• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukagalih Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor, Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga, Laboratorium Bakteriologi Tumbuhan, Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor mulai dari bulan September sampai bulan Desember 2005.

Metode Penelitian Persiapan lahan

Petak-petak berukuran 6 m x 7 m dibuat dalam enam bedengan yang digunakan untuk tanaman kubis dan tomat yang ditanam secara monokultur dan polikultur (tumpang sari) pada setiap lahan atau petak seperti : organik monokultur (OM), organik tumpang sari (OT); low input/input rendah monokultur (LM), low input/input rendah tumpang sari (LT); konvensional monokultur (KM), dan konvensional tumpang sari (KT). Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Luas lahan yang digunakan 444 m2 untuk lahan organik, 444 m2 untuk lahan input rendah dan 595 m2 untuk lahan konvensional. Pada setiap lahan diberikan dolomit (kapur) yang bertujuan untuk meningkatkan pH tanah agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Persemaian benih kubis dan tomat

Benih kubis yang digunakan yaitu varietas “Grand 11” dan benih tomat varietas “Artaloka”. Benih kubis maupun tomat disemai di dekat lahan yang akan digunakan dalam percobaan yang berukuran + 3 m x 1 m, selama + 4-6 minggu. Dua minggu setelah semai, dilakukan pembumbungan terhadap bibit-bibit tersebut yang terbuat dari daun pisang dengan satu bibit per bumbung.

15

Penanaman bibit kubis dan tomat

Penanaman dilakukan secara polikultur dan monokultur untuk setiap lahan (konvensional, input rendah, dan organik). Polikultur dilakukan dengan menanam dua baris tanaman kubis dibagian pinggir bedengan dan satu baris tanaman tomat dibagian tengah bedengan. Tomat ditanam lebih awal yaitu 2 minggu sebelum penanaman kubis.

Pada 1 minggu setelah tanam (MST) bibit tomat maupun kubis yang kurang baik di lapangan, diganti atau disulam dengan bibit yang baru agar diperoleh tanaman yang baik.

Penggunaan pupuk

Konvensional. Pada lahan konvensional pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran kuda) dengan dosis 10 ton/ha, pupuk yang diberikan hanya satu kali yaitu pada saat 1 minggu sebelum tanam. Pupuk kimia yaitu urea 400 kg/ha, dan NPK 1000 kg/ha diberikan sebanyak dua kali, pada 2 MST dan 4 MST.

Input rendah (LEISA). Pada lahan percobaan untuk perlakuan input rendah digunakan pupuk kandang (kotoran kuda) dengan dosis 30 ton/ha diberikan satu kali pada saat 1 minggu sebelum tanam, sedangkan pupuk kimia dengan dosis ½ dari perlakuan konvensional yaitu Urea 200 kg/ha, dan NPK 500 kg/ha. Pemberian pupuk dilakukan sebanyak 2 kali, pada 2 MST dan 4 MST.

Organik. Pada lahan organik pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran kuda) dengan dosis 50 ton/ha, diberikan sebanyak 1 kali pada saat 1 minggu sebelum tanam.

Aplikasi pestisida/penyemprotan

Konvensional. Pestisida yang digunakan adalah pestisida sintetik yang diaplikasikan secara berjadwal setiap satu minggu sekali dari mulai tanam sampai satu minggu sebelum panen (+ 11 kali). Pestisida diberikan sesuai hama maupun patogen penyakit (sasaran) yang menyerang kubis atau tomat. Pestisida yang digunakan adalah Curacron 500 EC dengan konsentrasi 1 ml/l; Antracol 80 WP

16

konsentrasi 1 ml/l; Decis 2,5 EC konsentrasi 0,5 cc/l dan Dithane M-45 konsentrasi 1 ml/l.

Input rendah (LEISA). Pada lahan input rendah pestisida yang digunakan adalah pestisida sintetik dengan frekuensi penyemprotan pestisida dikurangi atau seminimal mungkin yaitu 1 kali penyemprotan pada saat tanaman berumur 1 MST sebagai langkah pencegahan atau penekanan terhadap serangan hama dan penyakit. Pestisida yang digunakan adalah Curacron 500 EC dengan konsentrasi 1 ml/l dan Antracol 80 WP dengan konsentrasi 1 ml/l.

Organik. Pada lahan organik dilakukan aplikasi atau penyemprotan pestisida, berupa pestisida nabati yaitu formulasi FTI-1 yang mengandung ekstrak Aglaia odorata (pacar cina) dan Swietenia mahogani (mahoni) dengan konsentrasi 0,1% yang diberikan pada saat serangan hama sudah mencapai ambang ekonomi yaitu 5 larva/10 tanaman contoh (Plutella xylostella) atau tiga kelompok telur/10 tanaman contoh (Crocidolomia pavonana) (Sastrosiswojo et al. 2000). Teknik pengendalian lain yang digunakan adalah pengendalian secara mekanis, yang dilakukan pada saat serangan hama masih dibawah ambang ekonomi (AE).

Pengamatan hama, penyakit dan musuh alami

Pengamatan hama, penyakit dan musuh alami dilakukan setiap satu minggu sekali mulai dari 2 MST sampai panen. Pada petak contoh dilakukan pemilihan tanaman contoh secara diagonal. Jumlah tanaman contoh yang diamati adalah 10 tanaman/petak secara acak. Bagian tanaman yang diamati adalah keseluruhan bagian tanaman yang dapat diserang hama dan penyakit.

Hama. Pengamatan hama pada tanaman kubis dan tomat dilakukan dengan menghitung populasi hama tersebut pada tanaman contoh yang telah ditentukan sebelumnya dari awal penanaman hingga panen.

Penyakit. Pengamatan penyakit pada kubis dan tomat dilakukan dengan melihat gejala yang telah muncul atau terlihat secara langsung dari awal penanaman hingga panen.

Arthropoda tanah. Pengamatan arthropoda tanah dilakukan dengan menggunakan perangkap pit fall selama 5 minggu berturut-turut sejak tanaman

17

P = luas serangan penyakit/hama (%) n = jumlah tanaman yang terserang

N = jumlah seluruh tanaman contoh yang diamati berumur 3 MST. Pemasangan perangkap pit fall dilakukan 3 hari sebelum pengamatan dilakukan, dengan lokasi yang telah ditentukan secara acak sebanyak 4 perangkap setiap petak perlakuan.

Perangkap pit fall ini dilakukan dengan menggunakan gelas plastik yang berisi cairan formalin 70 % yang diencerkan dengan perbandingan 1:2 (v/v). Cairan formalin berfungsi sebagai bahan pengawet sementara, agar arthropoda yang terperangkap tidak cepat membusuk. Gelas tersebut dipendam dalam tanah sehingga arthropoda yang merayap di permukaan tanah akan terperangkap jatuh ke dalam gelas. Untuk mencegah masuknya air hujan ke dalam gelas, dipasang naungan terbuat dari seng yang disangga dengan bambu berukuran + 18 cm dan ujungnya ditempelkan dengan paku agar tidak terbawa angin. Arthropoda tanah yang diperoleh diidentifikasi di Laboratorium Biosistematika Serangga IPB.

Parasitisasi serangga (musuh alami). Pengamatan dilakukan pada tanaman kubis dengan mengambil sampel larva serangga hama yang terdapat di lapangan sebanyak + 20 larva/petak ulangan pada setiap lahan (konvensional, input rendah, organik), selama 5 minggu berturut-turut mulai tanaman berumur 3 MST. Larva yang diperoleh dimasukkan ke dalam kotak plastik dan dipelihara di Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga selama + 2-3 minggu atau sampai imago baik parasitoid maupun serangga hama tersebut muncul. Kemudian dihitung persen parasitisasinya dengan menggunakan rumus:

Σ Larva inang terparasit

% Parasitisasi = x 100 % Σ Larva inang contoh yang dikoleksi

Perhitungan intensitas dan luas serangan hama dan penyakit Luas serangan hama dan penyakit dihitung dengan rumus :

n P =

18

Intensitas serangan hama dan penyakit dihitung dengan rumus Townsend & Hauberger (1943 dalam Unterstenhofer 1976) :

Nilai kategori serangan untuk penyakit adalah sebagai berikut (Sastrosiswojo et al. 2000):

0 = tidak ada serangan sama sekali (sehat) 1 = luas kerusakan 0 < x < 10 % 2 = luas kerusakan 10 < x < 20 % 3 = luas kerusakan 20 < x < 40 % 4 = luas kerusakan 40 < x < 60 % 5 = luas kerusakan 60 < x < 100 % ∑(ni.vi) I = N.Z x 100%

I = Intensitas serangan penyakit/hama (%) ni = jumlah contoh pada kategori ke-i vi = nilai numerik masing-masing kategori Z = nilai skala tertinggi

Dokumen terkait