• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan Provinsi Sumatera Utara pada ketingggian 1000 – 1500 m diatas permukaan laut, ekstraksi mesofauna dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dan identifikasi jumlah serta keanekaragaman mesofauna tanah dilakukan di Laboratorium Biologi Tanah, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan dilaksanakan dari bulan April sampai Juli 2021.

Gambar 1. Peta Administrasi Kecamatan Dolok Sanggul

27

Gambar 2. Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Dolok Sanggul

Gambar 3. Peta Jenis Tanah Kecamatan Dolok Sanggul

28

Gambar 4. Peta Lokasi Pengambilan Sampel Tanah Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel tanah gambut yang diambil dari beberapa tipe penggunaan lahan, alkohol 60% sebagai pengawet mesofauna, aquades serta bahan – bahan kimia lain yang digunakan untuk analisis di laboratorium.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS (Global Position System), cangkul untuk mengambil sampel tanah, botol koleksi sebagai wadah mesofauna saat tanah diekstraksi, timbangan digital untuk menimbang berat tanah, pH meter untuk mengukur pH tanah, soil tester untuk mengukur kelembaban tanah, oven untuk mengukur kadar air tanah, thermometer untuk mengukur suhu tanah, rangkaian lampu Barlese – Tullgren Funnel untuk merangsang mesofauna agar meninggalkan tanah dan jatuh ke dalam botol koleksi, stereomikroskop untuk mengamati jenis mesofauna tanah dan kamera sebagai alat dokumentasi.

29

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada beberapa penggunaan lahan gambut dengan 5 penggunaan lahan yang berbeda, yaitu (i) lahan gambut tidak dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, (ii) lahan gambut yang digunakan untuk budidaya kopi, (iii) lahan gambut yang ditumbuhi rumput, (iv) lahan gambut yang digunakan untuk budidaya padi, dan (v) lahan gambut yang digunakan untuk budidaya bawang.

Berikut dibawah ini disajikan gambar kondisi setiap penggunaan lahan gambut dataran tinggi Toba di Kecamatan Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan.

Gambar 4. Lahan Gambut yang Gambar 5. Lahan Gambut yang Tidak Dimanfaatkan Digunakan untuk

untuk Lahan Pertanian Budidaya Kopi.

Tingkat Kematangan Tingkat Kematangan Fibrik (mentah). Saprik (matang).

Gambar 6. Lahan Gambut yang Gambar 7. Lahan Gambut yang Ditumbuhi Rumput Digunakan untuk

Tingkat Kematangan Budidaya Padi.

Saprik (matang). Tingkat Kematangan Saprik (matang).

30

Gambar 8. Lahan Gambut yang Digunakan untuk Budidaya Bawang.

Tingkat Kematangan Saprik (matang).

Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survey dengan pengambilan sampel dilakukan secara acak atau composit random sampling.

Pengamatan yang dilakukan adalah dengan mengamati mesofauna tanah yang ada, meliputi identifikasi mesofauna tanah yaitu dengan metode Barlese – Tullgren Funnel dan metode terhadap kepadatan populasi, kepadatan relatif dan frekuensi kehadiran dari mesofauna tanah serta pengamatan terhadap sifat fisik dan kimia tanah. Analisis kimia tanah berupa pH, C – organik, N – total dan C/N, sedangkan analisis sifat fisik tanah berupa suhu tanah, kelembaban tanah, dan kadar air tanah.

Pelaksanaan Penelitian Penentuan Sampel Tanah

Penentuan sampel tanah dilakukan berdasarkan tipe penggunaan lahan yaitu: L0 : lahan gambut yang tidak dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, Ll : lahan gambut yang digunakan untuk budidaya kopi, L2 : lahan gambut yang ditumbuhi rumput, L3 : lahan gambut yang digunakan untuk budidaya padi, dan L4 : lahan gambut yang digunakan untuk budidaya bawang. Pengambilan sampel dilakukan pada kedalaman 0 – 20 cm dari atas permukaan tanah

31

Pengambilan Sampel Tanah

Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan membersihkan seresah diatas permukaan tanah lalu sampel tanah diambil menggunakan cangkul pada kedalaman 10 cm dari permukaan tanah.

Waktu Pengambilan Sampel Tanah

Pengambilan sampel dilakukan pada pagi hari mulai pukul 06:00 WIB sampai dengan pukul 09:00 WIB.

Ekstraksi Mesofauna Tanah

Ekstraksi mesofauna tanah dilakukan dengan menggunakan metode Berlese – Tullgren Funnel. Metode ini menggunakan prinsip hewan tanah yang masih hidup akan dirangsang menggunakan panas yang berasal dari lampu untuk meninggalkan tanah dan jatuh ke dalam botol koleksi. Pada botol koleksi telah terdapat alkohol 60% yang berguna untuk mengawetkan mesofauna tanah.

Ekstraksi dilakukan minimal 4 hari sampai tanahnya kering.

Pengamatan Mesofauna Tanah

Mesofauna yang terdapat dalam botol koleksi selanjutnya diamati mengggunakan stereomikroskop untuk mengetahui jenis dan populasi mesofauna. Identifikasi mesofauna tanah dilakukan dengan menggunakan pedoman Borror et al (1992) sampai tingkat famili.

Dokumentasi foto selama penelitian tertera pada Lampiran 1.

Peubah Amatan

Identifikasi Sampel Mesofauna Tanah Sampel mesofauna tanah yang telah diekstraksi dikelompokkan sesuai dengan kesamaan ciri morfologinya. Proses identifikasi ini dilakukan dengan

32

memperhatikan morfologi (bentuk luar tubuh) menggunakan stereomikroskop dan beberapa buku acuan diantaranya Suin (2002) dan Boror et al (1992).

pH Tanah, C – Organik Tanah, Kelembaban Tanah dan Suhu Tanah,

Pengukuran pH tanah dilakukan di laboratorium dengan menggunakan alat pH meter. Pengukuran C – organik dilakukan dengan metode Walkley and Black (modifikasi) menggunakan alat Spectrofotometer. Pengukuran kelembaban dan suhu tanah dilakukan dilapangan sebelum pengambilan sampel tanah. Pengukuran kelembaban tanah mengunakan soil tester dan pengukuran suhu tanah menggunakan alat thermometer tanah.

Kadar Air Tanah

Pengukuran kadar air tanah dilakukan di laboratorium. Tanah diambil dari lapangan mewakili tiap titik lalu dikompositkan dan dibersihkan dari sisa tumbuhan yang masih ada lalu diambil 10 g untuk dianalisis. Selanjutnya sampel tanah dikeringkan dalam oven pada suhu 1050C selama 5 jam hingga beratnya konstan.

Analisis Data Mesofauna Tanah

Jumlah spesies mesofauna tanah dan jumlah individu masing – masing spesies yang ditemukan dihitung nilai: Kepadatan (K), Kepadatan Relatif (KR), Frekuensi Kehadiran (FK) untuk mengetahui struktur komunitas mesofauna tanahnya dengan rumus menurut Borror (1992) dan Suin (2002). Perhitungan populasi mesofauna tanah dapat dilihat pada Lampiran 2.

a. Kepadatan Populasi (K)

Jumlah individu suatu jenis K =

Jumlah plot per lokasi

33

b. Kepadatan Relatif (KR)

Kepadatan suatu jenis

KR = × 100%

Jumlah kepadatan semua jenis c. Frekuensi Kehadiran (FK)

Jumlah plot yang ditempati suatu jenis

FK = × 100%

Jumlah total plot Analisis Korelasi

Untuk mengetahui korelasi antara mesofauna tanah yang ditemukan dengan faktor fisik dan kimia tanahnya dilakukan Analisis Korelasi Pearson (r).

Akbar et al (2000) menerangkan nilai r sebagai berikut:

a. Nilai r terbesar adalah +1 dan nilai r terkecil adalah -1

b. r = +1 menunjukkan hubungan positif sempurna (searah), sedangkan r = -1 menunjukkan hubungan negatif sempurna (berlawanan arah).

c. r tidak mempunyai satuan atau dimensi.

d. Tanda ( +) atau ( –) hanya menunjukkan arah hubungan.

Interpretasi nilai r adalah sebagai berikut:

Jika r = 0 : Tidak berkorelasi

Jika r = 0,01 – 0,2 : Korelasi sangat rendah Jika r = 0,21 – 0,4 : Korelasi rendah

Jika r = 0,41 – 0,6 : Korelasi agak rendah Jika r = 0,61 – 0,8 : Korelasi cukup Jika r = 0,81 – 0,99 : Korelasi tinggi

Jika r = 1 : Korelasi sangat tinggi (korelasi sempurna)

34

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Total komposisi mesofauna yang ditemukan pada lahan gambut dataran tinggi Toba adalah sebanyak 23 famili dari 1 filum, 4 kelas, 1 sub – kelas 12 ordo dan 8 sub – ordo. Famili dengan komposisi penyusun tertinggi adalah famili Neanuridae.

2. Keanekaragaman mesofauna tanah pada beberapa penggunaan lahan gambut di Kecamatan Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor abiotik maupun faktor biotik.

Faktor abiotik seperti suhu, kadar air, kelembaban, pH, maupun kadar bahan organik tanah, sedangkan faktor biotik seperti mikroflora dan tanaman.

Saran

Penelitian ini merupakan langkah awal, sehingga diperlukan penelitian lanjutan guna mengetahui faktor – faktor lingkungan lainnya yang dapat memengaruhi keberadaan dan keanekaragaman mesofauna tanah.

35

Dokumen terkait