• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi, dengan ketinggian tempat ± 40 meter di atas permukaan laut, dan di Laboratorium Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2010 sampai bulan Juli 2010.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit kelapa sawit varietas DyxP Sungai Pancur I (Dumpy), pupuk TSP sebagai perlakuan, pupuk MOP dan pupuk urea sebagai pupuk dasar, tanah subsoil sebagai media tanam, kompos tandan kosong kelapa sawit sebagai campuran media tanam; air, polibeg dengan ukuran 40 cm x 50 cm, insektisida Deltametrin (Decis 2,5 EC), H2SO4, H2O2, aquadest, pengekstrak Bray I dan Kurt (HCl 0,025 N + NH4F 0,03 N), serta bahan-bahan lain yang mendukung pelaksanaan penelitian ini.

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, gembor, meteran, jangka sorong, handsprayer, kalkulator, knapsack, selang, pacak sampel, tugal, timbangan analitik, oven, kain terpal, ayakan, plastik, amplop kertas, parang, gunting, desikator, hotplate, kertas saring, spektofotometer, alat tulis dan alat-alat lain yang mendukung dalam pelaksanaan penelitian ini.

Metode penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor perlakuan yaitu:

Faktor I: Komposisi media tanam (M) dengan 3 taraf yaitu: M0 : Subsoil (100%).

M1 : Subsoil + kompos tandan kosong kelapa sawit (80% : 20%). M2 : Subsoil + kompos tandan kosong kelapa sawit (60% : 40%). Faktor II : Pupuk fosfat (P) dengan 4 taraf yaitu:

P1 : 70 gram per polibeg. P2 : 90 gram per polibeg. P3 : 110 gram per polibeg. P4 : 130 gram per polibeg

Maka diperoleh 12 kombinasi perlakuan sebagai berikut :

M0P1 M1P1 M2P1 M0P2 M1P2 M2P2 M0P3 M1P3 M2P3 M0P4 M1P4 M2P4 Jumlah ulangan : 3 Jumlah plot : 12

Jumlah tanaman per plot : 5

Jumlah sampel per plot : 3

Jumlah sampel destruktif per plot : 1 Jumlah sampel destruktif seluruhnya : 36

Jumlah sampel seluruhnya : 108

Jumlah tanaman seluruhnya : 180

Jarak antar polybag : 70 cm

Jarak antar plot : 70 cm

Ukuran lahan : 600 x 2600 cm

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut :

Yijk = µ + ฀i+ αj + βk + (αβ)jk + Ʃijk

Yijk = Hasil pengamatan dari unit percobaan dalam blok ke-i yang mendapat

perlakuan media tanam pada taraf ke-j dan pemberian pupuk fosfor pada taraf ke-k.

µ = Nilai tengah ฀i = Efek blok ke-i

αj = Efekdari perlakuan media tanam pada taraf ke-j.

βk = Efek dari perlakuan pemberian pupuk fosfor pada taraf ke-k

(αβ)jk = Efek kombinasi perlakuan media tanam pada taraf ke-j dan pemberian pupuk fosfor pada taraf ke-k.

Ʃijk = Pengaruh galat pada blok ke-i yang mendapat perlakuan media tanam pada taraf ke-j dan pemberian pupuk fosfor pada taraf ke-k.

Pengolahan sidik ragam untuk hasil pengamatan 0 (nol) dilakukan transformasi √X+0.5, log Y atau arcsin √%. Uji lanjutan yang digunakan dalam menentukan notasi bagi perlakuan yang berpengaruh nyata terhadap parameter yang diambil adalah u qji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %. (Sastrosupadi, 2000).

Pelaksanaan Penelitian

Persiapan Areal Pembibitan

Areal pembibitan dibersihkan dari gulma dan diratakan, parit antar blok dibuat dengan lebar 20 cm dan kedalaman 20 cm. Parit ini berguna untuk menjaga kondisi areal pembibitan dari genangan air akibat hujan deras.

Persiapan dan Analisa Media Tanam

Media tanam yang digunakan adalah campuran dari tanah subsoil yang telah dikeringanginkan dan di ayak, dengan kompos tandan kosong kelapa sawit. Media tanam diisikan pada polibeg yang berukuran lebar 40 cm dan tinggi 45 cm. Media tanam dicampur sesuai perbandingan pada perlakuan yaitu M0 (100% subsoil), M1 (80% subsoil dengan 20% kompos tandan kosong kelapa sawit), dan M2 (60% subsoil dengan 40% kompos tandan kosong kelapa sawit). Media tanam tersebut dibiarkan selama 2 minggu sehingga kompos dapat menyatu secara sempurna dengan tanah subsoil, kemudian diambil sampelnya untuk dilakukan penganalisaan terhadap pH tanah, Al-dd dan kandungan unsur P yang terdapat pada masing-masing media tanam. Penganalisaan dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.

Penanaman Bibit

Bibit yang digunakan adalah bibit varietas Sei Pancur I (Dumpy) yang berumur 3 bulan dan memiliki pertumbuhan yang seragam serta ditanam pada polibeg yang telah diisi dengan media tanam sesuai perlakuan. Sebelum ditanam, terlebih dahulu dibuat lubang tanam dengan menggunakan kayu yang telah diruncingkan pada bagian ujungnya dan polibeg dilepas. Tanah disekeliling lubang ditekan padat merata sehingga bibit dapat tumbuh tegak. Diukur tinggi

tanaman, jumlah daun dan diameter batang awal untuk melihat apakah besar bibit berbeda nyata.

Pemupukan

Pemupukan yang diberikan berupa pupuk TSP, MOP, dan urea. Pupuk TSP diberikan sesuai dengan perlakuan yaitu P1 sebanyak 70 gram per polibeg, P2 sebesar 90 gram per polibeg, P3 sebesar 110 gram per polibeg serta P4 sebesar 130 gram per polibeg. Pupuk MOP sebanyak 73 gram per polibeg, sedangkan pupuk urea sebanyak 2 gram per bibit setiap 2 minggu sekali hingga 26 MSPT (Minggu Setelah Pindah Tanam).

Pemeliharaan Tanaman Penyiraman

Penyiraman dilakukan setiap hari sebanyak 2 kali (pagi dan sore hari) sampai tanah dalam keadaan lembab. Penyiraman disesuaikan dengan kondisi lingkungan, apabila turun hujan atau media tanam dalam keadaan lembab maka penyiraman tidak dilakukan.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan pada areal pembibitan dan pada polibeg. Penyiangan dilakukan seminggu sekali dengan menggaru gulma pada areal pembibitan dan mencabut gulma yang terdapat dalam polibeg.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan bila bibit kelapa sawit terserang hama dengan menggunakan insektisida berupa Decis dengan dosis 2 ml per 1 liter air dan dilakukan setiap 2 minggu sekali sampai bibit berumur 26 MSPT.

Pengamatan Parameter

Pengamatan Pendahuluan

Setelah bibit di tanam, dilakukan pangukuran tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang yang kemudian diuji secara statistik. Tabel lampiran 1 menunjukkan bahwa tinggi tanaman tidak berbeda nyata sehingga untuk pengukuran parameter tinggi tanaman yang diukur adalah tinggi bibit. Sedangkan pada tabel lampiran 29 dan 57 menunjukkan bahwa jumlah daun dan diameter batang berbeda nyata sehingga untuk pengukukuran jumlah daun dan diameter batang yang diukur adalah pertambahan jumlah daun dan pertambahan diameter batang.

Tinggi Bibit (cm)

Tinggi bibit diukur mulai dari leher akar sampai ujung tanaman dengan menggunakan meteran, dilakukan 2 minggu sekali pada saat pindah tanam hingga bibit berumur 26 MSPT.

Pertambahan Jumlah Daun (helai)

Pengukuran jumlah daun dengan menghitung jumlah daun yang telah membuka sempurna pada pindah tanam. Kemudian pada minggu selanjutnya yang dihitung adalah pertambahan jumlah daun dengan mengurangkan jumlah daun yang diukur pada saat pengamatan dengan data jumlah daun pada data awal. Perhitungan parameter pertambahan jumlah daun ini dilakukan 2 minggu sekali hingga 26 MSPT.

Pertambahan Diameter Batang (mm)

dan dilakukan 5 cm di atas permukaan tanah sebanyak 2 kali dan di rata-ratakan. Kemudian pada minggu selanjutnya yang dihitung adalah pertambahan diameter batang dengan mengurangkan diameter batang yang diukur pada saat pengamatan dengan data diameter batang pada data awal. Perhitungan parameter pertambahan diameter batang ini dilakukan 2 minggu sekali hingga 26 MSPT.

Bobot Basah Tajuk (g)

Bobot basah tajuk diukur pada saat tanaman berumur 26 MSPT, dengan cara memisahkan antara tajuk dan akar bibit, kemudian tajuk bibit dibersihkan dengan air, dikeringanginkan, dan ditimbang dengan timbangan analitik.

Bobot Basah Akar (g)

Bobot basah akar diukur pada saat tanaman berumur 26 MSPT, dengan cara membersihkan akar bibit dari tanah dengan air, kemudian dikeringanginkan dan ditimbang dengan timbangan analitik.

Bobot Kering Tajuk (g)

Tajuk tanaman yang telah diukur bobot basahnya, dikeringkan dalam oven pada suhu 700C selama 4 hari atau sampai beratnya konstan dan ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik.

Bobot Kering Akar (g)

Akar tanaman yang telah diukur bobot basahnya, dikeringkan dalam oven pada suhu 700C selama 4 hari atau sampai beratnya konstan dan ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik.

Serapan Fosfat Bibit (%)

Analisis dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, dengan cara sampel daun, batang dan akar dicuci dengan aquadest

kemudian dikeringkan pada oven dengan suhu 700C selama 2 hari. Sampel tersebut digiling sampai halus dan didinginkan pada suhu ruangan di dalam desikator selama 1 hari, diambil sampel 0,1 gram untuk direaksikan dengan H2SO4 dan H202 sambil dipanaskan di hotplate. Pemanasan dilakukan sebanyak 4 kali dengan lama masing-masing 10 menit. Sampel tersebut diencerkan dengan aquadest dan disaring dengan kertas saring untuk diambil filtratnya. Diambil filtrat 2 ml serta ditambahkan dengan pelarut fosfat yaitu H2SO4 0,36 N dan dikocok selama setengah jam sebelum diukur nilai fosfat dengan menggunakan alat spektofotometer dengan panjang gelombang 693 nm.

Kandungan Fosfat Tersedia di Tanah (ppm)

Analisis dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan. Tanah diambil secukupnya, dikeringanginkan dan di tumbuk sampai halus. Tanah yang telah halus ditimbang sebanyak 2,5 gram dan ditambahkan dengan pengekstrak Bray I dan Kurt (HCl 0,025 N + NH4F 0,03 N) sebanyak 25 ml, disaring dan diambil 2 ml ekstrak jernihnya. Ekstrak tersebut dikocok selama setengah jam sebelum diukur nilai fosfat dengan menggunakan alat spektofotometer dengan panjang gelombang 693 nm.

Dokumen terkait