BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Bahan Pengawet
2.2.2 Bahan Pengawet yang di Izinkan
Pengawet (Perservatif) adalah bahan tambahan pangan untuk menegah atau menghambat fermentasi, pengasaman, penguraian, dan perusakan lainnya terhadap pangan yang disebabkan oleh mikroorganisme (BPOM, 2013).
Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI Nomer 36 Tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengawet, terdapat beberapa Pengawet yang diizinkan dengan batas maksimum penggunaannya sebagai berikut:
16
Penggunaan bahan pengawet yang diizinkan memang tidak bermasalah asalkan sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan. Namun fenomena yang terjadi saat ini adalah maraknya penggunaan bahan pengawet yang tidak diizinkan atau dilarang. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 33 tahun 2012, bahan tambahan pangan yang tidak diizinkan diantaranya yaitu, asam borat (boric acid) , dulsin (dulcin), formalin (formaldehyde), kokain (cocaine), dan nitrobenzen (nitrobenzene). Dari bahan pengawet yang dilarang tersebut, sebagai bahan pengawet yang paling sering digunakan adalah formalin.
Ada juga alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan pengawet kimia diantaranya yaitu, chitosan, biji hapesong, kunyit, bawang putih, dan limbah hayati seperti kulit kacang tanah. Namun semua bahan alternatif ini butuh pengolahan, disinilah peran pemerintah untuk memberdayakan masyarakat dengan mensosialisasikan cara pengolahannya (Cahyadi, 2009).
2.2.3 Metode Pengawetan
Cara pengawetan makanan dibagi menjadi 3, yaitu pengawetan fisik, pengawetan mikrobiologi, dan pengawetan kimia. Beberapa contoh pengawetan fisik yaitu pendinginan, pengeringan, penggaraman, pengasapan, dan iradiasi.
Kemudian yang termasuk pengawetan mikrobiologi adalah dengan cara fermentasi. Sedangkan yang termasuk pengawetan kimia adalah dengan penambahan zat atau bahan pengawet (Effendi, 2012).
Berikut penjelasan tentang contoh pengawetan fisik (Widyani dan Tety, 2008):
a. Pengawetan dengan Suhu Tinggi
Pengawetan dengan suhu tinggi terdiri dari pengeringan dan pengasapan. Pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan sampai batas dimana perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti sehingga bahan tersebut mempunyai waktu simpan yang lebih lama. Sedangkan pengasapan dimaksudkan untuk meningkatkan flavor dan penampakan permukaan produk yang menarik. Daging atau ikan yang diasap ditujukan untuk mengawetkan dan menambah cita rasa. Disamping itu pengasapan juga dapat menghambat oksidasi lemak dalam bahan pangan tersebut.
b. Pegawetan dengan Suhu Rendah
Penyimpanan bahan pangan pada suhu dingin sangat diperlukan walaupun dalam waktu yang singkat karena bertujuan untuk:
- mengurangi kontaminasi
- mengendalikan kerusakan oleh mikroba
- mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme, kerusakan bahan pangan selama penyimpanan dapat diperkecil dalam bentuk belum dipotong-potong
c. Pengawetan dengan Iradiasi
Iradiasi merupakan penggunaan energi buatan untuk mempengaruhi atau mengubah sebagian keseimbangan materi dengan tujuan tertentu.
Tujuan iradiasi adalah untuk pengawetan, membantu proses
18
pengolahan dan penelitian tentang mekanisme perubahan atau struktur senyawa bahan pangan.
d. Pengawetan dengan Bahan Kimia 2.2.4 Tujuan Penggunaan Bahan Pengawet
Bahan pengawet merupakan salah satu bahan tambahan pangan yang paling tua penggunaanya. Secara ideal, bahan pengawet akan menghambat atau membunuh mikroba yang penting kemudian memecah senyawa berbahaya menjadi tidak berbahaya dan tidak toksik. Bahan pengawet akan mempengaruhi dan menyeleksi jenis mikroba yang dapat hidup pada kondisi tersebut.
Secara umum, penambahan bahan pengawet pada pangan bertujuan sebagai berikut.
1. Menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk pada pangan baik yang bersifat patogen maupun yang tidak patogen
2. Memperpanjang umur simpan pangan
3. Tidak menurunkan kualitas gizi, warna, cita rasa, dan bau bahan pangan yang diawetkan
4. Tidak untuk menyembunyikan keadaan pangan yang berkualitas rendah 5. Tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang salah
atau tidak memenuhi persyaratan
6. Tidak digunakan untuk menyembunyikan kerusakan bahan pangan.
Keamanan senyawa-senyawa kimia dalam bahan pangan sangat perlu diperhatikan, baik senyawa kimia yang ditambahkan dari luar bahan pangan
maupun senyawa kimia yang terdapat secara alami dalam bahan pangan itu sendiri (Cahyadi, 2009).
Terdapat beberapa persyaratan untuk bahan pengawet kimiawi lainnya, selain persyaratan yang dituntun untuk semua bahan pangan, antara lain sebagai berikut.
1. Memberi arti ekonomis dari pengawetan (secara ekonomis menguntungkan)
2. Digunakan hanya apabila cara-cara pengawetan yang lain tidak mencukupi atau tidak tersedia.
3. Memperpanjang umur simpan dalam pangan.
4. Tidak menurunkan kualitas (warna, cita rasa, dan bau) bahan pangan yang diawetkan.
5. Menunjukkan sifat anti mikroba pada jenjang pH bahan pangan yang diawetkan.
6. Aman dalam jumlah yang diperlukan dan tidak menghambat enzim-enzim pencernaan.
7. Mudah dilarutkan dan mudah ditentukan dengan analisis kimia.
8. Tidak mengalami dekomposisi atau tidak bereaksi untuk membentuk suatu senyawa kompleks yang bersifat lebih toksik.
9. Mudah dikontrol dan didistribusikan secara merata dalam bahan pangan.
10. Mempunyai spektra antimikroba yang luas, meliputi macam-macam pembusukan oleh mikrobia yang berhubungan dengan bahan pangan yang
diawetkan (Cahyadi, 2009).
20
Penggunaan bahan pengawet untuk mengawetkan bahan pangan diharapkan tidak akan menambah atau sangat sedikit menambah biaya produksi, dan tidak akan mempengaruhi harga bahan pangan yang diawetkan, tetapi pengusaha mendapatkan keuntungan yang cukup besar dari lamanya umur simpan sehingga bahan pangan yang diawetkan dapat terjual cukup banyak dibandingkan tanpa pengawetan (Cahyadi, 2009).
2.3 Formalin
Formalin adalah larutan folmadehida dalam air dengan kadar folmadehida (CH2O) tidak kurang dari 34,0 % dan tidak lebih dari 38,0% (Dep.Kes. RI, 1979).
Formalin digunakan untuk desinfektan, cairan pembalsam, deodoran, dan fiksadi jaringan tubuh. Dari fungsinya formalin mungkin disalahgunakan oleh sebagian produsen sebagai bahan tambahan dalam proses pembuatan mie basah, karena berfungsi sebagai pengawet, sehingga mie tahan beberapa hari setelah diproduksi.
Namun dilain pihak pemakaian formalin sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat menyebabkan iritasi dan inflamasi membran mukosa, mata, saluran pernafasan dan dapat juga menyebabkan kanker (William Horwitz, 1990).
Formalin merupakan zat pengawet terlarang yang paling banyak disalahgunakan untuk produk pangan. Zat ini termasuk bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua at didalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan keracunan tubuh (Wahyu, 2000).
Senyawa ini termasuk golongan aldehid yang paling sederhana karena hanya mempunyai satu atom karbon (CH2O). Formaldehid adalah larutan yang
menghasilkan gas dengan titik didih 21ºC sehingga tidak dapat disimpan dalam keadaan cair ataupun gas. Formaldehid murni tidaklah tersedia secara komersial, tetapi dijual dalam 30-50% (b/b) larutan mengandung air. Formalin (37% CH2O) adalah larutan yang paling umum (Cahyadi, 2006).
Gambar 2.1. Struktur Kimia Formalin Rumus Molekul : CH2O
Pemberian : Cairan jernih, tidak berwarna atau hampir tidak berwarna. Bau menusuk, uap merangsang selaput lendir hidung dan tenggorokan (Depkes RI, 1979).
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, sebaiknya pada suhu diatas 20ºc. Dan apabila disimpan ditempat dingin menjadi keruh ( Depkes RI, 1979).
Kelarutan : Dapat dicampur dengan air dan etanol 95%.
Larutan formaldehid adalah disinfektan yang efektif melawan bakteri vegetatif, jamur atau virus tetapi kurang efektif melawan spora bakteri.
Formaldehid bereaksi dengan protein dan hal tersebut mengurangi aktivitas mikroorganisme. Efek sporosidnya meningkat, yang meningkat tajam dengan adanya kenaikan suhu. Larutan 0,5 % formaldehid dalam waktu 6 – 12 jam dapat membunuh bakteri dan dalam waktu 2 – 4 hari dapat membunuh spora, sedangkan larutan 8% dapat membunuh spora dalam waktu 18 jam. Formaldehid memiliki
22
daya antimicrobial yang luas yaitu terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas aerogenosa, Pseudomonas florescens, Candida albicans, Aspergillus niger, atau Penicillium notatum. Mekanisme formaldehid sebagai pengawet diduga bergabung dengan asam amino bebas dari protoplasma sel atau mengkoagulasikan protein (Cahyadi, 2009).
Formalin mempunyai banyak nama kimia yang biasa kita dengar di masyarakat, diantaranya formol, methylene aldehyde, paraforin, morbicid, oxomethane, polyoxymethylene glycols, methanal, formoform, superlysoform, formic aldehyde, formalith, tetraoxymethylene, methyl oxide, karsan, trioxane, oxymethylene dan methylene glycol (Yuliarti, 2007).
2.3.1 Fungsi Formalin
Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila digunakan secara benar, formalin akan banyak kita rasakan manfaatnya, misalnya sebagai antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai keperluan jenis industri, yakni pembersih lantai, kapal, gudang dn pakaian, pembasmi lalat maupun berbagai serangga lainnya.
Dalam dunia fotografi biasanya digunakan sebagai pengeras lapisan gelatin dan kertas. Formalin juga sering digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk urea, bahan pembuatan produk parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formalin boleh juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu, formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). Dalam konsentrasi yang sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk
berbagai barang konsumen sepertinpembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet.
Beberapa ciri-ciri mie yang diberi formalin dapat dilihat dari fisik mie tersebut. Mie yang berformalin teksturnya lebih mengkilat (seperti berminak), tidak mudah putus, tidak lengket, baunya sedikit menyengat dan dapat bertahan sampai 2 hari pada suhu kamar, 15 hari dalam lemari es (BPOM, 2006).
2.3.2 Stabilitas dan Reaktivitas Formalin
Larutan formalin stabil pada suhu dan tekanan normal dan dapat mengalami swa-polimerisasi membentuk endapan putih. Formalin tidak boleh dicampurkan (incompatible) dengan asam, basa, bahan pengoksidasi, pereduksi, logam, gaam logam, halogen, bahan yang mudah terbakar dan peroksida.
Formalin dengan peroksida, nitrogen dioksida, dan asam performat bereaksi menyebabkan ledakan, selain itu formalin juga dapat menyebabkan korosi pada baja (Lembar Data Keselamatan Kerja, 2010)
.
Gambar 2.2. Piktogram Bahaya Formalin Keterangan : GHS02 : Mudah terbakar
GHS05 : Bersifat korosif GHS06 : Toksisitas akut
GHS08 : Bahaya bagi Kesehatan (Occupational Safety and Health Administration, 2013)
24
2.4 Formalin di Indonesia.
2.4.1 Distribusi Formalin
Pengadaan, peredaran dan penggunaan bahan berbahaya semakin meningkat mulai dari jenis maupun jumlahnya serta mudah diperoleh dipasaran.
Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya penyalahgunaan yang dapat menimbulakn gangguan kesehatan, keamanan dan keselamatan manusia, hewan tumbuh-tumbuhan dan lingkungan hidup. Sebagai upaya untuk meningkatkan pencegahan penyalahgunaan bahan berbahaya diperlukan kebijakan yang berkaitan dengan aspek pengadaan, pengedaran penjualan, dan pengawasan yang berasal dari dalam negeri maupun impor.
Distribusi Formalin telah diatur oleh Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.04/M-DAG/PER/2/2006, namun masih ada terdapat distribusi ilegal akibat lemahnya pengawasan pemerintah terhadap pengawasan penggunaan formalin karena diperkirakan sekitar 3-4 persen dari produksi bahan berbahaya (formalin) masuk ke pasar konsumen, terutama industri makanan skala kecil.
Masuknya formalin ke pasar konsumen dapat dipicu oleh beberapa faktor seperti pemanfaatan kelebihan produksi, ketidakpastian biaya usaha penyimpanan di sektor usaha kecil (UKM) dan lemahnya pengawasan (Mendag, 2013).
Berdasarkan informasi dari Kementerian Perdagangan RI, formalin yang beredar di Indonesia pada umumnya adalah produksi dalam negeri yang dijual dengan berbagai merek seperti formol, morbicid, methanal, formic, aldehyde, dan lain-lain. Kapasitas produksi formalin di Indonesia mencapai 800.000 ton/tahun tetapi utilisasinya baru mencapai 40 persen atau sekitar 350.000 ton/tahun.
Perusahaan yang memproduksi formalin di Indonesia, diantaranya PT Armolaid, PT Arjuna Kimia, PT Lakobin, dan lain-lain. Sebagian besar produsen formalin tersebut berlokasi di wilayah Kalimantan (Media Industri, 2006).
2.4.2 Peran Pemerintah dalam Masalah Penyalahgunaan Formalin a. Pengendalian
Peran pemerintah dalam menanggulangi masalah penyalahgunaan formalin sangatlah penting. Dari mulai upaya sosialisasi, pembinaan sampai pemberian hukuman untuk produsen yang melanggar aturan. Pengendalian yang dapat dilakukan oleh pemerintah salah satunya adalah dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat terutama produsen bahan makanan mengenai bahaya formalin, selain itu adanya pembinaan terhadap pelaku usaha yang berkaitan dengan peredaran bahan berbahaya secara terkoordinir dan berkesinambungan, diikuti dengan upaya menediakan bahan alternatif yang bisa menggantikan fungsi formalin dengan harga yang relatif murah (Mendag, 2013).
b. Pengawasan
Pengawasan keamanan pangan di Indonesia terutama dilaksanakan oleh Badan POM. Pengawasan juga dilaksanakan dengan adanya kerjasama antar instansi pemerintah yaitu Dinas Kesehatan dan instansi lain baik pemerintah, swasta, LSM, dan juga perguruan tinggi (PTN/PTS). Tahapan penting dalam investigasi kurang lebih mencakup hal sebagai berikut (Cahyadi, 2009) :
1. Mengidentifikasi terjadinya penggunaan BTK (Bahan Tambahan Kimia) dilarang
26
2. Menetapkan formulasi hipotesis awal 3. Merencanakan investigasi
4. Melaksanakan investigasi dan mengkonfirmasi hipotesis 5. Menganalisis dan menginterpretasi data
6. Menentukan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian penyalahgunaan Bahan Tambahan Kimia
7. Mengidentifikasi dan melaksanakan pencegahan penggunaan Bahan Tambahan Kimia
8. Membuat laporan
9. Melakukan tindakan hukum bagi mereka yang melanggar
Tujuan dari dilakukan pengawasan adalah agar terjaminnya pangan,, terlindungnya konsumen dari pangan yang tidak layak/tidak aman, dan meningkatkan daya saing produk lokal melalui peningkatan keamanan, mutu, dan gizinya. Selain itu bagaimana cara melindungi industri kecil menengah dari penyalahgunaan bahan berbahaya, bukan hanya formalin saja tapi juga terhadap zat berbahaya lainnya (Media Industri, 2013).
c. Pengawasan Distribusi Diperketat
Sebagai salah satu tindak lanjut pemerintah dalam mengatasi masalah penggunaan formalin, Menteri Perdagangan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.04/M-DAG/PER/2/2006 tentang Distribusi dan Pengawasan Bahan Berbahaya. Tujuan diterbitkannya Permendag tersebut agar distribusi bahan-bahan berbahaya ini dapat diatur secara ketat mulai dari prosedur hingga pengguna akhir. Pengguna akhir juga dilarang mendistribusikan atau
memindahtangankan bahan berbahaya ini kepada siapapun dan pendistribusian bahan berbahaya wajib memenuhi prosedur dan ketentuan serta dilengkapi dengan Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB/Safety Data Sheet) yang mengacu pada format Globally Harmonized System of Classification and Labelling of Chemicals (GHS) (Media Industri, 2013).
2.5 Dampak Formalin Terhadap Kesehatan
Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada suhu tubuh.
Kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan), serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran darah. Formalin bila menguap diudara, berupa gas tidak bewarna. Dengan yang tajam menyesakkan sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata (Cahyadi, 2009).
Menurut Saparinto dan Diana (2006) efek penggunaan formalin bagi tubuh terbagi menjadi dua, efek akut dan efek kronis. Efek akut penggunaan formalin adalah:
a. Tenggorokan dan perut terasa terbakar, tenggorokan terasa sakit untuk menelan
b. Mual, muntah dan diare
28
c. Mungkin terjadi pendarahan dan sakit perut yang hebat d. Sakit kepala dan hipotensi (tekanan darah rendah) e. Kejang, tidak sadar hingga koma
f. Kerusakan hati, jantung, otak, limpa, penkreas, serta system susunan saraf pusat dan ginjal.
Sementara itu efek kronis akibat penggunaan formalin adalah a. Iritasi pada saluran pernapasan
b. Muntah-muntah dan kepala pusing c. Rasa terbakar pada tenggororkan
d. Penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada
e. Bila dikonsumsi menahun dapat mengakibatkan kanker.
Formalin dapat masuk ketubuh manusia melalui jalur pernafasan, kontak kulit, ingesti dan mata. Dampak yang ditimbulkan oleh formalin pun berbeda berdasarkan jalur masuknya. Selain jalur masuknya, dampak yang akan ditimbulkan oleh formalin pun berbeda berdasarkan dosis pemaparan dan waktu masuknya. Berikut ini Tabel 2.1 Efek pemaparan formaldehid terhadap kesehatan berdasarkan dosis pemaparannya.
Tabel 2.1 Efek Paparan Formaldehid terhadap Kesehatan Berdasarkan Dosis Pemaparannya
Menurut Yuliarti (2007) formalin tidak hanya berbahaya jika dikonsumsi, melainkan juga dengan melakukan kontak terhadapnya. Umumnya formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yakni melalui mulut dan saluran pernapasan. Gangguan kesehatan yang terjadi akibat kontak dengan formalin sangat tergantung cara masuk zat ini ke dalam tubuh. Kita bisa saja menghirup uap formalin dari lingkungan sekitar. Misalnya polusi yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang mau tidak mau kita hirup, kemudian masuk ke dalam tubuh. Kemudian asap rokok ataupun air hujan yang jatuh ke bumi pun sebetulnya juga mengandung formalin.
Kontak dengan formalin bisa mengakibatkan luka bakar jika mengenai kulit, iritasi pada saluran pernapasan bila menghirup uapnya dalam konsentrasi yang tinggi, maupun reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia. Jika kandungan formalin dalam tubuh tinggi maka akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang berujung pada kerusakan organ tubuh (Yuliarti, 2007).
Menurut Widyaningsih dan Erni (2006) jika formalin terhirup (inhalasi) lewat pernapasan akan segera diabsorpsi ke paru dan menyebabkan paparan akut berupa pusing kepala, rhinitis, rasa terbakar, dan lakrimasi (keluar air mata dan pada dosis lebih tinggi bisa buta), bronchitis, edema pulmonari atau pneumonia karena dapat mengecilkan bronchus dan menyebabkan akumulasi cairan di paru.
Pada orang yang sensitif dapat menyebabkan alergi, asma, dan dermatitis. Jika lewat penelanan (ingestion) sebanyak 30 ml (2 sendok makan) dari larutan formalin dapat menyebabkan kematian, hal ini disebabkan sifat korosif formalin
30
terhadap mukosa saluran cerna lambung, disertai mual, muntah, nyeri, perdarahan, dan perforasi. Jika terpapar secara terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan pada hati, ginjal, dan jantung.
Lembaga perlindungan lingkungan Amerika Serikat (EPA) dan lembaga internasional untuk penelitian kanker (IARC) menggolongkan formalin sebagai senyawa yang besifat karsinogen, yaitu senyawa yang dapat memicu pertumbuhan sel-sel kanker. Formalin akan mengacaukan susunan protein atau RNA sebagai pembentuk DNA di dalam tubuh manusia. Jika susuana DNA kacau, maka akan memicu terjadinya sel-sel kanker dalam tubuh manusia. Tentu prosesnya memakan waktu lama, tetapi cepat atau lambat jika setiap hari tubuh kita mengkonsumsi makanan yang mengandung formalin, maka kemungkinan besar terjadinya kanker sangat besar (Widyaningsih dan Murtini, 2006)
Meskipun dampaknya sangat berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh, sangatlah tidak bijaksana jika melarang penggunaan formalin. Banyak industri memerlukan formalin sehingga harus bijaksana dalam menggunakannya. Paling utama adalah dengan tidak menggunakannya pada makanan karena masih ada pengawet makanan yang aman. Oleh karena itu, yang terbaik adalah menjalankan fungsi pengawasan dengan ketat yang dalam hal ini melibatkan Depkes atau Badan POM beserta instansi terkait. Tidak boleh dilupakan adalah partisipasi masyarakat. Jelasnya, diharapkan pedagang makanan tidak semena-mena menambahkan formalin untuk makanan hanya demi keuntungannya sendiri, demikian pula konsumen selayaknya mengenal lebih dekat tentang formalin ini
sehingga tidak mudah tertipu oleh pedagang “nakal” yang mencampurkan formalin sebagai pengawet makanan (Yuliarti, 2007).
2.6 Makanan
Makanan merupakan sumber energi satu-satunya bagi manusia. Karena jumlah penduduk yang terus berkembang, maka jumlah produksi makanan pun harus terus bertambah melebihi jumlah penduduk ini, apabila kecukupan pangan harus tercapai. Seperti telah dikemukakan terdahulu, permasalahan yang timbul dapat diakibatkan kualitas dan kuantitas bahan pangan. Hal ini tidak boleh terjadi atau tidak dikehendaki karena orang makan itu sebetulnya bermaksud untuk mendapatkan energi agar tetap bertahan hidup dan tidak untuk menjadi sakit karenanya. Dengan demikian sanitasi makanan menjadi sangat penting (Soemirat, 2012).
Makanan adalah segala sesuatu yang berasal dari hayati dan air baik yang diolah, yang diperuntukan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan makanan, bahan baku makanan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapannya, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman (Depkes RI, 2004).
Makanan yang aman adalah makanan yang bebas dari cemaran fisik, kimiawi maupun mikrobiologi yang berbahaya bagi kesehatan, serta tidak bertentangan dengan keyakinan masyarakat. Makanan dianggap rusak apabila seluruh atau sebagian dari makanan itu terdiri dari kotoran atau bahan-bahan yang telah membusuk, atau jika ada sesuatu yang tidak menyehatkan untuk makanan
(Adriani & Wirjatmadi, 2012).
32
Disalah
2.6.1 Penggolongan Makanan Berdasarkan Kerentanannya terhadap Proses Pembusukan.
Sebagian besar makanan mempunyai kemampuan untuk mengalami kerusakan dtau membusuk. Penggolongan makanan berdasarkan kerentanannya terhadap proses embusukan dapat dibagi menjadi 3 golongan:
1. Nonperishable food (stable food)
Nonperishable food adalah makanan yang sifatnya stabil, dan tidak mudah rusak kecuali jika mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Contoh makanan semacam ini diantaranya gula, makaroni, mie, dan tepung.
2. Semiperishable food
Semiperishable food adalah makanan yang sifatnya semi stabil dan agak mudah rusak. Contoh makanan semacam ini diantaranya kentang dan roti
2.6.2 Fungsi Makanan Bagi Kehidupan Manusia 1. Makanan sebagai sumber energi
2. Makanan sebagai zat pembangun karena makanan berguna untuk membangun jaringan tubuh yang baru, memelihara dan memperbaiki
jaringan tubuh yang sudah tua
3. Makanan sebagai zat pengatur karena makanan turut serta mengatur proses alami, kimia dan proses faal dalam tubuh (Chandra, 2006).
2.6.3 Syarat Makanan Aman
Menurut ISO 22000 Food Safety Management System membagi tiga tipe bahaya pada makanan yang dikonsumsi, yaitu: bahaya fisik, bahaya biologi, dan bahaya kimia.
1. Bahaya Fisik
Bahaya ini terjadi karen adanya benda-benda fisik, seperti rambut, kuku, besi yang terbawa bersama makanan. Pada saat dikonsumsi, benda-benda tersebut ikut tertelan dan menyebabkan luka saluran pencernaan kita.
2. Bahaya Biologi
Bahaya biologi mengacu pada keracunan makanan sebagai akibat aktivitas mikroba yang mencemari produk pangan. Makanan merupakan produk yang gampang sekali terkontaminasi oleh mikroba, terutama makanan yang berasal dari telur, daging, susu, dan produk-produk turuannya.
3. Bahaya Kimia
Disebabkan oleh adanya bahan-bahan kimia berbahaya dalam produk pangan. Bahan-bahan kimia berbahaya tersebut antara lain:
Cairan pembersih, pestisida, cat.
Komponen kimia dari peralatan atau kemasan yang lepas dan masuk kepangan
34
Penggunaan bahan berbahaya yang disalahgunakan untuk pangan, yaitu pewarna tekstil (rhodamin B, metanil yellow) dan pengawet (formalin dan boraks) (Adriani & Wirjatmadi, 2012).
2.6.4 Cara Bahan Kimia bisa ada didalam Makanan
Efek dari bahaya kimia ke tubuh kita dapat terjadi secara akut dan kronis.
Secara akut terjadi apabila bahan kimia yang ada dalam makanan langsung memberikan efek kepada kesehatan, seperti pusing, muntah-muntah, atau bahakan
Secara akut terjadi apabila bahan kimia yang ada dalam makanan langsung memberikan efek kepada kesehatan, seperti pusing, muntah-muntah, atau bahakan