pohon salak relatif pendek, batangnya pendek dan tidak lama berdiri tegak.
Kalau batang salak sudah mencapai ketinggian 50-75 cm, akan roboh secara alami dan sejajar di permukaan tanah. Sekali pun demikian tanaman ini tidak mati, karena pada bagian bawah daun tumbuh akar-akar baru, kemudian ujung tanaman tumbuh tegak kembali secara perlahan (Ashari, 1995).
Tanaman salak berbunga banyak, tersusun dalam tandan rapat dan bersisik dengan tandan bunga jantan dan tandan bunga betina terletak pada pohon yang berlainan, sebagian tandan bunga terbungkus oleh seludang atau tongkol yang berbentuk seperti perahu yang terletak diketiak pelepah daun (Sulastri, 1986). Bunga salak berbentuk majemuk, bertangkai dan tertutup oleh seludang. Panjang seludang bunga jantan hingga 50-100 cm sedangkan bunga betina 20-30 cm (Ashari, 1995).
Purnomo (2010) melaporkan bahwa bunga jantan pada tanaman salak pondoh
berwarna coklat kemerahan, sekelompok bunga jantan terdiri dari 4-12 malai, satu malai terdiri dari ribuan serbuk sari, panjang bunga jantan setiap malai kira-kira 4-15 cm dan bunga jantan mekar selama 1-3 hari. Bunga betina berwarna hijau kekuningan, berbintik merah dan mempunyai 3 petal. Panjang satu malai 7-10 cm dan bunga mekar selama 1-3 hari. Tanda bunga yang siap diserbuki adalah bunga berwarna merah dan mengeluarkan aroma harum. Waktu penyerbukan yang baik adalah pada hari ke -2 bunga mekar.
Daun tersusun menyirip, termasuk daun sempurna yaitu mempunyai helai daun, tangkai daun dan pelepah. Tangkai daun tersusun roset, sehingga batang sangat pendek dan seolah-olah tidak ada. Pada permukaan tepi daun, pangkal dan ventral tangkai daun terdapat duri temple yang warnanya relatif sama. Bentuk dasar daun semua sama yaitu lanset, hanya berbeda komposisinya. Warna permukaan atas daun salak pondok hijau, merah-hitam, hitam dan salak pondoh manggala adalah hijau tua.
Warna permukaan atas daun salak pondoh kuning dan salak pondoh salak pondoh merah-kuning adalah hijau. Sedang untuk salak pondoh merah dan gading berwarna hijau muda. Semua varietas salak di atas memiliki warna permukaan bawah daun putih (Suskendriyati, et al, 2000). Pelepah daun salak ini tersusun rapat menutup batang (Kaputra dan Harahap, 2008). Daun salak dewasa merupakan daun majemuk yang bentuknya menyirip pada bagian bawah dan tengah sedangkan pada ujungnya bercabang dua (bifid). Panjang daun salak 0,5-1 m, sedangkan salak jenis lainnya 4-6 m (Darmadi, 2001).
Akar serabut, menjalar datar di bawah tanah. Daerah perakaran tidak luas, dangkal dan mudah rusak jika kekeringan atau kelebihan air. Perkembangan akar
sangat dipengaruhi oleh cara pengolahan tanah, pemupukan, tekstur tanah, sifat fisik tanah, sifat kimia tanah, air tanah dan lain-lain. Untuk menjaga akar tetap tumbuh, maka perlu diadakan penimbunan dan setelah muncul akar-akar muda, akar yang tua dipotong (Tjahjadi, 1995).
Buah umumnya berbentuk segitiga, bulat telur terbalik, bulat atau lonjong dengan ujung runcing, terangkai rapat dalam tandan buah di ketiak pelepah daun.
Kulit buah tersusun seperti sisik-sisik/genteng berwarna coklat kekuningan sampai kehitaman. Daging buah tidak berserat, warna dan rasa tergantung varietasnya. Dalam satu buah terdapat 1-3 biji. Biji keras, berbentuk dua sisi, sisi dalam datar dan sisi luar cembung (Steenis, 1975).
Syarat Tumbuh Iklim
Tanaman salak akan tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan rata- rata mencapai 200-400 mm/bulan. Curah hujan rata-rata bulanan lebih dari 100mm sudah tergolong dalam bulan basah. Menurut Verheij dan Coronel (1997) tipe tanah di sentra produksi antara lain podzolik dan regosol.
Kecepatan tumbuh tanaman salak dibatasi oleh suhu maksimum. Suhu optimal atau suhu rata-rata harian yang baik untuk tanaman salak berkisar antara 20- 30o C. Bila suhu lebih dari 35o C maka pertumbuhan tanaman akan terhambat. Suhu lebih dari 40o C merupakan suhu yang kritis untuk tanaman salak. Bila tanaman salak berada cukup lama pada suhu kritis maka tanaman dapat mati. Salak merupakan tumbuhan khas daerah tropis, karena itu juga salak kurang toleran dengan kisaran suhu harian yang rendah (Dwi, 2006).
Tanah
Tanaman salak dapat tumbuh dengan baik apabila punya tanaman penaung apalagi pada masa awal pertumbuhannya. Petani di Tapanuli Selatan biasanya menanam salak di bawah pohon karet yang sudah tua usianya (sudah tersedia pelindung) namun tidak meremajakan karetnya lagi. Sebagian lagi menanam pada hutan dengan cara terlebih dahulu menebang pilih kayu-kayu yang ada diatas lahan.
Setelah lahan semakin jauh kepedalaman, maka sebagian petani mencoba melirik lahan kritis, tetapi dekat keperkampungan. Lahan kritis ini di tanami terlebih dahulu dengan pohon karet, kemiri bahkan kayu hutan yang mudah tumbuh dengan memberi pupuk kandang. Setelah pohon penaung berumur 2-3 tahun barulah tanaman salak ditanam (Kaputra, 2006).
Salak tumbuh subur di dataran rendah tropik. Tanaman salak dapat tumbuh baik pada tanah-tanah gembur dari dataran rendah sampai ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Produksi yang baik diperoleh dari tanaman salak yang ditanam lebih rendah dari 300 meter diatas permukaan laut (Ochse, 1961). Batas toleransi ketinggian yang masih memungkinkan adalah 900 meter di atas permukaan laut.
Apabila ketinggian tempat diatas 900 meter, maka pohon salak akan sulit untuk berbuah.
Keanekaragaman Serangga
Keragaman jenis adalah sifat komunitas yang memperlihatkan tingkat keanekaragaman jenis organisme yang ada didalamnya (Krebs, 1978). Untuk memperoleh keragaman jenis ini cukup diperlukan kemampuan mengenal dan membedakan jenis meskipun tidak dapat mengidentifikasi jenis hama (Odum, 1996).
Dalam ekosistem alami semua makhluk hidup berada dalam keadaan seimbang dan saling mengendalikan sehingga tidak terjadi hama, di ekosistem alamiah keanekaragaman jenis sangat tinggi. Tingkat keanekaragaman pertanaman mempengaruhi timbulnya masalah hama. Sistem pertanaman yang beranekaragam akan berpengaruh terhadap populasi hama (Oka, 1994).
Serangga merupakan salah satu bagian dari keragaman hayati. Serangga hama adalah organisme yang menimbulkan kerusakan pada tanaman dan menurunkan kualitas maupun kuantitasnya sehingga menimbulkan kerugian ekonomi bagi manusia (Hill, 1997). Serangga merupakan salah satu kelompok binatang yang merupakan hama utama bagi banyak jenis tanaman yang dibudidayakan manusia.
Selain sebagai hama tanaman beberapa kelompok dan jenis serangga dapat menjadi pembawa atau vector penyakit tanaman yang berupa virus atau jamur (Untung dan Sudomo, 1997). Tidak semua serangga bersifat merugikan karena juga ada serangga yang memiliki dampak positif. Sebagian serangga bersifat sebagai predator, parasitoid, atau musuh alami (Christian & Gotisberger, 2000).
Menurut Krebs (1978), ada 6 faktor yang saling berkaitan menentukan derajat naik turunnya keragaman, jenis yaitu :
1.Waktu, keragaman komunitas bertambah sejalan waktu, berarti komunitas tua yang sudah lama berkembang, lebih banyak terdapat organisme dari pada komunitas muda yang belum berkembang. Waktu dapat berjalan dalam ekologi lebih pendek atau hanya sampai puluhan generasi.
2.Heterogenitas ruang, semakin heterogen suatu lingkungan fisik semakin kompleks komunitas flora dan fauna disuatu tempat tersebar dan semakin tinggi keragaman jenisnya.
3.Kompetisi, terjadi apabila sejumlah organisme menggunakan sumber yang sama yang ketersediaannya kurang, atau walaupun ketersediannya cukup, namun persaingan tetap terjadi juga bila organisme-organisme itu memanfaatkan sumber tersebut, yang satu menyerang yang lain atau sebaliknya.
4.Pemangsaan, mempertahankan komunitas populasi dari jenis bersaing yang berbeda dibawah daya dukung masing-masing selalu memperbersar kemugkinan hidup berdampingan sehingga mempertinggi keragaman, apabila intensitas dari pemangsaan terlalu tinggu dapat menurunkan keragaman jenis.
5.Kestabilan iklim, makin stabil suhu, kelembaban, salinitas, pH dalam suatu lingkungan tersebut. Lingkungan yang stabil, lebih memungkinkan keberlangsungan evolusi.
6.Produktifitas, juga dapat menjadi syarat mutlak untuk keanekaragaman yang tinggi.
Keenam faktor yang telah dipaparkan di atas saling berinteraksi untuk menetapkan keanekaragaman jenis dalam komunitas yang berbeda. Keanekaragaman ini sangatlah penting dalam menentukan batas kerusakan yang dilakukan terhadap sistem alam akibat turut campur tangannya manusia (Michael, 1995).
Peledakan Populasi Serangga
Peledakan populasi serangga dapat terjadi jika suatu spesies dimasukkan ke dalam suatu daerah yang baru, dimana terdapat sumber-sumber yang belum dieksploitir oleh manusia dan tidak ada interaksi negatif (misalnya predator dan parasit), dimana sebenarnya predator dan parasit memainkan peranan dalam menahan peledakan populasi dan menekan laju pertumbuhan populasi (Heddy dan Kurniati, 1996).
Tindakan yang mengganggu hubungan yang terjadi secara alami antara musuh alami dan hama sering kali menyebabkan timbulnya ledakan populasi hama. Hal ini dapat terjadi karena suatu spesies hama mengklonisasi daerah geografis yang baru tanpa diikuti perkembangan musuh alami karena musuh alami banyak yang terbunuh akibat aplikasi pestisida atau habitat yang ditempati oleh hama dan musuh alami dimodifikasi sehingga sangat sesuai untuk perkembangan hama. Pestisida yang sering digunakan sebagai pilihan utama untuk memberantas OPT mempunyai daya bunuh yang tinggu, hasilnya cepat diketahui, namun bila aplikasinya kurang bijaksana dapat membawa dampak pada pengguna, hama sasaran, maupun lingkungan yang sangat berbahaya (Wudianto, 1997).
Hasil penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa, pestisida menyebabkan serangga-serangga berevolusi kearah resisten terhadap pestisida tersebut. Masalah hama menjadi lebih banyak, timbulnya wabah sekunder, musnahnya musuh alami seperti parasitoid / predator dan serangga berguna, persistensi residu dan keracunan sebagai akibat penggunaan pestisida yang berlebihan dan kurang hati-hati (Wardojo, et al, 1978).
Populasi setiap organisme pada ekosistem tidak pernah sama dari waktu ke waktu, tetapi selalu berfluktuasi (Untung, 1996). Demikian pula ekosistem yang terbentuk dari populasi serta lingkungan fisiknya senantiasa berubah dan bertambah sepanjang waktu (Tarumingkeng, 2001). Odum (1971) menyatakan bahwa dalam keadaan ekosistem yang stabil, populasi suatu jenis organisme selalu dalam keadaan seimbang dengan populasi organisme lainnya dalam komunitasnya.
Menurut Harahap (1994) di dalam ekosistem alami populasi suatu jenis serangga atau hewan pemakan tumbuhan tidak pernah eksplosif (meledak) karena banyak faktor pengendalinya baik yang bersifat biotik maupun yang bersifat abiotik.
Dengan demikian dalam ekosistem alami serangga tidak berstatus sebagai hama. Di dalam ekosistem pertanian faktor pengendali tersebut sudah banyak berkurang sehingga kadang-kadang populasinya meledak dan menjadi hama.
Deskripsi Tanaman Salak Umur 10 Tahun, 14 Tahun, dan 16 Tahun Pada Lahan Penelitian
Pada tanaman salak yang berumur 10 tahun, 14 tahun, dan 16 tahun di lahan penelitian yang berada di Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang memakai varietas yang sama yaitu varietas pondoh dan memiliki tinggi tanaman yang sama di ketiga umur tanaman tersebut yaitu sekitar 3 meter. Pada umur 16 tahun kondisi pohon sudah mulai tidak beraturan karena semakin tua umur tanaman salak maka pohon tersebut akan jatuh lalu akan tumbuh keatas kembali.
Ukuran dan jumlah pelepah pada ketiga umur tanaman salak berukuran sama dan berjumlah sama. Pemangkasan pelepah dilakukan hanya pada saat tanaman salak
sudah mulai semak dan pelepah yang dipangkas diletakkan di gawangan mati pada lahan tanaman salak tersebut.
Pada lahan pertanaman salak yang berumur 14 tahun terdapat vegetasi sekitar yaitu tanaman kelapa sawit sudah menghasilkan yang sudah berumur 17 tahun tepat di seberang lahan pertanaman salak umur 14 tahun. Sedangkan untuk umur 10 tahun dan 16 tahun vegetasi sekitar hanya terdapat tanaman salak saja. Jarak tempuh dari umur tanaman 14 tahun ke 10 tahun ± 2km, dan dari umur 10 tahun ke 16 tahun jarak yang ditempuh ± 500 m.
Penggunaan pupuk untuk ketiga umur tanaman salak tersebut adalah sama yaitu jenis pupuk NPK Mutiara yang dipupuk setiap 3 bulan sekali dengan dosis 350 – 500 gr / rumpun (satu lobang tanam yang terdapat 2 – 3 tanaman salak). Adapun pupuk tambahan yang dipakai yaitu pupuk kandang yang dipupuk setiap setahun sekali.
Untuk pengendalian hama para petani masih menggunakan insektisida kimiawi dengan interval penyemprotan terjadwal yaitu sebulan sekali dan pada saat mendekati musim panen para petani meningkatkan interval penyemprotan sampai sebulan dua kali penyemprotan tergantung dari serangan hama tersebut.
Pada ketiga lahan salak yang memiliki umur berbeda tersebut penyerbukan masih dilakukan dengan bantuan manusia. Hal ini disebabkan karena salahnya konsep lahan yang dipakai, konsep lahan yang dipakai adalah 1 blok tanaman jantan semua dan 1 blok tanaman betina semua. Seharusnya dilakukan penanaman 8 pohon salak
betina dan disisipkan 1 pohon jantan sehingga penyerbukan tidak perlu lagi dibantu oleh tenaga manusia.
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di lahan pertanaman salak milik masyarakat di desa Rumah Lengo, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang pada ketinggian
±300 m diatas permukaan laut dan identifikasi serangga dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian dimulai pada bulan Oktober 2019 sampai dengan Desember 2019.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman salak yang telah berbuah, imago serangga yang tertangkap, air bersih, detergen, plastik transparan, kertas warna kuning, lem perekat tikus, minyak lampu, tali plastik, dan alkohol 70%.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah triplek, lampu LED, stoples, ember, suduk tanah, botol kecil, gelas plastik, pinset, gunting, kalkulator, kamera, killing bottle, buku acuan identifikasi yaitu Kalshoven (1981) dan Borror et al.
(1981), mikroskop, dan alat tulis menulis.
Pelaksanaan Penelitian
Penentuan Lokasi Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada lahan pertanaman salak milik masyarakat yang berada pada desa Rumah Lengo, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang dengan luas lahan kurang lebih 6 ha. Dengan rincian luas plot percobaan sebagai berikut :
1. Umur tanaman 10 tahun (tahun tanam 2010) dengan luas plot percobaan 40 x 50 m dan jarak tanam 2 x 2,5 m.
2. Umur tanaman 14 tahun (tahun tanam 2006) dengan luas plot percobaan 40 x 50 m dan jarak tanam 2 x 2,5 m.
3. Umur tanaman 16 tahun (tahun tanam 2004) dengan luas plot percobaan 40 x 50 m dan jarak tanam 2 x 2,5 m.
Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel yang dilakukan sebanyak 6 kali pengambilan dengan interval pengambilan 1 minggu sekali dengan menangkap serangga yang tertangkap pada pertanaman salak di lahan pengamatan. yang menjadi sampel pengamatan adalah serangga dewasa (imago) yang didapatkan di pertanaman salak.
Penangkapan serangga dilakukan dengan menggunakan perangkap jatuh (pit fall trap), perangkap lampu (light trap), perangkap kuning (yellow trap), dan mengambil serangga secara langsung (hand picking).
Perangkap Jatuh (Pit Fall Trap)
Gambar 1. Perangkap Jatuh (Pit Fall Trap)
Perangkap jatuh (Gambar 1) digunakan untuk menangkap serangga yang hidup diatas permukaan tanah. Perangkap ini dibuat dari gelas plastik dengan volume 125 ml, kemudian didalam gelas plastik tersebut dimasukkan air jernih yang telah dicampur dengan deterjen. Gelas plastik tersebut dimasukkan ke dalam tanah dengan bibir gelas atau permukaan gelas rata dengan permukaan tanah. Gelas plastik diletakkan sebanyak 12 buah pada setiap petak pengamatan dan diberi naungan agar apabila hujan datang air tidak memenuhi gelas plastik yang dapat membuat serangga tertangkap menjadi keluar. Serangga yang jatuh kedalam gelas plastik dikumpulkan, dihitung dan dimasukkan ke dalam killing bottle untuk diidentifikasi. Peletakan perangkap dilakukan pada pukul 07.00 – 09.00 WIB. Perangkap diletakkan selama 24 jam. Penangkapan dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah pengamatan sebanyak 6 kali.
Perangkap Lampu (Light Trap)
Gambar 2. Perangkap Lampu (Light Trap)
Perangkap lampu (Gambar 2) digunakan untuk menangkap serangga yang respon terhadap cahaya pada malam hari (nocturnal). Perangkap ini menggunakan
lampu LED sebagai sumber cahaya. Lampu diletakkan diatas baskom yang telah dipaku pada bambu / kayu dengan ketinggian ± 150 cm dari permukaan tanah, baskom terlebih dahulu diisi air yang dicampur dengan detergen sehingga serangga yang tertarik cahaya lampu akan jatuh kedalam baskom. Perangkap diletakkan sebanyak 1 buah pada setiap petak pengamatan. Serangga yang jatuh kedalam baskom dikelompokkan sesuai dengan famili serangga dan diidentifikasi.
Pemasangan alat ini dilakukan pada pukul 18.00 – 19.00 WIB. Penangkapan dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah pengamatan sebanyak 6 kali.
Perangkap Kuning (Yellow Trap)
Gambar 3. Perangkap Kuning (Yellow Trap)
Perangkap ini terbuat dari kertas berwarna kuning (Gambar 3) yang berukuran 30 cm x 30 cm kemudian dilapisi plastik bening yang diolesi dengan lem perekat tikus dan ditempelkan pada triplek yang dipaku pada bambu setinggi ±150 cm.
Perangkap diletakkan sebanyak 12 buah pada setiap petak pengamatan dan lama pemasangan perangkap berkisar antara 30 menit sampai dengan 45 menit.
Penangkapan dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah pengamatan sebanyak 6 kali.
Mengambil Serangga Secara Langsung (Handpicking)
Handpicking dilakukan dengan menangkap serangga yang terdapat pada masing-masing pohon sampel yaitu dengan mengambil serangga yang terdapat pada setiap bagian tanaman yang dihinggapi. Serangga yang diperoleh dikumpulkan, dan dimasukkan kedalam wadah penyimpanan untuk diidentifikasi dan dihitung. Interval waktu pengambilan serangga secara langsung (handpicking) yaitu pada pukul 08.00 – 10.00 pagi pada setiap pengambilan.
Identifikasi Serangga
Serangga yang didapat di lapangan dikelompokkan sesuai dengan ordonya.
Serangga yang dikenali spesiesnya diidentifikasi langsung di lapangan, sedangkan serangga yang belum dikenal diidentifikasi di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan mengacu pada buku kunci determinasi serangga, antara lain Kalshoven (1981) dan Borror et al.
(1992). Identifikasi dilaksanakan maksimal sampai pada tingkat famili.
Peubah Amatan
1. Jumlah dan Jenis Serangga Tertangkap
Serangga yang tertangkap dari berbagai perangkap dikumpulkan, diamati dan diidentifikasi dengan menggunakan buku kunci determinasi serangga kemudian dihitung sesuai dengan jenis family masing – masing pada setiap pengamatan, juga harus dikelompokkan untuk jenis hama pada tanaman salak dan musuh alaminya.
2. Nilai Frekuensi Mutlak, Frekuensi Relatif, Kerapatan Mutlak, Kerapatan Relatif pada setiap pengamatan.
Dengan diketahuinya jumlah populasi serangga tertangkap yang telah diidentifikasi maka dapat dihitung nilai frekuensi mutlak, frekuensi relatif, kerapatan mutlak, kerapatan relatif pada setiap pengamatan.
3. Nilai Indeks Keragaman Jenis Serangga
Setelah jumlah serangga yang tertangkap pada setiap pengamatan diketahui, maka dihitung indeks keragaman pada masing – masing pengamatan dengan menggunakan rumus indeks Shanon-Weiner (H).
4. Nilai Indeks Kemerataan Jenis Serangga
Untuk menilai kemantapan atau kestabilan suatu serangga dalam suatu komunitas maka dapat digunakan nilai indeks kemerataan jenis.
Metode Analisa Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yaitu dengan melakukan pengambilan sampel serangga pada pertanaman salak dengan umur tanaman yang berbeda di Kecamatan STM Hulu. Serangga yang diperoleh pada setiap penangkapan setelah dikumpulkan, dikelompokkan dan diidentifikasi langsung dan juga di laboratorium, kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus – rumus sebagai berikut :
Kerapatan Mutlak (KM) suatu jenis serangga:
Kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak.
Total individu dalam setiap penangkapan Jumlah individu suatu jenis dalam setiap penangkapan
FM × 100 %
Total individu dalam setiap penangkapan Jumlah individu suatu jenis dalam setiap penangkapan Kerapatan Relatif (KR) Suatu Jenis Serangga
KR =
KR =
(Michael, 1995).
Frekuensi Mutlak (FM) suatu jenis serangga:
Frekuensi mutlak menunjukkan jumlah kesering hadiran suatu serangga tertentu yang ditemukan pada habitat tiap pengamatan yang dinyatakan secara mutlak.
Frekuensi Relatif (FR) suatu jenis serangga:
Frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut.
FR =
FR=
(Michael, 1995).
Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga
Indeks keanekaragaman merupakan suatu penggambaran secara matematik untuk mempermudah dalam menganalisis informasi mengenai jumlah jenis indvidu
KM
∑KM
× 100 %
× 100 %
∑FM
× 100 %
Pi=
serta berapa banyak jumlah jenis individu yang ada dalam suatu area (Tambunan, 2013). Untuk membandingkan tinggi rendahnya keanekaragaman jenis serangga yaitu keanekaragaman jenis serangga hama dan musuh alami digunakan indeks Shanon- Weiner (H) dengan rumus:
H` = � 𝑝𝑝𝑝𝑝 𝐼𝐼𝐼𝐼 𝑝𝑝𝑝𝑝
𝑠𝑠 𝑖𝑖−1
dimana : H´ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Weaver
pi = Proporsi jumlah individu ke-1 dengan jumlah total individu ni = Spesies ke-i
N = Jumlah total individu (Purba, 2014).
Dengan kriteria indeks keanekaragaman menurut Krebs (1978) sebagai berikut:
H > 3 = Tinggi 1< H < 3 = Sedang
H < 1 = Rendah (Rosalyn, 2007).
Nilai Indeks Kemerataan Jenis Serangga
Untuk menilai kemantapan atau kestabilan jenis serangga dalam suatu komunitas maka dapat digunakan nilai indeks kemerataan antar jenis dengan menggunakan rumus :
E’ = H’ / 1n(S) Dimana :
E’ = Indeks kemerataan jenis H’ = Indeks Shannon
S = Jumlah jenis yang ditemukan 1n = Logaritma natural
N ni
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah dan Jenis Serangga yang Tertangkap
Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan pertanaman salak yang berumur 10 tahun, 14 tahun, dan 16 tahun. Hasil jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan pertanaman salak yang berumur 10 tahun dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan salak umur 10 tahun.
Ordo Famili Umur Tanaman 10 Tahun
Pengamatan
1 2 3 4 5 6 Total
Coleoptera Coccinellidae 3 2 5 2 1 0 13
Curculionidae 5 7 3 1 2 1 19
Dysticidae 0 4 3 0 5 0 12
Lampyridae 1 0 0 3 4 0 8
Mordellidae 4 5 0 0 0 2 11
Diptera Muscidae 7 5 9 0 0 0 21
Sarcophagidae 7 0 0 6 0 0 13
Tephritidae 3 19 8 4 4 6 44
Tipulidae 2 0 0 3 5 0 10
Hemiptera Pentatomidae 26 19 23 15 21 23 127
Hymenoptera Braconidae 2 4 9 5 5 1 26
Formicidae 10 17 8 8 7 10 60
Heloridae 5 3 5 3 0 0 16
Tiphiidae 0 3 0 2 4 0 9
Vespidae 3 4 3 1 1 2 14
Isoptera Termitidae 7 6 10 2 2 0 27
Lepidoptera Cossidae 0 0 0 2 0 5 7
Noctuidae 5 7 0 0 1 0 13
Orthoptera Gryllidae 3 4 3 0 0 0 10
Gryllotalpidae 0 0 0 0 2 0 2
Total 93 109 89 57 64 50 462
Gambar 4. Histogram serangga yang tertangkap pada lahan salak umur 10 tahun.
Pada Gambar 4 dapat diketahui bahwa hasil pengamatan serangga yang tertangkap pada lahan pertanaman salak yang berumur 10 tahun terdiri dari 8 ordo dan 20 famili dengan jumlah populasi serangga sebanyak 462 ekor. Serangga yang paling banyak dijumpai berasal dari ordo Hemiptera famili Pentatomidae dengan jumlah 127 ekor. Hal ini diduga karena pengendalian hama dilakukan menggunakan pestisida kimiawi sehingga ikut membunuh jenis serangga lainnya yang menjadikan jenis famili serangga menjadi sedikit dan menyebabkan hama menjadi resisten yang mengakibatkan meningkatnya jumlah serangga tersebut. Rauf et al.(2000) menyatakan bahwa penggunaan pestisida kimiawi secara terus menerusakan menimbulkan masalah yang lebih berat yaitu terbunuhnya musuh alami, terjadinya resistensi, peledakan hama skunder, dan pencemaran lingkungan.
Berdasarkan hasil pengamatan pada lahan salak yang berumur 10 tahun diketahui bahwa jumlah serangga yang paling sedikit tertangkap adalah Gryllotalpidae dari ordo Orthoptera yaitu sebanyak 2 ekor. Penyebabnya yaitu
0
19
44
127
60
27 13
0 0 2
26 0
20 40 60 80 100 120 140 y
Histogram serangga yang tertangkap pada umur 10 tahun
Jumlah serangga
habitatnya yang berada di dalam tanah dan sangat jarang keluar kecuali malam hari (serangga nocturnal). Frank et al. (2007) menyatakan bahwa gryllotalpidae (Anjing tanah) adalah hewan yang agak jarang terlihat karena lebih suka bersembunyi dalam lubang dan aktif pada malam hari mencari makanan.
Hasil jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan pertanaman salak yang berumur 14 tahun dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan salak umur 14 tahun.
Ordo Famili Umur Tanaman 14 Tahun
Pengamatan
1 2 3 4 5 6 Total
Blatodea Blatellidae 1 1 0 2 1 1 6
Coleoptera Chrysomelidae 0 0 1 1 0 0 2
Curculionidae 7 5 3 3 1 2 21
Dysticidae 0 0 16 0 0 0 16
Mordellidae 0 4 0 0 0 0 4
Diptera Muscidae 2 0 4 3 0 3 12
Tephritidae 49 20 3 15 1 12 100
Tipulidae 5 3 0 0 0 0 8
Hemiptera Pentatomidae 27 43 49 40 36 23 218 Hymenoptera Braconidae 27 53 16 0 13 0 109
Eulophidae 0 0 0 0 0 0 0
Formicidae 48 56 41 30 36 22 233
Heloridae 4 5 7 0 4 3 23
Tiphiidae 19 0 0 1 0 6 26
Vespidae 0 0 1 1 0 0 2
Isoptera Termitidae 15 0 0 0 0 0 15
Lepidoptera Cossidae 1 0 0 0 1 0 2
Noctuidae 0 2 4 2 0 1 9
Neuroptera Chrysopidae 3 6 1 0 0 0 10
Odonata Coenagrionidae 3 1 0 0 2 0 6
Orthoptera Gryllidae 4 2 0 0 0 0 6
Total 215 201 146 98 95 73 828
Gambar 5. Histogram serangga yang tertangkap pada lahan salak umur 14 tahun.
Pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa hasil pengamatan serangga yang tertangkap pada lahan pertanaman salak umur 14 tahun terdiri dari 10 ordo dan 21 famili dengan jumlah populasi serangga sebanyak 828 ekor.
Pada Gambar 5 hasil pengamatan menunjukkan jumlah serangga yang paling banyak tertangkap pada lahan salak yang berumur 14 tahun adalah famili Formicidae dari ordo Hymenoptera yang berjumlah 233 ekor dibandingkan dengan umur 10 tahun dengan jumlah 60 ekor dan umur 16 tahun dengan jumlah 53 ekor. Hal ini disebabkan karena peletakan perangkap jatuh (pitfall trap) berdekatan dengan sarang dari famili Formicidae tersebut serta karena banyaknya bahan organik pada lahan terutama bahan organik pada permukaan tanah. Seperti halnya dijelaskan pada Tarumingkeng (2001) bahwa semut merupakan salah satu kelompok yang paling sosial dalam genus serangga dan hidup bermasyarakat yang disebut koloni, yang terorganisasi dengan sangat baik. Koloni dan sarang-sarang semut yang teratur,
6 2 4
100
218 233
2 15 2 10 6 6
109
0 50 100 150 200 250 y
Histogram serangga yang tertangkap pada umur 14 tahun
Jumlah serangga
terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka.
Serangga yang paling sedikit dijumpai pada pertanaman salak yang berumur 14 tahun terdiri dari famili Chrysomelidae, Mordellidae, Vespidae, Cossidae. Jumlah serangga yang sedikit ini mungkin disebabkan ketersediaan makanannya yang tidak sesuai. Menurut Kaleb et al. (2015) dimana tidak tersedianya makanan dengan kualitas yang tidak cocok dan kuantitas yang tidak cukup akan menyebabkan turunnya populasi sebuah individu.
Pada Gambar 5 dapat dilihat bahwa terdapat serangga parasitoid dari ordo Hymenoptera famili Braconidae dengan jumlah 109 ekor, dibandingkan dengan umur tanaman 10 tahun dan 16 tahun serangga dari famili Braconidae hanya terdapat 26 dan 40 ekor. Banyaknya jumlah dari famili Braconidae pada umur tanaman salak 14 tahun ini disebabkan karena melimpahnya inang dari famili Braconidae tersebut yaitu ordo Diptera famili Tephritidae. Hal ini sejalan dengan Bomfim et al. (2007) bahwa semakin melimpah dan beragam inang yang tersedia bagi parasitoid, maka semakin tinggi keanekaragaman parasitoid pada area perkebunan.
Dapat diketahui bahwa parasitoid dari ordo Hymenoptera famili Braconidae dapat memarasit serangga dari ordo Diptera famili Tephritidae, sehingga laju perkembangan hama dapat ditekan oleh parasitoid tersebut. Quilici & Rousse (2012) menyatakan bahwa spesies yang mendominasi pada famili Braconidae adalah Bracon sp., Selain Bracon sp. spesies lainnya adalah Doryctobracon sp. dan
Diachasmimorpha sp. Inang dari kedua parasitoid ini biasanya berupa larva dari Famili Tephritidae.
Hasil jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan pertanaman salak yang berumur 16 tahun dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan salak umur 16 tahun.
Ordo Famili
Umur Tanaman 16 Tahun Pengamatan
1 2 3 4 5 6 Tota
Coleoptera Chrysomelidae 4 2 0 3 4 2 15 l
Lampyridae 0 2 1 3 1 0 7
Mordellidae 4 3 0 0 5 0 12
Scarabidae 2 1 1 5 0 1 10
Diptera Sarcophagidae 5 1 0 6 0 0 12
Tephritidae 8 22 13 1 9 13 66
Tipulidae 0 2 1 0 4 0 7
Hemiptera Pentatomidae 38 20 44 30 27 40 199
Hymenoptera Bethylidae 0 0 0 0 0 13 13
Braconidae 3 2 14 3 2 16 40
Eulophidae 0 0 0 0 5 87 92
Formicidae 9 11 3 1 6 23 53
Heloridae 1 0 2 3 3 0 9
Tiphiidae 1 2 0 3 0 4 10
Isoptera Termitidae 0 4 2 0 0 2 8
Lepidoptera Noctuidae 2 0 2 0 0 0 4
Odonata Lestidae 0 0 0 0 1 1 2
Orthoptera Gryllidae 6 6 3 3 0 4 22
Total 83 78 86 61 67 206 581
0 15
66
199
92
8 4 0 2 22 40
0 50 100 150 200
250 y Histogram serangga yang tertangkap pada umur 16 tahun
Gambar 6. Histogram serangga yang tertangkap pada lahan salak umur 16 tahun.
Pada Tabel 3 dapat diketahui bahwa hasil pengamatan serangga yang tertangkap pada lahan pertanaman salak yang berumur 16 tahun terdiri dari 8 ordo dan 18 famili dengan jumlah populasi serangga sebanyak 581 ekor. Serangga yang paling banyak dijumpai berasal dari ordo Hemiptera famili Pentatomidae dengan jumlah 199 ekor. Hal ini diduga karena pengendalian hama dilakukan menggunakan pestisida kimiawi sehingga ikut membunuh jenis serangga lainnya yang menjadikan jenis famili serangga menjadi sedikit dan menyebabkan hama menjadi resisten yang mengakibatkan meningkatnya jumlah serangga tersebut. Rauf et al.(2000) menyatakan bahwa penggunaan pestisida kimiawi secara terus menerusakan menimbulkan masalah yang lebih berat yaitu terbunuhnya musuh alami, terjadinya resistensi, peledakan hama skunder, dan pencemaran lingkungan.
Hasil penangkapan di pertanaman salak umur 16 tahun didapati serangga yang paling sedikit tertangkap berasal dari famili Lestidae ordo Odonata dengan jumlah serangga sebanyak 2 ekor. Hal ini disebabkan karena serangga jenis ini kemampuan terbangnya lemah dengan wilayah jelajah yang tidak luas. Berdasarkan Rahadi et al.
(2013) diketahui bahwa Lestidae termasuk jenis Zygoptera (capung jarum) memiliki sepasang mata majemuk terpisah, ukuran tubuh relatif kecil, ukuran sayap depan dan belakang sama besar serta posisi sayap dilipat diatas tubuh saat hinggap, kemampuan terbang cenderung lemah dengan wilayah jelajah tidak luas.
Dengan mengetahui kekayaan serangga pada suatu tanaman, maka dapat memberikan harapan dalam menemukan spesies-spesies serangga predator dan
parasitoid yang berguna untuk penekanan populasi serangga hama. Menurut Furlong dan Zalucki (2010), keanekaragaman serangga predator pada suatu ekosistem sangat penting untuk diketahui, terutama dalam kaitan penekanan populasi serangga hama melalui pengendalian hayati. Semakin beragamnya keanekaragaman predator pada suatu ekosistem mampu menekan kerugian hasil akibat serangga hama.
Hasil jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan pertanaman salak yang berumur 10 tahun, 14 tahun, dan 16 tahun dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Histogram jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan salak umur 10 tahun, 14 tahun, dan 16 tahun.
Pada Gambar 7 dapat dilihat bahwa serangga yang paling banyak tertangkap terdapat pada umur tanaman 14 tahun. Hal ini disebabkan karena vegetasi sekitar tanaman salak yang berumur 14 tahun terdapat bersebrangan dengan tanaman kelapa sawit yang sudah menghasilkan dan lebatnya tajuk pada tanaman salak. Sehingga tingginya tanaman kelapa sawit akan mempengaruhi masuknya cahaya matahari ke
0 50 100 150 200 250
Pentatomidae Tephritidae Formicidae Braconidae Heloridae Tiphiidae Termitidae Tipulidae Gryllidae
x y
Umur Tanaman 10 Tahun Umur Tanaman 14 Tahun Umur Tanaman 16 Tahun
bawah tajuk atau permukaan tanah sehingga mempengaruhi kelembaban dibawah tajuk yang pada akhirnya juga akan berpengaruh terhadap jenis dan jumlah serangga.
Sedangkan vegetasi sekitar pada umur tanaman 10 tahun dan 16 tahun cenderung homogen (monokultur) yang hanya terdapat tanaman salak. Hal ini sesuai dengan pendapat Jumar (2000) bahwa perkembangan serangga di alam dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor dalam dan faktor luar (suhu, kelembaban, cahaya, dan angin).
Tinggi rendahnya populasi suatu jenis seranga pada suatu waktu merupakan hasil antara pertemuan dua faktor tersebut.
Pada Gambar 7 dapat diketahui bahwa serangga yang paling mendominasi dari seluruh umur tanaman salak adalah serangga dari ordo Hemiptera famili Pentatomidae. Jumlah terbanyak ada pada lahan pertanaman salak umur 14 tahun disebabkan karena tingkat kelembaban yang tinggi pada bawah tajuk ataupun area sekitar buah pada tanaman salak tersebut. Serangga tersebut menyerang bagian buah dari tanaman salak dengan cara menghisap cairan buah salak sehingga terjadi penyusutan kadar air dan buah menjadi kering. Sedangkan pada lahan pertanaman salak umur tanaman 10 tahun terdapat lebih sedikit hama dari famili Pentatomidae daripada umur 14 tahun dan 16 tahun disebabkan karena lahan pertanaman salak umur tanaman 10 tahun baru saja dilakukan upaya pengendalian hama secara kimiawi yang terjadwal untuk mengurangi serangan hama tersebut.
Serangga yang Diperoleh dari Berbagai Perangkap
Hasil pengamatan serangga yang tertangkap pada lahan pertanaman salak yang berumur 16 tahun di Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli
Serdang terdiri dari 8 ordo dan 18 famili dengan jumlah populasi serangga sebesar 581 ekor. Pada lahan pertanaman salak yang berumur 14 tahun serangga yang tertangkap terdiri dari 10 dan 21 famili dengan jumlah populasi serangga sebesar 828 ekor. Dan pada lahan pertanaman salak yang berumur 10 tahun serangga yang tertangkap terdiri dari 8 ordo dan 20 famili dengan jumlah populasi serangga sebesar 462. Serangga yang diperoleh dari berbagai perangkap dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Pie Chart serangga yang tertangkap pada berbagai perangkap.
Status Fungsi Serangga yang Tertangkap
Serangga yang ditemukan di lahan pertanaman salak yang berumur 10 tahun, 14 tahun, dan 16 tahun setelah diidentifikasi lalu dikelompokkan berdasarkan perannya yaitu hama, predator, polinator, parasitoid, dan decomposer. Dalam penelitian ini serangga dikelompokkan berdasarkan perannya masing-masing dapat dilihat pada Tabel 4.
Handpicking 29%
Light Trap 24%
Yellow Trap 27%
Pitfall Trap 20%
Tabel 4. Status fungsi serangga yang tertangkap pada tanaman salak.
Ordo Famili
Umur Tanaman Salak
Fungsi Ekologi Tahun 16 14
Tahun 10 Tahun
Blatodea Blatellidae 0 6 0 Hama
Coleoptera Coccinellidae 0 0 13 Predator
Chrysomelidae 15 2 0 Hama
Curculionidae 0 21 19 Hama
Dysticidae 0 16 12 Predator
Lampyridae 7 0 8 Predator
Mordellidae 12 4 11 Predator
Scarabidae 10 0 0 Hama
Diptera Muscidae 0 12 21 Hama
Sarcophagidae 12 0 13 Predator
Tephritidae 66 100 44 Hama
Tipulidae 7 8 10 Parasitoid
Hemiptera Pentatomidae 199 218 127 Hama Hymenoptera Bethylidae 13 0 0 Parasitoid
Braconidae 40 109 26 Parasitoid
Eulophidae 92 0 0 Parasitoid
Formicidae 53 233 60 Predator
Heloridae 9 23 16 Parasitoid
Tiphiidae 10 26 9 Parasitoid
Vespidae 0 2 14 Polinator
Isoptera Termitidae 8 15 27 Dekomposer
Lepidoptera Cossidae 0 2 7 Hama
Noctuidae 4 9 13 Hama
Neuroptera Chrysopidae 0 10 0 Predator
Odonata Coenagrionidae 0 6 0 Predator
Lestidae 2 0 0 Predator
Orthoptera Gryllidae 22 6 10 Hama
Gryllotalpidae 0 0 2 Hama
Total 581 828 462
Pada lahan pertanaman salak yang berumur 16 tahun memiliki serangga yang berstatus hama lebih banyak dibandingkan dengan musuh alami, demikian juga dengan lahan pertanaman salak yang berumur 14 tahun dan 10 tahun yang memiliki serangga yang berstatus hama lebih banyak dibandingkan dengan musuh alami. Hal
ini disebabkan karena penggunaan pestisida kimiawi yang secara terus menerus sehingga musuh alami juga ikut terbasmi serta hama menjadi resisten dan populasi nya semakin meningkat. Rauf et al. (2000) menyatakan bahwa penggunaan pestisida kimiawi secara terus menerus akan menimbulkan masalah yang lebih berat yaitu terbunuhnya musuh alami, terjadinya resistensi, peledakan hama skunder, dan pencemaran lingkungan.
Gambar 9. Pie Chart Status fungsi serangga yang tertangkap.
Hama 51%
Dekomposer 3%
Parasitoid 20%
Pollinator 1%
Predator 25%
Nilai Kerapatan Mutlak, Kerapatan Relatif, Frekuensi Mutlak dan Frekuensi Relatif
Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak, frekuensi relatif setiap penangkapan serangga yang tertangkap pada lahan salak yang berumur 10 tahun, 14 tahun, dan 16 tahun dapat diketahui dari Tabel 5, Tabel 6, dan Tabel 7.
Tabel 5. Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak dan frekuensi relatif pada lahan pertanaman salak umur 10 tahun.
Ordo Famili Umur Tanaman 10 Tahun
KM KR (%) FM FR (%)
Coleoptera Coccinellidae 13 2.81 5 6.33
Curculionidae 19 4.11 6 7.59
Dysticidae 12 2.60 3 3.80
Lampyridae 8 1.73 3 3.80
Mordellidae 11 2.38 3 3.80
Diptera Muscidae 21 4.55 3 3.80
Sarcophagidae 13 2.81 2 2.53
Tephritidae 44 9.52 6 7.59
Tipulidae 10 2.16 3 3.80
Hemiptera Pentatomidae 127 27.49 6 7.59
Hymenoptera Braconidae 26 5.63 6 7.59
Formicidae 60 12.99 6 7.59
Heloridae 16 3.46 4 5.06
Tiphiidae 9 1.95 3 3.80
Vespidae 14 3.03 6 7.59
Isoptera Termitidae 27 5.84 5 6.33
Lepidoptera Cossidae 7 1.52 2 2.53
Noctuidae 13 2.81 3 3.80
Orthoptera Gryllidae 10 2.16 3 3.80
Gryllotalpidae 2 0.43 1 1.27
Total 462 100.00 79 100.00
Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa nilai kerapatan mutlak dan kerapatan relatif tertinggi pada lahan salak umur 10 tahun terdapat pada famili Pentatomidae dengan nilai KM = 127 dan KR = 27,49 % sedangkan yang terendah terdapat pada
famili Gryllotalpidae dengan nilai KM = 2 dan KR = 0,43%. Hal ini disebabkan karena Pentatomidae pada lahan pengamatan adalah paling banyak tertangkap dan yang paling sedikit tertangkap adalah Gryllotalpidae. Seperti halnya dijelaskan pada Purba (2014) bahwa kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak.
Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa nilai frekuensi mutlak dan frekuensi relatif tertinggi pada lahan salak umur 10 tahun terdapat pada famili Tephiritidae, Pentatomidae, Braconidae, Vespidae, Curculionidae, dan Formicidae, dengan nilai FM = 6 dan FR = 7,59%. Sedangkan yang terendah terdapat pada famili Gryllotalpidae dengan nilai FM = 1 dan FR = 1,27%. Nilai yang rendah disebabkan karena serangga tersebut jarang hadir pada lahan pengamatan dan penyebaran serangga tersebut tidak luas pada lahan pengamatan. Menurut Michael (1995) bahwa frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut.
Tabel 6. Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak dan frekuensi relatif pada lahan pertanaman salak umur 14 tahun.
Ordo Famili Umur Tanaman 14 Tahun
KM KR (%) FM FR (%)
Blatodea Blatellidae 6 0.72 5 7.35
Coleoptera Chrysomelidae 2 0.24 2 2.94
Curculionidae 21 2.54 6 8.82
Dysticidae 16 1.93 1 1.47
Mordellidae 4 0.48 1 1.47
Diptera Muscidae 12 1.45 4 5.88
Tephritidae 100 12.08 6 8.82
Tipulidae 8 0.97 2 2.94
Hemiptera Pentatomidae 218 26.33 6 8.82
Hymenoptera Braconidae 109 13.16 4 5.88
Formicidae 233 28.14 6 8.82
Heloridae 23 2.78 5 7.35
Tiphiidae 26 3.14 3 4.41
Vespidae 2 0.24 2 2.94
Isoptera Termitidae 15 1.81 1 1.47
Lepidoptera Cossidae 2 0.24 2 2.94
Noctuidae 9 1.09 4 5.88
Neuroptera Chrysopidae 10 1.21 3 4.41
Odonata Coenagrionidae 6 0.72 3 4.41
Orthoptera Gryllidae 6 0.72 2 2.94
Total 828 100.00 68 100.00
Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa nilai kerapatan mutlak dan kerapatan relatif tertinggi pada lahan salak umur 14 tahun terdapat pada famili Formicidae dengan nilai KM = 233 dan KR = 28,14 % sedangkan yang terendah terdapat pada famili Chrysomelidae, Vespidae, dan Cossidae dengan nilai KM = 2 dan KR = 0,24%. Hal ini disebabkan karena Formicidae pada lahan pengamatan adalah paling banyak tertangkap dan yang paling sedikit tertangkap adalah Chrysomelidae, Vespidae, dan Cossidae. Agosti et al. (2000) menyatakan bahwa semut terdapat pada hampir semua habitat sehingga mudah dikoleksi, sensitif terhadap lingkungan,
berfungsi penting dalam ekosistem dan berinteraksi dengan organisme lain.
Kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak (Michael, 1995).
Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa nilai frekuensi mutlak dan frekuensi relatif tertinggi pada lahan salak umur 14 tahun terdapat pada famili Tephiritidae, Pentatomidae, Curculionidae, dan Formicidae, dengan nilai FM = 6 dan FR = 8,82%. Sedangkan yang terendah terdapat pada famili Dysticidae, Mordellidae, dan Termitidae dengan nilai FM = 1 dan FR = 1,47%. Nilai yang rendah disebabkan karena serangga tersebut jarang hadir pada lahan pengamatan dan penyebaran serangga tersebut tidak luas pada lahan pengamatan. Berdasarkan Michael (1995) diketahui bahwa frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut.
Tabel 7. Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak dan frekuensi relatif pada lahan pertanaman salak umur 16 tahun.
Ordo Famili Umur Tanaman 16 Tahun
KM KR (%) FM FR (%)
Coleoptera Chrysomelidae 15 2.58 5 7.14
Lampyridae 7 1.20 4 5.71
Mordellidae 12 2.07 3 4.29
Scarabidae 10 1.72 5 7.14
Diptera Sarcophagidae 12 2.07 3 4.29
Tephritidae 66 11.36 6 8.57
Tipulidae 7 1.20 3 4.29
Hemiptera Pentatomidae 199 34.25 6 8.57
Hymenoptera Bethylidae 13 2.24 1 1.43
Braconidae 40 6.88 6 8.57
Eulophidae 92 15.83 2 2.86
Formicidae 53 9.12 6 8.57
Heloridae 9 1.55 4 5.71
Tiphiidae 10 1.72 4 5.71
Isoptera Termitidae 8 1.38 3 4.29
Lepidoptera Noctuidae 4 0.69 2 2.86
Odonata Lestidae 2 0.34 2 2.86
Orthoptera Gryllidae 22 3.79 5 7.14
Total 581 100.00 70 100.00
Dari Tabel 7 dapat diketahui bahwa nilai kerapatan mutlak dan kerapatan relatif tertinggi pada lahan salak umur 16 tahun terdapat pada famili Pentatomidae dengan nilai KM = 199 dan KR = 34,25 %. Sedangkan yang terendah terdapat pada famili Lestidae dengan nilai KM = 2 dan KR = 0,34%. Hal ini disebabkan karena Pentatomidae pada lahan pengamatan adalah paling banyak tertangkap dan yang paling sedikit tertangkap adalah Lestidae. Purba (2014) menyatakan bahwa kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak.
Dari Tabel 7 dapat diketahui bahwa nilai frekuensi mutlak dan frekuensi relatif tertinggi pada lahan salak umur 16 tahun terdapat pada famili Tephiritidae, Pentatomidae, Braconidae, dan Formicidae, dengan nilai FM = 6 dan FR = 8,57%. Sedangkan yang terendah terdapat pada famili Bethylidae dengan nilai FM = 1 dan FR = 1,43%. Nilai yang rendah disebabkan karena serangga tersebut jarang hadir pada lahan pengamatan dan penyebaran serangga tersebut tidak luas pada lahan pengamatan. Menurut Michael (1995) bahwa frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut.
Keseringhadiran suatu serangga disebabkan karena beberapa hal seperti tersedianya makanan dan keadaan iklim yang mendukung perkembangan serangga.
Sebaliknya jika makanan tidak tersedia baik dari segi kualitas maupun kuantitas, populasi serangga akan menurun. Untung (1996) menyatakan faktor lingkungan setempat yang membatasi perkembangan musuh alami seperti keadaan cuaca yang kurang mendukung, keterbatasan pakan bagi musuh alami atau tindakan manusia yang merugikan musuh alami. Kaleb et al. (2015) juga menyatakan tersedianya makanan dengan kualitas yang cocok dan kuantitas yang cukup akan menyebabkan naiknya populasi dengan cepat. Sebaliknya bila keadaan makanan kurang maka populasi dapat menurun pula.
Nilai Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga
Tabel 8. Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga pada lahan pertanaman salak umur 10 tahun.
Ordo Famili Umur Tanaman 10 Tahun
Pi ln pi H H'
Coleoptera Coccinellidae 0.03 0.00 0.00 0.00
Curculionidae 0.04 0.00 0.00 0.00
Dysticidae 0.03 -3.65 -0.09 0.09
Lampyridae 0.02 -4.06 -0.07 0.07
Mordellidae 0.02 -3.74 -0.09 0.09
Diptera Muscidae 0.05 -3.09 -0.14 0.14
Sarcophagidae 0.03 -3.57 -0.10 0.10
Tephritidae 0.10 -2.35 -0.22 0.22
Tipulidae 0.02 -3.83 -0.08 0.08
Hemiptera Pentatomidae 0.27 -1.29 -0.35 0.35
Hymenoptera Braconidae 0.06 -2.88 -0.16 0.16
Formicidae 0.13 -2.04 -0.27 0.27
Heloridae 0.03 -3.36 -0.12 0.12
Tiphiidae 0.02 -3.94 -0.08 0.08
Vespidae 0.03 -3.50 -0.11 0.11
Isoptera Termitidae 0.06 -2.84 -0.17 0.17
Lepidoptera Cossidae 0.02 -4.19 -0.06 0.06
Noctuidae 0.03 -3.57 -0.10 0.10
Orthoptera Gryllidae 0.02 0.00 0.00 0.00
Gryllotalpidae 0.00 0.00 0.00 0.00
Total 1.00 -51.90 -2.21 2.21
Nilai indeks keanekaragaman pada lahan pertanaman salak umur 10 tahun dapat dilihat pada Tabel 8. Nilai indeks keanekaragaman pada lahan pertanaman salak umur 10 tahun adalah H’ = 2,21 dimana nilai keragaman jenis sedang bila H’=
1-3 (Kondisi lingkungan sedang). Menurut Michael (1995) bila H’ 1-3 berarti keanekaragaman serangga sedang yaitu mengarah hampir baik dimana keberadaan hama dan musuh alami hampir seimbang.
Tabel 9. Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga pada lahan pertanaman salak umur 14 tahun.
Ordo Famili Umur Tanaman 14 Tahun
Pi ln pi H H'
Blatodea Blatellidae 0.01 -4.93 -0.04 0.04
Coleoptera Chrysomelidae 0.00 -6.03 -0.01 0.01 Curculionidae 0.03 -3.67 -0.09 0.09 Dysticidae 0.02 -3.95 -0.08 0.08 Mordellidae 0.00 -5.33 -0.03 0.03
Diptera Muscidae 0.01 -4.23 -0.06 0.06
Tephritidae 0.12 -2.11 -0.26 0.26
Tipulidae 0.01 -4.64 -0.04 0.04
Hemiptera Pentatomidae 0.26 -1.33 -0.35 0.35
Hymenoptera Braconidae 0.13 -2.03 -0.27 0.27
Formicidae 0.28 -1.27 -0.36 0.36
Heloridae 0.03 -3.58 -0.10 0.10
Tiphiidae 0.03 -3.46 -0.11 0.11
Vespidae 0.00 -6.03 -0.01 0.01
Isoptera Termitidae 0.02 -4.01 -0.07 0.07
Lepidoptera Cossidae 0.00 -6.03 -0.01 0.01
Noctuidae 0.01 -4.52 -0.05 0.05
Neuroptera Chrysopidae 0.01 -4.42 -0.05 0.05
Odonata Coenagrionidae 0.01 -4.93 -0.04 0.04
Orthoptera Gryllidae 0.01 -4.93 -0.04 0.04
Total 1.00 -81.42 -2.07 2.07
Nilai indeks keanekaragaman pada lahan pertanaman salak umur 14 tahun dapat dilihat pada Tabel 9. Nilai indeks keanekaragaman pada lahan pertanaman salak umur 14 tahun adalah H’ = 2,07 dimana nilai keragaman jenis sedang bila H’=
1-3 (Kondisi lingkungan sedang). Menurut Michael (1995) bila H’ 1-3 berarti keanekaragaman serangga sedang yaitu mengarah hampir baik dimana keberadaan hama dan musuh alami hampir seimbang.