Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga dan Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dimulai dari bulan Februari hingga Juli 2012.
Bahan Tanaman Sumber Ekstrak
Bahan tanaman uji yang digunakan dalam penelitian adalah biji sirsak (A. muricata) yang diperoleh dari Pasar Cibeureum, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dan daun kacang babi (T. vogelii) yang diperoleh dari Yayasan Bina Sarana Bakti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.
Penanaman Cabai
Benih cabai varietas SPH 77 disemai terlebih dahulu dengan menggunakan media tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Benih ditanam pada nampan semai dan ditutup dengan tanah. Setelah berumur 6 minggu setelah tanam (MST), bibit dipindahkan ke dalam pot berukuran 15 cm x 20 cm sebanyak satu bibit per lubang, media tanam dikondisikan dalam keadaan lembab. Serangan hama dan patogen pada bibit cabai dikendalikan dengan pengendalian secara mekanik.
Identifikasi Serangga
Identifikasi serangga dilakukan untuk memastikan bahwa spesies serangga uji yang digunakan adalah B. tabaci. Serangga yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari tanaman kapas yang dipelihara di rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan, Dramaga, Bogor. Eksuvium pupa dimasukkan ke dalam alkohol 95% selama sepuluh menit. Alkohol 95% kemudian dibuang dan eksuvium pupa selanjutkan ditetesi asam asetat glasial sebanyak dua tetes selama sepuluh menit lalu dicuci dengan akuades. Eksuvium pupa lalu ditetesi dengan
satu tetes ’carbol xylene’ selama satu menit dan dilakukan pencucian menggunakan akuades. Asam asetat glasial dan asam fuchsin kemudian diteteskan
9
pada eksuvium pupa sebanyak satu tetes dan didiamkan selama 60 menit. Eksuvium pupa kemudian dimasukkan ke dalam alkohol 80%, alkohol 100%, dan minyak cengkeh masing-masing selama 10 menit. Langkah terakhir yaitu eksuvium pupa diletakkan di atas gelas objek dan ditetesi dengan balsam canada yang kemudian ditutup dengan kaca penutup. Setelah kering, preparat siap untuk diidentifikasi. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan mikroskop compound dengan bantuan kunci identifikasi Malumphy (1978) dan Watson (2007).
Pemeliharaan Serangga Uji
Serangga uji yang digunakan adalah B. tabaci yang dipelihara di rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan, Dramaga, Bogor. Serangga ini dipelihara pada tanaman kapas berumur 8 minggu setelah tanam yang ditanam di dalam polybag
dan diletakkan di dalam kurungan serangga yang setiap sisinya ditutupi dengan kain kasa. Tanaman kapas disiram setiap hari agar B. tabaci dapat berkembang dengan baik. Imago B. tabaci diinfestasikan pada tanaman cabai hingga menghasilkan telur dan berkembang menjadi nimfa. Fase telur, nimfa instar satu, nimfa instar dua, nimfa instar tiga, dan nimfa instar empat pada tanaman cabai ini kemudian digunakan untuk pengujian.
Ekstraksi
Ekstraksi biji sirsak dan daun kacang babi dilakukan dengan metode maserasi. Biji sirsak dan daun kacang babi terlebih dahulu dikeringanginkan selama 5-7 hari. Selanjutnya, masing-masing tanaman dihaluskan dengan menggunakan blender dan disaring hingga menghasilkan serbuk. Serbuk dari masing-masing tanaman kemudian direndam dengan metanol (1:10; w/v) dalam labu erlenmeyer selama 24 jam. Rendaman dari masing-masing tanaman lalu disaring menggunakan corong buchner yang dialasi dengan kertas saring. Filtrat hasil penyaringan diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator pada tekanan 400 – 500 mmHg pada suhu 50 oC. Ekstrak yang didapat disimpan dalam lemari pendingin pada suhu 4 oC hingga saat digunakan.
Pengujian Ekstrak Tanaman
Pengujian ekstrak tanaman dilakukan dengan menggunakan pelarut metanol dan tween 80 (5:1) sebanyak 1.2%. Konsentrasi yang digunakan yaitu
10
1%, 0.5%, 0.25%, 0.125%, 0.0625%, dan kontrol dengan lima kali ulangan untuk setiap perlakuan. Masing-masing ekstrak disemprotkan pada beberapa fase serangga uji yang telah diinfestasikan pada tanaman cabai. Fase-fase tersebut adalah telur, nimfa instar satu, nimfa instar dua, nimfa instar tiga, dan nimfa instar empat (pupa). Tanaman perlakuan disungkup untuk mencegah adanya faktor lain yang menyebabkan kematian serangga uji. Pengamatan terhadap kematian serangga dilakukan untuk menghitung tingkat mortalitas dan lama perkembangan serangga uji pada masing-masing perlakuan. Pengamatan dilakukan pada 1, 2, 3, 4, dan 5 hari setelah perlakuan.
Analisis Data
Data mortalitas dan lama perkembangan B. tabaci diolah menggunakan ANOVA yang dilanjutkan dengan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5%. Analisis data statistika dilakukan dengan menggunakan paket program
Statistical Analysis System (SAS) dan analisis probit dilakukan dengan menggunakan POLO PC untuk menentukan nilai LC50, LC75, dan LC90.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identifiksi Kutu Kebul B. tabaciHasil identifikasi menunjukkan bahwa spesies kutu kebul yang diperoleh dari kebun percobaaan Cikabayan adalah B. tabaci. Beberapa ciri khusus dapat diamati dari hasil preparat eksuvium pupa B. tabaci (Gambar 1). Eksuvium
B. tabaci terdapat bagian seta kauda (caudal setae) yang kokoh dan berukuran sedikit lebih panjang dari vasiform orifice. Lingula berbentuk agak lebar dengan ukuran yang agak pendek. Pada bagian atas lingula terdapat operculum yang menutupi lebih dari setengah bagian vasiform orifice. Vasiform orifice memiliki bentuk seperti segitiga dan agak lebih panjang dari alur kauda (caudal furrow)
dengan bagian sisi yang lurus. Cauda furrow berada di bagian bawah vasiform orifice dan terlihat dengan jelas
Gambar 1 Eksuvium pupa B. tabaci; caudal setae (A); lingula (B); operculum
(C); vasiform orifice (D), dan caudal furrow (E)
Menurut Watson (2007), vasiform orifice berada di bagian tepi kantung pupa dengan jarak yang lebih pendek daripada panjang vasiform orifice. Pada bagian pinggir eksuvium B. tabaci terdapat bukaan trakea torak yang ditandai dengan sisir dengan gigi-gigi yang jelas. Terdapat tujuh pasang rambut dorsal pada B. tabaci dan berkembang dengan baik.
A
B C
D E
12
Keefektifan Ekstrak Annona muricata
Pengaruh Mortalitas Ekstrak A. muricata terhadap B. tabaci
Pengujian menggunakan ekstrak A. muricata terhadap berbagai fase B. tabaci memberikan hasil yang cukup beragam. Setiap fase menunjukkan persentase mortalitas yang berbeda berdasarkan konsentrasi yang diberikan pada serangga uji (Tabel 1, Lampiran 1-5).
Tabel 1 Persentase rataan mortalitas berbagai fase B. tabaci yang diberi perlakuan beberapa konsentrasi ekstrak A. muricata
Konsentrasi (%)
Rataan tingkat mortalitas (%)±SDa
Telur Instar satu Instar dua Instar tiga Instar empat 1 45.42±2.39a 88.33±2.51a 66.57±1.22a 63.95±1.52a 60.29±0.71a 0.5 41.52±1.92a 83.91±2.41a 63.92±2.39a 52.76±0.90b 60.00±0.00a 0.25 23.99±0.84b 41.50±0.84b 27.05±0.71b 28.17±0.55c 22.12±0.55b 0.125 19.52±0.55bc 36.57±0.84b 26.90±0.55b 23.83±0.84cd 19.91±0.45b 0.0625 14.56±1.67c 24.69±1.00b 17.76±0.55b 17.85±0.84d 13.56±0.84bc Kontrol 4.03±1.14d 0.00±0.00c 5.46±0.90c 0.00±0.00e 4.00±0.45c a
Mortalitas dihitung pada 72 jam setelah perlakuan (JSP), SD adalah standard deviasi. Untuk setiap rataan mortalitas yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5%.
Perlakuan ekstrak A. muricata pada konsentrasi 0.5% dan 1% terhadap berbagai fase B. tabaci menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata, namun persentase mortalitas tertinggi terjadi pada instar satu dengan persentase kematian serangga uji lebih dari 80%. Konsentrasi 0.5% dan 1% juga menunjukkan tingkat mortalitas yang berbeda nyata dibandingkan dengan konsentrasi lainnya. Konsentrasi 0.25%, 0.125%, dan 0.0625% menyebabkan rataan persentase mortalitas kurang dari 50% dan cenderung tidak berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa instar satu B. tabaci merupakan instar yang paling rentan.
Menurut Dadang dan Prijono (2008), perbedaan kepekaan terhadap senyawa bioaktif di antara fase perkembangan yang berbeda dalam daur hidup serangga dapat dikaitkan dengan perubahan anatomi, fisiologi, dan ukuran
serangga yang terjadi selama perkembangan serangga. Nimfa instar satu
B. tabaci aktif bergerak di sekitar tempat penetasan kemudian menetap dan menghisap cairan pada bagian bawah daun, sehingga nimfa instar satu lebih
13
banyak menghisap cairan tanaman yang telah mengandung bahan aktif
A. muricata yaitu annonain dan squamosin yang bersifat toksik terhadap serangga (Isman 2001). Sementara itu nimfa instar dua, instar tiga, dan instar empat tidak aktif bergerak dengan tungkai yang tereduksi dan menetap pada satu tempat (Badri 1983). Hal inilah yang menyebabkan tingkat mortalitas nimfa instar satu lebih tinggi dibandingkan nimfa instar lainnya.
Berdasarkan nilai persentase mortalitas di atas, diketahui bahwa semakin tinggi perkembangan serangga uji, maka persentase mortalitas semakin rendah. Nimfa instar dua dan instar tiga cenderung menunjukkan persentase mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan nimfa instar empat. Hal ini diduga karena semakin tinggi perkembangan serangga uji, semakin tinggi pula tingkat ketahanan serangga uji tersebut.
Telur merupakan fase awal dari suatu siklus hidup serangga. Dalam pengujian ini, persentase mortalitas telur lebih rendah dibandingkan fase lainnya. Rendahnya mortalitas telur kemungkinan disebabkan adanya lapisan lilin yang menutupi telur dan telur juga memiliki kulit telur yang relatig cukup tebal yang berperan sebagai pelindung. Hal-hal tersebut menyebabkan telur B. tabaci lebih tahan terhadap gangguan.
Senyawa aktif utama A. muricata adalah annonain dan squamosin yang termasuk golongan senyawa asetogenin (Isman 2001). Senyawa asetogenin ini dilaporkan mempunyai toksisitas yang cukup efektif terhadap serangga dari beberapa ordo seperti Lepidoptera, Coleoptera, Homoptera dan Diptera (Li et al.1990). Annonain dan squamosin bersifat sitotoksik dan neurotik yang dapat menyebabkan kematian pada serangga. Kedua senyawa ini dapat menyebabkan sel kehilangan energi dan pernafasan sel akan terhenti (Londershausen et al.
1991). Cara kerja kedua senyawa aktif yang terdapat pada biji A. muricata adalah sebagai racun respirasi menyebabkan serangga menjadi lumpuh akibat otot dan jaringan lain kekurangan energi, tubuh tampak menghitam akibat kematian sel dan jaringan, dan akhirnya serangga mati (Dadang dan Prijono 2008).
Nilai Lethal Concentration (LC) merupakan tolak ukur toksisitas suatu bahan, sehingga dapat diketahui konsentrasi insektisida yang tepat untuk dapat mengendalikan hama secara efektif. Berdasarkan nilai LC50, LC75, dan LC90,
14
ekstrak A. muricata lebih efisien untuk diaplikasikan terhadap nimfa instar satu (Tabel 2). Hal ini ditunjukkan dengan nilai LC pada instar satu yang lebih rendah dibandingkan dengan fase B. tabaci yang lain. Nilai LC50, LC75, dan LC90 untuk mengendalikan nimfa instar satu berturut-turut yaitu 0.19%, 0.49%, dan 1.14%. Tabel 2 Penduga parameter toksisitas ekstrak A. muricata terhadap beberapa fase
B. tabaci
a: Intersep garis regresi, b: Kemiringan garis regresi, GB: Galat baku, SK: Selang kepercayaan. Konsentrasi yang dibutuhkan untuk mengendalikan B. tabaci pada fase telur dan instar tiga cukup tinggi dibandingkan dengan fase lainnya. Nilai LC50, LC75, dan LC90 yang diperlukan untuk mengendalikan telur B. tabaci berturut- turut sebesar 1.44%, 7.51%, dan 33.12%, sedangkan untuk mengendalikan instar tiga diperlukan LC50 sebanyak 0.55%, 2.46% untuk LC75, dan 9.44% untuk LC90. Hal ini disebabkan nilai kemiringan garis regresi pada fase telur dan instar tiga lebih rendah dibandingkan dengan fase lainnya. Artinya, dengan penambahan konsentrasi ekstrak A. muricata dalam jumlah yang sedikit tidak memberikan pengaruh yang cukup besar dalam mengendalikan B. tabaci, sehingga dibutuhkan konsentrasi ekstrak A. muricata dalam jumlah yang lebih tinggi. Konsentrasi yang diperlukan untuk mengendalikan B. tabaci instar empat sebanyak 50%, 75%, dan 90% berturut-turut yaitu sebesar 0.64%, 1.82%, dan 4.69%.
Pengaruh Ekstrak A. muricata terhadap Lama Perkembangan B. tabaci
Perlakuan dengan berbagai konsentrasi ekstrak A. muricata menyebabkan
B. tabaci terhambat dalam proses perkembangannya (Gambar 2, Lampiran 6). Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak A. muricata dapat menghambat perkembangan
B. tabaci. Menurut Kardinan (2002), biji A. muricata dapat berperan sebagai penolak (repellent) dan penghambat makan (antifeedant) bagi serangga.
Fase a±GB b±GB LC50 LC75 LC90 Telur -0.15±0.73 0.94±0.12 1.44 7.51 33.12 Instar 1 1.18±0.15 1.67±0.20 0.19 0.49 1.14 Instar 2 0.66±0.13 1.72±0.25 0.41 1.01 2.28 Instar 3 0.26±0.14 1.04±0.16 0.55 2.46 9.44 Instar 4 0.29±0.17 1.48±0.28 0.64 1.82 4.69
15
Gambar 2 Lama perkembangan fase telur (A), nimfa instar satu (B), nimfa instar dua (C), nimfa instar tiga (D), nimfa instar empat (E) B. tabaci
akibat perlakuan beberapa konsentrasi ekstrak A. muricata
HSP: Hari Setelah Perlakuan
A 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 >5 L am a p er k em b an g an ( %) B 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 >5 L am a p er k em b an g an ( %) D 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 >5 L am a p er k em b an g an ( % ) HSP 1% 0.50% 0.25% 0.125% 0.0625% Kontrol E 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 >5 L am a p er k em b an g an ( %) 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 >5 L am a p er k em b an g an ( %) A C
16
Telur B. tabaci mulai menetas pada hari ke empat setelah perlakuan. Puncak penetasan telur terjadi pada hari ke lima setelah perlakuan. Konsentrasi 1% dapat menghambat penetasan telur hingga lebih dari lima hari setelah perlakuan sebesar 70.68%. Menurut Purbosari (2008), rata-rata stadium telur pada suhu 23oC adalah 7.51 hari, pada suhu ruang 5.28 hari dan 4.59 hari pada suhu 29oC. Konsentrasi 0.5% menyebabkan 68.68% telur membutuhkan waktu lebih dari lima hari untuk dapat menjadi nimfa instar satu. Konsentrasi 0.25%, 0.125%, dan 0.0625% memberikan pengaruh yang relatif lebih rendah dalam menghambat penetasan telur, yaitu kurang dari 50%.
Nimfa instar satu B. tabaci pada umumnya hanya berlangsung selama dua hari. Perlakuan ekstrak A. muricata pada konsentrasi 0.0625% tidak cukup berpengaruh dalam menghambat perkembangan nimfa instar satu, karena pada hari pertama setelah perlakuan lebih dari 80% nimfa instar satu telah berkembang menjadi nimfa instar dua. Berbeda halnya dengan konsentrasi 1% dan 0.5% yang mampu menghambat perkembangan nimfa instar satu sebanyak 50-60% hingga lebih dari lima hari, sedangkan pada konsentrasi 0.25% dan 0.125%, sebagian besar nimfa instar satu berhasil berkembang menjadi instar dua dan sebagian kecil nimfa instar satu membutuhkan waktu lebih dari lima hari untuk dapat berganti kulit menjadi instar dua.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ludji (2011), nimfa instar dua dan nimfa instar tiga B. tabaci pada tanaman cabai berlangsung selama dua hari. Pada instar dua, tingkat hambatan perkembangan masing-masing konsentrasi cenderung merata. Terdapat sekitar 20-30% nimfa instar dua yang berkembang menjadi instar tiga pada hari ke dua setelah perlakuan dan terdapat 18-20% nimfa instar dua yang membutuhkan waktu lebih dari lima hari untuk dapat berkembang menjadi instar tiga. Namun, pada konsentrasi 0.0625% nimfa instar dua yang diujikan telah menjadi instar tiga hingga hari ke lima setelah perlakuan.
Perlakuan beberapa konsentrasi ekstrak A. muricata terhadap nimfa instar tiga B. tabaci menyebabkan nimfa instar tiga terhambat perkembangannya. Perlakuan konsentrasi 0.0625% menunjukkan persentase hambatan yang cenderung lebih rendah dibandingkan konsentrasi lainnya. Konsentrasi 1%, 0.5%,
17
0.25%, dan 0.125% yang berhasil menghambat perkembangan nimfa instar tiga sebanyak lebih dari 70% hingga lebih dari lima hari setelah perlakuan.
Menurut Ludji (2011), nimfa instar empat berlangsung selama lima hari. Berdasarkan data tingkat lama perkembangan B. tabaci di atas, konsentrasi 1%, 0.5%, dan 0.25% mampu menghambat perkembangan pupa berturut-turut sebesar 85.71%, 79.41%, dan 72.09% hingga lebih dari lima hari. Sementara itu pada konsentrasi 0.125% dan 0.0625% nimfa instar empat berhasil menjadi imago pada hari ke empat setelah perlakuan dan sebanyak 45.83% dan 25.81% yang membutuhkan waktu lebih dari lima hari untuk menjadi imago.
Keefektifan Ekstrak Tephrosia vogelii
Pengaruh Mortalitas Ekstrak T. vogelii terhadap B. tabaci
Pengujian ekstrak T. vogelii terhadap B. tabaci dapat menyebabkan kematian yang cukup efektif. Beberapa konsentrasi yang diujikan menunjukkan pengaruh mortalitas yang beragam (Tabel 3, Lampiran 7-11).
Tabel 3 Persentase rataan mortalitas berbagai fase B. tabaci yang diberi beberapa perlakuan beberapa konsentrasi ekstrak T. vogelii
a
Mortalitas dihitung pada 72 jam sejak awal perlakuan (JSP). Untuk setiap rataan mortalitas yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5%.
Secara keseluruhan, nimfa instar satu merupakan fase yang menunjukkan tingkat mortalitas tertinggi di antara fase B. tabaci lainnya. Tingkat mortalitas tertinggi berada pada konsentrasi 1% dengan nilai 78.06%. Nilai ini tidak berbeda nyata dengan tingkat mortalitas instar satu pada konsentrasi 0.5%, 0.25%, dan 0.125%. Mortalitas instar tiga pada konsentrasi ekstrak T. vogelii 1%, 0.5%, dan
Konsentrasi (%)
Rataan tingkat mortalitas (%)±SDa
Telur Instar satu Instar dua Instar tiga Instar empat 1 77.52±2.39a 78.06±2.51a 66.88±1.22a 60.86±1.52a 56.00±0.71a 0.5 54.00±0.84b 74.95±2.28a 52.48±1.58b 52.00±1.87ab 45.72±1.14ab 0.25 51.07±1.58b 55.14±1.64ab 45.06±1.48b 43.76±0.55ab 34.88±1.10bc 0.125 37.86±1.30c 52.21±1.67ab 32.88±0.84c 38.83±1.34cb 30.10±0.45c 0.0625 31.50±1.10c 41.81±1.14b 24.98±2.55c 25.44±0.90c 22.25±1.22c Kontrol 0.00±0.00d 0.00±0.00c 0.00±0.00d 0.00±0.00d 1.54±0.45d
18
0.25% menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dengan kisaran tingkat mortalitas 40-60%, sedangkan konsentrasi 0.0625% cenderung berbeda nyata dengan konsentrasi 1%, 0.5%, dan 0.25% yang ditunjukkan dengan tingkat mortalitas yang relatif lebih rendah.
Konsentrasi 1%, 0.5%, dan 0.25% merupakan konsentrasi ekstrak
T. vogelii yang memberikan efek mortalitas yang cukup tinggi dibandingkan konsentrasi lainnya pada semua fase B. tabaci. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak T. vogelii, maka tingkat mortalitas serangga uji akan semakin tinggi pula.
Seperti halnya dengan perlakuan ekstrak A. muricata, B. tabaci yang diberi perlakuan ekstrak T. vogelii menunjukkan tingkat mortalitas yang semakin menurun seiring dengan meningkatnya perkembangan instar B. tabaci. Instar empat merupakan fase yang memiliki tingkat mortalitas terendah dibandingkan fase B. tabaci lainnya. Hal ini karena pertahanan nimfa instar empat lebih tinggi dibandingkan fase lainnya.
Komponen aktif yang terkandung pada daun T. vogelii yaitu tephrosin dan deguelin merupakan senyawa isomer dari rotenon (Kardinan 2002). Rotenon banyak terdapat pada bagian daun tanaman. Kandungan rotenon akan semakin tinggi dengan bertambahnya umur tanaman. Ekstrak daun T. vogelii dapat menyebabkan kematian dan berpengaruh terhadap penghambatan makan pada serangga.
Rotenon bekerja sebagai racun pernafasan dengan cara menghambat proses transfer elektron di ubiquinon dalam mitokondria, sehingga mencegah oksidasi NADPH (Dadang dan Prijono 2008). Hal ini menyebabkan menurunnya produksi ATP dan selanjutnya menghambat aktivitas sel, sehingga mengakibatkan kelumpuhan pada otot dan jaringan lainnya hingga menyebabkan kematian pada serangga (Perry et al. 1998).
Berdasarkan nilai LC50, LC75, dan LC90 fase B. tabaci yang dapat dikendalikan dengan konsentrasi ekstrak T. vogelii terendah yaitu nimfa instar satu (Tabel 4). Konsentrasi yang diperlukan untuk mengendalikan B. tabaci pada fase nimfa instar satu sebanyak 50%, 75%, dan 90% yaitu 0.11%, 0.73%, dan
19
3.86%. Hal ini menunjukkan bahwa pada fase instar satu, ekstrak T. vogelii cukup efisien untuk diaplikasikan.
Tabel 4 Penduga parameter toksisitas ekstrak T. vogelii terhadap beberapa fase
B. tabaci
a: Intersep garis regresi, b: Kemiringan garis regresi, GB: Galat baku, SK: Selang kepercayaan. Telur merupakan fase yang cukup efektif untuk dilakukan pengendalian dengan menggunakan ekstrak T. vogelii. Berdasarkan tingkat kemiringan garis regresi, fase telur memiliki nilai yang paling tinggi di antara fase B. tabaci
lainnya. Nilai ini menunjukkan bahwa dengan penambahan atau pengurangan konsentrasi ekstrak T. vogelii dalam jumlah sedikit, dapat berpengaruh terhadap tingkat mortalitas telur B. tabaci. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat suatu senyawa aktif yang terkandung di dalam daun T. vogelii yang diduga mampu meluluhkan kulit telur B. tabaci. Nilai LC50, LC75, dan LC90 yang diperlukan untuk mengendalikan telur B. tabaci yaitu 0.22%, 0.95%, dan 3.51%.
Konsentrasi yang cukup tinggi diperlukan untuk mengendalikan B. tabaci
fase instar dua, instar tiga, dan instar empat. Hal ini berdasarkan nilai LC50, LC75, dan LC90 yang cenderung lebih tinggi dibandingkan fase lainnya. Kebutuhan konsentrasi yang cukup tinggi ini dipengaruhi oleh tingkat keefektifan ekstrak
T. vogelii. Ekstrak T. vogelii dibutuhkan dalam jumlah yang lebih banyak untuk mengendalikan B. tabaci dengan tingkat mortalitas sebesar 50%, 75%, dan 90%. Pengaruh Ekstrak T. vogelii terhadap Lama Perkembangan B. tabaci
Ekstrak daun T. vogelii selain dapat menyebabkan kematian pada serangga juga dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan serangga. Gambar 3 (Lampiran 12) menunjukkan lama perkembangan beberapa fase B. tabaci setelah diberikan perlakuan ekstrak T. vogelii.
Fase a±GB b±GB LC50 LC75 LC90 Telur 0.69±0.83 1.07±0.14 0.22 0.95 3.51 Instar 1 0.79±0.16 0.84±0.21 0.11 0.73 3.86 Instar 2 0.29±0.14 0.79±0.18 0.43 3.05 17.69 Instar 3 0.27±0.13 0.72±0.19 0.42 3.52 24.16 Instar 4 0.96±0.14 0.77±0.21 0.75 5.63 34.62
20 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 >5 L am a p er k em b an g an ( %) 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 >5 L am a p er k em b an g an ( %) HSP 1% 0.50% 0.25% 0.125% 0.0625% Kontrol
Gambar 3 Lama perkembangan fase telur (A), nimfa instar satu (B), nimfa
instar dua (C), nimfa instar tiga (D), nimfa instar empat (E)
B. tabaci akibat perlakuan beberapa konsentrasi ekstrak T. vogelii
HSP: Hari Setelah Perlakuan
A D E 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 >5 L am a p er k em b an g an ( %) B 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 >5 L am a p er k em b an g an ( %) C 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 >5 L am a p er k em b an g an ( %) A
21
Telur B. tabaci mulai menetas pada hari ke empat setelah perlakuan. Konsentrasi 1% merupakan konsentrasi yang paling tinggi pengaruhnya terhadap proses penghambatan penetasan telur, hanya 14.55% telur B. tabaci yang berhasil menetas pada hari ke empat setelah perlakuan dan sebanyak 65.46% telur yang perlu waktu lebih dari lima hari untuk dapat menetas. Perlakuan pada konsentrasi 0.5% dan 0.25% cukup menghambat penetasan telur sehingga menyebabkan sebanyak 56% dan 39% telur yang dapat menetas dalam waktu lebih dari lima hari setelah perlakuan. Sementara itu perlakuan pada konsentrasi 0.125% dan 0.0625% kurang efektif dalam menghambat penetasan telur, karena pada hari ke empat setelah perlakuan sebanyak 40-50% telur yang berhasil menjadi nimfa instar satu.
Konsentrasi ekstrak T. vogelii yang efektif untuk menghambat perkembangan nimfa instar satu yaitu konsentrasi 1%. Pada konsentrasi ini terdapat 53.85% instar satu yang membutuhkan waktu lebih dari lima hari untuk dapat berkembang menjadi instar dua. Pada konsentrasi 0.025%, 0.125%, dan 0.0625%, nimfa instar satu mampu berkembang menjadi nimfa instar dua dalam waktu satu hingga lima hari setelah perlakuan.
Pengujian terhadap lama perkembangan nimfa instar dua dan nimfa instar tiga menunjukkan bahwa konsentrasi 1% dan 0.5% memiliki pengaruh yang sama dalam menghambat perkembangan nimfa. Kedua konsentrasi ini mengakibatkan lebih dari 40% nimfa instar dua dan 40-50% nimfa instar tiga tidak dapat melakukan proses ganti kulit pada waktu dua hingga lima hari setelah perlakuan, sedangkan konsentrasi 0.025%, 0.125%, dan 0.0625% menunjukkan persentase penghambatan yang relatif lebih rendah dibandingkan konsentrasi 1% dan 0.5%.
Pengaruh beberapa konsentrasi ekstrak T. vogelii dalam menghambat perkembangan nimfa instar empat cukup efektif. Konsentrasi 1%, 0.5%, dan 0.25% memberikan pengaruh penghambatan berkembang yang cukup baik yaitu sebanyak 80-90% nimfa instar empat yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat menjadi imago, kemudian diikuti konsentrasi 0.125% dan 0.0625% yang berhasil menghambat perkembangan nimfa instar empat menjadi imago sebanyak 50-60%.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Mortalitas B. tabaci semakin tinggi pada fase instar yang lebih muda. Nimfa instar satu merupakan fase yang efektif untuk dilakukan tindakan pengendalian. Berdasarkan nilai LC50, ekstrak T. vogelii lebih efektif dalam mengendalikan nimfa instar satu, sedangkan berdasarkan nilai LC75 dan LC90 ekstrak A. muricata lebih efektif dibandingkan T. vogelii. Ekstrak T. vogelii dan
A. muricata pada konsentrasi 1% berpengaruh terhadap perkembangan berbagai fase B. tabaci.
Saran
Perlu dilakukan uji campuran antara T. vogelii dan A. muricata agar dapat diketahui sifat sinergistik antara kedua jenis ekstrak. Selain itu juga perlu pengujian lebih lanjut mengenai dampak terhadap musuh alami.