• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan dan Alat

Objek penelitian ini adalah meiofauna yang hidup di rongga antar butir sedimen (interstisiil). Bahan-bahan yang digunakan adalah contoh sedimen laut, formalin 4%, rose bengal, dan gliserol. Alat yang digunakan untuk penentuan stasiun adalah bingkai 50 x 50 cm2. Alat-alat yang digunakan untuk peng-ambilan contoh sedimen adalah core (p = 10 cm, d = 3 cm) dan (p = 30 cm, d = 5 cm) serta botol plastik. Alat-alat yang digunakan untuk menghitung parameter lingkungan adalah termometer, refraktometer, penguji tanah (soil tester), dan kertas tahan air (under water paper). Alat yang digunakan untuk identifi-kasi meiofauna adalah loop Irwin dan mikros-kop Leica ATC 2000 dan mikrosmikros-kop stereo Carton. Dokumentasi meiofauna menggu-nakan kamera Casio Exilim.

Deskripsi Tempat Pengambilan Contoh

Teluk Banten (5o55’- 6o5’ S, 106o5’- 106o 15’ E) terletak di utara Pulau Jawa, sekitar

Latar Belakang

Meiofauna adalah istilah yang digunakan untuk kelompok hewan yang berukuran antara 0.063-1 mm (Bouwman 1987, diacu dalam Susetiono 1999). Anggota meiofauna dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu meiofauna tetap dan meiofauna sementara. Meiofauna tetap adalah hewan yang sepanjang siklus hidup ukuran tubuhnya selalu berada di dalam kisaran ukuran meiofauna (Coull 1988). Taksa meiofauna tetap adalah Gastrotricha, Gnathosmulida, Kinorhyncha, Loricifera, Tardigrada, Mystacocarida, dan beberapa wakil dari Rotifera, Nematoda, Poly-chaeta, Copepoda, Ostracoda, Turbellaria, A-cari, Hydrozoa, Nemertina, Entroprocta, Gas-tropoda, Aplacophora, Branchiopoda, Holo-thuroidea, Tunicata, Priapulida, Oligochaeta, dan Sipuncula (Coull 1988). Meiofauna sementara adalah hewan yang ketika juvenil, berdasarkan ukuran tubuhnya, dikelompokkan ke dalam meiofauna, tetapi ketika dewasa dikelompok ke dalam makrofauna. Juvenil dari makrofauna umumnya adalah meiofauna sementara (Coull 1988). Kata meiofauna berasal dari bahasa Yunani, yaitu meio yang berarti lebih kecil (Higgins & Thiel 1988). Ukuran meiofauna lebih kecil dari makro-fauna, yaitu hewan yang tersaring di saringan 1 mm (Higgins & Thiel 1988), tetapi lebih besar dari mikrofauna (Giere 1993).

Meiofauna dapat ditemukan hampir di semua habitat air, mulai dari air tawar, payau sampai dengan laut. Di wilayah laut, meiofauna dapat ditemukan mulai dari daerah intertidal sampai dengan laut dalam. Meio-fauna juga dapat ditemukan diberbagai sedi-men (interstisiil) mulai dari lumpur sampai dengan kerikil kasar. Meiofauna yang hidup di sedimen dapat melakukan distribusi vertikal. Organisme yang hidup di sedimen laut disebut sebagai organisme bentik atau bentos (Brusca & Brusca 1990). Beberapa meiofauna di-temukan di atas sedimen, seperti pada daun makroalga, bagian tubuh hewan (celah koral, cacing tabung, duri Echinodermata), dan lamun (Coull 1988).

Lamun tumbuh di sedimen laut. Lamun termasuk kedalam divisi Spermatophyta; sub-divisi Angiosperma, dan mempunyai dua famili, yaitu Potamogetonaceae dan Hydro-charitaceae. Indonesia mempunyai 12 spesies lamun (Fortes 1990). Sebagian besar sedimen laut di dunia ditumbuhi lamun, kecuali di

Djamali 1995). Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii adalah dua spesies yang paling dominan di P. Kambing (Kiswara 2004).

Zona sebaran lamun di Teluk Banten mulai dari pantai sampai dengan tubir. Perbedaan zona sebaran lamun dijumpai dalam kom-posisi jenis lamun (vegetasi tunggal atau campuran) dan luasan tutupannya (jarang, sedang, tinggi atau sangat tinggi) (Kiswara 1992). Luasan tutupan lamun mempengaruhi kepadatan meiofauna.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan meneliti distribusi vertikal meiofauna interstisiil pada padang lamun dengan luasan tutupan berbeda di Pulau Kambing, Teluk Banten.

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan September 2007. Pengambilan contoh dilaksanakan pada bulan Mei 2007 di P. Kambing, Teluk Banten. Identifikasi dilakukan di Pusat Penelitian Oseangrafi (P20), LIPI, Jakarta.

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Objek penelitian ini adalah meiofauna yang hidup di rongga antar butir sedimen (interstisiil). Bahan-bahan yang digunakan adalah contoh sedimen laut, formalin 4%, rose bengal, dan gliserol. Alat yang digunakan untuk penentuan stasiun adalah bingkai 50 x 50 cm2. Alat-alat yang digunakan untuk peng-ambilan contoh sedimen adalah core (p = 10 cm, d = 3 cm) dan (p = 30 cm, d = 5 cm) serta botol plastik. Alat-alat yang digunakan untuk menghitung parameter lingkungan adalah termometer, refraktometer, penguji tanah (soil tester), dan kertas tahan air (under water paper). Alat yang digunakan untuk identifi-kasi meiofauna adalah loop Irwin dan mikros-kop Leica ATC 2000 dan mikrosmikros-kop stereo Carton. Dokumentasi meiofauna menggu-nakan kamera Casio Exilim.

Deskripsi Tempat Pengambilan Contoh

Teluk Banten (5o55’- 6o5’ S, 106o5’- 106o 15’ E) terletak di utara Pulau Jawa, sekitar

175 km ke arah barat dari Jakarta. Teluk Banten dibatasi oleh Tanjung Potang di sebelah timur dan Tanjung Piatu di bagian barat. Teluk Banten terdiri dari beberapa Pulau, salah satunya adalah Pulau Kambing. Penduduk setempat menyebutnya Pulau Gedang.

Kedalaman laut di Teluk Banten kurang dari 10 m. Komposisi sedimen didominasi oleh pasir dan lumpur. Lamun di Teluk Ban-ten tersusun tunggal atau campuran

(

Kiswara 1992

).

Posisi P. Kambing dapat dilihat di Lampiran 1.

Penentuan Stasiun

Penentuan stasiun di P. Kambing ber-dasarkan luasan tutupan padang lamun. Empat stasiun tersebut berdasarkan kepadatan luasan tutupan padang lamun yaitu padat, sedang, rendah, dan tidak ditumbuhi lamun, berturut-turut untuk stasiun 1, 2, 3, dan 4. Kepadatan luasan tutupan padang lamun ditentukan menggunakan bingkai berukuran 50 x 50 cm2 (Kiswara & Djamali 1995).

Identifikasi Lamun

Identifikasi lamun dilakukan in situ. Idenitfikasi mengacu pada Seagrass of the World (Den hartog 1970). Ciri yang di-perhatikan adalah struktur anatomi rizoma, bentuk percabangan akar, pertulangan dan dentikulasi daun, bentuk ujung daun, dan ligula.

Pengambilan Contoh Sedimen

Contoh sedimen diambil dari empat stasiun. Pada tiap stasiun, pengambilan dilakukan sebanyak tiga kali. Sedimen diambil menggunakan core (p = 10 cm, d = 3 cm). Ketika core ditekan ke dalam sedimen diusahakan piston core sedekat mungkin dengan permukaan sedimen untuk mencegah pengadukan akibat tekanan dan tarikan core. Sedimen di dalam core dipotong menjadi lima bagian dengan ketebalan 2 cm (D1 = 1-2 cm, D2 = 3-4 cm, D3 = 5-6 cm, D4 = 7-8 cm, D5 = 9-10 cm). Selanjutnya, tiap bagian sedimen dimasukkan ke dalam botol plastik dan diawetkan dengan larutan formalin 4% dan di-warnai menggunakan rose bengal (Susetiono 1995).

Pengukuran Parameter Lingkungan

Pengukuran suhu air, pH sedimen, dan salinitas dengan refraktometer dilakukan in situ pada tiap stasiun. Hasil pengukuran di tulis di atas kertas anti air.

Ekstraksi Meiofauna

Tiap bagian sedimen dengan kedalaman tertentu dituang ke dalam gelas ukur berisi air tawar, lalu sedimen disaring dengan saringan berukuran 1 mm (Susetiono 1995), dengan tujuan memisahkan makrofauna. Sedimen yang lolos dari saringan 1 mm ditampung di dalam gelas ukur berisi air tawar. Air tawar yang digunakan sebelumnya disaring dengan saringan 0.032 mm untuk menghindari kontaminasi organisme air tawar. Sedimen di dalam gelas ukur, lalu didiamkan kira-kira 30 detik sampai pasir kasar tenggelam. Meiofauna dan pasir halus yang melayang-layang diatas per-mukaan air disaring dengan saringan 0.032 mm. Tahap ini diulang sebanyak tiga kali. Setelah itu, sedimen yang tertahan di saringan 0.032 mm di pindahkan ke cawan Petri (Pfannkuche & Thiel 1988).

Analisis Total Berat Organik (TBO)

Contoh sedimen diambil dari tiap stasiun menggunakan core (p = 30 cm, d = 5 cm). Setelah itu sedimen disimpan di dalam kantung plastik dan diberi label. Sedimen dianalisis menggunakan metode pengabuan yang dimulai dengan pemanasan selama 24 jam pada suhu 70o C. Setelah 24 jam, sedimen didinginkan lalu ditimbang dan didapat berat hasil pengeringan 70 oC (berat kering). Setelah ditimbang, sedimen dimasukkan ke dalam tanur untuk memasuki proses pengabuan selama 4 jam pada suhu 600o C. Setelah 4 jam, sedimen ditimbang. Selisih berat kering deng-an berat sedimen setelah pengabudeng-an me-rupakan jumlah TBO. TBO dinyatakan dalam persen.

Analisis Butiran Sedimen

Contoh sedimen diambil dari tiap stasiun menggunakan core (p = 30 cm, d = 5 cm). Contoh sedimen disimpan di dalam kantung plastik dan diberi label. Sedimen dianalisis dengan menggunakan metode penyaringan basah. Contoh sedimen di pindahkan ke dalam mangkuk dan dipanaskan selama 24-48 jam pada suhu 70 oC. Lalu, mangkuk berisi sedi-men didinginkan dan ditimbang. Setelah itu sedimen di dalam mangkuk disaring meng-gunakan saring bertingkat yaitu 8, 4, 2, 1, 0.5, 0.25, 0.125, dan 0.063 mm dengan sambil dialiri air. Kuas digunakan untuk membantu pengayakan bertujuan agar sedimen halus tidak pecah. Hasil saringan tiap tingkat diletakkan ke dalam mangkuk yang berbeda. Mangkuk yang berisi sedimen hasil saringan dipanaskan selama 24 jam pada suhu 80 oC.

Setelah itu ditimbang dan didapat berat kering. Berdasarkan ukurannya ada tiga ke-lompok sedimen, yaitu kerikil yang berukuran lebih besar dari 1 mm, pasir yang berukuran 0.063 sampai dengan 1 mm, dan lumpur yang berukuran lebih kecil dari 0.063 mm (Giere et. al 1988).

Identifikasi Meiofauna

Identifikasi meiofauna dilakukan sampai dengan tingkat taksa utama meiofauna. Identifikasi menggunakan mikroskop stereo, mikroskop cahaya, dan loop Irwin, dengan tujuan mengambil meiofauna dari dalam cawan Petri. Identifikasi menggunakan Intro-duction to the Study of Meiofauna (Higgins & Thiel 1988) dan Invertebrates (Brusca & Brusca 1990). Taksa dengan kepadatan ter-tinggi diidentifikasi sampai tingkat famili.

Analisis Data

Data biologi dianalisis menggunakan metode mulivariate, software PRIMER 5 (Plymouth Routines in Multivariate Eco-logical Research) (Deudero & Vincx 2000).

Kepadatan meiofauna ditulis dalam indi-vidu tiap 10 cm2. Jumlah meiofauna yang didapat dikonversikan ke luas permukaan 10 cm2 dengan cara mengkalikan individu dengan angka 1.4. Angka 1.4 didapat dengan membagi nilai 10 cm2 dengan luas core (Ø = 3 cm).

HASIL

Kepadatan Meiofauna Tiap Stasiun dengan Perbedaan Luasan Tutupan Vegetasi

Hasil penelitian ini didapatkan sebelas taksa meiofauna di P. Kambing, yaitu Nematoda, Copepoda, Polychaeta, Oligochae-ta, Foraminifera, Ostracoda, Nauplii, Isopoda, Acari, Kinorhyncha, dan Tardigrada (Lam-piran 2 & 3). Tujuh taksa pertama selalu ditemukan pada tiap stasiun (Tabel 1). Empat taksa lain, Isopoda, Acari, Kinorhyncha, dan Tardigrada, berturut-turut hanya ditemukan pada stasiun 1, 2, 3, dan 4 (Tabel 1). Nematoda adalah taksa yang mempunyai kepadatan tertinggi pada tiap stasiun (Tabel 1).

Kepadatan meiofauna umumnya menurun dari stasiun 1 ke 4 (Gambar 1). Kepadatan tertinggi didapat pada stasiun 1 (2205.71 tiap 10 cm2), yaitu stasiun dengan luasan tutupan lamun terpadat dan kepadatan terendah pada stasiun 4 (1210.52 tiap 10 cm2), yaitu stasiun tanpa ditumbuhi lamun (Gambar 1).

Distribusi Vertikal Meiofauna

Hasil dari perhitungan nilai persamaan menggunakan persamaan Bray-Curtis ditam-pilkan dalam bentuk dendrogram (Gambar 2). Angka pertama pada ujung dendrogram me-nunjukkan jenis stasiun (1, 2, 3, dan 4). Empat stasiun tersebut berdasarkan kepadatan tutu-pan lamun yaitu padat, sedang, rendah, dan tidak ditumbuhi lamun, berturut-turut untuk stasiun 1, 2, 3, dan 4. Angka kedua menun-jukan kedalaman sedimen, yaitu D1 = 1-2 cm, D2 = 3-4 cm, D3 = 5-6 cm, D4 = 7-8 cm, D5 = 9-10 cm (1, 2, 3, 4, dan 5).

Kelompok 1 terdiri dari 4.4, 3.4, 3.5, dan 4.5 .(Gambar 2). Kepadatan meiofauna dalam kelompok ini berkisar antara 20-50 individu tiap 10 cm2 (Gambar 2). Kelompok 2 terdiri dari 2.1, 3.2, 3.1, 1.2, 1.1, 2.2, 1.3, dan 4.1. Kepadatan meiofauna dalam kelompok ini berkisar antara 300-700 individu tiap 10 cm2 (Gambar 2). Kelompok 3 terdiri dari 1.5, 2.5, 2.4, 2.3, 3.3, 4.2, 1.4, dan 4.3. Kepadatan meiofauna dalam kelompok ini berkisar antara 60-200 individu tiap 10 cm2 (Gambar 2).

Meiofauna ditemukan sampai dengan ke-dalaman 10 cm (distribusi vertikal) (Gambar 3). Kepadatan meiofauna mengalami pe-nurunan seiring dengan menurunnya keda-laman (Gambar 3). Kepadatan meiofauna ter-tinggi terdapat pada kedalaman 1-2 cm (D1) (Gambar 3).

Parameter Lingkungan

Meskipun luasan tutupan lamun pada setiap stasiun beragam tetapi memiliki nilai pH dan salinitas yang sama, yaitu 7 dan 30 ‰. Sedangkan nilai persentase TBO dan suhu air berbeda. Suhu air berkisar antara 32-33 oC. Persentase TBO tertinggi didapat pada stasiun 1 (28.27 %), yaitu stasiun dengan luasan tutupan lamun terpadat dan terendah pada stasiun 3 (21.64 %), yaitu stasiun dengan lua-san tutupan lamun rendah (Tabel 2). Pasir mendominasi komposisi sedimen di tiap sta-siun (Tabel 3). Kandungan pasir tertinggi didapat pada stasiun 2 (76.37 %) dan terendah pada stasiun 4 (56 %). Kandungan kerikil pada stasiun 4 tertinggi (24.46 %) dan ter-endah pada stasiun 2 (7.91 %). Sedangkan kandungan lumpur tertinggi pada stasiun 1 (20.29 %) dan terendah pada stasiun 3 (10.52 %) (Tabel 3).

Setelah itu ditimbang dan didapat berat kering. Berdasarkan ukurannya ada tiga ke-lompok sedimen, yaitu kerikil yang berukuran lebih besar dari 1 mm, pasir yang berukuran 0.063 sampai dengan 1 mm, dan lumpur yang berukuran lebih kecil dari 0.063 mm (Giere et. al 1988).

Identifikasi Meiofauna

Identifikasi meiofauna dilakukan sampai dengan tingkat taksa utama meiofauna. Identifikasi menggunakan mikroskop stereo, mikroskop cahaya, dan loop Irwin, dengan tujuan mengambil meiofauna dari dalam cawan Petri. Identifikasi menggunakan Intro-duction to the Study of Meiofauna (Higgins & Thiel 1988) dan Invertebrates (Brusca & Brusca 1990). Taksa dengan kepadatan ter-tinggi diidentifikasi sampai tingkat famili.

Analisis Data

Data biologi dianalisis menggunakan metode mulivariate, software PRIMER 5 (Plymouth Routines in Multivariate Eco-logical Research) (Deudero & Vincx 2000).

Kepadatan meiofauna ditulis dalam indi-vidu tiap 10 cm2. Jumlah meiofauna yang didapat dikonversikan ke luas permukaan 10 cm2 dengan cara mengkalikan individu dengan angka 1.4. Angka 1.4 didapat dengan membagi nilai 10 cm2 dengan luas core (Ø = 3 cm).

HASIL

Kepadatan Meiofauna Tiap Stasiun dengan Perbedaan Luasan Tutupan Vegetasi

Hasil penelitian ini didapatkan sebelas taksa meiofauna di P. Kambing, yaitu Nematoda, Copepoda, Polychaeta, Oligochae-ta, Foraminifera, Ostracoda, Nauplii, Isopoda, Acari, Kinorhyncha, dan Tardigrada (Lam-piran 2 & 3). Tujuh taksa pertama selalu ditemukan pada tiap stasiun (Tabel 1). Empat taksa lain, Isopoda, Acari, Kinorhyncha, dan Tardigrada, berturut-turut hanya ditemukan pada stasiun 1, 2, 3, dan 4 (Tabel 1). Nematoda adalah taksa yang mempunyai kepadatan tertinggi pada tiap stasiun (Tabel 1).

Kepadatan meiofauna umumnya menurun dari stasiun 1 ke 4 (Gambar 1). Kepadatan tertinggi didapat pada stasiun 1 (2205.71 tiap 10 cm2), yaitu stasiun dengan luasan tutupan lamun terpadat dan kepadatan terendah pada stasiun 4 (1210.52 tiap 10 cm2), yaitu stasiun tanpa ditumbuhi lamun (Gambar 1).

Distribusi Vertikal Meiofauna

Hasil dari perhitungan nilai persamaan menggunakan persamaan Bray-Curtis ditam-pilkan dalam bentuk dendrogram (Gambar 2). Angka pertama pada ujung dendrogram me-nunjukkan jenis stasiun (1, 2, 3, dan 4). Empat stasiun tersebut berdasarkan kepadatan tutu-pan lamun yaitu padat, sedang, rendah, dan tidak ditumbuhi lamun, berturut-turut untuk stasiun 1, 2, 3, dan 4. Angka kedua menun-jukan kedalaman sedimen, yaitu D1 = 1-2 cm, D2 = 3-4 cm, D3 = 5-6 cm, D4 = 7-8 cm, D5 = 9-10 cm (1, 2, 3, 4, dan 5).

Kelompok 1 terdiri dari 4.4, 3.4, 3.5, dan 4.5 .(Gambar 2). Kepadatan meiofauna dalam kelompok ini berkisar antara 20-50 individu tiap 10 cm2 (Gambar 2). Kelompok 2 terdiri dari 2.1, 3.2, 3.1, 1.2, 1.1, 2.2, 1.3, dan 4.1. Kepadatan meiofauna dalam kelompok ini berkisar antara 300-700 individu tiap 10 cm2 (Gambar 2). Kelompok 3 terdiri dari 1.5, 2.5, 2.4, 2.3, 3.3, 4.2, 1.4, dan 4.3. Kepadatan meiofauna dalam kelompok ini berkisar antara 60-200 individu tiap 10 cm2 (Gambar 2).

Meiofauna ditemukan sampai dengan ke-dalaman 10 cm (distribusi vertikal) (Gambar 3). Kepadatan meiofauna mengalami pe-nurunan seiring dengan menurunnya keda-laman (Gambar 3). Kepadatan meiofauna ter-tinggi terdapat pada kedalaman 1-2 cm (D1) (Gambar 3).

Parameter Lingkungan

Meskipun luasan tutupan lamun pada setiap stasiun beragam tetapi memiliki nilai pH dan salinitas yang sama, yaitu 7 dan 30 ‰. Sedangkan nilai persentase TBO dan suhu air berbeda. Suhu air berkisar antara 32-33 oC. Persentase TBO tertinggi didapat pada stasiun 1 (28.27 %), yaitu stasiun dengan luasan tutupan lamun terpadat dan terendah pada stasiun 3 (21.64 %), yaitu stasiun dengan lua-san tutupan lamun rendah (Tabel 2). Pasir mendominasi komposisi sedimen di tiap sta-siun (Tabel 3). Kandungan pasir tertinggi didapat pada stasiun 2 (76.37 %) dan terendah pada stasiun 4 (56 %). Kandungan kerikil pada stasiun 4 tertinggi (24.46 %) dan ter-endah pada stasiun 2 (7.91 %). Sedangkan kandungan lumpur tertinggi pada stasiun 1 (20.29 %) dan terendah pada stasiun 3 (10.52 %) (Tabel 3).

Annelida - Polychaeta - - 16.8 ± 3.2 18.2 ± 8.5 17.3 ± 6.5 8.4 ± 3.2

Oligochaeta - - 7.5 ± 3.6 10.7 ± 4.9 10.7 ± 5.2 8.9 ± 0.5

Arthropoda Crustacea Maxillopoda Copepoda - 560.0± 173.3 329.47± 73.0 549 ± 209.6 272.1 ± 46.2

Ostracoda - 1.4 ± 1.4 1.4 ± 0.8 0.9 ± 0.9 1.4 ± 1.40

Malacostraca - Isopoda 0.5 ±0.5 0 0 0

Larva: Nauplii 75.6 ± 30.9 48.5 ± 19.1 35.9 ± 17.8 25.7 ± 4.1

Cheliceriformes Chelicerata - Acari 0 0.5 ±0.5 0 0

Kinorhyncha - - - - 0 0 0.5 ± 0.5 0

Nematoda - - - - 1520.9 ± 378.0 937.5 ± 326.6 707.5 ± 112.4 874.1 ± 232.8

Sarcomastigophra Sarcodina Rhizopoda; Foraminifera - - 17.3 ± 7.5 6.5 ±2.0 14.0 ± 4.3 19.6 ± 3.7

Tardigrada - - - - 0 0 0 0.5 ± 0.5 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 1 2 3 4 Stas iun R at aa n k ep ad at an m ei o fa u n a (i n d iv id u t ia p 1 0 c m 2 )

Gambar 1 Rataan kepadatan meiofauna tiap stasiun dengan perbedaan luasan tutupan E. acoroides, di P. Kambing.

Gambar 2 Dendrogram hasil persamaan Bray-Curtis untuk distibusi vertikal meiofauna tiap stasiun dengan perbedaan luasan tutupan E. acoroides, di P. Kambing. Angka pertama pada ujung cabang dendrogram menunjukan jenis stasiun (1, 2, 3, dan 4), sedangkan angka kedua menunjukan kedalaman sedimen (D1-D5) (1, 2, 3, 4, dan 5). 4 .4 3.4 3.5 4.5 2.1 3.2 3.1 1.2 1.1 2.2 1.3 4.1 1.5 2.5 2.4 2.3 3 .3 . 4 .2 1.4 4.3 100 80 60 40 S im il ar it as B ra y -C u rt is

1 2 3

0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 1 2 3 4 5 Nematoda Copepoda Polychaeta Foraminifera Oligochaeta Ostracoda Nauplii Isopoda Acari Kinorhyncha Tardigrada

Gambar 3 Kepadatan taksa meiofauna pada distribusi vertikal. D1 = 1-2 cm, D2 = 3-4 cm, D3 = 5-6 cm, D4 = 7-8 cm, D5 = 9-10 cm. P er sa m aa n B ra y -C u rt is K ed al am an

Deskripsi Meiofauna di Pulau Kambing Nematoda

Nematoda mempunyai karakter tubuh triploblastik, bilateral, pseudoselomata, tidak bersegmen, tubuh ditutupi kutikula, pada kutikula terkadang dijumpai seta (Gambar 4), memiliki organ sensor dibagian kepala (amphid) (Gambar 5) dan di bagian ekor (phasmid), habitat di air laut, air tawar, da-ratan, beberapa hidup bebas dan beberapa parasit panjang Nematoda marin umumnya berkisar antara 1 sampai dengan 3 mm (Brus-ca & Brus(Brus-ca 1990).

Gambar 4 Nematoda.

Gambar 5 Amphid Nematoda.

Copepoda

Tubuh terbagi tiga tagmata, yaitu losome, metasome, dan urosome, cepha-losome terdiri dari kepala dan segmen pertama throrax (maxiliped). Kepala dileng-kapi dengan antenula (uniramus), antena (uni atau biramus), mandibula, maxilula (maksila pertama), maxila (maksila kedua). Thorax terdiri dari enam segmen, dilengkapi dengan lima pasang pereopod. Abdomen terdiri dari lima segmen, termasuk telson, kaudal rami berkembang dengan baik panjang berkisar antara 0.4-1 mm (Gambar 6) (Brusca & Brusca 1990; Wells 1988).

Tabel 3 Persentase komposisi sedimen tiap stasiun dengan perbedaan luasan tutupan E. acoroides di P. Kambing

Komposisi Sedimen (%) Diameter Sedimen

(mm) Jenis Sedimen Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4

> 1 Kerikil 13.46 7.19 21.89 24.46 0.063-1 Pasir 66.25 76.37 67.59 56.00 < 0.063 Lumpur 20.29 16.44 10.52 19.54 Seta Kutikula 100 µm

Tabel 2 Nilai hasil pengukuran parameter lingkungan tiap stasiun dengan perbedaan luasan tutupan E. acoroides di P. Kambing

Parameter lingkungan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4

Luasan tutupan lamun (%) 60 45 10 0

TBO (%) 28.27 24.68 21.64 25.41 Salinitas (‰) 30 30 30 30 Suhu air (OC) 32 33 32 33 pH sedimen 7 7 7 7 Amphid 100 µm

Gambar 6 Copepoda

Nauplii

Nauplii adalah larva dari subsubfilum Crustacea. Tiap perkembangannya terdiri dari 5 sampai dengan 6 tahap. Tiap tahapan per-kembangan dibedakan dari penambahan pada segmen prosome, yaitu segmen gabungan cephalosome dan metasome, dan urosome. Serta perkembangan alat-alat tambahan, panjang berkisar antara 0.1-0.5 mm (Gambar 7) (Wells 1988).

Gambar 7 Nauplii.

Polychaeta

Tubuh lunak, tubuh terbagi-bagi menjadi segmen berukuran sama, segmen tubuh mempunyai banyak seta, parapodia ber-kembang dengan baik, prostomium dan peristomiun tanpa klitelum, panjang berkisar antara 1 sampai dengan 3 m (Brusca & Brusca 1990) (Gambar 8).

Gambar 8 Polychaeta.

Foraminefera

Cangkang tersusun dari kalsium karbonat, cangkang terdiri dari kamar-kamar, tidak mempunyai organel lokomotor yang perma-nen, ukuran berkisar antara 0.1-0.6 mm (Gambar 9) (Brusca & Brusca 1990).

Gambar 9 Foraminifera.

Oligocaheta

Tubuh bersegmen, seta beberapa, tidak ada parapodia, mempunyai klitelum, panjang berkisar antara 1 mm-1.5 mm (Gambar 10).

Gambar 10 Oligochaeta.

Ostracoda

Segmen tubuh tereduksi, karapas tangkup dua (bivalve), karapas menutupi badan dan kepala, mempunyai antenula, antena, man-dibula, maksilula, maksila, mempunyai kaudal rami, panjang berkisar antara 0.1-0.5 mm (Gambar 11). Gambar 11 Ostracoda. Karapas bivalve 50 µm 50 µm Seta Klitelum 100 µm Parapodia Seta 200 µm 50 µm Antena Metosome Cephalosome Pereopod Kaudal rami 100 µm Urosome

Isopoda

Tidak mempunyai karapas, mempunyai dua pasang antena, mempunyai tujuh pasang pereopod, badan datar dorsoventral. Ekor terdiri dari telson dan uropod, telson ber-gabung bengan 1-6 pleonit membentuk pleo-telson, tidak mempunyai kaudal rami, panjang berkisar antara 1-1.5 mm (Gambar 12).

Gambar 12 Isopoda.

Acari

Termasuk kedalam Kelas Chelicerata, Ordo Acari. Tubuh terbagi menjadi gnatho-soma (anterior) dan idiognatho-soma (posterior), gna-thosoma mungkin hampir sama panjang dengan idiosoma, tapi biasanya lebih pendek, mempunyai empat pasang kaki, dua pasang menghadap ke depan, dua pasang menghadap ke belakang, panjang berkisar antara 0.1-0.5 mm (Gambar 13).

Gambar 13 Acari.

Kinorhyncha

Simetri bilateral, tubuh terbagi menjadi kepala dan batang tubuh, segmen tubuh jelas, mempunyai kerucut oral (oral cone) pada kepala dan dikelilingi oleh duri yang tersusun melingkar (oral stylet), mempunyai duri pada ujung, panjang berkisar antara 0.1-0.5 mm (Gambar 14).

Gambar 14 Kinorhyncha.

Tardigrada

Simetri bilateral, tubuh dibagi ke dalam lima bagian yaitu kepala, tiga segmen yang tiap segmennya dilengkapi dengan sepasang kaki anteroventral, dan satu segmen terakhir dengan sepasang kaki posteroventral, tiap kaki mempunyai cakar atau kuku, panjang berkisar antara 0.1-0.5 mm (Gambar 15).

Gambar 15 Tardigrada.

Famili Nematoda di P. Kambing

Nematoda adalah taksa yang mendominasi di tiap stasiun dan di tiap distribusi vertikal. Pada penelitian ini ditemukan 33 famili Nematoda (Lampiran 4). Lima famili terbesar adalah Leptosomatidae, Linhomoeidae, Mon-hysteridae, Oxystominidae, dan Pelago-nematidae. Nematoda diidentifikasi berda-sarkan permukaan kutikula, bentuk amphid, buccal cavity dan alat tambahan (Platt & Warwick 1988).

Klasifikasi dan Deskripsi Lima Famili Nematoda dengan Jumlah Tertinggi di P. Kambing

Filum: Nematoda: Kelas: Adenophorea: Ordo: Enoplida

Amphid samar. Integumen halus atau beranulasi (berbentuk seperti cincin).

Duri

Oral stylet

50 µm Batang tubuh

Kepala

Kaki antroventral Cakar Kaki posteroventral 50 µm Antena Pereopod 200 µm

Telson & uropod

Gnathosoma

Idiosoma

Esofagus silinder, jarang membentuk bulb yang membengkak. Bentuk buccal cavity bervariasi. Terdapat atau tidak terdapat seta pada kepala. Seta pada badan umumnya hadir. Terdapat atau tidak terdapat kelenjar kaudal (Chitwood 1933).

Subordo: Enoplina

Kutikula halus. Terdapat penebalan pada bagian kepala, membentuk struktur seperti helm atau topi. Seta pada kepala berkembang dengan baik. Amphid berukuran sedang. Buccal cavity kompleks, dengan satu atau tiga gigi berukuran besar, jarang simpel. Bagian anterior esofagus mencapai bagian depan stoma. Organ tambahan berbentuk tubulifrom (Chitwood 1933).

Superfamili: Leptosomatoidea

Stoma simpel. Gigi, jika hadir, umumnya berukuran tidak sama. Esofagus muskular (Filipjev 1916).

Famili: Leptosomatidae

Kapsul pada kepala samar. Stoma sempit. Gigi berukuran kecil (Filipjev 1916).

Subordo: Oncholaimina

Kutikula halus. Seta kepala pendek. Stoma selalu besar, berbentuk seperti laras senapan. Mempunyai tiga gigi berukuran besar. Esofagus dimulai dari dasar stoma. Organ tambahan berbentuk papil atau tombol (de Coninck 1965; & Blaxter 2000).

Famili: Pelagonematoidae

Stoma tidak bergigi atau gigi berukuran kecil, esofagus silinder (de Coninck 1965, diacu dalam Ley & Blaxter 2000).

Subordo: Tripylina

Kutikula halus, jarang beranulasi. Seta pada kepala berukuran kecil atau berbentuk papil. Amphid berukuran kecil. Buccal cavity simpel, berbentuk corong, sempit. Esofagus silinder (Andrassy 1974; Ley & Blaxter 2000).

Superfamili: Oxystomonoidea

Stoma hampir absen. Kepala sempit dan membulat. Seta kepala kecil, sering berbentuk

Dokumen terkait