BAB 4. METODE PENELITIAN
4.5. CARA KERJA DAN ALUR PENELITIAN
4.5.2. Alur Penelitian
Seluruh sampel yang terkumpul dipisahkan sesuai variabel yang akan dianalisis. Variabel-variabel diolah dengan chi-square test untuk mendapatkan hubungan variabel-variabel bebas dengan komplikasi kranioplasti.
Pengumpulan karakteristik pasien
Variabel - variabel bebas ) ( waktu kranioplasti
Komplikasi Kranioplasti
4.6. IDENTIFIKASI VARIABEL
Variabel bebas Skala
4.7. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA
Data yang didapat akan diolah dengan menggunakan menggunakan perangkat lunak pengolah data SPSS 22. Variabel kategorik dianalisis dalam bentuk frekuensi dan persentase yang disajikan baik dalam bentuk tabel maupun grafik.
Analisis deskriptif variabel numerik dilakukan pemusatan (mean, median) dan penyebaran (standar deviasi, minimum-maksimum).
Untuk menguji adanya hubungan antara waktu kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti digunakan chi square test hingga sampai didapatkan nilai p.
37 BAB 5
HASIL PENELITIAN
5.1. HUBUNGAN WAKTU KRANIOPLASTI DENGAN KOMPLIKASI KRANIOPLASTI
Waktu kranioplasti diartikan lama pasien menunggu dilakukan kranioplasti, idealnya pasien menunggu kurang dari 12 minggu. Namun kenyataan di lapangan dengan berbagai macam faktor terdapat 36 pasien menunggu lebih dari 12 minggu dan sisanya 66 pasien kurang dari 12 minggu sudah dilakukan kranioplasti. Dari 36 pasien yang menunggu lebih dari 12 minggu terdapat 5 pasien mengalami komplikasi, seperti infeksi, kejang dan hidrocephalus. Sedangkan hanya 1 pasien yang mengalami komplikasi dari pasien yang menunggu kurang dari 12 minggu.
Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Waktu Kranioplasti
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Waktu Kranioplasti dengan Komplikasi Kranioplasti
Waktu Kranioplasti N %
≤ 12 minggu 66 64 , 7
12 minggu
> 36 35 3 ,
Total 102 100.0
terdapat terdapat hubungan yang signifikan antara waktu kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti.
5.2. HUBUNGAN JENIS KELAMIN, USIA, TRAUMA KEPALA, JENIS KRANIOPLASTI, TEMPAT PENYIMPANAN TULANG, LAMA OPERASI, DAN BAGIAN KRANIOPLASTI DENGAN KOMPLIKASI KRANIOPLASTI
Sampel pada penelitian ini diambil dari bulan Januari 2014 hingga Desember 2017. Didapatkan sampel sebanyak 102 sampel yang berasal dari penderita trauma kepala yang telah menjalani operasi kraniektomi dekompresi di
39
RSUP. H. Adam Malik Medan. Setelah dilakukan kraniektomi dekompresi, pasien dilakukan kranioplasti. Data diambil dari rekam medik pasien sesuai dengan nomor rekam medik pasien trauma kepala yang menjalani kranioplasti.
Setelah dilakukan pendataan dan analisis distribusi frekuensi, didapatkan sampel berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan sampel lakilaki, dimana sampel perempuan 30 orang (29,5%) dan laki-laki 72 orang (70,5%).
Analisis deskriptif terhadap umur didapati bahwa mean adalah 30,3 ± 14,2 tahun dengan nilai minimal 8 tahun dan maksimal 73 tahun. Nilai median adalah 38,5 tahun. Nilai p pada hubungan usia dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,548 berarti tidak ada hubungan signifikan jenis kelamin dengan komplikasi
kranioplasti.
Terhadap sampel dilakukan klasifikasi umur berdasarkan dekade kehidupan pasien yang menjalani kranioplasti, didapat data frekuensi kejadian terbanyak pada kelompok umur 11 – 20 tahun sebanyak 30 penderita (29,4%). Nilai p pada hubungan usia dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,673 berarti tidak ada hubungan signifikan umur dengan komplikasi kranioplasti.
Trauma kepala yang terjadi adalah subdural hematom akut, lebih banyak dibandingkan dengan traumatik intraserebral hematoma, dimana sampel traumatik intraserebral hematom 13 orang (12,7%) dan subdural hematom akut 89 orang (87,3%). Nilai p pada hubungan jenis kelamin dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,829 berarti tidak ada hubungan signifikan trauma kepala dengan komplikasi kranioplasti.
Kranioplasti yang sering digunakan di RSUP H. Adam Malik, yaitu titanium mesh dan kranioplasti autologue, dari hasil pendataan dari Januari 2014 sampai Desember 2017 terdapat 8 (7,8%) pasien menggunakan titanium mesh dan 94 (92,2%) pasien menggunakan tulang sendiri atau autologue. Nilai p pada hubungan jenis kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,407 berarti tidak ada hubungan signifikan jenis kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti.
Tempat penyimpanan tulang yang sering dilakukan di RSUP H Adam Malik adalah di abdomen. Dari hasil pendataan pasien yang menjalani kranioplasti dari Januari 2014 – Desember 2017 didapatkan hanya satu pasien yang tulangnya disimpan di subgaleal dan sisanya di abdomen. Nilai p pada hubungan tempat penyimpanan tulang dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,812 berarti tidak ada hubungan signifikan tempat penyimpanan tulang dengan komplikasi kranioplasti.
Hampir semua pasien dilakukan kranioplasti unilateral atau satu sisi. Dari hasil pendataan hanya terdapat 2 pasien dilakukan kranioplasti bilateral. Nilai p pada hubungan jenis kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,602 berarti tidak ada hubungan signifikan bagian yang dikranioplasti dengan komplikasi kranioplasti.
Lama operasi kranioplasti di RSUP H Adam Malik hampir semuanya 2 jam, hanya ada 13 kranioplasti yang 1,5 jam dan hanya 1 kranioplasti dilakukan dalam 1 jam. Nilai p pada hubungan jenis kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti adalah 0,721 berarti tidak ada hubungan signifikan lama operasi dengan komplikasi kranioplasti.
41
Tabel 5.2. Karakteristik Sampel
Variabel Jumlah (n=102) Komplikasi (n=6) Tanpa komplikasi (n=96)
Subdural hematom akut Traumatik perdarahan intraserebral
Bagian Kranioplasti
43 BAB 6 PEMBAHASAN
Kranioplasti adalah tindakan menutup defek pada kranial untuk melindungi otak dan memperbaiki bentuk kepala yang buruk secara kosmetik. Setiap pasien yang menjalani kraniektomi dekompresi akan menjalani kranioplasti di kemudian hari. Sampai saat ini masih menjadi pertanyaan waktu yang tepat untuk dilakukan kranioplasti, untuk menghindari komplikasi dari kranioplasti.
Pada penelitian ini terjadi komplikasi terhadap 6 pasien yang dijabarkan pada tabel berikut.
Tabel 6.1. Karakteristik Pasien yang Mengalami Komplikasi
Usia
Autologue 3 bulan Abdom en
2 jam Unilateral Infeksi
27 Laki-laki SDH akut
Autologue 15 bulan Abdom en
2 jam Unilateral Infeksi
14 Laki-laki SDH akut
Autologue 12 bulan Abdom en
2 jam Unilateral Kejang
30 Laki-laki SDH akut
Autologue 4 bulan Abdom en
2 jam Unilateral Infeksi
22 Laki-laki SDH akut
Autologue 5 bulan Abdom en
2 jam Unilateral Hidroceph alus
Pada penelitian ini diperoleh dari 102 sampel pasien yang menjalani kranioplati di RSUP H Adam Malik Medan. Dari 102 sampel tersebut, 30 sampel (29,5%) perempuan dan 72 sampel (70,5%) laki-laki. Jika dilakukan perbandingan pada kedua jenis kelamin ini didapatkan perbandingan sebesar; wanita:pria sama dengan 1:2,4. Dari hasil tersebut 6 pasien yang mengalami kompliksai
kranioplasti adalah laki-laki.
Pada tahun 2014 Piedra melakukan penelitian mengenai waktu kranioplasti setelah kraniektomi dekompresi pada pasien trauma, dari 157 sampel terdapat 114 laki-laki (72,6 %) dan 43 perempuan (27,4%), hasil penelitian tersebut tidak terdapat hubungan jenis kelamin dengan komplikasi kranioplasti infeksi dan resorpsi tulang dengan nilai p = 0,681 dan p = 0,200 (Piedra et al. 2014). Hasil ini sama dengan penelitian ini tidak ada hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan komplikasi kranioplasti. Pada penelitian ini 6 laki-laki yang mengalami komplikasi, berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan Chaturvedi tahun 2016 menyatakan perempuan 1,91 kali lebih berisiko terjadi infeksi pasca kranioplasti (Chaturvedi et al. 2016). Didukung oleh penelitian metanalisis Farace
45
yang mengatakan bahwa outcome pasien trauma kepala pada perempuan lebih buruk dibanding laki-laki (Farace dan Alves, 2000).
Usia pasien yang dikranioplati terbanyak pada rentang 11-20 tahun (30,3%).
Rentang usia ini merupakan rentang usia produktif. Hasil analisis deskriptif terhadap umur didapati bahwa mean adalah 30,3±14,2 tahun dengan nilai minimal 8 tahun dan maksimal 73 tahun. Nilai median adalah 38,5 tahun. Pada penelitian ini usia yang mengalami komplikasi adalah usia 18 tahun, 15 tahun, 27 tahun, 14 tahun, 30 tahun, dan 22 tahun. Pada Penelitian Chaturvedi usia
≤ 20 tahun berisiko 2,5 kali lebih rendah terkena komplikasi pasca kranioplasti (Chaturvedi et al. 2016).
Berdasarkan jenis trauma kepala, didapati frekuensi terbanyak adalah subdural hematom akut sebesar 88 pasien (87,3%) dan traumatik intraserebral hemorrhage 14 pasien (12,7%). Sama dengan penelitian Chaturvedi paling banyak kasus SDH akut (56,8%) dilakukan kraniektomi dekompresi (Chaturvedi et al.
2016).
Untuk tipe kranioplasti yang sering dilakukan adalah dengan tulang pasien sendiri atau dengan titanium mesh jika tulang pasien hancur dan tidak dapat digunakan kembali. Dari data yang ada 8 pasien (7,8 %) menggunakan titanium mesh, sedangkan 94 pasien (92,2%) menggunakan tulangnya sendiri. Dari 6 pasien yang mengalami komplikasi, hanya 1 pasien yang menggunakan titanium mesh.
Komplikasi tersering dengan pemakaian titanium mesh adalah infeksi dengan tingkat 8,4% (Hill et al. 2012). Pada penelitian ini tingkat infeksi pada pemakaian titanium mesh adalah 12,5%.
Tempat penyimpanan tulang hampir semua di abdomen, tidak seperti di negara lain ada yang disimpan di lemari es. Dari data yang ada hanya satu pasien yang disimpan subgaleal. Sesuai dengan penelitian Inamasu tahun 2010 yang menyatakan angka infeksi lebih rendah jika tulang disimpan di subkutaneous abdomen dibanding lemari es dengan p = 0,02 (Inamasu et al. 2010). Pada penelitian ini 5 pasien yang mengalami komplikasi setelah tulang disimpan di abdomen, 3 diantaranya mengalami infeksi, didapatkan tingkat infeksi 3,2%, berbanding terbalik dengan penelitian Inamasu dimana tingkat infeksi 0%.
Lama operasi kranioplasti hampir semua 2 jam (86,3%), hanya 13 pasien yang dioperasi 1,5 jam (12,8%) dan satu pasien dioperasi dalam waktu 1 jam (0,9%).
Bagian yang dikranioplasti dapat bilateral maupun unilateral. Kranioplasti bilateral biasanya karena kraniektomi dekompresi bilateral. Salah satu penyebabnya adalah lesi pada kiri dan kanan. Dari data yang ada hanya 2 pasien (2%) yang dilakukan kranioplasti bilateral.
Pada penelitian ini waktu kranioplasti menjadi isi utama. Dari hasil penelitian waktu kranioplasti mempunyai hubungan yang signifikan dengan komplikasi kranioplasti. Terdapat 36 pasien yang dikranioplasti lebih dari 12 minggu, 5 diantaranya mengalami komplikasi. Sedangkan dari 66 pasien yang dikranioplasti kurang dari 12 minggu hanya satu yang mengalami komplikasi.
Komplikasi yang terjadi adalah kejang (pada pasien yang menunggu 7 bulan dan 1 tahun), infeksi (pasien menunggu 4 bulan, 7 bulan, dan 15 bulan), dan hidrosephalus (pada pasien yang menunggu 5 bulan). Nilai p 0,011 yang berarti terdapat hubungan signifikan waktu kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti. Sesuai dengan
47
penelitian lain yang menyatakan kranioplasti direkomendasikan dilakukan 3 bulan setelah kraniektomi kecuali jika terjadi riwayat luka terbuka
atau infeksi dapat ditunda sampai 6 bulan (Liang et al.
2007). Pada penelitian chaturvedi pasien yang dikranioplati lebih dari 3 bulan setelah dikraniektomi dekompresi berisiko 2,86 kali mengalami komplikasi kranioplasti dengan p = 0,04 (Farace dan Alves, 2000).
Beberapa penelitian membedakan kranioplasti berdasarkan waktu dengan early cranioplasty jika dilakukan kurang dari sama dengan 90 hari dan late cranioplasty
jika lebih dari 90 hari. Alasan 90 hari atau 3 bulan yang dipilih karena prosedur kranioplasti sering dilakukan berkisar 90 hari, beberapa penelitian didapatkan median time 90 hari, dan banyak penelitian menggunakan 90 hari sebagai inklusi
yang akan dianalisis (Malcolm et al. 2016). Pada penelitian metaanalisis didapatkan jika kranioplasti dilakukan kurang dari 90 hari, berisiko 2,38 kali mengalami hidrocephalus dengan p = 0,008 khususnya pada pasien trauma. Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa komplikasi lain selain hidrocephalus, risiko komplikasi sama baik pada dilakukan kurang dari sama dengan 90 hari atau lebih dari 90 hari (Malcolm et al. 2016).
Penelitian yang dilakukan Xu dan kawan-kawan didapatkan bahwa early cranioplasty mempunyai keuntungan, yaitu lama operasi lebih cepat karena lebih
mudah saat diseksi scalp flap dan lebih mudah memasang kembali tulang, perdarahan lebih sedikit dan penggunakan obat anestesi lebih sedikit. Dari penelitian ini didapatkan bahwa waktu kranioplasti tidak mempengaruhi tingkat infeksi, sedangkan untuk komplikasi hidrocephalus meningkat jika dilakukan kranioplasti kurang dari 90 hari. Hal ini bertolak belakang dengan teori yang
mengatakan jika dilakukan kranioplasti maka aliran cairan serebrospinal menjadi lebih baik (Xu et al. 2015).
Ada beberapa keuntungan early cranioplasty selain operasi lebih cepat, juga mempercepat pemulihan neuron, rehabilitasi lebih cepat, dan biaya rumah sakit lebih murah. Pada penelitian Yang dan kawan-kawan menyatakan bahwa early cranioplasty tidak meningkatkan komplikasi (Yang et al. 2017).
49 BAB 7
SIMPULAN DAN SARAN
7.1. SIMPULAN
1. Pada penelitian ini diperoleh 102 sampel pasien dikranioplasti di RSUP H Adam Malik Medan mulai dari Januari 2014 hingga Desember 2017. Dari 102 sampel tersebut, 36 dikranioplasti setelah menunggu lebih dari 3 bulan dan sisanya 66 pasien menunggu kurang dari 3 bulan. Dari 36 pasien yang menunggu lebih dari 3 bulan, 5 pasien mengalami komplikasi. Waktu kranioplasti berhubungan signifikan dengan komplikasi kranioplasti dengan nilai p = 0,011
2. Berdasarkan hasil penelitian, jenis kelamin, usia, tipe kranioplasti, tempat penyimpanan tulang, jenis trama, dan bagian kranioplati tidak berhubungan signifikan dengan komplikasi kranioplasti dengan nilai p lebih dari 0,05.
7.2. SARAN
Dari penelitian ini didapatkan nilai korelasi yang didapat pada hubungan antara waktu kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti adalah p = 0,011 (p<0,05).
Hal ini menunjukkan bahwa dijumpai hubungan yang bermakna antara waktu kranioplasti dengan komplikasi kranioplasti. Oleh karena itu disarankan agar dilakukan kranioplasti kurang dari 3 bulan setelah dilakukan kraniektomi.
Khusus penyelenggara asuransi kesehatan, diharapkan dengan hasil penelitian ini tidak membuat pasien menunggu lebih dari 3 bulan untuk dilakukan kranioplasti.
Penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk hubungan besar defek kepala dan metode operasi dengan komplikasi kranioplasti.
51
DAFTAR PUSTAKA
Abuzayed B, Kafadar AM, Oğuzoğlu SA, Canbaz B, Kaynar MY. 2009. Duraplasty using autologous fascia lata reenforced by on-site pedicled muscle flap:
Technical note. Journal Craniofacial Surgery. 20:435-8.
Abuzayed B, Dashti R, Turk O, Kaynar MY. 2010. Aneurysmal frontal bone cyst in a child with history of acute lymphoblastic leukemia: A case of rare location and history. Journal Pediatric Hematology Oncology. 32:1-3.
Aciduman A dan Belen D. 2007. The earliest document regarding the history of cranioplasty from the Ottoman Era. Surgical Neurology. 68: 349-53.
Andrabi SM, Sarmast AH, Kirmani AR, dan Bhat AR. 2017. Cranioplasty:
indications, procedure, and outcome. An Institutional experience. 8(91)
Aydin S, Kucukyuruk B, Abuyazed B, Sanus GZ. 2011. Cranioplasty: Review of materials and techniques. Journal of Neurosciences in Rural Practice. 2:
162-7.
Beauchamp KM, Khasusk J, Moore EE, et al. 2010. Craniectomy After Postinjury Decompressive Craniectomy: Is Timing of The Essence? Journal of Trauma.
69(2): 270-4.
Chaturvedi J, Botta R, Prabhuraj AR, Shukla D, Bhat DI, Devi BI. 2016.
Complications of cranioplasty after decompressive craniectomy for traumatic brain injury. Br J. Neurosurg. 30:264-268.
Chun HJ dan Yi HJ. 2011. Efficacy and safety of early cranioplasty, at least within 1 month. Journal Craniofacial Surgery. 22:203.
Coulter IC, Pesic-Smith JD, Cato-Addison WB, et al. 2014. Routine but risky: a multi-centre analysis of the outcomes of cranioplasty in the northeast of England. Acta Neurochir. 156(7):1361–8.
Cushing HI. 1908. Subtemporal decompressive operations for the intracranial complications associated with bursting fractures of the skull. Annual Surgery. 47: 641–644.
Dewan MC, Rattani A, Gupta S, Baticulon RE, et al. 2018. Estimating the Global Incidence of Traumatic Brain Injury. Journal Neurosurgery. Hlm. 1-18.
Dorfer C, Frick A, Knosp E dan Gruber A. 2010. Decompressive hemicraniectomy after aneurysmal subarachnoid hemorrhage. World
Neurosurg. 74: 465–71.
53
Drosos GI, Babourda E, Magnisalis EA, Giatromanolaki A, Kazakos A, dan Verretas DA. 2012. Mechanical characterization of bone graft subtitute ceramic cements. Injury International Journal. 43: 266-71.
Farace E, Alves WM. 2000. Do women fare worse: A meta-analysis of gender differences in traumatic brain injury outcome? J Neurosurg. 93:539–45.
Flanigan P, Khsettry VR, dan Benzel EC. 2014. World War II, tantalum, and the evolution of the modern cranioplasty technique. Neusurg Focus. 36(4): 1- 11.
Flint AC, Manley GT, Gean AD, et al. 2008. Post-operative expansion of hemorrhagic contusions after unilateral decompressive hemicraniectomy in severe traumatic brain injury. J. Neurotrauma. 25:503-512.
Frank RC, Cohen SR, dan Meltzer H. 2011. Cranioplasty (Autogenous, Cadaveric, and Alloplastic). Core Techniques in Operative Neurosurgery.
Philadelphia: Elsevier. hlm. 321-7.
Goldstein JA, Paliga JT, Bartlett SP. 2013. Cranioplasty: indications and advances.
Curr Opin Otolaryngol Head Neck Surg. 21:400–9.
Goodrich JT. 2012. Landmarks in the History of Neurosurgery. Principles of
Neurological Surgery. Edisi ketiga. Philadelphia: Elsevier. hlm. 3-36.
Grandhi R dan Okonkwo DO. 2012. Perioperative Management of Severe Traumatic Brain Injury in Adult. Operative Neurosurgical Techniques.
Edisi keenam. Volume 2. Philadelphia: Elsevier. hlm. 1495-512.
Grant GA, Jolley M, Ellenbogen RG, Roberts TS, Gruss JR, Loeser JD. 2004.
Failure of autologous bone-assisted cranioplasty following decompressive craniectomy in children and adolescents. Journal Neurosurgery. 100:163–
8
Heo J, Park SQ, Cho SJ, et al. 2014. Evaluation of simultaneous cranioplasty and ventriculoperitoneal shunt procedures. J. Neurosurg. 121:313–8.
Hill CS, Luoma AMV, Wilson SR, dan Kitchen N. 2012. Titanium cranioplasty and Prediction of complications. British Journal of Neurosurgery. 26 (6):
832-7.
Huang YH, Lee TC, Yang KY, dan Liao CC. 2013. Is timing cranioplasty following posttraumatic craniectomy related to neurological outcome?
International Journal of Surgery. 11: 886-90.
55
Inamasu J, Kuramae T, dan Nakatsukasa M. 2010. Does Difference in the Storage Method of Bone Flaps After Decompressive Craniectomy Affect the Incidence of Surgical Site Infection After Cranioplasty? Comparison Between
Subcutaneous Pocket and Cryopreservation. The Journal of Trauma. 68: 183-7.
Joseph V dan Reilly P. 2009. Syndrome of the trephined. Journal Neurosurg. 111:
650-2.
Klinger D, Madden C, Beshay J, et al. 2014. Autologous and acrylic cranioplasty:
a review of 10 years and 258 cases. World Neurosurg. 82:e525–30.
Kolias AG, Kirkpatrick PJ, dan Hutchinson PJ. 2013. Craniectomy decompressive: past, present, and future. Nature Reviews Neurology. hlm.
1-11.
Kshettry VR, Mindea SA dan Batjer HH. 2007. The management of cranial injuries in antiquity and beyond. Neurosurgery Focus. 23: E8.
Kucukyuruk B, Biceroglu H, Abuzayed B, Ulu MO, Sanus GZ. 2010. Intraosseous meningioma: A rare tumor reconstructed with porous polyethylene. Journal Craniofacial Surgery. 21:936-9.
Kuttenberger JJ dan Hardt N. 2001. Long-term results following reconstruction of craniofacial defects with titanium micro-mesh systems.
Journal
Craniomaxillofacial Surgery. 29:75-81.
Le C, Guppy KH, Axelrod YV, et al. 2014. Lower complication rates for cranioplasty with peri-operative bundle. Clin Neurol Neurosurg.120:41–4.
Lee L, Ker J, Quah BL, et al. 2013. A retrospective analysis and review of an institution’s experience with the complications of cranioplasty. Br J.
Neurosurg. 27(5):629–35.
Liang W, Xiaofeng Y, Weiguo L, et al. 2007. Cranioplasty of large cranial defect at an early stage after decompressive craniectomy performed for severe head trauma. Journal Craniofacial Surgery.18:526 –532.
Liang W, Xiaofeng Y, Weiguo L, Gang S, Xuesheng Z, Fei C, et al. 2007.
Cranioplasty of large cranial defect at an early stage after decompressive craniectomy performed for severe head trauma. J. Craniofacial Surgery.
18:526-532.
57
Malcolm JG, Rindler RS, Chu JK, Grossberg JA, Pradilla G, dan Ahmad FU. 2016.
Complication following cranioplasty and relationship to timing: A systematic review and meta-analysis. Journal of Clinical Neuroscience.
Hlm. 1-13.
Moon JW dan Hyun DK. 2017. Decompressive Craniectomy in Traumatic Brain Injury: A Review Article. Korean Journal Neurotrauma. 13(1): 1-8.
Papa L dan Goldberg SA. 2018. Head Trauma. Rosen’s Emergency Medicine:
Concepts and Clinical Practice. Edisi ke-9. Philadelphia: Elsevier. hlm.
301-29.
Piazza M dan Grady MS. 2017. Cranioplasty. Neurosurg Clin N Am. Philadelpia:
Elsevier. 28: 257-65.
Piedra MP, Nemecek AN, Ragel BT. 2014. Timing of cranioplasty after decompressive craniectomy for trauma. Surgical Neurology International.
5: 1-10.
Pompili A, Caroli F, Carpanese L, Caterino M, Raus L, et al. 1998. Cranioplasty performed with a new osteoconductive, osteoinducing hydroxyapatitederived material. Journal Neurosurg. 89: 236-42.
Potts MB, Sughrue ME, Stiver SI, Pitts LH, dan Manley GT. 2012. Decompressive Craniectomy for Traumatic Brain Injury. Operative
Neurosurgical Techniques. Philadelphia: Elsevier. hlm. 1551-7.
Prolo DJ dan Oklund SA. 1991. The use of bone grafts and alloplastic materials in cranioplasty. Clin. Orthop. Relat. Res. 268 :270-8.
Rengachary SS, Colen C, Dass K dan Guthikonda M. 2009. Development of anatomic science in the late middle ages: the roles played by Mondino de Liuzzi and Guido da Vigevano. Neurosurgery. 65: 787–793.
Rosenthal AH dan Buchman SR. 2003. Volume maintenance of inlay bone grafts in the craniofacial skeleton. Plastic Reconstructions Surgery. 112:802-11.
Sabbagh AJ, Ahmari AA, Otaibi FAA, dan Senani FA. 2014. Decompressive Craniectomy. Neurosurgery Trick of the Trade Cranial. New York:
Thieme. Hlm. 505-11.
Sanan A dan Haines SJ. 1997. Repairing holes in the head: a history of cranioplasty.
Neurosurgery.40: 588- 603.
59
Sanus GZ, Tanriverdi T, Ulu MO, Kafadar AM, Tanriover N, Ozlen F. 2008. Use of Cortoss as an alternative material in calvarial defects: The first clinical results in cranioplasty. Journal Craniofacial Surgery.19:88-95.
Schuss P, Vatter H, Oszvald A, et al. 2013. Bone flap resorption: risk factors for the development of a long-term complication following cranioplasty afterdecompressive craniectomy. J. Neurotrauma. 30(2):91–5.
Shah AM, Jung H, dan Skirboll S. 2014. Materials Used in Cranioplasty: a history and analysis. Neurosurg Focus. 36 (4): 1-7.
Shahlaei K, Swienenber M, Muizelaar P. 2017. Clinical Pathophysiology of Traumatic Brain Injury. Neurological Surgery. Edisi ketujuh. Hlm. 2843-
60.
Sughrue ME, Potts MB, Stiver SI, dan Manley GT. 2011. Trauma Flap Decompressive Hemicraniectomy. Core Technique in Operative
Neurosurgery. Philadelphia: Elsevier. hlm. 70-4.
Walcott BP, Kwon CS, Sheth SA, et al. 2013. Predictors of cranioplasty complications in stroke and trauma patients. J. Neurosurg. 118(4):757–62.
Xu H, Niu C, Fu X, Ding W, Ling S, Jiang X, dan Ji Y. 2015. Early cranioplasty vs.
late cranioplasty for the treatment of cranial defect: A systematic review.
Clinical Neurology and Neurosurgery. 136: 33-40.
Yadla S, Campbell PG, Chitale R, et al. 2011. Effect of early surgery, material, and method of flap preservation on cranioplasty infections: a systematic review.
Neurosurgery.68(4):1124–9.
Yang NR, Song J, Yoon KW dan Seo EK. 2017. How early can we perform cranioplasty for traumatic brain injury after decompressive craniectomy?
A retrospective multi-center study. World Neurosurgery. 1-41.