MELI NURFARIDA Pengembangan Uji Cepat Vigor Benih Jagung ( Zea mays L ) dengan Alat pengukur Laju Respirasi Kosmotektor.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih serta Laboratorium Pasca Panen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Bogor pada bulan Februari-Mei 2011.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih jagung varietas NT-10, kertas merang, aquades, kain strimin, label, dan solatif.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kosmotektor tipe XP-314 dan toples inkubasi (Gambar 1), germinator tipe IPB 72-1, alat pengepres kertas IPB 75-1, mesin pengusangan cepat (MPC) fisik, oven 105°C, oven 60°C, desikator, termohigro-meter, dan timbangan digital.
Gambar 1. Alat Kosmotektor Tipe XP-314
Metode Penelitian
Penelitian ini terdiri dari enam kombinasi perlakuan antara lama pengovenan serta lama pelembaban dengan vigor benih jagung. Vigor benih jagung terdiri empat taraf, yaitu tanpa pengusangan (V1), pengusangan secara fisik selama 4 hari (V2), pengusangan secara fisik selama 5 hari (V3), dan pengusangan secara fisik selama 6 hari (V4). Empat taraf vigor tersebut kemudian diberi perlakuan awal, yaitu pengovenan selama 15 menit (O1), pengovenan selama 30 menit (O2), pengovenan selama 45 menit (O3), pelembaban selama 10
jam (L1), pelembaban selama 15 jam (L2), dan pelembaban selama 20 jam (L3). Perlakuan pengovenan dan pelembaban benih dilakukan sebagai perlakuan awal sebelum prngukuran laju respirasi. Semua kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali, sehingga jumlah satuan percobaan adalah 72 satuan.
Penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yaitu analisis regresi linier sederhana dan analisis korelasi regresi. Pendekatan pertama dengan analisis regresi linier sederhana bertujuan untuk mengetahui dan menduga hubungan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan peubah laju respirasi benih, dari analisis tersebut akan diperoleh persamaan regresi yaitu :
y = a + bx Keterangan :
y = Peubah laju respirasi benih (Peubah tetap) a = Titik potong garis dengan sumbu y b = Kemiringan garis
x = Peubah viabilitas dan vigor benih (Peubah bebas)
Pendekatan kedua adalah analisis korelasi regresi antara berbagai peubah viabilitas dan vigor dengan peubah laju respirasi benih. Sumbu x adalah peubah viabilitas dan vigor benih, sedangkan sumbu y adalah peubah laju respirasi benih. Nilai koefisien korelasi (r) digunakan untuk melihat keeratan hubungan. Nilai
koefisien korelasi yang mendekati 1 (r ≈ 1) menggambarkan adanya keeratan
hubungan atau korelasi antara antara berbagai peubah viabilitas dan vigor dengan laju respirasi benih. Viabilitas dan vigor benih dapat dideteksi melalui persamaan regresi berdasarkan nilai respirasi apabila koefisien korelasinya nyata.
10
Pelaksanaan Penelitian
Pembuatan Lot Benih
Satu lot (kelompok) benih jagung dibagi menjadi empat lot baru kemudian diberi taraf perlakuan vigor yang berbeda pada setiap lot, terdiri perlakuan tanpa pengusangan (V1), pengusangan secara fisik selama 4 hari (V2), pengusangan secara fisik selama 5 hari (V3), dan pengusangan secara fisik selama 6 hari (V4).
Penderaan dengan Metode Pengusangan Cepat Fisik
Penderaan dengan metode pengusangan cepat fisik benih dilakukan untuk memperoleh beragam status viabilitas dan vigor benih. Benih jagung yang didera, dipaparkan secara merata di dalam kain strimin kemudian diuapkan dalam Mesin
Pengusangan Cepat (MPC) fisik pada suhu 40-450C dengan kondisi RH yang
tinggi ( mendekati 100%) selama 4 hari (V2), 5 hari (V3), dan 6 hari (V4). Setelah benih mengalami penderaan, kadar air benih meningkat (Lampiran 1). Benih selanjutnya dipaparkan pada suhu ruang selama lima hari dengan tujuan kadar air benih mencapai kesetimbangan sehingga kadar air pada semua perlakuan penderaan dapat seragam dan tidak menjadi faktor yang mempengaruhi dalam pengujian viabilitas serta vigor benih.
Pengujian Viabilitas dan Vigor Benih dengan Indikasi Langsung
Pengujian viabilitas dan vigor (indikasi langsung) digunakan sebagai pembanding dengan pengujian respirasi benih (indikasi tidak langsung). Benih jagung yang telah didera kemudian dikelompokkan berdasarkan lot, lalu dikecambahkan pada kertas merang melalui metode UKD-dp pada Alat Pengecambah Benih (APB) tipe 72-1. Pengecambahan dilakukan tiga ulangan untuk masing-masing taraf vigor. Setiap ulangan menggunakan 50 butir benih jagung, yaitu 25 butir untuk daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, dan berat kering kecambah normal, 25 butir untuk indeks vigor, keserempakan tumbuh, dan kecepatan tumbuh.
Pengukuran Laju Respirasi dengan Kosmotektor
Empat lot benih jagung yang memiliki taraf vigor berbeda kemudian diberi perlakuan pengovenan dan pelembaban (Gambar 2). Perlakuan pengovenan dilakukan pada suhu 60ºC selama 15 menit (O1), 30 menit (O2), dan 30 menit (O3). Sebelum dimasukkan ke dalam oven, benih dilembabkan selama 10 jam menggunakan kertas stensil basah untuk mengimbibisi benih sehingga memicu laju respirasi benih, karena benih tidak akan terukur laju respirasinya jika dalam keadaan kering. Benih yang telah dilembabkan, ditimbang sebanyak 40 gram (±100 butir) dan dimasukkan ke dalam toples lalu ditutup rapat kemudian di masukkan ke dalam oven bersuhu 60ºC selama 15 menit (O1), 30 menit (O2), dan 45 menit (O3) yang dilakukan sebanyak tiga ulangan untuk setiap perlakuan. Setelah dikeluarkan dari oven, benih diinkubasi selama 24 jam untuk dilakukan
pengukuran laju respirasi berdasarkan jumlah CO2yang dihasilkan.
Perlakuan pelembaban dilakukan selama 10 jam (L1), 15 jam (L2), dan 20 jam (L3). Benih dilembabkan dengan kertas stensil yang basah untuk mengimbibisi air agar dapat memacu laju respirasi benih. Benih yang telah dilembabkan, ditimbang sebanyak 40 gram (±100 butir) sebanyak tiga ulangan untuk setiap perlakuan dan dimasukkan ke dalam toples lalu ditutup rapat kemudian diinkubasi selama 24 jam untuk dilakukan pengukuran laju repsirasi
berdasarkan jumlah CO2yang dihasilkan menggunakan alat kosmotektor.
Toples yang digunakan untuk inkubasi benih, berbentuk bulat, bervolume 300 ml dan berteutup datar. Tutupnya telah dilubangi terlebih dahulu dengan diameter 1 cm sebanyak dua buah lalu diberi sekrup dan selang penutup untuk dihubungkan dengan selang kosmotektor . Ketika benih diinkubasi, pinggiran tutup toples dan dan selang penutup pada tutup toples dilapisi plastik wrap dan isolasi untuk mengurangi kebocoran gas. Setelah benih diinkubasi selama 24 jam,
kemudian dilakukan pengukuran jumlah CO2 dengan kosmotektor. Selang
penutup yang ada pada tutup toples dilepas lalu ditutup menggunakan ujung ibu
jari untuk mencegah keluarnya gas CO2, kemudian masukkan selang kosmotektor.
Tunggu beberapa saat sampai skala persentase CO2terukur pada kosmotektor, lalu
12
Pengamatan
Tolok ukur yang diamati adalah sebagai berikut : 1. Daya berkecambah (DB)
Pengukuran daya berkecambah (%) dihitung berdasarkan perbandingan
jumlah kecambah normal pada hitungan pertama dan kedua yang
dibandingkan dengan jumlah total benih yang ditanam. Hitungan pertama adalah 4 hari setelah pengecambahan dan hitungan kedua adalah 7 hari setelah pengecambahan, dengan rumus sebagai berikut :
DB % =∑ kecambah normal hitungan I + hitungan II
∑benih yang dikecambahkan x 100%
2. Potensi Tumbuh Maksimum (PTM)
Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah kecambah normal dan kecambah abnormal pada hari terakhir pengamatan, dengan rumus sebagai berikut :
PTM(%) =∑ kecambah tumbuh (normal+abnormal)
∑benih yang dikecambahkan x 100%
3. Indeks Vigor (IV)
Pengamatan dilakukan terhadap jumlah kecambah normal pada hitungan pertama (Hari ke-4), dan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
IV(%)=∑ kecambah normal hitungan I
∑benih yang dikecambahkan x 100%
4. Keserempakan Tumbuh (KST)
Pengamatan keserempakan tumbuh diukur berdasarkan kecambah normal kuat (KNK) dibagi jumlah benih yang ditanam. Pengamatan dilakukan pada hari antara pengamatan I dan pengamatan II . KNK adalah kecambah yang
memiliki kinerja kuat diantara kecambah yang tumbuh normal (KST) dapat
dihitung dengan rumus :
KST (%) =
∑ kecambah normal kuat
5. Kecepatan Tumbuh (KCT)
Kecepatan tumbuh diukur berdasarkan jumlah tambahan perkecambahan setiap hari atau etmal selama kurun waktu perkecambahan. Pengamatan dilakukan setiap hari setelah munculnya kecambah normal hari pertama pengamatan hingga hari terakhir pengamatan. Kecepatan tumbuh dihitung dengan rumus : KCT (% per etmal) = N t tn n=0 Keterangan : t = Waktu pengamatan
N = presentase kecambah normal setiap waktu pengamatan
tn = waktu akhir pengamatan
6. Berat Kering Kecambah Normal (g)
Pengukuran berat kering kecambah normal dilakukan di akhir pengamatan. Caranya dengan membuang bagian endosperma dari kecambah normal dan dioven selama 3 x 24 jam pada suhu 60 ºC, kemudian dimasukkan ke dalam desikator, setelah dingin ditimbang berat keringnya.
7. Respirasi Benih
Respirasi dihitung berdasarkan jumlah CO2 yang dihasilkan selama proses
respirasi, dihitung dengan rumus :
L =V × K × 1.76 W × B Keterangan:
L = Laju respirasi (mg CO2/kg/jam)
V = Volume udara bebas dalam toples (volume toples-volume bahan) dalam ml
K = Kadar CO2setelah inkubasi (%) - kadar CO2sebelum inkubasi (0,03%)
W = Waktu inkubasi (jam)
B = Bobot bahan (kg)
14
Gambar 2. Diagram Alir Pelaksanaan Penelitian 1 Lot Benih Jagung Hibrida
Varietas NT-10
Pembuatan Empat Lot Benih :
1. Benih tidak diusangakan (disimpan di ruang AC) 2. Pengusangan Cepat Fisik selama 4 Hari
3. Pengusangan Cepat Fisik selama 5 hari 4. Pengusangan Cepat Fisik selama 6 Hari
Penyamaan Kadar Air Benih
(Benih dipaparkan pada suhu ruang selama 5 Hari)
Analisis Viabilitas dan Vigor Benih : 1. Daya Berkecambah 2. Potensi Tumbuh Maksimum 3. Indeks vigor 4. Keserempakan Tumbuh 5. Kecepatan Tumbuh 6. Berat kering Kecambah Normal
Pelembaban selama 10 Jam Pelembaban Benih
selama: 1. 10 Jam 2. 15 Jam 3. 20 Jam Pengovenan Benih selama : 1. 15 Menit 2. 30 Menit 3. 45 Menit
Pengukuran Laju Respirasi Benih dengan Kosmotektor
Inkubasi Benih dalam Toples selama 24 jam
Pembuatan Lot Benih
Pembuatan lot benih dilakukan untuk memperoleh beragam tingkat vigor yang berbeda. Lot benih didapat dengan perlakuan penderaan terhadap benih jagung melalui Metode Pengusangan Cepat fisik. Pada tahap ini, penderaan dilakukan menggunakan mesin pengusangan cepat (MPC) fisik dengan lama
waktu penderaan selama 4, 5, dan 6 hari pada suhu 40-450C dengan kelembaban
tinggi (≈100%).
Metode Pengusangan Cepat secara fisik dapat memberikan keragaman viabilitas dan vigor pada lot benih jagung. Keragaman lot kemudian digunakan untuk mengelompokkan benih berdasarkan status viabilitas dan vigornya, dan diperoleh hasil benih dengan waktu pengusangan selama 4 hari sebagai vigor 2 (V2), pengusangan selama 5 hari sebagai vigor 3 (V3), dan pengusangan selama 6 hari sebagai vigor 4 (V4). Nilai tengah status viabilitas dan vigor yang diperoleh, dapat dilihat pada Tabel 1. Nilai tengah diperoleh dari rataan tiga ulangan pada masing-masing lot.
Tabel 1. Nilai Tengah Daya Berkecambah (DB), Potensi Tumbuh Maksimum
(PTM), Indeks Vigor (IV), Keserempakan Tumbuh (KST), Kecepatan
Tumbuh (KCT), dan Berat Kering Kecambah Normal (BKKN) Benih
Jagung Tingkat Vigor DB (%) PTM (%) IV (%) KST (%) KCT (%) BKKN (gram) V1 94.67 99.11 32.89 96.44 21.27 2.81 V2 62.44 71.78 20.22 46.00 12.04 1.29 V3 46.44 60.00 3.33 35.33 9.47 0.53 V4 19.33 30.00 0.00 4.11 2.23 0.28
Keterangan : V1 : Benih jagung disimpan pada ruang AC dengan suhu 16ºC; V2 : Benih jagung diusangkan secara fisik selama 4 hari; V3: Benih jagung diusangkan secara fisik selama 5 hari; V4: Benih jagung diusangkan secara fisik selama 6 hari;
Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa benih yang diusangkan selama empat hari (V2), lima hari (V3), dan enam hari (V4) mengalami kemunduran dibandingkan dengan benih yang tidak diusangkan (V1). Kemunduran sangat
16
terlihat pada semua parameter pengamatan. Hal ini menunjukkan bahwa lot benih jagung mengalami penurunan viabilitas dan vigor secara linear.
Selama proses penderaan, benih menyerap uap air dari lingkungan yang lembab sehingga kadar air benih meningkat. Viabilitas setelah melalui penderaan fisik pada benih yang mempunyi vigor tinggi akan tetap memiliki total kecambah normal yang tinggi, sedangkan lot benih yang mempunyai vigor rendah total kecambah normalnya akan berkurang.
Garis regresi menunjukkan penurunan yang linier pada tolok ukur daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, indeks vigor, keserempakan tumbuh, kecepatan tumbuh, serta berat kering kecambah normal pada keempat tingkat vigor yang berbeda (Lampiran 1 sampai 6).
Tabel 2. Nilai Tengah Laju Respirasi Benih Jagung (Zea maysL.)
Tingkat Vigor
Pengovenan Pelembaban
15 menit 30 menit 45 menit 10 jam 15 jam 20 jam
...………mg CO2/kg/jam………...
V1 42.47 27.33 38.48 27.77 65.11 42.24
V2 42.46 21.19 35.86 32.88 47.22 52.82
V3 18.36 8.47 10.35 19.63 44.66 35.92
V4 27.55 25.66 9.41 21.16 20.10 37.58
Keterangan : V1 : Benih jagung disimpan pada ruang AC dengan suhu 16ºC; V2 : Benih jagung diusangkan secara fisik selama 4 hari; V3: Benih jagung diusangkan secara fisik selama 5 hari; V4: Benih jagung diusangkan secara fisik selama 6 hari;
Nilai tengah laju respirasi benih jagung pada Tabel 2, menunjukkan terdapat perbedaan laju respirasi pada keempat vigor benih yang berbeda meskipun nilainya cenderung fluktuatif dan hanya pada perlakuan pengovenan 45 menit (O3) dan pelembaban 15 jam (L2) yang menunjukkan penurunan laju respirasi yang linier. Nilai tengah laju respirasi pada perlakuan pengovenan 15 menit (O1) dan 30 menit (O2) menurun secara linier pada V1 sampai V3, namun laju respirasi meningkat kembali pada V4, sedangkan perlakuan pelembaban 10 jam (L1) dan 20 jam (L2) laju respirasinya meningkat dari pada V2 dan menurun pada V3, kemudian meningkat kembali pada V4.
Hubungan antara Daya Berkecambah dengan Laju Respirasi
Daya berkecambah merupakan salah satu tolok ukur viabilitas potensial benih. Viabilitas potensial benih merupakan kemampuan benih untuk tumbuh menjadi tanaman normal dalam keadaan lingkungan yang optimum. Hubungan antara daya berkecambah dengan laju respirasi benih jagung dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Persamaan Regresi antara Daya Berkecambah dengan Laju Respirasi
Benih Jagung (Zea mays L.)
Perlakuan Awal Persamaan Regresi Nilai r
Pengovenan selama 15 menit y = 18.3 + 0.258 x 0.68
Pengovenan selama 30 menit y = 17.0 + 0.065 x 0.24
Pengovenan selama 45 menit y = - 0.9 + 0.438 x 0.87
Pelembaban selama 10 jam y = 18.8 + 0.118 x 0.61
Pelembaban selama 15 jam y = 12.3 + 0.574 x 0.98*
Pelembaban selama 20 jam y = 36.5 + 0.101 x 0.42
Keterangan : x = peubah daya berkecambah benih dan y = peubah laju respirasi benih. Angka yang diikuti oleh tanda (*) adalah nyata pada taraf 5%.
Berdasarkan hasil analisis regresi dan korelasi pada pada Tabel 3, terlihat bahwa hubungan antara tolok ukur daya berkecambah dengan laju respirasi benih jagung pada semua perlakuan berkorelasi positif, artinya semakin tinggi daya berkecambah benih jagung maka semakin tinggi pula laju respirasinya. Nilai daya berkecambah yang tinggi menunjukkan bahwa benih memiliki viabilitas potensial yang tinggi karena mampu memanfaatkan cadangan makanan untuk berkecambah normal pada kondisi optimum, namun hanya satu perlakuan yang korelasinya nyata yaitu pada perlakuan L2 (pelembaban selama 15 jam). Nilai korelasi perlakuan L2 sebesar 0.98, artinya peubah laju respirasi (sumbu y) dipengaruhi oleh peubah daya berkecambah (sumbu x) sebesar 98 %. Nilai korelasi yang
mendekati satu (r ≈ 1) menunjukkan hubungan yang sangat erat antara daya
berkecambah dengan laju respirasi benih jagung. Persamaan regresi menyatakan hubungan antara peubah daya berkecambah (sumbu x) dengan peubah laju respirasinya (sumbu y). Garis regresi pada Lampiran 7 sampai 12 menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai DB maka semakin tinggi laju respirasinya.
Hasil penelitian Yulinda (2000) menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara laju respirasi dengan parameter viabilitas benih jagung, kedelai, dan
18
kacang hijau. Benih jagung yang memiliki nilai daya berkecambah sebesar
97.33% nilai laju respirasinya sebesar 200.58 mg CO2, sedangkan benih jagung
dengan nilai daya berkecambah 62.67% nilai laju respirasinya sebesar 184.79 mg
CO2.
Hubungan antara Potensi Tumbuh Maksimum dengan Laju Respirasi
Potensi tumbuh maksimum merupakan tolok ukur viabilitas total benih. Viabilitas total benih dapat mendeteksi daya hidup benih yang ditunjukkan oleh gejala hidup benih melalui melalui gejala metabolismenya. Hubungan antara potensi maksimum dengan laju respirasi benih jagung dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Persamaan Regresi antara Potensi Tumbuh Maksimum dengan Laju
Respirasi Benih Jagung (Zea maysL.)
Perlakuan Awal Persamaan Regresi Nilai r
Pengovenan selama 15 menit y = 15.4 + 0.265 x 0.64
Pengovenan selama 30 menit y = 17.6 + 0.048 x 0.16
Pengovenan selama 45 menit y = - 7.1 + 0.469 x 0.85
Pelembaban selama 10 jam y = 17.2 + 0.125 x 0.59
Pelembaban selama 15 jam y = 2.51 + 0.640 x 0.99**
Pelembaban selama 20 jam y = 35.1 + 0.108 x 0.41
Keterangan : x = peubah daya berkecambah benih dan y = peubah laju respirasi benih. Angka yang diikuti oleh tanda (**) adalah nyata pada taraf 1%.
Berdasarkan hasil analisis regresi dan korelasi pada Tabel 4, terlihat bahwa hubungan antara potensi tumbuh maksimum dengan laju respirasi benih jagung menunjukkan korelasi positif pada semua perlakuan, tetapi hanya perlakuan L2 (pelembaban selama 15 jam) yang koefisien korelasinya bernilai sangat nyata.
Nilai korelasi pada perlakuan L2 sangat mendekati 1 (r ≈ 1) yaitu 0.99, artinya
peubah laju respirasi (sumbu y) dipengaruhi oleh peubah potensi tumbuh maksimum (sumbu x) sebesar 99 %. Nilai tersebut menggambarkan hubungan yang sangat erat antara tolok ukur potensi tumbuh maksimum dengan laju respirasi benih jagung. Tanda positif menunjukkan hubungan yang berbanding lurus antara kedua peubah. Potensi tumbuh maksimum benih jagung yang tinggi menunjukkan kemampuan daya hidup benih yang tinggi pula, karena gejala metabolisme benih dalam perombakan cadangan makanan untuk pertumbuhan kecambah tetap tinggi meskipun energi yang ada di dalam benih digunakan untuk berespirasi.
Persamaan regresi menyatakan hubungan antara peubah potensi tumbuh maksimum benih jagung (sumbu x) dengan peubah laju respirasinya (sumbu y). Garis regresi pada Lampiran 13 sampai 18 menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai potensi tumbuh maksimum benih jagung, maka semakin tinggi pula laju respirasinya.
Hubungan antara Indeks Vigor dengan laju Respirasi
Indeks vigor merupakan salah satu tolok ukur vigor kekuatan tumbuh
benih (VKT). Menurut Copeland dan McDonald (2001) nilai indeks vigor benih
adalah nilai perkecambahan pada hitungan pertama, yang merupakan salah satu tolok ukur yang dapat digunakan untuk menentukan vigor benih. Semakin rendah nilai perkecambahan pada hitungan pertama mengindikasikan semakin rendahnya vigor benih. Menurut Justice dan Bass (2002) kehilangan vigor dapat dianggap sebagai suatu tahap perantara dari kehidupan benih, yaitu antara awal dan akhir proses kemunduran. Hubungan antara indeks vigor dengan laju respirasi benih jagung dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Persamaan Regresi antara Indeks Vigor dengan Laju Respirasi Benih
Jagung (Zea mays L.)
Perlakuan Awal Persamaan regresi Nilai r
Pengovenan selama 15 menit y = 23.3 + 0.667 x 0.86
Pengovenan selama 30 menit y = 16.9 + 0.268 x 0.48
Pengovenan selama 45 menit y = 9.57 + 0.989 x 0.96*
Pelembaban selama 10 jam y = 21.1 + 0.300 x 0.75
Pelembaban selama 15 jam y = 29.3 + 1.06 x 0.88
Pelembaban selama 20 jam y = 38.2 + 0.281 x 0.57
Keterangan : x = peubah daya berkecambah benih dan y = peubah laju respirasi benih. Angka yang diikuti oleh tanda (*) adalah nyata pada taraf 5%.
Tabel 5 menunjukkan bahwa hubungan antara indeks vigor dengan laju respirasi benih jagung menunjukkan korelasi positif pada semua perlakuan, tetapi korelasinya yang nyata hanya pada perlakuan O3, berbeda dengan tolok ukur daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum yang korelasinya nyata pada perlakuan L2. Korelasi positif menunjukkan hubungan yang berbanding lurus antara kedua peubah, semakin tinggi indeks vigor maka semakin tinggi pula laju respirasinya.
20
Nilai korelasi pada perlakuan O3 (pengovenan selama 45 menit) sangat
mendekati satu (r ≈1) yaitu sebesar 0.96, artinya peubah laju respirasi (sumbu y)
dipengaruhi oleh peubah indeks vigor (sumbu x) sebesar 96 %. Nilai tersebut menggambarkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara tolok ukur indeks vigor dengan laju respirasi benih jagung pada perlakuan O3. Benih yang indeks vigornya tinggi berarti memiliki vigor kekuatan tumbuh yang tinggi karena tetap memiliki kemampuan untuk berkecambah secara normal pada hitungan pertama meskipun, energi atau cadangan makanan digunakan untuk berespirasi.
Garis regresi pada Lampiran 19 sampai 24 menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai indeks vigor benih jagung, maka semakin tinggi pula laju respirasinya.
Hubungan antara Keserempakan Tumbuh dengan laju Respirasi
Keserempakan tumbuh merupakan salah satu tolok ukur parameter vigor
daya simpan (VDS) benih. Menurut Sadjad et al.(1999), benih yang tetap mampu
menumbuhkan tanaman normal pada kondisi lapang sub optimum meskipun kondisi penyimpanannya sub optimum (penyimpanan terbuka), dapat dikatakan bahwa benih tersebut memiliki vigor daya simpan yang tinggi.
Benih dengan kapasitas respirasi tertinggi akan mempunyai vigor daya simpan tertinggi pula. Diduga benih tersebut paling sedikit mengonsumsi oksigen selama disimpan, sehingga mempunyai laju kemunduran yang sekecil mungkin.
Hubungan antara parameter vigor daya simpan (VDS) pada tolok ukur
keserempakan tumbuh dengan laju respirasi benih jagung dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Hubungan Keserempakan Tumbuh dengan Laju Respirasi Benih Jagung (Zea maysL.)
Perlakuan Awal Persamaan regresi Nilai r
Pengovenan selama 15 menit y = 23.8 + 0.195 x 0.63
Pengovenan selama 30 menit y = 18.0 + 0.058 x 0.26
Pengovenan selama 45 menit y = 8.21 + 0.337 x 0.82
Pelembaban selama 10 jam y = 21.7 + 0.0813 x 0.51
Pelembaban selama 15 jam y = 23.0 + 0.467 x 0.97*
Pelembaban selama 20 jam y = 39.4 + 0.059 x 0.30
Keterangan : x = peubah daya berkecambah benih dan y = peubah laju respirasi benih. Angka yang diikuti oleh tanda (*) adalah nyata pada taraf 5%
Tabel 6 menunjukkan bahwa pada semua perlakuan terdapat hubungan yang berkorelasi positif antara keserempakan tumbuh benih jagung dengan laju repirasinya. Artinya semakin tinggi keserempakan tumbuh benih maka semakin tinggi pula laju respirasinya. Korelasi positif yang bernilai nyata hanya pada perlakuan L2 (pelembaban selama 15 jam), sedangkan pada lima perlakuan yang lainnya nilai korelasi tidak ada yang nyata. Nilai korelasi pada perlakuan L2
sangat mendekati satu (r ≈ 1) yaitu sebesar 0.97, artinya peubah laju respirasi
dipengaruhi oleh peubah keserempakan tumbuh sebesar 97% dan menggambarkan terdapat hubungan yang erat antara keserempakan tumbuh dengan laju respirasi benih jagung.
Persamaan garis regresi menyatakan hubungan antara peubah
keserempakan tumbuh (sumbu x) dengan peubah laju respirasi benih (sumbu y). Garis regresi menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai keserepakan tumbuh benih, maka semakin tinggi pula laju respirasinya (Lampiran 25 sampai 30).
Hubungan antara Kecepatan Tumbuh dengan laju Respirasi
Kecepatan tumbuh merupakan tolok ukur bagi parameter vigor kekuatan tumbuh. Rendahnya nilai kecepatan tumbuh mengindikasikan bahwa vigor benih telah mengalami penurunan. Menurut sadjad (1993), peubah kecepatan tumbuh
(KCT) yang tinggi mengindikasikan vigor kekuatan tumbuh, karena benih yang
cepat tumbuh lebih mampu menghadapi kondisi lapang yang sub optimum. KCT
diukur dengan jumlah tambahan perkecambahan setiap hari atau etmal dalam kurun waktu perkecambahan pada kondisi optimum.
Kecepatan tumbuh benih jagung yang semakin tinggi dengan semakin meningkatnya laju respirasi, mengindikasikan bahwa benih memiliki vigor kekuatan tumbuh yang tinggi pula. Benih tetap dapat mempertahankan vigornya sehingga kecepatan tumbuhnya tetap tinggi meskipun laju respirasi meningkat.
Hubungan antara parameter vigor kekuatan tumbuh (VKT) pada tolok ukur
22
Tabel 7.Hubungan Kecepatan Tumbuh dengan Laju Respirasi Benih Jagung (Zea maysL.)
Perlakuan Awal Persamaan regresi Nilai r
Pengovenan selama 15 menit y = 21.9 + 0.956 x 0.63
Pengovenan selama 30 menit y = 18.0 + 0.236 x 0.22
Pengovenan selama 45 menit y = 4.7 + 1.67 x 0.83
Pelembaban selama 10 jam y = 20.6 + 0.421 x 0.54
Pelembaban selama 15 jam y = 18.3 + 2.31 x 0.98*
Pelembaban selama 20 jam y = 38.4 + 0.332 x 0.34
Keterangan : x = peubah daya berkecambah benih dan y = peubah laju respirasi benih. Angka yang diikuti oleh tanda (*) adalah nyata pada taraf 5%.
Tabel 7 menunjukkan bahwa pada semua perlakuan terdapat hubungan korelasi yang positif antara kecepatan tumbuh dengan laju respirasinya. Artinya semakin tinggi kecepatan tumbuh benih jagung maka semakin tinggi pula laju repirasinya. Hubungan yang memiliki nilai korelasi nyata hanya pada perlakuan
L2 (pelembaban selama 15 jam) dengan nilai r yang sangat mendekati 1 (r ≈ 1)
yaitu 0.98, artinya bahwa variabel laju respirasi (sumbu y) dipengaruhi oleh variabel kecepatan tumbuh (sumbu x) sebesar 98 %. Nilai korelasi yang tinggi menggambarkan terdapat hubungan yang erat antara tolok ukur kecepatan tumbuh dengan laju respirasi benih jagung.
Garis regresi pada Lampiran 31 sampai 36 menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai kecepatan tumbuh benih, maka semakin tinggi pula laju respirasinya.
Hubungan antara Berat Kering Kecambah Normal dengan Laju Respirasi
Berat kering kecambah normal merupakan tolok ukur viabilitas potensial . Benih yang memiliki viabilitas potensial tinggi, akan memiliki berat kering kecambah normal yang tinggi pula. Reaksi-reaksi yang terjadi selama metabolisme benih tidak terhambat oleh respirasi dan tetap tersedia energi untuk pertumbuhan kecambah sehingga kecambah dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
Hubungan antara parameter berat kering kecambah normal dengan laju respirasi benih jagung disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Hubungan Berat Kering Kecambah Normal dengan Laju Respirasi Benih
Jagung (Zea maysL.)
Perlakuan Awal Persamaan regresi Nilai r