Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2009 sampai Maret 2010 di Laboratorium Mikologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Bahan dan Alat
Bahan
Bahan tanaman yang digunakan adalah tanaman kacang panjang yang berasal dari kebun dengan serangan berat penyakit virus mosaik kacang panjang (VMKP), tanaman kacang panjang dari kebun tanpa serangan VMKP, serta bibit kacang panjang yang ditumbuhkan dari benih kacang panjang dengan merk dagang Long Silk. Bahan lain yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kentang, agar-agar, alkohol 70%, asam laktat 20%, NaOCl komersial 5,25%, aquades, serta media tanam.
Alat
Alat yang digunakan adalah cawan petri, tabung reaksi, pinset, spatula, labu Erlenmeyer, gelas ukur, jarum okulasi, kompor gas, laminar air flow, microwave,
boiling bath, autoclave, dan pot plastik berdiameter 12 cm.
Metode
Pengambilan Sampel
Sampel tanaman kacang panjang diperoleh dari tiga sumber, yaitu dari kebun dengan serangan berat penyakit VMKP, kebun sehat dan bibit kacang panjang yang ditumbuhkan dari benih komersial. Sampel diambil sebanyak 10 helai daun dan 10 tangkai daun dari masing-masing sumber.
Sampel yang berasal dari lahan yang terkena serangan berat VMKP dan lahan sehat diambil dari pucuk daunnya serta tangkai daun yang muda. Sedangkan yang berasal dari bibit yang ditumbuhkan sendiri diambil dari daun trifoliat pertama dan kedua.
Isolasi Cendawan Endofit
Sampel dari lapang. Cendawan endofit diisolasi dari bagian daun dan tangkai daun kacang panjang. Bagian daun dipotong berbentuk persegi dengan ukuran 0.5 cm x 0.5 cm, sedangkan tangkai daun dipotong dengan ukuran 0.5 cm. Masing-masing bagian kemudian didisinfeksi permukaan menggunakan alkohol 70 % selama 1 menit dan dibilas dengan aquades steril. Sterilisasi kedua dilakukan dengan merendam sampel pada NaOCl 1 % selama 1 menit dan dibilas menggunakan aquades steril sebanyak 3 kali. Sampel kemudian diletakkan pada media Potato Dextrose Agar (PDA) dan diinkubasi selama 7 hari pada suhu
± 27 ˚C
Hasil isolasi cendawan endofit tidak dapat digunakan jika pada media uji kesterilan tumbuh cendawan. Uji kesterilan menggunakan air bilasan terakhir pencucian daun dan dioleskan pada media PDA. Jika pada cawan uji kesterilan tumbuh cendawan maka hasil isolasi cendawan endofit tidak dapat digunakan karena dapat diasumsikan cendawan yang tumbuh adalah berasal dari permukaan daun. Jika pada cawan uji kesterilan tidak tumbuh apa pun, maka cendawan yang tumbuh pada isolasi tersebut berasal dari jaringan tanaman. Cendawan yang tumbuh dari dalam jaringan tanaman dan telah melalui uji kesterilan dimurnikan pada PDA dan dibuat koleksi biakan dalam agar miring.
Sampel dari bibit. Sampel tanaman diambil setelah daun trifoliat pertama dan kedua kacang panjang tumbuh. Metode pengambilan sampel sama seperti pengambilan sampel berasal dari sampel lapang.
Pemurnian
Setelah tumbuh berbagai cendawan pada media PDA, cendawan dimurnikan dan yang memiliki bentuk dan warna yang sama dianggap satu jenis. Masing-masing jenis cendawan disimpan pada media agar miring untuk menumbuhkan sebagai bahan stok.
Seleksi Cendawan Endofit pada Benih Kacang Panjang
Seleksi ini dilakukan sebagai skrining (penapisan) untuk memilih isolat cendawan endofit yang akan digunakan untuk uji pertumbuhan. Benih kacang panjang disterilisasi permukaannya dengan air hangat pada suhu 50 ˚C selama 20 menit selanjutnya dikecambahkan pada biakan murni isolat cendawan endofit yang pertumbuhannya telah memenuhi botol kultur jaringan (kira-kira berumur 7 - 14 hari). Jika benih yang ditanam tidak mampu berkecambah berarti cendawan tersebut bersifat patogen dan tidak digunakan dalam uji lanjutan, sedangkan benih yang berkecambah menandakan isolat cendawan endofit yang digunakan bersifat tidak membahayakan bagi tanaman serta berpotensi sebagai agens antagonis. Cendawan endofit yang dihasilkan pada tahap ini digunakan sebagai perlakuan pada pengamatan terhadap uji pertumbuhan vegetatif dari tanaman kacang panjang.
Cendawan endofit yang didapatkan, dinamai dengan kode yang disesuaikan dengan sumber isolatnya. Cendawan endofit yang berasal dari benih komersial diberi kode I, cendawan endofit yang berasal dari lahan serangan berat virus kuning kacang panjang dinamai dengan kode II, sedangkan yang berasal dari lahan sehat dinamai dengan kode III. Cendawan endofit diambil dari 2 bagian tanaman, yaitu daun dan tangkai daun. Cendawan endofit yang berasal dari bagian daun diberi kode a, sedangkan yang berasal dari tangkai daun diberi kode b (Tabel 1).
Tabel 1 Pemberian kode cendawan endofit hasil eksplorasi Sumber isolat Bagian tanaman
Daun (a) Tangkai bunga (b)
Benih komersial (I) I a I b
Lahan serangan berat (II) II a II b
Lahan sehat (III) III a III b
Uji Pengaruh Cendawan Endofit terhadap Pertumbuhan Kacang Panjang
Benih yang akan diuji disterilisasi permukaan dengan melakukan perendaman menggunakan air panas selama 20 menit pada suhu 50˚C untuk menghilangkan mikroba terbawa benih. Benih kemudian direndam dalam larutan NaOCl 3% selama 1 menit. Benih yang telah disterilisasi permukaan direndam dalam suspensi cendawan endofit selama 15-20 menit. Suspensi cendawan dibuat dari cendawan endofit yang telah direisolasi dan memenuhi permukaan cawan kemudian ditambahkan aquades sebanyak 100 ml (Gambar 1). Benih kacang panjang kemudian ditanam pada media tanam yang berisi campuran tanah dan pupuk kandang perbandingan 1 : 1 (b/b).
Parameter Pengamatan
Viabilitas Benih
Persentase perkecambahan (daya berkecambah) ≤ 7 HST. Daya berkecambah adalah pengamatan benih yang berkecambah pada jangka waktu tertentu, pengamatan dilakukan setiap hari hingga 7 HST.
Persentase perkecambahan ≤ 7 HST diperoleh dari rumus sebagai berikut :
Persentase pertumbuhan benih. Pengamatan persentase pertumbuhan benih juga dilakukan terhadap seluruh benih yang berkecambah dan tumbuh baik. Pengamatan dilakukan setiap hari sejak 1 HST sampai dengan 21 HST.
Persentase pertumbuhan benih diperoleh dari rumus sebagai berikut : jumlah benih yang tumbuh x 100%
jumlah benih yang ditumbuhkan
Pertumbuhan Tanaman
Pengamatan terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang panjang dilakukan 1 minggu sekali pada umur 1 hingga 5 minggu setelah tanam (MST). Parameter yang diamati adalah sebagai berikut,
1. Tinggi tanaman
Kacang panjang uji diamati tingginya setiap minggu. Pengamatan tinggi dilakukan menggunakan penggaris, yang dimulai dari minggu pertama hingga minggu ke-lima. Tinggi tanaman dihitung dari permukaan tanah dalam polybag
hingga daun tertinggi dari kacang panjang uji. 2.Diameter batang
Kacang panjang uji diamati diameternya setiap minggu. Pengamatan diameter dilakukan menggunakan penggaris, yang dimulai dari minggu pertama hingga DB ≤ 7 HST = Jumlah benih yang berkecambah ≤ 7 HST x 100%
minggu ke-lima. Diameter batang tanaman dihitung pada diameter kacang panjang uji yang terbesar.
3. Jumlah daun.
Kacang panjang uji diamati jumlah daunnya setiap minggu hingga minggu ke- lima. Setiap 1 daun yang berbentuk trifoliat dihitung sebagai 1 daun.
Analisis Data
Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor. Faktor tersebut adalah jenis isolat cendawan non-patogenik dengan 12 perlakuan, yaitu IIa5, Penicillium sp. IIIa2, Ia8, Ia7, Fusarium sp. IIIa19, kontrol, IIa1, IIa12, Ia3,
Fusarium sp. IIb8, Trichoderma sp. IIb1 serta hifa steril IIIa3. Penamaan perlakuan didasarkan pada ketentuan Tabel 1.
Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga menghasilkan 60 satuan percobaan. Model rancangan yang digunakan adalah :
Yij = µ + αi +βj + εij
dimana :
Yij : nilai pengamatan pada perlakuan µ : nilai rataan umum
αi : pengaruh perlakuan ke-i
βj : pengaruh ulangan
εij : pengaruh galat percobaan
i = 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 j = 1, 2, 3, 4, 5
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Statistical Analisys System (SAS) versi 9.13. Pengaruh perlakuan dianalisis dengan sidik ragam. Apabila terdapat beda nyata antar perlakuan dilakukan uji lanjut dengan Beda Nyata Jujur (BNJ) Tukey pada taraf nyata α = 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Eksplorasi Cendawan Endofit
Cendawan endofit dapat diisolasi dari semua bagian dari tumbuhan, baik akar, batang, cabang, tangkai, daun bahkan bunga. Pada penelitian ini tangkai daun dan daun yang menjadi objek pengamatan dan eksplorasi cendawan endofit. Tiga lokasi yang digunakan sebagai tempat pengambilan sampel, masing-masing menghasilkan jumlah dan isolat yang beragam (Tabel 2).
Tabel 2 Jumlah isolat cendawan patogenik dan non-patogenik pada kacang panjang dari berbagai sumber
Komposisi
Sumber isolat
Jumlah
isolat Cendawan Cendawan
patogenik non-patogenik
Benih komersial 7 4 (57,14) 3 (42,86) Lahan serangan berat 24 19 (79,17) 5 (20,83)
Lahan sehat 5 2 (40) 3 (60)
Cendawan endofit hasil eksplorasi memberikan hasil yang beragam jumlah dan jenisnya. Cendawan endofit yang didapatkan dari lahan serangan berat menempati peringkat tertinggi sebanyak 24 isolat dengan presentase 79,17% cendawan patogenik dan 20,83% cendawan non-patogenik. Cendawan endofit dari benih komersial didapatkan sebanyak 7 isolat dengan presentase cendawan patogenik sebanyak 57,14% dan presentase cendawan non-patogenik 42,86%. Sedangkan pada lahan sehat, mendapatkan hasil ekplorasi yang terkecil yakni sebanyak 5 isolat, dengan komposisi 40% cendawan patogenik dan 60% cendawan non-patogenik.
Isolat cendawan endofit yang ditemukan dari eksplorasi ini sejumlah 36 isolat cendawan yang bersifat patogenik serta non-patogenik. Hasil eksplorasi yang beragam jenis dan jumlahnya diduga karena perbedaan varietas yang
digunakan serta terdapat perbedaan usia tanaman sampel. Usia sampel yang diambil dari lahan yang berpenyakit virus mosaik kacang panjang (VMKP) lebih tua dibandingkan dengan sampel yang diambil dari lahan sehat maupun yang ditumbuhkan dari benih komersial. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan Stone et al. (2004) bahwa frekuensi infeksi serta keragaman cendawan endofit meningkat seiring dengan bertambahnya usia organ atau jaringan tanaman inang. Selain itu diduga karena perbedaan kondisi lingkungan serta pengolahan lahan. Pada lahan yang berpenyakit VMKP, kondisi lingkungan serta interaksi dengan tanaman lain lebih heterogen dibandingkan dengan lahan sehat serta benih komersial.
Data hasil ekplorasi cendawan endofit juga memperlihatkan bahwa kelimpahan cendawan endofit patogenik pada lahan yang terkena serangan berat VMKP lebih besar dibandingkan dengan kelimpahan cendawan endofit patogenik pada lahan sehat. Hal ini dapat menjadi petunjuk awal bahwa terdapat korelasi antara kelimpahan cendawan endofit patogenik dengan kejadian penyakit VMKP di lapang.
Seleksi Cendawan Endofit
Seleksi cendawan endofit hasil eksplorasi bertujuan memilih isolat cendawan yang berpotensi sebagai agen hayati atau bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Pada tahap ini dipilih isolat-isolat yang tidak menyebabkan kematian atau penghambatan pertumbuhan benih kacang panjang, hal ini menunjukkan bahwa isolat tersebut tidak berpotensi sebagai cendawan patogenik yang pada umumnya mematikan pertumbuhan benih.
Karakteristik cendawan patogenik pada seleksi cendawan endofit ini antara lain benih tidak berkembang; pertumbuhan benih lambat jika dibandingkan dengan isolat cendawan lainnya; benih mampu berkecambah dan tumbuh namun pada akhirnya mengalami kematian, sedangkan karakteristik cendawan non- patogenik antara lain benih mampu berkecambah dengan baik serta akar dan batang kacang panjang tumbuh dengan baik (Gambar 2). Sedangkan yang digunakan sebagai pembanding adalah kontrol, yaitu media PDA yang ditanamkan benih kacang panjang tanpa ditumbuhkan isolat cendawan terlebih dahulu.
Isolat cendawan endofit non-patogenik yang dihasilkan dari eksplorasi ini antara lain Phoma sp. Ia3, Fusarium sp. Ia7, isolat Ia8, Fusarium sp. IIa1, isolat IIa5, Fusarium sp. IIa12, Trichoderma sp. IIb1, Fusarium sp. IIb8, Penicillium sp. IIIa2, hifa steril IIIa3, Fusarium sp. IIIa19 (Domsch et al. 1980; Watanabe 1994) koloni cendawan tertera pada Gambar 3. Untuk bahan stok, isolat yang diperoleh disimpan pada tabung reaksi. Isolat cendawan yang telah didapatkan digunakan untuk pengamatan viabilitas benih serta pengujian pertumbuhannya pada media tanam dengan menggunakan benih kacang panjang.
Cendawan endofit non-patogenik yang didapatkan sejalan dengan cendawan endofit yang didapatkan pula oleh Niere et al. (2002) bahwa hasil eksplorasi cendawan endofit dari tanaman Pisang Awak di Uganda didapatkan genus
Fusarium non-patogenik, Penicillium, serta Trichoderma. Pada isolat IIIa3 diidentifikasi sebagai hifa steril karena hasil identifikasi mikroskopik hanya terdapat hifa steril, tanpa adanya struktur reproduktif, seperti spora atau sporangium. Hal ini umum terjadi pada cendawan, karena tidak semua cendawan memiliki struktur reproduktif (Anonim 2011). Macarthur & McGee (2000) menyebutkan bahwa hasil eksplorasi cendawan endofit pada Banksia integrifolia
di 3 tempat, beberapa diantaranya ditemukan hifa miselium steril.
Gambar 2 Seleksi cendawan endofit pada benih kacang panjang. Kiri: cendawan non-patogenik; kanan: cendawan patogenik.
Gambar 3 Isolat-isolat cendawan endofit non-patogenik. a. Phoma sp. Ia3; b. isolat IIa5; c. Fusarium sp. IIa1; d. Trichoderma sp. IIb1;
e. Fusarium sp. IIa12; f. Penicillium sp. IIIa2; g. Fusarium sp.IIb8; h. hifa steril IIIa3; i. Fusarium sp. Ia7; j. isolat Ia8;
k. Fusarium sp. IIIa19
c
b
d
e
f
g
h
a
i
j
k
Viabilitas Benih
Persentase Perkecambahan (Daya Berkecambah) ≤ 7 HST
Viabilitas benih adalah daya hidup benih yang ditunjukkan oleh gejala pertumbuhan dan atau gejala metabolismenya. Umumnya sebagai parameter viabilitas benih digunakan persentase perkecambahan. Persentase perkecambahan menunjukkan jumlah kecambah normal yang dapat dihasilkan oleh benih murni pada kondisi lingkungan tertentu dalam jangka waktu yang telah ditetapkan (Sutopo 2004). Pada penelitian ini jangka waktu yang dibatasi pada pengamatan
persentase perkecambahan adalah ≤7 HST.
Presentase terbesar diperoleh pada pengaplikasikan isolat Trichoderma sp. IIb1 sebanyak 85%, dan presentase perkecambahan sebanyak 80% diperoleh pada pengaplikasian hifa steril IIIa3 dan isolat Ia3 sedangkan presentase isolat yang lain beragam yaitu 65%, 40%, 30%, 25%, 15%, 10% hingga 5% (Gambar 4). Hasil yang tidak merata ini diduga disebabkan oleh adanya cendawan patogen terbawa benih (seed-borne pathogen) yang terdapat pada benih kacang panjang yang digunakan dalam pengujian viabilitas benih ini. Cendawan patogen terbawa benih tidak dapat didegradasi oleh perlakuan sterilisasi permukaan yang telah sebelumnya dilakukan, karena cendawan patogen terbawa benih kemungkinan terletak di dalam jaringan benih.
j
Perlakuan isolat Trichoderma sp. IIb1, hifa steril IIIa3 dan Phoma sp. Ia3 mendapatkan hasil yang tinggi, hal ini diduga karena isolat-isolat tersebut bersifat antagonistik yang tinggi sehingga mampu menekan dengan efektif pertumbuhan cendawan patogenik terbawa benih yang ada dalam benih kacang panjang uji. Sedangkan cendawan endofit lainnya kemampuan antagonistiknya rendah, sehingga kemampuan menghambat cendawan patogenik terbawa benih ada dalam benih kacang panjang tidak terlalu efektif.
Selain itu, isolat Trichoderma sp. IIb1, hifa steril IIIa3 dan Phoma sp. Ia3 diduga menghasilkan hormon yang memacu perkecambahan benih serta mampu melakukan penetrasi yang baik ke dalam benih, sehingga perkecambahan benih dapat terjadi lebih cepat dibandingkan benih-benih dengan perlakuan isolat lainnya. Dighton (2003) melaporkan bahwa cendawan menginfeksi benih ketika perikarpnya hilang atau rusak dan kebugaran tanaman inang meningkat dengan adanya cendawan endofit di benih inang. Selain itu cendawan endofit dapat mengkolonisasi daun, tangkai daun serta akar jaringan rumput-rumputan pada musim dingin dan menyebar pada benih inang. Pada fase perkecambahan, inang dan cendawan endofit saling bekerja sama menjadi satu kesatuan yang saling mendukung pertumbuhan masing-masing (Stone et al. 2004).
Persentase Pertumbuhan Benih
Berdasarkan pengamatan persentase pertumbuhan benih kacang panjang, dengan penanaman 20 tanaman pada setiap isolat, menghasilkan persentase pertumbuhan benih yang beragam. Isolat yang memiliki persentase pertumbuhan paling tinggi dicapai oleh isolat hifa steril IIIa3 dan Trichoderma sp. IIb1 sebesar 85% dan diikuti oleh Phoma sp. Ia3 sebesar 80%. Benih tanpa perlakuan perendaman suspensi cendawan memiliki persentase pertumbuhan benih sebesar 20% (Gambar 5).
Pemberian aplikasi perendaman suspensi cendawan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan benih. Meskipun hasilnya beragam, namun seluruh perlakuan yang diberikan aplikasi perendaman suspensi cendawan memiliki persentase perkecambahan yang lebih besar dibandingkan dengan kontrol.
Benih kacang panjang yang baik dan bermutu memiliki penampilan bernas/kusam, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung hama dan patogen (Haryanto et al. 2010). Presentase daya tumbuh benih kontrol memiliki nilai yang rendah yaitu sebesar 20%. Hal ini diduga dikarenakan cendawan patogen terbawa benih yang ada pada kacang panjang uji menghambat pertumbuhan sehingga benih tidak mampu tumbuh dengan normal. Sedangkan kacang panjang yang sebelumnya diberi perlakuan isolat cendawan Gambar 5 Persentase pertumbuhan benih kacang panjang sampai umur 21 HST
hasil ekplorasi, mampu menekan pengaruh cendawan patogen terbawa benih, meskipun hasilnya beragam sesuai dengan pengaruh antagonistiknya terhadap cendawan patogen terbawa benih. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Clay (1990) dalam Dighton (2003) dalam bahwa adanya cendawan endofit berada dalam benih, maka level perkecambahan akan normal.
Tingkat perkembangan cendawan endofit pada tanaman inang dan proporsi benih yang terinfeksi cendawan endofit dapat menjadi aspek yang penting dalam kemampuan kompetisi tanaman. Lebih lanjut Purwanti (2004) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan dibagi menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup sifat genetik, daya tumbuh dan vigor, kondisi kulit dan kadar air benih awal. Faktor eksternal antara lain kemasan benih, komposisi gas, suhu dan kelembaban ruang simpan.
Pertumbuhan Tanaman
Tinggi Tanaman
Pengaplikasian Trichoderma sp. IIb1 mengalami pertumbuhan tinggi tanaman tercepat, sejak minggu ke-dua hingga minggu ke-lima, pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan isolat yang lainnya, pada minggu ke-lima tingginya mencapai 35,35 cm. Berbeda sedikit dengan tinggi dari Phoma sp. Ia3 yang mencapai 32,35 cm. Sedangkan isolat yang paling rendah pertumbuhannya adalah kacang panjang tanpa pengaplikasian cendawan endofit (kontrol) hanya mencapai 3,05 cm pada minggu terakhir pengamatan (Gambar 6).
Tinggi tanaman kacang panjang pada minggu pertama, benih yang diaplikasikan Phoma sp. Ia3 mencapai nilai paling tinggi sebesar 17,15 cm, namun secara statistik perlakuan ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan isolat
Trichoderma sp. IIb1, hifa steril hitam IIIa3, Fusarium sp. IIb8. Pada minggu kedua, Phoma sp. Ia3 dan Trichoderma sp. IIb1 memiliki nilai yang tinggi dibanding isolat lainnya sebesar 25,25 cm dan 25,23 cm, namun tidak berbeda nyata dengan isolat Fusarium sp. IIb8 dan hifa steril hitam IIIa3, sedangkan dengan isolat lain berbeda nyata. Pada minggu ke-tiga, meski secara statistik tidak berbeda nyata dengan Phoma sp. Ia3 dan Fusarium sp. IIb8, namun pengaplikasian Trichoderma sp. IIb1 meraih nilai tertinggi sebesar 27,65 cm.
Pada minggu ke-empat pengaplikasian Trichoderma sp. IIb1 dan Phoma sp. Ia3 meraih nilai yang tinggi, masing-masing 30,85 cm dan 29,70 cm, meski keduanya secara statistik tidak berbeda nyata. Sedangkan pada minggu ke-lima isolat
Trichoderma sp. IIb1 memiliki nilai tertinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan
lainnya (Tabel 3).
Aplikasi perendaman benih dengan suspensi isolat cendawan endofit pada minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-5 menunjukkan tinggi tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol. Isolat Trichoderma sp IIb1 dan Phoma sp. Ia3 secara keseluruhan memperlihatkan nilai tinggi tanaman lebih baik. Hal ini diduga karena Trichoderma sp. IIb1 dan Phoma sp. Ia3 menghasilkan hormon tumbuh dan berperan sebagai plant growth promoting fungi (cendawan pemacu pertumbuhan tanaman). Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa cendawan endofit dapat berperan sebagai hormon tanaman sehingga pertumbuhan tanaman lebih bugar (Obura 2010).
Hormon adalah zat kimia yang dalam kadar sangat rendah menunjukkan pengaruh pengaturan terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan pada suatu jarak tertentu dari tempat sintesisnya. Pembelahan, pembesaran dan diferensiasi sel bergantung pada hormon (Hanafiah et al. 2005). Hormon yang dihasilkan oleh
Trichoderma sp.dan Phoma sp. Ia3 diduga adalah hormon auksin. Auksin adalah
hormon yang berperan pada fase vegetatif, memacu pertumbuhan dan bergerak dengan polaritas yang nyata secara basipetal dalam tunas dan akropetal dalam akar (Hanafiah et al. 2005). Selain itu, terdapat hormon pertumbuhan lain diantaranya giberelin yang berperan pada daun muda yang sedang berkembang dan bergerak ke seluruh tubuh tanaman, berperan dalam pemanjangan batang dan perluasan daun. Asam absisat yaitu hormon penghambat ketika terkena cekaman lingkungan. Selain itu, hormon lainnya yaitu sitokinin yang merangsang pembelahan sel dan berperan dalam proses metabolisme yang berkaitan dengan pertumbuhan.
Tinggi tanaman (cm) pada umur (MST) 1 2 3 4 5 Trichoderma sp. IIb1 10.33 ab 25.23 a 27.65 a 30.85 a 35.35 a Phoma sp. Ia3 17.15 a 25.25 a 27.18 ab 29.70 a 32.35 ab Hifa steril hitam IIIa3
9.43 abc 15.30 abc 15.50 abcd 15.85 abc 17.85 bcd Fusarium sp. IIa1 6.93 bcd 11.18 bcd 11.65 cd 12.15 bc 13.78 cd Fusarium sp. IIb8 6.78 bcd 19.03 ab 20.35 abcd 23.55 ab 26.38 abc Fusarium sp. Ia7 3.35 bcd 5.78 cd 12.23 cd 14.18 bc 16.10 bcd isolat Ia8 1.80 cd 3.50 cd 4.95 d 5.18 c 5.40 d isolat IIa5 0.93 d 1.95 d 5.25 d 5.65 c 6.25 d Penicillium sp. IIIa2 0.88 d 8.08 bcd 12.90 bcd 13.73 bc 14.80 cd Fusarium sp. IIIa19 0.30 d 3.28 cd 5.70 d 6.73 c 7.45 d Fusarium sp. IIa12 0.00 d 10.25 bcd 12.08 cd 13.75 bc 15.65 bcd kontrol 0.00 d 0.60 d 2.88 d 2.95 c 3.05 d Tabel 3 Pengaruh perlakuan cendawan endofit terhadap tinggi tanaman
Keterangan :
Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada satu kolom tidak berbeda nyata pada uji Tukey (α = 5%).
MST = minggu setelah tanam
Stone et al. (2004) menyatakan bahwa cendawan endofit memproduksi senyawa metabolit sekunder, antibiotik, dan antifungi patogen. Mekanisme kerja cendawan endofit dalam memberikan keuntungan untuk inangnya adalah dengan meningkatkan resistensi tanaman dengan menghasilkan toksin dan mikotoksin, meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan menghasilkan hormon pertumbuhan, serta merangsang tanaman untuk mampu hidup di tempat kering dengan mengatur membuka dan menutup stomata.
Diameter Batang Tanaman
Diameter batang kacang panjang yang diberi pengaplikasian Trichoderma
sp. IIb1 serta Phoma sp. Ia3 sejak minggu pertama sampai minggu ke-5 tidak memiliki perbedaan yang besar. Pada minggu ke-lima diameter batang aplikasi
Trichoderma sp. IIb1 mencapai 0,235 cm, Ia3 mencapai 0,225 cm, serta hifa steril
hitam IIIa3 0,185 cm. Kacang panjang tanpa pengaplikasian cendawan endofit (kontrol) menunjukkan diameter terkecil yaitu sebesar 0,04 cm (Gambar 7).
Aplikasi perendaman benih dengan isolat Trichoderma sp. IIb1 dan