Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2011 – Maret 2012. Persemaian dilakukan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor sedangkan penanaman dilaksanakan di kebun percobaan IPB Sawah Baru, Babakan, Darmaga, Bogor. Jenis tanah tempat penelitian adalah latosol dan berada pada ketinggian 250 m di atas permukaan laut.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah 10 galur dihaploid dari hasil kultur anter dan dua varietas pembanding yaitu Ciherang dan Inpari 13. Nama genotipe galur-galur harapan tersebut yaitu: KP1-3-1-2, KP3-18-1-2, 1-3, KP3-19-1-4, KP4-42-2-1, KP4-43-2-3, FM1R-1-3-1, WI-44, IW56 dan B13-2e.
Pupuk yang digunakan adalah Urea, SP-36 dan KCl dengan dosis 200 kg Urea /ha, 150 kg SP-36 /ha, dan 100 kg KCl /ha. Pestisida yang dipakai adalah insektisida, dan moluscisida. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat yang umum digunakan pada budidaya padi sawah, timbangan, plastik, dan alat tulis.
Metode Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT). Perlakuan yang digunakan adalah 10 galur dihaploid serta dua pembanding yang masing-masing diulang sebanyak tiga kali sehingga terdapat 36 satuan percobaan. Luas seluruh lahan sekitar 324 m2. Setiap satuan percobaan berupa satu petakan yang berukuran 3 m x 3 m. Benih ditanam dua bibit per lubang tanam dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm.
Model rancangan yang digunakan adalah model Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) : Yij = µ + αi + βj + εij
dimana :
Yij = nilai pengamatan galur ke-i dan ulangan ke-j µ = nilai rataan umum
αi = pengaruh galur ke-i
βj = pengaruh ulangan ke-j
εij = pengaruh galat percobaan dari galur ke-i dan ulangan ke-j
Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil percobaan dianalisis menggunakan analisis ragam dengan uji F pada taraf nyata 1 % dan 5 %. Jika diantara galur berbeda nyata maka dilakukan uji lanjut menggunakan uji jarak berganda Duncan (DMRT) pada taraf nyata 1 % dan 5 %. Pengujian ini dilakukan untuk membandingkan nilai tengah semua perlakuan (Gomez dan Gomez, 1995). Sidik ragam disajikan pada Lampiran 1 - 12. Deskripsi varietas Inpari 13 dan Ciherang disajikan pada Lampiran 13 - 14. Data iklim disajikan pada Lampiran 15.
Pelaksanaan Penelitian Pra tanam
Persemaian dilaksanakan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor dengan menggunakan persemaian kering. Persemaian menggunakan bak tembok berukuran 3 m x 1 m x 2 m. Bak diisi dengan tanah sampai 2/3 dari volume seluruhnya. Sebelum melakukan persemaian, tanah yang ada di dalam bak dibersihkan dari semua kotoran dan rumput yang tumbuh. Satu bak persemaian ini dibagi menjadi dua belas bagian. Kemudian benih disemai di dalam bak persemaian dan disiram setiap hari. Benih yang digunakan dalam persemaian ini ada 12 genotipe yang terdiri atas 10 galur dan 2 varietas pembanding. Masing- masing genotipe menggunakan 50 g benih.
9
Penanaman dan Pemeliharaan
Bibit yang telah berumur 21 hari dipindahtanam pada petak percobaan yang berukuran 3 m x 3 m. Sebelum dilakukan penanaman bibit, petakan percobaan diolah. Proses pengolahan tanah terdiri atas pembajakan, garu, dan perataan yang dilakukan pada saat benih masih di persemaian. Benih ditanam 2 bibit per lubang tanam dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. Setiap petak terdiri atas 12 baris, pada tiap baris terdapat 12 lubang tanam sehingga pada satu petak terdapat 144 lubang tanam.
Pemeliharaan tanaman yang dilakukan adalah pemupukan, pengaturan air sesuai dengan fase pertumbuhan, penyulaman, penyiangan gulma, pengendalian hama dan penyakit. Tanaman dipupuk dengan menggunakan pupuk SP-36 150 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha diberikan seluruhnya pada saat tanam, sedangkan urea 200 kg/ha diberikan 3 kali yaitu pada waktu tanam dengan 1/3 dosis, pada saat tanaman berumur 28 hari setelah tanam (HST) dengan 1/3 dosis dan pada saat tanaman berumur 49 HST dengan 1/3 dosis.
Penyiangan gulma dilakukan secara manual yang dilakukan pada saat tanaman berumur 22 HST. Pengendalian hama penyakit tanaman dilakukan dengan menggunakan pestisida. Pestisida yang digunakan disesuaikan dengan jenis dan intensitas hama penyakit yang menyerang tanaman. Pengendalian hama burung dilakukan dengan cara memasang jaring di sekeliling lokasi percobaan
Panen
Sawah dikeringkan seminggu sebelum padi dipanen. Kondisi padi siap panen ditandai dengan 80 % bulir-bulir menguning. Pemanenan dilakukan dengan memotong bagian pangkal batang. Setelah itu dilakukan pengamatan terhadap komponen produksi.
Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan terhadap lima rumpun tanaman contoh dan pengamatan hasil produksi. Peubah yang diamati adalah : 1. Tinggi tanaman, tinggi tanaman maksimum (cm) pada fase vegetatif diukur
dari permukaan tanah sampai ujung daun terpanjang diukur 45 HST pada tiap tanaman contoh. Tinggi tanaman fase generatif diukur pada saat menjelang panen (satu minggu sebelum panen) diukur dari permukaan tanah sampai malai terpanjang pada tiap tanaman contoh.
2. Jumlah anakan total (batang/rumpun), pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah anakan total tiap tanaman contoh pada 45 HST.
3. Jumlah anak produktif (batang/rumpun), pengamatan dengan menghitung jumlah anakan yang bermalai pada saat tanaman menjelang panen.
4. Umur berbunga, umur berbunga dihitung dari saat benih disebar sampai bunga terbentuk 50 % dalam satu rumpun.
5. Umur panen, umur panen dihitung dari saat benih disebar sampai malai 80 % menguning.
6. Panjang malai (cm), pengamatan panjang malai dilakukan dengan mengukur dari leher sampai ujung malai.
7. Jumlah gabah total per malai (butir), dilakukan dengan menghitung jumlah total gabah (gabah isi + gabah hampa) dari lima malai dalam satu rumpun. 8. Jumlah gabah isi dan hampa per malai (butir), dilakukan dengan menghitung
jumlah gabah isi dan gabah hampa secara terpisah dari lima malai dalam satu rumpun.
9. Persentase gabah isi per malai (%), dilakukan dengan membandingkan antara jumlah gabah isi per malai dengan jumlah gabah total per malai.
10.Bobot 1,000 butir (g) dengan kadar air ± 14 %, diperoleh dengan menimbang 1,000 butir gabah bernas dari masing-masing petak percobaan dalam setiap galur.
11.Bobot gabah per petak bersih (g) (gabah kering giling) dihitung dari bobot gabah kering bernas yang berasal dari satu petak tanpa tanaman contoh dan tanaman pinggir dengan kadar air ± 14 %.
11 12. Produktivitas setiap galur dan pembanding. Penghitungan produktivitas dilakukan dengan dua cara. Cara pertama yaitu menghitung produktivitas berdasarkan petak bersih dihitung dengan mengkonversikan ke luasan satu hektar dengan menggunakan rumus = 10,000/luas petak bersih x hasil gabah per petak (kg). Cara kedua yaitu menghitung komponen hasil dengan menggunakan rumus (Yoshida, 1981) :
Hasil (ton/ha) = jumlah anakan produktif / m2 x jumlah gabah total / malai x persentase gabah isi x bobot 1,000 butir (g) x 10-5
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum
Pertumbuhan tanaman pada awal fase vegetatif kurang baik. Hal ini disebabkan oleh serangan hama keong mas (Pomacea canaliculata). Serangan keong ini mulai terjadi satu hari tanaman telah dipindahtanam ke petak percobaan sampai tanaman berumur empat minggu setelah tanam (MST). Tingkat serangannya cukup tinggi, mengakibatkan tanaman banyak yang disulam.
Penyulaman tanaman ini dibatasi sampai tanaman berumur 4 MST. Bibit yang ditanam terlalu tua akan mempengaruhi pertumbuhan vegetatifnya dan menyebabkan ketidakseragaman pada pertumbuhan populasi. Serangan hama keong ini diatasi secara kultur teknis dan kimia. Secara kultur teknis dilakukan dengan mengatur air, sedangkan secara kimia menggunakan moluskisida. Di samping serangan hama keong, tanaman juga terserang hama belalang (Valanga nigricornis). Belalang ini memakan daun padi yang masih muda yang mengakibatkan daun menjadi berlubang. Hama belalang diatasi secara kimia dengan menggunakan pestisida.
Serangan hama walang sangit (Leptocorisa oratorius) terjadi pada fase generatif. Hama ini mulai menyerang pada awal muncul malai sampai bulir padi matang susu. Walang sangit menghisab cairan pada bulir padi sehingga menyebabkan gabah berubah warna dan mengapur, hingga gabah menjadi kosong (hampa). Serangan hama burung (Ploceus sp.) terjadi pada saat bulir masak susu sampai tanaman akan dipanen. Pengendalian hama burung ini dilakukan dengan pemasangan jaring di atas petak percobaan.
Taman terserang hawar daun bakteri (Xanthomonas campestris pv. oryzae) pada umur 13 MST. Serangan penyakit ini hanya terjadi pada galur B13-2e. Penyakit hawar daun bakteri ini menyebabkan daun menjadi kuning sampai coklat muda dan kemudian daun menjadi kering. Penyakit ini tidak membahayakan tanaman karena serangannya terjadi pada saat tanaman akan dipanen.
Galur KP3-18-1-2 dan B13-2e menunjukkan pertumbuhan dan penampilan yang kurang seragam. Pada galur KP3-18-1-2 tinggi tanaman tidak seragam, dan waktu pembungaan tidak serempak, sehingga pada proses pengisian dan
13 pematangan bulir tanaman menjadi tidak seragam. Pada galur B13-2e ketidak seragaman terjadi pada warna pelepah dan warna bulir. Pada galur ini seharusnya pelepah berwarna keunguan, dan bulir berwarna kehitaman. Namun ada beberapa rumpun tanaman yang pelepahnya berwarna hijau dan bulirnya berwarna hijau. Pada kedua galur ini tetap dilakukan pengamatan, dan tanaman yang berbeda penampilannya dibuang dari populasi dengan cara dipotong dari pangkal rumpun tanaman.
Keragaman Agronomi GalurDihaploid Analisis Ragam
Karakter agronomi yang diamati dalam penelitian ini sebanyak dua belas karakter. Dari hasil analisis ragam yang dilakukan sebanyak sebelas karakter agronomi yang diamati, genotipe berpengaruh sangat nyata, namun pada satu karakter yaitu karakter panjang malai genotipe berpengaruh nyata. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara galur-galur yang diuji untuk semua karakter.
Koefisien keragaman (KK) dari karakter yang diamati berkisar antara 1.39 % - 16.35 %. Karakter yang mempunyai KK tertinggi adalah jumlah gabah hampa (16.35 %) sedangkan karakter yang memiliki KK terendah adalah umur berbunga (1.39 %) (Tabel 1). Nilai KK menunjukkan tingkat ketepatan perlakuan dalam suatu percobaan dan menunjukkan pengaruh lingkungan dan faktor lain yang tidak dapat dikendalikan dalam percobaan (Gomez dan Gomez, 1995).
Tabel 1. Analisis ragam pengaruh genotipe pada karakter agronomi galur dihaploid hasil kultur anter
Keterangan : (*) berpengaruh nyata pada taraf kesalahan 5 %; (**) berpengaruh sangat nyata pada taraf kesalahan 1 %.
Tinggi Tanaman
Tinggi rata-rata tanaman dari galur yang diuji pada fase vegetatif bekisar antara 71 – 87 cm. Dilihat dari nilai tengah, galur FM1R-1-3-1 dan B13-2e merupakan galur yang memiliki tinggi rata-rata yang paling tinggi (Tabel 2). Berdasarkan hasil uji lanjut DMRT galur KP3-19-1-3, KP3-19-1-4, FM1R-1-3-1 dan B13-2e memiliki tinggi tanaman yang berbeda nyata dengan pembanding Ciherang namun tidak berbeda nyata dengan pembanding Inpari 13. Enam galur lainnya tidak berbeda nyata dengan kedua pembanding.
Tinggi tanaman merupakan karakter yang menentukan tingkat kerebahan tanaman, sehingga sangat berpengaruh pada kualitas dan kuantitas hasil produksi. Semakin tinggi tanaman maka tanaman akan semakin mudah rebah (Kush et al., 2001). Tanaman yang rebah akan mengurangi hasil panen dan juga menurunkan kualitas beras.
Karakter F Hitung Koefisien keragaman (%)
1. Tinggi tanaman fase vegetatif ** 6.02 2. Jumlah anakan total ** 13.54 3. Tinggi tanaman fase generatif ** 2.99 4. Jumlah anakan produktif ** 10.39
5. Umur berbunga ** 1.39
6. Umur panen ** 2.05
7. Panjang malai * 8.23
8. Jumlah gabah isi ** 9.90 9. Jumlah gabah hampa ** 16.35 10. Jumlah gabah total ** 5.99 11. Bobot 1,000 butir ** 2.29 12. Produksi gabah kering giling ** 11.17
15 Tabel 2. Hasil uji lanjut DMRT pada tinggi tanaman (cm) pada fase
vegetatif dan fase generatif
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT 1%.
Rata-rata tinggi tanaman galur-galur yang diuji pada fase generatif berkisar anatara 90 cm – 125 cm. Galur B13-2e merupakan galur yang memiliki tinggi tanaman tertinggi yaitu 124.5 cm, sedangkan galur yang memiliki tinggi tanaman terpendek dicapai oleh galur KP3-18-1-2 dengan tinggi tanaman 90.9 cm. Galur KP1-3-1-2, KP3-18-1-2, KP3-19-1-3, KP3-19-1-4, KP4-42-2-1, KP4-43-2-3 dan B13-2e ini berbeda nyata dengan kedua pembanding Ciherang dan Inpari 13. Galur B13-2e dan KP4-43-2-3 memiliki tinggi tanaman yang lebih tinggi dari kedua pembanding sedangkan galur KP1-3-1-2, 19-1-3, 19-1-4, KP3-18-1-2, KP4-42-2-1 lebih pendek dari kedua pembanding yaitu Ciherang (103.5 cm) dan Inpari 13 (107.8 cm) (Tabel 2).
Siregar (1981) membagi tinggi generatif tanaman padi menjadi tiga kelompok yaitu tinggi tanaman pendek (< 115 cm), sedang (115 - 125 cm) dan tinggi (> 125 cm). Berdasarkan pengelompokan tinggi tanaman di atas, sembilan galur yang diuji yaitu KP1-3-1-2, KP3-18-1-2, KP3-19-1-3, KP3-19-1-4, KP4-42-2-1, KP4-43-2-3, FM1R-1-3-1, WI-44, IW56 dan kedua varietas pembanding yaitu Ciherang, Inpari 13 termasuk ke dalam kelompok tinggi tamanan pendek, dan hanya satu galur yaitu galur B13-2e yang masuk ke kelompok tinggi tanaman sedang.
Galur/ Varietas Tinggi Vegetatif (cm) Tinggi Generatif (cm) KP1-3-1-2 71.2 c 94.9 fg KP3-18-1-2 77.9 abc 90.9 g KP3-19-1-3 81.7 ab 95.2 fg KP3-19-1-4 82.4 ab 95.9 fg KP4-42-2-1 74.0 bc 97.4 f KP4-43-2-3 80.2 abc 114.3 b FM1R-1-3-1 86.7 a 103.0 de WI-44 76.9 bc 110.3 bc IW56 71.5 c 98.1 ef B13-2e 86.6 a 124.5 a Ciherang 72.0 c 103.5 de Inpari 13 79.4 abc 107.8 cd
Jumlah Anakan Total dan Jumlah Anakan Produktif
Hasil pengamatan pada Tabel 3 menunjukkan, bahwa jumlah anakan total 10 galur yang diuji berkisar antara 14 – 28 anakan. Galur KP3-19-1-3, KP3-19-1-4, dan KP4-42-2-1 berbeda nyata dengan pembanding Ciherang namun tidak berbeda nyata dengan pembanding Inpari 13. FM1R-1-3-1 dan B13-2e berbeda nyata dengan kedua pembanding. Galur-galur yang berbeda nyata dengan pembanding Ciherang dan Inpari 13 memiliki jumlah anakan total lebih sedikit.
Jumlah anakan produktif merupakan karakter penting dalam menentukan potensi hasil. Secara umum galur-galur dihaploid tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan varietas pembanding namun nilai tengah anakan terbanyak diperoleh pada galur 2-3, KP3-18-1-2, IW56 dan WI-44. Galur KP4-43-2-3 unggul pada karakter nilai tengah anakan produktif terbanyak dengan nilai tengah sebesar 17.3 anakan produktif.
Tabel 3. Hasil uji lanjut DMRT pada jumlah anakan total dan anakan produktif
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT 1 %.
Menurut Las et al. (2004), jumlah anakan produktif per rumpun genotipe padi dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu jumlah anakan sedikit (< 10), sedang (11 - 15), banyak (16 - 20), dan sangat banyak (> 20). Berdasarkan pengelompokan diatas, lima dari 10 galur yang diamati termasuk dalam jumlah
Galur/ Varietas Jumlah Anakan Total Jumlah Anakan produktif KP1-3-1-2 25.1 ab 15.2 ab KP3-18-1-2 25.5 ab 17.1 a KP3-19-1-3 18.3 cd 14.9 ab KP3-19-1-4 18.5 cd 14.3 ab KP4-42-2-1 22.5 c 16.0 ab KP4-43-2-3 27.6 ab 17.3 a FM1R-1-3-1 14.9 d 11.3 c WI-44 23.2 abc 16.2 a IW56 28.0 ab 16.6 a B13-2e 16.8 d 13.0 bc Ciherang 28.5 a 16.4 a Inpari 13 22.7 abc 14.5 ab
17 anakkan sedang (KP1-3-1-2, KP3-19-1-3, KP3-19-1-4, FM1R-1-3-1 dan B13-2e) dan lima yang lainnya merupakan galur dengan anakan banyak (KP3-18-1-2, KP4-42-2-1, KP4-43-2-3, WI-44 dan IW56).
Persentase anakan produktif galur-galur yang diuji berkisar antara 57 % - 82 %. Galur KP3-19-1-3 memiliki persentase anakan produktif yang paling tinggi yaitu 81.4 %, lebih tinggi dibandingkan persentase anakan produktif pembanding Ciherang (57.5 %) dan Inpari 13 (63.9 %). Persentase jumlah anakan produktif pada masing-masing galur dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Persentase anakan produktif per rumpun pada galur-galur yang diuji dan dua pembanding yang diamati
Tanaman yang memiliki anakan yang banyak akan memiliki daun yang banyak juga. Gardner et al. (1991) menyatakan dengan daun yang banyak tanaman diharapkan dapat meningkatkan produksi asimilat dari fotosintesis, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pernyataan Gardner ini tidak dapat diterapkan pada semua tanaman, salah satunya pada tanaman padi, karena banyaknya jumlah daun tidak akan meningkatkan produksi hasil jika anakan pada tanaman padi tidak produktif. Banyaknya jumlah anakan per rumpun belum tentu akan meningkatkan produksi padi, karena setiap anakan yang dihasilkan belum tentu akan menghasilkan malai.
Jumlah anakan yang terlalu banyak juga dapat menurunkan hasil dan kualitas gabah, karena adanya persaingan dalam mendapatkan energi panas
60.5 67.1 81.4 77.3 71.1 62.7 75.8 69.8 59.3 77.4 57.5 63.9 50 55 60 65 70 75 80 85
matahari dan unsur hara sehingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Selanjutnya, anakan yang terlalu banyak juga berpengaruh terhadap kemasakan bulir tanaman padi ketika memasuki fase generatif. Abdullah et al. (2008) menyatakan bahwa jumlah anakan per rumpun yang terlalu banyak akan mengakibatkan masa masak malai tidak serempak, sehingga menurunkan produktivitas dan mutu beras.
Umur Berbunga dan Umur Panen
Umur berbunga tercepat terdapat pada galur KP3-18-1-2 dengan nilai tengah 81 hari, sedangkan umur berbunga yang paling lama terdapat pada galur KP1-3-1-2 dan galur KP4-42-2-1 dengan nilai tengah 89 hari. Dari hasil uji lanjut DMRT yang dilakukan, hanya galur KP3-18-1-2 yang berbeda nyata dengan pembanding Ciherang dan Inpari 13. Galur KP1-3-1-2 dan KP4-42-2-1 berbeda nyata dengan Inpari 13 namun tidak berbeda nyata dengan Ciherang (Tabel 4).
Tabel 4. Hasil uji lanjut DMRT untuk rata-rata umur berbunga dan rata-rata umur panen
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT 1 %.
Umur panen padi dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan dihitung dari hari setelah sebar (HSS), yaitu umur ultra genjah (< 85 hari), umur super genjah (85 - 94 hari), sangat genjah (95 - 104 hari), genjah (105 - 124 hari), sedang (125 - 164 hari) dan berumur dalam (> 165 hari) (Balai Besar Penelitian Padi, 2010). Galur/ Varietas Umur Berbunga (hari) Umur Panen (hari)
KP1-3-1-2 89.3 a 117.3 a KP3-18-1-2 81.0 c 110.7 cd KP3-19-1-3 86.7 b 113.0 abc KP3-19-1-4 87.3 ab 112.3 bc KP4-42-2-1 89.3 a 117.0 a KP4-43-2-3 88.7 ab 115.7 ab FM1R-1-3-1 88.3 ab 112.0 bc WI-44 87.0 ab 114.3 abc IW56 88.7 ab 115.3 ab B13-2e 86.3 b 107.7 d Ciherang 88.7 ab 115.3 ab Inpari 13 86.3 b 114.0 abc
19 Menurut Yoshida (1981), umur yang optimal tanaman padi untuk berpotensi hasil tinggi di daerah tropika adalah 120 hari. Rata-rata umur panen galur yang diuji tergolong genjah yaitu antara 107 – 117 hari.
Galur B13-2e memiliki umur panen paling cepat yaitu 107 hari. Umur panen paling lama yaitu 117 hari terdapat pada galur KP1-3-1-2 dan galur KP4-42-2-1. Berdasarkan hasil uji lanjut DMRT hanya galur B13-2e yang berbeda nyata dengan pembanding Ciherang Dan Inpari 13(Tabel 4).
Panjang Malai dan Jumlah Gabah
Panjang malai menentukan jumlah gabah total per malai. Semakin panjang malai diharapkan jumlah gabah total per malai tinggi sehingga jumlah gabah isi per malai juga tinggi. Galur FM1R-1-3-1 memiliki panjang malai berbeda nyata dengan kedua pembanding. Deptan (1983) mengelompokkan panjang malai dalam tiga kelompok. yaitu pendek (≤ 20 cm), sedang (20 – 30 cm), dan panjang (> 30 cm). Berdasarkan pengelompokan di atas seluruh galur dan varietas pembanding memiliki panjang malai yang sedang.
Jumlah gabah isi galur FM1R-1-3-1 dan B13-2e berbeda nyata dengan varietas pembanding Ciherang dan Inpari 13. Galur FM1R-1-3-1 dan B13-2e unggul terhadap nilai tengah karakter jumlah gabah isi dengan nilai tengah jumlah gabah isi sebesar 127 butir dan 114 butir sedangkan varietas Ciherang dan Inpari 13 berturut-turut hanya sebesar 69 butir dan 105 butir gabah.
Galur FM1R-1-3-1 juga menunjukkan nilai tengah tertinggi pada karakter gabah hampa dengan nilai tengah sebesar 110 butir gabah. Hal ini diduga akibat banyaknya jumlah gabah total malai pada galur FM1R-1-3-1 (238 butir) sehingga masa pengisian dan pemasakan menjadi lama dan berdampak pada banyaknya gabah hampa (Tabel 5). Menurut Abdullah (2009) pada pembentukan padi tipe baru jumlah gabah total yang disarankan berkisar antara 150-250.
Tabel 5. Rata-rata panjang malai, jumlah gabah total, jumlah gabah isi dan jumlah gabah hampa per malai
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT 1 %; (*) angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5 %.
Persentase gabah isi dan gabah hampa pada galur-galur dan varietas pembanding yang diamati dapat dilihat pada Gambar 2. Galur-galur yang diuji memiliki persentase gabah isi antara 53.8 % - 72.1 % dan gabah hampa antara 27.9 % - 46.2 %. Galur WI-44 merupakan galur yang memiliki persentase gabah isi tertinggi (72.1 %) , dengan persentase gabah hampa terendah (27.9 %). Persentase gabah isi pada galur WI-44 ini lebih tinggi dari pembanding Ciherang (60 %) dan Inpari 13 (64 %). Galur FM1R-1-3-1 memiliki persentase gabah isi terendah (53.8 %) dengan persentase gabah hampa tertinggi (46.2 %).
Tingginya kehampaan pada galur-galur dan kedua pembanding disebabkan karena tanaman terserang hama. Tanaman terserang hama walang sangit pada saat awal muncul malai sampai bulir padi matang susu. Hama ini menghisap cairan yang terdapat pada bulir padi. Disamping tanaman terserang hama, faktor lingkungan juga mempengaruhi persentase kehampaan ini, seperti rendahnya intensitas penyinaran matahari, tingginya intensitas hujan dan rendahnya suhu selama masa reproduktif. Kehampaan juga dapat terjadi karena faktor genetik.
Galur/ Varietas Panjang malai per malai (cm)* Jumlah gabah total per malai (butir) Jumlah gabah hampa per malai(butir) Jumlah gabah isi per malai(butir) KP1-3-1-2 23.3 bcd 130.2 cd 57.1 b 73.1 fg KP3-18-1-2 22.0 d 122.0 cd 48.1 bc 73.8 fg KP3-19-1-3 22.8 cd 136.1 c 44.6 bc 91.4 cde KP3-19-1-4 22.9 cd 138.5 c 50.8 bc 87.7 def KP4-42-2-1 24.5 bcd 136.0 c 44.7 bc 91.3 cde KP4-43-2-3 26.5 abc 137.4 c 49.0 bc 88.3 def FM1R-1-3-1 29.1 a 238.2 a 110.4 a 127.7 a WI-44 27.1 ab 136.8 c 38.9 c 97.9 cd IW56 24.9 bcd 118.9 d 44.0 bc 74.9efg B13-2e 25.0 bcd 166.2 b 51.6 bc 114.5 ab Ciherang 25.1 bcd 115.8 d 46.8 bc 69.0 g Inpari 13 25.0 bcd 164.4 b 58.9 b 105.4 bc
21 Abdullah (2009) menyatakan, kehampaan karena faktor genetik dapat terjadi apabila malai padi panjang dan memiliki gabah yang banyak sehingga masa pengisian dan pemasakan akan lebih lama, biasanya akan menyebabkan kehampaan pada pangkal malai .
Gambar 2. Persentase gabah isi dan gabah hampa galur-galur dan dua pembanding
Bobot 1,000 Butir
Bobot 1,000 butir merupakan salah satu karakter yang mempengaruhi komponen hasil. Gabah dengan ukuran yang besar dan bernas akan memiliki bobot 1,000 butir yang lebih berat. Yoshida (1983) manyatakan bahwa bobot 1,000 butir dipengaruhi oleh faktor ukuran gabah dan juga temperatur. Abdullah et al. (2004) juga menguatkan pernyataan tersebut dengan menyatakan semakin besar butir gabah, maka bobot gabah akan lebih berat. Bobot 1,000 butir paling tinggi ditunjukkan pada galur KP1-3-1-2 dengan nilai tengah sebesar 35.99 gram, berbeda nyata dengan kedua pembandingnya yaitu Ciherang, Inpari 13. Bobot paling rendah ditunjukkan oleh galur KP4-43-2-3 dengan nilai tengah sebesar 27.14 gram (Tabel 6). 56.2 60.7 67.6 63.8 66.9 64.2 53.8 72.1 63.6 69.3 60 64 43.8 39.3 32.4 36.2 32.4 35.8 46.2 27.9 37.3 30.7 40 35.4 20 30 40 50 60 70 80
Tabel 6. Rata-rata bobot 1,000 butir (gram) gabah bernas
Galur/ Varietas Bobot 1,000 butir (gram)
KP1-3-1-2 35.99 a KP3-18-1-2 29.19 de KP3-19-1-3 27.35 f KP3-19-1-4 27.66 f KP4-42-2-1 29.63 cd KP4-43-2-3 27.14 f FM1R-1-3-1 30.65 c WI-44 29.69 cd IW56 29.69 cd B13-2e 28.23 ef Ciherang 31.99 b Inpari 13 30.00 cd
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT 1 %.
Produktivitas
Hasil gabah per petak bersih dapat digunakan sebagai ukuran besarnya produksi yang dihasilkan oleh tanaman. Hasil gabah kering giling menunjukkan galur KP4-42-2-1 mencapai produktivitas tertinggi (4.96 ton/ha) lebih tinggi dibanding Ciherang (3.99 ton/ha) dan Inpari 13 (4.19 ton/ha). Lima galur yang memiliki produktivitas setara dengan pembanding Ciherang dan Inpari 13 yaitu galur KP1-3-1-2, KP4-43-2-3, IW56, FM1R-1-3-1 dan WI-44, berturut-turut 4.17 ton/ha, 4.13 ton/ha, 4.09 ton/ha, 3.68 ton/ha dan 3.45 ton/ha. Hasil gabah kering