• Tidak ada hasil yang ditemukan

pavonana (Lepidoptera: Pyralidae) . Hasil pengamatan menunjukkan bahwa serangan pavonana hampir selalu ditemukan pada setiap petak yang

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. pavonana (Lepidoptera: Pyralidae) . Hasil pengamatan menunjukkan bahwa serangan pavonana hampir selalu ditemukan pada setiap petak yang

diamati. Populasi tertinggi terjadi pada lahan input rendah monokultur (6,42 ekor/tanaman) pada saat tanaman berumur 8 MST, karena C. pavonana ini lebih suka menyerang tanaman yang telah membentuk krop. Sementara itu pada lahan input rendah tumpang sari populasi C. pavonana yang ditemukan selalu lebih rendah dari lahan input rendah monokultur.

Gambar 2 Populasi Crocidolomia pavonana (ekor/tanaman) pada sistem pertanian organik, input rendah dan konvensional.

Pada lahan organik rata-rata populasi C. pavonana yang ditemukan pada pertanaman kubis tumpang sari berbeda nyata pada 5 MST (2,15 ekor/tanaman) dibandingkan dengan pertanaman monokultur (0,05 ekor/tanaman). Hal ini kemungkinan dikarenakan pada pertanaman tumpang sari, tanaman tomat yang ditanam sebagai tanaman repellent (penolak) terserang oleh penyakit sehingga fungsinya sangat berkurang, akibatnya tanaman kubis rentan terhadap serangan hama tersebut. Pada lahan konvensional tumpang sari rata-rata populasi C.

0 1 2 3 4 5 6 7 I 2 3 4 5 6 7 8 9

Minggu Setelah Tanam (MST)

P opula s i ( e k o r/ ta na m a n) OM OT LM LT KM KT

22

pavonana setiap minggunya mengalami kenaikan, sedangkan pada pertanaman monokultur mengalami penurunan pada saat tanaman menjelang panen.

Tingkat Parasitisasi (Musuh Alami). Salah satu pengendalian hama yang penting adalah pengendalian hayati dengan pemanfaatan musuh alami hama tersebut. Musuh alami yang dimaksud adalah parasitoid, predator dan patogen penyakit. Dalam penelitian ini, musuh alami yang ditemukan adalah parasitoid. Parasitoid yang ditemukan pada larva P. xylostella, sedangkan pada larva C. pavonana tidak ditemukan.

Parasitoid yang ditemukan adalah Diadegma sp. yang merupakan musuh alami/parasitoid larva paling penting bagi hama P. xylostella di Indonesia (Sastrosiswojo et al. 2000). Tingkat parasitisasi Diadegma sp. relatif sangat tinggi hingga mencapai lebih dari 80%. Pada lahan organik tumpang sari (OT) tingkat parasitisasi mencapai 100% pada sampel minggu ke-2 dan ke-4 (Tabel 1), hal ini menunjukkan Diadegma sp. dapat berkembang dengan baik karena tidak adanya penggunaan bahan-bahan kimia (pestisida sintetik) yang dapat membunuh parasitoid tersebut. Dengan demikian keseimbangan alam dapat terjaga dan relatif lebih aman terhadap lingkungan. Sedangkan pada sampel lahan organik monokultur (OM) tingkat parasitisasi tidak mencapai 100%, hal ini menunjukkan adanya pengaruh dari sistem penanaman.

Pada sampel lahan input rendah maupun lahan konvensional tingkat parasitisasi bervariasi. Tingkat parasitisasi pada lahan input rendah monokultur (LM) dan konvensional tumpang sari (KT) semakin meningkat setiap minggunya, sedangkan pada lahan input rendah tumpang sari (LT) dan konvensional monokultur (KM) semakin menurun.

23

Tabel 1 Tingkat parasitisasi (%) P. xylostella oleh Diadegma sp. Minggu ke- Perlakuan I II III IV V OM*) 24,4 77,8 84,6 91,7 83,3 OT*) 50 100 84,8 100 0 LM*) 33,3 59,7 68,5 61,9 100 LT*) 55,5 75,5 69,9 44,2 0 KM*) 100 58,33 75,96 56,25 52,38 KT*) 0 56,11 81,04 63,24 100 *)

OM = organik monokultur; OT = organik tumpang sari; LM = low monokultur;

LT = low tumpang sari; KM = konvensional monokultur; KT = konvensional tumpang sari

Pada lahan konvensional monokultur (KM) tingkat parasitisasi semakin menurun setiap minggunya dikarenakan adanya penggunaan bahan-bahan kimia atau penyemprotan pestisida secara berjadwal yang kemungkinan dapat membunuh parasitoid Diadegma sp.

Tabel 2 Tingkat parasitisasi P. xylostella (%) oleh Apanteles sp. Minggu ke- Perlakuan I II III IV V OM*) 39.9 0 3.7 0 0 OT*) 25 0 7.5 0 0 LM*) 44.4 0 3.7 0 0 LT*) 0 6.7 13.3 0 0 KM*) 0 0 9.8 0 0 KT*) 100 8.3 5.6 0 0

*) OM = organik monokultur; OT = organik tumpang sari; LM = low monokultur;

LT = low tumpang sari; KM = konvensional monokultur; KT = konvensional tumpang sari

Parasitoid lainnya yang ditemukan adalah Apanteles sp. dengan tingkat parasitisasi yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan Diadegma sp. (Tabel 2). Kemampuan mencari larva P. xylostella lebih rendah jika dibandingkan dengan Diadegma sp. Di Indonesia keberadaan parasitoid Apanteles sp. kalah bersaing dengan Diadegma sp. (Sastrosiswojo et al. 2000).

Meskipun demikian, Apanteles sp. merupakan musuh alami yang berperan penting dalam pengendalian hama P. xylostella. Tingkat parasitisasi tertinggi terjadi pada sampel dari lahan konvensional tumpang sari (KT). Pada pengamatan minggu ke-1 tingkat parasitisasi pada lahan konvensional tumpang sari mencapai 100%, pada lahan input rendah monokultur (LM) 44,4% dan organik monokultur

24

(OM) 39,9%. Namun dari 5 kali pengambilan sampel dilapang, tingkat parasitisasi oleh Apanteles sp. hanya terjadi sampai minggu ke-3, hal ini diduga oleh karena kemampuannya menemukan larva P. xylostella lebih rendah dibandingkan dengan Diadegma sp.

Penyakit Tanaman Kubis

Penyakit yang ditemukan pada kubis adalah penyakit busuk hitam yang disebabkan oleh X. Campestris pv. campestris, bercak daun oleh Alternaria sp. dan akar gada oleh Plasmodiophora brassicae.

Penyakit busuk hitam. Penyakit ini disebabkan oleh X. campestris pv. campestris (Pamm.) Dows. Intensitas serangan X. campestris pv. campestris sangat bervariasi dari waktu ke waktu (Gambar 3). Intensitas serangan tertinggi terjadi pada lahan input rendah monokultur (19,6 %) pada saat tanaman berumur 8 MST (2 bulan).

Gambar 3 Intensitas serangan Xanthomonas campestris pada sistem pertanian organik, input rendah dan konvensional.

Kubis yang ditanam secara tumpang sari, intensitas serangan penyakit busuk hitam lebih rendah dibandingkan dengan kubis yang ditanam secara monokultur.

0 5 10 15 20 25 I 2 3 4 5 6 7 8 9

Minggu Setelah Tanam (MST)

In te ns ita s s e ra nga n (% ) OM OT LM LT KM KT

25

Hal ini diduga karena sistem penanaman dengan tomat (tanaman bukan anggota cruciferae) memberikan jarak yang lebih besar antar tanaman sehingga tidak terjadi kontak antar daun dan iklim mikro mejadi kurang lengkap.

Gambar 4 Gejala penyakit busuk hitam di lapangan (kiri), koloni bakteri X. campestris pada media YDC (kanan).

Bercak Daun Alternaria. Serangan Alternaria sp. ditemukan pada setiap petak yang diamati dengan intensitas serangan yang bervariasi setiap minggunya. Namun pada umumnya luas dan intensitas serangan Alternaria sp. lebih rendah pada kubis yang berumur lebih tua (Gambar 5). Luas dan intensitas serangan tertinggi terjadi pada lahan input rendah monokultur (16%) pada tanaman kubis yang berumur 5 MST. Pada umur tersebut tanaman rentan terhadap serangan Alternaria sp., sehingga terjadi peningkatan infeksi yang diikuti oleh akumulasi inokulum di lapangan.

Pada tanaman kubis yang ditanam secara tumpang sari (organik, input rendah dan konvensional) dengan tanaman tomat, luas dan intensitas serangan Alternaria sp. lebih rendah dibanding pada sistem monokulutur. Dari hasil tersebut terlihat bahwa tanaman tomat mampu menekan penyebaran dari Alternaria sp. Hal ini diduga karena pada sistem polikultur dengan adanya tanaman tomat di barisan tengah bedengan maka penyebaran dan infeksi patogen menjadi terhambat atau terhalang.

26

Gambar 5 Intensitas serangan Alternaria sp. pada sistem pertanian organik, input rendah dan konvensional.

Akar gada. Penyakit akar gada ditemukan pada setiap petak dengan intensitas serangan bervariasi disetiap petaknya. Intensitas serangan tertinggi terjadi pada lahan organik (OT) yaitu sebesar 19,4% (Tabel 3). Tingginya intensitas serangan diduga karena penggunaan pupuk kandang (kotoran kuda) pada lahan organik paling banyak, dan tingkat kematangan pupuk tersebut belum cukup sehingga tingkat kemasamannya tinggi. Hal ini tampak dengan semakin tinggi dosis pupuk (pupuk kandang) yang digunakan, intensitas serangan semakin tinggi (Tabel 3). Alat-alat pertanian dan faktor lingkungan seperti angin atau air juga dapat memperluas penyebaran Plasmodiophora brassicae (Permadi & Sastrosiswojo 1993). Selama penelitian ini curah hujan cukup tinggi (Tabel Lampiran 9) 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 I 2 3 4 5 6 7 8 9

Minggu Setelah Tanam (MST)

In ten s it as se ra n g a n (% ) OM OT LM LT KM KT

27

Tabel 3 Intensitas serangan Plasmodiophora brassicae pada sistem pertanian organik, input rendah dan konvensional

Perlakuan Intensitas serangan (%)

OM*) 18,24 OT*) 19,4 LM*) 7,60 LT*) 6,25 KM*) 3,07 KT*) 3,22 *)

OM = organik monokultur; OT = organik tumpang sari; LM = low monokultur;

LT = low tumpang sari; KM = konvensional monokultur; KT = konvensional tumpang sari

Pada tabel 3 terlihat bahwa intensitas serangan pada lahan input rendah monokultur (LM) sebesar 7,6 %, sedangkan pada lahan input rendah tumpang sari (LT) sebesar 6,2 % (LT). Intensitas serangan paling rendah terjadi pada lahan konvensional monokultur (KM) dan konvensional tumpangsari (KT) yaitu berturut-turut 3,1 % dan 3,2 %. Penyemprotan fungisida yang dilakukan pada kedua lahan tersebut kemungkinan berpengaruh dalam menekan populasi patogen.

(a) (b) (c)

Gambar 6 (a) Gejala serangan Alternaria spp. pada daun kubis, (b) Konidia Alternaria spp. (c) Gejala penyakit akar gada.

Hama dan Penyakit Tanaman Tomat

Hama pada tanaman tomat yang ditemukan yaitu Bemisia sp., sedangkan penyakit yang ditemukan adalah penyakit busuk daun yang disebabkan oleh Phytophthora infestans, penyakit bercak coklat oleh Alternaria solani.

Bemisia sp. Hama yang ditemukan pada tanaman tomat yaitu Bemisia sp. yang telah diketahui sebelumnya sebagai vektor virus (gemini) pada tanaman tomat. Rata-rata populasi Bemisia sp. yang ditemukan cukup tinggi dari awal hingga akhir pengamatan (Gambar 7). Populasi hama ini mengalami peningkatan

28

yang cukup tinggi hingga akhir pengamatan (10 MST) pada setiap lahannya (organik, input rendah dan konvensional), dan pada 7 MST tomat menunjukan adanya gejala daun yang mulai mengkerut dan mengeriting yang diduga disebabkan oleh virus yang dibawa oleh Bemisia sp. tersebut. Rata-rata populasi tertinggi pada lahan input rendah (21,92 ekor/tanaman) dan pada lahan konvensional (17,27 ekor/tanaman), sedangkan pada lahan organik (5 ekor/tanaman) umumnya mengalami penurunan rata-rata populasi Bemisia sp. dan selalu lebih rendah dari dua lahan budidaya lainnya (konvensional dan input rendah). Penggunaan bahan-bahan kimia khususnya pestisida (sintetik) yang digunakan diduga menyebabkan terjadinya resurjensi dan resistensi terhadap hama tersebut

Gambar 7 Populasi Bemisia sp. (ekor/tanaman) pada sistem pertanian organik, input rendah dan konvensional.

Penyakit busuk daun. Penyakit busuk daun ini disebabkan oleh Phytophthora infestans yang dapat timbul pada semua tingkat perkembangan tanaman (daun maupun buah). P. infestans mulai menyerang pada saat tanaman berumur 1,5 bulan (6 MST) pada semua petak lahan (organik, input rendah dan konvensional) yang diamati.

0 5 10 15 20 25 3 4 5 6 7 8 9 10

Minggu Setelah Tanam (MST)

P opula s i ( e k o r/ ta na m a n) OT LT KT

29

Luas dan intensitas serangan P. infestans setiap minggunya meningkat hingga akhir pengamatan (panen). Luas dan intensitas serangan tertinggi terjadi pada lahan organik sebesar 97,9%, sedangkan pada lahan konvensional sebesar 80,1% dan lahan input rendah sebesar 72,3% (Gambar 8). Adanya aplikasi fungisida Dithane M-45 yang dilakukan pada lahan konvensional dan input rendah dapat menekan infeksi akibat P. infestans ini. Secara umum serangan P. infestans pada ketiga lahan sangat tinggi, hal ini dikarenakan oleh faktor lingkungan yaitu kelembaban yang tinggi dengan curah hujan yang cukup tinggi sehingga mendukung perkembangan patogen.

Gambar 8 Intensitas serangan Phytophthora infestans pada sistem pertanian organik, input rendah dan konvensional.

Pada lahan organik, intensitas serangannya paling tinggi dibandingkan pada lahan konvensional dan input rendah karena di sekitarnya banyak terdapat pohon-pohon besar (seperti: pohon-pohon bambu) sehingga sinar matahari yang masuk atau diterima oleh tanaman lebih sedikit daripada pada lahan input rendah maupun organik. 0 20 40 60 80 100 120 3 4 5 6 7 8 9 10

Minggu Setelah Tanam (MST)

In te ns ita s s e ra nga n (% ) OT LT KT

30

Gambar 9 Gejala serangan P. infestans

Bercak Daun. Serangan Alternaria solani ditemukan pada setiap petak lahan yang diamati. Pada lahan organik serangan A. solani pada 10 MST jauh lebih rendah ( 6,7%) dibandingkan pada lahan input rendah (38,4 %) dan lahan konvensional (45,6%) (Gambar 10).

Gambar 10 Intensitas serangan Alternaria solani pada sistem pertanian organik, input rendah dan konvensional.

Serangan A. solani mengalami peningkatan yang cukup tinggi disetiap lahan (organik, input rendah dan konvensional) pada saat tanaman berumur 3 MST sampai 7 MST yang kemudian sempat mengalami penurunan pada pengamatan

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 3 4 5 6 7 8 9 10

Minggu Setelah Tanam (MST)

In te ns ita s s e ra nga n (% ) OT LT KT

31

berikutnya. Namun di akhir pengamatan, pada lahan input rendah dan konvensional serangan A. solani mengalami peningkatan yang cukup besar sedangkan pada lahan organik terus mengalami penurunan.

Penyakit yang disebabkan oleh P. infestans dan A. solani di lapangan selalu ditemukan secara bersamaan. Umumnya serangan A. solani yang semakin tinggi akan memudahkan tanaman tersebut terinfeksi oleh P. infestans.

Tinggi tanaman dari ketiga lahan (organik, input rendah dan konvensional) mengalami peningkatan setiap minggunya. Tinggi tanaman pada lahan organik lebih rendah dibandingkan dengan tanaman pada lahan input rendah dan konvensional. Hal ini dapat disebabkan oleh tingkat serangan hama dan penyakit yang pada umumnya lebih tinggi pada lahan organik dan pupuk kompos yang lama terurai di dalam tanah sehingga tingkat kebutuhan unsur hara/nutrisinya kurang tersedia yang menyebabkan tingkat pertumbuhan tanaman terhambat. Pemupukan yang diberikan secara berimbang (Urea, TSP dan KCl) pada lahan konvensional dan input rendah dapat memacu pertumbuhan tanaman dengan baik dan optimal.

Gambar 11 Tinggi tanaman tomat pada sistem pertanian organik, input rendah dan konvensional. 0 20 40 60 80 100 120 3 4 5 6 7 8 9 10

Minggu Setelah Tanam (MST)

Tinggi t a na m a n (c m ) OT LT KT

32

Produksi Kubis dan Tomat

Tanaman Kubis (Brassica oleracea Linn.) dan tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) merupakan komoditas sayuran yang mudah rusak, sehingga perlu penanganan hasil produksi yang baik sehingga tidak menurunkan kualitas maupun kuantitas yang dapat menurunkan nilai ekonomisnya.

Pemanenan adalah kegiatan akhir dari pertanaman dan merupakan faktor penentu untuk proses selanjutnya. Untuk memperoleh krop kubis yang baik, maka kubis dipanen tepat pada waktunya. Pemanenan dan penanganan pasca panen perlu dilakukan dengan hati-hati untuk dapat mempertahankan mutu kubis. Pemanenan yang keliru dan penanganan yang kasar di kebun dapat mempengaruhi mutu pemasaran secara langsung.

Produksi atau hasil panen tanaman kubis yang diperoleh pada tanaman contoh maupun bukan tanaman contoh sangat berbeda (Tabel 4). Produksi tertinggi pada tanaman contoh diperoleh dari lahan KM sebesar 26,6 kg dengan rata-rata bobot per krop paling besar yaitu 0,9 kg. Produksi pada lahan LM sebesar 21,4 kg dengan rata-rata bobot per krop 0,7 kg dan lahan OM sebesar 5,7 kg dengan rata-rata bobot per krop 0,5 kg.

Tabel 4 Hasil panen kubis pada sistem pertanian organik, input rendah dan konvensional

Tanaman contoh Petak

Perlakuan kg Σ Krop bobot/krop (kg) kg Σ Krop bobot/krop (kg) Jumlah (kg/Σ krop) OM 5,7 11 0,5 53,8 83 0,6 59,5/94 OT 0,0 0,0 0,0 8,7 21 0,4 8,7/21 LM 21,4 29 0,7 200,7 235 0,9 222,2/264 LT 12,4 18 0,7 126,8 179 0,7 139,2/197 KM 26,6 31 0,9 245,9 283 0,9 272,5/314 KT 4,9 12 0,4 86,4 160 0,5 91,3/172

Hasil panen yang diperoleh dari tanaman yang bukan tanaman contoh pada lahan KM sebesar 245,9 kg (0,9 kg), lahan LM sebesar 200,7 (0,9 kg) dan lahan OM 53,8 kg (0,6 kg). Perbandingan poduksi antara tanaman contoh dan bukan tanaman contoh pada lahan KM : LM : OM yaitu 4,6 : 3,7 : 1. Umumnya produksi

33

dari ketiga lahan tersebut (organik, input rendah dan konvensional) lebih tinggi pada lahan dengan sistem monokultur daripada lahan tumpang sari (Tabel 4).

Pada lahan tumpang sari hasil produksi cukup bervariasi pada tanaman contoh maupun bukan tanaman contoh. Hasil produksi tertinggi diperoleh dari tanaman contoh pada lahan input rendah (LT) sebesar 12,4 kg, dan lahan konvensional (KT) sebesar 4,9 kg. Sedangkan pada lahan organik (OT) produksinya 0 kg. Hal ini mungkin disebabkan oleh serangan penyakit akar gada (Plasmodiophora brassicae) yang sangat tinggi terjadi pada lahan organik, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terhambat.

Tabel 5 Produksi tomat pada sistem pertanian organik, input rendah dan konvensional

Rata-rata produksi tomat pada panen ke- (kg)

I II III IV V Perlakuan C* P** C* P** C* P** C* P** C* P** Jumlah OT 1,2 5,3 0 0 0 0 0 0 0 0 6,5 LT 2,3 5,3 1,2 5,7 6,2 67,9 3,6 25,7 16 33,5 194,4 KT 4,6 42 3,9 25 3,7 24,3 5,8 64,1 14,7 39 227,1

C* : tanaman contoh, P** : tanaman bukan contoh.

Produksi buah tomat yang diperoleh dari lahan organik sangat rendah, karena panen dapat dilakukan hanya pada minggu pertama sebesar 1,2 kg pada tanaman contoh dan 5,3 kg pada tanaman bukan contoh. Hal tersebut dikarenakan serangan penyakit busuk daun P. infestan mencapai 100%, dan menyebabkan kematian pada tanaman sehingga tanaman tidak dapat menghasilkan sama sekali.

Produksi tomat tertinggi diperoleh dari lahan konvensional setiap minggunya dan jelas terlihat perbedaan produksi antara ketiga lahan (organik, input rendah dan konvensional) tersebut (Tabel 5). Produksi tertinggi terjadi pada lahan konvensional karena adanya penyemprotan pestisida (sintetik) secara berjadwal yang dapat menekan serangan penyakit busuk daun, sedangkan pada lahan input rendah dan organik tidak dilakukan penyemprotan sama sekali. Curah hujan pada musim tanam cukup tinggi yang mempermudah penyebaran penyakit ini, dan tanaman menjadi sangat rentan terhadap penyakit busuk daun ini.

34

Arthropoda Tanah

Arthropoda yang diperoleh pada pertanaman kubis dapat dilihat pada Tabel 6. Dari 5 kali pengambilan sampel diperoleh 19 ordo, 45 famili dengan populasi 138902 ekor serangga. Setiap jenis arthropoda yang ditemukan memiliki peranan yang berbeda dalam suatu ekosistem seperti peranannya sebagai saprofag, fitopag, musuh alami atau arthropoda yang tidak teridentifikasi dan arthropoda yang belum diketahui peranannya.

Komposisi arthropoda yang berperan sebagai saprofag yang mendominasi pada pertanaman kubis berasal dari ordo Colembola, Blattaria, Isopoda, Isoptera, sebagian Coleoptera dan Diptera. Perangkap pit fall digunakan untuk memerangkap arthropoda yang merayap di atas permukaan tanah. Terperangkapnya arthropoda yang terbang seperti ordo lepidoptera diduga terjadi secara tidak sengaja.

Mayoritas serangga dari ordo Colembola merupakan penghuni tanah yang berukuran sangat kecil dengan bentuk yang beragam. Peranannya sebagai saprofag atau makan bahan tumbuhan yang membusuk, jamur, bakteri, tinja arthropoda dan bahan lainnya. Populasi colembola sangat besar, bisa mencapai 100.000 tiap m3 tanah permukaan (Borror et al. 1992).

Secara umum pada lahan konvensional arthropoda yang ditemukan jumlahnya lebih banyak dari lahan input rendah maupun organik (Tabel 7). Persentase jumlah serangga dari ordo Colembola yang mendominasi pun paling tinggi pada lahan konvensional tumpang sari (23,62%). Namun tidak berbeda jauh dengan lahan input rendah khususnya tumpang sari (23,47%). Sedangkan pada lahan organik tumpang sari, persentase jumlahnya lebih kecil atau paling sedikit (14%). Hal ini dikarenakan oleh faktor lingkungan sekitar. Lahan konvensional berdekatan dengan lahan tanaman wortel, buncis, rumput-rumput atau ilalang yang sangat lebat dan pohon-pohon lain (bambu, pepaya dll). Sedangkan, lahan input rendah berada ditengah-tengah lahan lainnya dan lahan organik berbatasan dengan pohon bambu.

Pada dasarnya terlihat jelas dari semua ordo arthropoda yang ditemukan memiliki peranan tersendiri sebagai suatu kesatuan dalam agroekosistem di daerah

35

tersebut. Pada umumnya arthropoda yang ditemukan di lahan pertanaman tumpang sari lebih banyak dan beragam dibandingkan di lahan pertanaman monokultur dari ketiga sistem pertanian tersebut (organik, input rendah dan konvensional). Hal ini menunjukan dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman (polikultur) dapat meningkatkan keberadaan dan keragaman arthropoda di lingkungan pertanaman tersebut yang dapat membantu menjaga kesuburan tanah.

Tabel 6 Keragaman arthropoda tanah pada pertanaman kubis dengan sistem penanaman tumpang sari dan monokultur

Total No. Ordo

Σ famili Σ Populasi

Keterangan

1 Colembola 6 131977 -

2 Hymenoptera 4 4874 1 famili tidak teridentifikasi

3 Coleoptera 13 577 1 famili tidak teridentifikasi

4 Orthoptera 4 520 -

5 Hemiptera 5 97 1 famili tidak teridentifikasi

6 Diptera 3 43 1 famili tidak teridentifikasi

7 Arachnida - 565 famili tidak teridentifikasi

8 Acarina - 191 famili tidak teridentifikasi

9 Lepidoptera - 22 famili tidak teridentifikasi

10 Isopoda 1 12 - 11 Blattaria 1 1 - 12 Isoptera 2 2 - 13 Dermaptera 1 2 - 14 Chilopoda 0 3 - 15 Geophilomorpha 0 1 - 16 Lithobiomorpha 1 1 - 17 Scolopendromorpha 1 1 - 18 Psocoptera 1 2 - 19 Homoptera 1 11 - jumlah 44 138902

Serangga lain yang banyak ditemukan yaitu dari ordo Hymenoptera sebesar 3,5 persen (4874 serangga). Sebagian besar serangga ordo Hymenoptera yang teridentifikasi adalah famili Formicidae. Formicidae yang lebih dikenal dengan semut dan merupakan satu kelompok yang umum, menyebar luas dan banyak dikenal orang karena semut hidup pada habitat yang tidak tergenang air (darat) (Borror, et al. 1992). Semut banyak ditemukan pada pertanaman kubis, karena lahan kubis tidak tergenangi air.

36

Tabel 7 Keragaman Arthropoda tanah dari pertanaman kubis dan tomat pada tiga sistem budidaya ( konvensional, input rendah dan organik) KM KT LM LT OM OT No. Ordo Σ famili Σ populasi Σ famili Σ populasi Σ famili Σ populasi Σ famili Σ populasi Σ famili Σ populasi Σ famili Σ populasi 1 Colembola 4 20.279 4 31.179 4 14.517 5 30.973 5 15.726 4 19.303 2 Hymenoptera 2 860 3 1.054 3 958 2 652 4 566 3 784 3 Coleoptera 7 111 9 115 7 60 11 76 9 101 10 113 4 Orthoptera 4 86 3 90 4 78 4 71 4 85 4 112 5 Hemiptera 5 10 4 35 5 12 3 18 2 15 3 7 6 Diptera 3 15 2 11 1 2 2 10 1 1 1 4 7 Arachnida - 55 - 48 - 83 - 45 - 45 - 219 8 Acarina - 25 - 64 - 39 - 28 - 20 - 15 9 Lepidoptera - 0 - 3 - 3 - 5 - 8 - 3 10 Isopoda 0 1 0 0 0 1 0 2 0 3 0 5 11 Blattaria 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 12 Isoptera 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 13 Dermaptera 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 14 Chilopoda 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 15 Geophilomorpha 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 16 Lithobiomorpha 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 17 Scolopendromorpha 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 18 Psocoptera 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 19 Homoptera 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 jumlah 25 21.442 26 32.601 25 15.756 28 31.883 27 16.572 27 20.563

Keterangan : - » famili tidak teridentifikasi 0 » famili teridentifikasi

KESIMPULAN

Hama utama yang ditemukan pada kubis adalah Plutella xylostella dengan rata-rata tingkat populasi tertinggi terjadi pada lahan organik monokultur dan Crocidolomia pavonana dengan rata-rata tingkat populasi tertinggi terjadi pada lahan input rendah monokultur. Penyakit utama pada kubis adalah penyakit busuk hitam (Xanthomonas campestris pv. campestris) dengan intensitas serangan tertinggi pada lahan input rendah monokultur, bercak daun alternaria (Alternaria spp) pada lahan input rendah monokultur, dan akar gada (Plasmodiophora brassicae) pada lahan organik tumpang sari.

Hama yang ditemukan pada tomat adalah Bemisia spp dengan rata-rata populasi tertinggi terjadi pada lahan input rendah dan diduga peranannya sebagai vektor virus. Penyakit yang ditemukan adalah penyakit busuk daun (Phytophthora infestans) dengan intensitas tertinggi pada lahan organik, bercak daun (Alternaria solani) pada lahan konvensional.

Produksi tertinggi tanaman kubis maupun tomat dihasilkan pada lahan konvensional (tanaman contoh maupun petak) dikarenakan oleh tingkat serangan hama dan penyakit (patogen) yang relatif lebih rendah daripada lahan input rendah dan organik. Namun pada tingkat parasitisasi Plutella xylostella oleh Diadegma sp. dan Apanteles sp. lebih tinggi pada lahan organik maupun lahan input rendah dibandingkan pada lahan konvensional.

Arthropoda yang mendominasi ekosistem berasal dari ordo Colembola (95%) yang berperan sebagai saprofag. Kemudian ordo Hymenoptera (3,5%) yang sebagian besar adalah anggota famili Formicidae.

Dokumen terkait