• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat

±25 m dpl pada bulan November 2013 hingga Februari 2014. Bahan dan Alat Penelitian

Adapun bahan yang digunakan adalah tanaman padi yang terserang C. oryzae Miyake dan C. lunata (Wakk) Boed., tanaman padi yang sehat, media Potato Dextrose Agar (PDA), kertas saring, kapas, aluminium foil, cling wrap, kertas stencil, plastik transparan, spiritus, aquades, alkohol 70%, kloroks 1%, tissue, methyl blue dan label.

Adapun alat yang digunakan adalah cawan petri, beaker glass, erlenmeyer, timbangan analitik, hot plate, batang pengaduk, kulkas, bunsen, gunting, cutter, autoclave, oven, inkubator, handsprayer, stopwatch, jarum ose, pinset, jangka sorong, object glass, coke borer, laminar air flow, mikroskop kampaun, kamera dan alat tulis.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor sebagai berikut:

Faktor 1 yaitu patogen:

P1 : Patogen C. oryzae Miyake P2 : Patogen C. lunata (Wakk) Boed.

Faktor 2 yaitu jamur endofit: E1 : Penicillium sp. E2 : Trichoderma spp. E3 : Aspergillus sp1. E4 : Trichocladium sp. E5 : Aspergillus sp2. E6 : Nigrospora sp.

Diperoleh kombinasi perlakuan sebanyak 12 kombinasi yaitu:

P1E1 P2E1 P1E2 P2E2 P1E3 P2E3 P1E4 P2E4 P1E5 P2E5 P1E6 P2E6

Jumlah ulangan yang diperoleh dengan rumus sebagai berikut: t (r-1) ≥ 15 12 (r-1) ≥ 15 12r-12 ≥ 15 12r ≥ 27 r ≥ 27/12 r ≥ 2,25 Banyak ulangan : 3

Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam model linier sebagai berikut: Yijk = µ + αi+ βj+ (αβ)ij +

ε

ijk

Dimana;

Yijk = nilai pengamatan pada unit percobaan yang memperoleh perlakuan taraf ke-i dari faktor I pada taraf ke-j dari faktor II dan ulangan ke-k

µ = Nilai tengah umum

αi = pengaruh taraf ke-i dari faktor I

βj = pengaruh taraf ke-j dari faktor II

(αβ)ij = pengaruh interaksi dari taraf ke-i dari faktor I dan taraf ke-j dari faktor II

ε

ijk = pengaruh galat pada unit percobaan yang memperoleh perlakuan taraf ke-i dari faktor I, taraf ke-j dari faktor II dan ulangan ke-k

Terhadap sidik ragam yang nyata, dilanjutkan analisis lanjutan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) dengan taraf 5% (Sastrosupadi, 2010).

Pelaksanaan Penelitian

Isolasi Jamur C. oryzae Miyake dan C. lunata (Wakk) Boed.

Sumber inokulum diperoleh dari tanaman padi yang terserang C. oryzae Miyake dan C. lunata (Wakk) Boed. Bagian yang terinfeksi seperti

daun dibersihkan di bawah air mengalir lalu dipotong-potong sebesar 1 cm. Lalu disterilkan dengan kloroks 1% selama lebih kurang 3 menit dan dibilas dengan aquades steril sebanyak 2-3 kali. Selanjutnya potongan daun ditanam dalam media

PDA dan diinkubasi pada suhu kamar selama 1 minggu. Setelah miselium C. oryzae Miyake dan C. lunata (Wakk) Boed. tumbuh, diisolasi kembali untuk

Isolasi Jamur Endofit

Tanaman padi yang diduga mengandung jamur endofit diambil dari tanaman yang sehat diantara tanaman yang sakit. Lokasi pengambilan tanaman padi dilakukan di Kampung Susuk, Padang Bulan, Medan pada ketinggian tempat ±25 m dpl. Tanaman padi yang digunakan yaitu varietas Ciherang dan berada pada stadia vegetatif 25-30 HST. Jamur endofit diperoleh dengan mengisolasi akar, batang dan daun tanaman padi yang sehat. Bagian tanaman tersebut dicuci dengan menggunakan air mengalir selama ±5 menit setelah itu dipotong ±2 cm. Sterilisasi permukaan bagian tanaman dilakukan dengan membersihkan bagian tanaman dengan menggunakan alkohol 70% selama ±5 menit. Sterilisasi selanjutnya dengan menggunakan natrium hipokorit 1% selama ±1 menit. Kemudian dibilas sebanyak dua kali dengan aquades steril selama 1 menit dan dikeringkan. Bagian tanaman dibelah untuk ditumbuhkan dalam media PDA untuk selanjutnya diinkubasi (Zakaria, dkk, 2010).

Untuk uji awal kesterilan jaringan tanaman, dilakukan dengan cara membuat goresan bilasan terakhir akuades steril ke media PDA dan selanjutnya diinkubasi. Hasil isolasi jamur endofit tidak dapat digunakan jika pada media uji kesterilan tumbuh cendawan. Jamur endofit lalu dibuat biakan murninya untuk selanjutnya diidentifikasi berdasarkan warna koloni dan morfologi secara mikroskopik serta dibandingkan dengan buku kunci identifikasi menurut Barnett (1972).

Uji Patogenesitas

Untuk membuktikan bahwa jamur endofit tidak menyebabkan gejala penyakit maka perlu dilakukan uji patogenesitas jamur endofit pada tanaman padi

sehat. Perbanyakan jamur endofit dilakukan dengan menggunakan media jagung. Jagung dibersihkan dan dikukus dengan menggunakan dandang hingga 1/2 matang atau selama 30 menit. Dihamparkan jagung yang telah dikukus di atas nampak/baki sampai dingin, kemudian dimasukkan masing-masing sebanyak 10 gr ke dalam kantong plastik tahan panas. Setelah itu media disterilkan dalam

autoclave selama 30 menit. Biakan murni jamur endofit diinokulasikan dengan menggunakan cork borer pada media jagung. Diaduk hingga rata kemudian diinkubasikan pada suhu kamar selama 10-15 hari. Aplikasi jamur endofit dilakukan dengan menaburkan substrat jagung sebagai media perbanyakan jamur endofit pada tanaman padi sehat. Pengamatan gejala penyakit dilakukan pada 10 hari setelah inokulasi (HSI).

Reisolasi Jamur Endofit Dalam Jaringan Tanaman

Reisolasi dilakukan untuk membuktikan kolonisasi dan penyebaran jamur endofit pada jaringan tanaman padi. Bagian tanaman diambil lalu dicuci dengan menggunakan air mengalir selama ± 5 menit setelah itu dipotong ± 2 cm. Sterilisasi permukaan bagian tanaman dilakukan dengan membersihkan bagian tanaman dengan menggunakan alkohol 70% selama ± 5 menit. Sterilisasi selanjutnya dengan menggunakan natrium hipokorit 1% selama ± 1 menit. Kemudian dibilas sebanyak dua kali dengan aquades steril selama 1 menit dan dikeringkan. Bagian tanaman dibelah untuk ditumbuhkan dalam media PDA untuk selanjutnya diinkubasi. Jamur endofit yang tumbuh lalu dicocokkan dengan jamur endofit yang telah diperoleh sebelumnya.

Uji Antagonisme Jamur Endofit Terhadap Patogen

Uji antagonisme dilakukan dengan cara inokulum isolat jamur patogen diletakkan tepat di tengah cawan petri dan isolat jamur endofit diletakkan 1 cm dari tepi cawan petri dalam satu cawan petri yang berdiameter 9 cm. Biakan tersebut diinkubasikan pada suhu 250C. Pertumbuhan jamur diamati setiap hari mulai 1 hari setelah inokulasi (hsi) (Supriati, dkk, 2010).

r2 r1 A B

1 cm 4,5 cm

Gambar 5. Uji antagonisme jamur endofit terhadap patogen Keterangan:

A = Jamur endofit B = Jamur patogen

r1 = jari-jari koloni jamur patogen yang menjauhi jamur endofit (cm) r2 = jari-jari koloni jamur patogen yang mendekati jamur endofit (cm)

Peubah Amatan

Daerah Hambatan (Inhibiting Zone)

Pengamatan persentase daerah hambatan dilakukan setiap hari selama 7 hari. Persentase daerah hambatan pertumbuhan miselium jamur patogen oleh jamur endofit dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut:

IZ =�1− �2

-�1 � 100% Keterangan:

IZ = persentase daerah hambatan (%)

r1 = jari-jari koloni jamur patogen yang tumbuh ke arah berlawanan dengan tempat jamur endofit (cm)

r2 = jari-jari koloni jamur patogen yang tumbuh ke arah jamur endofit (cm) (Fokkema, 1976 dalam Rahaju, 2007).

Luas Daerah Hambatan (Inhibiting Zone)

Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan koloni jamur patogen dan dan jamur endofit dengan adanya daerah hambatan yang ditandai dengan terdapatnya daerah bening di antara dua koloni jamur yang beroposisi, yaitu pada 7 hsi. Pengukuran dilakukan dengan rumus sebagai berikut:

Luas Daerah Hambatan = Luas cawan petri – (Luas jamur patogen + jamur endofit)

Diameter Koloni

Koloni isolat patogen dan jamur endofit dibiakkan dengan metode one point (satu titik) pada media PDA di cawan petri berdiameter 9 cm, dilakukan

pengukuran diameter koloni patogen mulai dari 1-7 hsi, dengan cara mempolakan bentuk perkembangan koloni pada cawan petri menggunakan plastik transparan

lalu digambar mengikuti pola perkembangan koloni tersebut. Pengukuran diameter koloni dilakukan dengan menggunakan jangka sorong.

Luas Pertumbuhan Koloni

Pengukuran luas pertumbuhan koloni isolat patogen dan jamur endofit dilakukan dengan cara menggambar pola luas pertumbuhan jamur keduanya pada plastik transparan dan digunting sesuai pertumbuhannya. Pengukuran dilakukan mulai dari 1-7 hsi dan diukur dengan menggunakan rumus pola patron sebagai berikut: � �= �′ �′ Keterangan:

A = berat plastik ukuran cawan petri yang berukuran 9 cm (gr) B = luas lingkaran cawan petri yang berukuran 9 cm (cm2) A’ = berat plastik ukuran cawan petri yang berukuran 9 cm (gr) B’ = luas lingkaran setelah jamur berkembang tiap harinya (cm2)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait