• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Makanan Cepat Saji

3. Bahan Tambahan Makanan

Kehadiran makanan baik itu makanan kemasan maupun makanan olahan

lainnya tidak luput oleh peranan bahan tambahan makanan (BTM) atau yang

Pangan (BTP) menurut PP. No. 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan

Gizi Pangan ialah bahan yang sengaja ditambahkan ke dalam pangan untuk

mempengaruhi sifat atau bentuk pangan. Sementara menurut Undang-undang

RI nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan, bahan tambahan pangan adalah bahan

atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan

baku pangan, tetapi ditambahkan kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat

atau bentuk pangan, antara lain pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti

gumpal, pemucat dan pengental. Bahan Tambahan Pangan ini berupa bahan

atau campuran bahan yang secara alami dan bukan merupakan bagian dari

bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan dengan tujuan

diantaranya adalah untuk mengawetkan pangan, membentuk pangan menjadi

lebih baik, renyah dan lebih enak, memberikan warna dan aroma lebih

menarik, meningkatkan warna dan aroma lebih menarik, menghemat biaya.

Peran bahan tambahan makanan sangatlah besar dalam menghasilkan

produk-produk kemasan. Keberadaan bahan tambahan makanan tersebut

bertujuan untuk membuat makanan tampak lebih berkualitas, lebih menarik,

dengan rasa dan tekstur yang lebih sempurna. Pada intinya penggunaan bahan

tambahan makanan ini telah terbukti tidak membahayakan kesehatan. Namun

demikian, penggunaanya dalam dosis yang tidak terlalu tinggi atau melebihi

ambang yang diizinkan akan menimbulkan masalah kesehatan Sinaga (2008).

Bahan tambahan pangan yang terdapat pada makanan kemasan seperti;

Maraknya penggunaan BTP pada makanan ringan terkait dengan

beragam tujuan. Para produsen biasanya menggunakan BTP untuk mencegah

produk dari bau apek (tengik), misalnya pada makanan ringan yang

mengandung banyak minyak, maka ditambahkan BTP antioksidan.Selain itu

pada makanan ringan biasanya ditambahkan BTP penguat rasa MSG agar

makanan berasa gurih, serta ditambahkan juga BTP perisa untuk

menghasilkan berbagai macam flavor seperti rasa pizza, rasa sate ayam dan

barbeque.

Peraturan mengenai penggunaan BTP di Indonesia dituangkan di dalam

Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 722 tahun 1988 tentang Bahan

Tambahan Makanan. Pengelompokan BTP yang diizinkan digunakan pada

makanan menurut Permenkes 722/88 tersebut adalah antioksidan, antikempal,

pengatur keasaman, pemanis buatan, pemutih dan pematang tepung,

pengemulsi, pemantap, pengental, pengawet, pengeras, pewarna (pewarna

alam &pewarna sintetik), penyedap rasa dan aroma, penguat rasa, sekuestran.

Berikut adalah jenis dan jumlah penggunaan bahan tambahan yang

diperbolehkan:

Tabel 2.2 Jenis Bahan Pengawet yang Diperbolehkan

Jenis pengawet Jumlah maksimum penggunaan

210 Asam benzoate 1g/kg

211 Natrium benzoate 1g/kg

220 Belerang dioksida 500mg/kg

280 Asam propionate 2g/kg (roti)/3g/kg (keju olahan) (Sumber : Badan pengawas obat dan Makanan, 2004)

Tabel 2.3 Jenis Bahan Pewarna yang Diperbolehkan

Jenis Pewarna Jumlah maksimum penggunaan

124 Ponceau 4R 70mg/L (minuman) / 300mg/kg

(makanan)

129 Merah allura 70mg/L (minuman) /300mg/kg

(makanan)

127 Erythrosine 300mg/kg

(Sumber : Badan pengawas obat dan Makanan, 2004)

Gambar 2.1 Ukuran Yang Tepat Dalam Memakai Pengawet Dan Pewarna Yang Aman

(Sumber : Badan pengawas obat dan Makanan, 2004)

Semua senyawa kimia apabila dikonsumsi secara terus menerus dalam

waktu lama mau tidak mau akan menimbulkan efek tidak baik terhadap

kesehatan, oleh karena itu maka dibatasi kadar penggunaannya di dalam produk.

Untuk BTP yang sudah dikaji keamanannya terutama oleh institusi terpercaya

seperti komite JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives)

maka dapat dipertanggungjawabkan keamanannya karena senyawa ini sudah

melalui pengkajian ilmiah yang cukup mendalam dan sudah melalui serangkaian

studi baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk mengetahui efek

toksikologinya terutama pada manusia.

Senyawa yang sudah jelas menimbulkan dampak negatif terhadap

pangan seperti yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 722

tahun 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan, yaitu sebagai berikut:

Asam borat (boric acid) dan senyawanya

Asam salisilat dan garamnya (salicylic acid and its salt)

Dietilpirokarbonat (diethylpyrocarbonate, DEPC)

Dulsin (dulcin)

Kalium klorat ( potassium chlorate)

Kloramfenikol (chloramphenicol)

Minyak nabati yang dibrominasi (brominated vegetable oils)

Nitrofurazon (nitrofurazone)

Formalin (formaldehyde)

Badan POM secara rutin mengawasi pangan yang beredar di Indonesia

untuk memastikan pangan yang memenuhi syarat. Dari hasil analisis sampel

yang dikirimkan oleh beberapa laboratorium Balai POM antara Februari

2001 hingga Mei 2003, dapat disimpulkan bahwa masih ada pangan olahan

yang menggunakan bahan kimia berbahaya (BPOM, 2004) seperti :

Rhodamin B

Rhodamin B adalah pewarna merah terang komersial, ditemukan bersifat

racun dan dapat menyebabkan kanker. Bahan ini sekarang banyak

disalahgunakan pada pangan dan kosmetik di beberapa negara. Kelebihan

dosis bahan ini dapat menyebabkan keracunan, berbahaya jika tertelan,

paru-paru, mata, tenggorokan, hidung dan usus. Rhodamin B tersedia di

pasar untuk industri tekstil. Bahan tersebut biasanya dibeli dalam partai

besar, dikemas ulang dalam plastik kecil dan tidak berlabel sehingga dapat

terbeli oleh industri kecil untuk digunakan dalam pangan.

Boraks

Boraks disalahgunakan untuk pangan dengan tujuan memperbaiki warna,

tekstur dan flavor. Boraks bersifat sangat beracun, sehingga peraturan pangan

tidak membolehkan boraks untuk digunakan dalam pangan. Boraks

(Na2B4O7.10H2O) dan asam borat (H3BO3) digunakan untuk deterjen,

mengurangi kesadahan, dan antiseptik lemah. Ketika asam borat masuk ke

dalam tubuh, dapat menyebabkan mual, muntah, diare, sakit perut, penyakit

kulit, kerusakan ginjal, kegagalan sistem sirkulasi akut, dan bahkan kematian.

Jika tertelan 5-10g boraks oleh anak-anak bisa menyebabkan shock dan

kematian.

Formalin

Formalin adalah larutan formaldehida dalam air dan dilarang digunakan

dalam industri pangan sebagai pengawet. Formaldehida digunakan dalam

industri plastik, anti busa, bahan konstruksi, kertas, karpet, tekstil, cat dan

mebel. Formaldehida juga digunakan untuk mengawetkan mayat dan

mengontrol parasit pada ikan. Formalin diketahui dapat menyebabkan kanker

perut. Sedikitnya 30 mL (sekitar 2 sendok makan) formalin dapat

menyebabkan kematian.

Dokumen terkait