c Tim Edukatif 2007 Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XII Jakarta: Erlangga Hlm 171
E. Bahan/Sumber dan Alat/Media Pembelajaran 1 Bahan/Sumber
a.
Marsudim,
Demas, 2009, Bahasa dan Sastra Indonesia 3 untuk SMA/MA Kelas XII Program
Studi IPA-IPS, Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.hlm. 134 - 136
b.
Rohmadi, Muhammad dan Yuli Kusumawati. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/MA Kelas XII (Program IPA/IPS). Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas. Hlm. 132 - 137c.
TimEdukatif. 2007. Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XII. Jakarta:
Erlangga. Hlm. 171 - 175
2. Alat/Bahan
a. Laptop dan LCD Proyektor b. Slide Presentasi PowerPoint c. LKS/Teks drama
F. Penilaian
13.Teknik dan Bentuk: - Tes Lisan
- Tes Tertulis
- Observasi Kinerja/Demontrasi - Pengukuran Sikap
14.Instrumen/Soal dan Rubrik Penilaian: e. Kognitif
Soal:
Tanda Bahaya
Oleh Bakdi Soemanto
Para Pelaku: Yanti Asdiarti Kusni Surti Setting:
Ketika sandiwara ini dimulai, di panggung tampak sebuah pelukisan suatu kelas. Adatiga atau empat meja dan kursi, sebuah meja untuk guru, dan sebuah papan tulis. Letak masing-masing perlengkapan panggung itu ditata rapi sehingga seperti benar-benar kelas. Tampak Yanti seorang pelajar tengah duduk di salah satu meja itu. Ia menekuni sebuah buku pelajaran. Asdianti, sahabatnya masuk. Waktu itu sudah hampir jam satu. Sekolah sudah selesai. Bahwa Yanti belum pulang, itulah yang menyebabkan Asdiarti terkejut.
Asdiarti : ”Kau masih ada di sini Yanti, belum pulang?” Yanti : (Tidak menjawab. Ia hanya menggeleng
dan terus melanjutkan membaca) Asdiarti : (Mendekati) ”Ada sesuatu?” Yanti : (Menggeleng) Asdiarti :
”Aku tidak mengerti sebenarnya persoalanmu, Yanti. Lebih baik kau menyatakan lekuk-liku persoalanmu.
Yanti : ”Aku mengerti, aku memang harus mengatakannya. Tetapi dari mana dan bagaimana aku
harus mulai?”
Asdiarti : ”Kenapa?” Yanti : ”Sangat ruwet.”
Asdiarti : ”Kau dipaksa kawin oleh orang tuamu?” Yanti : ”Antara lain itu, dan banyak lagi.” Asdiarti : ”Apa?”
Yanti : ”Ah, sudahlah. Sebaiknya kau tak usah memaksaku mengatakannya. Sulit. Terlalu sulit!” Asdiarti : ”Yah, aku tahu, kau tidak kerasan di rumah.”
Yanti : (Memandang)
Asdiarti : ”Itu persoalan yang banyak kita rasakan bersama.” Yanti : ”Kau juga mengalami masalah seperti itu?”
Asdiarti : ”Memang. Cuma persoalanku tidak seberat persoalanmu. Aku selalu menghibur diri dengan cara pergi dengan teman-teman pria kalau hari Minggu ke Kaliurang atau ke mana saja.” Yanti : ”Dulu aku mencoba demikian, tapi kalau aku pergi, sesudah sampai di rumah, aku
mengalami peristiwa yang sama. Bahkan merasa lebih berat maka saya menghentikan cara-
cara pelarian seperti itu.”
Asdiarti : ”Tapi kita harus menghibur diri Yanti.”
Yanti : ”Lebih dari itu, aku ingin menyelesaikan persoalan. Cara seperti itu tidak menyelesaikan persoalan itu bahkan menyiksa. Makin menyiksa.”
Asdiarti : ”Lalu, mesti gimana?” Yanti : ”Aku tak mengerti.” Asdiarti : ”Tidak mengerti.”
Yanti : ”Itulah yang menyedihkan. Kita mengalami sesuatu, tetapi kita tak mengerti bagaimana
memahami pengalaman itu sendiri.”
Asdiarti : (Tersenyum)
Yanti : ”Kau tersenyum? Mengejekku?”
Asdiarti : ”Kau tidak tahu Yanti, bahwa aku sebenarnya gelisah bukan? Aku jugagelisah, nah …” Yanti : ”Benar. Kupikir kita ini mau apa? Setelah selesai sekolah, lalu kita melanjutkan sekolah lagi.
Barangkali hanya satu dua tahun. Paling banter tiga tahun, sudah itu kita dipinang orang.
Kita jadi ibu … Apa artinya pelajaran yang kitaterima semua ini sekarang?”
Astarti : ”Nah ..” (Tersenyum).
Yanti : ”Kita mempersiapkan diri untuk menjadi sesuatu yang tidak ada artinya.” Asdiarti : ”Maksudmu?”
Yanti : ”Menjadi istri. Menjadi ibu. Apa artinya? Apa pula hubungannya dengan sekolah yang kita
tempuh selama ini?”
Asdiarti : ”Maka kita gelisah, karena sebenarnya kita tidak pernah mengerti nasib kita yang akan
datang.”
Yanti : ”Dan persoalan yang kita hadapi itu, tidak bisa dipecahkan dengan ilmu pengetahuan yang
kita terima di sekolah sekarang ini.”
Asdiarti : ”Kau mau?” (Mengeluarkan sebatang rokok) Yanti : ”Apa ini?”
Asdiarti : ”Bawalah kalau kau mau. Kau akan mendapat ketenangan.” Yanti : (Menerima lalu diletakkan di atas meja )
Asdiarti : ”Ambillah. Simpanlah di tasmu jangan sampai kelihatan guru kita.” Yanti : (Memandang penuh ketidakmengertian)
Asdiarti : ”Kalau kau tak mau, biarlah kusimpan sendiri ini cukup mahal .. (Mengambil rokok itu lalu menyimpannya sendiri kembali) Kau bisa datang ke rumahku kalau mau, nanti Antok, Yusman, Joko pada datang menjemput aku pergi ke …”
Yanti : (Berdiri) ”Pergi ke mana?”
Asdiarti : ”Pergi ke suatu tempat. Pokoknya … sip deh.”
Yanti : ”Aku mendengar dari Ketiek kesenanganmu pergi ke tempat-tempat itu. Itu …” Asdiarti : ”Berdosa?”
Yanti : ”Bukan.” Asdiarti : ”Maksiat?” Yanti : ”Bukan.”
Asdiarti : ”Itulah dunia masa kini.” Yanti : ”Barangkali benar.”
Asdiarti : ”Nah, akhirnya kau menerima juga.”
Yanti : ”Tapi mengapa harus begitu? Itu berbahaya bagi kesehatan. Kita masih sangat muda, Asdi. Bayangkan kalau masa remaja kita, kita habiskan dengan cara-cara itu, hari tua kita dapat apa? Lagi pula, tujuanmu mencari kebebasan tetapi menempuh jalan itu, apakah sebenarnya kau tidak membuat dirimu diperbudak kembali oleh kebiasaanmu itu?”
Asdiarti : ”Aku tidak mengerti omonganmu, Yanti, kalau kau tidak mau tak usah bertele-tele
menasihatiku.”
Yanti : (Diam)
Asdiarti : ”Baiklah kau pulang tidak? Itu Kusni, Surti menunggu di luar kalau kau tidak pulang, aku
pulang duluan … dan kalau kau mau, kutunggu kau nanti soredi rumahku.”
Yanti : (Tidak menjawab cuma memandang) Asdiarti : (Mengemasi tasnya, siap mau pergi)
Yanti : ”Kenapa kau takut ketahuan guru kita?”
Asdiarti : ”Karena mereka nanti akan marah. Merampas dan menyetrap.” Yanti : ”Kau tahu penyebabnya?”
Asdiarti : ”Nggak. Mereka orang tua yang kolot. Seperti orang tua kita saja.” Yanti : ”Itu berbahaya. Obat bius dilarang diedarkan secara bebas.”
Asdiarti : ”Tapi mereka toh tak sanggup menyelesaikan kegelisahanku. Sedikitsedikit bilang dosa,
maksiat, porno, huh!” (Kusni dan Surti masuk)
Kusni : ”Astaga, ngapain, nih kalian di sini? Kutunggu di luar sampai lama banget.” Asdiarti : ”Mau nolong Yanti. Akibatnya malah dapat kuliah.”
Sarto : ”Pantesan. Habis cita-cita Yanti mau jadi dosen.”
Yanti : ”Aku memperingatkan Asdiarti. Bahaya main-main rokok begituan …”
Surti : ”Sudahlah. Yanti, mari kita pulang saja. Ini sudah jam (Menengok arloji tangannya) … setengah dua. Sebentar lagi kelas ini dipakai anak-anak sore.”
Yanti : ”Pulanglah dulu kalau kalian mau pulang. Aku butuh belajar … “ Surti : ”Aaaah, kau nunggu Pak Lucas?”
(Surti, Asdiarti, Kusni tertawa bersama) Yanti : ”Pergi!”
Kusni : ”Yanti, aku mencintaimu. Boleh?” Yanti : (Mengangguk)
Kusni : ”Kenapa kita harus bertengkar. Kita sahabat bukan?” Yanti : (Merebahkan kepala di meja)
Kusni : ”Sebenarnya kau tak usah melanjutkan hubungan dengan Pak Lucas. Apa sih untungnya. Paling hanya memperoleh nasihat saja. Nasihat tidak akan menyelesaikan persoalanmu. Keuntungannya hanya mual-mual, …”
Yanti : ”Barangkali benar.Tapi aku membutuhkan nasihat-nasihat itu. Aku memerlukan guru yang tidak cuma pandai mengajar, tetapi juga memerhatikan diriku. Aku membutuhkan
bimbingan.”
Kusni : ”Tetapi sebagai akibatnya, istrinya menjadi cemburu kepadamu. Bukankah itu merusak rumah tangganya?”
Yanti : ”Aku tahu itulah yang kusedihkan. Tapi aku memang membutuhkan dia ….” Kusni : ”Memang aku sebenarnya juga.”
Yanti : ”Dulu kuharapkan Bu Sri mau mengerti persoalanku. Tapi ia malah marah
melulu.”
Asdiarti : ”Nah, sekolah ini memang konyol …”
Yanti : ”Sekolah ini tidak salah. Kita yang salah. Kita terlalu menuntut banyak …”
Kusni : ”Kita memang membutuhkan sesuatu di sekolah kalau sesuatu yang kita butuhkan tidak kita
temukan di rumah.”
Asdiarti : ”Sesuatu itu apa?” Kusni : ”Aku tak mengerti.”
Asdiarti : ”Barangkali … (Tersenyum) semacam kehangatan.” Yanti : ”Ya. Tepat!”
Kusni : ”Sukar sekali.” Yanti : ”Sedih bukan?”
Asdiarti : ”Ya, kehangatan … bukan mimpi-mimpi, bukan pelarian.” (Mengambil rokok lalu membuang)
Kusni : ”Agar kita kerasan di sekolah. Tapi apa itu mungkin…?” Yanti : ”Sedih sekali.”
Asdiarti : (Berjalan mau mengambil rokok yang dibuang) Yanti : ”Biar guru kita mengerti, inilah dunia kita sebenarnya.” Asdiarti : ”Tapi aku akan dimarahi lagi.”
Yanti : ”Akulah yang akan bilang, bahwa aku yang membawa rokok itu.” Asdiarti : ”Yanti!”
Yanti : ”Aku mau tahu, setelah marah-marah guru-guru kita lalu berbuat apa
kepada kita.”
Kusni : ”Aku akan ikut dimarahi,Yanti. Ayo ambil Asdi!” Yanti : ”Jangan!”
Sarto : ”Kau jangan aneh-aneh Yanti. Kalau kita dikeluarkan bagaimana … ?”
Yanti : ”Percayalah guru-guru kita perlu mengerti apa yang kita pikirkan, kitabutuhkan setiap hari
… agar mereka tidak sekadar menempa kita dengan rumus-rumus yang harus dihafal melulu
…”
(Yanti pergi, yang lain menatap terus mengikuti perginya. Tinggal Asdi. Lalu Asdiarti mengambil rokok itu mengikuti mereka. Sebelum off stage, Asdiarti membalik lagi melemparkan rokok itu ke kelas lagi dan lari sambil berteriak)
Asdiarti : ”Yanti, Yanti tunggu …”
Dari Majalah Semangat, dengan sedikit perubahan
Rubrik Penilaian Penyimpulan Isi Drama
No. Aspek yang Dinilai
Amat Baik Baik Biasa Saja Jelek Amat Jelek (1) (2) (3) (4) (5) 1 Ketepatan isi 2 Keruntutan urutan 3 Kejelasan kesimpulan
4 Disertai penjelasan dan alasan yang logis 5 Kelancaran penyampaian 6 Kemudahan dipahami 7 Diksi 8 Struktur kalimat Jumlah Skor f. Psikomotorik
Presentasikanlah simpulan drama yang telah Anda buat! Gunakanlah bahasa yang bahasa yang baik dan benar!
Rubrik Penilaian Penyampaian Presentasi Simpulan Drama
No. Aspek yang Dinilai Skor
1
Penguasaan materi yang dipresentasikan
a. Sangat baik Skor 5
b. Baik Skor 4
c. Cukup Skor 3
d. Jelek Skor 2
e. Sangat jelek Skor 1
2
Keseuaian isi simpulan dengan isi drama
a. Sangat sesuai Skor 5
b. Sesuai Skor 4
c. Cukup sesuai Skor 3
d. Tidak sesuai Skor 2
e. Sangat tidak sesuai Skor 1
3
Keruntutan dan sistematika penyampaian simpulan
a. Sangat runtut dan sangat sistematis Skor 5
b. Runtut dan sistematis Skor 4
c. Cukup runtut dan cukup sistematis Skor 3 d. Tidak runtut dan tidak sistematis Skor 2 e. Sangat tidak runtut & sangat tidak sistematis Skor 1
4
Kemudahan bahasa penyampaian untuk dipahami
a. Sangat mudah dipahami Skor 5
b. Mudah dipahami Skor 4
c. Cukup mudah dipahami Skor 3
d. Sulit dipahami Skor 2
e. Sangat sulit dipahami Skor 1
5
Ketepatan intonasi dan kejelasan artikulasi
a. Sangat tepat dan sangat jelas Skor 5
b. Tepat dan jelas Skor 4
c. Cukup tepat dan jelas Skor 3
d. Tidak tepat dan tidak jelas Skor 2 e. Sangat tidak tepat dan tidak jelas Skor 1
6 Kemampuan menggunakan media pendukung penyampaian
a. Sangat baik Skor 5
b. Baik Skor 4
c. Cuku baik Skor 3
d. Jelek Skor 2
e. Sangat jelek Skor 1
Jumlah Skor Maksimal = 30
Rumus N = Skor Perolehan
c. Afektif
Format Penilaian (Rubrik / Pedoman Penskroran)
No Aspek yang Dinilai Nomor Urut Absensi Peserta Didik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Dst.
1 Kehadiran mengikuti pelajaran 2 Antusias mengikuti pelajaran 3 Santun menggunakan bahasa 4 Kerjasama
5 Tanggung jawab
Menghargai pendapat orang lain Kriteria Peniaian :
*) Pedoman penskoran:
- Amat Baik : 5 - Kurang Baik : 2 - Baik : 4 - Tidak Baik : 1
- Cukup Baik : 3
**) Rumus N = Skor Perolehan
30 x 100
***) Konversi nilai
Rentang Bobot Nilai Afektif < 60 61 – 75 76 – 100 R S C
Mengetahui, Cikoang, Desember 2011 Kepala Sekolah, `Guru Mata Pelajaran,
Ilham, S.Pd., M.Pd. Drs. Muhammad Abbas
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Nomor 11
Nama Sekolah : SMAN 1 Mangarabombang Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Program : XII IPA, IPS
Semester : 2
Aspek Pembelajaran : Berbicara
Standar Kompetensi : 14. Mengungkapan tanggapan terhadap pembacaan puisi lama
Kompetensi Dasar : 14.1 Membahas ciri-ciri dan nilai-nilai yang terkandung dalam gurindam Indikator : Membacakan gurindam
Mengidentifikasi ciri-ciri gurindam
Menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam gurindam
Menemukan pesan-pesan yang terdapat dalam gurindam Alokasi Waktu 2 x 45 menit
QQ. Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan pembelajaran berlangsung, peserta didik diharapkan mampu: a. Membacakan gurindam
b. Mengidentifikasi ciri-ciri gurindam
c. Membedakan gurindan dengan jenis puisi yang lain d. Menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam gurindam e. Menemukan pesan-pesan yang terdapat dalam gurindam RR. Materi Pokok Pembelajaran
1. Teknik pembacaan gurindam 2. Ciri-ciri gurindam
3. Nilai-nilai yang ada dalam (budaya, agama, estetika, moral) 4. Pesan-pesan yang disampaikan melalui gurindam
PP. Model, Pendekatan, dan Metode Pembelajaran a. Model : Pembelajaran langsung dengan tipe STAD b. Pendekatan : Komunikatif
c. Metode : Ceramah variatif, Diskusi kelompok, Penemuan terbimbing, QQ. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran Waktu
A. Kegiatan Awal
Guru menyampaiak ucapan salan dan doa bersama. (Nilai yang ditanamkan adalah nilai religius)
Guru mengecek kehadiran peserta didik dan dan mempersiapkan media pembelajaran.
Guru menyampaikan SK, KD, dan tujuan pembelajaran.
Guru melakukan tanya jawab dengan peserta didik mengenai puisi lama.
10 menit
B. Kegiatan Inti 1. Eksplorasi
Peserta didik membentuk kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4 – 5 orang. (Nilai yang ditanamkan adalah nilai bersahabat/komunikatif).
Guru membagikan teks puisi dengan berbagai jenis.
Peserta didik secara bergantian membacakan teks gurindam. 2. Elaborasi
Atas bimbingan guru, peserta didik mendiskusikan ciri-ciri, nilai-nilai, dan pesan-pesan yang tersirat dalam gurindam.
Kegiatan Pembelajaran Waktu
Peserta didik yang ditunjuk oleh guru mewakili kelompoknya untuk mempresentasikan hasil diskusinya. . (Nilai yang ditanamkan adalah nilai bersahabat/komunikatif dan mandiri).
Peserta didik lain memerhatikan dan memberikan tanggapan atas presentasi yang disampaikan. . (Nilai yang ditanamkan adalah nilai
bersahabat/komunikatif dan menghargai prestasi orang lain).
Setelah semua perwakilan kelompok selesai mempresentasikan hasil diskusinya, guru memberikan penjelasan mengenai karya sastra gurindam.
Peserta didik memerhatikan penjelasn guru. 3. Konfirmasi
Peserta didik mengerjakan
soal-soal kuis
untuk mereview pemahaman peserta didik terhadap kompetensi yang disajika. Guru memberikan penguatan terhadap kinerja peserta didik dan kelompoknya. C. Kegiatan Akhir
Peserta didik merefleksikan nilai-nilai dalam gurindam
Peserta didik merefleksikan pesan-pesan dalam gurindam
Guru bersama peserta didik membuat rangkumat pembelajaran. . (Nilai yang ditanamkan adalah nilai mandiri).
Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan menyampaikan ucapan salam dan doa bersama. . (Nilai yang ditanamkan adalah nilai religius).
10 menit
RR. Bahan/Sumber dan Alat/Media Pembelajaran a. Bahan/Sumber
d. Demas Marsudi, 2009, Bahasa dan Sastra Indonesia 3 untuk SMA/MA Kelas XII Program Studi IPA-IPS, Jakarta: Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional, hlm. -
e. Tim Edukatif, 2007, Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XII, Jakarta: Erlangga, hlm. .
b. Alat/Media
a. Laptop dan LCD Proyektor b. Slide presentasi powerpoint c. Teks gurindam
SS. Penilaian
15.Teknik dan Bentuk: - Tes Tertulis - Tes Lisan
- Observasi Kinerja/Presentasi - Pengukuran Sikap
16.Instrumen/Soal dan Rubrik Penilaian: a. Kognitif
- Soal:
Perhatikan penggalan teks gurindam berikut ini! Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru Barang siapa mengenal Allah Suruh dan tegaknya tiada ia menyala Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah Ada pun orang tua yang hemat
Syaitan tak suja membuat sahabat Barang siapa tiada memegang agama Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama
a. Tuliskanlah lima ciri gurindam berdasarkan petikan teks di atas!
b. Nilai-nilai apa sajakah yang tampak di dalam penggalan gurindam di atas! c. Tuliskanlah pesan-pesan yang tersirat di dalam penggalan teks gurindam!
d. Jelaskanlah secara singkat perbedaan antara gurindam sebagai puisi lama dengan jenis puisi baru, seperti puisi karya Chairil Anwar!
- Kunci Jawaban Nomor
Soal Kunci Jawaban Skor
1 Ciri-ciri gurindam, yaitu:
a. terdiri atas dua larik setiap bait
b. menggunakan rima akhir a – a (rima sama) c. isinya mengandung sebab akibat
d. baris pertama merupakan syarat/sebabnya, dan baris kedua berisi akibat
e. isinya mengandung ajaran, budi pekerti, atau nasihat keagamaan
0 – 5
2